NARUTO PUMNYA MASASHI KISHIMOTO

I KNEW IT (hhibin)

Pairing: HINATA.H X SASUKE.U

Rating: M

Note: TYPO, OOC, AU

#Bungkusan Hitam

Gadis itu berjalan cepat ke arah wanita yang lebih tua beberapa tahun darinya yang sedari tadi menunggu dirinya. Wanita yang menunggu gadis ini menatapnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

"Konan-neesan. Gomen sudah menunggu lama," ucap gadis bermata pucat yang kita ketahui adalah Hinata.

"Tidak apa. Yasudah cepat kau ganti baju Hinata, nanti aku akan memperkenalkan pada staf hotel yang mengawasi bagian golf. Ruang ganti ada di sebelah kanan toilet wanita dibelakang ballroom, kau langsung datang saja ke lapangan golf, aku menunggumu disana. Kau tau kan?"

Hinata langsung mengangguk mengerti dengan ucapan Konan.

"Baguslah.. Aku pergi."

Konan langsung pergi meninggalkan Hinata yang masih diam ditempat. Setelah Konan pergi, Hinata baru pergi ke ruang ganti yang ditunjuk Konan tadi.

"Hinata!" panggil seseorang dari belakang. Hinata langsung berhenti tepat setelah mendengar seseorang memanggil namanya.

"Iya?" tanya Hinata bingung. Yang memanggilnya itu langsung memberikan bungkusan hitam tanpa mengucapkan apa-apa lalu pergi meninggalkan Hinata yang masih bingung dengan maksud orang tersebut.

"Tu-tunggu!"

Orang itu tetap berlari menjauh dari Hinata. Hinata yang mulai ketakutan bercampur bingung langsung melempar bungkusan hitam itu kelantai, ia takut jika itu adalah bom rakitan para teroris yang sering ia lihat di tv-tv. Itachi yang melihat Hinata melempar sesuatu kelantai langsung berlari kearah Hinata.

"Kau kenapa?"

Hinata hanya menggeleng ketakutan. Itachi yang melihat Hinata ketakutan mulai mencoba mengambil bungkusan itu, ia penasaran apa isi bungkusan yang dibuang Hinata. Baru ia ingin mengambil, Hinata dengan cepat menarik tangannya agar menjauhi bungkusan misterius itu. Itachi langsung tertawa melihat tingkah Hinata yang ketakutan berlebihan itu.

"Kenapa tertawa? aku hanya tidak ingin kau terluka."

"Iya aku tau. Tapi kau berlebihan Hinata."

"Tidak. Aku tidak berlebihan. Jika kau mengambil/memegang bungkus itu jangan harap kau bisa berbicara lagi denganku."

Itachi tersenyum mendengar acaman yang keluar dari mulut wanita yang ia cintai ini.

"Memang isi bungkusan itu apa?" Hinata menggeleng menjawab pertanyaan Itachi tersebut.

"Aku belum membukanya."

"Kenapa tidak membukanya?"

"Aku hanya ketakutan saja jika itu bom rakitan yang dibuat teroris-teroris seperti yang kulihat di tv," jawaban polos Hinata langsung disambut tawa dari mulut Itachi.

"A-aku kan hanya khawatir," ucap Hinata malu-malu. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya didepan Itachi sekarang ini.

"Baiklah. Yasudah cepat ganti baju, hari ini hari pertamamu bekerja. Jangan terlambat," Itachi mengecup kening Hinata singkat. Hinata hanya bisa tersenyum atas perlakuan Itachi padanya itu.

"Hmm... I-ingat! Aku pergi jangan memegang bungkusan itu!" Hinata pergi setelah mengucapkan itu. Itachi hanya bisa terkekeh mendengar ucapan Hinata itu.

"Iya... Sudah cepat sana," usir Itachi. Hinata pun menurut dan pergi keruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian para pekerja di hotel milik Konan ini. Setelah menunggu Hinata pergi, Itachi akhirnya mengambil bungkusan hitam tadi. Dengan buru-buru, Itachi langsung membukanya.

Kalung?

Itulah isi dari bungkusan tadi. Dibelakang kalung itu juga ada kertas yang berisikan catatan. Catatan itu bertuliskan 'Itu hadiah yang diberikan sepupumu' -Sasuke Uchiha.

Itachi hanya diam tidak berekspresi apapun tentang hal itu. Ia sedang berfikir soal isi catatan itu, apa Neji sudah dibebaskan oleh Sasuke? Jika benar, ini adalah masalah besar bagi dirinya. Masalahnya adalah Neji kenal dengan dirinya, jika Neji bertemu dengan Sasuke sudah pasti ia tau jika mereka adalah kakak beradik yang mempunyai tujuan masing-masing. Kekhawatiran mulai terlihat di wajahnya, ia sekarang sangat khawatir tentang masalah yang tidak ia perkirakan sebelumnya. Seorang staf yang mengenali Itachi langsung berlari kearah Itachi karena melihat raut wajah Itachi yang berubah menjadi pucat pasih seperti ini.

"Itachi-sama. Anda kenapa? Ada yang bisa aku bantu?" Itachi hanya diam ketika ditanya. Ia masih harus berfikir apa yang harus ia lakukan sekarang ini. Hinata yang sudah selesai berganti baju dan keluar dari ruang ganti heran melihat tingkah Itachi dari jauh yang diam ditempat dengan ekspresi yang lumayan pucat itu. Merasa ada yang aneh dengan Itachi, Hinata berjalan cepat kearah Itachi. Hampir sampai kearah Itachi, Itachi tiba-tiba sudah berlari cepat meninggalkan staf tadi dan Hinata.

"Itachi-kun!" teriakan Hinata itu tidak membuat Itachi berhenti. Itachi masih saja berlari cepat menuju pintu keluar. Sepertinya ia juga tidak mendengar teriakan Hinata yang meneriaki namanya itu.

Drrt... Drtt...

Ponsel Itachi bergetar.

(Kisame Call)

"Moshi-Moshi."

"Itachi ada masalah."

"Iya aku sudah tau. Kita bertemu sekarang."

"Baiklah."

Bipp.

Sambungan telpon diantara mereka terputus. Itachi langsung memanggil salah satu staf yang ada dipintu keluar hotel agar mengeluarkan mobilnya dan staf itu dengan cepat mengambil kunci yang diberikan Itachi dan berlari kencang ke parkiran hotel.

Kurang lebih 2 menit, akhirnya mobil sport miliknya sudah ada didepan matanya. Hinata yang masih memperhatikan Itachi dari jauh, langsung berlari dengan kencang. Ia tau jika Itachinya ini sedang ada masalah besar, ia mengetahui semua gerak-gerik Itachi jika sedang ada masalah contohnya seperti tadi yang tiba-tiba melemparkan kunci mobilnya pada staf. Itu tidak biasanya Itachi lakukan jika tidak dalam masalah besar.

"Itachi-kun!" Hinata menarik tangan Itachi, ia menggenggamnya dengan erat tanpa ragu. Itachi yang kaget tiba-tiba seseorang menggenggam tangannya dengan erat langsung melepaskannya dan ia langsung tersenyum hangat ketika tau yang menggenggam tangannya itu adalah Hinata.

"Aku ada rapat mendadak, aku pergi dulu," ucap Itachi menjelaskan, tapi Hinata masih tetap memegang tangan Itachi dengan erat-erat. Hinata tau jika orang didepannya ini sedang berbohong padanya. Hinata terus menatap mata Itachi dengan tatapan yang bisa dibilang butuh penjelasan dan sendu, Itachi yang tidak tega melihat tatapan itu pada akhirnya luluh hanya dengan tatapan sendu milik wanita didepannya ini. Hanya dengan orang ini dan adiknya lah ia bisa luluh tanpa ada paksaan sama sekalih.

"Tolong letakkan ini didalam mobil," perintah Itachi pada staf yang mengambilkan mobilnya tadi. Staf itu menurut dan mengambil bungkusan hitam yang Itachi berikan kemudian meletakkan bungkusan tadi di bangku belakang.

"Kau boleh pergi, ini untukmu," ucap Itachi ramah dan memberikan beberapa lembar uang dari sakunya kepada staf tadi. Staf itu menerimanya dengan senang hati dan kembali ke posisi semulanya yaitu berdiri disamping pintu masuk hotel.

Drtt... Drtt...

(Kisame Call)

"Kisame sudah menelpon ku, lihatlah," Itachi menunjukan layar ponselnya pada Hinata agar Hinata percaya padanya, tapi nyatanya Hinata masih tidak mempercayainya. Sekarang Hinata malah menggenggam tangannya dengan lebih erat.

"Akan kuceritakan nanti, aku akan beritahu padamu pasti," Itachi tersenyum tulus setelah mengatakan itu pada Hinata. Perlahan Hinata melepaskan genggaman tangannya, tapi ia kemudian menggenggam tangan Itachi lagi. Ia nampaknya masih kurang percaya dengan ucapan Itachi barusan.

"Aku janji," ucapan terakhir Itachi sukses membuat perempuan bermata pucat ini percaya. Hinata perlahan mulai melepaskan genggaman tangan Itachi dan membiarkan Itachi pergi.

"Aku harap kau tidak melanggarnya Itachi-kun," Itachi tersenyum hangat kemudian masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan Hinata yang masih berdiri ditempat. Setelah mobil sport hitam itu tidak terlihat lagi, ia kembali masuk lagi kedalam hotel dan segera menuju lapangan golf yang berada di belakang gedung ini. Hinata tidak sadar kalau bungkusan hitam yang ia buang dilantai tadi itu ternyata diambil oleh Itachi.

"Hey Itachi," panggil Kisame. Itachi langsung berlari kearah Kisame.

"Ini adalah barang yang Sasuke berikan pada Hinata. Aku harus bagaimana?"

"Sebelum itu duduklah dulu dan minum minuman yang sudah kupesan," Itachi menuruti perintah Kisame. Ia duduk dan meminum minuman yang dipesan oleh Kisame untuknya.

"Jadi bagimana?" tanya Kisame memulai pembicaraan mereka ini. Itachi diam sambil tetap berfikir untuk menyelesaikan masalah didepannya. Hampir 5 menit berfikir, akhirnya Itachi membuka kertas catatan yang tadi dikirim Sasuke untuk Hinata. Ia mulai menuliskan beberapa kata di bawah catatan Sasuke. Terlihat raut wajah serius dari wajah Itachi. Kisame juga tau jika orang didepannya serius dengan apa yang ia tulis sekarang.

Setelah menulis beberapa kata, Itachi bangkit dari duduknya dan pergi kekamar mandi tanpa mengucapkan apa-apa lagi pada Kisame. Kisame yang tau gerak-gerik Itachi langsung mengambil surat yang Itachi tulis barusan. Ia hanya bisa terpaku membaca kata-kata yang ditulis Itachi. Ia tidak bisa membayangkan seberapa benci Sasuke pada Itachi nantinya. Jadi ini kah yang harus di tanggung oleh seorang kakak?

"Itachi kau serius menulis ini? Adikmu akan tambah membencimu," ucap Kisame pada Itachi yang baru datang dari kamar mandi.

"Tidak apa. Tugas seorang kakak adalah melindungi adiknya," Kisame terkekeh mendengar jawaban Itachi.

"Tapi kau tidak ingat kejadiaan 2 tahun lalu yang membuat hubungan kalian menjadi retak seperti sekarang? Itu juga kan terjadi akibat perempuan sialan itu, tapi kenapa perempuan itu datang lagi, apa yang akan kau lakukan sekarang ini Itachi," ucap Kisame panjang lebar. Benar yang dikatakan Kisame, itu semua terjadi akibat mantan pacar Sasuke yang dibilang perempuan sialan oleh Kisame tadi. Itachi hanya tersenyum mendengar ceramah Kisame .

"Jika kau tidak bisa menanggungnya, berbagi lah kepada kami. Untuk apa kau mempunyai keluarga kedua untukmu jika tidak mau berbagi." Itachi hanya bisa tetap tersenyum mendengar ucapan Kisame yang menyentuh hatinya.

"Aku pergi dulu."

"Kau ingin pergi kemana?"

"Kantor Sasuke," Kisame terkekeh lagi mendengar jawaban Itachi.

"Kau serius?" tanya Kisame tidak percaya. Itachi mengangguk serius kemudian benar-benar pergi ke kantor Sasuke meninggalkan Kisame yang diam ditempat.

"Semoga kau berhasil Itachi."

Diperjalanan menuju kantornya Sasuke masih saja memikirkan Hinata karena ia melihat Hinata turun di hotel yang mewah. Sebenarnya, wanita itu pekerjaannya apa?... menjadi wanita malam atau bukan. Tapi jika bukan kenapa ia pergi kehotel, tapi jika benar kenapa ia juga masih tersegel. Apa Konan membohonginya? Berarti ia memang harus mencobanya dan memeriksanya sendiri.

"Aku penasaran dengan mu Hinata Hyuga."

Drrt... Drrt...

Shikamaru Call

"Ada apa?"

"Sepupu Hinata meminta mu untuk memberikan kado untuk Hinata."

"Aku tidak ada waktu untuk itu. Kau suruh kurir saja untuk mengirimkan ke tempat kerjanya."

"Kau tau memangnya?"

"Iya aku tau. Nanti akan ku kirim alamatnya."

"Baiklah."

Bip.

Sambungan telepon diantara Shikamaru dan Sasuke terputus. Sasuke langsung memberhentikan mobilnya di tepi jalan dan mengetik pesan singkat pada Shikamaru tentang alamat tempat kerja Hinata lalu mengirimnya. Setelah selesai mengirim pesan, Sasuke langsung melajukan mobilnya lagi kearah kantornya.

Tidak lama kemudian, Sasuke akhirnya sampai di kantornya. Ia keluar dari mobilnya dengan ekspesi dingin dan langsung melemparkan kunci mobilnya pada salah seorang satpam yang berdiri di pintu masuk kantornya. Satpam itu mengerti dan menangkap kunci yang dilempar Sasuke tadi dan mulai menaiki mobil Sasuke untuk di parkirkan di bawah. Sasuke berjalan dengan cepat menuju lift, sekarang ini emosinya sudah berada tepat di ujung kepalanya. Ingin rasanya ia memarahi seseorang yang menegurnya sekarang, tetapi untungnya tidak ada yang menegurnya sama sekalih. Semua karyawan yang melihat ekspresi Sasuke sekarang sudah tau pasti jika Sasuke sedang ada masalah dan tidak ingin ditegur oleh siapapun, oleh karena itu tidak ada yang berani menegurnya seperti sekarang ini.

Ting..

Lift yang ditunggu-tunggu Sasuke terbuka. Sasuke langsung menekan angka 27, ia ingin langsung sampai diruangannya untuk menenangkan pikirannya. Sasuke yang masih berada di dalam lift ini tidak mengetahui jika kakak nya itu sudah ada di kantornya dan sedang berbicara dengan sekretaris pribadinya.

"Bilang padanya ketika sampai disini kalau aku datang kesini dan langsung kau berikan bungkusan itu padanya juga. Ingat itu Tenten-chan," ucap Itachi ramah pada Tenten. Tenten yang mengerti langsung mengangguk.

"Tenang saja Itachi-sama. Aku akan sampaikan semuanya."

"Kerja bagus."

Itachi langsung pergi setelah mengucapkan itu. Ia berjalan kearah lift dan langsung menekan tombol lift. Beberapa menit kemudian, lift itu pun terbuka. Itachi pun masuk dan menekan angka 1. Tepat setelah Itachi masuk kelift, Sasuke keluar dari lift sebelahnya dan berjalan cepat kearah ruangannya.

Sekarang ini Sasuke sudah berada tepat diruangannya. Tenten yang melihat Sasuke sudah masuk ruangannya langsung masuk ruangan Sasuke tanpa mengetuk pintu. Ia tau ekspresi Sasuke sedang marah, jadi ia tidak berani mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Maaf Direktur hari ini ada rapat pemegang saham dimulai 30 menit lagi dan juga tadi Kakak anda datang kesini. Ia menitipkan ini untuk anda." Tenten langsung memberikan bungkusan hitam yang tadi diberikan Itachi. Sasuke mengambilnya dengan ekspresi bingung.

"Aku permisi." Tenten pergi meninggalkan Sasuke yang masih mematung ditempat. Setelah Tenten benar-benar sudah pergi, baru Sasuke membuka bungkusan hitam yang diberikan Itachi padanya. Didalam bungkusan itu terdapat kalung dan selembar kertas. Kertas itu berisikan catatan yang bertuliskan 'Itu hadiah yang diberikan sepupumu' -Sasuke Uchiha. 'Cara yang lumayan bagus, kau menghabiskan uang untuk membeli ini? Wanita yang dulu kekasihmu itu datang, apa kau akan memperkenalkan wanita dihotel itu padanya? Kalau bisa perkenalkan juga padaku'

Baru beberapa kalimat ia baca, ia sudah kesal dengan isi surat yang diberikan Itachi untuknya ini.

"Sial, Itachi kau ...," ucapan Sasuke terhenti karena emosi yang ditahannya. Dengan kesal ia mulai merobek kertas itu dan membuangnya ke tong sampah didepannya.

"AAAKKKHHHHHH,"

Akhirnya Sasuke tidak bisa menahan emosinya. Ia berteriak dengan keras hinggah membuat Tenten mendengar teriakan Sasuke dari luar. Tenten sudah tau pasti jika Sasuke ada masalah dengan Itachi, ia berteriak dengan keras contohnya seperti tadi itu. Jadi dia tidak kaget lagi jika ada teriakan dari dalam karena ia kenal sifat Sasuke sejak dibangku SMA. Seteleh berteriak, Sasuke mulai bisa mengatur emosinya. Emosinya sudah mulai stabil. Pikirannya sudah mulai tenang, setelah bisa mengatur pikiran dan emosinya Sasuke langsung menelpon Shikamaru.

"Iya Sasuke?"

"Bisa kau bantu aku."

"Apa?"

"Kau awasi Hinata."

"Baiklah. Jelaskan nanti pada kami."

"Hn," Sasuke memutuskan telponnya secara sepihak. Keringat muncul dipelipis matanya, ia sekarang sedang berfikir keras siapa yang membuat Itachi mengetahui bungkusan tadi? apa Itachi juga mengetahui rencananya? Dan juga kenapa perempuan itu harus datang lagi. Jika perempuan itu datang lagi, itu semua hanya akan membuat luka lamanya terbuka dengan lebar dan pada akhirnya tambah menimbulkan trauma lagi. Kejadian 2 tahun lalu, akhirnya datang lagi tetapi dengan situasi yang berbeda.

Tok.. Tok..

"Masuk," ucap Sasuke dari dalam. Ia mengelap keringat di pelipisnya dan duduk dengan tenang di bangku kerjanya seolah-olah tidak ada apa-apa.

"Gomen. Tunangan anda datang," ucap Tenten sopan. Terlihatlah wanita berambut pink didepan pintu. Wanita itu tersenyum hangat sambil memperlihatkan beberapa roti yang manis yang ia bawa karena memang Uchiha bungsu ini menyukai makanan manis. Setelah tau yang datang adalah Sakura, Sasuke hanya bisa menampkan wajah tidak sukanya. Ketika Sasuke tidak menyukai seseorang, ia pasti akan langsung menunjukan ekspresi tidak suka. Tenten yang melihat ekspresi Sasuke saja tau jika Sasuke tidak suka dengan wanita berambut pink disampingnya. Tenten hanya bisa menahan tawa, ia sedikit kasian dengan calon tunangannya yang selalu diperlakukan dengan dingin seperti sekarang.

"Aku membawakan mu ini. Kau belum sarapan kan pasti?" tanya Sakura ramah dan berjalan kearah Sasuke. Ia menaruh roti yang ia bawa di depan Sasuke. Sasuke hanya melihatnya sekilas, tanpa memegangnya. Ia malah memanggil Tenten.

"Iya?"

"Ini untukmu. Aku sudah sarapan."

"Apa tidak apa aku membawa ini?" Tenten bertanya dengan ragu-ragu. Tenten masalahnya tidak enak juga dengan Sakura yang jauh-jauh datang membawakan roti untuk Sasuke.

"Tidak apa. Jika tidak mau kau boleh membuangnya," Tenten diam seribu bahasa mendengar ucapan kasar atasannya. Sakura yang melihat kerja kerasnya sia-sia, hanya bisa tersenyum kaku dan memberikan roti yang ia bawa tadi pada Tenten.

"Ini kau bawa."

"Arigato." Tenten langsung pergi karena memang ia tidak ingin terlalu lama di dalam ruangan yang mendadak dingin dari sebelumnya. Setelah Tenten pergi, Sasuke melihat jam tangannya sekilas. Ia bangun dari bangkunya berjalan melewati Sakura.

"Aku ada rapat. Pergilah," usir Sasuke.

Blam..

Pintu itu tertutup dengan rapat. Pemuda bermata onix itu tidak terlihat lagi. Setelah Sasuke pergi, Sakura hanya bisa tersenyum dengan air mata yang menetes. Untuk sekian kalinya ia menangis untuk pria yang tidak pernah menyukainya sama sekalih. Pria itu sudah memblacklis dirinya karena ia yang menyebabkan hubungan Sasuke dengan Ino putus. Padahal itu bukanlah kesalahan mutlak dirinya.

#TBC

Yeah akhirnya bisa update lagi setelah beberapa bulan. Maaf ya kependekan, ga ada ide soalnya. Mohon kritik, saran teman :D