NARUTO PUMNYA MASASHI KISHIMOTO

I KNEW IT (hhibin)

Pairing: HINATA.H X SASUKE.U

Rating: M = T

Note: TYPO, OOC, AU

Aloha.. saya akhirnya balik lagi dengan FF yang udah sekian lama terbengkalai. Setelah sekian lama saya baru mendapatkan inspirasi buat nerusin ini FF. Maaf ya saya kurang tanggung jawab, yah maklum lah lagi ga punya ide. Mau diapaain lagi kan? Tapi intinya saya udah nerusin kan. Dan saya sangat berterimakasih buat yang udah nunggu ini FF, Saya bener-bener berterimakasih banget :D

Dan maaf ya, rating saya ganti jadi T. Karena jika M, saya bener-bener peraang batin sama hati sendiri hahahahaha. Gomen ya minna-san

Itachi versi Hinata?

Aku pulang," ucap Hinata ketika masuk kedalam apartemen Sasuke. Yang ia lihat sekarang ini kosong dan gelap, tidak ada cahaya sama sekalih.

"Apa dia belum pulang?"

Hinata langsung menyalakan lampu ruangan tengah. Setelah lampu ruang tengah menyala, ia berjalan ke arah dapur. Tenggorokannya serasa haus, -ia butuh minuman- minuman untuk menyegarkan tenggorokannya. Hinata membuka kulkas dan mengambil beberapa botol air putih dingin yang memang hanya ada air putih saja dikulkas bungsu Uchiha ini.

"Hah~ leganya..."

Setelah mengisi tenggorokannya dengan air, ia berdiri menatap ruang tengah kosong yang ada dihadapannnya. Ia jadi bingung, kenapa juga ia harus tinggal dan mengisi kontrak dengan bungsu Uchiha? Kenapa ia tidak minta Itachi saja untuk membantu menyelesaikan masalahanya sekarang ini?

Ah...

Ia lupa. Ia tidak akan pernah mau untuk mengatakan itu kepada Itachi, karena apa? itu semua karena ia bukan gadis yang tidak tau malu yang seenaknya meminta tolong seperti itu, lagipula... ia juga merasa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakan kepada Itachi jika ia ingin ditolong.

"Hey kau, kenapa berdiri disitu dengan rambut yang tergerai, kau jadi terlihat menyeramkan disana," Hinata tersadar dari lamunannya akibat suara bass yang berasal dari ruang tengah. Ia sadar jika orang yang menjadi masalah barunya itu ada didepan matanya.

"Ah.. Gomen ne," setelah mengatakan kata maaf, Hinata berjalan melewati Sasuke yang duduk di ruang tengah dengan gaya badan ia senderkan di sofa dan kepala yang ia hadapkan keatas menatap lampu ruang tengah milik apartemennya.

"Tunggu."

Hinata berhenti tepat ketika Sasuke memintanya untuk berhenti.

"Bisa temani aku minum?" Hinata berbalik badan menatap Sasuke.

"Bi-bisa."

Sasuke bangun dari duduknya ketika mendengar persetujuan dari Hinata. Ia tanpa sadar tersenyum ke arah Hinata.

"Ikuti aku," Sasuke berjalan duluan meninggalkan Hinata yang masih bingung dengan apa yang di lihat barusan. Ia tersadar dari lamunannya ketika pintu apartemen itu terbuka dan menghilangkan pemuda berambut pantat ayam itu.

"Tu-tunggu."

Ia berlari ke arah pintu apartemen itu. Ia berusaha mengejar Uchiha bungsu yang sudah berlalu jauh dari hadapannya. Ia berlari dengan kencang menuju pintu lift yang ada di belokan kanan lantai apartemen ini dan sampailah ia tepat disamping Sasuke.

"Dasar lambat," ucapan Sasuke yang terdengar seperti mengejek itu membuat wanita yang berada disampingnya menggerutu dalam hati dan menampilkan bibirnya yang sibuk komat kamit. Sasuke yang melihat pemandangan didepannya itu hanya bisa menahan tawa entah mengapa. Ia sekarang merasa otaknya sedang konslet yang menyebabkan dirinya itu jadi ingin tertawa tidak jelas. Apa ini karena masalah yang ia hadapi sekarang? masalah ini sangat menyiksa dirinya sekalih? Ia rasanya ingin mempunyai teman curhat sekarang ini. Tapi siapa orang yang cocok untuk diajak curhat? Shikamaru? Oh Tidak. Orang itu sekarang sedang sibuk mengurusi kekasihnya yang selalu marah ketika tidak mengirimi pesan jika pulang telat. Marah ketika tidak mengirmkan pesan ketika telat? Sasuke tersenyum memikirkan pikirannya barusan itu. ia juga ingin ada wanita yang memarahinya lagi seperti itu. Rasanya ia ingin bertemu dengan wanita itu, tapi...

"Sasuke?"

Sasuke tersadar dari lamunannya ketika suara lembut itu memanggilnya. Lembut? OH SHIT! Apa ia barusan mengatakan lembut? Sepertinya otaknya sekarang ini memang sedang konslet. Ia langsung masuk kedalam lift dan menekan tombol B1. Didalam lift, Sasuke masih saja memikirkan banyak hal yang mengganggu pikirannya sekarang ini. Lagi pula, keanpa ia jadi berlebihan seperti sekarang? Biasanya kan ia tidak pernah memikirkan masalahnya itu sejauh ini.

DUK..

Ia membenturkan kepalanya dengan keras ke samping lift agar ia sadar dan tidak memikirkan hal bodoh itu.

"Dia aneh," gumaman Hinata yang pelan itu ternyata mampu membuat Sasuke kesal.

"Aku masih mendengar itu dasar lambat."

Hinata hanya tersenyum kaku menanggapinya. Ia jadi ketakutan sendiri sekarang ini.

TING.

Lift terbuka.

Sasuke berjalan duluan meninggalkan lift, sedangkan Hinata? Ia berjalan mengikutinya dengan jarak yang aga jauh. Ia menjaga jarak seperti sekarang ini karena memang ia sedikit takut dengan ucapannya yang spontan itu.

"Kau yang bawa mobil," Sasuke melemparkan kunci mobil BMWnya pada Hinata. Hinata yang kaget dengan lemparan Sasuke itu menangkapnya dengan gelagapan, tapi pada akhirnya ia bisa menangkap kunci mobil itu. Didalam hatinya sekarang ini ia sangat geregetan dengan pria yang berlaga seperti bos ini, Ah... iya lupa, memang orang didepannya sekarang ini menjadi bos. Ia baru tersadar -_-"

"Kita akan kemana?" Hinata bertanya ketika ia sudah duduk di kursi kemudi sekarang ini.

"Bar dekat dengan tempat pelelangan mu waktu itu."

Hinata hanya mengangguk menurut dengan perkataan Sasuke, ia mulai menginjakan pedal gas mobil itu kearah yang di maksud Sasuke. Jujur, ia sedikit deg-degan dengan mobil yang ia kendaraain sekarang ini. Ia gugup karena sudah lama tidak menggunakan mobil mahal seperti ini. Terakhir kali ia menggunakan mobil ini sektiar dua tahun yang lalu ketika ia memiliki semua yang ia butuhkan. Tapi sekarang apa? Jangankan mobil bagus seperti ini, mobil biasa saja ia kendaraai hampir saja menabrak pembatas jalan. Bagaimana dengan mobil yang berkecepatan tinggi sekarang ini? Bisa-bisa ia akan menabrak manusia. Sasuke yang sadar mobil ini lambat sekalih jalannya seperti yang mengendarai langsung saja memberikan aba-aba agar berhenti sekarang saja. Hinata yang melihat aba-aba langsung saja memberhentikan mobilnya tepat di pinggir jalan.

"Lambat. Tukar posisi," Hinata tersenyum senang. Ia tersenyum karena orang yang ada disampingnya menyadari jika ia tidak bisa menyetir mobil dengan baik.

Sekarang ini posisi mereka sudah bertukar posisi. Hinata di bangku penumpang didepan sedangkan Sasuke, ia berada di kursi kemudi. Terlihat dengan jelas, raut wajah Hinata yang menampakkan jika ia senang sekalih karena tidak disuruh menyetir. Sasuke yang melihat ekpresinya itu dari kaca spion mobil langsung menampakkan senyuman evilnya itu.

"Pakai sabuk pengamanmu," Hinata menurut dengan apa yang diucapkan Sasuke padanya. Setelah sabuk pengaman terpasangan dengan rapi, Sasuke tanpa ragu menginjakan pedal gasnya dengan cepat. Ia tidak tangggung- tanggung. Ia langsung menaikan kecepatnnya menjadi 100km/jam. Hinata yang kaget setengah mati hanya bisa menutup matanya dan berpegangan tangan kegagang pintu yang ada disampingnya.

"Tolong pe-pelan pelan," ia berkata dengan pelan. Sasuke yang mendengarnya bukannya menurunkan kecepatannya, ia malah menaikan kecepatnnya menjadi 160km/jam.

"HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA... HENTIKAN INI!"

"Tidak mau. Ini menyenangkan!" Hinata tidak menjawab. Ia sibuk baca doa dalam hatinya agar ia selamat dan bisa berkumpul lagi dengan keluarga tercintanya.

10 menit kemudian

"Sudah sampai!" Sasuke tersenyum lebar dan menatap Hinata," Wuahh! Itu menyenangkan sekalih bukan Wohooo!" Nada Sasuke itu terdengar sangat gembira sekalih, sedangkan Hinata yang di ajak bicara hanya diam tidak menjawab. Raut wajahnya sangat pucat. Sasuke yang menyadari Hinata tidak menjawab pun menatapnya bingung.

"Hey! Kau kenapa? Wajahmu pucat. Kau ketakutan?" Hinata langsung menatap Sasuke dengan kesal. Sasuke yang ditatap pun hanya bisa mengeluarkan ekspresi bingung.

"Hey jangan menatapku begitu. Wajahmu tambah jelek,"

"YAK!" Sasuke terlonjak kaget mendengar teriakan Hinata yang lumayan kencang dan cempreng itu,"Kau ini-" ucapannya terpotong ketika sadar siapa orang yang ia teriaki sekarang ini.

Sasuke yang sadar jika tadi ia diteriaki Hinata pun balas meneriaki ,"Kenapa denganku?! Kenapa kau jadi berteriak seperti itu hah?! Aku kan tidak berteriak tadi." Hinata tersenyum kaku mendengar ucapan Sasuke itu.

"Gomen, aku tidak bermaksud berteriak dengan mu. Aku hanya emosi saja tadi."

"Emosi?"

Hinata mengangguk.

"Oh.. Aku mengerti sekarang. Kau kesal dengan ku kan?" Hinata menggeleng cepat ketika ditanya pertayaan seperti itu oleh Sasuke.

"Sudahlah mengaku saja, iyakan kau kesal dengan ku?"

"Tidak."

"Baiklah," Sasuke tiba-tiba menyalakan mesin mobilnya lagi. Hinata yang mulai ketakutan langsung kelagapan.

"I-ini kita akan kemana lagi," Hinata menatap ke arah kanan kiri depan dan belakang dengan raut wajah yang sangat ketakutan.

"Mencoba sesuatu yang lain."

'Sesuatu yang lain? Apa dia akan membawaku ketempat yang lain dan sudah dipastikan dia akan membawaku dengan mengebut. Jika itu terjadi?! Sebelum sampai tempat itu, sudah pasti aku akan sampai rumah sakit duluan kan? Tidak!'

"Be-berhenti." Sasuke tetap saja memundurkan mobilnya tanpa memperdulikan Hinata yang sudah berkatan berhenti.

"Be-berhenti." Sasuke tidak memperdulikannya, ia tetap saj memundurkan mobilnya. Telinganya itu seakan tuli.

"Pegangan."

Sasuke dengan fokusnya pun mulai menginjak pedal gas mobilnya hinggah 120/km ia tinggal melepaskan rem tangan saja dan Hinata sudah dipastika tinggal nama. Baru ia ingin melepaskan rem tangannya Hinata menahan tangannya.

"Ja-jangan."

"Jangan ragu-ragu kan?"

Sasuke menyingkirkan tangan Hinata dari rem tangannya. Ia mulai melepaskan rem tangannya dan ...

"HENTIKANNNN!"

Citt.

Mobil BMW itupun berhenti dengan pas. Terlihat dari raut wajahnya, Sasuke sangat menyukai hal ini. Hinata yang sudah kesal dengan Sasuke langsung saja meneriakinya.

"KAU-" ucapannya terhenti ketika melihat Sasuke mengeluarkan senyum menyebalkan dari wajahnya.

"Kenapa dengan ku hmm?" ia tersenyum menyebalkan lagi. Hinata sudah sangat keregetan sekali dengan orang didepannya ini.

"ISHH!" Hinata mengepalkan kedua tanganya kedepan wajah Sasuke menandakan ia sangat keregetan dan emosi dengan manusia ini. Ia pun melepaskan sabuk pengamannya kemudian keluar dari mobil ini menuju bar yang sudah sangat ia hafal sebelumnya.

Didalam bar ini, musik menghentakan semua pengunjung yang ada didalamnya. Lantai dansa yang berada ditengah, diisi dengan lautan manusia yang sangat menyukai hal-hal seperti ini. Lagipula, lantai ini dipenuhi dengan manusia yang ingin menghilangkan pikirannya sejenak sebelum melanjutkan aktivitasnya lagi dan ada juga yang memang hobi mengunjungi tempat seperti ini. Hinata, wanita yang masih kesal soal tadi langsung saja duduk di depan meja bartender. Ia memesan segelas lemon tee yang tidak mengandung alkohol sama sekalih pun. Ia tau, jika ia meminum sedikit alkohol saja sudah pasti ia akan melakukan kekacauan yang bisa mempermalukan dirinya sendiri ataupun orang lain.

"Ini pesananmu Hinata," Hinata tersenyum dan mengambil gelas berisi lemon tee itu. Ia meminumnya dalam sekalih tenggak.

"Terimakasih ya Deidara-nii, dan aku kesini tidak bersama dengan Itachi. Dan kau juga jangan menelpon dia dan bilang aku disini, jika kau melakukan hal tersebut aku akan sangat marah dengan mu Deidara-nii," Deidara terkekeh dengan jawab wanita didepannya ini.

"Kau tau saja jika aku ingin menanyakan Itachi, kau kesini dengan siapa?" Hinata menunjuk pemuda tampan berambut gelap yang sekarang ini tengan berjalan ke arah mereka. Deidara langsung membulatkan matanya ketika tau jika Hinata datang dengan adik Itachi. Sasuke tersenyum manis kearah Hinata karena memang ia puas membuat gadis didepannya ini jantungan hahaha..

"Spirytus Vodka 1," Deidara mengangguk mengerti. Ia mulai mengambilkan apa yang diinginkan pelanggan didepannya ini.

"Ini silahkan," Sasuke mengangguk mengerti. Ia meminum-minuman yang baru ia pesan dengan tampang yang sangat evil. Hinata yang ada disampingnya hanya menatap malas dan menglihkan pandangannya ke arah lantai dansa. Ia masih memikirkan balasan apa yang cocok untuk Uchiha bungsu ini yang membuat dirinya menjadi sangat ketakutan setengah mati. Deidara yang tidak habis akalnya langsung memunggungi dua manusia ini dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengetikan beberapa kata untuk di tunjukan pada seseorang.

'Itachi cepat kesini. Hinata dan adikmu ada disini, aku akan mengawasinya hinggah kau datang'

Send.

Deidara mengirimkan pesan singkat itu ke Itachi. Ia sekarang malah menampilkan senyuman kemenangannya sekarang.

"Aku akan membantu mu mendapatkan Hinata Itachi, pasti!"

Ia berbalik badan lagi untuk memastikan Hinata masih ada didepannya.

TING TING

Wanita itu sudah menghilang dengan Sasuke yang sekarang juga menghilang. Deidara langsung panik setengah mati ketika mengetahui jika dua orang yang ia pantau sudah menghilang.

Dua manusia ini menari diatas lantai dansa dengan hebohnya. Yang membuatnya heboh adalah bukan kelakuan prianya, tapi kelakuan wanita yang berada dihadapan sang pria. Pria ini juga sudah sedikit mabuk karena ia langsung meminum minuman dengan kadar alkohol yang paling tinggi diantara minuman yang lainnya. Dan penyebab wanita ini menari heboh adalah ia juga salah meminum minuman yang tidak seharusnya ia minum.

3 menit sebelumnya

"Baru 120km/jam saja kau sudah ketakutan seperti itu, dasar penakut," ucapan Sasuke itu langsung membuat Hinata menjadi naik pitam. Ia sangat kesal dengan apa yang ia dengar barusan, tanpa sadar ia menuangkan minuman vokat itu kegelasnya dan meminumnya dalam satu tegukan. Sasuke yang melihat itu langsung mengambil gelas itu dari tangan Hinata.

"HEY?! KAU ITU BISA MABUK BERAT, JIKA KAU MABUK JUGA SIAPA YANG AKAN MENGANTAR KITA PULANG" Sasuke berteriak dengan keras.

"Aku tidak akan mabuk," balasan Hinata itu sangat berbeda jauh dengan apa yang dikatan badannya. Badannya seketika berubah menjadi lemas, dan juga kepalanya sedikit pusing. Sasuke yang melihat perubahan Hinata itu mengambil gelas yang ada didepannya dan meminumnya dengan cepat.

"KITA PULANG SEKARANG!"

"APA?! Aku tidak dengar tau."

Sasuke mengacak rambutnya frustasi.

"Kita pulang."

"Oh pulang oke," Hinata tersenyum manis ke arah Sasuke, "Tapi kau ini Uchiha Sasuke kan?"

"Iya iya. Ayo kita pulang," Sasuke berusaha menarik tangan wanita ini agar ikut pulang dengannya.

"Aku tidak mau, aku maunya dengan hmmm... Itachi hehehe."

"I-itachi?"

"Hmm.. Jika dengan mu.. aku tidak mau."

Setelah mengatakan hal tersebut, Hinata langsung berlari ke arah lantai dansa dan menghilang di antara kerumunan orang yang sedang hilang akal ini.

'Itachi? Sebenarnya apa hubungan mereka?'

Flashback end

"Kau ini memang benar-benar merepotkan orang," Sasuke langsung menarik tangan Hinata agar cepat pergi dari sini. Hinata yang tidak suka tangannya ditarik langsung menjabak rambut Sasuke agar melepaskan tangannya.

"YAK!"

"Lepasakan tangan ku bodoh," Hinata mengatakan itu tanpa sadar. Jika ia sadar sudah pasti ia akan ketakutan dan tidak berani menunjukan wajahnya lagi dihadapan Sasuke dan sayangnya ia sekarang ini sedang tidak sadar jika ia melakukan sebuah kesalahan besar.

"AISH."

Sasuke langsung melepaskan genggaman tangannya dan Hinata pun melepaskan cengkaraman tangannya di kepala Sasuke. Setelah melepaskan itu ia baru ingin bergegas pergi meninggalkan Sasuke, tapi ternyata badannya itu sudah tidak bisa menopang dirinya dan seketika itu juga ia pingsan. Sasuke yang melihatnya langsung mengangkat tubuhnya dan menepuk-nepuk pipi Hinata agar sadar. Kira-kira 10 detik ia menepuk-nepuk pipi Hinata tidak ada respon dan ia sadar pada akhirnya wanita ini pingsan akibat meminum minuman miliknya yang mengandung 96% alkohol. Jika kalian bukan seorang pencandu alkohol, kalian tidak akan mungkin kuat meminum minuman Spirytus Vodka jika masih pemula. Efeknya akan terasa yaitu pusing dan pada akhirnya kalian akan pingsan seperti Hinata sekarang. Seketika mereka berdua menjadi pusat perhatian. Sasuke yang sudah risih jika ia jadi pusat perhatian pun langsung menggendong Hinata di punggungnya dan pergi melewati kerumunan.

at Apartemen Sasuke.

Sasuke dengan kasarnya melemparkan Hinata keranjangnya. Rasanya punggungnya itu pegal sekalih, padahal kelihatannya wanita didepannya kurus tapi nyatanya apa? wanita ini jelas-jelas sangat berat.

"Aish, punggungku jadi sakit seperti ini."

Ia memukul-mukul punggungnya yang sakit akibat menggendong gadis yang ada didepannya. Ia melihat sekitar kamar apartemennya, seharusnya ia membeli apartemen yang berkamar dua. Jika berkamar satu kejadiannya akan seperti ini, contohnya ia jadi bingung kan tidur dimana jika ada seorang wanita tidur dikamarnya. Tiba-tiba ia teringat ucapan Hinata tadi 'Tidak mau... aku maunya... dengan Itachi hehehe...'

"Sebenarnya hubungan mereka itu apa?" ia mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Ia jadi penasaran dengan hubungan dua orang itu, dan soal bungkusan hitam itu juga. Apa mereka bekerja sama?

"Apa mereka bekerja sama untuk hal ini? jika memang bekerja sama? Tapi, aku belum tau marga dari nama Itachi yang dimaksud itu. Uchiha Itachi atau apa?" Sasuke mulai menganalisa apa yang sebenarnya terjadi. Jika benar semua yang ada dipikirannya itu, ia sudah pasti tidak akan melepaskan Hinata sampai kapanpun. Ia ingin tau ekspresi dan perasaan Itachi seperti apa jika orang yang dia cintai direbut oleh saudara kandungnya sendiri. Pasti sakit! Sakit sama seperti perasaanya ketika tau kekasihnya direbut oleh kakaknya sendiri. Ia tersenyum evil memikirkan hal ini.

Drrttt...

Ia terlonjak kaget ketika ada pesan masuk. Pesan itu membuat fantasinya menjadi hancur dalam sekejap.

1 pesan masuk

'Apa benar paket itu kembali lagi padamu?'

'Iya benar. Apa benar kau sudah memastikan paket tersebut sampai ditangan Hinata sendiri Shikamaru? dan kau awasi pergerakan Itachi.'

Send.

Sasuke mengirimkan pesan itu, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia ingin cepat-cepat tau apa yang sebenarnya terjadi. Kepalanya jadi pusing ketika memikirkan soal apa yang terjadi, sepertinya ia harus menengkan dirinya.

"Aku rasa, berendam di bak mandi dengan air hangat adalah pilihan yang tepat Sasuke," ia bergumam sendiri. Langsung saja ia melemparkan ponselnya ke belakang yaitu kasur dan bergegas melangkah ke kamar mandi.

"Aww!"

Baru ia ingin melangkah, tiba-tiba ada teriakan kesal dari belakangnya yaitu kasur. Sasuke yang sadar langsung menengok dan berlari ke arah wanita itu, yaitu Hinata.

"Ada apa?"

Hinata yang masih setengah sadar langsung saja melempar balik ponsel tadi ke arah Sasuke dan Tak! Tepat sasaran juga. Ponsel itu tepat mengenai dahi Sasuke. Sasuke yang belum sadar jika dahinya sedikit berdarah hanya bisa diam. Beberapa detik kemudian muncul perih di sekitar dahinya. Hinata yang melihat dahi Sasuke itu ada bercak merah pun mengecek bibir atasnya yang tadi tertimpa ponsel milik Sasuke.

"HINATA!"

"YES!" Hinata berteriak senang dan berdiri diranjang sambil mengancungkan jempolnya. Sasuke yang tadinya kesal mendadak menjadi bingung dengan keadaan Hinata yang menurutnya aneh.

"Didahi mu itu ada yang merah-merah seperti ku kan?" Sasuke tidak menjawab. Ia masih bingung dengan maksud dari kelakuan Hinata yang aneh.

"Iss! Kau tidak menjawab, nih maksud ku itu seperti merah ini," Hinata berjongkok dihadapan Sasuke. Ia memamerkan bibirnya yang berdarah akibat lemparan ponsel Sasuke tadi.

"Ini maksudku, kau kelihatan tidak?"

Sasuke langsung menarik Hinata agar lebih dekat dengannya. Ia ingin memastikan jika itu darah atau bukan. Ia mengelus bibir bawah serta bibir atas Hinata, dan benar! Itu adalah darah. Tapi ia bingung satu hal, jika orang berdarah pasti akan kesal kan? Tapi Hinata tidak, ia malah senang.

"Lihat lah," Sasuke menunjukan jari telunjuknya kearah Hinata. Hinata yang ditunjukan pun membulatkan matanya kaget.

"Gomen, aku t-" ucapan Sasuke terpotong akibat bibirnya ditutup oleh tangan Hinata.

"Aku yang harusnya minta maaf. Tangan mu kotor dengan lipsticku, maaf ya.." Hinata membersihkan tangan Sasuke yang kotor akibat mengusap darah dibibirnya dengan menggunakan celana yang ia pakai.

"Eh! Harusnya aku pakai tisu, aku bodoh ya.. Tunggu sebentar, aku cari tisu."

Hinata beranjak dari kasur untuk mencari tisu.

"Tunggu!" Hinata menengok dan tersenyum ke arah Sasuke. Sasuke berusaha menganalisa keadaan Hinata yang super aneh dan benar! ada yang aneh. Pipinya memerah sekalih. Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Hinata yang melihat Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya pun ikut menggelengkan kepalanya juga.

"Kau masih mabuk kan?" Hinata menggeleng

"Tidak."

"Waw. Ucapan dan keadaanmu sangat berbeda sekalih."

Hinata tersenyum manis ketika Sasuke mengatakan hal tersebut.

"Hmmm.. Tadi aku sepertinya melihat Itachi, tapi dimana ya?" ia melihat sekeliling mencari manusia yang bernama Itachi itu, "Dia tidak ada."

Hinata langsung menatap Sasuke dengan syok. Ia juga bahkan membungkam mulutnya.

"Benarkah?" Sasuke menanggapinya dengan satu anggukan. Hinata menampakan raut wajah yang sangat kecewa ketika tau jika Itachi ternyata tidak ada.

"Sudalah kau tidur," Hinata menggleng.

"Yasudahlah terserah kau," Sasuke beranjak bangum dari ranjangnya menuju kamar mandi yang hanya berjarak beberapa kaki dari ranjangnya.

"Tunggu," Hinata langsung menarik bagian bawah baju Sasuke. Sasuke yang ditarik pun menatap bingung Hinata.

"Kenapa kau jika dilihat-lihat mirip sekalih dengan kesayanganku Itachi."

SASUKE POV

Kesayanganku Itachi.

"Mata dan rambutmu mirip. Bahkan wajah tampannya juga mirip, tapi ada yang tidak mirip."

Ada yang tidak mirip? Apa yang tidak mirip diriku dan orang yang dibilang Itachi itu.

"Apa yang tidak mirip?"

"Senyum dan tatapan matanya. Kau sangat jauh berbeda."

Senyum dan tatapan matanya? Iya memang benar. Aku dengan kakakku berbeda hanya pada bagian tatapan dan senyum yang kami miliki. Lagi pula, wajahku ini sangat dingin berbeda sekalih dnegan wajahnya yang sangat hangat. Senyumannya saja sangat hangat seperti musim semi, tapi hatinya sangat berbeda dengan hangatnya wajah itu.

"Boleh aku bertanya soal Itachi mu itu?"

Ia mengangguk.

"Baiklah. Apa marga dari Itachi mu itu? Apakah Uchiha sama denganku?"

Ia langsung menggeleng cepat.

"Bukan Uchiha?"

"Ya."

"Jadi apa marganya?"

"Marganya itu... Hmm apa ya," ia mencoba memikirkan marganya. Aku harap ia ingat dengan marga dari orang tersebut.

"Aku ingat!"

"Benarkah?"

"Hmmm... Dia itu bermarga Akushina."

Akushina?

Berarti bukan Itachi yang aku maksud.

"Sasuke?"

Dia memanggil namaku sambil memicingkan matanya. Tapi aku benar benar penasaran dengan Itachi yang dimaksud olehnya.

"Hey!"

Apa Hinata punya fotonya? Ah! Pasti punya dia kan tadi bilang Itachi kesayangganku. Ya pasti punya.

"Hinata,"

Plak.

A-Apa? Apa-apaan ini? Dia mentoyor kepala ku seenaknya?!

"Ka-kau?!"

"Apa! apa! apa?" dia memalingkan wajahnya dariku," Issh! Aku kan memanggil mu dari tadi. Kenapa kau tidak jawab? Dasar manusia menyebalkan!"

Plak

A-apa?! Dia mentoyor ku lagi?! Mentoyor seorang Uchiha Sasuke?!

"Yak! Kenapa kau mentoyor kepalaku lagi?! Kau pikir kau siapa memangnya? Hah?!"

"Kau bertanya siapa aku?! Aku adalah Hinata, Wah kau bodoh sekalih ya..."

"Bo-bodoh?" dia mengangguk.

A-aku? bodoh.

"Yak! Kau pikir kau sedang bicara dengan siapa memangnya?!"

Dia tersenyum ke arah ku. Ia menunjukan jarinya ke wajahku, ia bahkan sekarang memutar-mutarkan jari telunjuknya kearahku

"Dengan manusia aneh, menyebalkan yaitu Sa-"

Pluk

Dia jatuh pingsan? Huft.. baguslah ia pingsan. Lebih bagus tidak mendengar suaranya dibandingkan mendengarnya. Bikin orang sakit telinganya saja, mending jika suara yang dihasilkan olehnya adalah kata-kata yang enak didengar, ini mah apa? Kata-kata menyebalkan dan tidak ada gunanya yang ia keluarkan. Dan soal aku bodoh?! Aku ini tidak bodoh, mana mungkin! Aku ini selalu nendapatkan juara kelas disetiap tahunnya dari awal SD hinggah Universitas. Dasar aneh, HUH?! Ingin rasanya aku menyentil bibirnya yang menyebalkan itu.

TOK TOK TOK TOK

Bunyi apa itu?

TOK TOK TOK TOK

Dari mana asal bunyi itu? Aku mulai memfokuskan pendengaranku. Tapi sepertinya bunyinya sangat dekat sekalih denganku.

SASUKE POV END

Sasuke mulai memeriksa daerah sekitarnya. Dan dia berhenti tepat di depan kantong celana Hinata, ia mulai memeriksa kantong celana depan posisi kiri. Dan ia menemukan ponsel putih.

Konan-nee Calling...

Sasuke langsung menggeser layar ponsel itu ke arah kanan.

"Hinata aku-"

"Maaf Hinata sudah tidur."

"A-apa?"

"Dia sudah tidur. Ada pesan yang ingin kau titipkan?"

"T-tidak ada. Ini Sasuke?"

"Hn."

"Oh baiklah. Bilang saja aku yang menelpon."

"Hm."

"Oyasumi."

Pip.

Sasuke langsung memutuskan panggilannya dengan Konan. Baru dia ingin meletakan ponsel Hinata di sampingnya, tiba-tiba ia terpaku dengan layar wallpaper ponsel Hinata. Terlihat Hinata dengan 3 pria lainnya. Pria di kanan pertama berambut merah, kedua kuning, 2 orang itu Sasuke mengenalnya karena memang ia pernah bertemu dengan 2 orang itu sebelumnya ketika pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan bersama Hinata dan Ibunya tapi, orang ketiga ini ia tidak mengenalnya. Orang ketiga ini adalah seorang pria berambut hitam yang merangkul Hinata. Tapi pria ini wajahnya di tutupi oleh stiker, apa ini yang dimaksud Itachi Hinata tadi?

TBC.

RNR ya kawan :D