Sasuke terdiam di sofa kamarnya. Memandang bulan dan bintang yang sudah dengan lancangnya merebut langit yang masih diterangi matahari. Dia mengibaskan rambut hitamnya yang basah setelah dia mandi tadi. Dia tidak gila. Sasuke sadar itu. Dia hanya menginginkan waktu untuk sendiri. Tanpa pekerjaan. Tanpa hiburan. Tanpa... Karin.
Sasuke menutup matanya saat bayangan wanita berambut merah nyentrik dan berkacamata manis, dengan mata yang lembut terbayang di pikirannya. Sasuke meremas rambutnya yang belum kering sepenuhnya saat rasa bersalah mulai muncul di hatinya.
Sasuke tahu itu bukan sepenuhnya salahnya. Tapi saat memikirkan bagaimana kenangan terakhir yang diingatnya dengan istri yang sebenarnya masih dicintainya itu, Sasuke menyesal. Dia menyesal tidak memperlakukan wanita itu dengan baik sebelumnya. Jika saja, dia tahu malam itu akan menjadi malam terakhirnya bersama wanita merah tersebut, pasti dia tak menyia-nyiakan waktunya untuk bertengkar, mempergunakan bibirnya untuk mencium wanita itu bukannya membentaknya, menggunakan tangannya untuk memembelai pipinya, lehernya -seperti yang disukai olehnya- , atau sekedar memeluknya, bukannya hilang kendali seperti yang lalu.
Sasuke meremas rambutnya lagi, sebelum membenamkan kepalanya di kepala sofa berwarna putih tersebut. Iya, dia menangis. Menangis memikirkan kesalahannya.
Am I Crazy?
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Warn : AU, OOC, Typo, Lemon (in very very next chapter), Update 'gak tentu.
Multi Chapter.
If u don't like this story, just leave this page alone.
Pukul 10.12 malam.
Sakura memperhatikan jam yang ada di atas pintu kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Lalu menghembuskan napas, dan membalikkan tubuhnya menghadap jam weker yang ada diatas nakas nya.
Sakura harusnya tidak memikirkan itu. Dia harusnya tidak kepo dan mendengar apa yang dibisikkan -diigaukan- pemuda itu. Sakura hanya berpikir, sebagai dokter yang akan menyelamatkan kejiwaan lelaki itu, dia harus mendapatkan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu lelaki tersebut. Iya, hanya motif itu.
"Iya, harusnya kubiarkan saja pemuda gila itu berbisik sendiri. Toh, dia memang gila", Sakura menatap jam weker pink bertelinga kelinci yang tersenyum lebar sebelum menutup wajahnya menggunakan bantal guling berwarna putih gading dengan corak lace warna hitam.
"Sebenarnya apa hubungannya dengan karin?", Sakura terdiam sejenak lalu menendang ke segala arah,hingga semua bantal yang ada ditempat tidurnya berpindah tempat kelantai. "Arghhh.. kepalaku rasanya mau pecah"
Sakura melihat kesekitarnya dan menyadari apa yang dia perbuat, menghela napas bosan, dia memperbaiki seprei nya yang sudah terlepas disana-sini hingga tak kusut sama sekali, menyusun bantalnya di atas kepala, bantal guling di tengah kasur, setelah itu naik dengan perlahan -agar kasurnya tidak kusut lagi- dan memeluk guling empuknya gemas.
"Tenanglah, Sakura. Yang akan kau hadapi besok adalah Sasuke bukan Karin. Jadi kau harus tenang, dan segar saat bangun pagi. Iya, tenanglah Sakura. Tak akan terjadi apa-apa"
oOo AIC oOo
Sasuke mengeratkan pelukannya ke bantal guling abu-abu yang kainnya terbuat dari beludru sutra. Benar-benar pasien kejiwaan kelas atas.
Sasuke menghela napas lelah, setelah sebelumnya terbangun akibat mimpi yang sama yang selalu dimimpikannya selama 1 tahun terakhir ini. Mimpi kejadian itu.
Sasuke meremas kasar rambut nya yang berantakan, "kenapa harus mimpi itu? Kenapa aku ditakdirkan dengan kondisi seperti ini. Kenapa?"
Sasuke meneguk air yang ada di atas nakas nya sampai tak tersisa satu tetes pun. Mengingat wanitanya membuatnya teringat pada dokter barunya tadi pagi.
"Mirip sekali." Sasuke mendongakkan kepalanya dan menutup matanya dengan tangan. Mulai mengingat apa saja kemiripan yang membuatnya tercengang saat melihat wanita itu berbalik untuknya pertama kali tadi siang.
'Senyum hangatnya. Rona wajahnya. Bulu matanya. Jenjang lehernya. Bibirnya-
Sasuke mengerjapkan matanya saat bayangan bibir Sakura melintas di pikirannya. Sasuke menarik sedikit sudut bibirnya keatas, dan menyentuh bibirnya sendiri.
'Sudah berapa lama? Saat terakhir aku memikirkan bibir seorang wanita?'
Tak ingin pikiran kotor mempengaruhi otaknya, Sasuke mulai memejamkan matanya lagi. Kembali menganalisis apa kemiripan lain antara Sakura dan Karin.
'Apa lagi ya? Oh, sifatnya.'
Sasuke mulai tersenyum lagi saat bayangan karin yang sedang tersenyum ceria saat memamerkan rambut yang baru dicatnya menjadi pink kepada Sasuke.
Flashback on :
Karin mekangkahkan kakinya keluar dari salon untuk menjumpai tunangannya di dalam mobil mewah berwarna hitam dengan ceria. Dilihatnya Sasuke yang menyender dipintu mobil sembari mengetik sesuatu di ponsel pintar terbarunya. Sasuke yang mendengar langkah kaki mendekat, langsung mendongakkan kepalanya dan langsung terkejut. Rambutnya?
"Hehe.. Hai, Sasuke, bagaimana pendapatmu", tangan putihnya menyentuh rambut baru nya sambil berkaca di kaca mobil Sasuke sebelum mengalihkan perhatian kepada kekasihnya itu.
Sasuke hanya tersenyum tipis, dan mengacak rambut Karin, "Pink? Apa kau serius, nona? Pink bukan warna yang cocok untuk wajah tuamu itu, hm?"
Karin langsing memukul dada bidang Sasuke yang sejajar dengan wajahnya. "Setidaknya, pria-pria yang dibelakangmu melihat kearahku dengan tersenyum." Karin melambaikan tangannya ke arah segrombolan pemuda yang masih menggunakan seragam sekolah mengenah atas. Dasar, masa-masa penuh hormon.
Sasuke langsung menangkap tangan Karin yang masih melambai kearah belakang. Dia tidak suka. Karin miliknya. Dan Sasuke termasuk salah satu orang yang teritoritas terhadap wilayah kekuasaannya. Sasuke melirik ke belakang dan memastikan 'para pemuda penuh hormon' tersebut melihat tanda kepemilikan dirinya atas Karin.
Tepat bersamaan saat Karin mendongak untuk melihat reaksi Sasuke, saat itu pula Sasuke memajukan wajahnya dan mengecap dalam tapi cepat rasa manis bibir Karin olehnya.
Terakhir kali yang masuk ke netranya hanya wajah merona Karin dan decihan pemuda-pemuda menengah atas dibelakangnya sebelum dia menarik Karin ke dalam mobilnya.
Flashback off :
Sasuke membuka matanya dan menatap kosong langit-langit kamarnya. Tangannya menyentuh bibirnya, lagi. Sasuke merasakan hatinya terluka lagi. Dia berusaha keras untuk tidak menangis dan terisak untuk hari ini, tapi ternyata tidak bisa. Tidak ada orang yang dapat menggantikan keberadaan Karin dihatinya. Tidak ada orang yang bisa menutup luka hatinya. Tidak ada.
Dan malam itu Sasuke Uchiha kembali menangis dan terisak lagi seperti malam-malam sebelumnya.
oOo AIC oOo
Sakura siap. Iya, dia siap. Dia siap untuk kembali melihat Sasuke lagi. Dia siap untuk memeriksa seorang anak muda yang menderita Claustrophobia. Dia siap untuk memeriksa Tsunade. Dia siap untuk memeriksa Ayumi yang menderita stress berlebih terhadap lelaki.
Sakura siap mengawali hari dengan senyuman cerah dan sapaan hangat.
Itu tadi.
Rencana untuk tetap tersenyum di hari ini diruntuhkan dengan seorang pemuda yang bernama Deidara yang menderita Claustrophobia dan ingin diobati dengan alasan. Dia malu dengan pacarnya. Iya, malu.
Sakura hampir menghajarnya saat dengan seenak hatinya dia menyeret Sakura untuk memasuki sebuah lemari yang memang dipersiapkan untuknya saat akan melatih pemuda berambut pirang panjang tersebut untuk tidak takut akan ruangan sempit lagi. Iya, menghajarnya. Menghajarnya seperti bukan pasiennya. Tapi, belakangan ini dia mendapat fakta bahwa Deidara ini sebenarnya adalah kakak kandung dari Ino, sahabatnya.
Iya, kakak. Harusnya Sakura lebih mengetahuinya dari awal. Lihat saja, dia bahkan seperti Ino dalam versi pria. Lihat rambutnya. Lihat matanya. Sakura mengerutkan kening, saat mendengar teriakan dari dalam lemari yang bahkan baru ditutup selama 1 detik yang lalu.
"Kyaa. Tolong jangan tutup pintunya, Haruno-san. Saya sangat takut. Saya bersungguh-sungguh". Melihat mata memelas dari pemuda didepannya justru membuat Sakura semakin emosi.
Bagaimana bisa ada yang lebih cantik darinya. Sungguh, kaum lelaki harusnya tidak memiliki wajah ayu dan memelas seperti ini! Bahkan mukanya akan terlihat seperti adonan kue basi yang berjamur saat memelas!
Sakura akan kembali menutup pintu lemari kayu itu lagi, sebelum pintu itu didorong keras oleh orang yang ada didalamnya.
BRAK
Sakura terjatuh dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya sebelum Ino dan para keamanan masuk dan menanyakan keadaan Sakura.
Sakura menjawab dengan lirikan tajam mata hijau bening nya, berdiri, dan mengibas-ngibaskan rok bagian belakangnya dan menunjuk Deidara dengan jarinya.
"Kau musibah!"
Dan disinilah dia sekarang, duduk di sofa ruangannya, sambil mengompres kepalanya yang mulai membiru dan menonjol. Di depannya ada Ino yang selalu meminta maaf.
"Sakura, aku sangat menyesal atas apa yang dilakukan kakakku. Aku tak menyangka hal ini. Sungguh, aku sangat menyesal Sakura". Ino menangkupkan kedua tangannya di dada. Sakura yang melihat itu menjadi tidak enak. Dia memang tipe orang yang akan memaafkan seseorang yang bersalah, saat orang tersebut mulai meminta maaf padanya.
Sakura menurunkan tangannya dan tersenyum maklum pada Ino. "Tidak apa-apa, Ino. Aku mengerti. Mungkin terapi tadi terlalu cepat untuk Deidara. Mengingat ini pertemuan yang pertama"
Ino memeluk sahabatnya itu. "Terima kasih, Sakura. Aku harus pergi untuk memanggil Sasuke. Atau kau ingin aku mengundurkan jadwal Sasuke juga?"
Sakura menggeleng pelan. "Tidak. Dia pasien khusus, Ino. Tidak mungkin aku mengundurkannya juga. Jadwalnya kan memang setiap hari".
Iya. Memang setelah kejadian Deidara tadi, Sakura meminta memundurkan jadwal untuk Ayame dan Tsunade, dengan alasan mengobati lukanya.
Tapi permohonan itu tidak berlaku untuk pasien khusus yang berdiam diri di kamar bertuliskan VVIP. Sasuke. Sakura sangat menyayangkan itu sebenarnya, tapi dia harus profesional, kan?
Pintu ruangannya terbuka, menampilkan pemuda yang memakai baju khusus seperti kemarin sebelum dilepaskan oleh keamanan. Sasuke melangkah masuk keruangan Sakura setelah mereka ditinggalkan berdua didalam ruangan ini. Mata jelaganya melihat Sakura yang menatapnya sambil mengompres lukanya.
Sasuke duduk di sofa panjang sambil terus memperhatikan Sakura yang mulai duduk di sofa yang berada tepat di depan meja kerjanya. Posisi yang sama seperti kemarin. Menandakan mereka belum mempunyai kedekatan apapun.
Tak tahan akan suasana hening disekitar mereka, Sasuke melangkahkan kaki nya kedepan Sakura dan berjongkok untuk melihat ekspresi gadis itu yang sedari tadi disembunyiknnya. Untungnya lagi, Sakura sedang menutup matanya, jadi dia tak menyadari Sasuke yang mulai memajukan wajahnya mendekati wajah Sakura.
Sasuke tak mengerti apa yang mendorongnya seperti ini, tapi entah kenapa mata hitamnya berkali-kali melirik kearah bibir Sakura yang meringis dan mata Sakura yang terpejam menahan pedih.
Sasuke melihat luka di jidat Sakura. Berdarah! Lukanya berdarah! Dan gadis ini hanya mengompresnya saja dari tadi?. Ah, sungguh bodoh sekali.
Sasuke melangkah menuju lemari kecil berlambang tanda tambah merah dan membuka lemari tersebut tanpa suara. Tangan kekarnya mulai mencari apa yang dibutuhkan. Kotak P3K dan sekantung besar permen. Dia tak mengerti kenapa ada permen disini, tapi mungkin permen ini berguna saat Sakura mulai menunjukkan sisi kekanakannya. Yah, semua wanita mempunyai sisi kekanakan kan?
Sasuke kembali kearah Sakura yang sudah mendongakkan kepalanya sambil tetap meringis sakit. Sasuke menelan ludahnya paksa saat melihat leher putih jenjang milik Sakura yang senantiasa akan terbuka dengan posisi Sakura yang mendongak seperti sekarang.
Sasuke berdiri di depan Sakura, dan membuka kotak P3K sesudah mencuci tangannya di wastafel di samping kamar mandi yang berada didalam ruangan Sakura.
Tangannya mengambil kapas dan menaruh alkohol di kapas tersebut. Melihat Sakura sejenak, dan menarik tangan yang terasa kecil digenggamannya tersebut.
"Apa yang kau lakukan?" Sakura menatap tajam Sasuke. Sungguh, dia termasuk orang yang tak senang dipegang oleh lelaki yang baru dikenalnya. Apalagi orang yang berhubungan dengan Karin.
"Hanya mengobati lukamu." Tangan Sasuke hampir menyentuh luka Sakura sebelum matanya melihat Sakura yang tersenyum sinis padanya. "Untuk apa mengobati memar dengan alkohol? Hm?"
Sasuke dengan santai membalas senyum sinis Sakura dengan yang lebih mengejek dari bibinya. "Lukanya berdarah. Heh."
Sakura akan menyentuh lukanya reflek, jika tangan Sasuke tidak mencegahnya, "Jangan dipegang. Percayalah padaku, Sakura."
Sasuke yang melihat Sakura menurunkan tangannya, mulai memberi alkohol pada luka gadis itu. Sakura meringis. Entah kenapa, Sasuke suka melihatnya. Ekspresinya sungguh lucu.
"Mau permen?" Seringainya muncul lagi saat Sakura membuka matanya dan menatapnya tajam. Sakura akan memprotes ucapan Sasuke saat dengan tiba-tiba Sasuke memasukkan permen berkaki berwarna merah kemulutnya dengan paksa. Sakura yang tidak mempersiapkan apa-apa sedikit terbatuk dan tak protes saat Sasuke memunculkan seringainya lagi.
Sasuke menyukai saat Sakura terbatuk karna permen itu. Entah apa yang merasukinya saat ini. Tapi, dia menggelengkan kepalanya pelan, dan mulai mengambil kapas yang sudah dilumuri obat. Menempelkan dengan perlahan ke luka yang mengotori wajah mulus milik Sakura.
Sasuke menatap Sakura yang sedang menatapnya polos sambil mengemut permennya. Sasuke menahan napasnya saat matanya melihat Sakura mengeluarkan permennya dan mengemutnya sebentar, mengeluarkannya, mengemutnya. Begitu seterusnya, sampai Sasuke lupa sudah berapa detik dia menahan napasnya.
Sakura yang melihat Sasuke berhenti, memutar matanya bosan, "Apa kau sudah selesai? Jika sudah, ayo duduk disofa dan kita mulai pengobatanmu"
Sasuke mengamati luka Sakura, dan mulai menduduki tempatnya semula. Kali ini berbeda. Dia tidak fokus. Ada apa dengannya. Sasuke sudah sering melihat adegan yang lebih dari ini, dan dia tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Tapi kenapa? Hanya karna melihat permen yang diemut oleh bibir tipis milik dokternya tersebut, bisa membuatnya setegang ini.
Sakura membuka map bertuliskan nama 'UCHIHA SASUKE' didepannya. Mulai menulis sesuatu, dan menatap Sasuke yang merunduk. Sakura menaikkan alisnya keatas. "Ada apa, Sasuke?". Sakura akan beranjak untuk memperhatikan Sasuke sebelum Sasuke berkata, "tetap disitu. Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Hah?", Sakura semakin bingung dengan sikap Sasuke seperti ini.
"Aku akan mengatakan apa yang ingin kau dengar, jika kau tetap disitu". Sasuke mengangkat tangannya kearah Sakura.
"Baiklah." Sakura tak memikirkan lebih lanjut perihal Sasuke yang berubah menjadi aneh dan mengangkat bahunya.
"Kau bisa menjelaskan apa yang terjadi padamu Sasuke. Pelan-pelan saja." Sakura menyiapkan pulpennya untuk menulis apa yang akan dikatakan oleh pasien tampannya ini. Tunggu? Tampan?
"Tidak ada. Aku hanya kehilangan istriku saja, aku terpukul karna kematiannya. Dia.. dia sangat berarti bagiku. Entahlah, aku hanya merasa dia takkan terggantikan" sejenak Sakura melihat pancarn kesedihan dimata Sasuke sebelum kembali ke sedia kala.
"Lalu?" Sakura melupakan catatannya dan menatap Sasuke daei ujung sofanya. "Apa kau pernah membuka hatimu lagi?"
"Entahlah. Itu semua tak berhasil, Sakura. Aku tetap saja..." Sasuke menghentikan ucapannya dan menatap Sakura, "maksudku, jika aku berhasil, aku tak mungkin berada disini bukan?"
Sakura menyadari nya. Pemuda ini enigma. Teka-teki terumit yang pernah dihadapinya. Dia ingin sembuh, tapi dia tak ingin membagikannya. Dia bahkan memotong bagian-bagian dari ceritanya. Cerita yang keluar dari mulutnya bagaikan sinopsis dari sebuah novel best seller. Mengundang orang untuk semakin membeli dan membaca akhirnya.
Sakura menghela napas, dan menutup map nya, berjalan kearah kabinet kaca dan mengambil snack(miring) dan meletakkan nya di depan Sasuke. "Kau pasti lapar, kau boleh memakannya"
Sasuke memandang toples berisi kue kering berwaena kuning keemasan, "apa itu manis?" Sakura mengambil sebuah kue dan memakannya sambil menatap Sasuke. Ya Tuhan, jangan lagi. "Mmm.. biasa saja"
Sasuke menatap kue itu sesaat sebelum kembali memperhatikan Sakura yang memakan kue ke-3 nya. "Aku mau kembali ke kamarku, Sakura."
Sakura mulai bangkit berdiri dan akan memencet tombol memanghil keamanan dan Ino saat Sasuke mengatakan, "tidak apa-apa. Aku bisa sendiri. Aku berjanji takkan bertingkah aneh yang akan membuatmu membenciku, Sakura"
Hanya itu. Setelah pintu tertutup, Sakura yang masih memproses kalimat yang keluar dari mulut Sasuke membuatnya tersenyum senang.
'Aku akan mendapatkan teman baru'
oOo AIC oOo
Itachi melangkahkan kakinya kedalam rumah besar milik orang tuanya. Rumah yang dapat dikategorikan mewah jika hanya ditinggali bertiga. Berempat sebenarnya. Tapi semenjak Sasuke memilih untuk mengambil kamar di rumah sakit, suasana yang tadinya sunyi jadi semakin sunyi.
Hidungnya mencium aroma roti yang baru keluar dari oven. Ibunya. Dia yakin, itu pasti Ibunya. Aroma masakan Ibunya sangat berbeda dari yang lain. Lebih wangi. Bahkan lebih wangi dari masakan chef ternama.
Itachi melangkahkan kakinya cepat kearah dapur besar rumahnya, sebelum matanya menangkap punggung tegap ayahnya yang sedang memeluk Ibunya dari belakang dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Ibunya. Melihat itu, Itachi tersenyum. Kenapa dia tidak memikirkan ini sebelumnya? Ibunya tidak akan repot memasak roti jika ayahnya tidak dirumah.
Itachi merasakan hatinya menghangat. Orang luar selalu menggosipkan hal buruk tentang keluarganya. Apalagi semenjak Sasuke tinggal di rumah sakit jiwa. Masyarakat selalu menghubungkan Sasuke yang kehilangan akal dikarnakan ayahnya. Itachi tidak mengerti kenapa masyarakat sampai berpikir seperti itu. Sasuke juga tidak mengerti.
Masyarakat selalu mengaggap Ayahnya kejam. Selalu membuat gosip tentang kekejaman dibalik kesuksesan Uchiha Kingdom. Perusahaan keluarga yang dikelola dari kecil oleh ayah Itachi, Fugaku.
Media juga sering membuat gosip bahwa sang Ibu, Mikoto tidak dilakukan sebagaimana mestinya oleh suaminya. Berita kekerasan dalam rumah tangga selalu membayangi punggung tegap ayahnya. Itachi tahu pasti, mungkin jika Ibunya tidak ada disamping ayahnya sekarang, Ayahnya bukanlah apa-apa.
Ayah dan Ibunya memang dijodohkan. Itachi sudah mengetahui ini dari cerita Ibunya. Memang kenapa kalo dijodohkan? Perjodohan tidak selalu berakhir tragis kan? Ayahnya memang tidak mengerti bagaimana cara memperlakukan wanita dengan romantis. Itu saja. Tapi bukan berarti dia tidak mencintai Ibunya kan?
Itachi melihat ayahnya mencium sekilas bahu istrinya dan melepaskan pelukannya agar Mikoto dapat bergerak bebas. Saat dia berbalik, dia terkejut melihat Itachi sedang berdiri tegak didepan sekat yang memisahkan dapur dengan ruang keluarga.
Fugaku mengalihkan pandangannya kearah lain dan berdeham sekilas. Oh lihatlah, pipi ayahnya memerah! Itachi benar-benar akan menuntut media yang berkata bahwa ayahnya kejam dan tak berperasaan.
"Halo, Itachi". Sapaan suaminya membuat Mikoto melihat kearah sekat, dan melepas apronnya.
"Halo, sayang. Bagaimana kabar Sasuke? Apa dia sudah mulai membaik?" Itachi tersenyum menanggapi ibunya. Dan mengalihkan perhatiannya kepada ayahnya yang sedang membaca koran.
"Sejak kapan kau berdiri disana, Itachi?" Tanya Fugaku tanpa menatap Itachi. Mikoto yang mendengar hal tersebut mulai memandang Itachi dengan wajah yang mulai memerah. Apa Itachi sudah pernah bilang orangtuanya sangat romantis?
Menyeringai kecil, dia menatap jahil Ibunya yang sudah merona. Ditatap seperti itu oleh anaknya sendiri, membuat Mikoto mengalihkan pandangannya ke dinding dapur. "Mungkin sejak..." Itachi menyentuh dagunya.
Suasana terdiam. Fugaku dan Mikoto menatap Itachi yang masih memikirkan jawabannya sebelum Itachi menjentikkan jarinya keras. "Sejak ayah memeluk Ibu dari belakang dan mencium leher Ibu". Itachi berusaha menahan ketawanya saat melihat wajah Ibunya sudah semerah tomat. Benar-benar memerah.
Itachi menatap ayahnya yang mengalihkan pandangannya ke meja makan mereka dengan polos. "Apa kalian akan membuat 'sasuke' lagi?"
Perkataan frontal Itachi sukses membuat wajah ayahnya memerah dan membuat Ibunya mulai kelalapan sambil menatap Fugaku, berharap Suaminya tersebut dapat membantunya keluar dari penganiyayaan karakter ini.
Fugaku berdeham sekali, dam menatap Mikoto. Menyuruh istrinya tersebut untuk pergi. Mikoto harus diselamatkan terlebih dahulu! Dia sangat tidak tahu mengontrol rona wajahnya didepan anak-anak.
Hei, perhatikan wajahmu sekarang pak tua.
Fugaku melirik Itachi sekilas. "Bagaimana produk makanan terbaru kita? Uchiha's Food baik-baik saja kan?"
Itachi tersenyum kecil dan melangkahkan kakinya keluar dapur sesudah mengucapkan kalimat yang membuat wajah Mikoto semakin memerah, dan Fugaku yang hampir tersedak kopinya.
"Aku menunggu 'Sasuke' baru dari kalian, lanjutkan saja yang tadi"
oOo AIC oOo
Sakura melangkahkan kakinya di lorong lobby rumah sakit ini saat suara Ino terlihat memanggilnya dari belakang, sakura berbalik dan melihat Ino menghampirinya dengan panik.
"Sakura, apa kau melihat Tsunade?" Kata Ino sambil memegang kedua bahu erat. Ino berkeringatnya. Wajahnya pucat. Dia ketakutan! Astaga, Sakura yang melihatnya mulai panik.
"Ada apa dengannya? Bukannya dia masih dikamarnya?", Sakura melihat beberapa suster lain yang mondar-mandir dan keamanan yang mulai memanggil nama Tsunade.
Sakura mulai keringat dingin, dia menarik tangan Ino untuk ikut mencari bersamanya. Ino menggenggam walkie talkie (miring) ditangan kirinya yang selalu sibuk dengan orang yang bersahut sahutan.
Sakura dan Ino sudah mengelilingi seluruh rumah sakit ini kecuali satu, sayap kanan! Sayap kanan rumah sakit jiwa ini berisi kamar-kamar VVIP dan merangkap sebagai panti asuhan para anak-anak berstatus milik negara.
Sakura melebarkan matanya teringat sesuatu. Boneka! Sakura melirik Ino yang masih sibuk berbicara pada seseorang dari walkie talkie nya. Dan langsung memotong percakapan Ino.
"Apa boneka Tsunade yang bernama Anna itu sudah dikembalikan?", Sakura memegang bahu Ino berharap bahwa wanita itu menanggapinya.
Ino hanya menaikkan alis matanya, "apa maksudmu, Sakura? Jelas saja belum."
Sakura mulai melirik kearah bangunan rumah sakit ini, "Kita pergi ke sayap kanan, entah mengapa aku yakin dia ada disana. Disana panti asuhan, Ino. Dan kau tahu apa yang terjadi jika Tsunade melihat anak-anak?"
Ino yang mendengar Sakura langsung berlari kearah sayap kanan sembari menginstruksikan kepada keamanan bahwa segera pergi kesayap kanan.
Sakura dan Ino membuka pintu kaca panti asuhan itu dengan pelan, panti asuhan ini lebih seperti rumah sakit khusus anak, dengan tembok dilengketi oleh wallpaper bergambar serta menarik perhatian, bangku-bangku berwarna warni. Tapi, bukan itu yang difokuskan oleh Sakura dan Ino sekarang ini. Mereka berdua melangkah dengan tenang di dalam koridor ini.
Langkah mereka berhenti saat mendengar suara nyanyian menyandungkan lagu tidur di dalam ruang bayi! Astaga! Jantung Sakura berdetak lebih cepat seiring dengan langkah mereka yang semakin denkat keruangan bayi.
Iris emerald dan aquamarine milik mereka berdua melihat Tsunade, wanita itu mengenakan pakaian khusus yang bisa diikat kebelakang. Tapi entah kenapa ikatan itu terlepas. Tsunade sedang menggendong anak bayi berambut coklat tampan yang sangat polos dipegang oleh Tsunade.
Tsunade menimang anak tersebut dengan teliti, "cup cup cup, mama disini sayang. Mama tidak akan meninggalkan mu lagi, oke?" Tsunade mengecup lembut dahi anak bayi yang digendongnya.
Sakura merasakan hatinya pedih melihat itu. Demi Tuhan, kenapa takdir begitu kejam pada wanita itu? Dia harus kehilangan suaminya satu hari sebelum dia melahirkan, dan harus kehilangan anak yang baru dilahirkannya hari itu juga. Hidup tak adil padanya.
Sakura merasakan matanya basah, dan melangkahkan kakinya memasuki ruang bayi tersebut tanpa menghiraukan panggilan dan peringatan Ino. Tsunade yang mendengar langkah kaki, langsung membalikkan tubuhnya dan menodongkan pisau yang ternyata dipegangnya saat menggendong anak itu.
"Siapa kau?!" Bentaknya kasar pada Sakura. "Aku tanya. Siapa kau ini ?! Apa kau ingin mengambil anakku lagi?!" Sakura melihat Tsunade yang memeluk erat anak kecil yang sudah menangis di dalam gendongannya. Anak kecil tersebut mungkin terbangun karna bentakan Tsunade.
Sakura mulai melangkahkan kakinya mendekati Tsunade, "Tidak?! Aku bilang jangan mendekat?! Kau tak bisa mengambilnya lagi dariku. Tidak akan!". Semua bayi dalam ruangan tersebut menangis karna Tsunade.
Tsunade yang melihat anak-anak bayi tersebut menangis, mulai menurunkan pisaunya dan menyembunyikannya ketempat semula. Dia menatap Sakura tajam sambil menimang anak bayi dalam dekapannya. Ajaibnya, anak yang dalam dekapannya langsung terdiam dan membuat senyum tipis di bibir Tsunade. Mendengar anak-anak lain mulai menangis Tsunade mulai bernyayi lagu tidur seperti saat pertama kali Sakura mendengarnya.
Sakura tersentuh. Wanita yang sedang menimang bayi didepannya tidaklah jahat. Takdir yang merubahnya, saat Sakura ingin mendekat, Tsunade menodongkan pisaunya, "AKU BILANG JANGAN MENDEKAAAT?!"
Tsunade dengan kalut hampir menusukkan pisaunya kearah dada Sakura, jika tak ada tangan yang memegang tangannya. Sakura menatap keatas melihat siapa yang menyelamatkan nyawanya. Matanya terbelalak melihat itu, berkali-kali dia melihat Ino yang juga masih terpaku.
Itu Sasuke. Bagaimana dia bisa ada disini? Kenapa Sasuke menyelamatkannya?
.
.
.
To be continue
.
.
.
Author's note :
- Claustrophobia : ketakutan akan tempat-tempat sempit
Pelan-pelan akan kebuka semua nya kok :)
Nikmati aja alurnya, ngahahaha.
Please review minna~~
Special Thanks to : SEMUANYA. ngefave, follow, review. BAHKAN SILENCE READERS yang jumblahnya membuatku meneteskan airmata /halaah.
Terakhir, maagjan atad tyop yagn daa ya!
