Sasuke merapatkan jaket birunya sebelum mencoba untuk membuka pintu kamarnya. Terbuka! Astaga, Sasuke tak percaya ini. Dia pasien rumah sakit jiwa. Tapi dia mendapat akses penuh atas kamarnya. Berterimakasihlah pada kamar bertag VVIP yang dipilihnya ini.

Kakinya menyusuri lorong VVIP yang ditempatinya selama setahun belakangan ini. Mata kelamnya berusaha menusuri lorong dan aksesoris-aksesoris rumah sakit yang ada di depannya sebelum matanya melihat dua orang wanita berlari didepannya.

Tadinya Sasuke ingin bersembunyi saat melihatnya karna takut akan disuruh masuk kedalam kamar, tapi ternyata mereka berdua hanya asik kejar-kejaran tanpa memperdulikannya. Sasuke mengangkat bahunya tidak peduli. Sasuke hendak melangkahkan kakinya lagi saat satu pemikiran terlintas dipikirannya.

Matanya masih bagus. Sasuke yakin itu. Dia yakin sekali sangat mengenal kedua wanita tadi. Sejenak, Sasuke menolehkan kepalanya kelorong rumah sakit yang dilalui oleh kedua wanita tadi. Pirang dan pink.

Mata Sasuke sedikit melebar saat mengetahui fakta yang terlintas dipikirannya. "Untuk apa mereka berlari di malam-malam seperti ini ?" Sasuke bertanya pada dirinya sendiri sebelum mengejar kedua wanita tersebut.

Am I Crazy?

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Warn : AU, OOC, Typo, Lemon (in very very next chapter), Update 'gak tentu.

Multi Chapter.

If u don't like this story, just leave this page alone

Sakura memperhatikan tangan Sasuke yang terluka akibat terkena pisau yang digenggam Tsunade saat menolongnya tadi. Sejenak, rasa bersalah melingkupi hatinya.

"Maaf."

Sasuke menolehkan kepalanya kearah gadis berambut merah muda yang sedang membalutkan perban kearah tangan kirinya yang terluka. "Untuk apa?"

Sakura menempelkan perban ditangan Sasuke sebelum menjawab, "karna sudah banyak merepotkanmu."

Sasuke tak menjawab apapun, sementara Sakura sedang memasukkan perban sisa kedalam kotak P3K. Kenapa tiba-tiba Sakura merasakan deja vu. Tadi siang, Sasuke yang mengobatinya, dan sekarang berganti? Sakura terkekeh kecil mengingat hal itu.

Sasuke melirik Sakura lagi sebelum melirik kearah luka yang ada di dahi Sakura. "Luka itu pasti akan berbekas" kata Sasuke.

"Hm?" Sakura memegang dahinya dan tersenyum, "tidak apa-apa. Aku sudah sering mendapatkan luka disepanjang tubuhku". Sakura tersenyum sambil menatap langit kemudian menggulung celana panjangnya mencapai lutut.

Sebuah luka jahitan.

Memanjang dari arah betis kearah lutut dan menghilang dibalik lipatan celana. Sasuke mengangkat kedua alisnya. "Luka apa ini?" Tangan Sasuke akan menyentuh luka tersebut jika tangan Sakura tidak menepisnya.

"Luka biasa. Kau tahu? Kenakalan remaja?". Sakura menaik-turunkan alisnya jenaka yang dibalas oleh seringai tipis Sasuke.

"Heh. Kau itu wanita. Harusnya kau lebih menjaga tubuhmu. Tubuhmu kehormatanmu, tahu". Sasuke terkekeh sambil memandang langit malam. Tak ada jawaban, dia menolehkan kepalanya kearah gadis yang sudah bersamanya di teras ini sejak tadi.

Sakura memandang kosong halaman rumah sakit dengan sendu, sebelum sebuah tangan bertengger di kepalanya, Sasuke tersenyum tipis dan bangkit dari tempat yang didudukinya tadi. "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Tapi sudahlah. Selamat malam, Sakura"

Sakura menatap punggung Sasuke yang mulai menghilang di koridor dengan sendu, "selamat tidur, Sasuke".

oOo AIC oOo

Sebuah mobil sedan berwarna hitam matte berhenti didepan gerbang bertuliskan pemakaman yang luas dan tentram. Dan angker. Dan sepi.

Pintu mobil terbuka dan menampakkan pemuda berkemeja hitam dengan kacamata hitam keluar dari dalam mobil sambil menggengam bunga mawar merah ditangan kanannya.

Pemuda bersurai merah tersebut melangkahkan kakinya memasuki wilayah pemakaman dan berhenti didepan makam yang bertuliskan nama seseorang.

Uchiha Karin.

Tangan kekarnya mencabut kacamatanya dan menaruhnya dikantong kemejanya. Meletakkan bunga, dan mengucapkan doa.

"Sudah lama ya, Karin". Kata pemuda tersebut sambil mencabuti tumbuhan-tumbuhan liar yang ada di atas makam karin tersebut. Tak ada jawaban.

"Sasuke masih saja belum keluar dari rumah sakit, Karin. Kepergianmu meninggalkan luka untuk kami." Netra hijau nya menerawang kearah pohon yang ada dibelakang makam Karin.

"Apa kau ingat Sakura Haruno?". Pemuda tersebut terdiam sejenak, "Dia sekarang menjadi dokter yang merawat Sasuke. Heh"

Pemuda itu menatap langit biru. Terdiam. Lalu menatap makam Karin sesaat sebelum berdiri dari makam tersebut. "Kuharap dia memaafkanmu. Agar kau tenang disana. Aku akan pergi. Sampai jumpa"

Pemuda itu mencium nisan bertuliskan nama Karin sejenak, dan meninggalkan pemakaman tersebut tanpa mengehui bahwa sejak tadi ada yang mendengar perkataannya dari balik pohon dibelakang makam Karin.

Itachi membuka matanya yang sedari tadi tertutup. Dia mendengar semuanya. Haruno Sakura. Gadis itu.

'Dia menjadi dokter pribadi Sasuke?'

Itachi menyunggingkan senyum tipis nya dan melangkah keluar dari balik pohon tersebut. Meninggalkan tempat tersebut sambil mengucapkan sesuatu dengan sangat lirih.

"Kuharap Sasuke bisa mengubah kesalahan kita dimasa lalu, Karin"

oOo AIC oOo

Sakura memasuki ruang tidur khusus dokter. Dia mendapat tugas jaga malam ini. Yang berarti dia harus tidur ditempat ini. Demi Tuhan, kamar ini bencana! Lihat sarang laba-laba itu. Debu itu. Seprei ini. Bantal kusam ini.

"Akhh". Sakura menjambak keras poni terbelahnya frustasi. "Aku tidak bisa seperti ini"

Dan disinilah Sakura berada. Diruangan prakteknya. Yah, ini masih lebih baik daripada kamar tidur dokter yang tak layak tadi. Setidaknya dia masih bisa tidur di sofa, iyakan?

"Huft, capek sekali hari ini"

Sakura menjatuhkan dirinya di sofa berwarna pink tersebut. Tapi, dia tak bisa langsung tidur. Pikirannya terlempar keperistiwa hari ini. Tentang Deidara, Sasuke, Ino dan Tsunade. Mereka orang-orang yang baik, sebenarnya. Khususnya Tsunade. Sakura jadi ingin cepat untuk mengobrol dengan Tsunade besok.

Sakura tersenyum. Tapi dia tetap tidak bisa tidur. Berdiri, dia berjalan kearah pintu.

'Mungkin mencari udara segar bisa membantu mengusir kepenatan ini'

Sakura berjalan tak tentu arah didalam rumah sakit yang sudah menjadi tempatnya bekerja selama empat hari ini. Matanya menelusuri semua furnitur yang ada disini. Ada lukisan perempuan mengambil air -aquarius- di sebelah lorong prakteknya, lukisan singa yang mengaum -leo- disebelah kanan lorong dan lukisan-lukisan bintang yang lain.

Sakura melangkahkan kakinya ke sayap kiri. Ruangan kamar jenis kelas 1 sampai kelas 3 ditelusurinya lambat-lambat. Hening. Semuanya diam. Sebelumnya, rumah sakit ini, khususnya dibagian ini ribut sekali jika pagi hari.

Sakura terus melangkahkan kakinya kedepan hingga dia sampai pada pertigaan yang menghubungkan sayap kiri, sayap kanan, dan Rumah Sakit biasa. Iya, memang rumah sakit jiwa ini terhubung kearah rumah sakit biasa yang merawat orang sakit. Entah kenapa dibuat seperti ini. Rumah sakit jiwa ini terhubung dengan rumah sakit biasa dan panti asuhan! Sakura menggelengkan kepala melihat pengaturan yang ada ditempatnya bekerja ini.

Mengingat dia tidak mempunyai urusan untuk pergi kerumah sakit biasa khusus orang yang sakit, jadi dia membelokkan kakinya ke kiri. Sayap kiri. Gedung berisi kamar VVIP dan panti asuhan.

Sakura tidak ingin kepanti asuhan. Itu mengingatkannya pada kejadian hari ini, jadi dia melangkahkan kakinya kearah ruangan VVIP. Entahlah, Sakura hanya menerima satu pasien dari kamar VVIP. Uchiha Sasuke. Tapi Sakura tidak angkat perduli. Masih banyak dokter handal lain. Banyak pasien, banyak dokter. Kita sebagai dokter tidak boleh memilih-milih pasien, kan?

Ketika Sakura melangkahkan kakinya kelantai 2 ruangan VVIP, Sakura dikejutkan oleh suara tangisan disebuah ruangan bernomor 001. Sakura terbelalak. Ruangan Sasuke! Sebelumnya Sakura akan pergi saja, tapi tidak. Sasuke adalah pasiennya. Tanggung jawabnya. Sakura tidak akan membiarkan Sasuke terluka lagi.

KRIEEET.

Suara pintu terdengar, dan Sakura melangkahkan kakinya masuk. Sasuke berada diatas tempat tidur. Meringkuk seperti bayi, sambil meremas rambutnya.

"Sasuke" panggil Sakura lirih. Tak ada jawaban. Sakura semakin mendekat kearah Sasuke. Melihat wajah Sasuke yang hanya kelihatan setengah.

"Hei. Sasuke?" Sakura menepuk punggung tegap Sasuke. Kasihan, Sakura duduk disamping Sasuke yang masih terbaring sambil menjambak rambutnya.

"Jangan tinggalkan aku, Karin". Sakura mendengar Sasuke berkata lirih, "maafkan aku". Sekali lagi, sakura merasakan hatinya tersayat oleh benda tajam tak kasat mata. Kenapa harus Karin?

Sasuke membuka matanya. Terkejut saat melihat Sakura yang berada disisinya. "Sakura?", Sakura tersenyum melihat Sasuke. "Kenapa kau berada disini? Kenapa kau bisa masuk?". Sasuke menatap pintu kamarnya, lalu menatap Sakura.

"Aku mendengarmu menangis. Jadi aku masuk saja. Kalau kau terganggu, aku akan pergi". Sakura akan beranjak dari tempat tidur jika tangan Sasuke tak menahannya.

"Tidak apa-apa. Kau bisa berada disini, Sakura". Sasuke kembali memeluk guling yang sempat terjatuhdari tempat tidur sebelumnya.

Sasuke kembali menatap Sakura yang sudah duduk disofa depan jendela kamarnya, "kenapa kau tidak pulang kerumah, Sakura?" Tanyanya.

Sakura menyilangkan kaki dan bersender kesofa berwarna hitam tersebut. "Aku ada jadwal jaga malam hari ini."

"Lalu? Kenapa tidak tidur?" Sasuke membuka percakapan. Lagi.

"Aku mau tidur. Jika ada tempat tidur yang layak", Sakura menatap jendela kamar Sasuke yang terbuka tapi dilapisi jerjak besi.

"Aku kira rumah sakit ini sanggup membuat sebuah ruangan khusus dokter". Sasuke menyeringai kepada Sakura. Dia sudah tahu 'ruangan khusus dokter' itu. Banyak dokter yang mengeluhkan persoalan yang sama. Dia hanya ingin menggoda Sakura. Itu saja.

Sakura mendengus keras. "Kau saja yang tidur diruangan yang bau, pengap, dan jorok seperti itu. Maaf saja, aku tidak sanggup". Sakura bergidik saat membayangkan akan tidur diruangan seperti itu.

Sasuke menyangga kepalanya dengan tangan kirinya sambil menatap Sakura, "Jika kau sepenjijik itu, tidur saja disini. Setidaknya, ruangan ini tidak bau, pengap, dan jorok seperti ruangan dokter, kan?"

Sakura menatap Sasuke berbinar, "apa boleh?" Sungguh, Sakura berharap Sasuke memperbolehkannya. Bukan apa-apa dia sangat mengantuk sekarang. Tapi sifat sialannya ini membuatnya tidak bisa bebas memilih tempat untuk tidur. Dia harus tidur ditempat tidur. Tidak bisa disofa, ataupun dilantai. Termasuk tidak diruangan mengerikan itu.

Sasuke mengangkat alisnya heran. Tidak menyangka akan mendapat jawaban yang tidak terkira dari Sakura. Dia hanya bercanda, tapi apa boleh buat? Lihat matanya yang sembab itu, bahunya yang turun tanda dia kelelahan. Oh! dan jangan lupa sejak tadi gadis itu menguap. Sasuke tidak mungkin tega membiarkannya, kan?

Tersenyum tipis, Sasuke melepaskan tangannya dari kepalanya dan berguling kearah kanan, menatap Sakura sejenak, dan menepukkan sisi kosong dibagian kanan kepada Sakura. Tanda dia setuju Sakura menginap dikamarnya malam ini.

Sakura yang melihat tanda itu langsung bangkit dari duduknya. Demi Tuhan, Sakura akan membalas kebaikan hati pasiennya itu kapan-kapan. Dia sangat mengantuk, sekarang.

Sasuke tersenyum tipis melihat Sakura datang dengan setengah berlari kearahnya, tangannya bergerak mengambil bantal dari bawah kepalanya dan menaruhnya disisi kanan, sebelumnya dia tidur dengan memonopoli bantal-bantal, tapi mungkin sekarang dia harus berbagi.

Sakura menelunsupkan kakinya kedalam selimut tebal Sasuke dan meletakkan kepalanya kearah bantal yang sudah disiapkan Sasuke untuknya tadi. Tanpa basa basi lagi, setelah menguap sekali dan mengucapkan selamat tidur singkat kepada Sasuke, Sakura jatuh kealam mimpi ditandai dengkuran halus di bibir tipisnya yang terbuka.

Sasuke masih setia tersenyum tipis sambil melihat Sakura disampingnya. Tangan kekarnya mengambil bantal guling yang ada ditengah-tengah mereka dan melempatkannya kelantai. Menghapus jaraknya dengan Sakura, tapi masih menyisakan sejengkal dari badan Sakura.

Netra hitamnya semakin berat dan semakin lama menutup. Tak lama Sasuke pun mulai melanjutkan tidur yang tadi sempat terputus sambil memeluk pinggang Sakura.

oOo AIC oOo

Itachi meminum wine dari gelas bertangkai nya. Netra hitamnya memandang lantai dansa yang berada di bawah. Hingar bingar musik yang masuk ketelinganya tidak diperdulikannya.

Netranya yang sedari tadi menatap kebawah bukan bermaksud apa-apa. Dia sedang melihat gadisnya. Wanitanya. Sedang menggoyangkan tubuh langsingnya seduktif. Menggoda pria-pria yang haus seks untuk datang dan menyentuhnya.

Matanya memicing saat seorang pria tampak meremas bokong sintal wanitanya. Tidak! Dia tidak tahan lagi. Menaruh gelas berkaki itu diatas meja bar dengan sedikit kasar. Kakinya yang tertutupi sepatu coklat menuruni tangga berlikuk yang langsung terhubung kelantai dansa.

Dia harus menyeret wanita itu sekarang juga. Dia, kekasihnya. Inuzuka Hana. Wanita berambut coklat itu tersentak saat merasakan pinggang nya ditarik kesamping. Matanya langsung bertubrukan dengan mata hitam tajam Itachi.

"Apa-apaan tadi, huh?", Itachi menyeret Hana keluar menjauh dari lantai dansa yang penuh sesak oleh manusia biadab yang menempelkan tubuhnya satu sama lain.

"Tidak ada. Hanya bercanda, sayang". Hana mengelus tangan Itachi yang berada di perutnya lembut sambil menatap kearah lantai dansa, "Jarinya sudah kupatahkan. Tenang saja". Hana mendekatkan bibirnya kearah telinga Itachi, "Aku milikmu, kan?", katanya sambil menyeringai.

Itachi menatap Hana sambil tersenyum tipis sebelum mengecup sayang hidung mungil wanita itu. "Tentu saja", Itachi mencium bibir Hana dengan kasar. Masih terbawa emosi karna kejadian tadi.

Hana hanya membalas ciuman panas itu dengan melingkarkan kedua tangannya kearah leher keras pemuda itu dan menariknya lebih dalam. Tangan Itachi perlahan turun kearah bokong padat gadis itu dan meremasnya kuat sambil memperdalam ciumannya.

Hana memekik senang saat Itachi mulai membelai pahanya sambil menaikkan ciuman kearah telinganya. Bagian sensitifnya. Hana melirik kesekitar dan mendapati pemuda yang meremas bokongnya sedang menatap mereka dengan pandangan terkejut. Hana tidak memerdulikannya dan terus menikmati sentuhan Itachi.

"Jangan disini, Itachi-kunh~ ahh~". Hana mendesah saat tangan nakal Itachi memasuki bagian bawah gaun ketatnya dan mengelus paha dalamnya sambil melebarkan kedua kaki Hana.

Itachi tidak memperdulikan apa-apa lagi. Saat ini, yang dia butuhkan hanya Hana. Celananya semakin menyempit saat tangan kanannya menyentuh daerah sensitif gadis itu didalam sana. "Kita pindah", katanya dengan suara berat.

Hana hanya pasrah saat Itachi menggendongnya kearah kamar khusus yang disiapkan oleh pemilik bar mewah ini. Itachi menaruhnya ketempat tidur dan menindihnya.

Hana hanya pasrah melihat Itachi yang tertutupi kabut nafsu. Dia pun begitu, rasanya ingin memiliki lelaki itu segera. Ingin Itachi berada didalamnya. Memasukinya.

Dan semua terjadi begitu singkat. Itachi membuka pakaiannya. Dia membuka pakaian pemuda itu. Itachi mendorong dalam dan kasar kejantanannya. Dia membalas dengan membuka lebar kedua kakinya. Itachi menggoyangkan cepat pinggulnya. Dia mengaitkan kakinya kepinggang Itachi.

Itachi mencengkram kuat kepala tempat tidur yang sudah terhentak keras kedinding. Dia hampir sampai. Wanitanya sudah sampai beberapa kali tadi. Hana hanya menggigit bibirnya keras saat tersentak lebih keras kearah kepala tempat tidur, sesekali kepalanya terbentur keras yang dibalas dengan elusan sayang Itachi dikepalanya.

Hana meremas seprei saat Itachi menciumnya untuk menahan desahannya. Dia sampai. Itachi hampir membalikkan Hana tanda untuk memulai ronde berikutnya sebelum Hana memelas kecapaian. Itachi hanya tersenyum manis dan mengecup hidung Hana sekali lagi sebelum melepaskan dirinya dari tempat persatuan mereka.

Itachi menjatuhkan diri disebelah Hana yang dibalas dengan pelukan manja wanitanya. Itachi tersenyum tipis dan membalas pelukannya tapi senyumnya sirna saat mengingat perkataan Gaara didepan makam Karin, sahabatnya.

"Hana", panggilnya lembut sambil mengelus sayang rambut coklat kehitaman wanitanya.

"Hmm?", Hana semakin mengeratkan pelukannya pada Itachi manja. Meminta agar Itachi memeluknya juga.

"Apa kau ingat Haruno Sakura?", perkataan Itachi sukses membuat Hana melepaskan pelukannya pada Itachi dan menatap mata kelam Itachi.

oOo AIC oOo

Sakura menatapnya kesal. Iya, memang ini salahnya. Salah Sasuke. Tadi, saat Sasuke bangun tidur dia segera menuju kekamar mandi untuk melaksanakan ritual yang selalu dikerjakan oleh orang yang terbiasa bangun pagi, terutama cowok sepertinya. Buang air kecil.

Tapi, Sasuke lupa bahwa Sakura nginap dikamarnya semalam. Tanpa babibu lagi, dia membuka pintu kamar mandinya dan bertepatan dengan Sakura yang melangkahkan kakinya keluar dari shower dan akan mengambil handuk.

Dan semuanya terjadi. Sasuke melihatnya dengan jelas. Lekuk tubuhnya, payudara sintal dan berisi nya, bokoknya yang bulat dan penuh, kulit putih kencangnya, daerah terintimnya yang mulus tidak ditumbuhi bulu. Semuanya!

Dan Sasuke mengutuk kemampuan mengingatnya seketika, karna bayangan itu tidak akan pernah hilang selamanya.

Tapi itu kan bukan salahnya sepenuhnya. "Siapa suruh kau tidak mengunci pintu". Sasuke melipat kedua tangannya dibahu sambil mendengus kesal. Hei, siapa yang tidak kesal? Ini kan kamarnya, dan tidak ada orang yang tidak akan kesal jika dituding melakukan kesalahan didaerah teritorialnya.

Sakura mulai menurunkan tangannya yang sebelumnya terlipat didada. Dan membuang mukanya, "apa saja yang kau lihat tadi?".

"Semuanya"

Perkataan Sasuke membuat bola matanya hampir copot keluar karna melotot. Astaga! Pemuda bermulut sinis ini. Dasar gila. "Lupakan itu. Aku tidak ingin menjadi fantasi liarmu setiap malam".

Sasuke menatap Sakura dengan satu alis terangkat tinggi, "aku tidak bisa melupakannya. Aku punya penyakit sejak kecil yang membuatku mengingat setiap detail peristiwa yang terjadi dihidupku", mata Sasuke bertatapan dengan mata hijau Sakura dan seketika tersenyum sinis, "tenang saja. Payudara sekecil itu tidak akan membuatku terangsang"

Sasuke bohong, tentu saja. Dia bahkan mati-matian menyembunyikan ereksinya sendiri sekarang. Tuhan memang adil, dia membuat cowok selalu ereksi dipagi hari dan membuat kaum wanita lebih menggoda dipagi hari. Apa itu kebetulan? Tidak, Tuhan pasti sudah merencanakan pengaturan ini sejak saat di taman eden dulu.

Sakura semakin melototkan matanya dan pipinya menjadi semakin merah. Bukan, bukan karna malu. Ini lebih ke hasrat untuk mencekik seseorang. Bahkan untuk status pasien Sasuke, pemuda itu tetap saja menyebalkan.

"Huh. Biarin. Apa masalahmu, sudahlah aku pergi saja". Sakura melangkahkan kakinya kearah pintu sambil menghentak-hentakkan kakinya kelantai. Tingkah Sakura bukannya membuat Sasuke takut dan meminta maaf. Justru membuat Sasuke semakin gencar mengatainya.

"Sampai jumpa nanti, rata".

Sakura membanting pintu saat mendengar Sasuke memanggilnya begitu dan melangkahkan kakinya menjauhi ruangan VVIP dan kembali keruangannya.

oOo AIC oOo

Panas sekali. Suhu dinegara Jepang ini semakin hari semakin panas, bahkan sekarang memasuki angka 36 derajat. Astaga!

Seorang wanita berperawakan keibuan mengetuk ruangan bernomor 001 VVIP tersebut dengan semangat sambil menggandeng perempuan manig bersurai coklat disebelahnya.

"Hana, apa benar ini ruangan Sasuke?", tanya wanita disebelahnya. Sebenarnya setelah malam panas mereka semalam, Itachi menyeret Hana kerumah keluarga Uchiha. Katanya Mikoto, ibunya, ingin mengunjungi Sasuke dan meminta ditemani oleh Hana.

Hana sebenarnya ingin menolak dengan alasan after taste yang ditinggalkan Itachi semalam pada kewanitaannya masih terasa menyakitkan. Tapi, apa daya menolak wanita yang sudah melahirkan kekasihnya itu. Dari dulu, Mikoto sudah akrab dengan Hana mengingat keluarga Inuzuka adalah kolega bisnis keluarga Uchiha.

Jadi, disinilah Hana sekarang. Siap mengunjungi Sasuke, adik kekasihnya dan mantan suami sahabatnya.

Mikoto membuka pintu dengan pelan dan melihat Sasuke yang membaca buku menggunakan kacamata minusnya. Sasuke menayap kearah Mikoto dan tersenyum tipis melihat ibunya datang mengunjunginya. Dia merindukan ibunya, tentu saja.

Mikoto berjalan kearah Sasuke dan langsung memeluk Sasuke erat yabg dibalas dengan oelukan erat oleh Sasuke juga. Netra hitam Sasuke melihat Hana yang berjalan tertatih seperti menahan sesuatu kearahnya. Melihat gesture tubuh Hana, Sasuke tersadar sesuatu.

Menyeringai kejam, Sasuke menatap Hana, "Apakah kau habis melakukan kerja rodi semalam, Hana-nee?" Pertanyaan Sasuke membuat pipi Hana memerah malu dan menatap Mikoto yang menatap Sasuke tidak mengerti.

"Tidak, Sasuke. Hana semalam menginap diapartemen Itachi karna kehujanan". Sasuke menatap bosan Ibunya yang sesang melangkahkan kaki kearah kulkas kecil kamarnya. Kenapa ibunya masih sepolos ini? Karna terlalu poloslah, ayahnya sering mengambil kesempatan dengan menyentuh ibunya sembarangan.

Sasuke hanya menggelengkan kepalanya bosan san tidak membahas apa-apa lagi. Netra nya menatap Hana yang sedang duduk disofanya sedang memelototinya, memperingati untuk tak membahas apa-apa tentang dirinya lagi.

Pintu kamar terbuka lagi, dan perawat berambut pirang memasuki kamar Sasuke. "Uchiha-san, sekarang jadwalnya kau konseling".

Sasuke bangkit dari tempat tidurnya, "baiklah" dia menatap ibunya yang menatap Ino. "Bolehkah saya ikut juga? Saya ibunya".

Ino menatap Sasuke dan menganggukkan kepalanya, "Silahkan, nyonya".

oOo AIC oOo

Ino mengetuk pintu coklat dan membukanya perlahan. Sakura tersenyum manis melihat Sasuke masuk. Walaupun tadi pagi dia marah sekali pada Sasuke, dia harus profesional kan?

Senyum sakura pudar saat mendapati dua orang lagi duduk di sofa panjang yang memang dikhususkan untuk pasien. Tapi tunggu, siapa kedua orang ini? Otak Sakura masih bagus untuk mengingat pasiennya hanya Sasuke disini. "Ehm. Maaf". Sapanya kepada dua wanita ini.

Mikoto menatap Sakura dengan pandangan berbinar, "Wah, kau gadis yang sangat cantik, Haruno-san". Mikoto menangkupkan kedua tangannya kepipi Sakura gemas.

Sakura hanya diam mematung. Bukan karna remasan gemas wanita itu. Bukan karna tatapan jenaka Sasuke. Tapi lebih karna terkejut seseorang yang dikenalnya dimasa lalu ikut masuk keruangan ini. Inuzuka Hana. Nama itu terpatri keras di otaknya. Menyebarkan alarm bahaya dan sensor refleks untuk menjauh dari wanita itu.

Sakura berdehem dan menatap Sasuke, "Baiklah, Sasuke. Aku hanya ingin memberitahukan berita bagus. Aku sudah merekomendasikanmu agar terlepas dari rumah sakit ini. Kau bisa rawat jalan. Setidaknya kau sudah tidak agresif lagi dan dapat membahayakan dirimu. Jadi rumah sakit akan setuju dan menandatangani berkasnya"

"Benarkah? Sasuke bisa pulang? Kapan?", pertanyaan bertubi-tubi yang dilancarkan Sakura hanya dibalas senyum manis wanita tersebut.

"Antara lusa atau besok, kabarnya akan dikirim ke fax rumah anda secepatnya". Sopan. Sakura berusaha untuk tidak berteriak histeris saat ini. Mau apa Hana datang kesini? Da hubungan apa dia dengan Sasuke?

'Tidak. Aku sudah sembuh. Iya, Aku tidak ada urusan lagi dengan Karin ataupun dengan yang lain'

Setelah sesi tanya-jawab seputar Sasuke-bisa-pulang dan teriakan kebahagian Mikoto karna putra nya akhirnya bisa pulang, mereka bertiga akhirnya pergi dari ruangan ini.

Sakura menatap kertas pemberitahuan kepulangan Sasuke kosong. Iya, begini lebih baik. Sasuke akan menjauh dari kehidupannya. Sasuke pergi. Artinya, dia tidak berurusan lagi dengan Karin, Hana, ataupun yang lain.

Iya, lebih baik.

oOo AIC oOo

Hana memasuki ruangan besar yang diketahuinya sebagai ruangan kerja pribadi kekasihnya dari saat sekolah menengah atas, Uchiha Itachi.

Hana berjalan mondar-mandir diruangan kosong Itachi sambil sesekali melihat jam dan pintu. Cemas, itu yang dia rasakan sekarang. Saat bertemu Sakura tadi, hatinya mulai cemas. Dia takut. Sangat takut.

Pintu ruangan terbuka menampilkan Itachi dengan jas hitamnya masuk dengan sekretaris pribadi yang setia membuka kancing kemejanya sehingga menunjukkan belahan payudaranya dibalik kemeja putih ketat itu.

Hana akan dengan senang hati menjambak rambutnya dan memulai pertengkaran kalau dia tidak ingat apa yang akan dibicarakannya. Matanya menatap Itachi dan memberi tanda bahwa dia ingin berbicara berdua.

Itachi mengibaskan tangannya keatas, menyuruh sekretarisnya pergi yang dibalas dengan delikan tidak suka sang sekretaris seksi kepada Hana yang dibalas dengan pelukan mesra dan manja dipinggang kekar Itachi.

Setelah pintu ditutup, Itachi memulai pembicaraannya, "Ada apa, sayang?", Itachi menyelipkan anak rambut Hana di belakang telinga Hana. Kebiasaannya saat bersama wanitanya itu.

"Aku bertemu Haruno Sakura", perkataan Hana sukses membuat Itachi membelalakkan matanya dan menurunkan tangannya dari telinga Hana.

"A-apa ?"

.

.

.

to be continue

.

.

.

Author's note:

Apa ada yang mulai tahu apa hubungan Sakura dan karin? NGAHAHAHA..

oh ya, chap lalu yang tanda miring2 itu sebenarnya mau diedit, tapi kelewatan, namanya juga manusia..

Oh iya, untuk semua yg ngereview, fav, follow, makasih banyak ya, astagaa. Karna aku buat cerita pake tab dan bukan laptop jadi nama kalian gabisa aku sebutin satu2 tapi tetap aku baca kok.

Aku gak bisa bikin yang terlalu vulgar, bukan karna hanya melanggar peraturan ffn, tapi karna kokoro gak bisa dek.

Terakhir, review minna~~