Am I Crazy?

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Warn : AU, OOC, Typo, Lemon (in very very next chapter), Update 'gak tentu.

Multi Chapter.

If u don't like this story, just leave this page alone.

Itachi menatap karpet hitam yang ada dikakinya. Dia masih memikirkan perkataan Hana tadi. Tentang Sakura. Bagaimana reaksinya.

Itachi merebahkan dirinya ke kasur empuk miliknya. Masih terlintas di benaknya bagaimana kondisi gadis itu saat kurang lebih 10 tahun yang lalu. Saat dimana dirinya dan teman-temannya masih melewati masa-masa remaja yang penuh kenakalan. Penuh tawa. Penuh kenaifan. Penuh ambisi untuk mengecap bagaimana rasanya menjadi penguasa.

Flashback On.

10 tahun yang lalu.

Konoha High School. Sekolah megah berkualitas tinggi berselimutkan kemunafikan. Orang-orang diluar sana sangat penuh ambisi ingin memasukkan anak-anaknya kesekolah yang bergengsi ini. Bahkan yang hanya lewat saja tahu bahwa sekolah ini diliputi harta dan tahta.

Sakura, satu dari sekian banyak manusia yang lulus disekolah ini merasa menyesal masuk ke sekolah yang dulu dibanggakannya. Jalur beasiswa. Tanpa uang. Tanpa sogokan. Tanpa kepalsuan.

Dari dulu dia memang hidup mandiri di sebuah flat kecil dipinggir kota yang jaraknya agak jauh dari sekolah yang dia tempati ini.

"Hey, gadis culun beasiswa"

Kepala merah mudanya menoleh kebelakang saat mendengar panggilan itu. Seketika matanya menunduk kelantai menghindari tatapan yang paling dibencinya.

Kingdom. Perkumpulan anak-anak kelas atas disekolah ini. Tak sembarang orang bisa masuk ke geng ini. Perlu banyak cara yang dikorbankan untuk masuk kedalamnya. Mulai dari jadi budak, memberikan uang secara percuma, tampil keren dan mewah, bahkan ada yang sampai rela melepas keperawanannya.

Gila.

Perkumpulan ini adalah para penguasa yang akan membuat orang menundukkan kepalanya ketika mereka lewat.

"Kenapa kau diam? Kesini. Sekarang." Jari telunjuk tegas pemuda itu mengayun didepan dadanya. Melihat itu Sakura melangkahkan kakinya kedepan.

Sakura masih menundukkan kepalanya saat jarak antara dirinya dan mereka hanya lima langkah. Sakura merasakan kepalanya diangkat secara paksa dengan telunjuk kekar yang tadi menyuruhnya mendekat. Netra hijau beningnya berhadapan dengan netra hijau pekat milik seorang pemuda berambut merah. Rei Gaara.

"Dasar jalang. Berlutut, dong",Bahunya ditekan paksa oleh seorang perempuan cantik berambut kecoklatan. Inuzuka Hana.

Sakura merasakan lututnya perih karna disuruh berlutut dihadapan orang-orang yang sekarang sedang menertawakannya ini. Matanya menatap sekeliling yang tak berani untuk mengungkapkan suara. Tidak ada satupun. Bahkan ketua osis yang terkenal tegas hanya memandangnya dingin. Uchiha Itachi.

Apa salahnya? Dia merasa tidak melakukan apapun. Kenapa mereka memperlakukannya seperti ini? Hal seperti ini sudah berlangsung dari saat penerimaan murid baru. Sekarang dia sudah kelas 3, apa tidak bisakah mereka melepaskannya barang sedikit saja?

"Apa yang akan kita lakukan sekarang ya?" Suara jernih seorang perempuan berambut pirang sepunggung yang sedang memegang dagunya bergema dilorong sekokah yang sepi tanpa suara itu. Shion.

"Jangan dilakukan sekarang. Nanti saja". Timpal seorang perempuan berambut merah muda tua disampingnya. Tayuya.

"Cih. Aku tahu apa yang akan kita lakukan, teman-teman". Suara riang lelaki berambut cepak oranye merasuki pendengaran Sakura. Pein.

Sakura hanya memejamkan matanya takut sampai seseorang menjambak rambutnya dan mendongakkannya keatas hingga melihat siapa pelaku penjambakannya. Uchiha Itachi menatap dingin kearahnya.

"Kau tunggu saja nanti"

Flashback Off.

Itachi menghembuskan nafasnya lelah. Tangannya meraih handphone hitam terbarunya dan memencet nomor yang sangat dihapalnya luar kepala.

Inuzuka Hana.

Tak butuh waktu lama saat nada hubung panggilannya berganti kesuara serak Hana. Itachi tersenyum tipis. Gadisnya baru bangun tidur tenyata.

"Aku ingin bicara sesuatu".

Hana menaikkan alisnya tak mengerti, "Tentang apa?"

Itachi menghembuskan napas berat sekali lagi, "Sakura".

oOo AIC oOo

Sakura berjalan kearah kamar Sasuke saat mendengar ada suara teriakan samar dan rintihan kesakitan didalam kamar VVIP bernomor 001 tersebut. Deja vu. Sakura merasakan deja vu. Ada apa dengan Sasuke?

Sakura membuka pintu itu dan mendapati Sasuke sedang meremas bantal guling nya dan berteriak pelan. Tubuhnya gemetar ketakutan. Dan keringat membasahi dahinya.

Sakura melangkahkan kakinya kedepan Sasuke dan menyisir ranbut basah Sasuke dengan jarinya. Matanya menatap kelopak mata yang tertutup tersebut khawatir. Demi Tuhan, Sasuke adalah pasiennya.

"Sasuke", Sakura menggoyangkan pelan bahu Sasuke. "Hei ada apa?".

Sasuke tetap menggumamkan sesuatu yang tak dapat didengar Sakura. Perempuan itu masih ada disana mengelus kepala Sasuke sampai jarum jam menunjukkan pukul 9 malam. Sakura bangkit dari tempatnya saat dirasanya pemuda itu mulai tenang setelah dirinya mengelus kepalanya tadi. Tadi, rencananya Sakura akan menginap disini karna hari

ini masih ada tugas jaga malam yang akan dilalui Sakura, tapi melihat kondisi Sasuke, sepertinya dia harus membatalkan niatnya.

Sakura memutuskan untuk pergi dari ruangan ini sebelum tangan kekar Sasuke menangkap tangan mungilnya dan menyeretnya hingga Sakura terjatuh didadanya.

DEG.

Sakura membelalakkan matanya. Tangannya mulai meronta ketakutan. Sakura merasakan tangannya mulai berkeringat. Dia tidak bisa lepas! Astaga.

BRUK.

Sasuke terbangun saat mendengar suara hantaman keras tersebut. Matanya melihat Sakura yang terduduk dilantai sambil menangis.

"Ada apa, Sakura? Astaga, bagaimana kau bisa ada disana?". Sasuke mengulurkan tangannya kedepan yang ditepis kasar oleh Sakura.

Gadis itu menaruh tangannya didada. Matanya menyiratkan ketakutan. "Ke-kenapa kau lakukan itu, Sasuke?"

Sasuke mengerutkan pangkal hidungnya heran. "Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu, Sakura?".

Masih dengan tubuh yang gemetaran dan air mata yang berlinang, Sakura melipat kedua kakinya dan meletakkan kepalanya di atas lututnya. Samar, Sasuke mendengarkan Sakura berbisik sesuatu, "satu, dua, tiga, empat..."

Sasuke tetap menatap Sakura penasaran, "...sembilan, sepuluh". Sakura membuka matanya. Dia yang tampak lebih tenang daripada tadi membuat Sasuke tenang.

"Aku melihatmu bermimpi dan mengigau jadi aku masuk. Ada apa denganmu, Sasuke?"

Hening. Tak ada jawaban dari bibir Sasuke, "Tidak ada. Hanya mimpi biasa"

Sakura menaikkan alisnya tak mengerti, "Tentang apa?"

Sasuke hanya membalas dengan mengangkat bahunya, kemudian tanpa mengucapkan apa-apa dia berbaring di kasurnya dan menutup matanya. Sakura yang melihat Sasuke ingin kembali tidur, keluar dari ruangan itu.

"Selamat malam, Sasuke".

oOo AIC oOo

Mikoto memasuki lorong khusus ruangan VVIP dengan wajah gembira. Hari ini anaknya akan pulang. Anaknya sudah sembuh. Dan sebagai ibu, dia harus senang kan?

Mikoto melihat Sasuke yang duduk disofa sambil menopang dagunya. Netra hitam Sasuke menatap Mikoto bosan.

"Lama sekali"

"Maaf. Jalanan macet, tahu," belanya, Mikoto berjalan kearah Sasuke sambil merenggakan tangannya.

Sasuke mendengus melihatnya seperti itu. Tapi tetap saja, biar bagaimanapun dia Ibunya. Dan Sasuke masih mempunyai akal untuk tidak membuat orang yang melahirkannya kecewa, jadi dia berjalan kearah Mikoto dan memeluk wanita itu erat.

"Aku rindu pelukanmu, Sasu-nyan", Sasuke melepaskan pelukannya sesaat untuk memelototi ibunya sebelum memeluk Mikoto lagi.

"Jangan berkata seperti itu lagi, atau Aku marah", Mikoto terkekeh mendengar rajukan anak bungsunya sebelum melepaskan pelukan mereka, "Ayo. Semuanya menunggu mu dirumah"

Sasuke menyeret kopernya keluar dari kamar yang sudah ditempatinya selama setahun belakangan ini. Dia dan ibunya sudah hampir sampai ke parkiran ketika seseorang memanggil mereka dari belakang.

Sakura. Itu Sakura. Mau apa dia mengejar Sasuke?

Sakura tampak berlari sambil membawa sesuatu ditangannya sambil tetap mengenakan jas dokternya. Sasuke tersenyum tipis.

"Kau melupakan ini, Sasuke", Sakura membawa jaket biru denim ditangannya yang terangkat tinggi, "Tadi ada di nakas kamarmu"

Lama mereka bertatapan, Sasuke akhirnya mengulurkan tangannya mengambil jaket dari tangan Sakura pelan. Menciptakan sensasi aneh ketika tangan kekar Sasuke bersentuhan dengan jari kecil Sakura.

"Terimakasih", setelah mengatakan hal itu Sasuke memasuki mobil sedan hitam yang sudah siap menunggunya daritadi sedangkan Mikoto memberikan senyum hangatnya kepada Sakura sambil melambaikkan tangannya.

"Daah", Sakura tersenyum tipis dan mengangkat tangan kanannya sebagai balasan dari perilaku ibu Sasuke yang sangat manis terhadapnya.

oOo AIC oOo

Sabaku's Kingdom, 09.36 a.m

Gaara membalikkan buku yang ada ditangannya. Dia membolak-balikkan buku bersampul coklat yang terdapat tulisan 'buku tahunan' itu, sejak Hana, sahabat semasa sekolahnya dulu memberitahukan satu hal yang membuatnya sangat terkejut. Haruno Sakura. Gadis itu ada disini. Di Jepang.

Netra hijaunya menatap foto profil seorang wanita berambut pink dengan kacamata bulat tebalnya. Sangat culun sekali. Gaara menyenderkan bahunya kebelakang sambil melihat keatas ubin ruang kerjanya.

Flashback on.

Sakura mendongakkan kepalanya kesamping untuk melihat kearah taman. Gaara. Sakura tersenyum manis melihat pemuda itu sedang memetik gitar nya sambil bernyanyi.

Netra hijau pemuda itu tidak henti-hentinya menatap gadis berambut pirang sepinggang yang ada dibawah pohon. Shion. Gadis itu masih saja tetap asik menggambar sesuatu di kertas sketsanya tanpa manyadari seseorang didepannya menyanyikan lagu untuknya.

"Dasar penguntit."

Sakura tergelak kaget saat mendengar suara seseorang yang berdiri ditempatnya. Sakura membalikkan tubuhnya dan seketika menahan napas saat melihat siapa yang ada dibelakangngnya.

Itachi dan Hana.

Mampus aku, pikirnya.

"Wah..wah..wah lihat siapa ini? Sakura haruno", cibir Hana. Hana mendekati Sakura dan melihat kearah taman.

"Menikmati waktu menguntitmu, nona?". Sakura membelalakkan matanya melihat Itachi dan Hana yang sedang berpandangan sejenak.

Itachi mendekati Sakura yang sudah terpojok didinding. "Kau tahu kan apa yang akan dilakukan Gaara jika mengetahui kau lancang sekali hari ini?". Itachi semakin melangkahkan kakinya, "hari ini kau selamat. Aku tak akan memberitahu siapapun".

Setelah mengatakan itu Itachi dan Hana pergi dari hadapan Sakura. Terakhir kalinya, Sakura melihat Itachi sedang melambaikan tangannya kearah taman yang disambut oleh Gaara.

"Kulihat si culun itu sedang menguntitmu tadi, Gaara", Hana mengambil tempat duduk disamping Shion dan merebut lukisan yang berada ditangan Shion.

Sementara Gaara, tetap memainkan gitarnya tenang. "Terus?".

Itachi yang berada disebelahnya memutar kunci gitar Gaara. "Kau tidak senang? Ada yang menyukaimu, loh".

Gaara mendelik tak suka. "Biarkan saja. Dia pengganggu".

Flashback Off.

Gaara mengedipkan kedua matanya yang mengembalikan kesadarannya ke dunia sekarang. Sakura Haruno. Si culun itu. Sebenarnya tidak ada yang salah dengannya. Dia manis -terlepas dari kaca mata bututnya- , pintar, ramah, mempunyai senyum lebar yang membuat siapapun selalu ingin berteman dengannya.

Tetapi mungkin dia sedang tidak beruntung saja, saat para kumpulan anak penuh hormon dan baru mengecap arti nakal melihatnya saat mos.

Berkaca mata, kemeja kedodoran, rok dibawah lutut, rambut yang selalu dikepang. Sungguh ciri-ciri siswi yang mengumpankn dirinya untuj dikerjai. Dan karna itu mereka, kingdom, sedang ingin mencari mangsa, memutuskan Sakura adalah anak yang siap dikerjai.

Dan hebatnya lagi, setelah gencarnya mereka mengerjai Sakura. Mereka menemukan fakta, bahwa Sakura tampaknya menyukai Gaara. Gaara, si anak wakil presiden yang masuk ke dalam kelompok pembullynya.

Hal itu membuat Hana, selaku wanita yang selalu mengerjai Sakura senang. Hana selalu memancing Sakura dengan Gaara.

Dan bagaikan ikan yang tertipu cacing di kail. Boom, begitu pula lah hidup Sakura semakin suram di sekolah dulu.

Gaara menatap foto profil Sakura yang ada di buku tahunan dipangkuannya sambil menghela napas. Kingdom bubar tak lama setelah berita menggemparkan setelah prom sekolah tersebar. Berita yang sangat disesali setiap anggota Kingdom.

Berita yang sangat amat teramat pasti menghancurkan gadis pink polos itu. Semua anggota Kingdom bagaikan disambar petir. Menyesal.

"Bagaimana kabarnya sekarang?"

oOo AIC oOo

Sakura menghela napas nya kasar. Matanya melirik layar smartphone nya bosan. Video prom sekolahnya dulu yang tampak megah masih tersimpan di memori smartphone nya. Dan memori otaknya.

Sakura menyeringai sinis saat seseorang di video tersebut mengumumkan siapa yang menjadi pemenang dalam setiap bagian nominasi. Uchiha Itachi dan Inuzuka Hana, terpilih menjadi Raja dan Ratu. Shion terpilih atas nominasi gaun terbaik. Karin terpilih atas kakak kelas tercantik. Tayuya terpilih menjadi nona paling seksi. Dan Gaara terpilih menjadi Tuan baik hati.

Sakura mendenguskan napasnya keras. Mungkin dulu saat Gaara terpilih menyandang gelar itu, Sakura akan berteriak senang dan mengintip malu-malu menggangumi betapa tampannya dia. Sekarang? Melihat wajahnya saja membuatnya memutarkan bola mata indahnya.

Bukan hanya melihat wajah Gaara saja. Wajah seluruh geng Kingdom yang selalu pongah membuat nya muak. Apalagi melihat wajah Inuzuka Hana dua minggu lalu. Sakura tidak tahu menahu kenapa Hana mengenal Sasuke, begitupun sebaliknya. Tapi dia ingat, kekasih Hana, Itachi memiliki marga yang sama dengan Sasuke.

Sakura sekali lagi mengangkat bahu dan memutarkan bola matanya. Dia sungguh bosan berhubungan dengan orang sombong yang sok semacam mereka. Mengetahui kenyataan bahwa Sasuke mungkin satu keluarga dengan Sasuke entah kenapa membuatnya kecewa.

Sasuke adalah pasiennya. Sakura yang membuat keadaan Sasuke membaik. Kenyataan bahwa selama ini Sakura menolong seseorang yang mungkin dekat dengan salah satu anggota geng Kingdom membuatnya ingin mengulangi waktu sehingga dia tidak perlu membantu Sasuke.

"Cih, dasar"

Pintu ruangannya terbuka pelan, dan matanya melihat gadis -tidak bisa disebut gadis sebenarnya- mendatangi ruangannya, Ino.

"Hai Sakura. Apa kau sedang sibuk?" Ino mengambil tempat didepan Sakura.

"Jika duduk disini hampir 1 jam hanya untuk memegang handphone masuk dalam kategori sibuk, ya aku sibuk". Mata Sakura yang bosan menangkap senyum jenaka milik Ino.

"Kalau begitu..." ,Ino mengambil tangan Sakura dan sedikit menyeretnya. "Ayo ikut aku".

Sakura menarik tangannya sehingga langkah mereka berdua terhenti, "mau kemana?".

Sejenak mata Ino berkilat kejam. Membuat Sakura menaikkan sebelah alisnya sedikit takut, "belanja".

oOo AIC oOo

Sakura melangkahkan kakinya berat. Di dunia ini, ada 2 tipe wanita yang bertolak belakang. Yang pertama, yang tidak menyukai hal-hal berbau kewanitaan contohnya belanja. Kedua, yang sangat memprioritaskan uangnya hanya untuk belanja.

Sudah pasti Ino termasuk tipe yang kedua. Sakura menyukai waktu berbelanja tapi dia tidak pernah ingin seperti wanita-wanita pongah yang menyukai menghabiskan uang demi membeli baju mahal hanya demi fashionable.

Untungnya mall ini sedang sepi, sehingga dia tidak perlu dianggap aneh karna hanya mengenakan kemeja marun bertangan panjang ketat yang terasa menge-pas-kan lekuk tubuhnya beserta rok pinsil coklat tua 5 cm diatas lutut, menampilkan kaki jenjangnya yang mulus tanpa ditumbuhi satu helai bulu pun dan juga tak malu-malu menampilkan bokong sintal dan bulatnya kepada dunia. Rambut pink yang selalu disanggul rapi miliknya dibiarkannya tergerai rapi sepunggungnya. Rambut pink bergelombang dari setengah sampai ujung bawah karna sering disanggul keatas itu membuat perempuan yang sudah berumur 26 tahun itu tampak menggiurkan di mata para lelaki yang melihatnya.

Sakura masuk ke sebuah toko roti, memesan satu croisant dan sebuah moca latte dan duduk disamping kaca besar yang menghubungkan jalanan yang berada di luar mall.

"Hei Sakura". Suara datar dan dingin membuat Sakura menolehkan kepalanya kesamping kanan. Menyadari bahwa Sasuke melihatnya dan tanpa basa-basi langsung duduk si kursi didepannya sangat membuat Sakura terperangah sesaat

Tanpa jawaban Sakura masih memandang Sasuke aneh, melihat itu Sasuke mengangkat satu alisnya, "kupikir kau sendirian, jadi aku duduk disini. Kuharap tidak apa-apa".

Sakura sekali lagi tak menjawab apapun dan mengalihkan pandangannya dari mata Sasuke ke arah jalanan yang membuat alis Sasuke mengernyit tak suka sekilas.

Lama mereka terdiam. Pergerakan yang dilakukan mereka juga hampir tak ada. Sasuke hanya sekali meneguk kopi pahit yabg ada dicangkir putihnya sementara Sakura sesekali memotong croissant nya dan memakannya. Sekali lagi, tanpa kata.

Sasuke menaruh cangkir putihnya agak keras yang membuat Sakura meliriknya, dan ternyata Sasuke pun sedang menatapnya tajam. "Aku menginginkan kau datang ke acara pesta penyambutanku sabtu depan".

Sakura memakan croissant nya sedikit lalu menatap Sasuke, "untuk apa aku ikut?"

"Karna aku menginginkanmu datang", suara dalam Sasuke membuat Sakura terkejut.

Sakura menaikkan alisnya, "aku tidak bisa datang".

"Kalau kau mengenalku lama, kau akan tahu kalau aku tidak menerima penolakan, Sakura.", kata Sasuke dingin sambil menatap Sakura tajam. Nama Sakura yang diucapkan oleh Sasuke membuat getaran tak diketahui menjalar di betis Sakura menaiki pangkal pahanya. Membuat Sakura akan langsung bertekuk lutut jika Sakura normal.

Tapi tentu saja, Sakura tak normal. Karna kalimat yang terucap dimulutnya membuat Sasuke mendelikkan matanya tak suka.

Sakura menyeringai sinis. "Kalau kau mengenalku lama, kau akan tahu kalau aku bilang tidak berarti tidak". Sakura menegakkan badannya dan sedikit maju menantang Sasuke, "aku merubah kalimatku. Aku bukannya 'tidak bisa' datang, tetapi aku memang 'tidak akan' datang.

Sasuke hampir membuka mulutnya untuk membalas ucapan Sakura jika Ino tidak memanggil nama Sakura sambil melambaikan tangannya pada Sasuke dari luar cafe. Sasuke mendecih kesal, tak suka ada yang melerai ucapannya.

Sasuke menatap Sakura yang mengambil tas sandangnya dan dua buah paper bag kecil berlambang huruf L dan V sambil menyeringai senang melihat wajah Sasuke.

"Selamat tinggal, Sasuke".

Sakura hendak melangkah pergi jika tangan Sasuke tidak menyentuh perut datarnya. Sakura tersentak mundur sambil menatap Sasuke benci. Sasuke tidak tahu, dia hanya tidak sengaja menyentuh Sakura dan reaksi yang dibuat Sakura tampak berlebihan dimatanya.

Oh ayolah, dia hanya menahan Sakura pergi. Tetapi Sakura bertingkah seperti dia ingin membunuhnya. Apa yang aneh disini?

"Kita akan berjumpa lagi, Sakura."

Sakura hanya menatapnya sambil berlalu cepat menuju pintu cafe. Netra hitam Sasuke masih melihat punggung Sakura pergi bersama Ino dan akhirnya hilang ketika mereka berputar menuju ekskalator.

Sasuke tak mengerti apa yang terjadi. Dia juga tak mengerti kenapa dia mengundang Sakura untuk datang bersamanya. Dia juga tak mengerti kenapa dia sangat marah ketika Sakura menolaknya? Dan juga keterkejutan Sakura saat tangan kekarnya menyentuh perut ramping Sakura?

Sasuke melihat tangannya bingung. Dia terus melihat tangannya sampai seseorang menepuk bahunya pelan. "Anda Uchiha Sasuke? Saya adalah Yakamato Taichi. Pemilik perusahaan Kerai".

Sasuke mengerjapkan matanya pelan, "Oh, silahkan duduk".

oOo AIC oOo

Sakura mengerjapkan matanya cepat. Dia masih tidak menyangka perbuatan impulsif Sasuke tadi siang. Kenapa dia harus terkejut seperti itu? Apa yang dipikirkan Sasuke mengenainya nanti?.

Sakura mendecih karna tak fokus mengendarai mobil. Sekarang dia sedang berada di perjalanan menuju rumahnya dari rumah sakit. Rumahnya dan rumah sakit membutuhkan waktu setengah jam dijalan raya jika lenggang. Tangannya mencoba untuk fokus dan tidak memikirkan hal sentuhan-sentuhan tadi pagi yang membuat otaknya terasa ingin pecah sekarang juga.

Dia memang tidak suka disentuh. Apalagi semenjak kejadian itu. Matanya berlinang memikirkan kejadian yang merenggut cahaya hidupnya. Tangannya menepikan mobil Audi nya kepinggir jalan. Setelah mobil itu berhenti, dia menangis keras didalam mobil saat teringat peristiwa 10 tahun lampau yang terbuka karna sentuhan kecil Sasuke tadi.

"Sialan", bisiknya parau.

oOo AIC oOo

Sasuke mendorong tubuhnya untuk membuka pintu besar berwarna hitam kamarnya. Dengan sempoyongan dia membuka sepatu nya kasar, mencampakkannya sembarangan, dan tanpa berniat membuka sepotong baju apapun, Sasuke mencampakkan badannya ke tempat tidur.

Sasuke mengutuk Naruto berkali-kali dihatinya. Sahabat bulenya sejak SMA itu memang menyebalkan. Sasuke tahu, datang ke 'acara' Naruto memang salah dan dosa besar. Naruto mengatasnamakan 'reuni' dan 'selamatan' untuk Sasuke. Heh, apanya reuni dan selamatan jika ujung-ujungnya hanya minum-minum.

2 minggu yang lalu Sasuke bebas dari rumah sakit kejiwaan, dan sepertinya Sasuke ingin kembali saja lagi kesana. Memeluk bantal guling beludru kesayangannya.

Sasuke menghela napas lelah dan menutup matanya hendak tidur sebelum pintu kamarnya didobrak dengan kasar. Mata Sasuke melirik sekilas kearah pintu, mengetahui siapa yang masuk dia mendecih sekilas, lalu menekan wajahnya ke bantal. Berharap 'manusia' yang masuk ke kamarnya ini menyadari dia tidur dan keluar sendirinya.

"Sasuke baka." ,Sayangnya si pengganggu ini adalah tipe manusia yang tidak peduli. Tidak peduli bahkan orang yang diajaknya ngomong tidak membalasnya sekalipun.

Itachi, manusia pengganggu tidur malam -ralat- larut malam Sasuke ini mulai menjalankan aksinya. Tangannya mulai menggoyangkan bahu Sasuke histeris. Membuat Sasuke mengerutkan sekilas keningnya, tampak tak suka.

"SASUKEEEEE. BANGUUUN", Itachi meneriakkan kalimat tersebut tepat di telinga Sasuke. Bayangkan saja, TEPAT di telinga Sasuke.

"Cih", Sasuke hanya mendecih dan sedikit menolehkan kepalanya kearah Itachi. Tatapan matanya yang tak bersahabat cukup menjawab bahwa dia sedang tidak ingin diganggu. Tapi sekali lagi, Itachi termasuk orang yang tidak peduli.

"Kau mabuk", kata Itachi setelah melihat pipi Sasuke yang memerah dan mata sayu Sasuke.

"Dan kau gila", balas Sasuke sambil menyeringai sadis kepada Itachi yang mungkin cukup menohok hati pria berambut panjang didepannya.

Yah dia memang mabuk. Tapi dia masih mempunyai akal untuk membalas 'mahluk' didepannya ini dengan hinaan. Hei, orang gila manapun akan setuju untuk menghina mahluk yang ternyata dan sayangnya kakak nya ini.

Itachi mencibir Sasuke sekilas sebelum menepuk keras pipi adiknya membuat pria yang ditepuk olehnya mengaduh kesakitan. "Bangun".

Sasuke mengelus pipinya kasar dan bangun dengan ogah-ogahan sambil tetap menatap Itachi tajam. "Apa maumu?".

Itachi tersenyum menang melihat bekas jari akibat tamparan keras yang ada dipipi Sasuke. "Apa kau sudah mempersiapkan daftar orang yang akan kau undang?".

Sasuke mengernyitkan dahinya sejenak karna merasa pusing. Astaga, apa yang dipikirkan kakaknya ini? Dia sedang mabuk, oke? Dan orang mabuk tidak bisa dipegang kata-katanya. Dan Sasuke cukup mabuk untuk diganggu dan dibangunkan hanya untuk kalimat 'sudah mempersiapkan tamu undangan'. Hell no, orang-orang diluar sana mengantri untuk bisa mendapatkan undangan pesta Sasuke. Kenapa pula Sasuke harus mempersiapkan undangannya?.

"Tidak tahu." Sasuke membaringkan kepalanya pelan sambil menatap Itachi sejenak setelah itu dia menggunakan tangan kanannya menutup matanya. Seperti biasa saat dia memang benar-benar ingin tidur.

Itachi yang menatap Sasuke lelah memutarkan bola matanya. "Baiklah. Besok kita bicarakan lagi dengan papa dan mama. Sebaiknya kau ganti bajumu Sasuke. Wangimu mengerikan", kata Itachi sambil berlalu yang hanya dibalas dengan gumaman rendah Sasuke.

oOo AIC oOo

Hana membalikkan tubuhnya saat Itachi masuk kedapur untuk mengambil minum. "Bagaimana?" Tanya Hana penasaran.

Itachi melirik sekilas dan tersenyum tipis pada wanita disebelahnya. Tangannya mengambil gelas dari lemari yang berada diatas kepalanya dan menekan tombol biru di dispenser yang langsung mengalirkan air ke gelasnya.

"Tidak ada". Jawab itachi singkat sambil meminum air dingin dari cangkirnya.

Hana menaikkan alisnya bingung mendengar kata-kata kekasihnya. "Maksudnya? Dia belum mengundang siapa-siapa?".

Itachi tampak menghela napas lelah, "Aku tak tahu, sayang. Sasuke mabuk berat dan sepertinya dia tidak ingin membahasnya malam ini". Itachi melingkarkan sebelah tangannya memeluk pinggang Hana agar mendekat kearahnya, "tunggu saja besok".

Hana menganggukkan kepalanya pelan. Tangan Itachi semakin menariknya mendekat kerahnya sehingga Hana berada di bawah pelukan sayang Itachi. "Kalau begitu aku pulang saja. Kau ingin mengantarku pulang?" Hana mendongakkan kepalanya menatap itachi.

Itachi yang mendengar kalimat Hana sontak menyunggingkan senyum tipis. Tipis yang menggoda. Membuat Hana tersenyum malu dan memukul bahu Itachi pelan.

"Aku mau pulang" ,rajuknya.

"Aku punya ide yang lebih bagus dari kata pulang", Itachi menyeringai kearah Hana yang dibalas dengan kekehan pelan Hana. Kekasihnya ini manja sekali.

"Tapi aku cape. Mau pulang, Itachi. Mau pulang" rajuknya.

Itachi membungkukkan badannya dan berbisik ditelinga Hana, "bagaimana jika kau menginap disini dan melakukan hal-yang-lebih-bagus-daripada-pulang denganku semalaman". Jawaban Itachi membuat pipi Hana memerah malu.

"Tidak. Astaga, kamar Mikoto baa-chan dan fugaku-jii ada disamping kamarmu. Kau tidak mau mereka mendengarnya dan menghapusmu dari daftar keluarga, kan?" , Hana menatap mata Itachi yang semakin redup.

Tanpa basa-basi lagi, Itachi mengangkat Hana dipundaknya seperti karung beras, menandaskan minumannya dan membanting keras gelas kaca itu ke meja dapur dan sedikit memukul bokong sintal kekasihnya.

"Kalau begitu jangan bersuara", titahnya yang membuat Hana cekikikan malu.

Mereka berdua menaiki tangga berbentuk spiral yang menghubungkan lantai satu ke lantai dua sementara seseorang menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah mereka.

"Dasar remaja". Fugaku, yang daritadi ternyata berada di ruang televisi yang ada di depan tangga menyeringai melihat anaknya menggendong kekasihnya menuju lantaj dua dan menghilang ke belokan menuju kamar Itachi.

Fugaku memakluminya tentu saja, dia dan Mikoto sudah melakukan hal seperti itu sejak masih pacaran. Di zaman yang bebas ini. Dia tak pernah melarang anak mereka untuk hal-hal yang berbau seksualitas karna itu menyangkut hal pribadi. Dia hanya melarang untuk menjauhi Narkoba dan obat herbal lain yang setara.

Netra hitamnya menatap Mikoto yang sudah jatuh tertidur karna mabuk ditangannya. Iya, tadi rencananya, mereka berdua -fugaku dan mikoto- berbicara, seperti yang selalu mereka lakukan berdua setiap malam di ruang televisi. Tetapi malam ini, Fugaku menyertakan sebotol anggur asli yang tentu saja beralkohol tinggi menjadi minuman pengganti teh untuk keduanya, yang menyebabkan Mikoto mabuk berat dan terjatuh tidur dibawah lengan Fugaku.

Sementara Istrinya tertidur, Fugaku masih asik meminum anggurnya saat mendengar anak sulungnya, Itachi yang baru saja keluar dari kamar Sasuke menggoda kekasihnya di dapur.

Mata tajam Fugaku mengarah kearah wanita yang bergerak pelan di dadanya. Istrinya, Mikoto sangat polos. Dan Fugaku mensyukuri hal itu sebenarnya. Menyeringai pelan dia membungkukkan kepalanya mengecup pundak istrinya yang membuat Mikoto terbangun tiba-tiba.

Tangan Mikoto merapikan rambutnya yang beracakan karna dielus oleh Fugaku dari tadi sambil menatap suaminya sayu. "Eemmh... ayo tidur", katanya sambil menggoyangkan pelan piyama Fugaku.

Fugaku hanya menatap Mikoto dengan sayu, pertanda dia mulai mabuk. "Tidur?", tanyanya yang dijawab dengan anggukan pelan wanita yang sudah melahirkan kedua anaknya tersebut.

Tatapan matanya jatuh kearah gaun tidur istrinya yang sedikit melorot melwati bahunya, menampilkan bagian atas payudaranya yang mengintip malu-malu melalui gaun tidur nya.

Fugaku menyeringai senang dan mendekati istrinya yang masih sibuk mengusap pelan matanya, tidak menyadari bahwa mungkin serigala didepannya bisa memutuskan harapan tidurnya untuk hari ini.

Tangan Fugaku menarik Mikoto ke pelukannya dan mengecup sayang jidat Mikoto sejenak lalu mengarahkan tatapannya kearah pipi Mikoto yang memerah malu.

"Aku punya ide yang lebih bagus dari kata tidur", ucapnya meniru perkataan Itachi.

Mikoto yang mendengarnya mendongakkan kepalanya menatap Fugaku setengah hati. "Apa?" Suara seraknya memberi tanda bahwa dia hanya ingin tidur. Tapi sayangnya Fugaku sepertinya tidak akan melepaskannya malam ini.

Fugaku menaruh gelas berkakinya diatas meja dan meletakkan tangannya di bawah lipatan kaki Mikoto dan dibawah pundaknya. Mengangkatnya ringan dan melangkah menuju tangga spiral rumahnya.

Mikoto yang berpikir Fugaku akan membawanya tidur semakin mendekap Fugaku manja. Tangannya menarik leher Fugaku sehingga badannya semakin meringkuk kedalama dada Fugaku. Mencari kehangatan.

Fugaku yang melihat itu semakin mempercepat langkahnya dan menyeringai sadis.

Oh, sunggu disayangkan. Pikiran polos Mikoto berbanding lurus dengan pikiran Fugaku, tentu saja.

oOo AIC oOo

Sasuke membuka matanya malas. Netra hitamnya melirik kearah jam weker yang dari tadi bunyi, mencoba menariknya dari alam mimpi. Tangannya meraih jam weker tersebut dan menekan tombol yang berada diatasnya, mencoba mematikan jam itu.

Mimpi itu lagi, pikirnya bosan.

Sasuke mengucek matanya pelan dan bangkit dari tempat tidurnya. Biasanya, dulu jika dia bermimpi itu, dia akan bangun dengan mata sembab karna tangisannya semalaman. Tapi sekarang? Dia menyentuh pipinya. Tidak ada tangisan lagi. Tidak ada mata sembab lagi. Sasuke juga tak mengerti.

Mengangkat bahunya sekilas. Dia melangkah kearah kamar mandi kamarnya yang terhubung melalui pintu berwarna putih bercorak hitam yang ada disamping sofa putih dikamarnya.

Putih-hitam. Warna yang mendominasi kamarnya memang hanya dua warna itu. Sasuke menyukai warna itu tentu saja. Walaupun keduanya saling bertolak belakang, tapi ketika disatukan akan menampilkan suasana yang elegan menurut Sasuke.

Tangannya membuka bajunya satu persatu dan melemparkan bajunya kedalam keranjang pakaian kotor yang berada disamping jendela satu arah kamar mandinya.

Setelah 30 menit membersihkan diri, Sasuke mengambil handuk putih yang tergantung di sebelah shower dan memakainya keluar kamar mandi. Tangannya masih asik mengusap rambutnya, berusaha mengeringkan air yang masih menetes.

Ketika selesai bersiap. Sasuke keluar dari kamarnya dan memandang bingung pintu kamar kedua orang tuanya dan kamar kakaknya yang berada tepat disebelah kanan kamarnya.

"Mereka belum bangun?", Sasuke menggerakkan bahunya tak peduli, lalu berjalan kearah tangga spiral dan berjalan kearah meja makan yang berada di dapur rumahnya.

Keningnya semakin berkerut melihat botol anggur yang berserakan di ruang televisi dan tidak adanya sosok ibunya yang biasanya selalu memasak sebelum dia bangun. Matanya menatap Amazure, kepala pembantu dirumahnya yang menyuruh pembantu muda meletakkan ikan dan sayur untuk ditata di atas meja makan.

Sasuke menganggukkan kepalanya sekilas saat mereka menghentikan pekerjaannya dan membungkuk hormat ketika Sasuke datang. Tangannya menggeser bangku dan duduk disitu. Saat Sasuke hendak membuka piring yang diletakkan telungkup didepannya. Ibunya datang setengah berlari pelan kearahnya.

"Sudah bangun?". Sasuke menjawab dengan anggukan dan matanya memperhatikan kaki sang Ibu yang sedikit... tertatih?

Matanya melirik ayahnya yang duduk dibangku ujung dengan menaikkan alisnya yang dibalas dengan senyuman tipis ayahnya. Sasuke menggelengkan kepalanya sedikit dan mengalihkan perhatiannya.

"Malam yang menyenangkan ya, pa", Sapanya.

Fugaku hanya mengembangkan senyumnya saat menyadari apa yang akan dibahas Sasuke. Sementara Mikoto yang sudah duduk didepan Sasuke dan tersenyum ceria kearah pembantu yang menaruh serbet dipahanya membuat Fugaku mencubit gemas pipi Istrinya yang membuat Sasuke memutarkan bola matanya.

Mereka akan mengambil nasi ketika suara Itachi dari balik punggungnya terdengar, "Selamat Pagi, semua".

Pemuda itu sudah harum dengan baju rumahannya dan tersenyum sekilas kepada bibi Ame, kepala pembantu mereka dan menarik bangku disebelah Sasuke, yang membuat Sasuke bertanya-tanya.

Itachi memang selalu bertibgkah ceria dipagi hari, tetapi ini aneh. Tidak pernah seceria ini sebelumnya, hampir saja dia bertanya ada apa gerangan sebelum netra hitamnya melihat kearah leher Hana yang memunculkan bercak merah.

Sasuke menipiskan bibirnya melihat keluarganya. Dia merasa tersingkir. Saat mereka semua mempunyai pasangannya untuk menyalurkan hasrat, kenapa Sasuke tidak mempunyai siapapun yang bisa digodanya pagi ini?.

Sasuke melirik nasi yang ada dipiringnya sendu. Sehenak teringat oleh Karin. Dulu dia selalu menggoda Karin dipagi hari. Sasuke sejenak menggelengkan kepalanya mengusir bayangan Karin dari benaknya yang mungkin akan membuatnya rindu.

Ketika dia mencoba menghapus bayangan Karin dari otaknya. Sosok itu datang. Sosok berambut pink sebahu yang sedang meminum sesuatu dan melihat kearah jalan raya didalam coffee shop waktu lalu menyergapnya, membuatnya mengedipkan matanya.

.

.

.

.

To be continue...

.

.

.

.

.

BLUEPINK'S NOTE :

aku sangat menghargai manusia yang mengaperesiasi cerita ffn dengan mereview cerita itu. Sungguh.

HAI KALIAN. LAMA TAK BERJUMPA.

Oke, kali ini aku menyalahkan tahun baru, kesibukan, paket internet dan imajinasi untuk keterlambatan satu tahun ini.

Kali ini, aku SUNGGUH SANGAT MENCOBA untuk membuat Sasuke tidak OOC (Out of character) di part ini. Mengingat aku selalu membuat Sasuke gila. KARNA MEMANG, aku bener2 membuatnya ada gilanya. WKWKWKWK.

Kalo kalian rasa masih OOC berarti otak kalian yang salah WKWKWK. #pukulreaderssatusatu #blueditabok.

Untuk yang nanya kenapa banyak cerita yang dihapus, karna memang mau di repost ulang, sebenarnya cerita Fake or Original, Dream Traveller, dan Am I Crazy juga kepengen dihapus.

Tapi sayang wkwkkw.

Sudyahlah cukup bachotnya. Sudah 4756 kata juga yah cintahku. Tunggu aja yang mau nunggu cerita yang lain masih tahap editing soalnya.

OH IYA, CHAPTER DEPAN KHUSUS FLASHBACK SAKURA YAAAAA. BIAR TERJAWAB SEMUANYAAAAAAA... dan pasti gabakal ada Sasukeeee.

Jadi yang mengharapkan Sasu muncul. Gabakalan muncul. Beneren deh suer.

Salam cinta, Blueyes Pinkerest.

(17 Maret 2017)