Sebentar lagi..
Kalimat itu selalu Sakura katakana berulang kali didalam hati. Ya benar, sebentar lagi adalah pengumuman kelulusan. Sakura hanya harus bersabar sedikit lagi. Membayangkan hari-hari kedepan tanpa Kingdom yang menyebalkan sungguh menggoda imannya saat ini. Sakura tidak perlu lagi berjaga-jaga akan terkena siraman air kotor ataupun tingkah usil mereka.
Terkadang dia heran, sudah hampir lebih 3 tahun Kingdom selalu mengincarnya. Apa mereka tak lelah? Karna sungguh Sakura lelah sekali. Lagipula apa Itachi dan Hana belum memaafkannya? Sakura tak habis pikir. Manusia semacam apa yang masih dendam dengan penyebab masalah ketika masalah itu sendiri sudah hilang? Iya hilang.
Siapa yang berani bermacam-macam dengan Kingdom? Semua berita tentang perbuatan mesum Itachi Uchiha dan Inuzuka Hana seolah tertelan dari bumi. Sehari setelah berita itu heboh, sungguh tak terduga, semua murid dan guru seolah tak mengetahui apa-apa.
"Menyebalkan memang. Mereka pikir karna mereka punya uang, mereka bisa beli seluruh muka didunia ini?" gumam Sakura pada semak-semak didepannya. "Memang sih.. tapi mereka tak bisa seperti itu. Dasar bukan manusia! Kingdom sialan!"
"Ah.. maafkan kami"
Sakura terkejut dan langsung melihat kebelakang sambil berharap pria yang tadi menyahutnya bukan salah satu dari anggota geng Kingdom atau antek-antek mereka…
Mampus.
.
.
.
Am I Crazy?
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Warn : AU, OOC, Typo, Lemon (in very very next chapter), Update 'gak tentu.
Multi Chapter.
If u don't like this story, just leave this page alone.
.
.
.
"Kemana si Sabaku itu?"
Semua kepala yang ada diruangan itu menatap Hana dengan pandangan beragam. Antara malas, cuek dan tak peduli. Sementara Hana masih memindai keseluruh ruangan dan berharap menemukan seonggok manusia dengan kepala merah yang dipanggilnya Sabaku.
"Paling dia pergi untuk mencari udara?" Jawab Itachi setelah melihat tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab pertanyaan Hana.
Alis hitam kecoklatan Hana terangkat naik, "Pergi?" mendecih sesaat Hana melanjutkan, "Kita harus menyelesaikan tugas akhir ini dan dia pergi dengan seenak pantatnya? Kurang ajar".
Itachi tertawa sebentar dan mengelus rambut Hana lembut, "Tenanglah aku akan membantu nanti, oke?"
"Ah!" Karin berseru setelah mendengar Itachi berkata seperti itu. "Apa Sasuke-kun sudah pulang?" tanyanya lagi.
Itachi mendengus keras sementara Hana memutar bola matanya bosan. "Belum. Tapi dia pulang minggu ini. Ibu sudah rindu padanya dari kemarin".
Karin tersenyum dan melangkah kearah Itachi. Setelah sampai, gadis itu meraih lengak kiri Itachi yang kosong dan mengaitnya, "Kalau begitu kita tugas kelompoknya dirumah Itachi-nii aja minggu ini!" titahnya.
Mendengar perkataan Karin, Itachi melepaskan lengannya yang masih menempel pada gadis itu. Manic kelam sulung uchiha itu menatap tajam Karin, "Tidak bisa".
"Hee? Kenapa tidak bisa?" Tanya Karin lagi.
"Khusus kau tidak bisa" Itachi menyeringai melihat wajah sinis Karin menatapnya dan melanjutkan, "Lagipula apa-apaan panggilanmu tadi. Itachi-nii?" sambung Itachi sambil menatap Karin jenaka.
"Iya, aku kan harus memanggilmu dengan nii-san jika kau sudah menjadi kakak iparku".
Mendengar itu, Itachi mendorong bahu Karin dengan telunjuk sambil bergidik jijik, "Pergi kau, dasar menjijikkan. Lebih baik aku mati daripada kau hantui seumur hidup dengan panggilanmu".
"Aah jangan seperti itu, nii-san" Kata Karin dengan nada manja dan menggaet tangan Itachi.
"Pergi kau, aishh dasar.."
Sementara Karin dan Itachi sibuk bertengkar, Hana mengerutkan alisnya melihat Tayuya yang terdiam. Biasanya gadis ini sangat berisik. Lebih berisik dari Karin malahan. Tapi daritadi Tayuya seperti batu yang berjalan.
"Hei" Panggil Hana. Tayuya mendongak dan tersenyum tipis. "Kau sedang apa? Tak biasanya kau bermurung ria seperti ini… mau cerita?" Tanya Hana lagi.
"Ah biasa.. keluarga".
Hana mengangguk paham. Lalu mengerling sedikit kearah tayuya lagi. "Apa ada ide untuk si pinky? Kali ini harus keren dan kita harus buat dia tak melupakannya".
Mendengar Hana berbicara seperti itu, Itachi dan Karin yang masih bertengkar kecil terdiam dan melirik Hana. Semua perhatia diruangan itu mengarah ke Hana yang sedang mendongak menatap langit-langit.
"Aku tak memikirkan si pinky minggu-minggu ini. Kurasa udah saatnya kita membebaskannya". Kata Karin pelan.
"Ah! Dimana semangatmu. Ayo tunjukkan ke Sakura kita bisa buat rencana besar dalam hidupnya hehe" Kata suigetsu sambil tertawa kecil.
"Aku punya ide…" kata Tayuya sambil merenung. Gadis itu menyeringai aneh dan menatap Hana dengan penuh keyakinan.
Semua mata diruangan itu menatap bingung kearah Tayuya. Gadis berambut pink tua itu menyeringai sinis dan sejenak Hana mengernyit melihat kilatan aneh penuh dengan dendam dan kemarahan di mata Tayuya.
"Yang kita perlukan hanyalah Gaara..."
Ada yang aneh disini, pikir Hana pelan.
oOo AIC oOo
Gaara tersenyum melihat ekspresi Sakura. Gadis berambut merah muda itu membulatkan matanya dan bibirnya yang pucat. Tersneyum kecil, Gaara mendekat kearah Sakura, sementara Sakura melangkahkan kakinya mundur kebelakang. Matanya semakin diperbesar sampai Gaara berpikir jika dia menggoda Sakura sedikit lagi, mungkin bola matanya akan menggelinding keluar dari rongganya.
"Hei ada apa denganmu. Aku kan tak mengigit" Kata Gaara pelan lalu mendudukkan dirinya diatas rumput. Pemuda itu mengambil susu kotaknya dan memberikannya satu kepada Sakura, "Untukmu".
Pipi Sakura yang tadi pucat mulai merona merah. Sakura melirik Gaara dari balik bulu matanya membuat Gaara terenyum lagi. tak sampai beberapa detik kemudian, tangan Sakura mengambil susu kota yang dieberikan Gaara.
"Terima kasih..' kata Sakura pelan.
"Tak perlu takut padaku.."Gaara tersenyum lagi lalu menepuk rumput disebelahnya, "Ayo duduk disini.."
"Ah! Kau mau aku duduk disitu?" Kata Sakura keceplosan. Gadis itu menunduk lagi lalu takut-takut mengucapkan maaf kepada Gaara.
Gaara tersenyum lagi lalu bangkit dan menarik tangan Sakura agar duduk disampingnya. Sakura menurut. Mereka berdua duduk berdampingan sambil sesekali meminum susu kotak ditangn mereka. Lama terdiam akhirnya Gaara membuka suara.
"Maafkan kingdom ya…" Kata Gaara sambil menghela napas pelan, "Kau tahu? Teman-temanku sebenaranya baik kok. Tapi karna mereka bosan, jadi mereka melampiaskannya padamu. Aku juga dulu seperti itu. Tapi aku sedang berusaha akrab padamu".
Pipi Sakura bersemu lagi lalu mengangguk pelan, "A-ah iya gapapa".
Gaara tersenyum lagi. "Kau sudah mempersiapkan diri untuk pesta kelulusan minggu depan?"
"Ah, ya begitulah…"
"Aku belum. Aku tak terlalu suka dengan pesta yang ribut-ribut seperti itu."
"Ha? Kenapa?".
"Hanya tak terlalu suka." Gaara tersenyum lagi kearah Sakura lalu bertanya, "Kau? Apa kau sudah mendapat pasangan ke pesta kelulusan nanti?"
"A-ah.. belum".
"Oh! Kebetulan" Gaara menggantung kalimatnya dan memutar badannya kedepan Sakura.
"Apa kau mau pergi denganku?" Tanya Gaara serius.
Dan Sakura membulatkan matanya lagi…
oOo AIC oOo
Gaara membuka pintu berwarna coklat itu sambil melangkah pelan kedalam ruangan tanpa sadar dia sedang diperhatikan oleh teman-temannya. Pemuda merah itu duduk diseuah bangku bulat yang memantul-mantul dan mengernyit heran saat matanya menatap teman-tema segengnya mlihatnya dengan pandangan menilai.
"Ada apa?" Tanya Gaara.
"Tidak ada.. kami hanya terkejut saja saat mendengar kau berbicara dengan si jidat pinky dibelakang semak" kata Itachi dengan nada penasaran yang tak berusaha dia tutupi.
"Oh itu.." Gaara menganggu pelan lalu melihat teman-temannya dengan pandangan menilai lalu melanjutkan kata-katanya.
"Aku mengajaknya untuk pergi bersamaku saat pesta kelulusan…"
Pernyataan Gaara membuat semua orang diruangan itu menarik napas tajam setajam-tajamnya –bahkan Karin hampir bengek saat menarik napas tajamnya-.
"APA?!"
Gaara mendelik dan mengusap telinga kanannya pelan. Kenapa reaksi mereka harus seperti Gaara akan membawa jenglot ke pesta kelulusan minggu depan.
Atau memang itu yang mereka pikirkan sekarang…
"Memangnya kenapa? Kenapa kalian harus berteriak-teriak gak jelas seperti ini?" Gaara mendengus pelan lalu merebahkan dirinya agar telentang.
Tak ada yang berbicara sampai Tayuya tersenyum senang dan melompat kearah Gaara dan memeluknya erat. Gaara tersentak dan tertawa. "Ada apa denganm, dasar manja"
"Itu bagus sekali, gaara" kata tayuya bersemangat.
Gaara mengernyitkan dahinya dan mendorong Tayuya pelan, "Maksudmu?"
"Dia baru saja akan menyuruhmu membawa Sakura kepesta kelulusan sebelum kau mengatakan hal itu" kali ini Karin yang memutar bola matanya.
Tayuya berdiri dengan bersemangat dan berseru, "Berarti Tuhan dan alam semesta pun mendukung kita melakukan rencana kita ini!"
Gaara mendengus lalu membaringkan dirinya. Tak lama kemudian, bibir Gaara bertanya, "Memangnya apa yang sedang kalian rencanankan?"
Itachi lalu mendengus keras lalu memeluk Hana erat, "Dia tak ingin memberitahu kita".
"hah? Memangnya kenapa? Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Gaara lagi.
Tayuya hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu tertawa, "Sudahlah kalian tak perlu tahu dan tak perlu memikirkan apa-apa. Biarkan saja aku yang menyelesaikan semua ini. Okey?"
"Bagaimana kami bisa tak memikirkan apa-apa sedangkan kami semua ada didalam rencanamu?" Kata Gaara lagi.
Tayuya mendenguskan napas keras lalu memegang kedua sisi pipi Gaara dan tersenyum lebar, "Tenang saja. Aku sudah memikirkan semua matang-matang" Tayuya tersenyum lagi saat Gaara menatapnya dengan pandangan tak terima, "Aku akan memberikan pengalaman yang tak terlupakan kepada gadis pink Itu"
Gaara mendenguskan napasnya lagi saat mendengar Tayuya berkata seperti itu lalu tanpa sadar meraakan firasat buruk.
Akan ada hal jahat yang akan Tayuya lakuka kepada Sakura. Dan Gaara yakin ini tak akan dilupakan selamanya, baik Sakura atau Kingdom..
oOo AIC oOo
Sakura baru saja mengeringkan rambutnya saat telepon selulernya berdering dan menampilkan sebuah nomor telepon tak dikenal. Mengerutkan dahinya bingung, Sakura mengambil teleponnya dan terdiam sejenak. Bagaimana jika ini adalah telepon gila dan aneh yang selalu dikirimkan oleh Kingdom padanya? Bagaimana jika ini hanya telepon sejenis 'papa minta saham' atau 'papa nabrak tiang'? Apa Sakura harus menjawab telepon ini? Bagaimana jika ini telepon penting?
Sakura sibuk memikirkan bermacam-macam pertanyaan yang diawali denga kata 'mengapa' sampai tidak sadar panggilannya bordering sampai tiga kali.
Oke.. jika ini adalah telepon tak penting, jahil dan gila yang selama ini didapatnya, mereka tidak akan menelpon sampai tiga kali. Berarti ini adalah telepon penting!
Tanpa memikirkan apapun, Sakura menekan tombol hijau dan mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
Suara kresek-kresek khas telepon yang mendapat gangguan sinyal terdengar sebelum digantikan dengan suara dalam seorang pria.
"Halo?"
Sakura mengerutkan alisnya. Suara siapa ini?
"Ada yang perlu kubantu?" tanyanya dengan nada formal. Bisa saja orang ini salah sambung atau bagaimana.
"Apa ini Sakura?"
"A-ah iya.. ini siapa ya?"
"Ini Gaara. Simpan nomorku mulai sekarang ya.." kata pemuda dari sebrang telepon sambil terkekeh kecil.
DEG!
Sakura sontak memegang dadanya yang lagsung berdetak kencang. Mata hijau bening seindah batu emeraldnya menunduk menatap dadanya yang masih mengenakan handuk sambil mengutuk pelan.
"A-ah. Hai, Gaara. Bagaimana kau bisa mendapat nomorku".
Gaara terkekeh. "Mudah saja. Hanya melihat dari daftar nomor keisengan Kingdom yang dilengketkan di madding ruangan rahasia kami saja".
Ah, dasar. Harusnya Sakura sudah tahu itu. Nomornya tak mungkin sudah privasi lagi mengingat setiap malam dia mendapat telepon jahil dari geng kenamaan sekolahnya itu.
"Oh, jadi kau mau menjahiliku juga?" tanyanya sinis.
Gaara terkekeh kecil lalu menjawab, "Tidak kok. Aku hanya ingin menelponmu saja. Apa kau sudah memiliki baju untuk pesta kelulusan?"
Sakura melirik lemari pakaiannya. Dia berencana untuk memakai gaun seadanya saja meningat tabungannya tidak sebanyak itu untuk membelikannya gaun baru yang indah.
"Ah, mungkin aku hanya akan memakai gaunku yang biasa. Kenapa?" Tanya Sakura lagi.
"Aku ingin mengajakmu membeli gaun besok. Agar gaun kita berwarna sama" kata Gaara lagi.
"A-ah tidak perlu kok. Jika kau malu dating denganku yang tak mempunyai baju peseta, mendingan kau mencari wanita lain saja".
Gaara terdiam lalu mendengus. "Apa-apaan itu? Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak malu mengajakmu bahkan jika kau datang tidak berpakaian sekalipun. Aku hanya ingin membelikan sebuah baju karna kau sudah mau datang denganku".
Sakura memegang jantungnya yang berdetak kencang lagi. sepertinya Sakura bisa mati muda jika setiap kali berbicara dengan Gaara. Meneguk ludah berkali-kali, akhirnya Sakura menjawab.
"Baiklah. Kita pergi besok".
"Okay.. selamat malam. Dan jangan biasakan mandi terlalu larut, nanti kau sakit".
Lalu pemuda itu menutup teleponnya dan meninggalkan Sakura dengan jantung yang masih berpacu kencang seperti mengendarai cheetah. Pipi Sakura merona malu mendengar Gaara mengkhawatirkannya akan sakit jika dia mandi –tunggu.
Bagaimana dia tahu?!
"Jangan perdulikan mereka. Aku bisa membeli semuanya jika kau merasa tak aman. Ayo" kali ini Gaara tak membiarkan Sakura menjawab apapun lagi. Pemuda itu langsung memegang tangan Sakura alu sedikit menyeret gadis itu untuk masuk kedalam fitting room.
.
.
.
Tbc..
A/n :
Maaf lama banget aku tahu kalian merasa digantungin tapi aku juga sangat sulit untuk menemukan inti cerita ini. Aku berusaha untuk tetap menulis untuk kalian semua.
Mungkin chapter depan bakalan lama banget lagi. karna juga aku harus nyicil untuk ceritaku yang ada di wattpad. Cerita yang lain masih dalam proses.
Semoga sabar menunggu ya. Thx
Iwafyusomuch, reads
Xoxo, Blueyes
