Oh Sehun, apa yang kau lakukan disini?
Luhan pasti bermimpi atau jika tidak mungkin dia sedang berhalusinasi. Bagaimana bisa dari sekian banyak rumah sakit dan dokter, Luhan harus bertemu dengan pria misteriusnya. Haruskah Luhan berteriak karena bahagia sekarang.
Tidak.
Luhan tidak terlalu bodoh menyadari bahwa dirinya sedang di dalam ruang gawat darurat.
Bisa jadi ini hanya ilusinya, ini tipuan mata karena syok pasca kejadian.
Itu bisa saja terjadi.
Luhan tidak bisa menemukan dirinya, tidak bisa menemukan dunianya. Saat melihat Sehun, Luhan tidak tau apa yang sedang dilakukannya disini. Bahkan dia tidak ingat siapa namanya sendiri.
Bukankah Luhan pernah bilang, pesona Oh Sehun mematikan.
Ketika Sehun menyentuhnya untuk memastikan Luhan baik-baik saja karena gadis itu tidak bergerak sama sekali sejak Sehun datang, Luhan baru bisa mengerjapkan matanya dengan ragu-ragu. Gadis itu seolah-olah tersadar dari lamunan panjangnya.
Ini nyata.
Benar-benar nyata. Sentuhannya nyata.
Luhan benar-benar merasakannya dikulitnya.
Dia tidak bermimpi. Oh Sehun sedang berada dihadapannya, sekarang.
"Kau baik-baik saja?" suara Sehun yang lembut membuat Luhan lagi-lagi memejamkan mata. Gadis itu tidak bisa menyembungyikan diri bahwa dia menikmati suara Sehun yang menurutnya luar biasa seksi. Pikirannya melayang-layang lagi.
Pikiran kotornya.
Tentu saja.
Luhan ingin menjawab, tapi bibirnya sama sekali tidak bisa bergerak.
"Kau merasakan sakit?" tanya Sehun lagi. Tatapannya menatap Luhan tanpa putus sedangkan Luhan memandangnya nyaris tanpa berkedip.
Luhan lagi-lagi hanya bisa diam. Dia tidak merasakan sakit, hanya sedikit perih dan panas memeng, tapi itu sama sekali bukan masalah. Satu yang pasti, dia tidak bisa merasakan apapun kecuali jantungnya yang berdetak dengan cepat.
Sekarang bahkan Luhan merasa sakitnya tidak begitu terasa.
Oh Sehun bagaikan obat untuknya.
Pemikiran yang bodoh.
Sehun berbicara dengan beberapa orang disana, menyuruh mereka melakukan sesuatu yang tak Luhan pahami, lalu orang-orang itu keluar dengan terburu-buru. Bagi Luhan, mereka sedang berbicara dengan bahasa asing.
Dengan sebuah senyuman yang bisa membuat Luhan terkena serangan jantung mendadak, Sehun menggerakkan tangannya didahi Luhan yang basah karena keringat. Luhan mengejang sempurna, tidak munafik untuk mengatakan dia menikmati setiap sentuhan Sehun.
Tubuh Luhan serasa melayang hanya dengan sentuhan ringan pria itu.
"Mungkin kau mengalami syok pasca kejadian. Tapi kau akan baik-baik saja," bisik Sehun seolah-seolah sedang menghipnotis Luhan dengan kata-katanya.
Aku baik-baik saja, sungguh. Kau yang membuatku syok, Luhan menggerutu dalam hati.
"Asalkan kau tidak banyak bergerak, kau akan baik-baik saja," tambah Sehun sambil menyuntikkan cairan bening ke permukaan kulit Luhan.
Setelah membuat Luhan tidak bisa bernapas dengan tenang, tangan Sehun bergerak perlahan menelusuri kaus Luhan yang basah. Dengan sangat pelan Sehun mengangkat sedikit demi sedikit kaus itu.
Luhan meringis karena sakit dan juga mengerang karena protes.
"T-tunggu dulu," cegah Luhan cepat-cepat, membuat Sehun menghentikan gerakannya. "Apa yang kau lakukan?" protes gadis itu langsung, mengabaikan fakta bahwa Sehun sedang berusaha menyelamatkannya.
Sehun memandangi Luhan dengan heran, tapi akhirnya tersenyum juga. "Kau mengalami luka bakar yang cukup parah, aku harus memeriksanya untuk memastikan ini baik-baik saja,"
"Apa kau harus membukanya?" tanya Luhan polos.
Pertanyaan Luhan yang gamblang membuat Sehun kembali tersenyum tipis. "Tentu saja. Bagaimana bisa aku memeriksanya jika ini tidak dibuka," suara Sehun terdengar selembut beledu.
Wajah Luhan memerah sempurna. Sehun benar-benar bisa membuatnya berantakan.
"T-tapi," sial. Luhan tidak tau ingin bicara apa.
Sehun tersenyum lagi. "Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam," Sehun masih memandangi Luhan seperti meminta persetujuan dari gadis itu, dan Luhan terpaksa mengangguk karena dia tidak punya pilihan lain.
Sehun mengambil gunting dan merobek kaus Luhan. Kemudian dengan lembut melepaskan kaus itu dari tubuh Luhan, perlahan. Sementara Sehun berhati-hati dengan pekerjaannya, Luhan memejamkan mata erat-erat. Selain merasakan perih ditubuhnya, Luhan juga malu bukan main.
Seorang gadis yang nyaris bertelanjang di depan orang yang sangat dikaguminya. Tidak akan ada orang yang masih baik-baik saja di kondisi yang seperti itu.
Begitu pula dengan Luhan.
Gadis itu sungguh tidak baik-baik saja sekarang.
Jantungnya berdetak sangat cepat dan kencang, Luhan hanya berharap Sehun tidak mendengarnya.
Luhan sama sekali tidak membuka mata saat Sehun menelusuri perutnya. Saat Sehun menyentuh lukanya yang perih, Luhan merasa sangat nyaman. Entah karena sentuhan Sehun, atau karena obat yang Sehun oleskan di perutnya.
Luhan tidak sempat untuk menaruh peduli.
Jika bisa, Luhan ingin sekali menutupi bagian dadanya yang tidak terlindungi dengan sempurna. Dia benar-benar malu karena menunjukkan bagian tubuhnya kepada orang lain. Terlebih dihadapan pria yang disukainya, untuk yang pertama kali.
"Apa sakit sekali?" tanya Sehun ketika Luhan mengerang ringan. Luhan mengangguk ragu-ragu padahal dia tidak yakin apa yang sedang dirasakannya sekarang. "Tunggu sebentar lagi," Sehun tetap menggerakkan tangannya disekitar perut Luhan.
Luhan berdeham-deham untuk menghilangkan gugup. "Kemana semua orang tadi?" tanyanya ragu-ragu. Dia tidak tau apa yang diingin ditanyakan, Luhan hanya benci suasana canggung seperti ini.
"Ada pasien kecelakaan yang datang bersamaan denganmu," jelas Sehun.
Luhan mengangguk-angguk. "Apa pekerjaan di UGD selalu seperti ini?"
Sehun diam, membuat Luhan mulai berpikir bahwa dia menanyakan hal yang salah.
Apa yang kau tanyakan Luhan. Berhentilah membuat dirimu semakin terlihat bodoh, rutuknya dalam hati.
Sehun melilitkan perban terakhir pada perut Luhan. "Orang di UGD selalu sibuk. Apalagi jika banyak dokter yang sedang bertugas dilain tempat. Makanya kau jangan sampai bertemu dengan dokter UGD," jawab Sehun dengan senyuman lebar dibibirnya.
Luhan diam, merasa seolah-olah kehadirannya tidak diharapkan. Luhan mulai berpikir apakah semua dokter selalu berpikir seperti itu, menganggap pasien hanya sebagai beban.
Sadarlah Luhan, kau sedang ditolak, Luhan memutuskan sepihak.
"Maaf karena merepotkanmu," bisik Luhan menyesal.
Sehun menegakkan tubuhnya dan memandang Luhan dengan bingung. "Bukan itu maksudku. Kau tau dokter selalu mengatakan untuk tidak bertemu lagi dengan pasiennya. Maksudnya jangan sampai kau sakit dan harus dirawat lagi," Sehun menjelaskan lagi karena sepertinya Luhan salah paham.
Luhan membulatkan bibirnya dengan sempurna. Merasa bodoh karena kesalahpahamannya dan dirinya yang terlalu terbawa perasaan.
Lalu sebuah senyum tipis menghiasi bibir mungilnya.
"Baiklah sudah selesai," ucap Sehun setelah mengaitkan perban terakhir Luhan. Sehun membantu Luhan untuk kembali tidur dengan hati-hati. "Istirahatlah dulu. Kau baru bisa pulang pagi nanti setelah kau menghabiskan antibiotikmu,"
Luhan hanya mengangguk ringan saat Sehun keluar ruangan dengan senyuman ringan.
Detik berikutnya, suara riuh Kyungsoo dan Baekhyun membuatnya mendesah sebal.
Kalau bisa Luhan ingin bersama Sehun sepanjang malam, bukan bersama dua orang sahabatnya yang sangat berisik.
.
.
Paginya Luhan benar-benar tidak merasa lebih baik, gadis itu tidak bisa tidur semalaman karena suara UGD yang sangat berisik dan sibuk. Suara pengatur detak jantung miilik pasien di sampingnya membuatnya nyaris frustasi.
Kyungsoo dan Baekhyun menungguinya sepanjang malam meskipun mereka berdua berakhir dengan tidur pulas disofa rumah sakit. Kadang luhan heran, bagaimana kedua sahabatnya itu bisa menghadapi situasi-situasi aneh tak terduga seperti ini dan menganggapnya biasa.
Katakan saja, bagi Luhan, kedua sahabatnya itu aneh.
Kyungsoo masih saja meminta maaf karena kecerobohannya padahal Luhan sama sekali tidak marah. Bagaimana Luhan bisa marah kalau dia seharusnya berterima kasih pada kecerobohan Kyungsoo. Karena kecelakaan kecil itu, dia bertemu dengan pria misteriusnya.
Bodoh, memang.
Bagi Luhan tak masalah dia merasakan sakit asalkan bisa bertemu dengan Sehun. Sungguh pemikiran yang bodoh. Mungkin benar Luhan sudah dibutakan oleh cinta, meskipun dia belum sepenuhnya yakin apakah itu cinta atau hanya obsesi berlebihan.
Luhan tidak ingin mencari tau.
Pagi ini saat Luhan pikir dia akan kembali bertemu dengan Sehun untuk diperiksa, dia salah. Bukan Sehun yang menanganginya, tapi seorang dokter lain. Dan itu semakin membuatnya kesal.
Oh Sehun.
Pria itu masih misterius meskipun Luhan tau apa pekerjaannya.
"Kyung, apa kau tau dokter yang semalam menanganiku?" tanya Luhan saat mereka dalam perjalanan pulang.
Luhan sebenarnya tidak yakin dengan pertanyaannya sendiri, hanya saja Luhan terlalu penasaran untuk mengetahui siapa sosok Sehun lebih jauh.
Kyungsoo mengangguk tanpa melepas pandangan dari ponselnya. "Bukannya dia teman Jongin yang dulu pernah kita lihat,"
"Kau mengenalnya?" Luhan tidak bisa menyembunyikan nada antusias dalam suaranya.
Pandangan Baekhyun dan Kyungsoo yang menatapnya dengan tatapan aneh, membuat Luhan tersadar bahwa dia salah bicara. Luhan mendekap mulutnya secara tiba-tiba, dalam hati merutuki kebodohannya.
"Kau menyukainya?" tanya Kyungsoo langsung.
Luhan diam, membuang pandangan dari tatapan mematikan dua gadis lucu di depannya.
Kyungsoo dan Baekhyun saling bertukar pandang. "Jadi, Oh Sehun?" tanya Kyungsoo lagi, mengatakannya seolah-olah orang yang bernama Oh Sehun itu telah melakukan suatu kejahatan seperti pembunuhan.
Lagi-lagi Luhan hanya bisa diam, mendekap mulutnya sendiri dan menatap keluar jendela mobil.
Ya, dia menyukai Oh Sehun.
.
.
Luhan masih saja merutuki kebodohannya dengan membiarkan kedua biang gossip itu mengetahui kenyataan pahit bahwa dia menyukai sosok Oh sehun yang bahkan sama sekali tidak mengharapkan kehadirannya.
Luhan tidak mau bilang ini cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi sepertinya sudah sangat jelas.
Klasik sekali.
Dengan langkah cepat, Luhan menuju ke kemarnya di lantai dua dan mengunci pintunya dari dalam. Luhan harus diam, setidaknya sampai dua orang sahabatnya itu sedikit melupakan tentang masalah ini.
Menenangkan diri adalah bakat khususnya.
Bukan masalah jika Baekhyun dan Kyungsoo mengetahui hal ini. Hanya saja Kyungsoo dan Jongin sedang memiliki sebuah hubungan khusus dan Sehun berteman baik dengan Jongin. Sedangkan Baekhyun, dengan bibir tipisnya itu, dia bisa menyebarkan berita tidak penting ini sampai negeri China.
Luhan tak ingin menjadikan dirinya semakin konyol dihadapan Sehun. Cukup sudah image-nya sebagai gadis bodoh bagi Sehun.
Yang benar saja, ini bisa jadi masalah besar.
Setelah berdamai dengan pikirannya yang kacau, Luhan memperhatikan dirinya dihadapan cermin besar setinggi tubuhnya. Dia mengangkat kausnya keatas, melihat lukanya yang masih tertutup perban.
Dengan satu harapan kecil –terlampau kecil- Luhan ingin luka ini tidak meninggalkan bekas. Meskipun dia tidak pernah memakai bikini saat ke pantai, tapi dia sangat menjaga tubuhnya.
Luhan mendengus kesal, kemudian melemparkan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang empuknya dan mengerang dengan keras ketika rasa perih di perutnya datang. Dia baru ingat dia lelah, bahwa dia juga butuh tidur.
Ponselnya bergetar saat Luhan baru memejamkan mata. Dengan erangan sebal, Luhan menggeser layar ponselnya, menjawab panggilan itu tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Selamat siang, benarkah ini nomor Nona Xi Luhan?" tanya suara lembut seorang wanita, yang Luhan prediksi berusia lebih dari usia ibunya.
"Benar," jawab Luhan singkat, tidak bisa memikirkan kata-kata lain.
"Maaf, aku lupa mengatakan bahwa kau harus kembali ke rumah sakit besok untuk diperiksa,"
Perkataan wanita tadi membuat Luhan membuka matanya lebar-lebar dan dengan satu gerakan cepat menegakkan tubuhnya. "Benarkah?" Luhan tidak bisa menahan seringaian di wajahnya.
"Jam empat sore, Nona,"
Luhan tersenyum lebar. "Baiklah. Terima kasih,"
Setelah sambungan terputus, Luhan memekik kegirangan. Dia akan bertemu dengan Sehun lagi, besok, ini sama sekali tidak buruk. Dengan cepat, Luhan berdiri dan menari-nari seperti orang bodoh, lalu mengerang dan berhenti bergerak karena perih kembali menyapa kulitnya yang terluka.
Sial.
.
.
Keesokan paginya, Luhan bangun dengan wajah yang berbinar-binar dan semangat yang nyaris meledak dalam tubuhnya. Setelah semalam memutuskan untuk melewatkan makan malamnya, Luhan makan dengan lahap pagi ini.
Kyungsoo dan Baekhyun sama-sama menatap Luhan dengan aneh. "Kau baik-baik saja?" tanya Kyungsoo, raut wajahnya diliputi kekhawatiran.
Luhan mendongak untuk menatap Kyungsoo. "Memangnya aku terllihat buruk?" balas Luhan sambil tersenyum.
Itu membuat kedua orang di depannya semakin bingung.
"Kau mengurung diri seharian kemarin. Kau bahkan tidak makan malam," kali ini Baekhyun yang bicara.
Luhan terkekeh. "Aku hanya sedang diet, kalian tau kan pengambilan gambarku sebentar lagi,"
"Kupikir kau mati karena kau sama sekali tidak bersuara," dengus Kyungsoo, bibirnya membentuk lengkungan ke bawah, kemudian mengerucutkan bibirnya lucu.
"Jangan pasang wajah menyebalkan itu," Luhan menudingnya dengan sendok. "Aku baik-baik saja, sungguh,"
Kyungsoo tersenyum lega dan Baekhyun berdeham-deham.
"Jadi," Baekhyun menggantung kalimatnya. "Tentang Oh Sehun?"
Luhan tersedak.
"Kau benar-benar menyukainya?" lanjut Kyungsoo antusias.
Luhan hanya membalas dengan tatapan tajam karena dirinya masih sibuk menghentikan batuk-batuk panjangnya.
Kyungsoo mengangkat bahu. "Well, kalau kau menyukainya, aku bisa memberitau Jongin tentang hal ini. Kurasa Jongin akan bisa membantumu,"
"Jangan," jeritnya, memotong perkataan Kyungsoo. Luhan memukul meja makan dengan kepalan tangan, kemudian menuding Kyungsoo dan Baekhyun bergantian dengan chopsticks. "Kalau kau berani mengatakannya pada Jongin atau siapapun itu, aku akan membunuh kalian,"
Kyungsoo mengangkat kedua tangan ke udara, menyerah. "Aku berjanji,"
Luhan memandangi Baekhyun, menunggu reaksi gadis itu.
Baekhyun mendesah ringan. "Aku akan diam, Aku janji,"
Luhan mengangguk beberapa kali, lalu melanjutkan makanannya yang berantakan.
"Sejak kapan kau menyukainya?" tanya Baekhyun antusias.
"Saat kau pingsan di acara kampus pertama kali. Sehun ada di sana, dia menemukanku sedang berdiri bodoh di tengah kerumunan," ingatan akan pertemuan pertamanya dengan Sehun membuat Luhan tanpa sadar tersenyum.
"Kenapa dokter UGD ada di kampus? Dia sudah lulus kan?" Kyungsoo mengernyit bingung.
Baik Luhan maupun Baekhyun sama-sama mengangkat bahu.
.
.
Luhan berjalan dengan tergesa-gesa menelusuri lorong UGD yang sepi. Dia agak terlambat sore ini, padahal janjinya sudah dibuat setengah jam yang lalu dengan perawat yangkemarin meneleponnya.
Lorong ini begitu sepi dan ruangan-ruangan di sekitarnya tertutup. Luhan sempat bertanya-tanya apakah dia terlambat, bahkan nomor perawat yang kemarin menghubunginya, sedang sibuk sekarang.
Luhan tidak tau apa yang harus dilakukannya. Akhirnya setelah kebingungan setelah beberapa menit, Luhan memutuskan untuk menunggu disalah satu sofa panjang di depan ruangan tempatnya semalam menginap, berharap bertemu dengan Sehun dan melakukan pemeriksaan.
Hanya memikirkan Sehun saja, dia sudah tersenyum-senyum aneh.
Dan jantungnya mulai sedikit berdetak lebih cepat.
Luhan mengeluarkan novel yang selalu dibawanya kemanapun, menurutnya membaca saat menunggu adalah hal yang tepat. Beberapa kali Luhan harus sedikit menyingkirkan kakinya dari jalan karena ada orang yang berlari-lari.
Setelah hampir setengah jam menunggu tanpa ada panggilan, Luhan menutup novelnya yang sudah selesai. Dia menegakkan badannya dan meregangkan ototnya, lalu kembali mengerang karena perih.
Luhan menunduk, memegangi perutnya.
Luhan merasakan sepasang kaki sedang berhenti dihadapannya. "Kau baik-baik saja?" tanya suara itu.
Suara itu, Luhan mengenalnya.
Suara itu.
Luhan mendongak untuk menatap pemilik sepasang kaki itu dan Luhan nyaris memekik karena Oh Sehun sedang berdiri dihadapannya, menatapnya dengan tatapan khawatir.
Jantungnya melompat-lompat.
Luhan sudah gila. Pesona Oh Sehun bisa membunuhnya.
"Nona?"
Panggilan Sehun membuatnya tersadar, kemudian dia memaksakan sebuah senyum yang dibuatnya semanis mungkin. "Aku tidak apa-apa," bisiknya, malu-malu.
Sehun tersenyum rinagn dan duduk di samping Luhan.
Ingatkan Luhan untuk bernapas normal.
"Kau Nona yang kemarin terkena luka bakar kan?"
Luhan mengangguk ringan, tidak menatap wajah Sehun sama sekali.
"Apa yang kau lakukan di UGD lagi, Nona…" Sehun menggantungkan kalimatnya, Luhan tidak terlalu bodoh untuk menyadari bahwa Sehun menanyakan namanya.
"Luhan," jawabnya singkat.
"Nona Luhan?" lanjut Sehun sambil terkekeh.
Luhan nyaris menangis karena bahagia. Sehun menyebut namanya.
"Kemarin ada perawat yang mengatakan padaku untuk pemeriksaan rutin. Aku sudah membuat janji sejak pukul empat tadi," Luhan memandangi jam tangannya. "Empat puluh menit yang lalu,"
Raut wajah Sehun bingung. "Tunggu sebentar. Mungkin ada sebuah kesalahan,"
"Kesalahan?" Luhan mengulang kata terakhir Sehun.
Sehun berdeham sedikit, kemudian menggaruk tengkuknya. "Kau tidak bisa melakukan pemeriksaan rutin di UGD. Kau harus menemui dokter spesialis kulit, Nona Luhan,"
Luhan diam, berusaha mencerna kata-kata yang meluncur cepat dari bibir Sehun.
Baru setelah beberapa detik berlalu, Luhan menyadari dirinya benar-benar bodoh. Luhan dapat merasakan rasa panas menjalari pipinya.
Luhan mendapati dirinya sendiri luar biasa malu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sehun bingung ketika Luhan tidak bergerak sama sekali.
Luhan mengangguk kaku, kemudian berdiri. "Terima kasih atas informasinya, Dokter Oh," Luhan menundukkan kepalanya ringan, kemudian buru-buru membalikkan badan dan berjalan cepat menuju keluar UGD.
Luhan ingin lenyap dari sini sekarang juga.
Luhan merutuki semuanya, perawat bodoh yang tidak menjelaskan padanya. Atau mungkin sudah dijelaskan tapi Luhan tidak peduli itu karena pikirannya selalu fokus pada Sehun.
Luhan merutuki pertemuannya kali ini dengan Sehun.
Dan yang pasti Luhan merutuki kebodohannya.
Luhan yakin, Sehun akan menganggapnya benar-benar bodoh.
Luhan ingin mati saja rasanya.
.
.
Seminggu telah berlalu sejak kejadian memalukannya di UGD waktu itu. Luhan malu bukan main, dia merasa sangat bodoh. Lebih bodoh dari seekor keledai bodohh. Malam setelah kejadian itu, Luhan memutuskan untuk melupakan Oh Sehun. Pikirnya sudah tidak akan ada keajaiban antara dia dan Sehun.
Ini sudah berakhir bahkan sebelum dimulai.
Menyedihkan, memang.
Sore ini Luhan telah menyelesaikan pemeriksaan terakhirnya, dengan dokter tua menyebalkan yang selalu mengomel karena Luhan bersikeras tidak menghabiskan antibiotiknya. Luhan tidak peduli lagi meskipun lukanya itu membusuk.
Dia kehilangan kemauan untuk hidup.
Miris.
Dengan langkah gontai, Luhan menyusuri lorong rumah sakit. Pandangannya menatap ke suatu tempat yang selama ini dihindarinya. UGD. Entah mendapat dorongan dari mana, Luhan ingin lewat jalan itu, melewati UGD sebelum menuju pintu keluar.
Mungkin saja dia bisa bertemu dengan Sehun.
Sejak kejadian itu, Luhan sama sekali tidak bertemu dengan Sehun. terlalu bodoh jika mengatakan Luhan merindukan sosok Sehun, tapi itu memang kenyataannya.
Setengah mati Luhan merindukan Sehun.
Luhan sendiri bingung dengan dirinya, logikanya menyuruhnya berhenti. Tapi hatinya terus mendorongnya untuk bergerak maju. Selama pikiran dan hatinya berdebat, Luhan memutar arah, menjauhi pintu UGD yang terbuka lebar.
Ini memang harus segera diakhiri.
.
.
Luhan menyeret kakinya memasuki apartemennya, tanpa menghiraukan Baekhyun yang sedang menatapnya dengan pandangan bingung dan juga iba. Luhan berjalan lurus menuju lemari es dan menuangkan air dingin ke dalam gelas.
Tidak meminumnya, hanya memandanginya dengan tatapan kosong.
"Kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun dari balik majalah yang sedang dibacanya.
Luhan mengangguk kaku.
"Kau masih sepatah hati itu?" lanjut Baekhyun, berhati-hati.
Luhan tidak menjawab. Pikirannya melayang jauh kemana-mana.
"Ayolah Luhan. Jadilah dirimu yang dulu," rengek Baekhyun,
Luhan tersenyum sedikit, lalu menutup pintu lemari es dan meminum air dinginnya. Lalu tiba-tiba saja Luhan menjatuhkan gelasnya, membuat Baekhyun memekik kaget. Gadis itu buru-buru berlari menuju Luhan yang sedang berjongkok memunguti pecahan gelas.
Baekhyun lagi-lagi nyaris menjerit melihat tangan Luhan yang berdarah karena gadis itu meremas pecahan gelas dalam genggamannya.
Darah segar itu menetes, meskipun hanya setetes, tapi warnanya terlihat jelas di atas lantai marmer pucat karena itu membuat genangan air di bawahnya berubah menjadi warna merah.
"Apa yang kau lakukan?" Baekhyun berteriak histeris, sedangkan Luhan tidak bergerak sama sekali.
"Apakah aku harus terluka untuk bertemu dengannya, Baekhyun?" Luhan berbicara dengan tatapan kosong, seolah-olah sedang berbicara dengan diri sendiri.
Baekhyun ingin menarik kepala Luhan dan membenturkannya ke lantai, membuat gadis itu sadar.
Tapi Baekhyun juga menyadari bahwa Luhan benar-benar sakit.
"Lepaskan itu, Luhan. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri," Baekhyun berbisik, berusaha tenang walaupun gadis itu sangat gugup.
Luhan mengerjap beberapa kali, seolah tersadar dari lamunan dan melemparkan pecahan gelas itu. Kemudian mengerang dan meringis karena tangannya terasa perih. Baekhyun meraih tangan Luhan dan menuntunnya hati-hati menuju sofa.
Baekhyun harus berusaha setengah mati agar tidak membenturkan kepala Luhan kepinggiran meja yang tajam.
Baekhyun mendesah lega karena Luhan merasa kesakitan, setidaknya gadis itu sudah sadar. "Tunggu sebentar, aku akan mengobatimu," Baekhyun melesat pergi.
Baekhyun kembali dengan kotak darurat di tangannya, perlahan Baekhyun mencuci tangan Luhan yang mengeluarkan darah dengan dengan alkohol. Baik Baekhyun maupun Luhan sama-sama mengernyit saat aroma alkohon menyeruak membakar hidung mereka.
"Ya Tuhan, perih," Luhan mengerang saat cairan alcohol menyentuh lukanya.
Tidak ada pengalaman yang lebih buruh dari luka yang bertemu dengan alcohol.
Baekhyun memukul kepala Luhan dengan tangannya. "Apa yang kau pikirkan bodoh?" Luhan hanya diam, menundukkan kepalanya. "Jika kau melakukan ini lagi, aku benar-benar akan membunuhmu, Xi Luhan," suara Baekhyun terdengar seperti bentakan.
"Hanya saja–," Luhan berhenti.
"Lebih baik aku masuk penjara karena membunuh temanku daripada harus melihat temanku menyakiti diri sendiri seperti ini. Kau benar-benar menyedihkan," Baekhyun mendengus kesal. "Jangan lakukan ini lagi," titahnya.
Luhan hanya mengangguk beberapa kali, patuh. "Maaf," bisiknya.
Selanjutnya tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari bibir Luhan. Gadis itu meringis dan mengerang pelan saat perih menyapu permukaan kulitnya.
Tekadnya sudah bulat, benar-benar mengakhiri apa yang pernah diharapkannya.
Mungkin, jika Luhan bisa
.
.
TBC
.
.
Hallo, terima kasih sudah membaca dan me-review fanfic ini.
Author minta maaf kalau updatenya lama, maklum author kehilangan banyak inspirasi. Author kira cerita ini nggak ada yang berminat baca, tapi ternyata yang minta dilanjut banyak juga. Akhirnya, dilanjut deh /yeay/.
Silahkan review untuk readers sekalian, setidaknya biar author tau aja ini fanfic ada yang baca /hehe/
Author minta saran, ini dilanjut atau enggak enaknya.
Sekian, mohon maaf jika ada kesalahan. Terima kasih.
Sampai jumpa dichapter depan /kalo ada/. Bye~
