Hallo~ aduh udah berapa tahun ya FF ini dianggurin? /maap, Author lupa kalo punya FF ini. Pas kemarin ada review masuk baru inget kalo FF ini ada/

Author sendiri nggak yakin sih FF ini masih ada yang nungguin karena udah lama banget nggak diupdate, setahun lebih kayanya. Jadi kalo mau baca chapter ini, Author sarankan baca dari awal /karena jujur aja, yang nulis juga lupa sama ceritanya/

Selamat membaca dan jangan lupa meninggalkan jejak di kolom review ya~

.

.

Tidak butuh waktu lama bagi Luhan untuk pulih dari keterpurukan, ah, berlebihan menyebut itu sebagai keterpurukan –tepatnya, Luhan sudah bisa melupakan Sehun sedikit demi sedikit. Memang dasarnya Luhan yang bodoh, bagaimana dia bisa jatuh cinta pada pria asing yang baru ditemuinya. Terlebih, ia sudah berlaku memalukan dihadapan Sehun.

Sangat memalukan dan bodoh.

Seolah membuang jauh-jauh kenangan singkat bersama Oh Sehun yang menakjubkan itu, Luhan menjalani kehidupannya dengan normal –setidaknya ia mencoba menjadi normal. Pikiran bodoh memang sempat muncul dibenak Luhan, ia sempat berpikir bahwa membuat dirinya terluka bisa mempertemukannya dengan Sehun.

Tidak masuk akal, bukan?

Beruntungnya, Baekhyun dan Kyungsoo menyadarkan tindakan bodoh gadis itu.

Bicara soal kedua orang sahabat berisiknya itu, Kyungsoo dan Baekhyun masih terus menerus menempel padanya. Bahkan sudah satu minggu berlalu sejak Luhan terakhir kali menemui dokter kulitnya, Kyungsoo masih saja merasa bersalah atas ketidaksengajaannya membuat luka bakar pada perut Luhan. Kyungsoo benar-benar menyesal karena itu membuat Luhan tak bisa memakai bikini saat berlibur, bahkan Kyungsoo berniat membiayai Luhan untuk operasi bekas luka.

Demi Tuhan, Kyungsoo sudah berpikir terlalu jauh.

Bahkan Luhan tidak pernah sekalipun memakai bikini.

Sama seperti hari kemarin, hari ini, Kyungsoo bersikeras mengantarkan Luhan kuliah. Padahal Luhan memiliki surat ijin mengemudi sendiri, tapi Kyungsoo tetap saja bertingkah seperti ibunya. Dan mendapatkan perhatian seperti itu benar-benar menyenangkan.

Ponsel Luhan berdering disakunya saat kelas baru saja berakhir, nama Kyungsoo muncul di layar. Dengan sebuah senyuman singkat, Luhan mengangkatnya tanpa pikir panjang. "Ya Kyung?" ucapnya dengan nada ringan, sedikit mengangguk pada beberapa teman yang menyapanya di depan kelas.

"Kau sudah makan siang?" tanya Kyungsoo.

"Belum, kenapa?" balas Luhan cepat tanpa pikir panjang.

"Jongin mengajakku makan siang, kujemput sepuluh menit lagi," suara Kyungsoo terdengar ceria.

Luhan tertawa sedikit, ia melangkahkan kaki keluar dari gedung. "Aku akan mengganggu kencan kalian," balas Luhan. "Aku tidak akan ikut," tambahnya dengan satu desahan ringan.

"Aku akan jujur padamu, sebenarnya agak canggung saat hanya makan siang berdua dengan Jongin. Kau tau kan dia agak cerewet masalah makanan sehat dan segala omong kosong tentang itu,"

Luhan tertawa lagi. "Jadi ini alasan kau mengajakku makan siang?"

"Aku akan sampai sana sebentar lagi," balas Kyungsoo riang, kemudian mematikan sambungan telepon sepihak.

Dan itu membuat Luhan tersenyum, kelakuan sahabatnya itu benar-benar.

.

.

Kyungsoo sudah menepikan mobilnya di depan sebuah rumah makan Jepang, tepat di seberang rumah sakit dimana Jongin bekerja –yah, Sehun juga bekerja disana sebenarnya. Kyungsoo dan Jongin sedang asyik mengobrol dan makan, sementara Luhan harus tahan melihat pasangan itu, ia mengalihkan pandangannya dengan melihat keramaian jalan di siang hari yang sibuk melalui jendela besar rumah makan itu.

Dalam hati mulai menyesal mengapa ia menuruti ajakan Kyungsoo untuk makan siang bersama.

"Sedang memikirkan sesuatu, Luhan?" suara Jongin membuat Luhan sedikit terkejut.

Yah, daritadi ia melamun tanpa sadar, entah apa yang dipikirkannya.

Luhan tersenyum sedikit, kemudian menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja," balasnya.

"Apa lukamu masih terasa sakit sekarang?" tanya Jongin lagi.

Luhan tertawa ringan. "Aku benar-benar sudah sembuh," ia berhenti sebentar untuk melirik Kyungsoo. "Tolong katakan padanya untuk berhenti khawatir," cibir Luhan.

Kyungsoo tertawa tipis. "Bagaimana aku bisa merasa tidak bersalah dengan hal itu," Kyungsoo memandangi Jongin dan Luhan bergantian.

Jongin menyetujui dengan anggukan ringan. "Bagaimana dengan kehidupan kampus, apa itu menyenangkan?" tanya Jongin tiba-tiba.

Kyungsoo membuang napas kesal. "Demi Tuhan, harusnya aku tak perlu kuliah, ini merepotkan. Aku sudah mendapat pekerjaan, dan terpaksa harus kuliah lagi,"

Luhan mencibir dengan dengusan ringan. "Meskipun kau sudah menjadi model terkenal, kau tetap harus kuliah," ia mengingatkan.

"Aku setuju," balas Jongin. "Bagaimana denganmu, Luhan?"

Luhan mengangkat bahu acuh. "Yah, aku sudah pernah kuliah sebelum ini. Tidak ada bedanya disini dan di China," ia menambahkan.

"Oh ya?" Kyungsoo menambahkan dengan semangat menggebu. "Jadi kau lebih tua dariku?"

Luhan mengernyit. "Tiga tahun lebih tua," ia menambahkan. Kyungsoo dan Jongin hanya menatap gadis dihadapannya itu dengan bingung. "Mungkin aku seumuran dengan Jongin, aku lulus dua tahun lalu dan melanjutkan kuliah disini,"

"Mengapa kau kuliah lagi?" tanya Jongin, Kyungsoo menyetujui.

Luhan terkekeh ringan. "Aku tidak terlalu suka dengan jurusanku yang lama, jadi setelah lulus, kuputuskan untuk kuliah lagi," ucapnya acuh, kembali menyesap greentea dinginnya.

"Jadi ini alasannya kenapa kau bisa mendapat pekerjaan sebagai designer?" tanya Kyungsoo, dan Luhan hanya mengangguk malu. "Kenapa kau tidak menceritakan ini sejak awal?"

Luhan mengangkat bahu sedikit. "Entahlah, menjadi lebih tua bukan yang menyenangkan. Bukan begitu, Jongin?" ucap Luhan dengan kekehan ringan. Jongin hanya mengangguk ringan dengan mulut penuh makanan. "Oh ya, aku penasaran," tambah Luhan, sebenarnya heran dengan dirinya sendiri karena ia banyak bicara hari ini. "Kau sudah menjadi dokter, kenapa masih ke kampus?"

Jongin masih berusaha menelan makanannya, kemudian menarik napas untuk mulai bicara. "Aku sudah lulus tiga tahun lalu dan aku ke kampus karena kuliah lagi, sama sepertimu,"

"Kau kuliah selain kedokteran?" balas Luhan.

Jongin tertawa ringan, ia melirik Kyungsoo yang sedang geleng-geleng kepala merutuki kebodoham Luhan. "Aku ingin menjadi ahli bedah, jadi aku mengambil spesialis untuk itu. Memangnya kau pikir aku mau selamanya menjadi dokter UGD?"

Luhan mengangkat bahu acuh. "Menjadi dokter UGD memang tidak mudah ya?"

"Bayangkan saja, aku hanya bisa menemuinya saat jam makan siang," ucap Kyungsoo dengan bibir mengerucut sebal. "Dan saat malam, dia sudah terlalu lelah untuk menemuiku,"

Jongin tertawa ringan, sedikit mengusap kepala Kyungsoo –dan itu berhasil membuat Luhan mual. "Setelah menyelesaikan tugas sebagai intern, aku masih belum dibuang dari UGD, dan yah, itu nyaris membunuhku setiap saat,"

"Jongin selalu bercerita tentang kejadian menyeramkan di UGD. Kau tau kan itu ada hubungannya dengan darah dan organ tubuh yang berantakan," tambah Kyungsoo dengan semangat.

Perut Luhan bergejolak mendadak, ia lemah jika mendengar hal seperti ini. "Hentikan, itu membuatku mual," balas Luhan sambil bergidik ngeri.

Jongin dan Kyungsoo sama-sama tertawa mendengar ucapan Luhan.

"Hey, Kim Jongin," panggil seseorang dari belakang tubuh Luhan, Jongin melambaikan tangan dan Kyungsoo membuka mulutnya lebar-lebar, tanpa sadar membuat Luhan menoleh ke belakang tubuhnya.

Jantung Luhan nyaris berhenti.

Ia melihat sosok itu lagi, pria jakung dengan kemeja berwarna putih dan juga celana hitam panjang. Pria itu melambaikan sebelah tangan sementara perlahan berjalan menuju meja mereka. Dan Luhan nyaris kehilangan dunianya.

Oh Sehun.

SIal. Apa yang harus kulakukan?

Sehun sudah berdiri di depannya, secara otomatis, Luhan menoleh ke arah Kyungsoo untuk meminta bantuan tanpa suara, sedangkan Kyungsoo hanya mengangkat bahu acuh. Gadis itu sedikit menundukkan kepala untuk menyapa Sehun, Luhan mengikuti gerakan Kyungsoo dengan kaku.

"Kau tidak dapat tempat?" tanya Jongin, Sehun mengangguk ringan, sedikit tersenyum pada Luhan dan Kyungsoo bergantian. Luhan hanya tersenyum canggung dan ia tau, Kyungsoo sedang menahan tawa di depannya. "Duduklah disini," Jongin mempersilahkan Sehun duduk di depannya –tepat di samping Luhan.

Sial, apa yang kau lakukan, Kim Jongin?

Sehun sedikit tertawa, kemudian duduk di samping Luhan.

Oke, Luhan. Kendalikan detak jantungmu. Jangan berbuat hal bodoh lagi, jangan sekarang.

Luhan memutuskan untuk mengalihkan pandangannya dan menatap keluar jendela, sambil mulai mengunyah lagi.

"Ah, Luhan-ssi?" ucap Sehun tiba-tiba.

Apa kau bilang?

Luhan menoleh ke arah pria itu, sedikit tak percaya karena Sehun baru saja mengucapkan namanya. Masih tampak seperti keledai bodoh, Luhan mengangguk.

Bagaimana kau bisa mengingat namaku, Oh Sehun?

"Ah, ya, Luhan yang saat itu kau tolong di UGD," Jongin menambahkan dengan santai.

Sehun tertawa ringan. "Lukamu sudah sembuh?" tanya Sehun lembut, menatap Luhan dengan senyuman ringan, Sehun masih mengingatnya, itu berita bagus. Perlahan, Luhan mengangguk lagi, ia memaksakan sebuah senyum pada pria itu. "Kau tidak ingat padaku?" ia sedikit menyipitkan mata dengan tatapan menyelidik.

Tentu saja aku mengingatmu, Oh Sehun. Meskipun aku sangat ingin melupakanmu, bagaimana aku bisa melakukannya?

Kyungsoo tersenyum sedikit, dan itu membuat Luhan memelototinya. Ia kembali menoleh ke arah Sehun dan tersenyum. "Aku mengingatmu, Dokter Oh, terima kasih sudah mengobatiku," Luhan sedikit membungkukkan badan.

Sehun tertawa renyah. "Sehun," ia mengoreksi. "Bukan masalah, itu sudah tugasku," dan Luhan tertawa ringan –terdengar canggung. "Dan tentu saja, ada seseorang yang mengancamku jika tidak mengobatimu," Sehun melirik Kyungsoo sedikit.

"Maaf, aku hanya terlalu khawatir padanya," jawab Kyungsoo dengan suara tipis pada Sehun. Luhan memandanginya dengan kening berkerut. "Aku terlalu banyak bertanya pada Sehun tentang lukamu," jelas Kyungsoo, memandangi Luhan dengan kedipan ringan.

Luhan nyaris mengerang kesal karena merutuki Kyungsoo. Bagaimana gadis itu terus mengomel pada Sehun tentang Luhan.

Benar-benar memalukan.

"Ah, Sehun. Bukankah kau sudah mendapatkan jadwal libur hari ini? Kenapa masih berkeliaran disini?" tanya Jongin.

Luhan dan Kyungsoo saling bertukar pandang, sama-sama tidak mengerti.

Sehun tersenyum tipis, mulai memasukan potongan sushi ke dalam mulutnya. "Memastikan seorang pasien tidak kejang lagi pagi ini," balasnya.

Jongin menepukkan tangannya sekali, semakin membuat Kyungsoo dan Luhan bingung. "Wah, hebat sekali, kau benar-benar peduli dengan pasien bahkan meluangkan waktu liburmu yang berharga," Jongin mengatakan itu dengan mata berbinar-binar.

"Wah, professional sekali," Kyungsoo menambahkan.

"Aku hanya menjalankan tugas," balas Sehun dengan satu kekehan ringan.

Luhan masih memandangi Kyungsoo dengan mata membulat, mengingatkan gadis itu tanpa suara.

"Jadi Sehun sudah mendapatkan libur, kau kapan?" bisik Kyungsoo, menyenggol Jongin dengan sikunya, mengabaikan tatapan mata penuh permohonan dari Luhan.

Bibir Jongin sedikit mengerucut, ia mencubit hidung Kyungsoo dengan gemas. "Minggu depan, janji," bisik Jongin lembut.

Sehun mencibir. "Hentikan itu," ia menuding Kyungsoo dan Jongin dengan chopstick-nya bergantian. "Kalian mulai membuatku mual," ucapnya.

Semua orang tertawa, tapi Luhan tak tau harus melakukan apa. Ia hanya diam, memandangi Kyungsoo dan Jongin yang sedang terkikik. Ketiga orang itu berbicara seolah-olah Luhan tak ada disana, atau sebenarnya mereka mengajak Luhan bicara, tapi gadis itu hanya membalas dengan anggukan atau gelengan.

Jujur saja, berada di dekat Sehun benar-benar masih membuatnya gugup.

"Ah, aku lupa," ucap Kyungsoo tiba-tiba sambil melirik jam tangannya. "Aku harus menemui seseorang jam satu siang ini," mendadak saja, Luhan melirik jam tangannya juga, hanya tiga puluh menit sebelum jam satu.

"Kau bilang itu besok," protes Jongin.

Kyungsoo nyengir. "Hari ini," ia mengoreksi dengan kedipan mata ringan. Kyungsoo memandangi Luhan yang sudah memasukkan ponselnya ke dalam tas dan bersiap-siap, kemudian menatap Sehun. "Sehun, kau ada acara setelah ini?"

Sehun berpikir sebentar. "Aku hanya akan ke apotek untuk membeli beberapa obat," Luhan menatap Kyungsoo dengan bingung. "Kenapa?" tambah Sehun lagi.

Kyungsoo balas tersenyum pada gadis itu. "Maaf memintamu melakukan ini, bisakah kau antarkan Luhan pulang sekalian, kumohon ini mendesak,"

Apa kau bilang?

Mulut Luhan menganga, ia menatap Kyungsoo dengan mata membulat sempurna, sedangkan Sehun mulai melirik gadis itu.

Sehun tersenyum pada Luhan. "Tentu saja, bukan masalah,"

Tidak, Kyungsoo. Demi Tuhan.

"Terima kasih, Sehun. Kau yang terbaik," ucap Kyungsoo dengan riang, Sehun hanya tersenyum ringan, mulutnya masih sibuk mengunyah. Kemudian gadis itu tersenyum pada Luhan dengan mata berkedip, berdiri dari kursinya dan memeluk Luhan sedikit untuk mengecup pipi gadis itu. "Aku menunggumu di rumah," bisik Kyungsoo.

Sial.

"Hati-hati, Kyungsoo," ucap Jongin, ia memeluk Kyungsoo sebentar.

"Kuhubungi lagi nanti," bisik Kyungsoo pada Jongin, gadis itu tersenyum lagi pada Sehun. "Terima kasih, Oh Sehun," ucapnya.

"Bukan masalah," balas Sehun, mengangkat bahu acuh dan tersenyum tipis.

Lalu, begitu saja, Kyungsoo sudah keluar menuju tempat parkir.

Sial, apa yang harus kulakukan sekarang.

"Kenapa dia selalu memanggilku Sehun Sehun seperti itu," protes Sehun pada Jongin.

"Bukankah itu namamu?" balas Jongin acuh, kembali mengunyah.

Sehun mencibir. "Bukan begitu, aku lebih tua darinya kan?" ia berhenti sebentar. "Bukankah harusnya dia memanggilku dengan sebutan oppa?"

Jongin menepuk bahu Sehun sedikit, bibir pria itu terkekeh ringan. "Jangan berharap Kyungsoo memanggilmu seperti itu,"

"Apa kau melarangnya memanggilku seperti itu?" Jongin hanya mengangkat bahu acuh. "Wah, luar biasa. Kim Jongin benar-benar tipe pencemburu ya?" guraunya, Sehun melirik Luhan sedikit, dan gadis itu hanya tersenyum tipis sambil mengunyah.

Sial. Sial. Sial. Apa yang harus kulakukan sekarang. Demi Tuhan.

"Luhan, kau mau pulang sekarang?" tanya Jongin tiba-tiba.

Luhan mengerjap beberapa kali. "Ah, itu," sial kenapa dia menjadi gugup.

"Kau baik-baik saja, Luhan-ssi?" tanya Sehun, benar-benar memandanginya sekarang.

Ayolah, Luhan. Sekali ini saja biarkan otakmu bekerja dengan benar, jangan hiraukan hatimu!

"Aku pulang naik taksi saja," Luhan tersenyum canggung, akhirnya bisa menemukan kata-kata.

"Lebih baik Sehun mengantarmu," ucap Jongin, dan Sehun menyetujui dengan anggukan ringan.

Luhan tersenyum ringan.

Bagaimana aku harus menolak ini?

.

.

"Jadi, kau sekelas dengan Kyungsoo?" tanya Sehun saat mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir rumah sakit. Jongin sudah berlari mendahului mereka karena mendadak saja ada panggilan darurat.

Dan harus menyisahkan Luhan dengan kecanggungan luar biasa bersama Sehun.

"Ah, tidak," jawab Luhan setengah gugup. "Hanya beberapa mata kuliah yang sama,"

"Begitukah?" tanya Sehun dengan kepala mengangguk beberapa kali. "Kalian tinggal bersama?" Sehun sedikit menoleh untuk menatap Luhan, dan gadis itu hanya mengangguk sekali, ia minum greentea dinginnya dengan gugup. "Dia benar-benar panik saat membawamu ke UGD," Sehun terkekeh ringan.

Luhan tersenyum sedikit, sekedar membuat Sehun tidak menganggapnya seperti gadis bodoh. "Yah, dia masih khawatir padaku hingga sekarang," tambah Luhan.

Sehun berhenti berjalan, menunggu lampu penyebrangan berubah warna, dan Luhan berhenti berjalan juga. "Karena Jongin sibuk, dia selalu menghubungiku," Sehun tertawa sebentar. "Menanyakan tentang lukamu. Sampai-sampai aku hafal namamu, Luhan-ssi,"

"Luhan saja," Luhan mengoreksi, ia tak suka panggilan itu. Sehun hanya mengangguk ringan, perlahan melangkahkan kakinya, sedangkan Luhan berusaha mengimbangi langkah pria itu. "Maaf membuatmu repot karena ulah Kyungsoo," nada suara Luhan terdengar menyesal.

Sehun tertawa. "Bukan masalah, aku senang bisa membantu. Bukankah kau pasienku juga, Luhan-ssi? Ah, Luhan," Sehun buru-buru mengoreksi. "Keberatan jika aku mengajakmu ke apotek dulu sebentar? Aku takut mereka tutup cepat hari ini," tambah Sehun lagi.

Luhan menggeleng cepat-cepat. "Tidak. Bukan masalah," jawab Luhan tanpa pikir panjang. Ia tidak ingin jadwal Sehun terganggu karena harus mengantarkannya pulang.

Sehun tertawa ringan, benar-benar terlihat tampan di mata Luhan –ah, mungkin juga dimata semua orang. Luhan hanya tersenyum, mengikuti langkah Sehun menuju area parkir di sebelah pintu masuk. Langkah Sehun berhenti di depan sebuah motor besar berwarna putih, pria itu mengambil helm berwarna hitamnya, lalu memberikannya pada Luhan.

Tunggu dulu, apa aku harus naik motor ini sekarang?

Perlahan, Luhan melirik rok pendeknya. "Kita akan naik ini?" tanya Luhan, berusaha sopan tapi tetap saja terdengar tidak sopan.

Sehun mengangguk ringan. "Bukan masalah, kan?" tanyanya.

Luhan tersenyum ringan, berusaha terlihat baik-baik saja. "Bukan masalah," cicitnya, perlahan, ia memakai helm yang tadi Sehun berikan.

Oke, ini bukan kali pertama Luhan naik motor, hanya saja, sekarang dia memakai rok pendek di atas lutut dan lebih parahnya, ia sedang bersama Oh Sehun.

"Ah, itu," kata Sehun, Luhan tak mengerti. Sehun mengambil sebuah kain berwarna hitam dari dalam helmnya, kemudian menyerahkan itu pada Luhan. "Pakai jaketku untuk menutupi," Sehun melirik kaki Luhan sedikit, membuat gadis itu melihat kakinya juga, kemudian Sehun tertawa ringan.

Gentleman.

Luhan mengangguk singkat, ia mengikatkan jaket Sehun pada pinggangnya, dan berhasil menutupi hingga lutut. Sehun menaiki motornya, kemudian tersenyum pada Luhan, tangannya terulur ke arah Luhan. Dan Luhan memandangi tangan Sehun dengan pandangan bodoh.

"Kubantu naik," ia tersenyum lagi. Luhan menelan ludah kasar, perhalan menerima uluran tangan Sehun. Pria itu menggenggam tangan Luhan kuat-kuat sementara ia berusaha naik dengan susah payah.

Jantungku, bertahanlah.

Sehun tertawa ringan saat Luhan tanpa sadar mendesah lega setelah mendudukkan diri atas motor Sehun. Pria itu memakai helm yang menutupi hampir seluruh wajahnya, kemudian ia menoleh ke belakang untuk melihat Luhan. "Kau siap?"

"Ya," Luhan tercekat, benar-benar gugup sekarang.

Luhan bisa mendengar Sehun terkekeh ringan, tiba-tiba saja menarik tangan Luhan, dan meletakkan itu dipinggangnya. Luhan membelalak kaget. "Jangan sampai kau jatuh karena tidak pegangan," ia sedikit terkekeh.

Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang.

Demi Tuhan, Kyungsoo, aku akan membunuhmu.

Jadi Luhan menurut apa kata Sehun, dengan kaku, kedua tangan gadis itu memeluk Sehun dari belakang. Sementara Sehun sudah melesat cepat di jalanan ibukota yang agak padat. Luhan tidak bicara apapun, ia hanya berharap Sehun tidak mendengar detak jantungnya yang menggila.

.

.

Luhan dan Sehun harus menepi dan berteduh karena hujan deras mengguyur ibukota siang ini. Demi Tuhan, padahal ini masih musim panas. Beberapa saat yang lalu saat selesai kembali dari apotek, hujan tiba-tiba turun tanpa peringatan, berhasil membuat Luhan dan Sehun basah kuyup karena terlambat mencari tempat berteduh.

Dan rumah Luhan masih jauh dari sini.

Buruk sekali.

Kedua orang itu berteduh di depan sebuah toko yang sudah tutup dengan tubuh nyaris basah kuyup. Luhan berusaha tidak menggigil karena dia hanya memakai rok pendek tanpa lengan –tentu saja ini musim panas, terlebih hembusan angin mulai menggila sejak tadi. Jaket Sehun yang melekat di pinggangnya basah kuyup, sedangkan Sehun berdiri memandangi gadis itu dengan pandangan menyesal.

"Kau kedinginan?" tanya Sehun dengan suara lembut.

Bukankah itu sudah jelas?

Luhan hanya menggeleng dengan senyum ringan, tidak ingin membuat Sehun semakin merasa bersalah. Sebuah angin kencang membuat tubuh Luhan menggigil lagi, kemudian tiba-tiba saja ia mengernyit karena merasakan perih di perutnya.

Sial, timming-nya tepat sekali.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sehun, masih memandangi gadis itu dengan kekhawatiran yang jelas. "Ya Tuhan, harusnya kuantarkan kau pulang dulu tadi,"

"Aku baik-baik saja," Luhan tersenyum lagi.

Sehun mendesah ringan. "Apa bekas lukamu perih?" tanya Sehun lagi. Tanpa sadar, Luhan mengangguk. "Bertahanlah sebentar lagi," ucap Sehun.

Dengan cepat pria itu memasangkan helm pada kepala Luhan, kemudian memasang helmnya sendiri. "Sehun, masih deras," bisik Luhan, sedikit mengerang karena perih kembali ia rasakan di perutnya.

"Kita harus pulang sebelum lukamu infeksi," jawab Sehun cepat.

Hati-hati, Sehun membantu Luhan naik ke atas motor –Sehun nyaris mengangkat gadis itu agar bisa naik dengan cepat. Tanpa disuruh, Luhan mengeratkan pegangannya pada perut Sehun karena pria itu melesat semakin cepat di jalanan yang basah karena hujan.

Luhan harus menggigil menahan dingin saat tubuhnya yang sudah basah kuyup harus kembali merasakan dinginnya air hujan dan angin kencang.

Hanya beberapa menit berlalu, Sehun sudah memasuki sebuah gedung tinggi yang tak Luhan kenali. Dengan cepat, Sehun masuk ke area parkir bawah tanah dan memarkirkan motornya di dalam sana. Ia membantu Luhan untuk turun, berusaha agar tidak menyentuh perut Luhan.

"Dimana ini?" tanya Luhan saat Sehun membantu membuka helmnya.

"Apartemenku," jawabnya.

Apa kau bilang?

.

.

Jadi disinilah Luhan. Berdiri mematung di dalam kamar mandi Sehun untuk membersihkan diri, tangannya menggenggam sweater hangat berwarna biru tua milik Sehun, sedangkan ia menatap pantulan dirinya yang berantakan di depan cermin. Rambut kemerahanya tidak basah karena Luhan menggulungnya, hanya saja, wajahnya benar-benar berantakan.

Bagaimana aku bisa terlihat menyedihkan.

Luhan menghela napas berat, kemudian perlahan melepaskan gaun basahnya untuk membersihkan diri dari sisa air hujan. Ia mulai merutuki rencana Kyungsoo yang kini menjadi bencana untuknya. Demi Tuhan, Luhan tak pernah membayangkan ini terjadi padanya. Otaknya mendadak tak bisa diajak bekerja sama dan berpikir. Bahkan sekarang luka diperutnya kembali terasa perih karena air hujan, kombinasi kesialan yang tepat sekali.

Bagaimana ini, apa yang harus kulakukan di dalam apartemen Sehun dengan baju basah kuyup –bahkan dalamanku basah. Bagaimana aku bisa memakai baju Sehun tanpa dalaman, Ya Tuhan, ini buruk sekali.

Setelah merutuki dirinya sendiri dan selesai mandi, Luhan memutuskan untuk keluar. Ia melihat apartemen Sehun yang kosong, berarti pria itu belum kembali –yah, Sehun tadi mengatakan akan memakai kamar mandi tetangganya. Luhan melihat dirinya lagi di depan cermin sekilas, ia hanya memakai sweater panjang Sehun yang menutupi setengah pahanya –Sehun tidak meminjaminya celana, dan Luhan terlalu malu untuk meminta itu pada Sehun.

Beruntungnya, celana dalam Luhan masih kering.

Suara pintu yang terbuka membuat Luhan menoleh dengan cepat. Sehun berdiri disana, dengan pakaian basah di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya berusaha mengeringkan rambut dengan handuk.

"Kau sudah selesai?" tanya Sehun, melemparkan baju basahnya ke dalam mesin cuci. Luhan mengangguk ringan, mengikuti langkah Sehun menuju sofa. "Lukamu masih perih?" tanya Sehun.

Luhan ingin menggeleng, tapi tanpa sadar ia mengangguk saat merasakan perih di perutnya. "Sedikit," ia mengikuti Sehun untuk duduk.

"Berbaringlah, biar kulihat,"

Apa kau bilang?

"Aku baik-baik saja," tolak Luhan langsung, sedikit mundur saat Sehun perlahan mendekatinya.

Sehun mengerutkan kening bingung. "Kau bisa terkena infeksi karena air hujan. Aku hanya memastikan itu baik-baik saja,"

Luhan mundur lagi, sebelah tangan berada di depan tubuhnya untuk menghentikan Sehun. "Sehun, begini," ia berhenti sebentar untuk menarik napas, sedangkan Sehun berhenti mendekati gadis itu, kemudian kembali duduk. Luhan tidak bisa menutupi rasa malu sekarang. "Kita baru saja kehujanan dan aku basah kuyup," oke, ia berusaha mencari kalimat yang tepat.

"Yah, aku tau. Itu bisa membuat lukamu infeksi," jawab Sehun, masih tampak bingung.

"Bukan begitu," Luhan menjawab dengan senyuman ringan, berusaha menelan keguguannya sendiri. Dalam hati kembali merutuki nasib buruknya. "Aku tidak memakai apapun di dalam sweater ini," oke, ia berhasil mengatakan itu.

Luhan memejamkan mata, tak sanggup melihat ekspresi Sehun yang mungkin akan menertawainya. Demi Tuhan, Luhan benar-benar malu sekarang.

Sehun terkekeh sedikit, dan itu membuat Luhan membuka matanya ragu-ragu. "Mengapa kau tak bilang dari tadi?" ucap Sehun, pria itu berjalan sedikit untuk mengambil selimut dari dalam kamar. "Aku benar-benar harus memeriksamu. Pakai ini dulu," ia menyerahkan selimut berwarna gading pucat pada Luhan.

Malu-malu Luhan menerima itu, kemudian mengikatkan selimut itu di dalam sweaternya –tepat di atas pinggul.

Demi Tuhan, aku hanya butuh celana Sehun. Celana.

"Berbaringlah, biar kulihat," bisik Sehun.

Luhan tak punya alasan lain untuk menolak, jadi ia menuruti kemauan pria itu untuk berbaring, membiarkan Sehun mengambil kotak obat dari atas meja. Dan saat Sehun kembali duduk di samping tubuhnya, Luhan rasa wajahnya semerah udang rebus sekarang.

Perlahan, Sehun menarik sweater yang Luhan kenakan keatas, dan gerakan singkat itu berhasil membuat Luhan mengernyit menahan perih. Kalau itu bukan Sehun, pasti dia sudah mengumpat.

"Oke, berhenti," kata Luhan, membuat Sehun berhenti mengangkat sweater itu. Luhan hanya tak ingin Sehun melihat dadanya yang tidak terlindungi apapun sekarang. Begini saja ia sudah malu bukan main, bagaimana jika Sehun melihat semuanya.

"Aku pernah melihat tubuhmu sebelumnya, ingat?" ucap Sehun dengan kekehan ringan.

Apa maksudmu, Oh Sehun?

Masih bingung dengan ucapan pria itu, Luhan berusaha menahan perih saat Sehun mengoleskan sebuah cairan lengket dingin ke perutnya. Dan seolah sihir, perih diperutnya itu langsung lenyap.

"Biarkan ini kering dulu," ucap Sehun, ia memasukan kembali obat itu ke dalam kotak putih dengan tanda plus berwarna merah. "Kau merasa dingin?" tanya pria itu lagi, Luhan menggeleng cepat.

Aku merasa malu, Oh Sehun, bukan dingin.

"Sehun, kurasa aku harus menghubungi Kyungsoo," Luhan mengatakannya setengah tergagap.

Sehun tersenyum pada Luhan. "Aku sudah menghubunginya," Sehun kembali duduk di samping tubuh Luhan. "Kyungsoo bilang bukan masalah. Dia sudah seperti ibumu," gurau Sehun.

Gadis kurang ajar.

Sehun kembali menyapukan jemarinya di permukaan perut Luhan yang setengah basah, dan itu membuat Luhan mengejang. "Apa kau harus melakukannya?" tanya Luhan, merasa tidak nyaman.

Oke, sebenarnya sentuhan Sehun itu nyaman, hanya saja, jantungnya berdetak semakin liar saat Sehun menyentuhnya.

"Hanya memastikan ini kering dengan baik," Sehun menambahkan, kembali menarik tangannya dari perut Luhan. "Wah, sepertinya hujan tidak akan reda dengan cepat," Sehun memandang langit yang menghitam dari balik jendelanya, membuat Luhan mengikuti pandangan pria itu. "Aku tidak bisa mengantarkanmu pulang karena mobilku masih diperbaiki," Sehun nyengir.

Luhan tersenyum canggung. "Aku bisa memesan taksi,"

Dengan cepat Sehun menggeleng. "Kyungsoo sudah mengancamku jika tidak mengantarkanmu pulang. Dia bahkan bilang untuk tidak membiarkanmu naik taksi,"

Luhan mendesah malas, sedikit memutar bola mata kesal. Sebenarnya ia ingin menghubungi Baekhyun atau Kyungsoo dan memaksa mereka menjemputnya, hanya saja, ponselnya mati karena air. Benar-benar kesialan beruntun yang menakjubkan.

Apa yang sedang Kyungsoo rencanakan sebenarnya?

"Bagaimana jika ini tidak akan reda?" tanya Luhan, kembali menyusuri jendela dengan tatapan mata.

Sehun mengangkat bahu sedikit. "Kau bisa menginap disini," ia tersenyum pada Luhan.

Apa kau bilang?

.

.

TBC

.

.

Silahkan hujat Author karena melupakan FF ini /aku siaaap, apasih/ itu Sehun naik motor jangan dibayangin kaya anak jalanan ya /awas kalo bayangin anak jalanan/ bayangin itu tuh yang Sehun naik motor di MV lightsaber, kan keren /beneran jangan bayangin anak jalanan loh yaaaa, kumohon dengan sangat. hahhahaha/ recehan banget ide Author akhir-akhir ini, seneng bikin FF fluffy fluffy /gapapalah sekali-kali, bosen action-action mulu/

Jangan tanya kenapa ini jadi begini, Author juga gatau kenapa ini jadi fluffy fluffy geli gini. Author juga gapaham soalnya ini tadi nulis tanpa sadar jadinya kaya begini /jujur aja, ini bikinnya sambil ketawa-ketawa sendiri kek orang gila/ pas banget nulis pas hujan, jadi begini deh~

Review dooong, komentar saran atau kritik silahkan disampaikan.

Udah itu dulu, semoga masih ada yang mau baca, maaf kalo mengecewakan.

Dilanjut atau tidaknya bergantung respon readers dulu lah /hehe/

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa meninggalkan review.

With love,

lolipopsehun