Hujan masih menggila dengan petir yang semakin terdengar menyeramkan, sementara malam sudah semakin larut, Sehun masih sibuk berbicara dengan rekan kerjanya melalui sambungan telepon sejak beberapa menit yang lalu, apalagi jika bukan membicarakan mengenai pasien-pasien yang sempat ia tangani dua hari lalu. Beberapa kali mata elangnya menatap Luhan yang sedang duduk mematung di depan televisi menyala. Selimut tebal membungkus tubuh bagian bawahnya sementara sweater hangat Sehun melindungi tubuh bagian atas.
Luhan tampak begitu menggemaskan karena tenggelam dalam sweater yang terlalu besar untuk ukuran tubuh mungilnya. Rambutnya masih setengah basah, meskipun sejak tadi ia mencoba mengeringkannya dengan handuk kecil –maklum saja, Sehun tak memiliki hairdryer.
Entahlah bagaimana Sehun menyebut ini, tapu Luhan lebih banyak diam sejak tadi. Gadis itu hanya mengucapkan kata-kata singkat dan seperlunya saja. Seolah memang dia tidak suka berbicara dengan Sehun.
Dan ini sebenarnya hanya semakin membuat suasana menjadi canggung. Sehun hanya merasa semakin bersalah karena sudah membuat Luhan mengalami ketidakberuntungan yang beruntun. Harusnya ia tak perlu mengajak Luhan pergi ke apotek terlebih dahulu, harusnya Sehun memulangkan gadis itu lebih awal daripada harus membawanya ke apartemennya.
Sehingga Luhan tak harus terjebak dalam suasana canggung yang tidak nyaman seperti ini bersamanya.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, Sehun menyesal dan minta maaf pun tak akan mengubah apa-apa sekarang. Sebenarnya Sehun lebih suka jika mungkin saja Luhan sedikit cerewet atau menggerutu padanya, tapi nyatanya tidak.
Sambil masih beberapa kali memandangi Luhan yang tak bergerak banyak, Sehun menyibukkan diri dengan dapur –berusaha membuat sesuatu yang layak untuk ia berikan pada Luhan. Bagaimanapun ia harus memperlakukan Luhan dengan baik agar namanya tidak semakin buruk dimata gadis itu.
Selesai dengan dua cangkir cokelat panas, Sehun berjalan mendekati Luhan. Gadis itu masih fokus menatap layar televisi sedangkan jemarinya memutar-mutar ponselnya yang mati karena air hujan. Samar, Sehun bisa mendengar helaan napas berat Luhan, terdengar agak keras karena ruangannya cukup senyap.
Selain suara samar dari televisi, suara helaan napas Luhan memenuhi pendengarannya.
Sehun berdeham, hanya untuk sekedar memberikan tanda bahwa ia berada didekat Luhan –agar gadis itu tidak terkejut, karena jujur saja, Sehun agak menganggap Luhan lemah. Terlebih karena dirinya, luka gadis itu kembali terasa perih.
Sehun bodoh.
Luhan menatapnya dengan wajah sedikit bingung –raut wajah yang tak bisa Sehun baca. Kembali berdeham, Sehun mengulurkan satu cangkir berisi cokelat hangat. "Hanya ini yang bisa kubuat," ucapnya, nyengir. Luhan tersenyum –terlihat manis dan malu-malu– menerima uluran cangkir dari Sehun. Bibir mungilnya sedikit mengucapkan kata terima kasih, lalu mulai meniup-niup dan menyesap cokelat hangat dari sana.
Seperti terhipnotis, Sehun menatap pemandangan dihadapannya tanpa berkedip. Seolah Sehun senang melihat bagaimana bibir mungil Luhan menempel pada cangkir berwarna putih, warna bibir gadis itu agak pucat meskipun samar, Sehun masih bisa melihat rona merah muda disana. Entah mengapa, Sehun senang melihat Luhan yang sedang minum.
Oke, sebenarnya Sehun tak pernah menganggap ada yang spesial dari teman Kyungsoo itu. Gara-gara kekasih Jongin yang super cerewet itu terus menerus merengek padanya tentang luka Luhan, mau tak mau, Sehun sedikit mengenalnya walaupun tidak secara langsung.
Tapi bagaimana Kyungsoo menjelaskan tentang Luhan, dapat Sehun pahami dengan jelas. Termasuk bagaimana Luhan bisa menahan rasa sakit pada lukanya, Sehun mengerti itu dari cerita Kyungsoo juga. Mungkin saja Kyungsoo pantas diberikan julukan mulut ember karena hal itu, tapi anehnya, Sehun senang mendengar cerita tentang Luhan.
Sehun tak pernah tertarik pada gadis itu pada awalnya, tidak sebelum beberapa waktu yang lalu Luhan menunjukkan senyuman manis. Sehun memang ingat raut wajah Luhan yang diliputi rasa sakit dan ketakutan saat berada di UGD dulu, tapi saat itu Luhan sama sekali tidak menunjukkan ekspresi lain yang menyenangkan –seperti tersenyum.
Entah kenapa, Sehun juga tak tau, sejak siang tadi saat Luhan tersenyum malu dihadapannya, pandanganya mengenai gadis itu perlahan berubah. Sehun baru menyadari bahwa ada suatu magnet besar dari diri Luhan yang membuatnya tertarik –tertarik untuk mengenal lebih jauh, tertarik untuk berlama-lama memandangi senyum Luhan.
Jujur saja, Sehun bukan pengglia gadis-gadis cantik bertubuh sintal, mungkin banyak orang yang menganggap seksualitasnya menyimpang karena ia sama sekali tidak tertarik dengan gadis cantik bertubuh indah diluar sana. Bagi Sehun, semua gadis di dunia ini memilki hal yang disebut dengan cantik, semua wanita terlahir dengan itu.
Jadi, tidak ada yang spesial dari seorang gadis yang dianggap cantik.
Hanya saja, semua terasa berbeda saat ia melihat Luhan. Memang Sehun akui, meskipun Luhan terlihat selalu tersipu malu dan ada sebuah rasa gugup aneh yang selalu terpancar dari tatapan mata gadis itu, berhasil membuat Sehun merasa tertarik.
Cukup tertarik hingga ia sanggup melihat wajah Luhan, Sehun senang menatap wajah gadis itu. Seolah ada ketenangan aneh saat ia melihat kilatan malu dimata rusa indah itu. Sehun mungkin pernah jatuh cinta, tapi itu lama sekali, sangat lama hingga ia tak mengingatnya.
Sehun sendiri tidak yakin kenapa ia bisa tertarik dengan gadis yang sedang minum secangkir cokelat panas dihadapannya ini.
Sadar ia sudah terlalu lama memandangi Luhan, Sehun duduk disamping gadis itu. Sehun bisa merasakan kecanggungan menguar kuat diudara sekitar mereka. "Apa masih sakit?" oke, Sehun tak bisa menemukan topik lain selain membahas luka Luhan.
Satu-satunya yang membuat Sehun mengenal gadis itu.
Luhan mengerjap beberapa kali, seolah sadar dari lamunannya sendiri. Malu-malu, ia menggeleng, sedikit menatap wajah Sehun, tapi kemudian kembali memandang layar televisi. "Sama sekali tidak," balasnya dengan suara tipis.
"Syukurlah," desahnya ringan, tanpa sadar otaknya kembali kosong, kembali berusaha memikirkan hal lain. "Maaf aku membuatmu terjebak disini,"
"Bukan masalah," ucap Luhan dengan senyum lembut.
Oke, Sehun menyukai senyum itu.
"Well, jangan menganggapku tidak sopan karena bertanya tentang hal ini. Tapi namamu terdengar agak asing, Luhan," ucap Sehun sambil nyengir, sedikit ragu saat mengatakan hal itu. Berusaha mencoba mencari topik yang lebih sederhana, tapi Sehun tak bisa memaksa otaknya bekerja lebih keras lagi.
Luhan terkekeh ringan, terdengar sangat bersahabat. "Well, aku orang China," balasnya masih dengan tersenyum, ia menyesap cokelatnya lagi.
Jujur saja, Sehun tidak terkejut mendengar itu –karena sebenarnya ia sudah mendengarnya dari Kyungsoo secara tidak langsung.
"Ah, pantas saja aksen bicaramu sedikit berbeda," balas Sehun, ikut tertawa juga. Luhan menyetujui itu dengan anggukan yakin, tapi gadis itu tidak tampak ingin bicara lagi. Jadi, lagi-lagi, dengan canggung, Sehun berdeham. "Apa kau ingin tidur sekarang?" dan Luhan sedikit terkejut mendengar itu.
Apa yang kau tanyakan, bodoh.
Sehun merutuki dirinya sendiri dalam hati, benar-benar tak bisa memaksakan otaknya memikirkan hal lain untuk berbicara dengan gadis pendiam itu.
"Well, yah, aku bisa tidur disofa," balas Luhan, tidak bisa menyembunyikan kecanggungannya.
Sehun menggeleng. "Kau bisa tidur di kamarku, Luhan. Sebenarnya aku punya kamar lagi, tapi masih sangat kotor," Sehun nyengir, tampak bodoh, sedangkan Luhan memandanginya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Aku tak bisa membiarkan seorang gadis tidur di sofa, kan?"
Luhan terkekeh ringan, terdengar canggung tapi gadis itu tersenyum. "Kau baik sekali, Oh Sehun," Luhan berhenti sebentar untuk menundukkan kepalanya. "Terima kasih," bisiknya.
Demi Tuhan, kenapa gadis ini tampak begitu menggemaskan?
"Itu berlebihan," jawab Sehun dengan tawa ringan dan Luhan balas tertawa. "Apa kau ingin makan sesuatu?" sambung Sehun, berusaha membuat suasana tidak kembali sunyi dan canggung.
Luhan menggeleng cepat-cepat. "Tidak, terima kasih, aku sudah kenyang,"
"Ah iya," Sehun menjentikkan jari seolah baru saja mengingat sesuatu, Luhan menatapnya bingung. "Aku lupa bahwa seorang gadis tidak makan diatas jam sembilan malam," Sehun menyipitkan mata, memandangi Luhan dengan tatapan menyelidik.
Dan Luhan tertawa, terdengar sangat menyenangkan ditelinga Sehun. "Bukan begitu, tapi aku benar-benar masih kenyang,"
Diam-diam, Sehun lega karena gadis itu sudah tidak terlalu kaku saat berada didekatnya, Luhan sudah menunjukkan ekspresi wajah menyenangkan seperti tersenyum dan tertawa sekarang.
"Baiklah. Katakan saja jika butuh sesuatu," balas Sehun sambil tertawa ringan.
"Keberatan jika aku menonton dulu?" Luhan sedikit menunjuk layar televisi dihadapannya. "Aku tak bisa tidur,"
Sehun mengangguk beberapa kali, bibirnya tersenyum. "Tentu, tentu, silahkan," tambah Sehun. Lagi-lagi gadis itu tersenyum manis, bibirnya sedikit menggumamkan kata terima kasih singkat, kemudian matanya kembali fokus pada layar televisi yang menayangkan film-film perang tidak jelas.
Jujur saja, untuk ukuran gadis normal, selera film Luhan buruk sekali.
Sehun baru saja ingin menanyakan tentang film yang Luhan tonton, tapi tiba-tiba saja, ponselnya bergetar. Membuat Luhan dan dirinya sendiri agak terkejut karena itu. Sehun hanya tersenyum, mengambil ponselnya dan mendesah ringan saat melihat nama yang tertera dilayar.
Pasti bukan sesuatu yang baik.
"Ya, Pak, Oh Sehun disini," ucapnya. Sehun mendengar suara pria diseberang sana sedikit berteriak, dan mau tak mau harus membuatnya membuang napas berat, kemudian mengiyakan apa yang pria itu mau –kepala bagian rumah sakit.
Sial.
Sehun kembali menatap Luhan yang sekarang sedang memandanginya dengan pandangan bingung. Gadis itu seolah meneriakan ribuan pertanyaan untuk Sehun meskipun tanpa mengucap sepatah kata, dan Sehun langsung bisa menangkap tatapan mata rusa itu.
"Ada masalah, Sehun?" tanya Luhan dengan suara tipis, setengah ragu, setengah gugup. Dengan cepat, kembali menundukan kepala, mungkin sadar ia terlalu lama menatap Sehun.
Sehun tersenyum, tanpa sadar menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Sepertinya aku harus kembali ke rumah sakit," bisik Sehun, nyengir. Bagaimanapun Luhan berusaha menyembunyikan keterkejutan, tapi tatapan mata tak sepenuhnya bisa tersembunyi. Dan Sehun bisa membaca maksud gadis itu dengan jelas.
"Ah begitu," bisik Luhan, terdengar seperti tak yakin –mengambang.
Sehun masih menimang-nimang untuk mengatakan isi otaknya, antara ya dan tidak. "Aku akan segera kembali," tambahnya, mulai berdiri untuk segera berangkat ke rumah sakit.
Tapi Luhan menahan tangannya, membuat gerakan Sehun berhenti dan menoleh kearah gadis itu dengan tatapan bingung –atau terkejut karena Luhan nyaris mencengkeram tangannya. Luhan menatapnya dengan mata yang memancarkan keraguan aneh.
"Apa boleh aku ikut?" cicitnya dengan suara tipis.
Sehun nyaris tak percaya dengan pendengarannya sendiri, terlebih Luhan mengucapkan itu takut-takut. "Ada apa, Luhan?" balas Sehun, ia menarik tangan Luhan yang mencengkeram pergelangan tangannya, kemudian menggenggamnya erat-erat.
Luhan agak terkejut karena Sehun menggenggam tangannya, tentu saja, itu gerakan cepat dan mendadak.
"Sebenarnya, aku takut disini sendirian," balas Luhan dengan suara nyaris habis, kepala gadis itu masih memandangi tangan Sehun yang melingkupi tangannya sendiri.
Dan tanpa sadar, tangan Sehun terulur, ia sedikit merapikan rambut Luhan yang jatuh menutupi setengah wajahnya, Sehun menyelipkan itu dibalik telinga Luhan hingga bisa melihat wajah piasnya yang cantik dengan jelas. Sedangkan Luhan menatapnya dengan mata membulat, seolah terkejut dengan apa yang baru saja Sehun lakukan.
Apa aku tidak sopan?
Sadar cukup lama Sehun terjebak untuk memandangi wajah Luhan, ia tersenyum. "Kau boleh ikut. Aku akan mengantarkanmu pulang setelah dari rumah sakit, aku hanya akan melakukan operasi singkat. Jongin akan datang sebentar lagi," bisiknya.
Luhan tersenyum, perlahan menarik tangannya dari genggaman Sehun, matanya menatap selimut yang membalut kakinya, kemudian menatap Sehun dengan takut-takut. "Sehun, boleh aku pinjam celana?"
Apa dia bilang?
Sehun mengerjap beberapa kali seperti orang bodoh, mencoba mencerna ucapan Luhan. Betapa bodohnya Sehun daritadi, bagaimana ia bisa tidak memberikan celana kepada Luhan. Sweater panjang tidak akan bisa menutupi kaki gadis itu. Tapi Sehun tak tau bagaimana harus memberikan celananya pada Luhan.
Itu pasti akan menjadi terlalu panjang untuk kaki Luhan yang lebih pendek dari kakinya. Sedangkan Sehun sama sekali tak memiliki celana perempuan.
Lagipula, untuk apa Sehun memilikinya.
"Well, tunggu sebentar," Sehun mencoba berpikir, tak butuh waktu lama, ia sudah mendapatkan ide bagus. Dengan cepat tangannya mengetikkan sesuatu pada layar ponsel.
"Sehun," panggil Luhan dengan suara tipis.
"Tenang saja, Jongin akan membawakan celana untukmu," Sehun tersenyum lebar, menekan layar ponselnya lagi untuk mengirimkan pesan singkat itu.
Luhan sedikit mengernyit, bingung mendengar ucapan Sehun. "Mengapa kau meminta itu pada Jongin?"
"Well, bagaimana aku mengatakan ini ya," Sehun berhenti sebentar untuk mendengus sedangkan Luhan menunggu. "Kau tau kan, Jongin dan Kyungsoo sering melakukan hubungan seperti itu, pasti Kyungsoo sering menginap dan meninggalkan celananya di rumah Jongin," ucapnya dengan kekehan ringan.
Dan Luhan sedikit terkejut, tak bisa menyembunyikan pipinya yang merona.
.
.
Sehun memang bukan dokter spesialis bedah yang harus selalu berada didalam ruangan operasi yang super dingin itu, tapi ia akan segera menjadi dokter bedah professional tak lama lagi. Bagaimanapun, Sehun harus benar-benar sering masuk ruang operasi untuk saat ini. Terlebih statusnya sekarang sudah menjadi asisten dokter bedah dan juga dokter UGD yang super sibuk.
Mau tak mau, Sehun harus merelakan waktu liburnya yang berharga dan menggantinya dilain waktu.
Beruntungnya, malam ini, bukan operasi rumit yang memerlukan waktu lama untuk menyelesaikannya. Yah, meskipun Sehun tak bisa memungkiri pasiennya kali ini mungkin saja bisa tak selamat saat berada diatas ranjang operasi, tapi ia masih bisa sedikit santai dengan apa yang tengah dilakukannya.
Sehun masih sibuk menyatukan dua jaringan kulit yang sempat terpisah karena pisau bedahnya, sedangkan rekan kerjanya –Kim Jongin, baru saja masuk ke dalam ruangan. "Kau sudah selesai?" tanya Sehun, menanyakan pekerjaan Jongin sebelumnya di ruang UGD.
"Itu bisa kuselesaikan," ucap Jongin, berdiri di belakang tubuh Sehun sambil menunjuk apa yang sedang Sehu lakukan. "Seseorang menunggumu," tambahnya, beberapa orang perawat di dalam ruangan itu memandang Jongin dengan tatapan bingung meskipun yang terlihat dari wajah mereka hanyalah bagian mata.
Sehun berdeham, memberikan peralatannya pada Jongin, kemudian berdiri. "Oke, selesaikan ini dengan baik," bisiknya.
"Memangnya kapan aku mengerjakan tugasku dengan tidak baik," dengus Jongin sebal, mulai menggantikan tugas Sehun.
Sehun hanya tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu, ia sedikit menundukkan kepala pada perawat disana, dan berjalan dengan cepat keluar untuk membersihkan diri dari darah yang menempel. Sekarang pikirannya benar-benar sudah terfokus pada Luhan yang mungkin menunggunya dengan lelah di luar ruang operasi.
Setengah berlari, Sehun keluar dari ruang operasi yang benar-benar dingin itu. Ia tidak sempat ganti baju, jadi hanya memakai kemeja yang tadi ia pakai dari rumah dan juga jas dokternya. Langkahnya berhenti saat melihat Luhan yang sedang duduk sambil memejamkan mata diatas kursi rumah sakit –tepat di depan ruang operasi.
Sehun menghela napas berat, tanpa sadar berjalan mendekati gadis itu –senyum tipis tercetak dibibirnya. Baru saja Sehun mendudukkan dirinya dengan hat-hati, Luhan sudah membuka mata. Dengan cepat gadis itu menoleh kearah Sehun.
"Maaf membangunkanmu," bisik Sehun dengan suara tipis.
"Aku belum tidur," balas Luhan, setengah tertawa.
Sehun pikir Luhan benar karena mata gadis itu tampak semakin kecil karena kantuk, lagipula ini sudah lebih dari tengah malam. Luhan pasti lelah sekali harus menunggunya menyelesaikan operasi.
"Maaf membuatmu menunggu," bisik Sehun. "Harusnya kuantar kau pulang dulu tadi,"
Luhan tertawa lagi, ia menutup mulutnya dengan punggung tangan karena menguap. "Pasien harus didahulukan, kata Jongin," balasnya. Luhan sedikit menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi, matanya separuh terpejam.
Sehun mengikuti apa yang Luhan lakukan, perlahan juga bisa merasakan rasa lelah yang mulai menyapa tubuhnya.
"Kau lelah?" tanya Sehun dengan suara lembut, berusaha tidak membuat terkejut dengan suaranya sendiri.
Luhan menggumam, mengiyakan tanpa suara yang jelas. "Kau pasti lebih lelah," bisiknya dengan suara nyaris habis.
Sehun mendesah ringan. "Maaf membuatmu harus mengalami hari yang panjang seperti ini,"
"Bukan masalah Sehun. Kau tidak bermaksud melakukan ini," balas Luhan dengan suara yang nyaris menyerupai bisikan.
Sehun setengah tertawa, suaranya terdengar agak keras di lorong rumah sakit yang sepi. "Aku akan mengantarkanmu pulang setelah Jongin menyelesaikan operasinya,"
"Ya, terima kasih," balas Luhan.
Sehun tersenyum ringan. "Jujur saja, apa yang kau takutkan, Luhan?"
Suara helaan napas Luhan terdengar agak keras. "Hantu, kau percaya itu?"
Sehun terkekeh ringan. "Sama sekali tidak," balasnya. Luhan hanya menggumam, menolak pernyataan Sehun. "Serius, mungkin mereka memang ada, tapi sebelum aku melihatnya secara langsung aku tak percaya. Kau tau kan, banyak cerita menyeramkan di rumah sakit yang beredar dimasyarakat luas?"
"Ya," bisik Luhan.
Sehun tertawa lagi, menatap tembok kosong dihadapannya. "Demi Tuhan, selama aku bekerja di rumah sakit selama beberapa tahun, sama sekali belum pernah melihat hantu. Kau tau kan, mereka mungkin menceritakan kisah hantu hanya untuk membuat orang lain takut dan menghindari rumah sakit. Jujur saja, kejadian-kejadian yang mereka ceritakan sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana hantu bisa –,"
Ocehan Sehun berhenti saat kepala Luhan tiba-tiba jatuh di atas bahunya. Perlahan, Sehun bisa mendengar helaan napas Luhan yang teratur.
Bagaimana gadis ini bisa tidur sekarang?
Sehun berusaha mengajaknya bicara agar Luhan tidak tertidur, tapi kenapa sekarang malah Sehun tampak seperti sedang menceritakan dongeng pengantar tidur untuk Luhan. Lagipula, bagaimana bisa Luhan tidur disembarang tempat seperti ini.
Ragu-ragu, Sehun sedikit menoleh kearah kanan, dan pipinya langsung menyentuh puncak kepala Luhan. Sehun berhenti bergerak, takut akan membangunkan Luhan yang mungkin masih belum tidur terlalu pulas.
Jadi Sehun menunggu, membiarkan kepala Luhan bersandar dibahunya, membiarkan Luhan sedikit tertidur lebih lelap lagi. Dan saat Sehun mendengar suara helaan napas Luhan yang sangat teratur, perlahan, pria itu mengangkat Luhan ke dalam gendongannya.
.
.
Mungkin Luhan terbangun, tapi ia masih belum begitu yakin. Matanya terbuka sedikit, kemudian menutup lagi untuk menghalau sinar temaram yang cukup menyilaukan. Luhan bisa merasakan tubuhnya terasa hangat dan untuk beberapa saat ia merasa nyaman dengan hal itu.
Ia benar-benar lelah dan ini terasa begitu menyenangkan.
Luhan masih terlalu malas untuk benar-benar bangun dan beranjak, ia sedikit menarik kain putih hangat yang menutupi tubuhnya. Samar-samar Luhan bisa melihat tulisan nama pada selimut itu –bukan nama yang asing untuknya.
OH SEHUN
Oh Sehun?
Tunggu dulu, Oh Sehun?
Ini tidak asing.
Seperti baru saja mendapat sedikit sengatan listrik didalam kepalanya, mata Luhan melebar, dengan jelas ia melihat bahwa kain yang ia jadikan selimut adalah jas dokter dengan nama Sehun tertera disana. Dan saat ia mendongak, Luhan melihat wajah Sehun yang sedang berada diatas tubuhnya dengan mata terpejam. Kepala pria itu agar tertunduk karena terlelap.
Bagaimana aku bisa tidur dipangkuan Sehun?
Ya Tuhan. Luhan bodoh. Luhan bodoh.
Dengan cepat, Luhan bangkit dari tidurnya dan duduk tegak-tegak, kepalanya sedikit menoleh kearah Sehun –bingung dan gugup. Gerakannya yang tiba-tiba itu membuat Sehun membuka mata. Pria itu sedikit menguap dengan mata setengah terpejam, sedikit meregangkan otot lehernya yang kaku, sementara Luhan masih memandangi dengan mata membulat sempurna.
Bagaimana bangun tidur saja Sehun sudah setampan ini?
Sadar tak seharusnya memikirkan hal itu, Luhan menggelengkan kepala beberapa kali. Dalam otak tumpulnya mulai mengurutkan kejadian yang terjadi padanya hari ini. Kemudian ia berhasil menemukan ingatan tentang dirinya yang tertidur saat menunggu Sehun selesai melakukan operasi.
Bodoh.
"Kau sudah bangun?" tanya Sehun dengan suara parau, kembali menguap.
Luhan mengangguk, ragu-ragu. Ia masih mendekap jas Sehun didepan dada, sedangkan matanya memandangi Sehun dengan bingung. "Ini dimana, Sehun?" tanya Luhan, sedikit memutar kepalanya menyusuri ruangan kerja yang agak gelap itu.
"Ah, ini," Sehun sedikit mengernyit. "Maaf, semalam kau ketiduran dan aku terpaksa membawamu kesini. Ini ruangan dokter UGD,"
Demi Tuhan, apa aku baru saja menghabiskan malam bersama Sehun?
Luhan menggelengkan kepala beberapa kali saat pikiran kotornya mendadak muncul. Ia berusaha memikirkan hal lain meskipun susah payah melakukan itu. "Jam berapa sekarang?" tanya Luhan dengan suara nyaris habis.
Sehun melirik jam tangannya sekilas. "Hampir pagi, mau kuantar pulang sekarang?"
Ragu-ragu, Luhan mengangguk. Dan Sehun tersenyum, membiarkan Luhan masih menggenggam erat jas dokternya dengan jantung yang mulai berdetak tak beraturan.
Apa lagi yang salah denganku?
.
.
Sepanjang perjalanan Sehun mengantarkannya pulang dengan mobil Jongin, Luhan tak banyak bicara. Ia sibuk memandangi jalanan yang sepi dan masih tampak agak gelap karena matahari belum muncul seluruhnya. Di sebelahnya, Sehun juga mengemudi dalam diam, seolah sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Tapi kecanggungan ini sudah tidak asing lagi bagi Luhan.
Luhan hanya mengucapkan kalimat terima kasih singkat saat Sehun mengantarnya hingga depan pintu apartemen. Pria itu masih saja mengucapkan kata maaf meskipun Luhan sama sekali tak mempermasalahkan hal itu.
Bukan Sehun yang seharusnya meminta maaf, tapi Kyungsoo. Gadis sialan itu.
Dan Luhan benar-benar mengumpat saat sudah masuk dalam apartemennya. Kyungsoo dan Baekhyun sudah berada disana, duduk di meja makan, memandanginya dengan seringaian dan tatapan mata menyelidik.
"Bersenang-senang dengan Sehun?" tanya Kyungsoo dengan cengiran lebar.
"Brengsek, ini pasti rencana kalian, kan?" Luhan bersungut-sungut, mendudukkan diri dengan kasar dikursi samping Baekhyun. "Keterlaluan," ucapnya kasar, mengambil roti panggang dari meja tanpa ijin dan mengunyah itu dengan cepat.
"Well, seharusnya kau berterima kasih untuk itu," balas Baekhyun. "Kapan lagi bisa menghabiskan sepanjang malam dengan Oh Sehun," Baekhyun dan Kyungsoo sama-sama tertawa, mengangkat tangan mereka untuk highfive.
Luhan memutar bola mata kesal. "Demi Tuhan, pikiran kalian terlalu jauh," bisiknya. "Kenapa kalian bangun terlalu pagi sih hari ini?" dengusnya kesal. Luhan berdiri dan berjalan menjauhi kedua orang gadis yang sudah sibuk tertawa itu.
"Tentu saja, kami ingin mendengar cerita bagaimana seorang gadis kehilangan kesuciannya," ucap Kyungsoo.
"Brengsek," Luhan nyaris berteriak. "Aku tidak melakukan apapun dengan Sehun,"
"Pembohong," balas Baekhyun, ia mengambil ponsel Kyungsoo dan menekan layarnya beberapa kali. "Lalu apa ini?" Baekhyun menyodorkan ponsel itu kedepan, membuat Luhan menyipit dan berjalan mendekat untuk melihat apa yang ada didalam sana.
Itu fotonya yang sedang tertidur diatas pangkuan Sehun.
Sial.
"Demi Tuhan, aku akan menguburmu bersama Kim Jongin," Luhan nyaris menjerit, menunjuk Kyungsoo dengan jarinya.
Kedua gadis itu masih tertawa. "Bagus dong, aku bisa bersama dengan Jongin dalam satu lubang sempit. Pasti menyenangkan," balas Kyungsoo, kembali tertawa keras-keras.
Kalau Luhan tidak ingat kedua orang itu adalah sahabatnya, mungkin sekarang ia sudah mencekik leher keduanya hingga mati.
.
.
Siang menjemput, Luhan masih bermalas-malasan diatas ranjang. Beberapa saat yang lalu ia baru saja bangun tidur –tentu saja Luhan harus tidur hingga siang untuk membayar jatah tidurnya yang kurang semalam. Sedikit lega karena hari ini dia libur kuliah dan tidak ada pekerjaan menggambar yang harus diselesaikan.
Sejak tadi, Luhan senyum-senyum sendiri seperti orang bodoh –atau gila. Pikirannya melayang-layang, kembali memutar ingatannya semalam saat bersama Sehun. Bagaimana dia bisa merasa bodoh saat saat bersama pria itu, seolah-olah otaknya sama sekali tak bisa diajak bekerja sama.
Luhan sama sekali tidak bisa mengoceh hal-hal tidak penting seperti yang sering ia lakukan saat berkumpul bersama teman-temannya. Saat bersama Sehun, seolah-olah kemampuan bicaranya hilang. Dan itu sangat menganggu.
Rasanya sudah lama sekali Luhan tidak jatuh cinta, atau mungkin Luhan sudah lupa bagaimana rasanya jantung yang berdegup lebih cepat saat melihat orang yang ia sukai. Rasa itu sudah lama sekali hilang dari pikiran Luhan.
Tapi sekarang, saat melihat Sehun, rasa gugup aneh dan degup jantung menggila kembali ia rasakan.
Tak salah lagi, aku pasti sudah jatuh cinta dengan pria itu.
Dan itu bukan perasaan yang menyenangkan pada satu sisi.
Suara ketukan pintu membuat Luhan sedikit terkejut, agak mengerang karena seseorang mengganggu waktu liburannya. Kalau tidak Kyungsoo, pasti Baekhyun, siapa lagi. Luhan belum mengijinkan masuk, tapi kepala Kyungsoo sudah muncul dari bali pintu kamarnya.
"Ponselmu masih mati?" tanyanya.
Luhan mengernyit. "Sepertinya iya," ucapnya malas, melirik ponselnya sendiri yang tergeletak dimeja.
Kyungsoo melemparkan ponselnya, tepat mendarat di ranjang Luhan, dekat kaki gadis itu. Bingung, Luhan mengambil ponsel itu. "Akan ada yang menghubungimu, terima saja," ucap Kyungsoo sambil tersenyum ringan, kemudian menutup pintu.
Bersamaan dengan itu, ponsel Kyungsoo bergetar. Luhan melihat ada panggilan masuk, tapi nomor yang tertera disana tidak memiliki nama. Ragu-ragu, ia mengangkat panggilan itu. "Selamat siang," oke, Luhan harus terdengar sopan, siapa tau ini kliennya.
"Luhan?" sapa suara diseberang sana.
Suara ini tidak asing.
"Ya?" ulang Luhan.
"Aku Oh Sehun,"
Oh Sehun?
Apa aku tak salah dengar?
Perlahan, Luhan merasakan detak jantungnya yang kembali berpacu lebih cepat. Senyuman tanpa sadar tercetak dibibirnya. "Ya, Sehun. Ada apa?" Luhan berusaha membuat suaranya terdengar tidak terlalu bersemangat.
Diujung sana, Sehun terdengar seperti menghela napas. "Apa nanti malam kau ada sedikit waktu luang?"
Apa kau bilang?
"Ada apa, Sehun?" tanya dengan suara datar, berusaha acuh meskipun jantungnya sudah menggila.
"Well, aku hanya ingin mengembalikan barangmu yang tertinggal, Luhan,"
"Barang?" Luhan sedikit mengernyit, otaknya benar-benar tak bisa dipaksa untuk berpikir.
"Tas kecil dan gaunmu, Luhan,"
Ah itu.
"Ah ya, aku lupa itu," bisik Luhan.
Sehun sedikit terkekeh diseberang sana. "Kau kau tidak sibuk, aku akan menjemputmu malam nanti,"
"Menjemputku?" ulang Luhan dengan bodoh.
"Sepertinya aku harus mengajakmu makan malam sebagai permintaan maaf. Apa kau bisa?"
Apa Sehun baru saja mengajakku pergi berkencan?
Ya Tuhan.
Luhan berusaha berdeham sedikit. "Ya aku bisa," bisiknya, tak memiliki alasan lagi untuk menolak.
"Sampai jumpa nanti malam, Luhan,"
"Ya Sehun," balas Luhan, mulai kembali merasakan detak jantungnya yang benar-benar berdegup cepat. Luhan tersenyum lebar, sedikit mencubit-cubit lengannya.
Ya Tuhan, ini bukan mimpi, kan?
.
.
TBC
.
.
Aduh gatau ini kenapa jadi fluffy-fluffy begini FF-nya. Jujur aja ini otak Authornya mentok disini, gatau juga kenapa semakin kesini semakin jarang FF HUNHAN yang diupdate. Mungkin karena emang agak sepi peminat sih FF HUNHAN. Apa cuma Author aja yang ngrasa ya? Nggak tau lagi deh hehehe.
Udahlah ini aja dulu chapter empatnya, semoga kedepannya nggak semakin absurd lagi dan juga FF ini ada yang baca xixixi
Silahkan tinggalkan saran, kritik, dan komentar dikolom review.
Apakah masih ada readers yang menunggu kelanjutan cerita ini? Semoga aja masih ada~
Sekian, terima kasih sudah membaca, maaf jika mengecewakan, dan jangan lupa tinggalkan review ya~
With love,
lolipopsehun
Hari ini update barengan Author keceh baday yang FFnya bikin galau sampe berhari-hari BAEKBEELU sama kaka yang FFnya mesti bikin nagih HUNHANSLAY (ini masih mungkin soalnya laptop Authornya agak sakit) dan juga sama kaka Author dengan cerita yang seru banget HUNHANEFFECTS. Please kindly check their stories too~ Thankiss~
