Luhan memoleskan lipstick berwarna merah pucat sekali lagi, berusaha membuat wajahnya sendiri tidak terkesan seperti mayat hidup karena bibirnya yang agak terlihat seperti orang sakit –atau orang sekarat, tidak beda jauh.

Hembusan napas keluar dari mulut tipisnya beberapa kali, ia merapikan rambutnya yang sedikit berwarna hitam keabu-abuan, mengikatnya dengan rapi keatas.

Bagaimanapun ia berusaha tidak gugup dengan ini, tetap saja jantungnya sedikit berdebar sambil menunggu Sehun datang menjemput.

Pria itu mengatakan akan mengembalikan gaun dan tas Luhan.

Ini memang bukan kencan, tapi sepertinya Luhan harus menganggap begitu.

Bagaimanapun, baginya, ini kencan.

Dan ia masih memiliki perasaan tersisa terhadap Sehun hingga membuatnya harus sedikit gugup dengan hal ini.

"Luhan, Sehun sudah datang," ucap Baekhyun dari balik pintu kamarnya. Luhan menoleh sekilas, menatap Baekhyun yang sedang tersenyum lebar sambil menahan tawa, mungkin dalam hati sudah mempersiapkan ribuah ejekan untuknya.

"Jangan macam-macam," ancam gadis itu, mengingatkan sahabatnya agar tidak melakukan hal bodoh dihadapan Sehun dan akan membuatnya semakin merasa malu.

Cukup sudah Sehun menganggapnya seperti orang bodoh selama ini.

Baekhyun nyengir, sedikit merapikan gaun setengah paha berwarna pastel yang Luhan kenakan dengan cantik. Ia juga menyelipkan rambut Luhan di belakang telinganya, dan Luhan terlalu gugup untuk protes dengan apa yang dilakukan gadis itu sekarang.

"Kau cantik, semoga kencanmu berjalan lancar," Baekhyun sedikit mengecup pipi gadis itu, membuatnya mengernyit jijik.

"Ini bukan kencan," sahut Luhan, geram.

Baekhyun tertawa lagi. "Terserah kau saja. Aku tak akan menunggumu pulang malam ini," ia terkekeh ringan, sedangkan Luhan membalas dengan dengusan sebal.

Luhan keluar dari kamarnya setelah beberapa kali menghembuskan napas gugup. Di luar sana, ia bisa melihat Sehun duduk di atas sofa. Pria itu hanya menggunakan kemeja putih dengan celana jeans berwarna navy gelap. Rambut hitam pekatnya terangkat rapi dan wajah pucatnya tampak sempurna di bawah kilauan lampu temaram ruang tamu.

Sehun sangat menakjubkan dan itu semakin membuat kegugupan dalam diri Luhan menjadi-jadi.

Sial, apa yang harus kulakukan?

Luhan berdeham sedikit, untuk menghilangkan gugup dan untuk memberikan tanda pada Sehun tentang keberadaannya.

Sehun menoleh kearahnya, tersenyum, dan itu berhasil membuat jantung bertalu-talu seperti orang bodoh.

Demi Tuhan, jangan melalukan hal bodoh, Luhan.

Jangan dulu.

Luhan tersenyum kaku, melihat Sehun yang berdiri masih dengan senyuman manis –tampan dan menakjubkan. Tangan pria itu terulur ke depan dan dengan sangat kaku, sangat canggung, Luhan menyalaminya.

"Hey, Luhan," sapa Sehun –masih dengan senyuman bak Dewa Yunani, dan Luhan menjawab dengan senyuman malu –yang canggung sebenarnya. "Kau terlihat cantik," tambahnya.

Apa kau bilang?

Sial, jantungku.

Luhan terkekeh ringan, terdengar sangat canggung. Sementara jantungnya terus memainkan tempo yang menggila, ia hanya berharap wajahnya tidak semerah tomat busuk sekarang.

"Thanks," cicitnya, tak punya kata-kata lain yang terpikir dalam otaknya.

Sehun sedikit tertawa. "Siap untuk pergi?" tanyanya. Luhan mengangguk kaku, membiarkan Sehun berjalan mendahuluinya menuju pintu keluar. "Kemana Baekhyun?" tanyanya, sedikit melihat kearah belakang tubuh Luhan.

Luhan mengikuti pandangan pria itu dan menoleh ke belakang, tapi sama sekali tak menemukan bayangan tubuh Baekhyun dimana-mana. "Mungkin sedang melakukan sesuatu," ucap Luhan.

Apa yang kau bicarakan, Luhan.

Sehun mengangguk beberapa kali. "Ayo, sebelum makin malam," bisiknya dengan kekehan ringan, membiarkan Luhan berjalan mengikutinya dengan langkah kaki canggung. "Ah, apa lukamu masih sakit?" tanya Sehun saat kedua orang itu sama-sama berjalan menelusuri koridor apartemen Luhan yang sepi.

Luhan mengangguk, berusaha tidak melakukan kontak mata secara langsung pada Sehun. Gadis itu berusaha tenang dan mengendalikan detak jantungnya yang sedari tadi menggila.

Mengatur napas tanpa Sehun sadari.

"Sudah baik-baik saja," bisik Luhan.

"Aku minta maaf untuk yang kemarin itu, Luhan," bisiknya, menahan pintu lift dan membiarkan Luhan masuk terlebih dulu.

Gentleman.

Luhan balas dengan tawa renyah yang terdengar tidak menyenangkan sama sekali. "Aku baik-baik saja, Sehun. Sungguh, bukan masalah," tambahnya.

"Tetap saja, aku membuatmu kembali merasakan sakit, kan?" pria itu terkekeh ringan, kemudian lagi-lagi mempersilahkan Luhan keluar dari lift saat mereka sudah sampai di lantai dasar.

Tak ada pilihan lain, Luhan mengangguk dengan senyum malu, tak ingin mendebat apa yang Sehun katakan lebih jauh lagi.

"Sebagai permintaan maafku. Bagaimana kalau aku mengajakmu jalan-jalan,"

Apa kau bilang?

"Jalan-jalan?" Luhan mengulangi ucapan pria itu, sedikit tak mempercayai pendengarannya.

Bukankah tadi Sehun hanya hendak mengajaknya mengambil gaun dan tas kecil yang tertinggal di apartemennya. Dan sekarang, kenapa pria ini mengajaknya jalan-jalan, semakin membuat Luhan bingung untuk mengendalikan perasaannya sendiri.

Ini gila.

Sehun mengangguk, menjawab pertanyaan Luhan sementara gadis itu masih tampak berpikir. "Kau pernah menonton film tengah malam?"

Menonton film, katamu?

Tengah malam?

Luhan menggeleng ringan. "Tidak pernah," sahutnya cepat, sedikit malu tapi ia terlalu gugup untuk peduli. Masa bodoh Sehun akan menganggapnya gadis aneh yang tak pernah bersenang-senang.

"Aku juga belum pernah," balas Sehun. Mereka sampai di depan mobil Sehun yag terparkir rapi di depan pintu masuk, pria itu lagi-lagi membukakan pintu untuk Luhan dan membiarkan Luhan masuk terlebih dahulu.

Sungguh, perlakuan sederhana seperti ini sudah bisa membuat Luhan semakin memiliki perasaan kagum pada pria itu.

"Thanks," sahut Luhan tipis.

"Jadi kau ada waktu luang malam ini?" tanya Sehun saat mereka sudah meluncur pada jalanan ibukota yang sedikit lenggang di malam hari.

Meskipun aku tidak ada waktu, tapi aku akan meluangkannya untukmu, Oh Sehun.

"Besok aku libur," jawab Luhan dengan kekehan ringan. "Jadi aku tidak sibuk malam ini,"

"Bagus," balasnya. Tawa pria itu terdengar renyah, menoleh sedikit kearah Luhan sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada jalan gelap di depan.

Meninggalkan Luhan dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting.

Seperti..

Apa memang Sehun sengaja mengajakku berkencan malam ini?

Ah bukan, ini hanya permintaan maafnya untuk menebus kesalahan Sehun kemarin.

Padahal yang kemarin itu, Luhan sangat bersyukur bisa menghabiskan waktu bersama dengan Sehun.

.

.

Baru beberapa menit sejak memasuki gedung bioskop yang cukup ramai di akhir pekan –padahal ini tayangan terakhir– Luhan agak menyesal dengan keputusannya mengiyakan ajakan Sehun menonton film.

Nyatanya, sampai saat inipun, Luhan harus memejamkan mata sambil sedikit tersentak-sentak diatas kursi empuk karena dentuman kuat dari pengeras suara dalam ruangan itu. Tak kalah mengejutkannya, bayangan-bayangan gambar mengerikan juga terpampang jelas di layar berukuran super besar itu.

Dan Luhan teralu malu untuk merengek pada Sehun membatalkan acara nonton yang mengerikan ini.

Luhan benci film tentang pembunuh berantai yang haus darah, atau adegan kejar-kejaran dengan suara mendebarkan. Ia tidak suka melihat tubuh manusia yang tampak sedang disayat dan mengeluarkan darah.

Ia tau itu hanya rekaan fiksi, tapi tetap saja, otak dangkal Luhan membayangkan rasanya.

Betapa perihnya jika tubuh manusia disayat hingga berdarah-darah seperti itu.

Memikrikannya saja, sudah membuat Luhan bergidik ngeri.

Samar, Luhan melirik kearah kanan, melihat wajah Sehun yang masih tampak jelas dalam ruangan gelap –selain wajahnya yang pucat, cahaya samar dari layar juga ikut menyinari wajahnya. Pria itu menonton dengan tenang, tampak serius dan tidak menunjukkan perubahan raut wajah berarti.

Seolah Sehun sedang menonton film roman picisan yang menyenangkan.

Sementara Luhan menahan diri untuk tidak pingsan atau kencing di celana.

Ia tak boleh mengacaukan hari ini.

Sadar dipandangi, pria itu menoleh kearahnya, dan Luhan nyatanya terlalu bodoh untuk mengalihkan pandangan dari Sehun. Tatapan mata elang itu terasa menguncinya, tak bisa bergerak tanpa alasan yang jelas.

Masih memandangi wajah Sehun yang terukir sempurna, pria itu balas menatapnya dengan kepala sedikit miring, mencoba membaca sesuatu dalam wajah Luhan –tapi Sehun tak menemukan apapun disana.

"Kau baik-baik saja?"

Apa aku tampak pucat sekarang, Oh Sehun?

Aku tidak baik-baik saja.

Sangat tidak baik-baik saja.

Luhan mengangguk, mengalihkan pandangannya dari tatapan mata Sehun dan nyaris memekik saat lagi-lagi dentuman kuat terdengar di telinganya, refleks, ia memejamkan mata –mengernyit.

Jika seperti ini terus, mungkin Luhan benar-benar pingsan bahkan sebelum film berdurasi lebih dari satu jam ini berakhir.

Luhan tak bisa tahan dengan suara keras, mungkin jantungnya lemah, atau mungkin juga ia tak terlalu tahan dengan suara-suara keras.

Tiba-tiba saja Sehun menggenggam tangannya, membuat Luhan membuka mata cepat-cepat, melihat pria itu yang sudah setengah berdiri dari duduknya. Ia tersenyum manis, kemudian menarik Luhan berdiri dan berjalan menelusuri jalan sempit diantara kursi-kursi penuh orang –bibirnya sedikit menggumamkan kata maaf saat melewato orang-orang yang mungkin sedikit terganggu karena ulahnya itu.

Dan masih seperti orang bodoh, Luhan membiarkan pria itu menggandengnya keluar ruang bioskop yang masih mengeluarkan suara dentuman-dentuman keras.

"Kenapa Sehun?" tanya Luhan saat mereka sudah diluar.

Pria itu tersenyum, sedikit menyentuh hidung Luhan dengan ujung jari telunjuknya. "Harusnya katakan sejak awal kau tidak menonton film yang seperti itu," bisik pria itu dengan satu kekehan ringan.

Sedangkan Luhan tak bisa menghindari pipinya yang mungkin mulai bersemu merah sekarang. "Aku tidak takut kok," sanggahnya.

Sehun tertawa lagi, masih menggandeng tangan Luhan erat-erat, pria itu berjalan menjahui pintu keluar. Dan Luhan tak bisa banyak bergerak, ia memandangi tangannya sendiri yang masih Sehun genggam dengan erat –membiarkan pria itu seolah menyeretnya.

"Mau nonton film lain?" tawar Sehun. "Kulihat ada film hantu, bagaimana?" guraunya dengan tawa renyah.

Tidak Sehun. Jangan mengajakku nonton film hantu.

Luhan menggeleng ringan, dan pria itu meliriknya dengan bibir tersenyum. "Kau lucu sekali, Luhan. Sungguhan, wajahmu pucat. Apa kau baik-baik saja?" tanyanya, sedikit mengejek dengan bibir mengerucut lucu.

Luhan merengut kesal. "Aku tidak takut, hanya saja–,"

"Sungguhan, mungkin kau bisa saja pingsan," potong Sehun cepat-cepat sebelum Luhan mengomel lagi. Pria itu menarik tangan Luhan dalam genggamannya ke atas. "Tanganmu dingin sekali," bisiknya.

"Itu karena pendingin ruangan," sahutnya, kesal.

"Benarkah?" ia menghentikan langkahnya, padahal mereka sedang berada di jalan. Sehun tersenyum, menarik tangan Luhan ke atas dan meniup-niupkan udara dari bibirnya –membuat udara hangat terasa hingga sarafnya. "Sudah lebih hangat sekarang?" tanyanya dengan senyuman manis.

Bernapas, Luhan.

Bernapas.

Ya Tuhan, jantungku.

Luhan mengerjap, berhenti memandangi Sehun dengan tatapan bodoh. Ia menarik tangannya sedikit, membuat Sehun melepaskannya. "Sudah lebih baik," ia tergagap, merasa seperti seorang badut sekarang.

Sehun tertawa lagi, mempersilahkan Luhan kembali berjalan.

"Karena kita gagal menonton, apa yang harus kulakukan setelah ini?" tanya Sehun.

Apa aku harus mengatakannya, Sehun?

"Entahlah," sahutnya dengan suara tipis, sedikit melirik Sehun berjalan di sampingnya dalam diam. "Mengambil gaunku, mungkin?" ragu-ragu Luhan bertanya.

Sehun sedikit tertawa, membuat Luhan tak mengerti apa ada yang salah dengan ucapannya. "Jika aku mengatakan hal yang jujur, apa kau marah, Luhan?"

"Apa maksudmu?"

Sehun terlihat sedang menahan tawa, bibirnya membentuk cekungan senyum indah. "Gaunmu masih belum selesai dicuci," sahutnya.

Apa sih yang kau bicarakan, Sehun.

Tanpa alasan yang jelas, Sehun tertawa lagi. "Sebenarnya aku hanya beralasan akan mengembalikan gaunmu, padahal sekarang masih di tempat pencucian dan belum selesai dibersihkan," tambahnya.

"Jadi, Sehun," Luhan menggantungkan jawabannya, tidak melanjutkan.

Sehun mengangguk beberapa kali. "Aku tak punya alasan lain untuk mengajakmu keluar, jadi aku berbohong tentang gaun itu," ia tersenyum lagi. "Well, yah, aku terlalu tidak jantan untuk mengajakmu pergi secara langsung," tambahnya.

Oke, aku mulai bingung.

Apa ini artinya Sehun sebenarnya ingin mengajakku keluar?

Berkencan?

Tidak. Tidak. Terlalu jauh.

Luhan diam, tidak tau hendak mengatakan apa. Ia hanya mengikuti langkah panjang Sehun menuju tempat parkir gedung bioskop. Sedangkan pria itu juga tidak berbicara lagi, kecanggungan menguar di udara.

"Kau menganggap ini kencan, kan?" tanya Sehun tiba-tiba.

Apa kau bilang?

"Entahlah," sahut Luhan, berusaha menelan rasa gugupnya sendiri. "Kau menganggapnya begitu?" ia balas bertanya.

"Tentu saja," balas Sehun yakin, kembali membukakan pintu mobil untuk Luhan.

Oke, aku semakin bingung sekarang.

"Kita akan kemana, Sehun?" tanyanya saat Sehun kembali mengendarai mobilnya keluar menuju jalan raya.

Sehun menoleh kearahnya sedikit dan tersenyum. "Apa yang biasa dilakukan orang saat kencan?"

Aku tak tau, aku tak pernah melakukannya.

Tunggu dulu, kau serius menganggap ini kencan?

"Aku tak tau, Sehun. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Luhan balas bertanya.

Sehun tampak berpikir sejenak, keningnya berkerut dalam, sementara matanya masih fokus menatap jalanan gelap di depan.

"Makan malam?" tanya Sehun.

Apa kau perlu jawaban, Sehun?

"Ide bagus," sahut Luhan.

Meskipun Sehun menanggap ini kencan, tapi Luhan tak menganggap ini menyenangkan. Sehun terlalu acuh untuk ukuran pria dewasa normal. Tidak banyak bicara, lebih banyak bertindak. Memang apa yang Sehun lakukan, hal sederhanapun, nyatanya bisa membuat jantung Luhan berdetak lebih cepat.

Tenggelam dalam kegugupan.

Tapi, tetap saja, kecanggungan masih menguar jelas, menyesakkan udara disekitar mereka.

Sehun tidak semenyenangkan seperti yang selama ini ada dalam pikiran Luhan.

Sehun tidak asyik.

.

.

Mereka sudah sampai di tempat makan cepat saji di tengah kota. Sehun terus merengek tentang makanan yang tidak sehat dan lain sebagainya, tapi mereka tak punya pilihan lain daripada harus kelapatan di tengah malam dingin seperti ini.

Ini tengah malam tentu tidak ada rumah makan yang sedikit layak masih buka di jam-jam seperti ini.

"Maaf harus mengajakmu makan di tempat ini," bisik Sehun, ia membuka mulut dan memasukkan potongan burger kesana, mengunyahnya dengan kening berkerut, kemudian mengernyit saat menelan makanan itu susah payah.

Luhan tersenyum melihat tingkah Sehun yang tampak tidak menyukai rasa burgernya. Pria itu mengernyit beberapa kali sebelum menelan makanan lagi, kali ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan raut wajah tidak nyaman.

"Bukan masalah, aku suka junk food, kok," balas Luhan, memakan potongan ayam perlahan.

"Maaf mengatakan ini, Luhan," ucapnya, berusaha menelam makanan susah payah. "Kau harus mengurangi makan makanan seperti ini, sungguhan,"

"Kau mulai terdengar seperti Jongin, Sehun," sahut Luhan, berusaha membuat suasana tidak canggung, dan sepertinya obrolan mereka berhasil.

Sehun menggelengkan kepala beberapa kali. "Serius, mungkin Jongin juga mengatakan hal ini, tapi junk food punya dampak buruk," tambah Sehun. "Berapa banyak kalori yang dihasilkan dari makanan ini," ia melirik piring berisik makanan di atas meja, membuat Luhan mengikuti pandangan pria itu.

"Ya, aku percaya. Kau kan seorang dokter," balasnya, mencibir.

Sehun tertawa. "Aku sungguh-sungguh menagtakan ini, kau tau kan berapa lemak dalam burger ini?" Sehun mengangkat makanannya sedikit, menunjukkan potongan daging yang berkilat karena minyak di dalam burgernya. Sementara Luhan tampak berpikir, kemudian menggelengkan kepala ringan.

Lagipula siapa yang peduli jumlah lemak atau kalori pada makanan seenak itu. Orang-orang yang makan disini pasti telalu lapar untuk sekedar memikirkan dampak buruk makanan mereka.

Sungguh, itu tidak penting.

"Kurasa makan burger tidak berbahaya," Luhan sedikit memicingkan mata melihat makanan yang Sehun tunjukan. "Lagipula itu enak," balasnya, nyengir.

Sehun mendecih. "Tidak terlalu enak, asal kau tau saja,"

"Ya, Sehun. Terima kasih sudah mengingatkanku, aku tidak sering-sering makan ini lagi," ia balas tertawa, kembali memasukkan potongan ayam ke dalam mulut.

Sehun tersenyum lebar. Matanya memandangi Luhan yang sedang makan dengan tenang, mendadak saja kehilangan keinginan untuk lanjut makan. Perhatian Sehun terfokus pada wajah Luhan, memandangi bibirnya yang sibuk bergerak karena makan, juga memandangi tangan pucat Luhan yang terlihat memiliki bekas luka –tepat dibagian telapak tangan.

Sehun menarik tangan Luhan tanpa ijin, membuatnya sedikit kaget karena mendadak saja pria itu memerika telapak tangannya. Ia memandangi tangan Luhan yang memiliki luka garis memanjang sekitar beberapa senti, lukanya cukup dalam hingga menimbulkan bekas luka yang tampak jelas.

Lembut, Sehun mengusapkan jemarinya di atas bekas luka gadis itu.

"Ini kenapa?" tanya Sehun, menekankan jemarinya lagi, sedikit memeriksa kontur lukanya.

Ah, itu.

Sedangkan Luhan meringis, sama sekali bukan karena merasa sakit. Tapi ingatannya kembali terlontar ke belakang, kembali memutar adegan bodoh mengerikan saat ia dengan sengaja mencengkeram pecahan gelas yang tajam.

Alasannya tak lain hanya sekedar ingin bertemu dengan Sehun.

Sungguh pemikiran yang bodoh saat itu.

Bagaimana bisa Luhan berpikir seperti itu, berpikir bahwa dengan melukai dirinya, ia bisa bertemu dengan Sehun lagi. Sungguh, dulu Luhan merasa sangat bodoh dan gila.

Dan sekarang ia menyesal karena itu membuat bekas luka mengerikan di telapak tangannya.

"Apa masih sakit?" tanya Sehun lagi, sedikit mengusap bekas luka memanjang itu dengan lembut.

Tidak, sama sekali tidak.

Tapi hatiku masih sakit saat mengingat alasan bodoh dibalik luka ini.

Luhan tersenyum, miris, ia menggelengkan kepala beberapa kali. "Itu sudah lama, Sehun. Sudah tidak sakit lagi. Saat itu Jongin membantuku mengobati lukanya,"

Sehun mengangguk beberapa kali. "Kenapa lukanya sampai sedalam ini?" tanya Sehun lagi, ia melepaskan tangan Luhan dan membiarkannya kembali makan dengan tenang.

Sedangkan mendadak saja, Luhan kehilangan nafsu makan.

Luhan tersenyum tipis. "Aku memecahkan gelas dan berusaha membersihkannya," ia mengernyit sedikit, otaknya kembali memutar kejadian mengerikan itu lagi dan lagi. "Tanpa sengaja itu melukai tanganku," dustanya.

Yah, aku sengaja melakukannya, sebenarnya.

"Kau harus lebih hati-hati, Luhan," ucap Sehun. "Aku tak ingin melihatmu di UGD lagi,"

Dan saat Luhan menarik wajahnya untuk menatap pria itu, ada gurat kesungguhan dalam raut wajah Sehun. Seolah pria itu mengatakan hal sederhana barusan dengan kesungguhan. Sehun tidak tersenyum, tapi wajahnya masih tampak menenangkan.

Menyenangkan.

"Ya, Sehun. Aku tau," bisik Luhan tipis.

"Boleh aku mengatakan sesuatu?" ucap Sehun.

Luhan memandanginya dengan bingung, tidak mengerti apa yang Sehun katakan. "Ada apa?" tanyanya, berusaha terdengar biasa saja, tapi gagal. Bagaimanapun, Luhan terlalu penasaran untuk tetap diam.

Sehun menghela napas berat, benar-benar mengabaikan makanan yang baru habis setengah. Ia memandangi Luhan dengan kesungguhan yang terpancar jelas dari wajah pucatnya, sedangkan Luhan berusaha tidak gugup dipandangi seperti itu.

Padahal jantungnya sudah berdetak semakin liar sekarang.

Sehun mendesah ringan. "Sejak awal melihatmu saat terluka di UGD malam itu, kau berhasil membuatku penasaran, Luhan,"

Apa kau bilang?

"Mungkin ini terlalu cepat, tapi memang aku tak bisa mengendalikan semuanya. Bagaimanapun aku berusaha mengelak dan menghindar, tetap saja seolah ada magnet kuat darimu yang menarikku untuk kembali memperhatikan," jelas Sehun.

Aku tidak salah dengar, kan?

Dan bibir Luhan setengah terbuka saat mendengar itu. "Sehun," bisiknya, kehilangan kemampuan berbicara.

Sehun tersenyum. "Keberatan jika aku ingin mengenalmu lebih jauh, Luhan?"

Apa kau bilang?

Seolah masih belum sepenuhnya sadar dari lamunannya, Luhan mematung seperti orang bodoh. Memandangi Sehun yang tersenyum manis padanya dengan tatapan mata penuh pertanyaan. Ia sungguh tak bisa mempercayai pendengarannya sendiri sekarang.

Apa Sehun baru saja mengatakan ingin mengenalku lebih jauh?

Luhan memaksakan seulas senyum sambil berusaha mengendalikan detak jantungnya yang menggila. Kepalanya menggeleng ringan, masih memandangi Sehun yang seolah menatapnya dengan mata berbinar-binar –yang tampan.

"Ya, Sehun," balasnya dengan senyum penuh kecanggungan.

Dan Sehun balas tersenyum lembut, meraih jemari Luhan dan menggenggamnya lembut.

Membiarkan jantung Luhan berpacu lebih cepat dari sebelumnya.

Kau tidak akan membuatku terlukan, kan, Sehun?

.

.

TBC

.

.

APAKAH INI TERLALU MENGGELIKAN?

Gatau ini kenapa kok jadi fluffy-fluffy geli gini /maap/

Ini kenapa nyeritain HUNHAN kencan aja jadi satu chapter sendiri. Gatau ah /huehuehuehue/

Chapter ini memang tidak sepanjang anu Sehun tapi gapapa lah yaaa~

Maaf banget, Authornya menghilang dari FF ini agak lama. Maaf idenya menghilang begitu /hehe/ ini sudah dilanjut semoga tidak mengecewakan ya.

Silahkan sampaikan kritik, saran, dan komentar di kolom review semuanya.

Author ngrasa ini FF agak sepi makanya tidak begitu semangat nglanjutin ceritanya /maapin/ mungkin emang ceritanya ini kurang begitu greget jadi agak sepi peminat.

Karena Authornya sudah mulai sibuk SKRIPSI, jadi mungkin jadwal update agak berantakan /harap maklum/ dan doakan Author cepet kelar ini skripsinya.

Berhubung tanggal 7 Februari Authornya ulang tahun yang ke-20, jadi nanti bakalan ada project FF baru. Kalo sempet mampir ya, anggap aja kado dari lolipopsehun /asik/

Itu aja dulu dari Author, lebih kurangnya mohon maaf.

Terima kasih sudah mampir untuk membaca dan jangan lupa meninggalkan jejak di kolom review ya semuanya~

With love,

lolipopsehun

Today update with chiakibee, purflowerian, redapple, brida wu.