"Kencanmu menyenangkan?" tanya Baekhyun saat Luhan baru saja melemparkan sepatu boots tingginya dengan asal di balik pintu, sementara gadis mungil yang baru saja memanggilnya sedang menonton televisi sambil bermalas-malasan.
Gadis itu mendengus kesal, menghempaskan tubuhnya kasar di atas sofa –tepat di sebelah tubuh Baekhyun yang setengah berbaring malas. "Menyenangkan pantat kuda," rengeknya.
"Belum melepas status sebagai gadis suci malam ini?"
"Oh, ayolah. Hentikan itu, Byun," gadis itu memutar bola mata sebal, sedikit mengerucutkan bibir.
Baekhyun tertawa renyah, mengangkat bahu acuh. "Serius, kau sudah hampir dua puluh tiga tahun dan masih belum pernah ada pria yang menyentuhmu, Luhan. Yah, aku tidak tau jika kau memutuskan untuk menjadi biarawati untuk menghabiskan sisa hidup,"
Luhan tertawa mengejek. "Koreksi pertama, aku masih dua puluh dua. Dan koreksi kedua, kau pikir gadis kotor sepertiku bisa menjadi biarawati?"
Baekhyun terkekeh ringan, sedikit memajukan tubuhnya untuk menatap Luhan lekat-lekat. "Katakan tentang Sehun,"
"Entahlah, aku malas membicarakan ini,"
"Kau ditolak?"
Luhan mendengus kasar. "Sopan sekali, Byun," sindirnya. Gadis lucu itu hanya tertawa renyah, mengejek Luhan dengan cengiran lebar. "Hanya saja, Oh Sehun tidak semenarik kelihatannya,"
"Oh ya? Apa yang sudah kalian lakukan memangnya?"
"Tak bisakah kau berhenti berpikir yang tidak-tidak?" Luhan mendebat, memutar bola mata kesal.
"Sebenarnya kau yang berpikir kotor, Luhan. Aku kan cuma bertanya,"
Luhan mendesah ringan, mengambil kaleng soda Baekhyun yang nyaris kosong dari atas meja dan meminumnya tanpa ijin. "Entahlah, dia tak lebih baik dari Jongin,"
"Apa Sehun juga membual tentang makanan sehat dan olahraga?" Luhan mengernyit, kemudian mengangguk singkat. "Demi Tuhan, apa semua dokter selalu seperti itu?"
Luhan mengangkat bahu acuh. "Entahlah," sahutnya singkat, terlalu malas memikirkan hal itu sekarang. Gadis itu memejamkan mata, kemudian mendesah keras. "Sehun bukan pria sempurna seperti yang selama ini ada dalam pikiranku,"
"Sehun mengatakan sesuatu tentang kemajuan hubungan kalian?"
"Hubungan apa? Kami belum sedekat itu," Luhan nyaris berbisik, bibirnya kembali mengeluarkan desahan berat, seolah sedang memikirkan sesuatu. Ia menggeser badan dan memeluk tubuhnya sendiri. "Sehun ingin mengenalku lebih jauh dan aku tak ingin banyak berharap," jelasnya.
Baekhyun mengerjap beberapa kali mendengar ucapan sahabatnya barusan, matanya tampak berbinar-binar. "Itu bagus, tandanya Sehun juga tertarik denganmu,"
Desahan napas Luhan kembali terdengar keras. "Aku tidak yakin dengan ini. Entah apa aku cocok untuknya,"
"Kenapa kau jadi pesimis? Ingat apa yang sudah berusaha kau lakukan untuk kembali bertemu dengan Oh Sehun beberapa minggu yang lalu?"
"Bisa kita berhenti membahas itu?" gadis itu bangkit dari duduknya dan memandang Baekhyun yang sedang nyengir sambil menggumamkan kata maaf. "Aku pernah menggilainya memang, tapi selama beberapa minggu aku sudah berhasil melupakannya, dan ya, sepertinya memang aku sudah tidak menganguminya sebesar dulu,"
"Apa maksudmu?" raut wajah Baekhyun diliputi kebingungan, sementara ia menatap Luhan dengan pandangan penuh pertanyaan. "Mengapa perasaanmu gampang sekali berubah-ubah?"
Luhan hanya menggelengkan kepala dan mengangkat bahu. "Semua terjadi begitu saja,"
"Dan kau sudah tidak mencintai Oh Sehun?"
"Aku tak pernah mencintainya sejak awal. Itu hanya obsesi, kau tau," jelas Luhan lagi, ia kembali menghembuskan napas keras-keras. "Sepertinya obsesiku sudah hilang,"
"Kau berbohong, Luhan,"
"Kuharap begitu," dan Luhan beranjak berdiri dan berjalan meninggalkan Baekhyun yang sedang mengerutkan kening bingung.
.
.
Luhan harus kembali terjebak dalam obrolan luar biasa berisik dengan kedua sahabatnya, Kyungsoo dan Baekhyun. Ia tak begitu menangkap apa yang kedua temannya itu bicarakan. Mereka bicara terlalu cepat. Jadi sejak tadi, sejak kelasnya berakhir dan jam makan siang dimulai, Luhan mengunyah potongan lasagna pedasnya sambil menikmati obrolan Kyungsoo dan Baekhyun.
"Luhan, bisa berhenti melamun?" ucap Kyungsoo dengan suara melengking.
Luhan menggelengkan kepala beberapa kali, menelan makanannya lagi. "Aku tidak melamun,"
"Ada acara malam ini?" kali ini Baekhyun yang bicara.
"Aku tidak akan pergi ke club. Besok ada kelas pagi," sergah Luhan.
Dengan gemas, Kyungsoo mencubit gadis bermata rusa itu, cukup keras hingga membuatnya memekik kaget. "Aku tidak akan mengajakmu pesta semalam suntuk, Nona cantik," ucap Kyungsoo dan Baekhyun terkikik menahan tawa. "Jongin mengajakku makan malam, mau ikut?"
Luhan mendengus malas, terdengar mengejek. "Hah, lucu sekali. Aku tidak akan pernah ikut lagi apa yang kau lakukan dengan Jongin," ia menuding Kyungsoo. "Terakhir kali aku ikut denganmu, itu membuatku harus terjebak bersama Sehun,"
"Seharusnya kau berterima kasih untuk itu," sahut Baekhyun.
Luhan memutar bola mata sebal, memasukkan potongan makanannya lagi ke dalam mulut dan mengunyah dengan kasar. "Itu salah satu malam terburuk dalam hidupku,"
"Menghabiskan malam bersama orang yang kau sukai masuk dalam malam terburukmu?" Kyungsoo mengoreksi.
"Yah, aku hanya bisa diam seperti orang bodoh. Bertingkah canggung dan memalukan di depan Sehun saat itu," Luhan mengusap wajahnya dengan kasar. "Dan kali ini aku tidak akan terjebak dalam lubang yang sama,"
"Puitis sekali," sindir Baekhyun. "Sebenarnya Kyungsoo ingin meminta bantuanmu,"
"Oh ya?" Luhan menoleh kearah gadis mungil yang sedang meminum soda dengan sekali teguk itu. "Kau ingin aku mengganggu kencanmu dengan Kim Jongin malam ini?"
"Secara teknis, ya," Kyungsoo nyengir. "Aku benar-benar tak bisa pergi sendiri malam ini," Luhan melirik Baekhyun dan seperti tau, Kyungsoo menambahkan. "Baekhyun harus menyiapkan diri untuk pengambilan video besok,"
Luhan mendesah ringan, menyerah pada tatapan mata berbinar penuh pengharapan Kyungsoo. "Oke, aku menyerah," ucapnya sambil mengangkat tangan keudara, sementara kedua orang itu menahan tawa. "Aku akan ikut, tapi jika kalian merencakan sesuatu lagi, aku benar-benar tidak akan memaafkan,"
"Tenang saja, Sehun tak akan datang," sahut Kyungsoo.
Mengapa aku berharap Sehun ada malam nanti?
.
.
"Oke, Kyungsoo, satu hal yang kusesalkan adalah mengapa kita harus saling kenal," gerutu Luhan malam harinya. Bagaimana tidak, ia terpaksa harus mengikuti tingkah gila Kyungsoo malam ini, entahlah ini akan masuk daftar malam terburuknya atau tidak, Luhan berharap tidak ada yang lebih buruk lagi sekarang.
Kyungsoo hanya tertawa, mendorong tubuh Luhan lagi untuk masuk ke dalam sebuah kelab malam yang masih sangat asing baginya. "Acaranya tidak akan lama, kok. Kita hanya mendatangi sebuah pesta ulang tahun kecil, Luhan. Aku janji tidak akan lebih dari tengah malam,"
Ini sudah nyaris tengah malam, sialan.
"Kau bilang tadi hanya makan malam," bantahnya, sedikit mengernyit saat mendengar suara dentuman musik yang membuat telinganya nyaris kebas.
Sungguh, jika bisa memilih, Luhan tidak akan pernah lagi masuk ke tempat seperti ini. Hingar bingar kelab malam sama sekali bukan gayanya. Ia lebih suka bergadang semalam untuk menonton drama roman picisan sambil menangis, bukan bergadang untuk pergi ke kelab.
Ya, memang Luhan gadis sepolos itu.
"Teman Jongin ulang tahun dan aku harus datang, kan?" ia tersenyum manis, menarik tubuh Luhan untuk masuk dan menyapa beberapa teman.
"Kenapa kau tak pergi dengan Jongin saja? Suruh dia menjemputmu, selesai sudah. Kau tak perlu memaksaku memakai pakaian seperti ini," Luhan nyaris berteriak agar Kyungsoo mendengarnya, kemudian ia melirik pakaiannya yang terlihat sangat vulgar.
Ya, gaun ini memang bukan miliknya, jika ini bukan milik Baekhyun, mungkin Luhan sudah membakarnya sejak tadi.
"Jangan mengomel," Kyungsoo tersenyum, suara lengkingannya masih terdengar jelas ditengah keramaian. "Aku hanya ingin mengajarimu cara bersenang-senang yang benar," gadis itu mengedipkan sebelah mata, kemudian hendak berjalan menjauh sebelum Luhan menahan tangannya.
"Mau kemana kau?"
Kyungsoo memutar badan sedikit, tersenyum pada gadis itu. "Duduk saja disana Luhan," ia menunjuk sebuah deretan sofa yang masih kosong. "Aku akan menemui Jongin dan membelikanmu beberapa minuman,"
Luhan mendengus malas. "Kalau kau mabuk malam ini, aku tidak akan membawamu pulang,"
Kyungsoo balas tertawa. "Aku bersama Jongin, ingat?" ia mengedipkan sebelah mata, kemudian melepas genggaman Luhan dari tangannya. "Tunggu disini. Aku akan segera kembali," dan begitu saja, Kyungsoo sudah membaur ditengah kerumunan.
Meninggalkan Luhan yang tampak sangat bodoh sekarang.
Apa yang harus kulakukan disini?
Ini tempat apa, Ya Tuhan.
Melirik sofa kosong di belakangnya, Luhan mendesah ringan. Disaat semua orang mungkin sedang bersenang-senang menghabiskan malam panjang mereka dengan menggoyangkan badan menikmati alunan musik, Luhan harus terjebak di tempat yang sudah memiliki nama baru dalam otaknya. Ia menyebut ini neraka.
Bagaimana tidak, Luhan benci keramaian, benci suara dentuman keras yang membuat jantungnya bergedup tidak nyaman. Terlebih lagi, ia tak pernah suka bagaimana mengganggunya aroma alkohol dan tentu saja asap rokok yang nyaris membuat napasnya sesak sejak tadi.
Dengan desahan malas, ia memaksa diri sendiri untuk berjalan kearah Kyungsoo menghilang di tengah kerumunan tadi, mencoba menemukan jalan keluar sebelum mati kehabisan napas. Persetan dengan Kyungsoo yang mungkin akan mengomelinya sampai besok pagi, Luhan sudah malas untuk peduli lagi.
Toh, Kyungsoo hanya akan mengomel sampai lelah, kemudian diam juga.
Luhan berusaha mengingat dimana tadi ia masuk, tapi sepertinya ia tersesat. Luhan hanya berdiri mematung seperti orang bodoh ditengah kerumunan orang yang sibuk menggoyang-goyangkan badan. Ia harus sedikit menghindari dari beberapa tubuh –atau bagian tubuh– yang nyaris menabraknya.
Cukup sudah ia menjadi bodoh disini, jangan sampai badannya sakit semua.
Jadi disinilah Luhan, berdiri menepi di sudut ruangan yang nyaris penuh sambil berusaha mencari jalan keluar. Ia berharap ada GPS yang bisa membimbingnya, kemudian menyadari itu pemikiran bodoh. Satu hal yang bisa ia lakukan adalah merutuki kebodohannya mengikuti kemauan Kyungsoo.
Bersamaan dengan itu, getaran ponselnya membuat Luhan sedikit terkejut. Ya, itu ponsel baru karena ponsel lamanya rusak terkena air, jadi Luhan masih asing dengan hal itu. Ia mengusap layarnya, melihat ada pesan singkat masuk dengan nomor yang tidak ia kenal.
Apa yang kau lakukan di tempat ini, Luhan?
Tanpa sadar, Luhan menoleh kesekitar, matanya berusaha menyusuri ruangan penuh orang ini untuk menemukan siapa yang mengirim pesan itu –seseorang yang mungkin ia kenal. Tapi ia tak menemukan apapun di tempat yang nyaris gelap ini.
Kemudian satu pesan kembali datang.
Aku bisa membawamu pergi dari sini, berminat?
Luhan menghela napas ringan, jika Kyungsoo berniat bermain-main dengannya, kali ini tidak akan ada kata maaf.
Siapa? –menyerah, Luhan membalas pesan singkat itu, toh dia juga tak bisa melakukan hal lain.
Tak lama ia menunggu, seseorang misterius itu membalas pesan singkatnya.
Aku di belakangmu, Luhan.
Terkesiap, Luhan malah mematung, tanpa sadar napasnya tercekat. Ragu-ragu, perlahan ia menoleh ke belakang, kemudian napasnya memburu saat indera penciumannya bisa mencium aroma tubuh yang sudah ia hapal sejak beberapa hari lalu.
Dan saat ia benar-benar membalikkan badan, Luhan melihat sosok itu berdiri di belakangnya dengan senyum khas yang luar biasa tampan.
Bernapas, Luhan, bernapas.
Ya Tuhan, jantungku.
"Hai, Luhan,"
Demi tuhan, suaranya bisa membuatku gila.
Luhan tersenyum kikuk, tampak sangat canggung. Jantungnya mulai menggila bersamaan dengan wajahnya yang memanas karena malu. Berani bertaruh, wajahnya pasti sudah semerah kepiting rebus sekarang.
Ia bisa melihat sosok pria itu berdiri disana, itu nyata. Kemeja hitam itu terlihat sangat pas dengan tubuhnya, juga jaket tebal berwarna senada yang membalut tubuh sempurnanya. Bagaimana bisa seorang pria bisa terlihat sangat maskulin dengan celana jeans gelap dan juga sepatu boots.
Luhan tak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan itu.
"Hai, Sehun. Apa yang kau lakukan disini?" cicitnya.
Sehun mengernyit. "Apa kau bilang?" ia mendekatkan wajahnya hingga nyaris tidak berjarak dengan wajah Luhan dan membuatnya menahan napas, berusaha mengendalikan keterkejutan, tapi ia gagal.
Sehun, demi Tuhan kau bisa membuatku mati mendadak karena serangan jantung.
Kaku, Luhan sedikit menarik wajahnya ke belakang, kemudian berbisik. "Hai Sehun, apa yang kau lakukan disini?" ia mengulangi ucapan tanpa mengubah nada suara yang terdengar datar, tanpa ekspresi.
Bagaimanapun Luhan masih berusaha mengendalikan detak jantungnya yang menggila karena pria tampan dihadapannya itu.
Sehun tersenyum lagi, sedikit menarik tubuhnya ke belakang. "Aku bisa membawamu keluar," ia nyaris berteriak dan Luhan mengangguk kikuk, benar-benar merasa bodoh sekarang.
Dobel bodoh.
Satu pertanyaan yang berputar-putar di dalam otak Luhan adalah bagaimana bisa setiap ia pergi dengan Kyungsoo, selalu ada Sehun disana. Ia seratus persen yakin, gadis sialan itu pasti sudah merencanakan ini sejak awal.
Karena Luhan tak pernah percaya takdir atau kebetulan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sehun, menggerakkan tangannya di depan wajah Luhan dan gadis itu mengerjap beberapa kali, berhasil membuatnya terkesiap, sadar dari lamunan bodohnya.
"Ah, ya, tentu," sahutnya.
Sehun tersenyum lagi. "Ayo," ucapnya, kemudian Luhan membelalakkan mata saat pria itu menggenggam tangannya erat-erat dan membimbingnya berjalan menyusuri orang-orang yang sedang berpesta di tengah ruangan.
Jantungku bertahanlah sebentar lagi.
Luhan mengikuti langkah Sehun dengan hati-hati sambil berusaha tidak tersandung sepatu tingginya sendiri, ia membiarkan Sehun menggandengnya perlahan. Mengikuti langkah panjang pria itu menuju pintu keluar, sesekali Sehun menoleh ke belakang untuk sekedar memberikan senyuman padanya, dan itu berhasil membuat jantungnya nyaris lepas.
"Ah, lega sekali rasanya," tanpa sadar ucapan itu keluar dari bibir Luhan saat Sehun sudah membawanya keluar. Gelak tawa pria itu membuat Luhan sadar dan cepat-cepat melepas genggaman tangan Sehun, ia tersenyum canggung. "Terima kasih, Sehun. Rasanya aku bisa mati jika terlalu lama berada di dalam,"
Sehun tertawa renyah. "Apa yang membuatmu datang kesini?"
Helaan napas Luhan terdengar kesal. "Kyungsoo, siapa lagi?" dan Sehun menjawab itu dengan tawa singkat. "Kyungsoo bilang ada teman Jongin yang berulang tahun hari ini jadi aku menemaninya,"
"Yah, aku juga kesini karena itu. Dan jujur saja aku tidak begitu suka keramaian seperti ini,"
"Sama denganku," sahut Luhan cepat, dan ia buru-buru menutup mulut saat menyadari suaranya terdengar terlalu bersemangat.
Sehun memandanginya dengan bingung. "Kau baik-baik saja?"
Kembali, Luhan tersenyum canggung. "Ya, Sehun, baik," ia nyengir, merasa bodoh sebenarnya meskipun dalam hati berharap Sehun tidak terlalu menganggapnya seperti seekor keledai yang tersesat.
"Apa yang akan kau lakukan sementara menunggu Kyungsoo menyelesaikan pestanya?" Sehun mulai bertanya, dan tanpa sadar mereka melangkah menuju tempat parkir.
Luhan menggelengkan kepala. "Entahlah, mungkin aku akan meminta Baekhyun menjemput dan pulang. Toh, Kyungsoo pasti akan bersenang-senang dengan Jongin malam ini,"
Sehun tertawa lagi, sebuah tawa yang bisa membuat hati Luhan menghangat. Suara pria itu nyatanya selalu bisa membuat desiran aneh dalam tubuhnya yang selalu berputar-putar tanpa aturan. Dan saat Luhan memandangi matya cokelat pria itu, lengkap dengan senyum manis memabukkan, rasanya ia tenggelam.
Tenggelam terlalu jauh dalam pesona Oh Sehun yang luar biasa gila.
"Aku bisa mengantarmu pulang,"
Hah, apa kau bilang?
Luhan nyaris tak bisa mendengar ucapan Sehun karena ia masih melamun menatap wajah tampan pria itu. "Ah itu," Luhan tergagap. "Aku tak ingin merepotkanmu, Sehun. Baekhyun sudah berjanji menjemputku, kok,"
"Sebenarnya," Sehun berhenti sebentar untuk menghela napas, ia masih berjalan di samping Luhan, kemudian sedikit menoleh untuk tersenyum singkat. "Aku ingin mengembalikan bajumu yang tertinggal,"
Baju?
Ah itu.
Luhan balas tersenyum pada pria itu, entah kenapa, di bawah sinar rembulan remang, ditambah beberapa lampu taman temaran, wajah Sehun masih saja terlihat menakjubkan. Luhan bisa melihat dengan jelas pahatan sempurna yang membingkai tubuh tampan pria itu. Sehun tampak begitu–
Sadarlah, Luhan! Kendalikan dirimu!
Luhan mengerjap beberapa kali, sadar Sehun masih memandanginya. "Ah, bajuku," ia tersenyum canggung.
"Kalau tau kita akan bertemu, mungkin aku akan membawanya. Keberatan jika ikut aku pulang sebentar dan mengambilnya?"
Ah tidak, tentu tidak, Sehun.
"Tidak, Sehun, bukan masalah. Aku punya banyak waktu luang,"
Sial, apa yang kukatakan.
Sehun hanya membalas ucapan Luhan dengan senyum hangat bersahabat. "Ah, ini," ia melepas jaket tebalnya dan memberikan itu pada Luhan. "Aku benar-benar tidak peka sebagai seorang pria, ya?" ia nyengir.
"Aku baik-baik saja," ucap Luhan, setengah tersenyum malu.
Pria itu tidak bicara lagi, ia hanya memakaikan jaket tebalnya pada pundak Luhan, membuat gadis itu sedikit terkesiap dengan jantung yang menggila.
"Kau bisa mati kedinginan dengan baju seperti itu,"
"Thanks," cicitnya dengan suara tipis. "Aku benci baju ini," sahutnya.
Sehun tertawa renyah, menekan tombol pada remote mobilnya dan membukakan pintu untuk gadis itu. "Kalau benci kenapa kau masih membelinya, Luhan?"
"Ini baju Baekhyun," jawab Luhan malas, dan Sehun hanya teryawa renyah mendengar celotehannya.
Belum lama Sehun melajukan mobilnya keluar dari tempat parkir, ponsel pria itu berdering. "Bisa minta tolong?" ia menyerahkan ponsel itu pada Luhan.
Luhan melihat nama Jongin tertera di layar. "Ya, Jongin," sapa Luhan saat menerima panggilan itu.
"Sehun?" suara di seberang sana terdengar bingung.
Luhan mendengus malas. "Ini aku, Luhan,"
Jongin terdengar tertawa disana. "Baiklah-baiklah, aku tak akan menganggu kalian," Sehun tertawa sementara Luhan memutar bola mata sebal. "Katakan pada Sehun aku akan pulang sendiri,"
"Ya, Jongin, aku mendengarmu," sahut Sehun.
"Sehun, jangan kau apa-apakan Luhan. Kyungsoo bilang Luhan benar-benar gadis polos,"
Sial, Kim Jongin.
"Jaga bicaramu, Jongin," sahut Luhan kesal, kemudian mematikan sambungan sepihak.
Baik Jongin maupun Kyungsoo sama-sama bisa membuatnya malu di depan Sehun. Sungguh, Luhan ingin bisa mencabik-cabik dua orang itu dengan kukunya yang tajam.
"Jangan dengarkan, Jongin. Dia memang suka begitu," ucap Sehun, menenangkan Luhan yang masih bersungut-sungut.
Luhan hanya menjawab dengan anggukan singkat, ia merapatkan jaket Sehun pada tubuh. Sedangkan jemarinya memainkan ponsel Sehun. Luhan benci suasana canggung dan saat bersama Sehun, seolah ia kehilang seluruh kehilangan untuk bicara.
Rasanya semuanya begitu canggung.
Dan memang diantara keduanya tidak ada yang mulai bicara, tidak ada yang tau akan bicara apa.
Hanya ada suara helaan napas berat Luhan yang terdengar berat, jemarinya masih memutar-mutar ponsel Sehun sementara pria itu tampak fokus mengemudi.
Benarkan, Sehun tidak semenarik seperti yang kubayangkan sebelumnya.
.
.
"Kau sudah makan?" tanya Sehun saat ia baru saja membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan gadis itu masuk.
Luhan tersenyum singkat. "Kau mau jawaban jujur atau bagaimana?"
Sebelah alis pria itu terangkat. "Jujur, tentu saja," ia menjawab dengan bingung.
"Aku belum makan," ucap Luhan setengah terkekeh geli, perlahan masuk ke dalam apartemen Sehun dan melepaskan sepatu tingginya. "Tapi jujur saja, aku tidak lapar,"
Sehun mengangguk beberapa kali. "Duduk dulu, Luhan. Aku akan mengambil bajumu dan mungkin membuatkan sedikit makanan,"
"Aku tidak lapar," Luhan setengah berteriak saat melihat punggung pria itu hilang di balik sebuah ruangan.
"Kau tetap harus makan," Sehun balas berteriak.
Dan Luhan tersenyum, ia tidak mendebat lagi. Bagaimanapun, Sehun masih saja terlalu cerewet tentang masalah-masalah sepele seperti ini. Menunggu Sehun keluar dari sana, Luhan berjalan menuju pintu kaca yang menghubungan ruangan dalam dengan balkon di luar sana.
"Sehun, keberatan jika aku membuka pintu?"
"Tidak, silahkan saja," pria itu masih saja berteriak dan Luhan terkekeh ringan mendengarnya.
Suara Sehun benar-benar menyenangkan untuk didengar.
Luhan membuka pintu itu dengan hati-hati dan ia bisa merasakan angin yang berhembus cukup kuat membelai wajahna. Ia sedikit bergidik dan berniat untuk mundur, kembali masuk, tapi pemandangan kota malam hari di depan matanya benar-benar tak bisa ia lewatnya.
Ia suka melihat bagaimana lampu-lampu yang seolah menari-nari di malam hari. Entahlah, pemandangan malam selalu bisa membuatnya tertarik.
"Kau tidak kedinginan?" tanya Sehun.
Gadis itu menggeleng ringan, menoleh ke belakang dan melihat Sehun berdiri dengan membawa bajunya. "Jaketmu hangat," balasnya singkat, kembali membalikkan tubuh untuk melihat pemandangan kota di bawah sana.
"Apasih yang kau lihat?" tanya Sehun lagi, tau-tau pria itu sudah berdiri di sampingnya.
Luhan menunjuk lampu-lampu yang berpendar di bawah sana dengan jari telunjuknya. "Lihat, itu begitu indah, kan?"
Sehun menghela napas ringan. "Tidak juga,"
Bibir gadis itu mengerucut lucu. "Ya itu karena kau sudah melihatnya setiap hari,"
Sehun tertawa renyah. "Mau kubuatkan makanan?"
"Aku tidak lapar,"
"Tapi kau belum makan,"
Luhan menoleh kearah pria itu, dan saat melihat mata Sehun, kembali, ia terjebak di dalamnya. Sehun memandanginya dengan tatapan mata berbinar yang tak bisa Luhan pahami. Ia tak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran pria itu, raut wajahnya sama sekali tak bisa ditebak.
"Aku tidak lapar, Sehun," ia mengulangi perkataannya dengan lembut, seulas senyum singkat tercetak di bibirnya.
Sehun hanya mengangguk, seolah pria itu baru saja tersadar dari lamunannya, dan Luhan semakin penasaran dengan apa yang ada dalam pikirannya.
"Kau mau ganti baju dulu?" pria itu kembali bersuara, senyumnya lenyap.
Luhan mengernyit. "Kenapa? Baju ini tidak cocok ya?" ia menundukkan kepala untuk melihat gaun Baekhyun yang menempel pada tubuhnya.
Sehun menggeleng cepat-cepat. "Hanya tidak ingin kau kedinginan," dan Luhan memandanginya dengan mata membulat. "Apa aku belum pernah mengatakan padamu bahwa kau sangat cantik, Luhan?"
Apa kau bilang?
Belum sempat Luhan pulih dari keterkejutannya saat mendengar kalimat itu keluar dari bibir Sehun, pria itu mengulurkan tangannya ke depan untuk membelai pipi Luhan yang terasa sangat dingin. Telapak tangan Sehun yang hangat harusnya membuat Luhan nyaman, tapi jantung gadis itu malah menggila.
Terlebih saat tatapan mata elang itu seolah menguncinya, Luhan sama sekali tidak bisa bergerak –bahkan tidak bisa berpikir jernih.
"Sehun," Luhan berbisik dengan suara nyaris habis.
Pria itu sama sekali tidak tersenyum, tapi ia tau kakinya melangkah mendekat, bodohnya Luhan sama sekali tak bisa bergerak untuk mundur dan menghindar. Dan saat Sehun mendekatnya wajahnya, Luhan menahan napas.
Tanpa sadar, matanya terpejam.
Dan detik selanjutnya, debaran dijantung Luhan semakin gila. Sehun menciumnya, pria itu dengan tidak sopan menempelkan bibir panas pada bibirnya, seharusnya Luhan menolak. Seharusnya ia mendorong tubuh Sehun menjauh dan menampar pria itu karena sudah mencuri ciuman pertamanya.
Tapi dengan detak jantung seperti ini, Luhan tak bisa melakukan itu.
Bibir Sehun yang panas dan lembut bergerak perlahan di permukaan bibirnya dan Luhan tak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia pernah menonton film dan bagaimana tokoh dalam film itu berciuman, tapi sekarang, seolah bibirnya tak bisa bergerak.
Luhan mematung sementara Sehun menciumnya dengan lembut.
Jantungku bertahanlah.
Sehun sedikit mencengkeram wajahnya, ia memiringkan kepala dan mencium Luhan lebih dalam lagi. Takut-takut, gadis itu meremas ujung kemeja Sehun, bukan apa-apa, seluruh saraf di tubuhnya seolah melemas dan ia hanya butuh pegangan agar tidak jatuh.
Detik berikutnya, Sehun melepaskan tautan mereka, dan Luhan membuka mata. Ia bisa melihat wajah Sehun yang diliputi kebingungan. Gadis itu memandangi Sehun lekat-lekat, tidak tau harus bicara apa, jadi ia hanya diam sambil menunggu Sehun mengatakan sesuatu.
"Luhan, itu tadi, aku–," Sehun sedikit tergagap, ia gugup saat melihat Luhan seolah sedang menghakiminya sekarang. "Maaf aku tidak –Ya Tuhan apa yang sudah kulakukan?" Sehun nyaris berbisik. "Maaf, Luhan. Aku sempat minum beberapa gelas dan ya, sepertinya otakku sudah gila," Sehun benar-benar gugup sekarang.
"Sehun," gadis itu masih menatap Sehun tepat di mata.
"Ya?" bisiknya, terdengar takut-takut.
"Aku tidak menyesal kau menciumku," dan Sehun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Ini sudah terlanjur, kan?
.
.
TBC
.
.
Lalalalalalala hepiniiiiiisss~
Sudah meninggalkan cerita ini lama banget, sekalinya update malah seperti begini ini.
Au ah, maapin yha readers semuanya (sudah siap dimarahin kok ini Authornya, hahaha)
Jadi ini tadi kan Authornya lagi mau buka folder skripsi, nah kebetulan folder FF tuh tetanggaan sama folder skripsi, iseng-iseng buka, eh taunya malah jadi satu chapter. Gapapa kan, ya? Hehe.
Maaf kalo ini kurang greget. Author berharap masih ada yang mau baca dan nungguin cerita ini.
Memang ini alurnya dibuat agak lambat, ya namanya juga lagi PDKT kan ya. Intinya di FF ini Author pengen bikin yang fluffy-fluffy, semoga aja nggak gagal, karena apa? Karena kebanyakan FF lolipopsehun gada yang fluffy-fluffy kaya begini.
Semoga ada ini tidak mengecewakan.
Untuk yang masih membaca, yang masih menunggu, silahkan tinggalkan komentar dan saran di kolom review ya~
Author tunggu lo.
Itu aja lebih kurangnya mohon maaf. Terima kasih sudah membaca.
With love,
lolipopsehun
