Hai semua /tebar bunga/

(Author pasang tampang tanpa dosa karena sudah menelantarkan FF ini berbulan-bulan lamanya –dan semua FF lolipopsehun)

Maaf ya semua

Kalau ada yang lupa ceritanya silahkan dibaca chapter sebelumnya

loveyou

Selamat membaca

.

.

Luhan hanya bisa diam sejak kejadian paling mengejutkan terjadi beberapa saat lalu.

Ya, saat Sehun tanpa sopan menciumnya di balkon apartemen ditengah angin tengah malam yang bertiup kencang. Ia tak tau apa yang ada di dalam pikiran Sehun saat itu dan juga tak tau mengapa Sehun melakukannya.

Tap ia rasa memang pria itu sedikit kurang sadar.

Helaan napas Luhan kembali terdengar, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Bagaimanapun ia berusaha melupakan kejadian tadi dan fokus pada makan malamnya yang sejak tadi belum tersentuh, ia sama sekali tak bisa melupakannya.

Kejadian itu terulang-ulang kembali di dalam otak tumpulnya.

Diputar ulang seperti rekaman film lama.

"Ada masalah, Luhan?" suara Sehun yang sehalus beledu nyatanya nyaris membuat Luhan terkejut.

Sehun duduk di depannya dengan tenang, dengan kedua tangan memegang alat makan dan bibir yang mengunyah perlahan. Tatapan mata elangnya menatap Luhan seolah sedang meminta penjelasan tanpa suara.

Dan dengan satu gelengan ringan Luhan tersenyum tipis padanya.

Suasanya canggung yang luar biasa membungkus keduanya sejak awal dan sekarang semakin parah saja.

"Apa makanannya tidak enak?"

Dengan cepat kepala gadis itu menggeleng. "Tidak, kok," ia tersenyum canggung, berusaha menghilangkan kegugupan meskipun itu gagal sejak detik pertama.

Kekehan ringan keluar dari bibir Sehun, terdengar sedikit kaku meskipun ia berusaha membuat itu tidak terlalu kentara. "Kau tampak sedang memikirkan sesuatu,"

"Kyungsoo," satu kebohongan yang bisa Luhan buat dengan cepat adalah dengan menyebut nama Kyungsoo. "Aku sedikit khawatir dengannya," ia menambahkan dengan satu senyum manis untuk Sehun.

Dan hanya dengan menatap mata pria itu saja, jantungnya sudah berdegup lebih cepat.

Sebelah alis Sehun terangkat dan Luhan cepat-cepat menundukkan kepala karena sadar sudah terlalu lama memandangi Sehun dengan tatapan takjub yang bodoh.

"Kau khawatir dengan Jongin?"

"Sedikit," Luhan kembali berbisik dan tawa renyah Sehun terdengar mengalun indah. Tanpa sadar ia kembali menatap pria itu sambil berusaha menghabiskan lasagna yang sejak tadi hanya tersentuh sedikit.

Makanannya semakin dingin tapi senyum Sehun semakin hangat.

"Jongin pasti akan mengantarkan Kyungsoo dengan selamat sampai rumah,"

Luhan hanya menganggukkan kepala dengan senyum tipis, kemudian menyelesaikan makanannya dengan rapi, sementara Sehun sudah beranjak untuk mengambil piring kosong di depan gadis itu.

"Biar aku yang mencuci piring," ucap gadis itu dengan suara yang terdengar seperti bisikan.

Sehun tersenyum manis, kemudian menyentuh ujung hidung Luhan dengan gemas, sementara ia tetap mengambil piring kotor dari hadapan gadis itu. "Duduk yang manis sementara aku akan membuatkan susu hangat untukmu," bisiknya, kembali tersenyum manis dan beranjak dari hadapan Luhan.

Jantungku bertahanlah.

Luhan menuruti perintah pria itu dan duduk tenang dengan jantung yang masih berdetak kencang. Ia hanya bisa memandangi punggung Sehun yang sedang sibuk dengan bak cuci piring. Dalam hati bertanya-tanya apakah ia sudah gila karena hanya dengan melihat punggung Sehun saja sudah membuat hatinya berdetak lebih cepat.

Aku pasti sudah gila.

Jatuh cinta sangat melelahkan.

"Luhan," ucap Sehun dan suara lembutnya cukup membuat Luhan tersentak kaget. Sungguh reaksi yang berlebihan jika dia tidak melamunkan pria itu sejak tadi. Sehun sedikit menoleh ke belakang dan tersenyum padanya. "Tumben sekali kau tidak banyak bicara," ucapnya dengan suara lembut, jemarinya masih sibuk mengaduk sesuatu di dalam gelas.

Tidak, Sehun. Aku sangat cerewet sebenarnya.

Hanya saja, kau selalu membuatku terdiam.

Luhan hanya tersenyum kaku, sedikit malu-malu. "Tidak juga,"

Sehun mengangkat bahu sedikit, berjalan kearahnya dengan membawa dua gelas susu cokelat, kemudian memberikan satu gelas dihadapan Luhan. Ia menarik kursinya kembali untuk duduk di tempat sebelumnya dan memandangi gadis itu lekat-lekat.

"Kyungsoo bilang kau bukan tipikal gadis pendiam,"

Dan Luhan nyaris tersedak saat mendengarnya, ia sedikit batuk-batuk sebelum berusaha membersihkan tenggorokannya. Dalam hati sudah mengutuk Kyungsoo karena gadis sialan itu selalu membicarakan tentang dirinya dihadapan Sehun.

"Aku hanya tidak pandai menemukan topik pembicaraan," sahut Luhan, kembali meminum cokelat hangatnya lagi.

Sehun menganggukkan kepala beberapa kali. "Apa kau tidak penasaran denganku?"

Sangat penasaran, Oh Sehun.

Ada jutaan pertanyaan tentangmu yang sudah menumpuk dalam otakku.

Tapi aku tak bisa mengatakannya.

Senyum Luhan terlihat canggung. "Hanya saja, aku tidak ingin mencampuri urusan orang lain,"

"Apa menanyakan sesuatu tentang temanmu berarti mencampuri urusannya?"

Teman?

Kau temanku, Sehun?

Luhan hanya diam, menatap Sehun yang tampak masih dengan senang hati memasang senyum sambil melihat wajahnya. Semakin lama menatap pria itu, semakin pula debaran dalam hatinya tidak bisa terkendali.

Entah sudah berapa kali dalam hidupnya ia menatap Sehun secara langsung, tapi tetap saja jantungnya menggila.

"Kuberi kau tiga kesempatan untuk bertanya tentang diriku, Luhan,"

Alis Luhan terangkat bingung. "Untuk apa?"

Sehun terkekeh. "Aku sudah tau banyak tentangmu dari Kyungsoo dan sekarang giliranmu. Kau boleh bertanya apapun,"

Apa kau merasa bahwa aku selama ini sangat tertarik padamu, Oh Sehun?

Kerutan dikening gadis itu menandakan ia sedang berpikir. "Aku hanya penasaran bagaimana pekerjaan seorang dokter,"

Sehun sedikit berpikir –atau berpura-pura berpikir. "Itu bukan pertanyaan tentangku, Luhan. Itu pertanyaan tentang bagaimana menjadi seorang dokter. Itu perrtanyaan tentang pekerjaanku,"

"Apa tidak boleh?"

Tawa Sehun kembali mengalun indah. "Kau benar-benar ingin tau atau kau tidak bisa menemukan pertanyaan lain?"

Opsi kedua, sebenarnya.

Luhan hanya mengangkat bahu sambil kembali menyesap susu cokelat hangatnya. Pikirannya melayang jauh entah kemana saat matanya bertatapan dengan mata elang Sehun yang seolah menyiratkan ribuan pertanyaan yang bahkan tak bisa ia tebak sama sekali.

Sungguh, yang ingin ia tau hanya apa yang ada di dalam pikrian Sehun, itu saja.

"Menjadi dokter tidak semenyenangkan dan sekeren kelihatannya," ucap Sehun dan itu membuat lamunannya buyar seketika. Gadis itu mengerjap beberapa kali berusaha memahami ucapan Sehun.

"Oh ya?" itu adalah satu-satunya jawaban bodoh yang bisa keluar dari bibir mungilnya.

Dan iya menyesal karena memandangi pria itu lagi seperti orang bodoh untuk kesekian kalinya malam ini.

Sehun menjawabnya dengan anggukan singkat. "Setiap hari kami selalu berurusan dengan nyawa manusia dan kesalahan sedikit saja bisa membuat orang lain terbunuh,"

"Kupikir itu pekerjaan yang menyenangkan," Luhan terkekeh geli.

"Ya, menyenangkan jika kau melihat kehidupan dokter dalam film atau drama roman picisan yang penuh bualan," Sehun menambahkan dengan tawa renyah. "Kau tau bahkan aku harus lari ke rumah sakit di hari libur,"

"Ya, seperti beberapa hari lalu," suara Luhan terdengar mengenang.

Sehun hanya menyetujui dengan anggukan singkat. "Jadi," pria itu menggantungkan ucapannya, menunggu Luhan menarik kepala untuk menatapnya. "Apa itu sudah menjawab pertanyaanmu?"

Luhan tersenyum tipis. "Sudah," bisiknya dengan suara teramat pelan.

"Kau ada pertanyaan lagi?" Luhan berpikir sejenak, kemudian ia menggelengkan kepala. "Kalau begitu biar aku yang tanya,"

Tanpa alasan yang jelas, debaran di jantungnya kembali muncul dan perasaan tak nyaman itu sungguh membuat tak tenang.

"Kau masih ingat saat aku bilang ingin mengenalmu lebih jauh?" tanya Sehun. Kening Luhan berkerut dalam, hatinya bertanya mengapa Sehun membicarakan hal itu sekarang.

"Ya, aku ingat, Sehun,"

Pria itu tersenyum simpul, perlahan mengulurkan sebelah tangan untuk meraih tangan Luhan yang masih memegang gelasnya. Sehun menggenggam erat tangan gadis itu dan membuat detak jantungnya menggila. Luhan menatap mata Sehun takut-takut, sementara pria itu tersenyum manis.

"Aku tidak tau apa ini terlalu kekanakan," Sehun berhenti sebentar untuk terkekeh ringan. "Tapi kurasa aku ingin menjalin hubungan yang lebih serius denganmu, Luhan,"

Apa kau bilang?

Aku tidak salah dengar, kan?

Sehun.

Sehun menyadari keterkejutan dalam diam Luhan, gadis itu hanya mematung memandangi Sehun seolah-olah tidak memahami ucapan pria itu sama sekali. Dan mungkin memang jiwa gadis itu tidak menyatu dengan raganya sekarang.

Bagaimana bisa Sehun mengatakan hal ini?

"Sehun, mungkin Kyungsoo sudah mengatakan padamu–,"

"Ya, Kyungsoo mengatakan semuanya," Sehun memotong ucapan gadis itu, senyumnya masih mengembang. "Aku tau kau memang tertarik padaku, Luhan,"

Kyungsoo sialan.

Seketika Luhan menundukkan kepala menghindari tatapan Sehun. Sungguh kalau boleh jujur, Luhan benar-benar malu sekarang. Jika Kyungsoo mengatakan hal itu pada Sehun, bisa jadi apa yang pria itu katakan hanya untuk membesarkan hatinya.

Hanya agar Luhan merasa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

"Luhan," bisik Sehun, sebelah tangannya terulur untuk menyentuh wajah gadis itu dan mau tak mau Luhan mengangkat wajahnya, kembali menatap Sehun.

Demi Tuhan, jantungku bertahanlah.

Oh Sehun dengan segala yang melekat pada tubuhnya memang masih menjadi kelemahan Luhan.

"Sehun, aku–," Luhan tidak bisa menemukan sepatah katapun.

Sial.

Sehun kembali tersenyum, sebelah tangannya mengusap pipi Luhan dengan lembut. "Sejak pertemuan pertama kita, aku benar-benar sudah ingin mengenalmu lebih jauh, Luhan,"

Apa kau bilang?

Luhan berusaha menemukan suaranya, ia berdeham gugup, dan sentuhan pria itu menghilang dari pipinya. "Saat aku masuk UGD?"

"Kau pikir itu pertemuan pertama kita?"

Luhan berpikir sejenak. "Ya?"

"Bukan. Jauh sebelum itu,"

Luhan nyaris membuka mulutnmya saat menyadari satu hal yang sama sekali tak ia kira sebelumnya. "Sehun apa–,"

"Ya, pertemuan pertama di ruang kesehatan kampus saat upacara penerimaan mahasiswa baru. Aku mengira kau nyaris pingsan dan memberimu minum. Saat itu aku sudah memperhatikanmu, Luhan. Dan kita kembali bertemu di UGD," Sehun terkekeh ringan, jemarinya mengusap tangan Luhan dengan lembut. "Apa kau percaya takdir?"

Apa kau percaya ini nyata, Oh Sehun?

.

.

Luhan masih belum bisa sadar sejak kejadian semalam itu. Hari sudah berganti nama tapi pikirannya masih saja berkutat diseputar kemarin. Bahkan saat Sehun mengantarkannya pulang tepat sebelum matahari muncul, ia sama sekali belum bisa memejamkan mata.

Pikirannya kacau.

Bahkan saat Sehun mengiriminya banyak pesan singkat melalui ponsel, ia juga tak banyak merespon.

Entahlah seharunya Luhan senang dengan semua ini, setidaknya, cinta yang selama ini dianggapnya hanya bertepuk sebelah tangan, ternyata salah.

Sehun mengatakan ingin memulai hubungan yang serius dengannya.

Bukankah itu bagus.

Tapi entah mengapa seolah itu masih terlalu cepat baginya, Luhan sama sekali tidak bisa membuat hatinya sendiri tenang dan menerima semua ini dengan suka cita.

Bukannya perasaannya pada Sehun berubah, hanya saja, semua masih sulit diterima akal sehatnya.

Sehun menyebutnya takdir, meskipun itu membuat Luhan bingung, bagaimana seorang dokter mempercayai hal seperti itu.

Takdir, dia bilang.

Baginya ini bukan seperti takdir yang Tuhan gariskan, mungkin ini lebih seperti kebetulan atau rasa iba Sehun padanya.

Luhan masih belum bisa menentukan diantara dua kemungkinan itu.

"Luhan," suara Baekhyun terdengar melantun keras dari luar kamarnya dan itu membuatnya memutar bola mata sebal.

"Ya?" sahutnya asal.

"Kau tidak kuliah, sudah jam sembilan," Baekhyun berdiri di depan kamarnya dengan menyilangkan kedua tangan.

Sungguh, kelakuan Baekhyun kadang mengingatkannya pada sosok ibu yang cerewet.

Luhan hanya menggeleng ringan, kembali memejamkan mata yang sebenarnya sudah lelah tapi kantuknya tak kunjung datang. "Aku akan ambil kelas sore,"

Desahan napas Baekhyun terdengar, Luhan mendengar suara langkah gadis itu mendekat tapi ia terlalu malas untuk membuka mata atau keluar dari selimut tebalnya.

"Apa yang Sehun lakukan padamu sih?"

"Apa yang kau bicarakan?" ucapnya malas.

Baekhyun mendesah ringan. "Kyungsoo bilang kau diam sejak tadi pagi. Bahkan Sehun mengantarkanmu pulang nyaris pagi. Apa terjadi sesuatu?"

"Tidak ada apa-apa," sahutnya cepat sebelum gadis itu kembali mengoceh lebih jauh lagi.

Suara kekehan ringan Baekhyun membuat Luhan dengan malas membuka mata dan menatap gadis mungil itu. "Sungguh tak ada yang terjadi anatara kalian berdua?"

Ada, Baekhyun.

Banyak.

"Tidak ada," Luhan menyudahi perdebatan ini dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Kemudian ia mendesah ringan saat mendengar suara langkah Baekhyun menjauh dan mendengar pintu tertutup perlahan.

Ia butuh banyak waktu untuk memikirkan semua kegilaan ini.

Sendirian.

.

.

LUHAN POV

Senja yang menjemput mau tak mau membuatku beranjak dari ranjang, mempersiapkan diri menemui kewajibanku yang lain. Kalau bisa, sekali saja, aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak untuk berbaring dan berlarut-larut masuk dalam pikiran bodoh itu.

Beranjak pergi memang sangat melelahkan, tapi memikirkan hal konyol lebih menyiksa lagi.

Berkutat dengan kemacetan ibukota di sore hari yang nyaris tidak terurai sama sekali, seolah lupa bagaimana rasanya menginjak pedal gas dalam-dalam, aku nyaris menyerah.

Sempat terlintas dalam benak untuk mengakhiri kegilaan ini dengan menepikan mobil dan berjalan menuju kampus tanpa peduli terlambat atau tidak.

Ah, terlambat terdengar sangat menyenangkan sekarang ini.

Yah, tapi setidaknya aku sudah mencoba melakukan kewajibanku kan.

Aku mendengus lagi, mulai menginjak pedal gas perlahan saat antrian mobil di depan sedikit demi sedikit bergerak. Aroma kopi mulai menyerang indera penciumanku saat kubuka penutup gelasnya. Segelas cappuccino hangat nyatanya juga tak bisa mengusir semua pikiranku tentang semua ini.

Tentang Sehun.

Tentang diriku sendiri.

Semua akan baik-baik saja.

Aku hanya bisa berusaha memengaruhi otakku sendiri untuk memikirkan hal indah dan berharap memang semuanya akan baik-baik saja.

Sebenarnya tidak ada alasan yang cukup logis hingga membuatku serisau ini, semuanya bahkan sama sekali bukan masalah sebenarnya.

Sehun mengakui perasaannya padaku, oh sebenarnya itu hal bagus.

Sehun mengatakan ingin mengenalku lebih jauh lagi, itu hal yang kuinginkan sejak lama.

Hanya saja, rasanya, semua ini terlalu cepat.

Seolah ada petir yang menyambar kepala Sehun semalam dan membuatnya memiliki pemikiran seperti itu.

Itu hal bagus, tapi tetap saja, seperti hal yang salah.

Tanpa sadar, tau-tau, aku sudah memasuki parkiran kampus yang nyaris penuh di sore hari. Sekilas melirik jam pada ponsel, sepertinya masih ada beberapa menit sebelum kelas benar-benar dimulai.

Merutuki keberuntunganku sore ini –yah, aku berharap terlambat dan diusir dari kelas, sebenarnya– aku berusaha menemukan ruang pertunjukan dimana kelasku dimulai.

Satu hal yang paling kubenci dari kuliah bersama adalah terlalu banyak orang di dalam satu ruangan besar. Dan yang paling bodoh adalah semua orang hanya mendengarkan penjelasan dari satu orang di tengah panggung seolah sedang menontong opera sabun.

Ini gila, dan membosankan tentu saja.

Jika ini bukan kelas penting, berani bertaruh tidak akan ada orang yang datang.

Memasuki ruang pertunjukan yang nyaris penuh, dengusan ringan tanpa sadar kembali keluar dari bibirku sendiri. Beberapa kali berusaha menemukan kursi kosong –atau menemukan wajah-wajah orang yang mungkin kukenal, tapi aku tak menemukan apapun.

Hanya ada beberapa kursi kosong di deretan paling atas –yang juga artinya paling jauh dari panggung pertunjukan.

Ini menyebalkan.

Berusaha melewati beberapa orang sambil berusaha tidak menginjak kaki-kaki mereka, aku berhasil mendaratkan pantatku pada kursi paling ujung, sengaja memberikan jarak beberapa kursi dengan orang-orang karena kurasa aku akan tidur di sepanjang kuliah.

Dari sini saja, mustahil untuk bisa mendengarkan dengan jelas ucapan dosen, belum lagi suara berisik dari deretan kursi depan.

Tanpa sadar, kembali, satu dengusan sebal keluar dari bibirku, kutarik meja kayu yang menempel pada bagian bawah kursi, meletakkan beberapa buku di atas sana dan berusaha mencari headset dari dalam tas.

Musik sangat luar biasa didengarkan saat bosan.

Dan saat risau, tentu saja.

Lampu sedikit agak redup, jauh di bawah sana, pengajarku masuk dengan pengeras suara menempel pada pipinya, ia menyapa kami semua dan tanpa menjawab, kujejalkan headset ke dalam telinga sambil berusaha mencari musik yang pas untuk sore ini.

Seorang pria yang duduk di samping kursiku mau tak mau membuatku sedikit menggeser tubuh. Dalam hati merutuki mengapa dari beberapa kursi kosong yang masih ada, ia harus duduk di sampingku.

"Kau harusnya mendengarkan apa yang professormu bicarakan,"

Suara lembut seorang pria yang tidak asing menembus telingaku, membuatku diam membeku selama beberapa detik.

Ragu-ragu, menimang antara iya dan tidak, aku menoleh dan benar saja, mataku menangkap gambaran seorang pria yang sejak tadi bermain-main dalam kepala.

Mimpikah, ini?

"Oh Sehun?" aku berbisik, dan Sehun cepat-cepat menaruh telunjuk di depan bibir, mengisyaratkanku untuk diam.

Beberapa orang di barisan kursi depan juga menoleh kearahku dan dengan bodoh aku baru menyadari ternyata suaraku melengking tinggi.

Sehun tersenyum kepada orang-orang itu sambil membisikkan kata maaf beberapa kali hingga membuat mereka kembali menatap kearah depan, sementara aku masih tidak bisa menemukan suara. Bahkan untuk bergerak saja, rasanya sulit.

Perlahan, seperti gerakan robot yang kaku, aku menarik headset dari telinga, menggeser tubuh sedikit untuk menatapnya, sambil dalam hati menyakinkan diri beberapa kali bahwa ini bukan mimpi.

Sama sepertiku, Sehun juga menggeser tubuh hingga kami bertatapan.

"Apa yang kau lakukan disini?" kali ini, aku benar-benar berbisik, tidak terlalu bodoh untuk mengulangi kesalahan dua kali.

Apalagi di depan Sehun.

Sehun tersenyum simpul, mengulurkan jemari dan menyentuh ujung hidungku dengan telunjuknya. Jemarinya terasa dingin dan itu benar-benar membuatku yakin ini bukan mimpi.

Ya Tuhan, ini nyata.

Tanpa sadar, jantungku mulai kehilangan ritme normalnya.

Oh Sehun sungguh bisa membuat debaran.

"Memastikan kau tidak membolos hari ini,"

Aku mendengus ringan, mengernyit padanya. "Baekhyun mengatakan sesuatu?"

Sehun mengangkat bahu, memalingkan wajah dariku. "Dia tidak mengatakan apapun," bisiknya dengan suara lembut. "Hanya saja, aku ingin melihatmu sore ini," ia kembali tersenyum, menatapku tepat di mata.

Apa kau bilang, Oh Sehun?

.

.

Jika tadi sejak awal pertama aku ingin tidur di dalam kelas, sekarang rasanya aku sedang berusaha melawan kantuk agar tidak menjatuhkan kepala seperti orang bodoh di atas meja.

Salahku memang, mengapa tidak tidur semalaman dan hanya tidur siang beberapa jam. Rasanya tubuhku sakit semua sekarang.

Berbeda denganku yang berusaha tidak terlelap sejak tadi, Sehun dengan antusias mendengarkan apa yang professorku ucapkan di depan sana. Entah apa yang merasuki pikirannya saat ini, katanya ia terlalu penasaran dengan mata kuliah lain.

Mungkin otaknya yang terlalu cerdas atau aku yang terlalu malas.

Beberapa kali aku bisa merasakan Sehun memandangiku atau sedikit menyenggol tanganku. Entah untuk sekedar menyadarkanku dari lamunan –dan bahkan nyaris ketiduran, atau menyuruhku untuk mendengarkan.

Sungguh, aku bosan.

Sehun bahkan menanyakan sesuatu tentang kuliah sore ini dan itu hanya membuatku mendengus ringan, menggelengkan kepala seolah-olah tak mengerti. Menjelaskan padanya lebih membuat tenaga terkuras.

Memang, seperti beberapa kali kejadianku bersama Sehun, pria itu memiliki sisi membosankan yang sangat mendominasi.

Sehun benar-benar bisa bertahan lama dalam keheningan dirinya sendiri. Dia bisa saja diam berjam-jam dan mendengarkan celotehan membosankan dari professor yang bahkan suaranya saja tidak bisa kudengar dengan baik dari sini.

Dan ia akan mengangguk-anggukan kepala sebagai respon, terkadang bibir mungilnya terkekeh ringan menanggapi lelucon kuno yang sama sekali tidak lucu.

Kembali, napas berat untuk kesekian kalinya hari ini keluar dari bibirku.

Sehun benar-benar mimpi buruk, hanya saja, dia terlihat seperti mimpi indah dari luar.

Saat tadi pertama kali kulihat dia di ruangan ini, jujur saja, otak dangkalku ini sudah membayangkan kencan dengannya. Entahlah, mungkin seperti campus couple yang sering kulihat dimana-mana, seperti secret date di dalam kelas.

Awalnya, membayangkan itu saja, aku sudah berdebar.

Tapi nyatanya, semua tidak terjadi seperti yang kupikirkan.

Tentu saja, itu bukan gaya Sehun sama sekali.

Mungkin bukan gayaku juga, tapi bagaimanapun aku kan cuma gadis biasa. Imajinasiku tentang kencan romantis dan juga pria idaman juga selalu membayangi.

Wajar saja.

Sehun menepuk punggung tanganku beberapa kali, berusaha menyadarkanku dari lamunan tentangnya dan aku tersenyum kikuk –kuharap wajahku tidak tampak seperti keledai bodoh sekarang.

"Kelas sudah selesai," bisiknya.

Dan kembali, dengan bodoh, kepalaku menengok sekitar. Beberapa orang memang sudah berdiri dan merapikan peralatan mereka.

Demi Tuhan, apa saja yang kupikirkan hingga melewatkan semua ini.

"Kau sakit, Luhan?"

Apa kau bilang?

Gelengan kepalaku terasa cepat dan aku sendiri tidak bisa mengendalikannya. Mata Sehun seolah menelusuri wajahku dari ujung kening hingga dagu. Dan aku tidak cukup bodoh untuk menyadari ia berhenti agak lama untuk memandangi bibirku.

Tanpa sadar, aku menggigit bibir bawahku.

Entahlah, mungkin sebuah reaksi spontan untuk mempertahankan diri. Bukannya menganggap Sehun apa-apa, hanya saja, bayangan tentang apa yang Sehun lakukan padaku semalam kembali muncul dalam kepala.

Dan itu membuatku tak nyaman.

Sadar aku terlalu lama menjawabnya, Sehun mengulurkan tangana dan menempelkannya pada keningku, aku mengernyit. Berusaha tidak menghindar meskipun tubuhku tanpa sadar melakukannya.

"Kau tidak demam,"

Aku tersenyum canggung, membiarkan tangan Sehun lenyap dari keningku.

"Aku baik-baik saja,"

"Kau tampak pucat,"

Sial, jika tau Sehun akan datang, aku akan memakai liptint atau apalah setidaknya agar bibirku tidak terlihat sangat pucat.

Aku mengangkat bahu. Kemudian, membiarkan Sehun berdiri dan membimbingku keluar ruangan.

"Mau makan setelah ini?" suara Sehun seolah ia sedang bicara dengan dirinya sendiri.

Aku tersenyum. "Kau tidak bekerja?"

Kepala pria itu menggeleng ringan. "Aku sudah membayar semua jam lemburku kemarin-kemarin, jadi hari ini aku bebas,"

"Wah pasti menyenangkan," aku tidak bisa menyembunyikan rasa iri dalam suaraku dan itu membuat Sehun terkekeh.

"Dimana kau parkir?" tanya lagi dan tanpa sadar aku menunjuk ke arah selatan. Sehun mengulurkan tangan dan membuatku mengernyit bingung. "Kemarikan kuncimu, aku tidak bawa kendaraan hari ini, jadi biarkan aku menumpang," ia tersenyum lebar.

Sungguh, ia tampak konyol.

Dan ini aneh.

Kikuk, dengan senyum tipis terpaksa, kuberikan kunci padanya. Lagi-lagi senyum lebar menghiasi bibirnya.

"Dan kau akan diam disini hingga malam?"

Aku mengerjap, terkekeh ringan untuk menyadarkan diri dari lamunan tidak penting.

Sungguh, kurang tidur bisa membuatmu bukan seperti dirimu sendiri.

"Memangnya kau kesini naik apa?" tanyaku saat kami kembali berjalan.

Aku benci keheningan yang menyiksa, sebenarnya, jadi anggap saja ini basa-basi tidak penting.

"Aku bersama Jongin tadi,"

"Dan kenapa kau kesini?"

Sehun memandangiku dengan cengiran lebar, kemudian membukakan pintu mobil untukku saat kami sampai. Sebelum menutup pintu, ia berbisik lirih. "Sudah kubilang kan, aku hanya ingin melihatmu, Luhan,"

Aku benar-benar bisa gila.

.

.

Rasanya aku benar-benar sudah terlelap sejak tadi saat Sehun selesai membelikanku makan dan memintaku mengantarnya pulang. Bukan tanpa alasan, tapi rasanya aku benar-benar ketiduran sejak tadi karena otakku tak bisa mengingat apapun sejak keluar dari restoran Jepang.

Bahkan sekarang, aku berada di dalam mobilku sendiri yang terparkir di basement apartemenku sendiri. Aku sudah tersadar, hanya saja terlalu bodoh untuk menyadari hal ini dengan cepat.

Aku mengerjap beberapa kali, berusaha menyadarkan diri sendiri dan disaat yang bersamaan mesin mobil mati karena Sehun sudah berhasil parkir dengan rapi.

Aku meliriknya ragu-ragu, menutupi separuh wajah ke dalam kerah sweaterku yang tinggi. Ia menatapku dengan senyuman tipis, wajah tampannya tampak begitu menakjubkan di tengah lampu temaram.

Suara kekehan ringan keluar dari bibirnya, jemarinya sedikit mengacak rambutku dengan gemas, dan aku nyaris tersipu malu karena hal sepele itu.

"Maaf Sehun, seharusnya aku mengantarkanmu pulang," bisikku dengan suara parau mengerikan, kemudian tanpa sadar menguap lagi.

Detik berikutnya, saat Sehun tertawa lagi, aku mengutuki kebodohanku.

"Pasti lelah sekali ya?" dengan cepat aku menggeleng, Sehun kembali tersenyum. "Dan aku akan jadi pria paling jahat sedunia jika menyuruhmu mengantarkanku pulang,"

"Aku tidak begitu lelah kok, hanya saja, kelas hari ini membosankan dan juga aku kekenyangan," oke, itu tidak seratus persen dusta sebenarnya.

Sehun sedikit mencondongkan tubuh kearahku, mungkin berusaha mendengar apa yang kubicarakan karena sejak tadi suaraku terdengar sangat serak.

Dan jantungku tanpa ijin kembali bereaksi berlebihan.

Kalau bisa, kali ini saja, aku ingin jantungku bekerja normal.

Bukan apa-apa, suasana begitu hening dan Sehun begitu dekat hingga aku khawatir pria itu akan mendengar semuanya.

"Begitukah?" tanya Sehun lagi.

Aku meyetujui dalam diam. "Kau akan pulang sekarang?"

"Ya, aku akan menelepon Jongin untuk menjemputku setelah ini," Sehun melirik jam tangannya sekilas. "Sepuluh menit lagi jam kerja Jongin berakhir," ia menambahkan.

"Aku tidak keberatan kalau kau membawa mobilku, lagipula aku besok libur,"

Kening Sehun berkerut dalam. "Besok aku sibuk sekali, mungkin aku tidak bisa mengembalikannya padamu,"

Aku menimang-nimang, sebenarnya tidak enak hati pada Sehun karena aku berjanji akan mengantarnya pulang tapi malah berakhir ia yang mengantarkanku pulang.

"Sebenarnya bukan masalah, Sehun. Toh, besok Kyungsoo pasti akan menemui Jongin di rumah sakit, aku bisa menumpang padanya dan mengambil mobilku,"

"Dan kau harus benar-benar mengantarkanku pulang besok,"

Aku tertawa mendengarnya, kali ini sungguhan tertawa, dan Sehun membalas dengan kekehan panjang yang menyenangkan.

"Janji, aku akan tidur cukup malam ini dan siap mengantarkanmu pulang besok,"

Sehun tersenyum, jemarinya menyentuh ujung hidungku. Rasanya ini akan menjadi kebiasaannya, entah mengapa Sehun senang sekali melakukannya.

"Oke, kalau begitu sampai jumpa besok," ucapnya.

"Oke," aku tertawa kikuk. Sial, ini canggung sekali.

"Luhan," panggil Sehun saat aku baru saja meraih pegangan pintu mobil.

"Ya?"

Tanpa suara, ia mencondongkan tubuhnya ke depan, sedikit menarik tubuhku mendekat. Senyum tipis mengembang dibibir merah mudanya. Perlahan, bibir hangat itu menempel lembut di keningku, dan untuk beberapa saat duniaku melebur menjadi satu dengan Oh Sehun.

Aku tidak terlalu bisa mencerna apa yang terjadi karena debaran dijantungku semakin menggila.

Hanya beberapa detik –yang panjang– Sehun melepaskanku, ia tersenyum simpul, terlalu tampan untuk sekedar kulihat.

"Selamat malam, mimpi yang indah, Luhan,"

Ya Tuhan.

Sehun memang sudah membuatku gila.

.

.

TBC

Ini adalah permohonan maaf yang tulus dari lolipopsehun untuk semua pembaca karena sudah menelantarkan semua FF selama berbulan-bulan.

AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA.

Berikut adalah alasan yang akan Author jelaskan.

Pertama, Authornya sekarang sibuk kerja jadi jarang ada waktu luang. Kedua, kalau ada waktu luang, ide jarang muncul. Ketiga, kadang kalau ada waktu luang dan ada ide, pas mau nulis feel-nya hilang. Keempat, siklus ini terjadi berulang-ulang.

Jadi ya begitulah, akhirnya FF sering terbengkalai.

Semoga saja semakin kesini lolipopsehun semakin rajin update.

Ini untuk cerita ini memang alurnya dibuat lambat karena mungkin konflik dan penjelasan ada di chapter depan. Jadi chapter ini Author cuma pengen menceritakan proses PDKT dan kegalauan-kegalauan. Maaf kalo membosankan.

Chapter depan baru masuk pembahasan, anggap saja ini rumusan masalahnya. Uhuk.

Jadi untuk para readers yang masih setia menunggu dan memberikan komentar, Author ucapkan terima kasih banyak.

Terkadang, Author lupa kalau ada FF, ingetnya pas ada notif review masuk, hehe.

Mohon maap.

Terima kasih ya atas pengertiannya.

With love,

lolipopsehun