"Jadi sekarang hubunganmu sudah seserius itu ya dengan Sehun?" tanya Jongin pada Luhan saat ia menumpang pergi ke rumah sakit untuk bertemu Sehun dan mengambil mobilnya yang kemarin malam Sehun pinjam.

Dan sekarang ia agak menyesal karena Jongin tak berhenti mengoceh tentang hal-hal tidak penting. Ditambah lagi Kyungsoo yang hanya semakin memperkeruh suasana. Tau ini tidak akan berjalan baik sejak awal, harusnya sejak tadi ia naik taksi saja. Atau bahkan naik bus dan berdesakan dengan orang banyak akan lebih baik daripada harus menumpang dengan dua orang menyebalkan ini.

Ia memutuskan untuk diam sementara Kyungsoo tertawa dari kursi depan.

"Kau tidak tau ya, beberapa hari yang lalu bahkan mereka menghabiskan malam bersama," ucap Kyungsoo setengah berseru, terdengar sangat bersemangat.

"Benarkah?" Jongin menambahkan dengan suara semangat yang dibuat-buat.

Ini hanya membuatku mual.

"Bisakah kalian diam, tukang gossip," gerutunya, memutuskan untuk mengalihkan pandangan dan melihat kemacetan kota yang cukup panjang di sore hari.

Sungguh, kalau bisa ia ingin membuka pintu selagi mobil berhenti dan lari menuju subway bawah tanah. Ia sudah tidak sanggup lagi mendengarkan celotehan tidak penting kedua orang itu. Bagaimanapun juga, keputusannya untuk menumpang sore ini adalah sesuatu yang salah besar. Memang benar pepatah mengatakan penyesalan selalu datang terlambat.

Ia bahkan menyesal mengapa berniat mengambi mobilnya sekarang. Toh, ia juga tidak pergi kemana-mana malam nanti. Paling juga ia akan menemani Baekhyun mencoba resep-resep baru yang didapat dari internet, kemudian siap-siap sakit perut hingga pagi karena mencoba masakan Baekhyun yang lebih sering ia sebut dengan percobaan. Baekhyun selalu bisa mengubah dapur menjadi sebuah labolatorium, dengan ambisi meledak-ledak, tapi selalu gagal.

Tapi setidaknya, terjebak bersama Baekhyun semalaman untuk mencoba resep-resep mengerikan adalah hal yang lebih baik daripada harus terjebak dengan dokter tolol dan penggosip berisik seperti Jongin dan Kyungsoo.

Kadang terlintas dalam pikirannya, bagaimana bisa pria menyebalkan, tidak tau sopan santun seperti Jongin bisa menjadi dokter. Selama ini yang ada dipikirannya, seorang dokter adalah orang-orang kutu buku penggila belajar dengan kacamata tebal dan juga pakaian old fashion. Tapi, dilihat-lihat dari sisi manapun, Jongin itu bisa dibilang masuk kategori badboy.

Bisa juga badboy seperti dia menjadi dokter di rumah sakit besar.

Mungkin Jongin membayar banyak uang untuk bisa masuk dan lulus sekolah kedokteran. Dan juga berapa juta won yang sudah ia habiskan untuk mendapat pekerjaan tetap di rumah sakit selama tiga tahun belakangan. Benar-benar, pria menyebalkan ini bukan tipikal dokter yang selama ini selalu bermain-main dipikirannya.

"Hey, Xiao Lu, kau mendengarku tidak sih?" gerutu Jongin saat ia benar-benar tak menghiraukan ucapan pria itu sejak tadi.

"Namaku Xi Luhan. Xi-Lu-Han," balasnya, kesal.

"Apa bedanya, sih?" Kyungsoo menambahkan, kemudian terkikik geli setelah melakukan highfive dengan Jongin.

Luhan mulai bertanya-tanya dalam hati apa mungkin hobi kedua pasangan itu memang menggodanya sampai ia benar-benar kesal dan meneriakkan ribuan umpatan dalam hati. Jika diingat-ingat tidak ada kenangan menyenangkan jika ia pergi bersama Jongin dan Kyungsoo.

Yang ada hanya kekesalan.

Itu saja.

"Aku kan cuma penasaran bagaimana hubunganmu dengan Sehun sebenarnya," masih bersikeras, Jongin kembali mendesak.

Ia menghela napas panjang, menggelengkan kepala beberapa kali dan kembali menatap keluar jendela, menghindari tatapan mata Kyungsoo yang seolah benar-benar ingin tau dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Sehun.

Sungguh, apa mereka tidak pernah belajar tentang bagaimana menghargai privasi seseorang.

"Aku dan Sehun hanya berteman, memangnya apa yang kalian harapkan?" ucapnya kesal, terlalu bosan untuk tetap diam.

"Apa kau berharap lebih dari teman?" desak Kyungsoo lagi.

"Tidak," jawabnya final, tanpa ekspresi, dingin dan terdengar sangat kesal.

"Eyyy, itu tidak mungkin," cibir Jongin. "Masa kau tidak mau sih berhubungan serius dengan Sehun?"

"Sebagai dokter, Sehun kan memang harus serius," balasnya, malas.

"Bukan itu maksudnya, bodoh," Kyungsoo mulai terdengar kesal. "Jongin bilang, Sehun itu tidak tau bagaimana mendekati seorang wanita. Jadi dia belum terlalu berpengalaman dibidang ini,"

"Bidang, kau bilang," balasnya kesal. "Tak bisakah kita berhenti membahas Sehun, aku mulai lelah mendengar celotehan tidak penting ini,"

"Kita kan hanya membantumu, Lu," Jongin membela. "Lagipula, Sehun juga tertarik padamu, kan?"

Kyungsoo mengiyakan dengan anggukan semangat.

"Sok tau," ia memutuskan mengakhiri perbincangan tidak jelas ini. "Ah, aku turun disini saja," ucapnya kemudian saat Jongin baru saja mengemudikan mobilnya masuk ke kawasan rumah sakit.

"Tempat Sehun bekerja masih di depan," bantah Jongin.

"Tidak masalah, aku bisa jalan sendiri," ia melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu saat Jongin sudah memberhentikan laju mobilnya. "Terima kasih, ya,"

"Oke, sampai ketemu di rumah nanti malam," sahut Kyungsoo, sebenarnya bingung melihatnya berlarian kearah luar rumah sakit.

Rasanya membelikan satu cup kopi untuk Sehun adalah ide yang bagus. Lagipula, ia kan tidak seharusnya menemui Sehun saat jam kerja, mungkin dengan membawakan satu gelas kopi hangat bisa membuatnya merasa lebih baik. Bagaimanapun Sehun pasti sibuk mengurusi pasien-pasiennya sekarang. Ia ingat saat pria itu mengatakan sudah harus mengurusi banyak operasi besar di tahun ketiganya.

Entah ia harus senang mendengar karir Sehun yang cemerlang atau malah semakin menganggap dirinya tidak pantas untuk Sehun karena hal itu.

Selesai membeli satu cappuccino panas, ia setengah berlari untuk menyeberang jalan dan kembali menemukan jalan masuk menuju rumah sakit. Ia harus berjalan kearah tulisan UGD dan menemukan Sehun dengan cepat sebelum kopinya dingin. Suhu diluar sudah mulai turun padahal musim seharusnya belum berganti sekarang.

Terkejut karena suara sirene ambulance yang baru saja lewat di depannya, ia menarik napas dalam-dalam dan berhenti melangkah, kemudian berdiri mematung saat beberapa orang berlarian menghampiri ambulance itu, membuka pintunya dengan cepat, dan mengeluarkan ranjang dorong dari sana.

Beberapa detik berlalu, ia bisa melihat dengan jelas Sehun berdiri diantara kerumunan itu. Terlihat sibuk sekali berbicara dengan pengemudi ambulance. Pria itu mencatat sesuatu, jas putihnya terlihat sangat cerah di tengah suasana senja yang mendung. Stetoskop menggantung dileher dan beberapa kali Sehun tampak mengangguk atau menggeleng. Kelihatannya sedang bertanya tentang kondisi pasien yang sudah masuk terlebih dulu.

"Sehun," ia nyaris berteriak, tapi Sehun mungkin tidak bisa mendengar itu.

Jauh di depan sana, Sehun malah berlari dengan cepat masuk ke dalam UGD. Melihat itu, bukannya kesal, Luhan malah tersenyum. Sehun yang barusan saja ia lihat tampak seribu kali lebih keren, seribu kali lebih tampan dan itu membuatnya cukup senang. Sungguh, melihat pria itu sibuk bekerja hanya membuat detak jantungnya semakin berdetak cepat.

.

.

"Permisi, boleh aku tau dimana ruangan Dokter Oh?" tanya Luhan pada seorang gadis berbaju putih di depan resepsionis UGD.

"Dokter Oh Sehun?"

"Ya," ia mengangguk, menambahkan satu senyuman manis untuk gadis di depannya yang tampak tidak bersahabat itu.

"Apa kau sudah membuat janji, Nona?"

Ia berpikir sejenak, mulai menimang-nimang apakah ia bisa menemukan ruangan Sehun tanpa harus bertanya kepada gadis jutek ini. Dulu ia pernah tidak sengaja ketiduran dan Sehun membawanya ke sebuah ruang kerja. Tapi otak tumpulnya tak bisa mengingat-ingat lagi dimana ruangan itu berada.

Lagipula, rumah sakit ini memiliki ribuan kamar.

"Ah, aku bukan pasiennya. Aku temannya, ada urusan yang harus kukerjakan dan aku tidak bisa menghubungi ponsel Sehun,"

"Oh begitu," ucap sang gadis tanpa senyum, ia melirik layar komputer untuk mencari nama Sehun, kemudian melihat jam dinding. "Dokter Oh ada jadwal jaga di lantai lima,"

"Oke, terima kasih," ia mengakhiri dengan satu senyuman singkat. Dalam hati sudah menyiapkan beberapa umpatan kesal untuk gadis itu. Bagaimana bisa gadis semenyebalkan itu menjadi petugas resepsionis.

Dengan langkah cepat dan berusaha menghindari keramaian, ia berjalan menuju lift. Suasana sore ini cukup padat di rumah sakit, mungkin waktu kerja beberapa orang sudah habis dan digantikan dengan orang lain. Ia bahkan harus berdiri cukup lama untuk sekedar masuk lift karena banyak orang yang berdiri lebih dulu di depannya.

Luhan cukup malas sebenarnya berurusan dengan rumah sakit, terlebih saat beberapa saat lalu ia cukup merasa trauma karena berusan dengan UGD dan rumah sakit. Sungguhan, meskipun kejadian itu yang membuatnya kembali bertemu dengan Sehun, tapi rasanya tak mau lagi ia mengulang kesalahan yang sama dan masuk rumah sakit.

Rumah sakit terlalu mengerikan untuknya.

Setelah cukup lama berdesakan di dalam lift yang cukup sempit untuk orang yang banyak, ia berhasil juga melangkahkan kaki di lantai lama. Cukup sulit baginya untuk menemukan ruangan dimana Sehun berada. Setidaknya, ia harus menemukan ruang dokter dan Sehun pasti ada disana.

Beberapa orang perawat lewat di depannya, mereka menggerutu tentang sesuatu yang tak bisa ia pahami. Melihat beberapa diantara mereka membawa botol infus kosong, pasti mereka selesai memeriksa pasien. Dengan insting yang cukup bagus, ia berjalan mengikuti gerombolan perawat berbaju putih itu. Jika tidak salah, kemungkinan mereka sedang menuju ruangan dokter atau ruang perawat.

Baru beberapa langkah berjalan mengikuti kumpulan perawat itu, pandangannya teralih pada sosok yang sangat ia kenal dengan baik. Pria tampan yang sudah lama mencuri hatinya itu ada disana. Sehun berdiri disana, bersama dengan seorang gadis yang duduk di atas kursi roda. Pria itu membungkukkan badan agar tinggi mereka sejajar.

Dan Luhan terlalu penasaran untuk melepaskan pandangannya dari pemandangan itu.

Jauh di depannya, tepat di depan sebuah kamar yang terbuka, ia bisa melihat dengan jelas Sehun berbicara dengan gadis itu. Wajah keduanya berseri-seri meskipun sang gadis tampak sangat pucat. Sekilas saja, ia bisa tau, gadis itu pasti pasien rumah sakit dengan pakaian putih dan juga botol infus menggantung rapi disamping tubuhnya.

Sehun sedikit tertawa, sepertinya berbicara dengan bahasa yang tidak ia pahami. Kemudian ia bisa melihat dengan jelas saat Sehun menepuk pundak gadis itu beberapa kali. Ia bahkan berjongkok, meraih tangan gadis itu yang tidak terpasangi selang infus. Senyuman mengembang dibibir Sehun, kemudian mata Luhan membulat sempurna saat melihat jauh di depan sana Sehun dengan lembut mengecup tangan gadis itu beberapa kali.

Kemudian memeluknya.

Luhan membalikkan tubuh, tanpa sadar, sebuah perasaan aneh muncul dari dalam hatinya. Kesal. Marah. Terlalu membenci apa yang baru saja ia saksikan. Sungguh, bodoh jika ia merasa Sehun benar-benar tertarik padanya. Ia lupa jika selama ini tak pernah bertanya pada Sehun apakah pria itu memiliki wanita lain.

Kekasih, misalnya.

Ia terlalu bodoh karena menganggap Sehun membalas perasaannya tanpa tau apa yang dilakukan pria itu ketika tidak sedang bersamanya. Sikap manis yang selama ini Sehun tunjukan, bukan jaminan bahwa pria itu benar-benar tertarik padanya.

Bahwa Sehun benar-benar ingin mengenalnya lebih jauh lagi.

Dan ia bisa merasakan bagaimana rasanya dihianati.

Oh, apa mungkin terlalu awal untuk menyebut Sehun miliknya. Toh, dari awal, hubungan keduanya belum jelas sama sekali. Jadi ia tak punya hak apapun untuk marah atau kesal dengan apa yang dilihatnya sekarang.

Kenyataan bahwa Sehun bersama gadis lain, yang meskipun itu pasiennya, tapi ia rasa belum ada seorang dokter yang memperlakukan pasiennya seperti itu. Dan ia tak terlalu bodoh untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi disini.

Luhan sadar, ia bukan satu-satunya untuk Sehun.

Sadar tidak seharusnya ia menghindari pemandangan itu, Luhan kembali membalikkan tubuh untuk melihat Sehun, tapi pria itu sudah tidak ada disana. Ia mengedarkan pandangan kesekeliling, tapi juga tak menemukan apapun.

Terlalu penasaran dengan apa yang dilakukan Sehun, ia berjalan ke tempat terakhir kali pria itu terlihat. Bagaimanapun juga, urusannya dengan Sehun harus segera selesai dan ia harus cepat-cepat pergi dari sini. Dan itu berarti juga mungkin ia akan pergi dari Sehun.

Menghela napas panjang, nyaris menyerah mencari kemana Sehun pergi, ia terkejut saat sebuah suara keras yang sudah dikenalnya dengan baik menggema di seluruh lorong rumah sakit yang sepi. Ia membalikkan tubuh, mencari sumber suara dan menemukan Sehun berdiri beberapa meter di belakangnya dengan senyum lebar dan melambaikan tangan penuh semangat padanya.

Kaku, ia membalas dengan senyum canggung, membiarkan Sehun berlari-larian kecil menuju arahnya. Tanpa sadar, ia menahan napas, otaknya mulai memikirkan apa yang harus dikatakannya sekarang ini. Sungguh ia tak bisa berpura-pura baik-baik saja saat hati dan pikirannya kalut. Berakting seolah semuanya normal saat ia ingin menjerit kesal, bukan hal yang mudah dilakukan.

Apalagi hampir semua orang mengatainya pembohong yang buruk.

"Hey, aku tak tau kau bisa menemukanku disini," suara Sehun yang nyaring membuatnya lepas dari pikirannya sendiri.

Luhan tersenyum lagi, menatap mata menakjubkan pria itu sebentar kemudian menundukkan wajah. Sadar bahwa tak seharusnya ia menatap Sehun lebih dari beberapa detik dan itu hanya akan membuat rasa kesalnya menguap entah kemana.

"Aku bertanya di UGD dan mereka bilang kau ada di lantai lima. Aku menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif," sebisa mungkin ia menjaga agar suaranya terdengar tenang, masih menghindari tatapn Sehun, ia tersenyum kikuk.

"Ah maaf, aku lupa mengambil ponsel. Kau pasti kesulitan mencariku," kali ini Sehun menundukkan sedikit tubuhnya. "Apa kau baik-baik saja?"

"Aku kenapa?" tanyanya, tidak terdengar seperti pertanyaan normal.

Tanpa sadar Luhan menarik wajah ke atas hingga matanya kembali bertemu dengan mata gelap Sehun. Sehun memandanginya dengan tatapan bingung, cukup jelas ada beberapa pertanyaan yang saat ini ingin pria itu tanyakan. Kening Sehun sedikit berkerut, menandakan ada sesuatu yang menganggunya saat ini.

"Kenapa kau menghindari tatapanku?" Sehun benar-benar tidak bisa basa-basi dan berpura-pura tidak menyadari sikap gadis itu.

Dan ia sadar sudah terlalu jelas menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya meskipun tidak berbicara sama sekali.

Luhan memang bodoh.

"Perasaanmu saja," bisiknya. "Ah, ini kopi," ia mengulurkan kopi itu pada Sehun.

"Terima kasih," balas Sehun, masih memandanginya dengan tatapan aneh.

"Kau pasti sibuk sekali," bisiknya, kemudian berdeham beberapa kali. "Aku bisa kok mengambil mobilku sendiri, aku tak ingin mengganggumu,"

Sehun mengernyit bingung, kemudian melirik jam tangannya sekilas. "Kau bilang akan datang jam dua tapi sekarang sudah jam lima. Dan jam kerjaku sudah habis setengah jam yang lalu,"

"Jadi?" ia menggantungkan kalimatnya di udara, membuat lengkungan senyum Sehun kembali muncul dibibirnya.

"Kau kan sudah janji mengantarku pulang," Sehun memiringkan kepala, bermaksud menggodanya. "Dan biarkan aku membelikanmu makan malam,"

"Oke," sahutnya singkat.

Jika kau selalu bersikap manis seperti ini, bagaimana aku bisa membencimu?

Yang ada aku hanya akan semakin mengagumimu dan akan semakin sakit hati nantinya.

Ini akan berakhir mengenaskan.

Sama seperti sebelum-sebelumnya.

.

.

LUHAN POV

Aku sadar sejak tadi Sehun memperhatikan tingkahku yang memang kuakui agak aneh. Bagaimanapun berusaha menyembunyikan bahwa semua baik-baik saja, tetap saja itu tidak mudah. Melihat wajah Sehun saja rasanya sungguh malas sekarang.

Entahlah mengapa aku melakukan hal ini karena sekarang seolah aku sedang melakukan protes padanya tanpa alasan yang jelas.

Baru kemarin rasanya Sehun mengatakan ingin menjalin hubungan yang serius denganku. Dan kau baru sadar, mungkin aku bukan satu-satunya orang yang mendengar kalimat itu keluar dari bibir manis Sehun.

Yang memang kuakui rasanya manis.

Sial, apa yang kupikirkan.

Aku sadar ini tak adil bagi Sehun karena bagaimanapun ia tak tau apa yang sedang kurasakan hingga sedikit mengabaikannya. Tapi ini juga tak adil untukku. Seharusnya sejak awal aku menyadari bahwa antara aku dan Sehun tidak harus ada hubungan yang lebih dari teman.

Harusnya sejak pertama aku tak pernah berharap apapun padanya.

Aku sungguh menyesal telah mempercayai bualan pria itu dengan sepenuh hati, cukup menyesal karena sudah membesarkan harapanku sendiri sebesar aku ingin selalu bersamanya. Tapi nyatanya, tidak semudah itu harapanku terpenuhi.

Ternyata, aku bukan satu-satunya orang yang ada dalam hati Sehun.

Bagaimanapun juga, aku tidak punya cukup alasan untuk merasa kesal atau cemburu. Toh, sejak awal, Sehun tak pernah mendeklarasikan bahwa aku miliknya, begitu pula sebaliknya.

Jadi, hubungan ini, bagaimanapun juga tetap menjadi cinta satu pihak.

Dan aku terlalu bodoh untuk sadar bahwa Sehun tak pernah memiliki perasaan yang sama padaku.

"Kau diam malam ini," bisik Sehun saat ia memasukkan potongan lasagna pedas terakhirnya.

Dan tanpa sadar aku memandangi piringku yang masih setengah penuh. Bentuk lasagna yang kumakan lebih mirip muntahan bayi karena sejak tadi, sambil melamunkan Sehun, tanpa sadar garpuku menusuk-nusuknya.

Aku nyengir, berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat semakin menyedihkan dan perlahan mendorong piring menjauh dari tubuh. Sungguh, makanan lezat itu sudah tak lagi mengguggah selera. Mengingat kejadian tadi, mendadak saja selera makanku lenyap dan rasanya perutku setengah penuh.

Nyaris mual saat mengulang kejadian-kejadian tadi dalam otak.

"Kau sakit ya?" tanya Sehun lagi, kali ini membuatku menatapnya tanpa pikir panjang. Ia memandangiku dengan tatapan khawatir. "Mau kuperiksa?"

"Ah, tidak. Aku baik-baik saja," bisikku, sialnya, suaraku terdengar seperti menahan tangis. Aku juga tak bisa mengendalikannya.

Sial.

Sehun memandangiku dengan kepala miring, ribuan pertanyaan tersirat dalam wajah piasnya. Keningnya berkerut, menandakan ia sedang memikirkan sesuatu dan itu hanya semakin membuatku gugup. Takut ia menanyakan hal lain dan aku takut tidak bisa berbohong lebih jauh lagi.

Aku bukan pembohong yang baik.

Semua orang mengatakan itu.

"Jujur saja, kau tampak pucat, Luhan," tambah Sehun, masih memandangiku dan aku berusaha mengalihkan pandangan darinya.

Bagaimanapun juga, sampai sekarang tatapan matanya masih saja membuatku gugup tanpa alasan yang jelas. Mungkin benar aku sakit karena pria ini, dengan melihatnya saja, jantungku sudah tidak menemukan detaknya yang normal.

Apapun yang Sehun lakukan cukup bisa membuatku gila.

"Cuacanya sedang tidak bagus," dustaku, berusaha tersenyum tanpa memandangnya. "Dan hari ini jadwalku penuh sekali," tambahku saat ia tidak merespon.

"Oh, kau bisa meninggalkanku disini, aku bisa pulang naik taksi,"

"Tidak perlu," cepat-cepat aku memotong ucapannya, bukan itu yang ingin kukatakan padanya. Aku hanya tak ingin Sehun merasa bersalah dan salah paham dengan keanehanku hari ini.

Tapi kenapa juga aku memikirkan perasaannya.

Dia kan tidak memikirkan perasaanku.

"Tidak apa, Luhan,"

"Aku akan mengantarkanmu pulang," ucapku final, sedikit tersenyum kemudian menghabiskan cokelat hangat dengan sekali teguk, cukup memberikan tanda pada Sehun bahwa aku sedang terburu-buru sekarang.

Sehun memandangiku sebentar, hanya beberapa detik sebelum akhirnya berdiri dan berjalan menuju meja kasir.

Aku mendesah lega karenanya.

.

.

Sepanjang perjalanan yang sangat panjang, kami sama-sama diam. Ingin sekali rasanya untuk menutup mata dan tidur sebentar, tapi aku juga tak ingin kembali mengulang kejadian semalam. Jadi disinilah aku, terjebak dalam keheningan yang menganggu antara aku dan Sehun.

Aku meliriknya sedikit, hanya memastikan Sehun tidak mengubah raut wajahnya dan pria itu benar-benar berkonsentrasi pada jalan raya yang sepi.

Inilah dia, kembali pada Sehun yang dingin dan kaku.

Tanpa sadar aku mendesah, dan mungkin cukup keras hingga Sehun sedikit menoleh kearah kanan, memandangiku selama beberapa detik, kemudian dari sudut mata, aku tau ia kembali fokus pada jalanan.

"Jujur saja, kau tampak aneh malam ini,"

Bingo.

Akhirnya kalimat itu terlontar dari bibirnya.

Dan rasanya sekarang aku tau Sehun sejak tadi sudah menyadari keanehan yang tak bisa kusembunyikan dengan baik. Sadar sekali rasanya mungkin itu juga menyiksanya sejak tadi, tapi aku juga tersiksa dengan kecanggungan ini.

Aku tertawa garing.

"Canggung sekali, ya?" berusaha membuang rasa kesal yang masih menguasai, aku berusaha terdengar lebih bersahabat.

Dehaman Sehun terdengar agak berat. "Apa mungkin ada sesuatu yang membuatmu kesal padaku?"

Ya, ada.

Kau tidak sadar, ya?

"Apa?" aku membalikkan pertanyaan. "Kau kan tidak melakukan kesalahan apapun,"

Sungguhan kau bersalah padaku, Sehun.

Kau berhutang banyak pada hatiku yang nyeri ini.

Sehun terkekeh ringan, suaranya terdengar lebih menyenangkan dari sebelumnya. Ia mengulurkan tangan untuk menggenggam jemariku yang bertengger manis diatas paha. Dan aku sebisa mungkin memaksa jantung agar tidak bertingkah kurang ajar dengan berdetak terlalu cepat.

Berusaha mengabaikannya, Sehun malah menarik tanganku ke depan wajahnya dan menghembuskan udara panas dari bibirnya.

Apa yang kau lakukan, Sehun?

"Tanganmu dingin sekali, Luhan," ia sedikit terkikik, melirikku sekilas dan aku membeku karena tatapannya.

Selalu saja aku menjadi manekin bodoh saat pandangan kami bertemu.

"Cuacanya benar-benar tidak cocok untukku,"

"Kau tidak suka musim dingin, ya?"

Aku menggeleng, berusaha menarik jemariku dari genggamannya, tapi Sehun malah mengeratkan tangannya untuk meremasku.

Sial.

"Bukan tidak suka," bisikku akhirnya, berusaha menanggapi ucapannya. "Hanya saja aku tidak terlalu nyaman dengan musim dingin,"

"Kenapa begitu?"

Aku mendesah ringan, masih memandangi tanganku dalam genggaman Sehun diatas paha pria itu.

"Aku dari Beijing. Disana panas sekali,"

"Ah begitu," balas Sehun, membulatkan bibir dan mengangguk beberapa kali.

Sebenarnya aku benci perbincangan tentang cuaca dan bualan omong kosong lainnya, tapi sekarang agak bersyukur karena setidaknya itu mengurangi kecanggungan yang menguar kuat diantara kami.

Sehun memutar kemudi mobil dengan satu tangan dan memasuki tempat parkir apartemennya. Ia mencari tempat kosong untuk parkir dan membuatku bertanya-tanya mengapa ia harus memarkir mobil sementara tidak butuh waktu hingga sepuluh detik untukku pindah ke kursi belakang kemudi dan pulang.

Masih tetap menggenggam jemariku, ia mematikan mesin. Desahannya terdengar mengalun lembut, kemudian menoleh kearahku dengan satu senyuman manis.

"Mau menginap, Luhan?"

Apa kau bilang?

Aku berusaha tidak menunjukkan keterkejutan dan berusaha tidak terbelalak karena mendengar ucapan Sehun barusan.

Tapi sepertinya aku gagal.

Apa aku tidak salah dengar?

"Ya?"

Sehun tersenyum lagi, kali ini benar-benar memutar tubuh untuk memandangiku dan tersenyum lebar. Ia melepaskan tanganku tapi aku tak bisa menarik tanganku sendiri dari atas pahanya. Dipandangi seperti itu, rasanya seluruh duniaku hanya berpusat pada Sehun. Dan seluruh otot di tubuhku tak bisa dikendalikan.

Sadarlah, Luhan.

Sadar.

"Ini sudah malam," ia melirik jam tangan sekilas dan berani bertaruh bahkan masih butuh beberapa jam sebelum tengah malam. "Aku khawatir jika kau harus pulang sendirian,"

Demi Tuhan, aku biasa pulang pagi sendirian, Oh Sehun.

Kau ini bicara apasih?

"Aku sudah biasa pulang malam, kok,"

"Kau benar-benar tak mau menginap, ya?"

Skakmat.

"Bukan begitu," aku tergagap. Sekarang saja rasanya terlalu canggung karena aku harus mengendalikan rasa kesal dan juga rasa gugup saat melihatmu, Sehun. Semakin parah jika aku menginap. "Aku kan tidak bawa baju ganti,"

Sehun terkekeh ringan. "Jangan khawatirkan hal itu, oke?"

"Apa maksudmu?"

"Sudahlah Luhan, ayo turun. Kau bisa pulang besok pagi kalau matahari sudah muncul dan tidak terlalu gelap lagi," ia nyengir, kemudian berjalan keluar, mengitari mobil dan membukakan pintuku.

Aku salah membuat alasan, ya?

.

.

Salah satu kebodohan yang selalu kurutuki dari diri sendiri adalah tidak bisa menolak ucapan Sehun. Seolah pria itu memainkan sihir yang selalu membuatku tak berkutik. Entah kenapa aku selalu saja mengiyakan apa yang ia mau.

Anggap saja aku yang bodoh atau memang itu hanya sekadar kekuranganku saat berhadapan dengan Sehun.

Aku berdiri mematung di balkon apartemen Sehun, tempat dimana dulu ia pernah menciumku untuk kali pertama –kali pertama dalam hidupku juga. Aku sebenarnya tak ingin mengingat-ingat kejadian itu, hanya saja, melihat tempat ini mau tak mau membuatku kembali mengenang.

Desahan ringan tanpa sadar kembali keluar dari bibirku, entah untuk keberapa kali malam ini sejak sampai di dalam apartemen Sehun. Bahkan seolah memang sudah merencanakan hal ini sejak awal, Sehun membelikanku sweater dengan celana panjang dan juga pakaian dalam. Entah darimana ia tau semua ukuranku saat membelinya.

Tapi memang semuanya pas.

Aku bahkan tak tau harus mengatakan apa saat ia memberikan pakaian itu dengan cengiran lebar.

Masih dengan bingung dengan jalan pikiran Sehun, aku memutuskan menjauh darinya sejenak dan keluar untuk melihat langit gelap diluar. Sehun sibuk berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon, terdengar sangat penting hingga membuat kerutan di kening Sehun tak hilang sejak tadi.

Aku tidak terkejut, jujur saja, bukan kali pertama aku melihatnya sesibuk itu.

Dan mengabaikanku mungkin memang menjadi kebiasannya sekarang.

Sungguh, aku bahkan tidak berhak kesal jika Sehun mengabaikanku. Aku bukan siapa-siapanya, aku tak bisa menuntutnya. Sama sekali tak bisa mengatakan apa yang harus Sehun lakukan denganku.

Sekali lagi, aku bukan siapa-siapanya.

"Hey, kau disini," suara Sehun yang cukup keras membuatku membuyarkan lamunan. Aku menoleh ke belakang, berusaha mengendalikan wajahku agar tidak terlihat kesal, kemudian tersenyum padanya.

"Ya, aku butuh udara segar,"

"Maaf ya, aku harus menerima banyak panggilan sejak tadi," ia nyengir, berjalan keluar dari pintu kaca dan berdiri di sampingku, sementara aku kembali menatap langit gelap, berusaha menghindari mata pria itu.

Aku tak punya hak untuk sekedar kesal, Oh Sehun.

"Bukan masalah, Sehun. Kau pasti sibuk sekali,"

Sehun terkekeh ringan dan tanpa sadar aku menoleh ke arahnya. Ia menatap langit gelap kosong jauh disana. Dari samping, bisa kulihat wajah lelah dan tampannya menyatu sempurna. Ia tersenyum kecut, desahan berat keluar dari bibir pucatnya.

Dengan melihatnya saja, aku bisa tau ia punya masalah besar yang tak bisa kupahami.

Sama sepertiku, Sehun tak pandai menyembunyikan sesuatu.

Dia tampak gelisah, risau. Ada rasa takut aneh yang terpancar dari matanya saat ia memandangi langit kosong. Seolah-olah ada sesuatu yang ia takutkan, sesuatu yang mungkin membuatnya berpikir sepanjang malam selama beberapa minggu.

"Kau tampak lelah, Sehun," aku tak bisa untuk tetap diam dan kembali tenggelam dalam kecanggungan ini.

Sehun memandangiku sebentar, tersenyum singkat, kemudian kembali menatap langit. "Kelihatan sekali, ya?" aku mengangguk dan sadar Sehun tak sedang melihatku.

"Ya," bisikku, menjawabnya.

Satu hembusan napas berat kembali keluar dari bibir Sehun dan entah kenapa itu membuatku ikut gelisah juga. Aku tetap memandanginya dari samping, tetap berusaha membaca apa yang sedang ia pikirkan, tapi aku tak bisa menemukan apapun disana.

Wajah Sehun terlalu kalut, sangat sulit untuk dibaca.

Dan melihat wajah Sehun yang menyedihkan seperti sekarang ini membuat rasa kesalku karena kejadian sore tadi menguap entah kemana. Seolah sudah melupakan kejadian-kejadian di rumah sakit tadi, aku tak bisa menemukan alasan lain untuk kesal padanya.

Mungkin memang benar sebenarnya Sehun punya ilmu sihir untuk mengendalikan emosi orang lain.

"Aku tak tau," ia berbisik, seolah bicara pada dirinya sendiri. "Satu minggu ke depan akan menjadi beban berat dalam hidupku,"

Aku menimang-nimang untuk kembali bertanya dan menghapuskan rasa penasaran, atau hanya diam menunggu Sehun mengeluarkan semua pikirannya.

"Kau bisa bercerita kalau mau," oke, bodoh, aku lupa bagaimana cara kembali menumbuhkan rasa kesal pada Oh Sehun.

"Ada operasi besar yang harus kujalani minggu depan," ia berhenti sebentar untuk mengatur napas yang mendadak saja terasa berat. "Bahkan kasus ini jarang sekali terjadi," tambahnya dengan pandangan seolah mengenang.

Aku diam, tak tau harus bicara apa.

"Bukannya aku meragukan kemampuanku sendiri, hanya saja, keadaan pasien dan penyakitnya semakin buruk. Kemungkinan untuk berhasil mungkin hanya belasan persen," ia kembali bicara dengan nada pelan, terdengar menyayat.

Dan perlahan, aku bisa merasakan kerisauan itu juga.

"Pasti ada keajaiban," ucapku tanpa pikir panjang, kemudian menyadari bahwa itu perkataan bodoh.

"Ya, aku percaya itu," Sehun mengatakannya dengan suara yang terdengar seperti bisikan. "Dan juga keberuntungan,"

Aku hanya membalasnya dengan senyuman ringan. Sadar terlalu lama memandangi Sehun, kualihkan pandanganku, ikut Sehun memandang langit kosong juga. Kami kembali terjebak dalam keheningan yang cukup panjang. Hanya ada helaan napas berat Sehun dan juga tarikan napasku yang tidak stabil.

Angin yang berhembus cukup kencang membuat suasanya sepi terasa semakin senyap.

"Sudah mulai dingin. Kau mau masuk?" tawar Sehun.

Aku memandanginya sebentar, ia balas menatapku, kemudian aku mengangguk ringan. "Oke," bisikku, mengikuti langkah Sehun yang sudah berjalan masuk. "Sehun," ucapku saat ia baru saja melangkahkan kaki masuk.

Sehun menoleh, memandangiku dengan tatapan penuh pertanyaan. "Ya?" sahutnya saat aku tidak lanjut bicara.

"Aku bisa tidur di sofa,"

Ia terkekeh ringan. "Jangan bercanda, Luhan. Aku yang memintamu untuk menginap disini, jadi aku tidak akan membiarkanmu tidur di sofa,"

Aku merengut kearahnya. "Tapi tidak suka tidur di kamarmu,"

"Kenapa?" ia mengerutkan kening bingung. Sementara aku menimang-nimang untuk bicara atau tidak, Sehun berjalan mendekat. Seolah mendesakku untuk bicara, ia sedikit menundukkan wajah di depanku hingga mata kami sejajar. "Kenapa, Luhan?" ulangnya lagi.

Apa aku harus mengatakan yang sejujurnya, Oh Sehun.

Masa kau tidak tau sih.

"Jadi begini," aku berdeham, mendadak saja merasa gugup sekarang. "Kamarmu kan di lantai dua, dan itu terlalu menyeramkan karena hanya ada satu ruangan saja diatas,"

Dan tawa Sehun meledak hingga ia menarik kepalanya ke belakang, kemudian terpingkal-pingkal.

Aku mendecak sebal.

"Ya Tuhan, aku lupa kalau kau penakut," ucapnya disela tawa.

"Jangan menghinaku, ya. Aku bukan takut, hanya tidak nyaman saja,"

"Oke oke," kata Sehun, berusaha menghentikan tawa. "Kita bisa tidur di sofa,"

"Kita?"

"Kau mau tidur sendirian di bawah disini sementara aku tidur di lantai atas?" ia nyaris berseru. "Itu akan semakin menakutkan, kau tau,"

Sehun menggelengkan kepala beberapa kali melihatku masih berdiri mematung. Ia mengacak rambutku dengan gemas, kemudian berjalan menjauh. Ia mengambil selimut dari atas meja dan menarik sofa lipat hingga membentuk kasur panjang.

"Anggap saja kita sedang berkemah sekarang," ucap Sehun dengan tawa renyah, kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas sofa itu. "Kau mau tidur tidak?" tanyanya lagi, menepuk-nepuk tempat kosong di samping tubuhnya dan aku masih berdiri mematung seperti orang bodoh.

Bagaimana aku bisa tidur malam ini kalau kau tidur di sampingku, Oh Sehun?

Dengan langkah pelan, teramat pelan aku menghampirinya. Padahal aku bisa saja menghempaskan tubuhku juga di samping Sehun, tapi aku melakukan gerakan itu dengan sangat pelan, seolah guncangan sedikit saja mungkin bisa merusak sofanya.

Sehun menggeser tubuh menjauh sedikit, membagi bantal dan menarik selimut hingga menutupi separuh tubuhnya –tubuhku juga.

Aku memandangi langit-langit kosong.

"Luhan, kau tau kenapa aku memintamu menginap?" tanyanya tiba-tiba.

"Tidak," aku berbisik, jujur.

Dan aku juga penasaran apa alasan lain selain takut membiarkanku pulang sendirian.

Sehun mendesah ringan. "Aku takut, Luhan,"

"Takut apa?" tanpa sadar suaraku cukup keras.

Bisa kurasakan Sehun memutar tubuh dan menghadap kearahku, sementara aku berusaha mengatur detak jantung sendiri saat kusadar Sehun sedang menatapku sekarang.

"Takut tak bisa melihatmu lagi,"

Dan aku cukup terkejut mendengarnya hingga tanpa sadar balas memandangi Sehun. "Apa maksudmu, Sehun?"

Kumohon, jangan membual lagi.

Aku tak akan jatuh lagi dalam perangkapmu, Oh Sehun.

"Mungkin selama beberapa minggu aku tak bisa bertemu denganmu,"

Oh itu.

Aku kira apa.

Aku kembali memandangi langit-langit. "Kau kan sibuk melakukan pekerjaanmu,"

Sehun menyetujui ucapanku dengan dehaman ringan. "Sebenarnya aku juga butuh seseorang untuk membuatku tenang saat ini,"

Dan aku membeku mendengarnya.

"Rasanya sangat kacau sejak jadwal operasinya keluar dan hanya dengan melihatmu," ia berhenti sebentar untuk terkekeh ringan. "Rasanya sedikit tenang,"

Tuhkan, kau membual lagi, brengsek.

Ah, sialan.

Aku bisa merasakan debaran di dada tapi sebisa mungkin mengabaikannya sebelum itu semakin parah. Dalam hati berusaha mengingatkan diri sendiri tentang apa yang sudah Sehun lakukan padaku hari ini. Berusaha menyerukan dalam hati kalau semua ucapan Sehun hanya bualan penuh omong kosong.

Sehun tidak mungkin memiliki perasaan yang sama, dia itu hanya–

"Terima kasih, Luhan," bisiknya, memotong pemikiranku yang bercabang.

Aku menelan ludah kasar, membalikkan tubuh untuk memandanginya dan tersenyum, sambil berusaha mengendalikan detak jantung yang mengila.

"Bukan masalah, itu gunanya teman, Sehun,"

Ya, teman.

Hanya sebatas teman.

Sehun tersenyum simpul, ia melingkarkan sebelah tangan menyelimuti tubuhku dengan lengannya yang kokoh. Aku hanya diam membeku saat Sehun menarikku mendekat padanya dan memelukku cukup erat hingga aku bisa mendengar detak jantungnya.

Atau itu suara detak jantungku yang menggila.

.

.

TBC

(ada epilog setelah Author's Note, ini belum END, cuma epilog chapter ini)

.

.

Hai Author kembali dengan FF ini.

Author sadar FF ini semakin kesini semakin sepi peminat. Mungkin karena Authornya jarang update dan sering lupa sama FF ini. Semoga aja masih ada readers yang menunggu kelanjutan kisah FF ini.

Author nggak yakin banyak, tapi semoga aja masih ada.

Untuk yang masih setia menunggu, membaca, dan meriview, Author ucapkan banyak terima kasih. Maaf ya, update selalu molor karena kesibukan huhu.

Terima kasih sudah membaca FF ini, jika ada kesalahan Author mohon maaf.

Jangan lupa review ya semuanya.

With love,

lolipospehun

.

.

EPILOG

.

.

Suara ponselku terdengar riuh di tengah kamar yang nyaris kosong. Aku mengambilnya dengan malas dari atas meja, kemudian mendesah malas saat nama Jongin tertera di layar.

"Ada apa, Jongs?" bisikku malas, benar-benar tak bisa berpura-pura baik pada pria menyebalkan itu.

"Apa Sehun menghubungimu?"

"Sehun?"

Aku berusaha mengingat kapan terakhir kali bertemu pria itu, sepertinya dua minggu yang lalu saat Sehun memaksaku menginap di rumahnya. Dan setelahnya, Sehun terlalu sibuk untuk menemuiku. Lagipula, aku tidak terlalu penting untuknya hingga membuatnya harus meluangkan waktu di tengah kesibukan hanya untuk sekedar menemuiku.

Itu tidak penting sekali kan?

Aku bukan siapa-siapanya.

Dan selama dua minggu belakangan ini, aku berusaha membuang seluruh perasaan-perasaan aneh tentang Sehun. Beruntungnya, dengan tidak bertemu Sehun dan kesibukanku yang semakin padat, membantuku sedikit tidak mengingatnya.

Sepertinya, terakhir Sehun mengirimiku pesan tiga hari yang lalu untuk mengingatkan makan dan tidur teratur. Jadi sekarang, aku benar-benar hanya menganggapnya sebagai seorang dokter. Sambil berusaha membuang sisa perasaanku padanya sekali lagi.

Dulu aku sudah pernah bisa melupakannya.

Dan sekarang, aku hanya perlu melakukannya lagi.

"Luhan, kau masih disana?" suara Jongin menginterupsi pikiran-pikiranku.

"Ah ya, aku disini. Terakhir kali Sehun mengirimiku pesan sepertinya tiga hari yang lalu," kataku, menjawab pertanyaannya.

"Ini masalah besar," Jongin nyaris berteriak dan suaranya membuat tubuhku langsung mengejang.

"Bicara yang benar, Jongin," aku nyaris berseru, menarik tubuh untuk duduk tegak dan berusaha fokus mendengarkan.

"Operasi yang Sehun lakukan dua hari lalu gagal, Luhan,"

Gagal?

Apa yang terjadi?

"Pasiennya tidak bisa diselamatkan, dan Sehun menghilang sejak dua hari yang lalu,"

Apa kau bilang?

Menghilang?

"Apa kau bilang?" sekarang, aku benar-benar berteriak padanya. "Apa itu melanggar hukum?"

"Tidak," Jongin balas meneriakiku, terdengar kesal dengan pertanyaan bodohku. "Pasien itu sudah Sehun rawat lebih dari enam bulan. Seorang gadis muda yang mempercayakan hidupnya pada Sehun. Bahkan Sehun sudah menganggapnya sebagai seorang adik karena hal itu,"

Tunggu dulu.

Gadis muda?

Pasiennya?

Pikiranku kembali berputar-putar pada kejadian beberapa minggu lalu saat melihat Sehun memeluk seorang gadis dan mengecupi jemari gadis itu.

Seseorang yang kukira teman spesial Sehun.

Tunggu dulu.

Jadi selama ini aku salah paham?

Oh, ini tidak mungkin terjadi.

"Sehun sangat terpukul dengan kejadian ini, ia sangat merasa bersalah," tambah Jongin.

"Apa yang bisa kulakukan?" aku beranjak dari ranjang, mulai merasa bingung, merasa bersalah, merasa berdosa sudah menganggap Sehun seperti itu.

Padahal apa yang kulihat sama sekali tidak seperti yang kupikirkan.

Kau terlalu berpikir pendek, Luhan.

"Aku khawatir terjadi sesuatu dengannya. Bisakah kau melihat Sehun di apartemennya? Aku harus mengganti jadwal Sehun di rumah sakit sekarang. Aku tak bisa mencarinya sendiri. Luhan, kumohon,"

"Oke," secepat kilat aku menyambar kunci mobil dan setengah berlari keluar kamar, menghiraukan Baekhyun yang memanggil namaku dari dapur. "Apa Sehun memberimu petunjuk dia ada dimana?"

"Tidak," ucap Jongin. "Sepertinya dia di rumah. Kabari aku saat kau menemukannya," kemudian sambungan telepon terputus.

"Sial,"

Apa Sehun akan baik-baik saja?

Kenapa aku bodoh sekali, Ya Tuhan.

Apa yang sudah kulakukan dengan membencinya selama dua minggu ini.

Bodoh, Luhan.

Kau benar-benar bodoh.