CONTEMPORARY

[1st Chapter]

Present by RoséBear

[KaiSoo FF]

About

Relationship – Family – Friendship – Love - Comfort - Sacrifice - Hurt

Content: sensitive subject matter, Sexual Content

original fanfiction, GS, some typo


Sejak dulu fakta matahari terbit dari Timur dan menghilang di barat lalu muncul kembali dari Timur dan tenggelam lagi di barat, sebuah fase berulang yang berlangsung sampai sekarang. Menjaga keseimbangan antara siang dan malam. Memberi kehangatan dan sumber energi kepada dunia.

Matahari mungkin tidak memiliki terlalu banyak perubahan, tapi bagaimana dengan Bumi? Oh banyak sekali perubahan.

Jika dulu bumi tampak gelap dari langit ketika malam hari, maka sekarang lebih bersinar. Pohon-pohon di tata pada tempatnya, gedung-gedung tempat bernaung di bangun tiap harinya. Manusia menikmati capaian yang dilakukan dari tahun ke tahun. Beberapa generasi melewati waktu berbeda dengan paradigmanya masing-masing.

Kyungsoo itu kolot dan begitu konservatif. Tidak hanya pikiran, tapi dia juga menyukai novel romantis klasik tempo dulu. Menolak memandang keluar jendela kamar, menghabiskan banyak waktu dengan membaca di dalam sebuah ruang sempit, terkadang bekerja melalui asisten pribadi.

"Ibu," panggilnya dengan suara parau. Dia telah menghabiskan delapan jam untuk membaca sebuah novel setebal 300 halaman.

"Astaga Kyungsoo sayang, segeralah mandi. Jongin juga akan sarapan di sini. Ganti pakaiaanmu dengan baju yang ibu siapkan."

Suara terkejut sang ibu membuat Kyungsoo menggembungkan pipinya. Dia baru menginjak lantai di dapur dan Ibunya telah mendorong tubuh mungil Kyungsoo keluar pembatas pintu.

"Ayolah sayang, kau harus berangkat bersama Jongin. Besok pernikahan kalian."

Napasnya meluncur dengan berat. Kyungsoo mempout bibirnya lucu, dia benar-benar ingin menolak permintaan Ibunya. Seperti anak perempuan enam tahun yang meminta izin bermain keluar. Ahh tidak! Kyungsoo kebalikan dari semua itu. Berbeda dengan anak-anak di luar sana, dia meminta agar tidak keluar dari rumah.

"Aku bekerja dari rumah, aku menghasilkan cukup uang untuk makan, membeli buku, membeli keperluan pribadiku, aku masih bisa hidup sendiri..."

"Tidak! Segera mandi sebelum Jongin sampai kemari."

Nama pria itu lagi-lagi yang disebut Ibunya.

"Perlu kumandikan Kyungsoo sayang?"

Degh

Tubuhnya reflek berputar dan menghadap pria tinggi pemilik suara berat yang barusan memanggilnya dengan panggilan sayang. Pria itu berkulit tan eksotis, rambut hitam di tarik ke atas, kaos putih berlapis jaz hitam dipadu celana jeans biru gelap.

"Kau sudah tiba Jongin? Mungkin kau bisa mengambilkan koran pagi di luar?" Ibunya berusaha menyapa pria itu.

Entah sejak kapan hubungan mereka menjadi begitu baik.

"Oh tidak Mom, aku sudah mengambilnya," Koran pagi itu telah tersembunyi di balik tubuhnya. Pria itu berjalan mendekat membuat Kyungsoo reflek mundur menaiki tangga.

"Ini Mom," Jongin memberikan koran pagi itu pada ibu Kyungsoo.

"Owhh terima kasih Jongin."

"Jadi bagaimana Kyungsoo?" Dia berbalik menatap Kyungsoo setelah mendapat kecupan sayang dari ibu gadis itu.

Mata bulat melotot dan bibir yang digigit, dia menggemaskan. Ya. Gadis itu memang sangat menggemaskan, menggoda tiap pria yang melihatnya. Membuat mata tak tahan untuk tidak memandanginya dengan tatapan lapar. Kulit putih yang jarang terpapar sinar matahari, rambut hitam panjang yang tak pernah diwarnai, kaki berbalut sandal berbulu dan gaun tidur panjang berenda.

"Apa kau tidak memiliki gaun tidur Victoria secret Kyungsoo? Bagaimana jika aku membelikannya untukmu?"

Kyungsoo mendesis mendengar ucapan Jongin barusan. Sementara Ibunya setengah tertawa.

"Ya. Mari ke ruang makan. Biarkan dia bersiap-siap."

Jongin mengangguk mengikuti permintaan wanita tua ini. Ia membawa langkahnya di belakang, menjauh tapi berbalik sebentar untuk menatap Kyungsoo. Tersenyum menyebalkan dan menjulurkan lidahnya mengejek gadis itu.


~ RoséBear~


Jongin itu manusia liberal, dia progresif, pekerja keras dan begitu bersinar.

"Aku lahir untuk dicintai," pria itu mengedipkan matanya membuat Kyungsoo yang duduk di kursi penumpang memandanginya kesal.

Kehidupan Kyungsoo yang tenang dan begitu sempit harus dibuka secara paksa, semua dimulai hampir setahun lalu ketika neneknya meninggal. Kyungsoo kembali tinggal bersama kedua orang tuanya, ayahnya menjadi begitu sibuk mengurus usaha keluarga. Semua lebih buruk saat empat bulan lalu karena kejadian yang tidak terduga membuat Kyungsoo ditunangkan dengan Jongin. Hanya karena peristiwa sehari sebelum pesta perayaan ulang tahun perusahaan milik keluarga mereka, besok hari dia mendapat pengumuman luar biasa yang mengubah sebagian besar hidupnya.

Secara fisik Jongin tidak bisa di tolak. Dia pria tampan, wajahnya dewasa walau kenyataannya Kyungsoo lebih tua satu tahun dari Jongin. Matanya kelam, rambut hitam yang terkadang diwarnai kecoklatan, kulit tan eksotis membuatnya semakin dewasa. Dia pria sexy yang sangat mempesona, otaknya cerdas, pemikirannya terbuka dan pekerja keras.

Tapi yang Kyungsoo inginkan bukan itu! Bukan pria menyebalkan yang selalu mengganggu aktivitas paginya, mengirim pesan di tengah malam, memaksanya melayani kemauan Jongin. Astaga! Dia menyebalkan untuk Kyungsoo.

Kyungsoo benci pergi keluar dan Jongin selalu memaksa. Kyungsoo juga punya saudara lelaki yang sore ini akan kembali ke negara ini agar besok bisa menyaksikan upacara pernikahan satu-satunya saudara yang dia miliki.

Dia telah hidup belasan tahun dengan didikan neneknya. Menjadi tuan putri di dalam kastil dengan pelayan berlalu lalang melayani kemauannya.

"Kyungsoo? Apa yang kau pikirkan?"

"Memikirkan cara membunuhmu."

Jongin tertawa mendengar nada bicara Kyungsoo. Punggung tangannya terulur menyentuh pipi Kyungsoo membuat gadis itu terkejut.

"Bagaimana jika kau memikirkan cara melayaniku saja? Ingat kita akan segera menikah."

"Entah kenapa tiap kali di dekatmu aku mengalami semacam heart attack," Kyungsoo tidak bercanda. Namun Jongin semakin tertawa.

"Mari turun. Kau harus mencoba pakaiaan pengantin sebelum dipakai besok."

Besok semua dimulai kembali. Perubahan besar dalam hidup Kyungsoo karena kehadiran Jongin. Dia yang menutup diri dan menikmati hidupnya terusik karena Jongin.

Wanita itu turun dari mobil, sinar matahari terlalu menyilaukan membuat Kyungsoo mengernyit saat langkah pertama ia ciptakan. Wanita itu tampak manis dengan kemeja biru dan rok putih menggembang. Dia mengenakan sarung tangan putih serta topi kain di rambutnya. Mengenakan sarung tangan dipertengahan musim panas. Sedikit menggelikan, hanya saja Kyungsoo merasa nyaman. Dia telah berdebat sepanjang pagi ini mengenai kunjungannya untuk mencoba gaun pengantin. Dia menolak pakaiaan yang Ibunya siapkan. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, Kyungsoo itu konservatif termasuk dalam berpakaian, dia sangat kolot akibat didikan neneknya.


~ RoséBear~


Mereka melewati doorkeeper toko, seorang pelayan segera menghampiri dan setelah diberitahu langsung pelayan itu mengantar keduanya menemui seorang designer. Jongin berjalan lebih dulu di depan Kyungsoo, tepatnya satu langkah di depan. Seseorang segera menyapa kehadiran mereka ketika langkah pertama memasuki ruangan.

Terlihat seorang wanita yang sangat cantik bagaikan seorang model. Rambut kecoklatan di warnai beberapa warna seperti merah dan hijau pada sudut bagian belakang. Tersenyum senang menyambut kehadiran kedua pelanggannya.

"Wahh lihat siapa yang tiba? Tuan putri dan pangerannya... Ehmmm kalian langsung ingin mencoba atau bagaimana jika kita minum teh terlebih dahulu?"

Wanita itu bicara sembari berjalan mendekat. Merenggangkan tangannya dan menerima pelukan Jongin. Mereka mencium pipi lawan masing-masing membuat Kyungsoo memilih memalingkan wajah.

'Kau tidak pernah melakukan itu padaku tiap bertemu. Tapi selalu pada wanita yang kita temui.'

Oh kyungsoo! Kau cemburu? Anak perempuan ini mengumpat dalam hatinya.

Tapi kemudian dia baru saja akan mendapat pelukan dari sang designer tiba-tiba Jongin menarik lengan Kyungsoo menjauh.

"Kami akan mencobanya langsung."

Kyungsoo terseret oleh tarikan Jongin dan meninggalkan sang designer untuk beberapa saat tanpa merasakan sebuah pelukan.

Dia pernah sekali kemari sebulan lalu dan hanya dilayani oleh beberapa pelayan butik, ini pertama kali dia bertemu dengan perancangnya langsung.

Mereka mencoba beberapa pakaiaan tapi tidak pernah mendapatkan kesepakatan hingga tanpa sadar hari telah menjelang siang.

Jongin menghela napasnya berat, dia lelah berdebat dengan Kyungsoo.

"Ya. Pilihlah gaun yang kau sukai. Kumohon Kyungsoo, tidak untuk gaun pink yang mengetat di bagian atas tubuh dengan jubah pada bagian belakangnya." Jongin menunjuk gaun yang mirip dengan gaun milik Aurora. Dia tidak menyukainya, itu benar-benar kuno.

Akhirnya pilihan diserahkan pada Eunhyuk, sang designer yang juga lelah dengan perdebatan mereka. Dia meminta pegawainya membantu pengepasan terakhir Kyungsoo. Mau tidak mau mereka menyepakati gaun itu.

"Kyungsoo sayang," suara Eunhyuk menghentikan langkah Kyungsoo yang hendak berganti pakaiaan. "Aku punya hadiah untuk pernikahanmu dengan Jongin.

Ia melirik Jongin meminta persetujuan namun pria itu mengedikkan bahunya.

"Kalian ingin makan siang di luar? Kalau begitu kau bisa kenakan pakaiaan rancanganku, kuharap sangat pas di tubuhmu."

Dia memberikan paper bag berisikan kain yang telah dijahit menjadi gaun selutut. Kyungsoo merasa terkejut dengan warna soft pink, dia menolak pemberian sang designer.

"Bagaimana jika kau memberikannya besok pagi," dengan sopan dia mengembalikan pemberian Eunhyuk.


Makan siang di ruang kerja Jongin. Pria itu memiliki urusan penting yang harus di selesaikan sebelum dia membuat libur cukup panjang mulai besok.

Tapi gadis itu menatap Jongin kesal, melipat tangannya di dada sementara Jongin sibuk menahan tawa.

"Ya Kyungsoo!" Tangan Jongin memegangi perutnya sementara tangan satu lagi yang bebas membuat gerakan menunjuk Kyungsoo. Saat ini hanya ada mereka di dalam ruangan yang nyaman ini, ruang pribadi dengan satu meja kerja.

"Itulah kenapa ibumu menyiapkan pakaiaan pagi ini. Kau pikir kau hidup di bawah pimpinan president Kannedy?"

Jongin beranjak, dia duduk di bahu kursi milik Kyungsoo. Tubuhnya setengah condong untuk berbisik.

"Ini bukan tahun 60-an lagi Kyungsoo. Bagaimana jika aku meminta izin Ayahmu agar kau tinggal bersamaku? Akan kita perbaiki penampilan serta jalan pikiran kolotmu ini. Owhh Victoria secret, aku akan membelikannya untukmu."

Kyungsoo menyikut perut Jongin walau tidak menghentikan tawa pria itu. Jongin beranjak dan berpindah duduk berhadapan dengan Kyungsoo.

"Tertawa saja sepuasmu, aku tidak peduli."

Semua dimulai ketika Jongin penasaran dengan pemberian Eunhyuk, dia membukanya dan membandingkan dengan tubuh Kyungsoo. Sudah pasti akan cantik jika dikenakan calon istrinya, gaun soft pink selutut tanpa lengan berbahan silk lembut dan begitu terlihat sexy.Setiap langkah yang tercipta akan membuat gaun itu terangkat.

Sayangnya Kyungsoo menolak pemberian itu. Dia tidak nyaman dengan pakaiaan seperti itu, jika keluar Kyungsoo akan mengenakan pakaiaan formal, jika di rumah bahkan pakaiaannya masih saja setengah formal. Dia tidak pernah mengenakan gaun selutut apalagi di atas lutut. Selalu panjang atau setidaknya menggantung, jika mengenakan pakaiaan tanpa lengan dia akan menambahnya dengan lapisan lagi. Sarung tangan berwarna-warni seolah dia adalah putri kerajaan yang menghadiri pesta dansa tak pernah ketinggalan dengan sepatu yang paling tinggi hanya 5cm.

Pada kenyataannya Kyungsoo tetap saja cantik, hanya saja terlalu mencolok di zaman sekarang.

Wanita ini begitu sopan, bersikap sangat baik karena didikan neneknya. Tapi kemunculan Jongin membuat emosinya tidak stabil. Kadang dia berteriak, memakinya dan itu benar-benar bukan Kyungsoo. Atau mungkin bagian dirinya yang tersembunyi.

"Sebelum menikah, aku punya permintaan kepadamu."

Jongin mendongak menatap Kyungsoo. Dia baru saja membuka kotak makannya. Pria itu kembali menutupnya saat melihat Kyungsoo begitu serius.

"Ya? Selama itu tidak membatalkan pernikahan makan aku akan mendengarkan. Karena orang tuaku akan sangat marah jika kau mengacaukan acara keluarga ini."

Kyungsoo meneguk salivanya susah payah. Mendadak tenggorokkannya menjadi kering. Dia telah bertemu dengan keluarga Jongin, mereka dari keluarga terpandang. Begitu glamour dan fashionable. Akh Kyungsoo tidak peduli. Tapi Jongin memiliki Ayah yang menyeramkan, pria yang tidak banyak bicara namun mampu menarik perhatian hanya dalam satu kata sapaan. Memikirkannya saja membuat kepala pusing.

"Jadi apa permintaanmu Kyungsoo?"

Napasnya diatur sedemikian rupa. Kyungsoo menggeledah isi tasnya. Mengeluarkan selembar kertas bertuliskan tangan.

Alis Jongin naik setingkat membaca bagian awal. 'Peraturan pernikahan Kim Jongin dan Do Kyungsoo~"

Kim Jongin. Itu nama lengkap Jongin. Dia melotot pada Kyungsoo.

"Akh aku harus menambahkan satu peraturan lagi," Kyungsoo meraih pulpen dan menulis sesuatu, pria itu menarik paksa dan membaca satu persatu peraturan yang tertulis. Perlahan kerut di wajahnya semakin bertambah seiring banyaknya kalimat yang dia baca membuat jantung Kyungsoo berdetak kencang.

"Tidak ada yang aku setujui dan lagi..." Jongin meletakkan kertas itu di atas meja. "Mengenai peraturan terakhirmu itu."

'Dilarang berpelukan dan berciuman dengan lawan jenis yang bukan anggota keluarga.'

Mata Jongin memicing menatap Kyungsoo.

"Kau cemburu pada Eunhyuk? Biar kuberitahu kau, dia aslinya seorang pria. Merupakan seniorku ketika kuliah. Tapi kemudian dia menemukan dirinya berada dalam kebimbangan, lalu memutuskan melakukan operasi yeahh kau tahu maksudku. Dia memilih menjadi seorang wanita."

Jelas Jongin panjang lebar membuat wajah Kyungsoo memerah karena malu setelah menambahkan satu bagian akhir itu.

"Tidak. Aku tidak cemburu. Kalau begitu silahkan jika kau mau melakukannya, aku juga akan melakukannya pada temanku nanti."

Kyungsoo memalingkan wajah menghindari tatapan Jongin tanpa sadar pria itu terkekeh pelan.

"Kalau begitu aku setuju karena kau tidak memiliki teman dekat Kyungsoo sayang."

Bagaikan diserang badai pasir Kyungsoo mengigit bibir bawahnya untuk bertahan di tempat. Perkataan Jongin benar, tentu saja pria ini tahu karena saat membagikan undangan pernikahan Kyungsoo bilang dia tidak memiliki teman untuk di undang.

Jongin mengambil pulpen lalu mencoret satu persatu peraturan yang Kyungsoo buat.

"Aku tidak setuju untuk tidur di kamar terpisah saat hanya kita berdua di rumah, aku akan tetap tidur di ranjang bersamamu, karena aku tidak mendengkur, aku juga tidak menendang, tidak suka bermimpi buruk. Tidak masalah mau lampu dimatikan atau dinyalakan."

Dia melanjutkan ke bagian kedua.

"Aku suka masakan rumahan jadi kau harus memasak untukku Kyungsoo, peraturan kedua di coret. Mulai sekarang kau harus belajar memasak dengan benar."

Mendengar ucapan Jongin, gadis itu menarik diri bersender di sofa. "Aku juga bisa memasak," gumamnya membuat Jongin menahan tawa agar tidak mempermalukan Kyungsoo.

"Yang ini aku setuju, aku akan berusaha pulang cepat ke rumah setelah bekerja. Tapi bicara tentang pekerjaan, Ayahmu berencana menempatkan aku di Kantor cabang, kau juga ikut bersamaku. Kita akan bekerja di satu Kantor, jadi kita bisa pulang bersama."

Kyungsoo terkejut mendengar ucapan Jongin. Dia baru mendengar kabar ini. Bagaimana ayahnya bisa membuat Kyungsoo bekerja di luar sementara dia punya pekerjaan lain.

Jongin mendongak menyadari Kyungsoo yang diam. "Ayahmu ingin agar kau mulai bertanggung jawab atas perusahaan keluarga. Aku akan membantumu Kyungsoo, jadi jangan khawatir."

"Kau tidak mengerti, aku tidak bisa bekerja di Kantor."

Jongin menggeleng pelan.

"Tapi kau harus melakukannya."

Dia meneruskan membaca peraturan yang lain. Ini terlalu banyak dan Jongin langsung merobeknya membuat Kyungsoo melotot pada perlakukan pria ini.

"Aku mengingatnya di dalam otakku. Jadi biarkan aku memakan makan siangku dengan tenang Kyungsoo sayang," Ia meletakkan robekan kertas di atas meja, Jongin segera membuka tutup kotak bekalnya.


Tidak lebih dari tiga jam dia telah berdebat banyak hal bersama ayahnya.

"Yang terhormat Do Kyungsoo, umurmu sudah dua puluh delapan tahun. Ayah harap kau bisa mulai bekerja di Kantor."

Dia seperti bocah idiot berhadapan dengan ayahnya. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya dan menoleh menatap pria berkulit putih yang memperlihatkan senyum kemenangan padanya. Ia telah menghabiskan banyak waktu seperti orang bodoh hanya karena kembali ke rumah ini.

"Apa Ayah menyayangiku? Aku ini putrimu."

Setiap orang tua seharusnya iba pada ucapan seperti ini. Tapi nyatanya pria tua ini tidak sama sekali.

"Tentu saja anakku. Kau putri Ayah, kami berharap yang terbaik untukmu. Apa kau juga menyayangi Ayah?"

Kyungsoo menggembungkan pipinya mendengar pertanyaan yang diputar balik secara paksa tersebut. Dengan suara tertahan dia mengakui perasaannya. Dia menyayangi keluarganya, "kuharap kalian tidak menyesal."

"Owghh tidak ada yang perlu disesali sayang, besok pernikahanmu. Ayah akan mengantar putri Ayah, kemarilah ayah ingin memelukmu."

Pada akhirnya dia mengalah dan masuk dalam pelukan sang Ayah.

Kyungsoo?

Ya Do Kyungsoo!?

Dia tidak memiliki rencana untuk melarikan diri, adik lelakinya menghampiri dan menyampaikan dukungan atas pernikahan sang kakak. Dia senang memiliki Jongin sebagai kakak iparnya, pria itu berwibawa walau berusia lebih muda dari Kyungsoo. Harusnya Kyungsoo bisa menyalahkan Jeno tapi dia tidak bisa, tidak ada alasan tepat untuk menyalahkan adiknya, dia yang terjatuh dan menimbulkan persepsi yang sangat aneh.

Ahh tentang pemuda itu, Jongin belum mengirim pesan padahal Kyungsoo hampir mematikan ponselnya. Ibunya menghampiri mengucapkan selamat malam, wanita cantik berusia akhir empat puluh tahunan itu duduk di pinggir ranjang seperti biasa.

"Ini malam terakhir ibu bercerita padamu."

Kyungsoo mengangguk. Dia menarik selimut semakin tinggi. Menerima tiap belaian lembut sang ibu.

"Bagaimana jika ibu cerita tentang kelahiranmu?"

Kyungsoo mengangguk sekali lagi.

"Aku ingin mendengarnya."

Dengan susah payah wanita tua itu mengumpulkan semua kenangan berharga dalam hidupnya. Tentu saja kenangan tentang kelahiran anak pertamanya. Kenangan tentang bagaimana kebahagiaan keluarga ini semakin bertambah setelah kelahiran putri pertama mereka. Seorang anak akhirnya lahir kembali, setelah sekian lama tak mendengar suara tangis bayi.

Tapi cerita itu bahkan tidak menyentuh seperempat bagian dan Kyungsoo telah terlelap.

"Kami menyayangimu sayang, berbahagiahlah bersama suamimu nanti. Jongin lelaki yang baik, keluarganya juga sangat baik, dan dia tumbuh di lingkungan yang baik. Kami tidak akan merasa kecewa telah menyerahkanmu padanya."


~ RoséBear~


Pagi itu satu rumah sedikit lebih sibuk dari hari biasanya, satu rumah dengan pelayan yang juga menyibukkan diri karena pernikahan Nona muda mereka.

Astaga, bahkan lelaki berkulit putih yang sangat optimis itu terlihat panik sesaat. Dia telah berusaha mengenakan pakaiaan seformal mungkin untuk upacara pernikahan kakaknya.

Ya Tuhan, itu saudara perempuannya. Terlihat menuruni tangga dengan gaun pengantin mengembang. Wanita cantik itu meminta bantuan untuk mengangkat bagian bawah gaun yang berlapis-lapis itu.

"Wow! Kau sangat cantik kak!" Pujian itu meluncur dari hatinya.

"Ayolah, Ayah dan Ibu telah menunggu kita."

Mereka akan melangsungkan pernikahan di sebuah bangunan mungil cukup jauh dari rumah. Berdekatan dengan rumah Abu tempat nenek dan kakeknya berada.

Butuh setengah jam untuk tiba di sana dan sedikit keberuntungan karena jalanan yang lenggang. Bangunan yang tidak terlalu besar tapi memiliki halaman luas. Cuaca akhir musim panas yang terasa hangat, angin bertiup dengan begitu lembut tidak menusuk hingga ke tulang tapi Kyungsoo merasa gemetar. Dia kesulitan bernapas, aliran darahnya seakan tersumbat membuat beberapa sendi tulangnya mengalami masalah ketegangan.

Ayahnya telah keluar dari mobil lebih dulu untuk menyambut putrinya.

"Tuan putri Ayah?"

Kyungsoo mendongak, ia harus tersenyum agar tidak mengecewakan keluarga besarnya nanti. Semua saudara berkumpul. Hanya dalam hitungan beberapa menit lagi hak atas dirinya akan berpindah ke tangan seorang pria yang bahkan baru ditemuinya empat bulan yang lalu.

Wajah bahagia ayahnya meruntuhkan semua pertahanan Kyungsoo, dia tidak bisa berdiam diri di dalam mobil. Akhirnya setelah meneguhkan hati, gadis itu meraih tangan ayahnya. Dia berjalan setengah kikuk. Untuk pertama kalinya dia mengenakan heels setinggi 9 cm. Gaun ini membebaninya tapi Kyungsoo tidak menolak sentuhan klasik pada detail bagian atas gaun pernikahannya. Make up yang dia gunakan juga sederhana namun tetap menawan. Rambut hitam Kyungsoo mendapat sentuhan yang begitu rapi, dia tetap menggunakan sarung tangan seperti biasanya saat memegang buket bunga mawar pink yang senada dengan rona di wajahnya.

Kyungsoo melangkah melewati red carpet, menjadi sorotan tamu undangan dan di ujung sana menunggu seorang pria untuk menyambut kehadirannya.

Jongin terlihat begitu tampan dengan setelan formal, rambut hitam pria itu di tarik ke atas, dia lebih dewasa dari hari biasanya. Tersenyum dengan menawan mengharap kehadiran Kyungsoo.

'Bisakah aku kembali ke masa empat bulan lalu? Aku memilih mengurung diri di kamar dan menanti Jeno mengantarkan pesananku.'

"Kyungsoo."

Bisikan pelan Jongin menyadarkan Kyungsoo. Dia hampir saja akan terjungkal saat menaiki anak tangga ketika penyerahan itu berlangsung. Beruntung Jongin dengan sigap membantu Kyungsoo pempertahankan harga dirinya.

"Kau sangat cantik Kyungsoo sayang," rona di wajahnya semakin menjadi. Wajah Jongin terlalu dekat dan sebentar lagi pernikahannya akan berlangsung.

'Oh Tuhan, berikan aku kesempatan.'

Tapi sepertinya tidak ada kesempatan untuk menunda sebuah pernikahan di depan mata. Hanya dalam hitungan beberapa menit dia mendapatkan ciuman pertama dari seorang pria yang tidak memiliki hubungan darah dengannya.

Kyungsoo merasa sesak ketika bibir tebal itu menekan dirinya. Matanya terpejam tidak berani melihat, hanya bisa merasakan kedekatan dan bagaimana Jongin menahan pundaknya agar Kyungsoo tidak berpaling.

Ciuman itu singkat namun begitu menggoda, sesaat dia menjadi sangat gugup dan Jongin berhasil menopang tubuh Kyungsoo agar tidak merosot

"Aku bisa memberikan ciuman yang lebih panas jika malam ini kau menggunakan hadiah dari saudariku."

Pria itu berbisik pelan. Kyungsoo menoleh ke belakang mendapati seorang wanita cantik, glamour, sexy sedang memegang kamera dan tersenyum senang atas pernikahan adiknya.


To be Continue...


Ini jelas aku menawarkan sesuatu yang lain. Kalian akan menyadari betapa aku menggemari karakter Jongin di awal cerita ini. Jawabannya sangat sederhana, aku berpikir cukup lama dan mari kembali fokus pada masing-masing cerita.

Preview chapter 2

"Baiklah Kyungsoo sayang, katakan sesuatu kepadaku. Aku tidak mengerti situasinya. Kupikir kita telah sepakat tidur di ranjang yang sama." –Jongin

"Astaga! Kenapa kau begitu mesum!" –Kyungsoo

Thank You.

.

RoséBear

[170628c – 170826p]