CONTEMPORARY [2nd Chapter]
Present by RoséBear
[KaiSoo FF]
About
Relationship – Family – Friendship – Love - Comfort - Sacrifice - Hurt
Content: sensitive subject matter, Sexual Content
original fanfiction, GS, some typo
Kyungsoo membungkus tubuhnya dengan selimut. Menyisahkan wajah manis dengan tatapan mengharapkan empati sosok pria yang kini mengernyitkan dahi setelah keluar dari kamar mandi.
Hening sejenak dan Jongin berusaha memahami situasi Kyungsoo. Oleh karena itu ia memilih duduk di sisi ranjang.
"Ada apa denganmu?"
"Jangan mendekat atau aku akan menggigitmu!"
Sesaat Jongin benar-benar ingin mendekat tapi kemudian dia tertawa. Ya Tuhan. Istrinya benar-benar menggemaskan. Keputusan Jongin hari itu bukanlah sebuah kesalahan. Dia mencoba hal baru yang luar biasa. Tidak pernah Jongin bertemu perempuan sekolot ini bahkan tidak untuk neneknya.
"Aku penasaran untuk bertemu nenekmu yang mendidik istriku hingga menjadi seperti ini."
"Ya. Susul saja nenek ke dunia sana. Aku bersedia mengunjungi rumah Abu untukmu!" Kyungsoo setengah berteriak tapi dia tidak terlihat mengerikan. Benar-benar menggemaskan membuat Jongin tak mampu menahan tawa.
"Baiklah Kyungsoo sayang, katakan sesuatu kepadaku. Aku tidak mengerti situasinya. Kupikir kita telah sepakat untuk tidur di ranjang yang sama."
Jongin mengedikkan pundaknya. Dia merapatkan bibir meyakinkan Kyungsoo agar wanita ini mulai bicara. Jongin sadar Kyungsoo khawatir akan sesuatu, tapi ini berlebihan jika dia tidak menyampaikan sesuatu pada Jongin. Jika dia takut Jongin memperkosa hingga membuatnya hamil. Pria itu masih punya harga diri, dia tidak akan melakukannya dengan paksa.
Kyungsoo masih melotot. Beberapa saat dia menarik napas dalam. "Belikan aku gaun tidur."
Dunia Jongin untuk sementara waktu terhenti setelah mendengar kalimat pendek Kyungsoo. Matanya berkedip namun tidak bisa memperhatikan Kyungsoo, wanita ini terbungkus selimut rapat.
"Jongin-ah," dia merajuk membuat Jongin menunduk dan mengigit bibir bawah menahan tawa. Oh ya Tuhan. Jongin benar-benar ingin tertawa karena Kyungsoo.
"Jongin," panggilan Kyungsoo yang kedua akhirnya mendapat respon pria tan itu.
"Sepertiga malam. Tidak ada toko pakaian yang buka Kyungsoo, Lagipula Mom sudah menyiapkan keperluan kita selama tiga hari di sini. Apa dia tidak menyiapkan gaun tidur untukmu?" Jongin memalingkan wajahnya. "Lagipula lebih baik jika kau tidak memakai gaun tidur."
Bugh
Kyungsoo melempar bantal mengenai tubuh Jongin. Pria itu setengah meringis namun kemudian dia berbalik badan lagi.
"Jadi? Kau mau aku yang memulainya?"
Susah payah Kyungsoo menelan salivanya. Otaknya tidak terlalu bodoh untuk memahami kalimat pendek barusan.
"Berhenti! Berhenti Jongin!"
Pria itu terkikik geli. Dia melepaskan Kyungsoo setelah mendengar rengekan gadis itu.
"Baiklah, aku lelah karena acara hari ini. Mari kita tidur saja."
Lelaki itu menghela napas berat melihat Kyungsoo masih bertahan di dalam selimut. Tidak memiliki gerakan apapun sehingga membuat Jongin menyerah.
"Aku tidak tahu pakaian apa yang kau kenakan sekarang hingga membuatmu seperti bola salju. Tapi Kyungsoo, sungguh... Jika kau malu aku melihatmu aku tidak akan melihatmu."
Wanita itu tetap tidak memberi respon apapun. Tapi tatapannya begitu dalam dan menusuk.
"Tapi aku tetap tidak akan beranjak dari kasur dan jika kau berniat ke sofa aku akan menyusulmu."
Napas berat pria itu meluncur cepat.
"Aku akan tidur lebih dulu," pria itu membuka bajunya.
"Apa yang mau kau lakukan?" Jongin menoleh menyaksikan kepanikan Kyungsoo.
"Pakai lagi bajumu Jongin!"
"Pakai saja jika kau mau," dengan sembarang dia melempar kaos itu ke sudut ranjang lalu memilih berbaring.
Hening beberapa saat sampai terdengar suara gesekan kain yang ditimbulkan Kyungsoo. Wanita itu melepaskan diri dari selimut. Inikah alasan kenapa dia menutup diri. Gaun tidur sepaha dengan tali yang memperlihatkan belahan dada. Sementara semua pakaian yang disiapkan orang tua serta saudara perempuan Jongin begitu transparan. Sudah empat bulan bersama, Kyungsoo masih merasa asing dengan lelaki ini. Dia butuh tambahan waktu lagi untuk menyiapkan diri.
Kyungsoo mengambil kaos milik Jongin, bahkan kaos itu lebih panjang daripada gaun tidurnya.
"Aku pinjam kaosmu," cicitnya pelan.
Jongin merasakan pergerakan Kyungsoo belum berhenti. "Jangan melewati batas ini,aku akan memukulmu jika kau melewatinya."
Sebuah guling diletakkan di tengah sebagai pembatas tidur mereka. Membuat keduanya sekarang seperti orang asing satu sama lain.
"Jangan berbalik badan."
Kyungsoo, bisa kau berhenti berteriak!? Kau harus tahu jika dirimu memiliki terlalu banyak aturan bodoh. Ini sangat konyol, mereka sudah menikah dan bagaimana bisa Jongin dilarang menyentuh istrinya sendiri?
"Jika aku berbalik..."
"Jongin!" Kyungsoo menyela ucapan pria itu hingga menghentikan gerakan Jongin yang baru akan berbalik badan. Sungguh ia lelah memunggungi Kyungsoo.
Pelan Kyungsoo mulai terbaring. Masalah lain muncul kembali, wanita itu bahkan kesulitan untuk tidur.
"Matikan saja lampunya jika kau kesulitan tidur," Jongin memberi saran namun Kyungsoo menggeleng. "Tidak perlu."
"Sudah jam tiga malam Kyungsoo."
"Jongin, bisakah kau menceritakan sesuatu kepadaku?"
"Hem?" Alis lelaki itu naik setingkat mendengar bisikan Kyungsoo.
"Aku tidak bisa tidur. Nenek terbiasa membacakan dongeng untukku."
Suara Kyungsoo kemudian menghilang.
"Lalu setelah nenekmu meninggal bagaimana caranya kau tidur? Berhentilah bermain putri-putrian Kyungsoo. Tidurlah."
"Jongin," panggilnya lemah. "Ibu selalu menceritakan sesuatu kepadaku."
Tidak butuh waktu terlalu lama untuk berpikir, Jongin mengajukan persetujuannya. "Baiklah. Tapi biarkan aku berbalik badan. Kau tidak masalah tidur jika ada yang melihat? Sungguh aku merasa kram dalam satu posisi selama setengah jam."
"Ya."
Jongin memilih telentang. "Kau mau mendengar cerita seperti apa?"
"Apapun. Aku tidak pemilih."
"Tentang saudara perempuanku, dia beberapa tahun lebih tua dariku."
Jongin mulai bicara mengenai saudara perempuannya. Seolah kembali ke masa lalu, ketika dia baru memasuki sekolah dasar dimana tidak semua anak-anak bisa bermain dengannya karena pengaruh wanita yang lebih tua beberapa tahun itu terlalu kuat pada Jongin. Dia bahkan hanya memiliki beberapa orang yang benar-benar dikatakan teman.
Tapi hanya dua menit bicara Jongin menoleh menghadap Kyungsoo. Dia tertidur dengan segera. Kyungsoo memegangi kedua jarinya di dada. Jika dilihat, dia seperti putri yang sedang tidur. Baru saja Jongin akan memejamkan mata dia mendapati tangan Kyungsoo jatuh melewati guling menyentuh lengannya.
"Ya Kyungsoo. Kau yang melewati batasmu sendiri."
Pria itu dengan tidak terduganya berguling ke atas Kyungsoo. Menahan dirinya dan mencium bibir hati itu dengan lembut.
Jongin terkesiap mendapati mata bulat Kyungsoo terbuka sepersekian detik kemudian tertutup lagi. Jantungnya yang seakan hening kembali berdetak normal lagi. Buru-buru Jongin kembali ke tempatnya sebelum Kyungsoo terbangun lagi. Bahkan untuk sebuah ciuman saja dia harus bertingkah seperti seorang pencuri.
~ RoséBear~
Kembali ke pagi hari yang begitu mendung, langit gelap di luar sana seolah memberitahu jika hujan akan mengguyur seharian. Dua orang itu dipastikan akan terkurung di dalam bangunan Hotel, Ah mereka beruntung karena layanan hotel tidak berhenti melakukan tugasnya.
President room, ruangan termewah di dalam satu bangunan Hotel.
Jongin dan Kyungsoo
Keduanya baru saja melangsungkan pernikahan, rasanya aneh ketika sehari sebelumnya Jongin terbangun seorang diri di apartemen pribadi miliknya. Dia yang terbiasa dengan kehampaan tiba-tiba dikejutkan oleh keberadaan Kyungsoo.
Tapi Jongin tidak membuang kesempatan pagi itu, Kyungsoo telah malanggar daerah perbatasannya sendiri untuk sekali lagi. Jangan salahkan pria tan ini jika dia mengambil morning kiss yang seharusnya diberikan sang istri kepada suami. Seharusnya dia bisa berbangga hati. Hanya saja, satu hal yang mengganggu pikiran Jongin.
'Maafkan aku Kyungsoo~.'
Pria itu melamun hingga tidak menyadari suara televisi yang tiba-tiba saja dimatikan. Benar-benar tidak menyadari kehadiran Kyungsoo yang bergelung di dalam selimut. Berjalan menyeret kain hangat itu mendekati Jongin. Kyungsoo menarik satu kursi dan duduk menghadap Jongin membuat meja yang tidak seberapa lebar itu sebagai pembatas mereka. Alis wanita itu bertautan satu sama lain, wajahnya maju memastikan Jongin tidak menyadari keberadaannya. Sesaat dia ingin tertawa tapi kemudian jari telunjuk Kyungsoo mendorong kening Jongin membuat pria tan terlonjak kaget
"Owh! A-apa yang kau lakukan?" Jongin setengah tergagap ketika dia bertanya sementara Kyungsoo menopang wajahnya dengan kedua tangan.
"Hujan. Bagaimana caranya keluar?"
Jongin menghela napas mendengar pengakuan Kyungsoo. Benar jika di luar sana sedang hujan, tapi mereka bisa memiliki aktivitas di dalam kamar hotel. Sejenak pikirannya kembali sadar ketika melihat keberadaan Kyungsoo yang kini di depannya. Jongin mendorong segelas susu putih yang sejak tadi didiamkannya.
"Minumlah," dia menjeda sejenak menunggu Kyungsoo mengambil gelas yang ia berikan. "Kau tidak perlu keluar. Kita bisa menghabiskan waktu di dalam kamar seharian." Pada akhirnya Jongin kembali menarik percakapan di antara mereka.
Kyungsoo mengintip Jongin dari balik bulu mata lentiknya. "Aku harus keluar Kim Jongin!" Dia tidak berteriak, hanya menekan setiap kata yang keluar dari dalam mulut. Jongin menarik diri bersender di kursi, ia melipat tangan di dada memandangi Kyungsoo menghabiskan minuman hangatnya.
"Kenapa kau harus keluar istriku?"
"Uhuk!"
Jongin tidak bisa menahan tawanya ketika melihat reaksi Kyungsoo atas ucapan barusan. Wanita itu tersedak air minumnya sendiri, tapi Jongin tidak begitu jahat. Dia menuangkan air mineral di dalam gelas baru memberikannya pada Kyungsoo.
"Pelan-pelan Kyungsoo sayang."
Kini hanya sebuah desisan kesal karena Kyungsoo memilih menenangkan dirinya. "Jangan tiba-tiba bicara seperti itu," Kyungsoo memperingatkan.
Jongin masih terkikik geli, "tapi aku bicara faktanya istriku." Sekali lagi dia benar-benar berhasil menggoda gadis manis bermata bulat ini.
"Yaishhh! Aku harus keluar Jongin. Aku harus membeli beberapa pakaian!"
"Pakaian?" Jongin mengulang ucapan Kyungsoo. Dia tertarik mendengarkan keluhan istrinya, wajah pria itu maju memperpendek jarak diantara mereka.
Kyungsoo setengah ragu, dia sudah mengatakannya tadi malam tapi Jongin benar-benar bodoh untuk memahami masalah itu.
"Ibumu memasukkan semua pakaian di atas lutut serta transparan. Tidak ada yang bisa kupakai Jongin."
Alis kanan Jongin naik secara reflek mendengar pengakuan Kyungsoo.
"Kupikir kau tidak membutuhkan pakaian sama sekali. Bukankah kita akan melakukannya seharian penuh Kyungsoo sayang?"
Tadinya Jongin pikir ucapannya akan di balas wajah menggemaskan Kyungsoo karena marah tapi dia terkejut ketika anak perempuan itu kini menjatuhkan kepalanya di atas meja. Wanita itu setelah menghabiskan segelas susu kembali mengeratkan balutan selimut di tubuh.
"Kyungsoo? Aku hanya bercanda."
Pada akhirnya Jongin mengalah dan lihatlah Kyungsoo segera mendongak, tersenyum penuh kemenangan. "Kalau begitu kau akan keluar dan membelikannya untukku? Tapi jangan mencoba membeli sesuatu yang hanya sesuai seleramu."
"Tidak," Jongin menolak dengan segera. Dia tidak mau keluar dari hotel. Yang benar saja, hujan sangat deras di luar sana sementara mereka tidak memiliki kendaraan pribadi. Haruskan dia membiarkan hujan mengguyur hanya untuk membeli kain yang akan digunakan menutupi tubuh Kyungsoo, maka jawabannya untuk sekarang adalah tidak.
"Jongin~ kumohon."
Berikut adalah cara yang bisa lelaki itu gunakan, "Kau akan memeluk dan menciumku? Aku akan hujan-hujanan karena keinginanmu Kyungsoo sayang," Jongin memberi penawaran atas permohonan Kyungsoo.
Lama. Sangat lama untuk wanita itu berpikir. Kunci utama permasalahan ini adalah pada perbedaan keduanya. Akhirnya Kyungsoo memilih diam, jika dia berani mengatakan suatu hal lainnya, sepertinya Kyungsoo memahami konsekuensi dari perkataan Jongin sebelumnya.
Tentu saja, hal ini benar adanya. Dengarkan apa yang akan di katakan lelaki itu kemudian.
"Biar kuberitahu padamu. Aku sangat suka skinship dengan pasanganku. Apalagi kau istriku, tidak akan ada dosa untuk itu. Jadi? Apa kau akan melakukannya untuk setiap permohonan yang kau minta?"
"Jongin," panggilannya membuat lelaki itu menatap bingung. "Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Pernikahan ini, semua penawaran keluargaku dan keluargamu inginkan. Apa kau tidak memiliki beban apapun?"
Jongin berpikir sejenak. Kyungsoo tidak tahu apa yang ada dalam pikiran pria ini, dia terlalu polos dan baik hati untuk pria seperti Jongin. Bukankah mereka telah melangkah terlalu jauh setelah pernikahan ini. Bagaimanapun dia telah memiliki sedikit keberanian untuk menanyakan apa yang terlintas di dalam otaknya barusan.
Hanya saja lelaki itu kemudian meluncurkan sebuah pernyataan, "Hmmm aku menginginkanmu. Apa ada yang salah?"
"Jongin aku serius," suara Kyungsoo sedikit meninggi dan Jongin segera tersenyum. Dia sangat suka melihat Kyungsoo seperti ini. Ia juga tahu akan sedikit lebih sulit tapi Kyungsoo harus diberitahu, tidak ada rencana apapun karena Jongin sedang berusaha.
Ia membawa kembali pembicaraan mereka, "Jika kau tidak mau mencium dan memelukku... "Dia memajukan wajahnya membuat Kyungsoo menarik diri.
"...Lupakan keinginanmu."
Jongin beranjak, mendorong kursi ke belakang membuat suara deritan.
"Baik!"
Pekikan Kyungsoo membuatnya tersenyum senang.
Hening sejenak, Kyungsoo tampak ragu membuatnya mendongak menatap Jongin.
"Sekarang pergilah," ucap Kyungsoo memohon. Tapi Jongin menggeleng.
"Aku ingin hug and kiss now."
"Ekh?" Wanita itu menjadi bingung. Tapi Jongin benar-benar tidak bercanda. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya menahan diri. Pada akhirnya dia berdiri, berjalan masih menyeret selimut memutari meja dan mendekati Jongin. Masuk dalam pelukan pria itu dan mencium pipinya pelan.
"Ya Kyungsoo. Aku ingin ciuman di bibir." Sebuah protes meluncur dengan segera.
"Jongin," dia merengek sekali lagi. Tapi pria itu tetap pada pendiriannya. Rasanya terlalu lama dalam pelukan Jongin, Kyungsoo berjinjit untuk mengecup bibir tebal suaminya. Tadinya hanya untuk sebuah kecupan tapi Jongin menahan kepalanya. Pria itu mengambil kuasa atas diri Kyungsoo. Ciuman itu berubah menjadi sangat bergairah, penuh hasrat dan gairah luar biasa yang semakin tumbuh. Jongin bisa saja membawa Kyungsoo ke atas meja dan membaringkan tubuh wanita ini tapi pukulan lemah Kyungsoo yang masih memegang erat selimut pada dada bidangnya mampu menyadarkan Jongin. Dia tidak serta merta melepaskan Kyungsoo walau berhasil membuat jarak untuk bibir keduanya. Napas memburu dan Jongin melihat wajah memerah Kyungsoo.
"Jongin, kau sudah harus pergi."
Kyungsoo menunduk memalingkan wajah. Dia menolak untuk melihat Jongin secara langsung. Kedekatan yang Jongin katakan adalah hal baru untuk Kyungsoo, hidupnya tidak pernah dimasuki pria manapun kecuali orang-orang yang memiliki hubungan darah. Tapi Jongin, pria ini menerobos dalam waktu empat bulan. Memaksa Kyungsoo membuka mata, membuka dunianya yang sempit.
"Kau mau pakaian seperti apa?"
Setiap hembusan napas saat dia bicara membuat Kyungsoo merasa begitu asing.
"Kyungsoo?"
"Apapun yang menutup semua tubuhku."
Jongin tersenyum mendengar perkataan Kyungsoo. Sejujurnya dia sudah tahu apa yang diinginkan perempuan ini, Jeno banyak bercerita pada Jongin bagaimana Kyungsoo dibesarkan oleh neneknya. Wanita bangsawan yang telah hidup bersama Kyungsoo.
"Kita cari bersama."
Setelah mendengar ucapan Jongin, wanita itu menampilkan ekspresi kaget. Tapi tubuhnya telah di tarik. Membawa Kyungsoo kembali ke kamar, mendudukkan istrinya di pinggir ranjang sementara dia meraih ponsel pribadinya. Kyungsoo tidak sempat mengeluarkan protes ketika Jongin telah membuka beberapa situs toko terdekat dengan tempat mereka menginap.
Pria itu terlihat serius membuka satu persatu gallery toko online. "Mereka juga melayani pesan antar." Ucapnya pelan untuk memberitahu Kyungsoo.
Alis Kyungsoo naik satu tingkat, secara reflek dia mendekatkan wajahnya pada apa yang Jongin lihat.
"Aku tidak mau. Kau harus pergi sendiri ke toko itu Jongin," Protesnya membuat Jongin menghembuskan napas berat.
"Sama saja Kyungsoo. Aku akan membeli beberapa pakaian, mereka juga melakukan laundry secara langsung." Jongin kembali fokus pada ponselnya. Sementara Kyungsoo masih setengah penasaran.
"Kenapa gambar pakaiannya masuk ke keranjang?" Kyungsoo bertanya dengan polosnya. Entahlah! Jongin mulai setengah frustasi menghadapi kepolosan Kyungsoo atau dia benar-benar kolot.
"Kau tidak pernah belanja online?"
Kyungsoo menggeleng.
Baik Jongin harus ingat jika dia menghadapi seorang wanita yang dibesarkan oleh dua generasi sebelumnya. Astaga!
'Kakak memilih membaca koran daripada menonton televisi.'
'Kakak tidak pernah pergi ke cinema, tapi kalau gedung opera, cukup sering. Jika ingin membeli buku, dia akan bertanya langsung pada seseorang. Mendengarkan resensinya, jika penyampaiannya bagus maka dia akan membelinya. Atau langsung ke toko buku."
'Kakak tidak suka berjalan kaki, berolahraga keluar, dan apapun yang mengeluarkan banyak keringat.'
'Kakak itu seperti wanita yang dilahirkan di tahun enampuluhan dan terlempar ke abad ini.'
Jongin mengingat perkataan Jeno di awal pertunangan mereka.
Pria tan menghembuskan napas. "Ada yang kau sukai?"
Dia bertanya namun sangat lama untuk mendapatkan jawaban.
"Bagaimana kalau tidak sesuai gambar?"
"Kyungsoo," panggilnya lembut. "Semua ini dipotret setelah pakaian itu selesai. Percaya padaku."
Tentu saja Jongin tahu Kyungsoo tidak akan percaya padanya. Lihatlah alis tebalnya bertautan membentuk jembatan gelap di dahi.
"Aku tidak mau. Kau harus... Arghhh!"
Kalimatnya berubah menjadi teriakan ketika Jongin menjatuhkan tubuh Kyungsoo ke ranjang, menindih perempuan itu hingga dia bungkam.
"Bagaimana jika bercinta denganku? Dan aku benar-benar akan keluar untuk membelikanmu pakaian lengkap."
"Ma-mari kita beli online," ucapnya setengah gemetar. Jongin tersenyum sumringah mendengar ucapan Kyungsoo.
Ia tidak sepenuhnya bangkit dari tubuh Kyungsoo, tapi membalik tubuh wanita itu tengkurap dan menindihnya dari atas. Jongin menampilkan layar ponselnya ke wajah Kyungsoo. Memilih beberapa gaun tidur, gaun santai hingga melihat pakaian dalam.
Kyungsoo benar-benar tidak bisa fokus pada apa yang telah Jongin belikan untuknya. Napas Jongin terlalu menggelitik perpotongan lehernya yang tidak dilindungi selimut.
"Bisakah kau turun dari atas tubuhku? Kau berat Jongin."
"Tidak. Sebaiknya kau melihat gallery mereka Kyungsoo. Bagaimana gaun ini? Transparan dan begitu..."
"Jongin," wanita itu hampir menangis membuat Jongin terkejut.
Dia segera berguling ke samping. Mengambil posisi duduk dan membawa Kyungsoo ikut bangkit. "Kyungsoo? Kau baik-baik saja?"
Kyungsoo menggeleng. "Aku baik-baik saja. Bisakah aku mendapatkan pakaianku segera?"
"Y-ya." Setengah ragu Jongin menjawab. "Tapi aku perlu tahu ukuran payudaramu."
Kyungsoo ikut bingung, dia juga tidak tahu karena selama ini semua perlengkapan pribadinya tersedia begitu saja. Bagaimana cara mengukurnya? Kyungsoo tidak pernah tahu. Untuk seorang wanita, dia benar-benar adalah putri yang di besarkan di dalam kastil dengan puluhan pelayan.
"A-aku tidak tahu. Semua tersedia begitu saja."
Jongin mendongak menatap Kyungsoo. Perhatiannya teralihkan dari layar ponsel. Mereka hening beberapa saat sampai suara kekehan Jongin mengacaukan ketenangan membuat Kyungsoo malu setengah mati.
"Biarkan aku memegangnya. Aku janji hanya untuk mengetahuinya."
Reflek Kyungsoo mengeratkan selimutnya. "Kau...apa kau selalu memegang payudara perempuan?"
Tawa Jongin semakin kencang memenuhi kamar yang mereka sewa untuk satu minggu ini. Dia bahkan tak bisa berhenti sekalipun Kyungsoo melotot. Air mata Jongin menetes, namun pria itu segera mengendalikan diri. Ia menarik napas dan menghembuskan dalam beberapa kali percobaan.
"Jika kukatakan ya? Oh ayolah Kyungsoo. Percaya pada naluri lelakiku."
"Kenapa tidak melihat ukuran pada bra yang telah ibumu sediakan?" Kyungsoo masih protes.
"Kau sudah memakainya?" Selidik Jongin dan Kyungsoo menggeleng. Di balik pakaian yang dia kenakan saat ini tidak ada bra. Hanya ada celana dalam dan kaos milik Jongin yang menyentuh lututnya setelah Kyungsoo melepas gaun transparan tadi malam.
"Ya. Ya. Kemarilah. Aku akan menutup mata."
Rasanya hampir lima belas menit Kyungsoo menolak dan pada akhirnya dia menyerah, membiarkan tangan Jongin masuk ke balik selimut. Melewati pakaian yang dia kenakan. Mati-matian Kyungsoo mengigit bibir bawahnya untuk menahan desahan tapi semua gagal ketika sentuhan Jongin terlalu asing.
"Ahhh," alis Jongin naik setingkat mendengar desahan Kyungsoo.
Hanya untuk bermain-main, dia memperlama tangannya disana.
"Jonginhhh," panggil Kyungsoo gemetaran. Tangannya mencengkram sprei ranjang dengan sangat kuat.
"Hahh," napas berat meluncur begitu saja ketika Jongin menyelesaikan tugasnya.
"Payudaramu bentuk bulat, kau tidak perlu bantalan ataupun kawat. Kita beli bra biasa saja."
"Lalu ukurannya?" Kyungsoo penasaran tapi Jongin menjauhkan layar ponsel dari pandangan Kyungsoo.
"Sudah. Mereka akan tiba setengah jam lagi."
"Jongin! Kau tidak memberitahuku ukurannya?"
"Payudaramu sangat pas di tanganku seolah mereka diciptakan berpasangan. Mau kusentuh lagi Kyungsoo?"
"Astaga! Kenapa kau begitu mesum!"
Kyungsoo membalikkan badan memilih turun dari ranjang dan berjalan menjauh dari Jongin. Dia butuh setengah jam untuk mendapatkan pakaiannya.
~ RoséBear~
Jongin bilang setengah jam, nyatanya Kyungsoo harus menunggu dua jam karena pakaian itu langsung di laundry. Sementara pegawai toko butuh waktu tambahan untuk melayani pelanggan mereka satu ini.
Seharusnya Kyungsoo bisa tersenyum senang tapi Jongin membelikan gaun selutut untuknya. Namun lebih baik daripada apa yang ibu pria itu siapkan. Semua bahan lembut dan nyaman dikenakan, oh jangan lupakan bra yang Jongin pilih juga sangat pas.
"Jongin aku lapar. Ayo ke restoran hotel."
Pria itu segera mengangguk. Dia merasa kasihan telah membuat istrinya mengalah setiap saat.
"Jongin?"
"Ya?" Pria itu berhenti untuk memandang Kyungsoo, menunggu kalimat apa selanjutnya. Karena Kyungsoo belum beranjak dari sisi ranjang setelah dia berhasil membersihkan diri sendiri.
"Bisakah kau menguncir rambutku? A-aku tahu ini sulit. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa."
Ya Kim Jongin. Istrimu adalah seorang tuan putri yang terkurung di istana dengan pelayan berlalu lalang sepanjang hidupnya. Jangan salahkan dia jika tidak bisa melakukan hal-hal sederhana sekalipun. Dia terbiasa dilayani, dan tidak ada salahnya sedikit membantu untuk mendapatkan imbalan.
"Membayarnya dengan satu pelukan?"
Pundak Kyungsoo jatuh mendengar permintaan Jongin. Seharusnya dia sudah tau sebelum mengajukan permintaan. Tapi rambut terurai untuk makan terlalu merepotkan, Kyungsoo mengangguk. Tanpa menunggu lama Jongin membawa Kyungsoo duduk menghadap cermin hias. Dia mengeringkan rambut setengah basah Kyungsoo, mengambil sisir dan karet, hanya sebuah jalinan yang longgar namun elegan.
"Bagaimana kau seorang pria bisa melakukannya?" Kyungsoo bertanya penuh kekaguman. Namun tubuhnya segera ditarik berdiri, Jongin memeluknya erat.
"Kau lupa aku punya saudara perempuan, dia mengajariku melakukannya."
Mereka berjalan bergandengan tangan setelah perdebatan lima menit agar Kyungsoo melepaskan sarung tangannya. Mereka hanya pergi untuk mencari makan, bukan ke pesta dansa.
Jongin itu type open minded, pemikirannya terbuka dan dia menerima hal baru, tapi berpikir berkali-kali untuk menerima pemikiran kolot Kyungsoo. Lihatlah bagaimana mereka berdebat tentang posisi meja. Kyungsoo menolak untuk duduk bergabung dengan orang-orang sementara seseorang memanggil Jongin. Pria ini terkenal dimana-mana, seorang teman menyapa kedatangan Jongin. Sebuah kebetulan dia bertemu Jongdae dan istrinya Minseok. Jongin bilang mereka teman sekolahnya dulu.
Kyungsoo tidak mengerti percakapan mereka bahkan Jongdae, pria itu tidak tahu jika Kyungsoo adalah istri Jongin sementara suaminya juga tidak memperkenalkan Kyungsoo secara pasti.
"Bagaimana kondisi Luhan?"
Kyungsoo ikut memandang Jongin ketika Jongdae bertanya. Pasalnya pria tan ini tidak memberi jawaban segera seperti biasanya. Bahkan Jongin hanya tersenyum canggung.
"Kau pasti sangat kerepotankan Jongin? Harusnya kau tidak perlu..."
"Sepertinya kami selesai. Aku harus membawa Kyungsoo keluar. Apa kalian menginap di hotel ini?"
Kyungsoo semakin bingung ketika Jongin memotong ucapan temannya.
Jongdae menggeleng. "Kami tidak menginap disini. Minseok sedang mengandung dan dia bilang ingin makan di sini."
"Oh baiklah. Selamat untuk kandunganmu Minseok-ah, kami harus pergi."
Kyungsoo pikir dia tidak butuh keluar apalagi di luar sana masih hujan walau menyisahkan gerimis. Tapi langkah Jongin terlalu lebar untuk membuatnya berhenti. Kyungsoo terseret oleh tarikan Jongin.
"Jongin! Kita tidak perlu keluar."
"Jongin! Kumohon! Jika kau tidak ingin membahas orang bernama Luhan itu aku akan diam. Tapi aku tidak mau keluar."
Kaki keduanya mengarah ke lobby hotel lalu ketika satu permohonan meluncur membuat Jongin berhenti, dia menarik Kyungsoo dalam sebuah pelukan. "Sebentar saja."
Ya Tuhan, apa yang pria ini lakukan. Dalam hitungan jam dia terlihat begitu rapuh. Tidak hanya membuat Kyungsoo kebingungan tapi lebih buruk daripada itu. Bukankah dia menginginkan perubahan dalam diri Kyungsoo, tapi apa yang dipikirkan lelaki ini sekarang. Secara tiba-tiba dia tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik.
Ada hal penting dimana dia berusaha mengulur waktu. Tapi mulai sekarang sesuatu membuatnya sangat tertekan. Tentunya karena dia telah mengalami sebuah permasalahan yang lebih buruk di masa lalu.
To be continue...
Wahhhh aku lelah menyetir 4 jam untuk kembali agar bisa mempertemukan laptop dengan pengisi dayanya. Akhirnya aku baru sadar jika bagian ini belum di edit. Jadi aku benar-benar minta maaf atas penemuan typo sepanjang cerita. It's oke... it's not fine because a problem appears on the next chapter. Please correct me if you find some typo and any mistake.
KaiSoo
KaiLu -KaiHunHan
Preview Chapter 03
"Jika kau memesan sesuatu aku akan membiarkanmu memelukku." –Kyungsoo
"Aku tidak akan pernah mabuk lagi." –Jongin
"Kim Jongin? Pasien ingin menemui anda."-
Thank You.
.
RoséBear
[170630c – 170903p]
