"Jongin! Kita tidak perlu keluar."
"Jongin! Kumohon! Jika kau tidak ingin membahas orang bernama Luhan itu aku akan diam. Tapi aku tidak mau keluar."
Kaki keduanya mengarah ke lobby hotel ketika satu permohonan meluncur membuat Jongin berhenti, dia menarik Kyungsoo dalam sebuah pelukan.
"Sebentar saja."
CONTEMPORARY
[3th Chapter]
Present by RoséBear
[KaiSoo FF]
About
Relationship – Family – Friendship – Love - Comfort - Sacrifice - Hurt
Content: Sensitive subject matter, Sexual Content
original fanfiction, GS, some typo
Beberapa hari sudah Jongin mengabaikan Kyungsoo. Pria itu melayani permintaan Kyungsoo, mereka menyewa sebuah mobil dan pergi ke toko buku. Kyungsoo kebingungan untuk memilih beberapa buku bacaan sementara Jongin diam tidak banyak bergerak hanya memperhatikan Kyungsoo.
Selama sisa hari dia menghabiskan hari-hari menyenangkan dengan membaca buku-buku serta artikel terbaru. Kyungsoo ingin memanggil Jongin tapi skinship yang selalu Jongin lakukan membuatnya mengurungkan niat.
Seperti siang ini, Kyungsoo menggeleng melihat Jongin menyalakan televisi namun pandangan pria itu menerawang begitu jauh, membiarkan acara televisi menonton dirinya.
Tapi Kyungsoo merasa kasihan, dia berjalan mendekat. Mengambil remote televisi dan baru saja akan menekan tombol off. Pandangan matanya tiba-tiba saja dikejutkan oleh pergantian acara. Entah kenapa Kyungsoo tersenyum lalu duduk di sebelah Jongin.
Kapan terakhir kali Kyungsoo bisa tertawa karena menonton televisi? Tidak pernah, dia tidak tertarik dengan layar televisi. Tapi sebuah kartun kumpulan makhluk di kutub membuatnya terpesona.
"Haha~" Kyungsoo tertawa pelan karena menonton acara televisi.
Oh pororo. Pinguin itu mampu membuatnya tertawa hingga mengembalikan Jongin ke alam sadar.
Lima menit Jongin habiskan memandangi Kyungsoo. Bibirnya ikut terangkat, tanpa sadar pria itu tersenyum. Kadangkala dia merasa bahagia, kadangkala dia juga merasakan kesedihan lalu sesuatu yang membuatnya hanya akan menghela napas berat kemudian membawa langkah mundur. Semua itu telah terjadi sepanjang hidup yang dia jalani. Seolah kebahagiaan itu melekat namun kenyataannya sangat sulit untuk diraih karena ukuran kebahagiaan yang Jongin miliki relatif sebagaimana mengikuti karakter dirinya.
Karena perasaan individu berbeda pada setiap waktu.
"Owh! Jo-Jongin?"
Benar saja, wanita itu terkejut ketika menyadari tatapan Jongin pada dirinya. Reflek tangan Kyungsoo meraih remote dan akan mematikan layar televisi tapi Jongin menahannya.
"Tidak. Biarkan aku melihat apa yang bisa membuat istriku tertawa begitu lepas."
Sebenarnya kebahagiaan itu datang dan pergi lalu kembali lagi. Tidak memerlukan usaha berlebihan karena pada dasarnya kebahagiaan menghampiri siapapun, seperti saat ini ketika Jongin menyadari keberadaan Kyungsoo.
"Errr maaf," Kyungsoo menunduk. Dia merasa telah mengganggu waktu Jongin.
"Maaf? Kau tidak melakukan kesalahan Kyungsoo sayang. Owhh pororo? Kau menyukainya?"
Setengah ragu wanita itu mengangguk. Bibirnya terkatup rapat sementara mata bulat itu terbuka sangat lebar.
"Kita bisa menontonnya bersama," jawab Jongin segera.
Tapi Kyungsoo putuskan untuk mematikan televisi membuat Jongin menatapnya terkejut. Semua kejadian, dimana Kyungsoo membuatnya kembali bergairah karena ketulusannya.
"Aku akan memesan makan siang. Kau mau makan apa?"
Jongin menggeleng. "Aku tidak lapar."
Desahan berat meluncur dari bibir Kyungsoo. Pria ini tiba-tiba saja menjadi lebih diam setelah pertemuan mereka dengan temannya beberapa hari lalu.
"Jika kau memesan sesuatu aku akan membiarkanmu memelukku."
Apakah hal ini dapat dia lakukan? Tentu saja. Kyungsoo berhasil menguasai perasaan Jongin ketika dia memahami kebiasaan kecil lelaki tan ini. Bukankah ada timbal balik atas sebuah penawaran.
Perhatikanlah bagaimana mata Jongin melebar mendengar perkataan Kyungsoo tapi gadis itu mengangkat bahu tidak peduli.
"Aku mulai terbiasa dengan pelukanmu," dia berkata jujur tentang kalimat pendek barusan. Kyungsoo baru saja akan benar-benar pergi namun Jongin tidaklah menyia-nyiakan kesempatan. "Bagaimana jika satu box ayam goreng?" Ia menarik tangan Kyungsoo membuat wanita itu terduduk di atas pangkuan. Memeluk Kyungsoo cukup lama.
"Sepertinya aku harus mengubah penawaran jika kau mulai terbiasa dengan pelukan seperti ini," ia berbisik membuat tubuh Kyungsoo kegelian karena sentuhan bibir Jongin pada telinga sementara napasnya meluncur masuk.
"Jo-Jongin..." Panggil Kyungsoo pelan. Saat itu ponsel Jongin berbunyi nyaring. Membuatnya melepaskan Kyungsoo ketika sebuah panggilan yang membuat Jongin beranjak menjauh.
Mata Kyungsoo mengikuti kemana langkah Jongin yang membawa tubuh pria itu menjauh ke area mini bar di dalam kamar hotel. Dia bicara cukup serius kemudian menghampiri Kyungsoo dengan segera.
"Aku akan pulang larut malam, kau bisa sendiri di kamar hotel?"
Sayangnya Jongin tidak menerima jawaban Kyungsoo. Pria itu mencium keningnya lembut. Meraih jaket dan dompet lalu meninggalkan Kyungsoo yang masih dalam kebingungan. Bukankah beberapa saat yang lalu dia begitu tertutup dan baru saja tersenyum ketika ketulusan Kyungsoo menyentuhnya.
"Aku tidak bisa," bisik Kyungsoo pelan. Sayang jawaban itu sudah tidak berarti apa-apa lagi ketika pria tan menghilang di balik pintu.
~ RoséBear~
Moonlight before my bed, perhaps frost on the ground.
Terang bulan tak mampu menenangkan. Hujan beberapa hari ini masih menyisahkan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Bukan hanya perasaan, tapi benar-benar kesepian. Ini pertama kalinya bagi gadis itu berada di tempat asing, sendirian tanpa teman bicara. Jika dia menghubungi keluarganya, akan terdengar aneh nanti saat mereka bertanya dimana suaminya berada.
Kyungsoo
Dia bahkan tidak tahu kemana Jongin pergi apalagi jam berapa pria itu akan kembali. Hingga sepertiga malam yang tersisa dia masih menunggu kepulangan Jongin.
Duduk di atas sofa dengan memeluk kedua lutut. Sesekali kepalanya terangkat memastikan keadaan sekitar, menatap jam dinding yang pada akhirnya membuat Kyungsoo mulai lelah, entah hembusan napas berat yang keberapa kali sampai pada akhirnya dia mendengar suara berisik dari arah pintu.
Ia terlonjak kaget, melompat turun dari sofa. Kaki-kaki mungil Kyungsoo membawa dirinya mendekati daun pintu. Tidak terlalu peduli akan lantai hotel yang begitu dingin.
"Jongin!" Dalam detik itu ketika pintu terbuka dia menerima tubuh pria yang telah ia tunggu selama berjam-jam ambruk begitu saja akibat tersandung langkahnya sendiri, menyisahkan setengah kesadaran. Kepala yang terjatuh di pundak Kyungsoo mengakibatkan napas dari mulut pria itu menggelitik kulit leher Kyungsoo. Sesaat dia merinding namun dengan segera Kyungsoo menyadari sesuatu yang tidak pernah dia inginkan sebelumnya.
"Jongin? Kau mabuk?"
Kyungsoo terpundur kebelakang akibat berat tubuh pria itu.
Seperti lalu lintas yang mengalir dua arah, dimana saat ini kesusahan menjadi penghambat Kyungsoo. Dia mendapat kesulitan berlipat ganda akibat gerakan Jongin yang tiba-tiba.
"Owhhh Nona Do yang menawan. Kenapa kau ada di sini?"
Alis Kyungsoo naik setingkat mendengar perkataan Jongin. Susah payah ia menyeret pria itu masuk, mengunci pintu dan membawa Jongin semakin ke dalam. Tubuhnya ikut terjatuh ke atas sofa ketika hendak membaringkan Jongin.
Bukankah setiap orang memiliki setidaknya satu tanggung jawab. Tapi menjadi tidak menyenangkan ketika tanggung jawab itu terlalu menyakitkan dan membawa kesedihan.
"Jongin~ lepaskan aku!" Tangannya menolak kedekatan dengan Jongin. Pria ini benar-benar mabuk entah apa penyebabnya. Kyungsoo tidak ingin tahu hanya saja posisi saat ini membuatnya dalam masalah. Signal bahaya Kyungsoo menangkap hal mengerikan ketika tangan pria tan melingkar hingga mengusap punggungnya berkali-kali.
"Kau sangat wangi Kyung."
Kaki Kyungsoo bergerak gelisah kala Jongin membuatnya kesulitan bergerak, ia terperangkap dalam dekapan kuat Jongin. Aroma alkohol membuatnya ikut pusing, bersamaan dengan itu Kyungsoo merasakan panas di sekujur tubuhnya.
"Aku sudah pulang. Apa kau mencemaskan aku sayang?"
Kyungsoo tidak peduli pada ucapan Jongin, pria ini sedang mabuk. Terlalu mabuk untuk memahami situasi mereka yang sebenarnya. Dia diam sebentar, menahan diri atas hasrat Jongin yang tiba-tiba muncul. Kyungsoo mengigit bibir bawahnya kuat menahan desahan ketika tangan Jongin menaikkan gaun tidurnya hingga ke paha. Meremas pantatnya dengan begitu kuat.
"Jonginhhhh!" Kyungsoo tidak bisa bertahan lebih lama. Sentuhan yang terlalu asing, dia menolak kedekatan yang terlalu tiba-tiba. Ketakutan membuatnya begitu lemah bahkan hanya untuk melepaskan diri dari dekatapan lelaki yang beberapa hari lalu menjadi suaminya.
"JONGINHHHH!" Wanita itu berteriak menyerah saat Jongin mengigit puting payudaranya dari balik gaun tidur tipis, dia tidak mengenakan bra sebagai pembatas. Hanya ada gaun tidur berbahan lembut.
Kepala Kyungsoo mendongak menatap langit-langit ruangan, tanpa sadar air matanya keluar.
"Stop...please..."
Napas memburu, Kyungsoo meronta dalam dekapan Jongin. Tapi apapun yang dia lakukan untuk melawan gairah Jongin semua berakhir sia-sia.
"Jongin kumohon! Berhenti!" Kyungsoo telah terisak ketika bibir tebal itu mencium kulit lehernya, meninggalkan jejak saliva kemudian giginya mengigit menimbulkan rasa sakit. Tubuh Kyungsoo menolak sentuhan yang terlalu terburu-buru. Tidak hanya satu kissmark tapi Jongin berhasil menguasai leher dan meninggalkan beberapa tanda hingga ke tulang dada Kyungsoo. Sementara tangan pria itu trus saja menggoda pantat Kyungsoo. Membawa tangan yang lain ikut naik turun di punggung Kyungsoo.
"JONGIN!" Kyungsoo berteriak nyaring. Mendorong sekuat tenaga tubuhnya hingga terjatuh dari sofa dan menghantam karpet berbulu. Wanita itu beringsut mundur dengan napas tersenggal. Kondisinya tidak terlalu baik, rambut berantakan dan pakaian yang tersingkap ke atas. Keringat membanjiri tubuh Kyungsoo, ia menjaga jarak. Rasanya cukup lama hingga pergerakan Jongin benar-benar dirasa hilang. Pria itu tertidur ketika Kyungsoo memberanikan diri mengintipnya.
Pelan, dengan tubuh yang masih sedikit bergetar dia beranjak dari atas karpet. Kyungsoo mengigit bibir bawahnya menahan diri, ia merasakan suhu tubuh di dahi Jongin yang sedikit hangat akibat pengaruh alkohol.
Napas berat Kyungsoo meluncur pelan, ia berbalik badan. Mengambil selimut dan bantal. Kembali untuk merawat pria itu, mengompresnya selama sisa malam dengan masih berusaha menjaga jarak. Gerakan Jongin yang terbilang kikuk dalam tidurnya masih menyalakan alarm bahaya Kyungsoo.
Walau Jongin telah membuatnya sangat ketakutan tapi Kyungsoo tidak meninggalkan pria itu sendirian, tetap berada di tempat yang sama. Duduk di lantai dan menopang kepala dengan kedua tangan.
Bosan?
Kyungsoo tidak merasakan itu, jemarinya tanpa sadar menyentuh wajah Jongin. Menyentuh bibir yang telah memberinya rasa ciuman pertama. Kata-kata manis dan bagaimana hidung Jongin sering kali membuat geli kulit Kyungsoo. Mata kelam itu sedang beristirahat di balik kelopak matanya yang tertutup.
"Kau membuatku sangat ketakutan. Segeralah sadar Jongin."
Dia telah mengesampingkan perasaan takutnya ketika menyadari pria tan tertidur. Meskipun begitu, alarm bahaya yang berlokasi di pikiran Kyungsoo memberinya pintu terbuka agar bisa berpikir untuk menjaga jarak aman.
~ RoséBear~
Kyungsoo duduk di kursi meja bar kamar hotel dengan segelas susu putih hangat. Jari telunjuknya berputar di bibir gelas sementara tangan yang satu menopang kepala mungilnya. Kyungsoo tidak tidur semalaman akibat menunggu Jongin pulang dan setelah pria itu pulang dia merawat lelaki itu. Setengah jam yang lalu Ia telah memesan makanan dari hotel. Sup kaldu hangat dan minuman jahe. Ia menyadari ini pertama kalinya Jongin bisa mendiamkan Kyungsoo dalam beberapa hari sejak pertemuan pertama mereka karena pria itu perlahan memperkenalkan dunianya, tapi nyatanya tidak seperti itu. Masih ada bagian Jongin yang tidak bisa di lihat oleh Kyungsoo. Ia berefleksi pada waktu yang pernah mereka lewati beberapa bulan ini, ketika Jongin berhasil mempengaruhi emosi Kyungsoo.
"Arghhh!"
Kyungsoo terlonjak kaget ketika telinga sensitifnya mendengar suara erangan yang cukup dekat. Ia berbalik badan dan menemukan Jongin telah berdiri di dinding menahan rasa pusing. Kyungsoo tidak beranjak dari tempatnya, ia menunggu pria itu melangkah mendekat. Membantunya duduk bersebelahan, tapi pria itu menarik kursi menghadap Kyungsoo dari samping.
"Sup kaldu dan sayuran bisa menghilangkan hang over yang kau alami. Tapi sebelumnya minumlah teh jahe ini."
Kyungsoo mendorong makanan yang telah ia pesan sebelumnya ke hadapan Jongin membuat pria itu mengernyit. Memang benar dia masih merasa sedikit pusing.
"Aku tidak akan pernah minum lagi."
Kyungsoo sama sekali tidak menanggapi perkataan Jongin barusan. Bukankah orang mabuk biasa berkata seperti itu setelah mereka terbangun sehabis minum-minum berlebihan. Dia memalingkan wajah, bahkan menarik kursi sedikit menjauh. Bayangan apa yang Jongin lakukan tadi malam masih meninggalkan rasa takut.
Pria itu mencoba mengembalikan tenaganya dengan meneguk setiap sendok sup yang telah Kyungsoo berikan. Barulah setelah selesai dia mendorong jauh mangkuk kosong itu.
"Kenapa kau menjaga jarak dariku? Apa aku melakukan sesuatu kepadamu saat sedang mabuk?"
Kyungsoo terkesiap dengan sentuhan Jongin di pundak kirinya. Ia berhasil memprogram ulang pikirannya dari rasa takut yang timbul tadi malam.
"Ti-tidak. Sebaiknya aku mandi lebih dulu."
Baru saja Kyungsoo melompat turun dari kursi bar tapi ia tersandung membuatnya terperosok dan berpegangan erat pada meja bar. Kyungsoo terpekik kecil, ia beruntung Jongin sigap dan menahan kepalanya agar tidak menghantam meja bar.
"Kyungsoo? Kau kenapa?"
Tentu saja Jongin yang perlahan meraih kesadaran menjadi sangat kebingungan atas kekikukan Kyungsoo. Dimana lelaki itu benar-benar tidak menyadari tentang apa yang telah terjadi sebenarnya.
"A-aku baik-baik saja."
Mungkin dia sedang berusaha mengelak sekuat tenaga. Tapi reaksi yang dimunculkan tidak bisa mengikuti perintah otak. Kyungsoo tergagap setiap kali menjawab ucapan Jongin.
"A-aku mau mandi Jongin."
Dia menyingkirkan tangan Jongin, segera menunduk dan berjalan menjauh. Mengurung diri di kamar mandi adalah salah satu ide yang muncul sejak dia memesan makanan.
Setengah jam Kyungsoo habiskan waktunya di kamar mandi. Dia keluar dengan bathrobe panjang menutup hampir seluruh tubuhnya. Rambut basah dibalut handuk pendek.
"Kyungsoo."
Wanita itu terkejut ketika mendapati Jongin telah berdiri di hadapannya saat membuka pintu kamar mandi. Tubuh Kyungsoo menegang seketika, dia masih menjaga jarak setiap mengingat perlakukan Jongin tadi malam. Oke! Pria itu melakukannya disaat mabuk tapi bayangan apa yang dia lakukan masih menghantui Kyungsoo. Gadis ini terlalu polos dengan tindakan semacam itu, tidak pernah ada yang menyakitinya. Oh mungkin dulu pernah ada teman-teman dari kelas belalang yang pernah mengambil bekal makan siang Kyungsoo hingga gadis ini menangis. Tapi mereka hanya anak-anak yang terlalu polos. Sementara saat ini, seorang pria dewasa yang mampu mengajak seorang wanita keluar dan menarik perhatian orang-orang sepanjang perjalanan kemudian semua orang benar-benar memberikan respon baik kepada setiap langkahnya.
Tapi jika dia menyadari sesuatu yang aneh maka segera lelaki mengungkapkannya.
"A-apa yang terjadi dengan lehermu?"
Reflek Kyungsoo menangkup lehernya sendiri. Dia menggulung rambut ke atas membuka bagian leher hingga Jongin bisa melihat apa yang dia tinggalkan untuk Kyungsoo tadi malam.
"Bu-bukan apa-apa."
Kyungsoo kembali tergagap. Dia menunduk, menggigit bibir bawahnya menolak sentuhan Jongin.
"Kumohon!" tanpa sadar dia terpekik menjauhkan diri dari Jongin membuat pria itu terdiam.
"Apa... Aku yang melakukannya padamu?"
Kyungsoo masih menahan diri saat kedua tangan Jongin memegang pundaknya. Pria itu mensejajarkan wajahnya dengan Kyungsoo.
"Jawab aku Kyungsoo."
"Y-ya. Kau melakukannya saat mabuk," Kyungsoo menyerah dan mengungkapkannya.
Napas berat Jongin meluncur membuat Kyungsoo terpejam."Maafkan aku sayang. Dia menarik Kyungsoo dalam sebuah pelukan."
"Jongin lepaskan."
"Tidak akan. Aku tidak ingin menyakitimu Kyungsoo."
Perlahan tubuh Kyungsoo menerima sentuhan Jongin. Sangat berbeda dengan tadi malam. Kali ini terasa hangat dan juga membuatnya nyaman. Seperti berteduh di bawah payung ketika hari hujan, karena sekarang Jongin bersikap begitu lembut seperti biasanya. Ia berhasil memperoleh kesadaran dan menghilangkan ketakutan Kyungsoo secara perlahan.
"Katakan padaku, apa yang kulakukan dan juga apa yang kukatakan padamu tadi malam."
Dia masih menahan Kyungsoo dalam pelukannya.
"Kau tidak bicara apapun. Tapi kau menakutkan," Kyungsoo bergumam pelan.
"Menakutkan?" Jongin mencoba meyakinkan pendengaranya.
"Seakan kau ingin memperkosaku," ia benar-benar mengakui perasaannya.
"Oh. Maafkan aku Kyungsoo."
Dia menjatuhkan dagunya di kepala Kyungsoo, mengelus penuh sayang punggung wanita ini. Sangat berbeda dengan apa yang dia lakukan tadi malam.
Setelah semuanya berakhir lebih baik, Kyungsoo tidak akan marah. Dia bukan tipe pendendam, rasanya sifat konservatif Kyungsoo tidak berlaku pada sikapnya. Dia memaafkan seseorang dengan sangat mudah.
Jongin tidak menjelaskan alasan kenapa dia mabuk, sementara Kyungsoo juga tidak menuntut penjelasan. Dia hanya berkata pergi mengunjungi temannya hingga pulang malam hari dan Kyungsoo tertidur ketika Jongin bercerita.
~ RoséBear~
Berjam-jam Jongin habiskan waktu untuk memandangi wajah damai Kyungsoo, lingkaran hitam samar yang terbentuk pada kantung matanya membuat Jongin merasa bersalah. Pria ini memang seorang progresif tapi dia mudah sekali merasa bersalah. Napas hangat membelai wajah Kyungsoo, Jongin telah merapikan wanita itu berkali-kali agar udara dingin tidak menyakitinya. Membawa selimut hingga menutupi bagian leher Kyungsoo, dia semakin merasa bersalah karena bercak kemerahan yang menyakiti istrinya sendiri.
Jari telunjuk pria itu membelai pipi gembilnya, membuat Kyungsoo mengernyit dalam tidurnya.
"Hah, jika tahu apa yang kulakukan tadi malam apa kau akan semudah itu memaafkan aku?" Dia berbisik pelan.
"Aku tahu tidak seharusnya kulakukan dan meninggalkanmu tapi aku tidak bisa."
Dia mengecup pipi Kyungsoo cukup lama seolah ingin mengatakan permintaan maafnya. Seolah dia sedang berusaha mengakui dosa agar menerima ampunan.
Pria tan itu mengingat apa yang terjadi kemarin, dia berlari tergesa-gesa menyusuri koridor rumah sakit akibat sebuah panggilan. Napas memburu setelah tiba dan dia hanya bisa berdiri di koridor tanpa bisa masuk untuk menenangkan seseorang yang berteriak kesakitan di dalam ruangan dengan penanganan Dokter.
Lama dia di sana hingga dokter menyelesaikan pekerjaannya. Seorang pria lebih muda beberapa bulan menghampiri Jongin. Menyapanya dengan sangat lembut seakan mereka masih berteman sangat baik padahal hubungan mereka telah hancur. Mereka disini karena satu orang yang sama.
"Aku mendengar pernikahanmu dengan putri seorang direktur. Selamat Kim."
Bahkan ucapan formal itu terkesan seperti mereka adalah teman bisnis yang baru akan memulai usaha bersama.
Jongin tidak sempat menjawab karena pemuda itu telah melanjutkan kalimatnya.
"Jika Luhan tahu dia pasti akan sangat kecewa padamu."
Mendengar kalimat selanjutnya Jongin hanya terdiam. Menunduk memandang lantai koridor rumah sakit.
Seorang dokter keluar dari ruangan, keduanya berdiri dalam waktu bersamaan.
"Kim Jongin? Pasien ingin menemui anda."
Jongin mengangguk atas panggilan kepada nama aslinya. Dia melewati dokter dan pemuda itu. Membuka pintu yang menjadi pembatas dengan suara teriakan sakit beberapa waktu lalu.
"Jongin? Kau menemuiku?"
"Ya."
Jongin hanya menjawab singkat. Memberitahu gadis ini jika dirinya yang ada di ruangan.
"Kau dimana? Aku ingin menyentuhmu."
Ya Kim Jongin. Apa yang sedang kau lakukan? Menyakiti diri sendiri? Menyakiti istrimu? Berapa banyak orang yang harus kau sakiti karena perasaanmu? Hanya karena rasa dekat dan kebaikan hatimu semata.
Kini dia hanya bisa memandangi wajah tenang Kyungsoo. Gadis polos yang telah masuk begitu saja dalam kehidupan Jongin tanpa tahu apapun. Kyungsoo jauh lebih baik hati dari apa yang orang pikirkan saat melihatnya.
Jongin telah menunggu Kyungsoo tertidur cukup lama, menemani wanita itu agar dia bisa menikmati waktu istirahat pengganti. Ketika dia segera menyadari kesalahan yang ia perbuat, dia menghubungi layanan hotel dan mereservasi tempat untuk makan malam berdua bersama istrinya. Jongin merasa bersalah membuat Kyungsoo merasa ketakutan. Pria itu tidak masalah menggunakan kaos panjang yang dimasukkan ke dalam celana dasar mengejutkan Kyungsoo ketika dia terjaga. Penampilan klasik Jongin membawa mata bulat Kyungsoo menatapnya bingung.
"Kau sudah bangun tuan putri?"
Wanita itu butuh beberapa menit untuk menyadarkan dirinya. Jongin membantu Kyungsoo segera bangun.
"Setelah makan siang kau tertidur tanpa mendengar ceritaku hingga selesai. Aku sudah mereservasi tempat makan malam di luar. Kau tidak akan menolak bukan? Permintaan maaf karena membuatmu terjaga semalaman."
Dia baru saja terjaga dari tidur lelapnya dan mendapat sebuah kejutan. Tuan putri ini merasa hangat hatinya karena ucapan Jongin yang begitu lembut. Tanpa sadar dia mengangguk segera, menerima uluran tangan Jongin untuk berdiri.
Pria itu mendorong tubuhnya memasuki kamar mandi. "Aku juga sudah menyiapkan pakaianmu, kuharap kau tidak menolak Kyungsoo sayang."
Sepersekian detik Kyungsoo terdiam mendengar perkataan Jongin tapi tubuhnya sudah kembali di dorong memasuki kamar mandi. Owhh dia terus berpikir tanpa mengeluarkan suara selama di kamar mandi.
Wanita itu tidak membutuhkan banyak waktu agar bisa segera terjaga. Dia keluar dari kamar mandi dengan rambut kering dan bathrobe panjang sebagaimana biasanya. Menatap terkejut dengan pakaian yang Jongin pilihkan. Atasan sweater yang mana warnanya disenadakan dengan rok panjang motif yang diperlihatkanpun merupakan campuran floral dan etnik. Senyum dari bibir hati Kyungsoo menandakan betapa dia menyukai pakaian yang Jongin pilihkan.
"Aku membelinya saat kau tertidur. Kau akan memakainya kan?"
"Uhmm ya. Terima kasih banyak Jongin."
"Bisakah aku mendapatkan ciuman di bibir atas ucapan terima kasihmu?"
Kyungsoo terdiam sejenak kemudian tawanya meluncur dengan halus membuat Jongin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia merasa malu pada dirinya sendiri setelah meminta hal seperti itu kepada Kyungsoo. Tapi tawa Kyungsoo barusan benar-benar meringakan hatinya. Jongin merasa tidak masalah jika permintaannya harus ditolak.
Tapi tanpa dia duga Kyungsoo berjinjit cepat mencium bibirnya. Satu kecupan dan wanita itu merebut pakaian dari tangan Jongin. Berlari kembali memasuki kamar mandi membuat wajah pria itu merah merona.
"Wow!" Jongin berseru atas apa yang baru saja dilakukan Kyungsoo pada dirinya. Jemarinya menyentuh bibir yang baru saja dikecup Kyungsoo.
~ RoséBear~
Kegelapan di langit merefleksikan malam hari. Cahaya bintang yang dengan setia menemani bulan, kota metropolis dengan berbagai kebanggan. Daerah perkotaan, pemukiman, gedung bertingkat, pencakar langit, cityscape, ini adalah kota yang besar sekali. Sebuah pusat kota di musim panas, warna-warni lampu yang terlihat dari atas bangunan menjadi begitu terkenal. Astaga! Walau tidak ada pemandangan laut disini, matahari terbenam membuat bangunan seperti kubah emas, senja yang membuat kesenangan tidak bisa terlupakan. Lalu lintas malam hari, Kyungsoo bisa menyaksikan semua itu dari sini. Jongin memilih tempat makan malam yang luar biasa. Di atas bangunan limapuluh tingkat dengan hanya ada mereka dan beberapa pelayan restoran.
Mereka menerima hidangan pembuka saat Kyungsoo belum selesai mengangumi apa yang dia lihat, tampak begitu lezat dengan keju panggang. Tidak lupa gourmet salad, sang koki menuai pujian Kyungsoo atas keahlian penyajian pada makanan ini.
"Mau berdansa denganku?"
Senyum Kyungsoo tidak bisa pudar barang sedetikpun ketika tangan Jongin terulur menunggu penyambutan wanita ini. Jongin telah meminta Kyungsoo melepas sarung tangan dansanya, dia akan berdansa dan bersentuhan langsung dengan Jongin.
Jauh lebih baik daripada sentuhan Jongin tadi malam. Tak henti-hentinya Kyungsoo memandangi wajah Jongin dari jarak yang begitu dekat. Dia telah memastikan pria ini adalah Kim Jongin yang selalu ada pada hari biasanya, tidak ada Jongin yang kehilangan kesadaran apalagi seorang pria menakutkan.
"Apa aku tampan?"
Pertanyaan mengejutkan dari Jongin membuat Kyungsoo berkedip beberapa kali.
"Ya. Maaf atas pertemuan pertama kita yang sedikit aneh."
Jongin hanya tersenyum mendengar pengakuan Kyungsoo. "Kau menyesal menikah denganku?"
Sejujurnya Jongin menyimpan pertanyaan itu tapi nyatanya meluncur keluar dari mulutnya sendiri bahkan ia terdiam menyadari apa yang baru saja dia katakan. Pria itu tersenyum canggung, disisi lain Kyungsoo memikirkan jawaban yang tepat.
"Apa aku boleh mencobanya? Maksudku... Kupikir kita tidak cocok. Kau yang begitu progresif dan aku..."
Jongin segera memotong kalimat Kyungsoo, "Aku akan mengajarimu tentang apapun yang ingin kau ketahui. Semua hal baru yang tidak diberitahu nenekmu. Aku akan mengajarimu, oh Kyungsoo, dunia ini sangat indah. Kau bisa sangat percaya padaku?"
"Aku sedikit ragu Jongin."
Mereka masih menyesuaikan gerakan dengan lagu ballad yang terputar, menyesuaikan langkah satu sama lain agar tidak merusak suasana.
"Bukankah kau sudah mencobanya? Kau melakukan apa yang seharusnya dilakukan anak yang lahir di zaman kita."
"Yack!" Kyungsoo memukul dada bidang Jongin pelan. "Kau pikir aku lahir di abad berapa? Aku hanya lebih tua satu tahun darimu."
Jongin terkekeh pelan mendengar Kyungsoo merajuk padanya.
"Tapi kau akan mengajariku dengan benar? Jangan pernah meninggalkanku, dan... Jangan mabuk lagi."
Kata-kata barusan benar-benar menyentak Jongin. Memukulnya begitu keras hingga dia segera sadar tentang ketakutan Kyungsoo akibat perlakuannya tadi malam.
"Hu um. Aku berjanji padamu tuan putri."
Kyungsoo tertawa pelan mendengar panggilan Jongin. Hatinya menghangat untuk sebuah perjanjian yang terdengar aneh.
Do Kyungsoo. Siapkah kau dengan kenyataan dunia di luar kastil yang telah dibangun oleh nenekmu? Yeah... Kita akui bersama betapa dunia telah banyak berubah dari tahun ketahun, setiap menit yang berganti menjadi jam, membentuk hari dan sebuah masa lalu. Jika kau tahu, di dunia yang akan diperlihatkan suamimu memang akan banyak kenikmatan, kebahagiaan, kepuasan, kemenangan, kau juga akan terhibur pastinya. Selain itu, ada rasa cinta yang bisa kau dapatkan dari persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, perasaan dekat yang melahirkan kemesraan. Tapi jangan merasa bingung jika sewaktu waktu kau merasa amarah menguasai dirimu, karena kesal, emosi terkumpul hingga kau membenci bahkan mengamuk. Oh jangan lupakan, kesedihan juga menghampiri jika kau putus asa hingga mengasihani diri sendiri. Bersiaplah untuk terkejut hingga kau merasa begitu malu dan menjadi tidak suka. Jongin, pria itu telah melewati begitu banyak bentuk emosi sepanjang hidupnya.
To Be Continue...
Thank you for sticking with my fanfic. Well, hope you guys enjoy the next part.
Preview Chapter 04
"Apa yang kau inginkan Kyungsoo? Aku akan melakukannya?" –Jongin
"Ya. Jangan khawatir, aku ingin memastikan kau tidak mabuk lagi." -Kyungsoo
"Jadi Jongin sudah menikah?" –
Thank You.
.
RoséBear
[170701c – 170914p]
