CONTEMPORARY
[4th Chapter]
Present by RoséBear
[KaiSoo FF]
About: Relationship – Family – Friendship – Love - Comfort - Sacrifice - Hurt
Content: Sensitive subject matter, Sexual Content, original fanfiction, GS, some typo
Dia menjadi gugup, bukan karena terlalu bersemangat tapi karena sedikit perasaan takut tidak disukai. Bagaimanapun Kyungsoo tidak pernah bekerja di balik meja dengan tumpukkan dokumen dan secara tiba-tiba dia menjadi asisten Jongin. Pria itu adalah seorang manager yang baru dipindahkan ke Kantor cabang, dia akan segera memegang beberapa kendali.
Jangan terlalu fokus pada apa yang mereka kerjakan, tapi lihatlah bagaimana para pegawai wanita itu mengagumi sosok suaminya. Kyungsoo menggeser posisi berdiri ketika dia diperkenalkan secara resmi.
It's not good!
Rasanya pandangan semua orang menatap ke arah Kyungsoo. Tak terhitung berapa banyak pertanyaan yang ada di kepala para pegawai untuk dirinya karena menjadi asisten Jongin secara tiba-tiba.
"Putri Direktur utama dari kantor pusat menikah dengan seorang manager? Apa ini yang orang sebut pernikahan politik?"
Dia bersembunyi di balik toilet menunggu percakapan itu menghilang. Tidak pernah terpikir oleh Kyungsoo seseorang akan bicara seperti ini tentang dirinya, selama ini dia hanya melihat para pelayan keluarga mereka yang menyapa dengan sangat baik tidak peduli apa yang tuan putri lakukan.
"Kyungsoo, mari coba keluar dan lihat reaksi mereka."
Dia mencoba meyakinkan diri.
Pintu terbuka dan keberadaan Kyungsoo mengejutkan dua wanita yang beberapa saat lalu membicarakan dirinya. Keduanya terlihat segera menunduk dan memberi jalan agar Kyungsoo bisa menggunakan cermin di toilet. Sayangnya Kyungsoo tidak membutuhkan itu, dia memilih meninggalkan tempat kotor itu segera. Jantungnya berpacu setelah setiap langkah yang dia buat, sebagai pegawai baru dengan status yang mengejutkan, Kyungsoo merasa tidak nyaman. Akan sulit untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru.
"Kyungsoo? Ada apa?" Jongin bertanya karena melihat istrinya memasuki ruangan begitu saja seperti akan menabrak apapun.
"Owh!"
Ia bahkan terlonjak kaget akibat sapaan Jongin barusan. Tanpa sadar Kyungsoo telah tiba di ruang kerja Jongin. Ia menggeleng tapi pucat di wajah membuat Jongin berjalan mendekat.
"Kau baik-baik saja? Katakan apa yang terjadi?"
"O-owh i-itu..." bahkan membuat Kyungsoo semakin gugup.
"Ya?" Pria ini dengan sangat sabar menanti kalimat sempurna dari bibir istrinya. Dia telah berusaha sebaik mungkin untuk menghilangkan kecemasan Kyungsoo.
"A-aku baik-baik, saja hanya sedikit terkejut."
Alis Jongin bertautan mendengar perkataan Kyungsoo. Menarik istrinya dalam sebuah pelukan yang menenangkan. Bukan pernyataan ini yang Jongin inginkan, dia ingin sebuah penjelasan masuk akal atas apa yang menimpa Kyungsoo selama beberapa menit sejak perkenalkan itu. Dia memang meninggalkan Kyungsoo karena wanita itu berkata ingin ke toilet.
"Katakan sesuatu?" Semakin lama, Jongin menuntut jawaban dari Kyungsoo.
Beberapa detik Kyungsoo terdiam memikirkan jawaban yang tepat.
"A-aku merasa aneh dengan pakaian ini Jongin."
Lelaki tan menarik wajahnya, memperhatikan bagaimana penampilan Kyungsoo, seperti pegawai pada umumnya, terlihat sopan dan begitu menawan. Yeahh akui saja tidak seperti biasanya. Rok selutut dan kemeja putih panjang yang membungkus tubuh indahnya serta heels 5cm. Dia seperti orang biasa, bukan seorang putri. Jongin telah memohon agar Kyungsoo menggunakan pakaian ini sebagai sebuah kesepakatan pagi.
"Kau cantik dengan pakaian apapun. Tapi Kyungsoo sayang, beginilah penampilan seorang pegawai kantoran."
Bahkan Jongin telah meyakinkan itu sejak mereka meninggalkan hotel tempat berlibur dan memilih sebuah apartemen cukup mewah di tengah kota sebagai tempat tinggal.
Jongin dan Kyungsoo memang telah berada di Kota ini selama satu minggu dengan menghabiskan waktu di hotel sementara orang tua mereka menyiapkan sebuah apartemen. Ayah Kyungsoo memberinya sebuah tanggung jawab pada Kantor cabang, memberi mereka waktu untuk bersama. Sebuah Kantor cabang perusahaan periklanan yang sangat terkenal.
~ RoséBear~
Hanya dalam hitungan hari Jongin berhasil menguasai pekerjaan di Kantor cabang, begitupun dia selalu membawa Kyungsoo di sampingnya.
"Kau ikut brainstorming? Lima belas menit lagi."
Kyungsoo mengangguk setengah ragu tapi setiap pagi Jongin telah berjanji akan menjelaskan detail pekerjaan apa yang harus dia lakukan selama di Kantor. Hari ini sebuah rapat untuk penyusunan target dengan klien.
Pekerjaan Kyungsoo tidak berhenti pada rapat hari ini, di mana Jongin telah menuntut Kyungsoo agar menyelesaikan pekerjaan mereka secepat mungkin.
Perusahaan memang menerapkan jam kantor untuk mendisiplinkan karyawan, tapi pada kenyataannya mereka bisa bekerja hingga larut malam. Semua karena pekerjaan dengan target serta tekanan dari klien menuntut penyelesaian yang cepat.
Pernahkah kukatakan betapa kolotnya Kyungsoo, rasanya Jeno juga sudah menjelaskan pada Jongin dan disinilah pria tan membawa Kyungsoo berkeliling Kota dengan berjalan kaki. Berusaha membuka mata Kyungsoo akan dunia luar, mereka bekerja di sebuah perusahaan periklanan yang menuntut ide dan kreatifitas. Semua akan terbuka jika pikiran seseorang bisa menerima hal baru, sebagai pelajaran dasar Jongin menuntut Kyungsoo untuk menerima kenyataan dengan kondisi lingkungan mereka saat ini.
Kyungsoo tidak pernah berjalan kaki begitu jauh, hari ini Jongin berhasil memaksanya melakukan itu. Sulit sekali menyamai langkah panjang lelaki itu dengan kaki pendek miliknya.
"Kau sudah mencatatnya Kyungsoo?"
"Ya."
Dia menjawab pelan atas pertanyaan barusan. Mereka telah melewati pedestrian dan sedang beristirahat di salah satu bangku taman kota. Jongin segera berlari meninggalkan Kyungsoo untuk membeli minuman kaleng.
"Minumlah, kau pasti sangat lelah."
Pria itu kembali dengan membawa minuman untuk Kyungsoo. Tidak lupa Jongin membukakan minuman itu karena tidak ingin menyusahkan Kyungsoo.
"Ya. Ini pertama kalinya aku berjalan kaki sejauh ini."
Jongin hanya terkikik geli mendengar gerutuan Kyungsoo. Dia juga tahu akan hal ini, tapi Kyungsoo harus melewati semuanya secara bertahap.
Ponsel pria itu berdering, dia mengernyit membaca siapa yang mengirim pesan suara sesore ini. Jongin menatap Kyungsoo sebentar, tapi tangan wanita itu memberi isyarat jika Jongin tidak boleh meninggalkannya. Sehingga memaksa pria tan membuka pesan itu dengan volume rendah.
"Jongin, kau sudah selesai bekerja? Bisa ke rumah sakit? Ibu tidak bisa menemaniku. Sehun juga sangat sibuk."
"Siapa?"
Kyungsoo bertanya, sedikit berbeda pada waktu itu. Ketika Jongin menerima panggilan yang mengejutkan kemudian pria tan kembali dalam keadaan mabuk.
"Aku harus pergi. Aku janji tidak akan kembali dalam keadaan mabuk. Seorang teman membutuhkanku."
Penjelasannya dirasa cukup, pria itu mencium kening Kyungsoo lembut menyampaikan permintaan maaf yang mendalam sebelum melangkah mencari taxi untuk istrinya pulang ke apartemen.
Mereka tidak perlu kembali ke Kantor, sudah kukatakan jika perusahaan memang menerapkan jam kerja tapi jika karyawan menyelesaikan pekerjaan sesuai target itu jauh lebih baik.
~ RoséBear~
Tidakkah menunggu itu begitu membosankan? Wanita itu telah melakukannya sejak ia kembali ke apartemen yang dalam keadaan bersih. Dia sudah menghabiskan satu box ayam goreng yang dibelinya saat perjalanan pulang.
Ketika menunggu Jongin kembali, wanita itu menaikkan kakinya ke atas meja. Berjalan kaki beberapa jam tadi menyisahkan rasa pegal luar biasa, itulah kenapa Kyungsoo tidak suka melakukan olahraga atau apapun yang mengeluarkan keringat berlebihan. Dalam keadaan lelah, secara normal mungkin dia seharusnya tertidur tanpa harus mendengar cerita seseorang tapi Kyungsoo masih menunggu kepulangan Jongin. Ia mengirim pesan kepada Jongin.
"Jam berapa kau akan pulang? Apakah kau akan makan malam di luar?"
Lima belas menit berlalu tanpa pesan balasan. Napas wanita itu meluncur, bukankah Jongin selalu setia dengan ponselnya, sudah seharusnya dia langsung menyadari jika ada pesan masuk.
Ingin rasanya Kyungsoo menghubungi dalam menit itu juga tapi dia masih menahan diri. Satu jam berlalu dan akhirnya Kyungsoo memberanikan diri.
Panggilan tersambung tapi butuh hingga lima kali dering barulah ia bisa mendengar suara Jongin. Terdengar parau dan begitu pelan. Ia bahkan mengurungkan diri untuk meminta Jongin segera pulang. Mungkin temannya benar-benar membutuhkan suaminya, sementara ia masih bisa menunggu.
"Ada apa Kyungsoo? Kau baik-baik saja?"
"Ya. Jangan khawatir, aku ingin memastikan kau tidak mabuk lagi."
Sejenak ia mendengar Jongin tertawa. Suaranya terdengar begitu ringan.
"Tidak akan. Sebentar lagi aku akan pulang."
"Ya. Aku akan menunggumu Jongin."
Disana, di tempat yang berjarak cukup jauh dari bangunan bertingkat di mana Kyungsoo berada.
Hanya sebuah rumah sakit tiga lantai. Lorong-lorong yang sepi dan bau obat-obatan menyengat menusuk penciuman. Wanita cantik itu mendesah pelan, dia setengah kecewa saat Jongin menerima panggilan bicara dengan seseorang yang begitu akrab lalu tertawa lepas. Dia tidak bisa melihat wajah bahagia Jongin tapi suara tawa itu entah kenapa menyakiti hatinya. Suara tawa yang bukan bersumber dari dirinya.
"Jongin? Kau masih di sini?"
Suara seorang wanita yang baru saja memasuki ruang rawat seorang pasien. Jongin bicara sebentar dan dia mendekati pasien.
"Ibumu sudah kembali. Aku harus pulang, Segeralah sembuh Lu."
Sebuah kecupan singkat pada pipi kanan wanita itu sebelum Jongin pergi.
Jongin bergegas memacu laju mobilnya menjauhi rumah sakit. Ada saat ketika dia merasa begitu merindukan Kyungsoo, wanita itu bahkan hanya menghubungi dan mereka memiliki obrolan singkat. Mampu membuat kerja otak Jongin lebih baik. Dia benar-benar membutuhkan Kyungsoo saat ini.
Ia sering berada di malam-malam sepi sebelum bertemu dengan Kyungsoo. Seorang diri di dalam apartemen kecilnya, di kota yang harus menempuh dua jam perjalanan mobil dengan kota yang sekarang dia tinggali. Semua berubah ketika dia bertemu Kyungsoo, merasakan berada di dalam sebuah ruangan yang penuh kotak kejutan. Semua emosi positif kembali lagi pada Jongin. Bertemu wanita sepolos Kyungsoo yang harus belajar perlahan tentang dunia ini, Jongin semakin menikmati kehidupannya. Dia bahkan kembali tertawa lepas bahkan hanya dengan membayangkan kepolosan Kyungsoo.
"Aku pulang," panggilan pertamanya ketika membuka pintu apartemen tidak mendapat jawaban. Jongin membawa matanya mengitari seisi apartemen, ia menemukan televisi menyala dengan Kyungsoo duduk bersender dan kaki di atas meja. Wajah Jongin tercekat menyadari kompres di kaki Kyungsoo. Wanitanya berusaha seorang diri untuk merawat tubuhnya sendiri. Seketika dia mengingat panggilan dan pesan Kyungsoo.
"Apa kau ragu meminta bantuanku?" Ia berbisik pelan. Mematikan televisi yang mana Jongim sangat yakin jika tadi Kyungsoo menonton satu-satunya acara yang dia sukai. Menarik kaki wanita itu ke dalam pangkuannya, mengganti kompres dengan yang baru. Pria itu juga lelah tapi semua melebur ketika melihat Kyungsoo tertidur pulas. Dia pasti sangat kelelahan hingga tertidur di sembarang tempat. Mungkin begitu lelah hingga tidak membutuhkan kebiasaan Kyungsoo sebelum tidur.
"Aku pergi ke rumah sakit menemui temanku. Suatu hari jika pada waktunya aku akan membawamu menemuinya, memperkenalkanmu sebagai istriku."
Jemari Jongin mengambil rambut Kyungsoo, merapikannya ke belakang telinga.
"Bagaimanapun, dia orang yang sangat dekat denganku. Sekarang kami berkumpul di Kota yang sama lagi berkat dirimu, karena Ayahmu memindahkan pekerjaanku kemari."
Jongin terus saja bicara walau mengetahui fakta jika Kyungsoo tidak mendengarkannya. Cukup lama dia mengompres kaki Kyungsoo, kemudian membawa wanita itu kembali ke kamar. Sebenarnya dia juga butuh membersihkan diri, karena beberapa bau obat menempel pada pakaiannya.
"Kau bangun?"
Jongin menyapa Kyungsoo ketika keluar dari kamar mandi. Wanita itu duduk di pinggir ranjang.
"Kenapa tidak membangunkanku?"
Ia berjalan mendekati Kyungsoo untuk ikut duduk di sisi ranjang.
"Kau sangat kelelahan. Bagaimana bisa aku begitu tega membangunkanmu."
Sebuah sentuhan pada wajah Kyungsoo dimana lelaki itu sangat merindukan istrinya.
"Ya. Kau membuatku berjalan kaki. Apa kau sudah makan?"
Sebuah senyum tulus terukir di bibir pria tan. Mendengar gerutuan Kyungsoo yang berubah menjadi sebuah pertanyaan lembut penuh perhatian.
"Kau mau membuatkanku makan malam?"
Menghilangkan rasa lelah ia melihat Kyungsoo segera beranjak. "Bergantilah pakaian. Aku akan siapkan makan malam untukmu."
Bukannya dia tidak berterima kasih, tapi dia tidak tahu harus berkata apa tentang perlakuan Kyungsoo. Wanita itu bahkan tidak memberikan pertanyaan yang membuatnya harus berbohong atau kesulitan menjelaskan. Jika memiliki waktu luang, ingin sekali Jongin membawa Kyungsoo kemanapun wanita itu inginkan.
Pikiran itu terlintas begitu saja. Dia bergegas berganti pakaian, menyusul Kyungsoo dan menemukan dua onigiri yang telah dibentuk oleh istrinya.
"Maaf hanya ada ini. Kurasa besok aku akan ke supermarket untuk mengisi kulkas."
Entahlah, Jongin hanya ingin memeluk Kyungsoo. Membuat tubuh wanita itu menegang namun memohon untuk menerimanya.
"Sebentar saja sayang."
Menjadikan Kyungsoo sebagai sandaran mampu membuat rasa lelahnya benar-benar menghilang.
"Sepulang kerja kita akan berbelanja. Bukankah menyenangkan pergi berdua bersama? Mengisi keranjang belanjaan dengan apa yang kita butuhkan?"
Pikirkan ada berapa banyak suara yang akan kau dengar, menghargai apapun yang ada disekitarmu. Jongin sedang berusaha melakukannya.
Tanpa sadar Kyungsoo larut dalam pelukan pria tan itu, "aku mungkin akan menghabiskan uang di tabunganmu."
Pelan dia terkikik geli membuat napas berhembus pada kulit leher Kyungsoo. "Aku bekerja memang untukmu. Lagipula aku punya gaji yang cukup untuk kau habiskan setiap bulannya."
Tanpa melepaskan pelukan, pria itu larut dalam percakapan singkat bersama Kyungsoo.
"Wahh kalau begitu bagaimana dengan Ayah? Bukankah dia pemilik perusahaan tempat kita bekerja?"
Jongin mencium pipi Kyungsoo setelah mendengar perkataan istrinya. Terlalu gemas dengan jawaban Kyungsoo barusan.
"Apa yang kau inginkan Kyungsoo? Aku akan melakukannya."
Jongin menunggu Kyungsoo berpikir, ia juga menunggu jawaban dari istrinya.
"Aku hanya ingin meminta waktumu, aku bisa bersenang-senang dan kau tahu aku tidak ingin mengecewakan keluargaku."
'Kyungsoo, kau harus tahu jika pusat duniaku adalah dirimu.'
Jongin hanya mengatakan itu dalam hati. Tidak benar-benar berkata untuk didengar oleh Kyungsoo.
Bukankah semua yang terlihat begitu romantis. Beberapa hal memang seharusnya berada di tempatnya.
Tuan muda Kim... Apa yang akan kau lakukan untuk meningkatkan dan memperdalam hubungan yang kau miliki dengan orang-orang disekitarnya saat ini? Terutama istrimu sendiri.
Setiap keputusan selalu berakhir dengan sebuah risiko namun memiliki pengalaman baru, sama halnya ketika pria ini menyetujui pertunangan dengan istrinya.
~ RoséBear~
Beberapa hari telah berlalu dengan cepat. Siang itu hujan mengguyur jalanan kota, di mana jalanan menjadi lebih padat dari biasanya. Sibuk. Konsep itu tidak berlaku hanya pada orang dewasa, tapi untuk semuanya.
Sebuah rumah sakit pemerintah dengan salah seorang pasien rawat inap. Sudah berapa lama perempuan itu berada di rumah sakit? Sangat lama sejak kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang mengambil penglihatannya namun tidak orang-orang yang dia sayangi. Satu persatu menetap dan memberi perhatian berlebihan. Memandang dunia lewat lensa negatif memiliki dampak yang sangat buruk kepada ekspetasi.
Secara umum dia bisa mendengarkan dan membuat kesimpulan, ketika menjalani hidup dengan kondisi baru ketika ia mendapati begitu banyak kebaikan dan perhatian.
"Jadi Jongin sudah menikah?"
Seolah baru saja menangkap basah seorang pencuri dia mengintrogasi saudara jauhnya yang tiba untuk berkunjung. Seorang pria tinggi yang menyempatkan diri mengunjungi dirinya.
"Ya. Saudara perempuannya sendiri yang mengatakan padaku. Sudah satu minggu lebih. Apa dia tidak memberitahumu?"
Wanita itu tergagap karena pertanyaan barusan. "Ti-tidak."
"Kupikir dia tidak ingin membuatmu kerepotan. Kau baru sadar satu minggu yang lalu. Oh astaga Lu, satu tahun kau bisa bayangkan apa yang kami lakukan untuk menunggumu sadar?"
Wanita itu tersenyum canggung, salahkan kecelakaan itu membuatnya tak kunjung sadar. Tapi dia tidak menyangka jika pria itu memilih menikah ketika dia tidak sadarkan diri.
Baik, bukankah sebaiknya meluruskan hubungan mereka? Pria yang menikah itu adalah Kim Jongin. Sementara pria tinggi yang kini menemani wanita cantik ini adalah Kris dan wanita ini sendiri bersama Luhan. Dia telah berteman dengan Jongin sejak kecil, oh ya jangan lupakan seorang pemuda bermarga Oh yang kini sibuk dengan pekerjaannya namun selalu menyempatkan diri berkunjung kemari, Oh Sehun.
Ketiganya adalah teman dekat, terikat satu sama lain. Saling membawa obor optimisme ke dalam sebuah hubungan. Tragedi setahun atau katakanlah dua tahun lalu membuat hubungan mereka memburuk dan semakin parah saat kecelakaan itu terjadi.
Lupakan sejenak kecelakaan itu, tapi lihatlah wanita cantik ini sekarang. Dia tetap cantik, hanya saja...
"Aku ingin menghubungi Jongin, aku bisa meminjam ponselmu Kris?"
Sepupunya meraih ponsel yang memang diletakkan di atas nakas sebelah ranjang rumah sakit. Menyalakan mode rekam kemudian membiarkan Luhan bicara.
"Jongin, aku akan keluar akhir minggu ini. Bisakah kau menjemputku?"
Dia mengirim segera pesan itu dengan bantuan Kris.
"Lu, kurasa kau harus memikirkan ulang setiap ucapanmu. Bagaimanapun dia telah menikah. Kau mengerti maksudku, menikah tidak sama dengan berkencan. Jika terlalu memaksa, dia bisa benar-benar meninggalkanmu."
"Aku ini saudaramu. Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Lagipula Jongin tidak akan meninggalkanku."
Perdebatan yang tidak akan dimenangkan siapapun atau tepatnya siapapun yang berdebat dengan wanita ini memilih mengalah. Egonya terlalu tinggi, emosinya menjadi sangat tidak stabil dan membuat masalah lain yang lebih mengkhawatirkan.
Di balik pintu rumah sakit pria berkulit nyaris albino itu mengurungkan diri untuk melangkah masuk, tangannya tertahan pada handle pintu. Ia menatap pada kursi koridor dan memilih tempat itu sebagai bagian istirahat siang.
~ RoséBear~
Kyungsoo tersenyum puas dengan apa yang dia kerjakan, menjadi lebih baik setiap kali Jongin mengajari. Dunia di luar kastil yang dibangun neneknya ternyata memiliki begitu banyak warna. Dalam arti yang sebenarnya, dia mendapat kebebasan ketika menyampaikan pendapat hingga memulai sebuah perdebatan, lalu kehangatan, kedamaian hingga sebuah kebenaran. Bagaimana para karyawan memandang dirinya, Kyungsoo terus meyakinkan diri jika dia tidak boleh merepotkan Jongin. Semua ini terjadi setelah percakapan yang dia dengar di lantai dua, tepatnya beberapa hari lalu sebelum ia dan Jongin pergi ke supermarket.
'Asisten manager sangat kikuk. Kurasa dia hanya menguntit manager saja. Seharusnya dia tetap di rumah dan menunggu kepulangan suaminya.'
"Kyungsoo? Kau melamun lagi?" Panggilan Jongin menyadarkan Kyungsoo.
"Akhh? Ti-tidak. Aku tidak memikirkan sesuatu. Apa ada yang kau butuhkan lagi Sir?"
"Sudah jam tiga sore Kyungsoo. Ini sudah lewat jam kerja perusahaan. Aku suamimu mengerti?" Pria itu melangkah mendekat.
"Saat jam kerja aku atasanmu. Tapi kau juga harus ingat, saat jam kerja ataupun tidak, di Kantor maupun di luar apalagi di rumah aku adalah suamimu. Jadi, katakan sesuatu sayang."
Wajahnya menjadi merah merona. Jongin sangat suka menyentuh wajah Kyungsoo yang hangat, kulit halusnya begitu lembut ditambah kehangatan alami dari desiran darah.
Banyak orang yang menjalani kehidupan dengan sebuah tekanan pada masa lalu atau dalam sebuah ekspetasi orang lain. Hanya karena mereka tidak pernah benar-benar bisa mencoba melangkah keluar dari zona nyaman ataupun berusaha menembus tembok pembatas yang telah dibangun orang lain untuk mereka.
Kyungsoo
Karena membiarkan neneknya menentukan siapa dirinya, membuat identitas wanita itu terperangkap dalam sebuah bangunan tidak berpintu. Oleh sebab itu, pengalaman hidup, perasaan, pemikiran dan prilakunya menjadi begitu terbatas dalam artian tertanam pada masa lalu. Banyak hal yang tidak bisa dilakukan karena dirinya sendiri tidak pernah melakukannya, semua karena batasan-batasan yang diciptakan neneknya. Hasilnya, pikiran Kyungsoo benar-benar terperangkap pada masa lalu, tiba ketika dia bertemu Jongin semua berputar. Kakinya dipaksa keluar dan dia merasa dunia mencambuknya dengan sebuah realita, asumsi serta sebuah label palsu.
Sejak lahir, puluhan pelayan melayani kebutuhannya, tidak pernah ada yang namanya hukuman ataupun cibiran. Kyungsoo hanya menerima dan mendapatkan cinta.
Setelah kepergian dua orang tua paruh baya yang menentukan langkah kakinya, dia kembali pada dua orang tua yang berusaha membimbingnya dan kini seorang pria bersedia mendengar keluhan kesah Kyungsoo.
"Tidak ada seorangpun yang memahami apa yang kukatakan saat rapat."
Alis Jongin naik setingkat mendengar perkataan Kyungsoo. Ia menarik wanitanya untuk berdiri llau segera memberikan sebuah pelukan dan menangkup wajah manisnya, menarik sudut bibir Kyungsoo agar dia tersenyum.
"Aku tahu seberapa keras kau berusaha merancang ide itu. Mari kita sampaikan kembali dalam rapat berikutnya, hanya perlu menyelesaikan dan sebuah konsistensi. Sekarang sebaiknya kita pulang."
Kyungsoo mengangguk pelan, dia berjalan di belakang Jongin tapi saat keluar dari lift pria itu menggandeng tanganya. Mereka menggunakan lift eksekutif, melangkah nyaman tanpa ada yang menyapa. Maklum saja menjelang akhir pekan para karyawan biasanya menyempatkan diri kembali lebih awal. Menghabiskan waktu satu hari bersama keluarga ataupun sekedar teman kencan kemudian kembali menjadi karyawan dengan jam kerja luar biasa tertekan di hari berikutnya. Tapi tidak sedikit yang masih berada di balik layar komputer ataupun berdiri di dekat meja kerja umum perusahaan untuk bertemu klien di akhir pekan.
Bagi banyak diantara kita, kehidupan tidaklah sesempit apa yang bisa dilihat mata. Kyungsoo telah mencobanya dalam satu minggu ini, kerap kali dia mendapatkan kesulitan namun tidak sekalipun Jongin meninggalkannya.
Apakah yang benar-benar dia inginkan? Tidakkah terlalu banyak transaksi yang ia lakukan bersama suaminya?
Dia inginkan kehidupan sesungguhnya.
Dia tidak sedang menjalankan kehidupan orang lain ataupun kehidupan yang diatur oleh neneknya.
~ RoséBear~
"Kau menjadi sedikit lebih seksi dari pertama kita bertemu."
Mata bulatnya melotot mendengar komentar Jongin. Baru saja dia menerima paket pakaian yang dikirimkan saudara perempuan suaminya ke apartemen mereka. Kyungsoo hanya bertanya apa dia boleh memakainya? Tentu saja Jongin mengangguk semangat. Tapi apa yang dia dapatkan ketika memakainya. Sleepshirt dihiasi graphik linedengan warna charcoal blue, lengannya masih sebatas siku tapi entah kenapa bagian bawah tiba-tiba naik di atas lutut ketika dia mengenakannya. Seingat Kyungsoo tadi terasa sebatas lutut.
"Aku akan berganti pakaian lagi."
"Ya istriku. Kemarilah," teriakan Jongin bersamaan dengan sebuah tarikan membuat Kyungsoo terduduk di pangkuannya.
"Jongin, aku akan berganti pakaian."
"Malam ini saja. Bukankah kau bilang ingin kutemani menonton film?"
Ia memeluk Kyungsoo tapi sama sekali tidak menekan wanita itu. Jongin masih ingat jika istrinya harus diperlakukan dengan sangat baik, seperti mengajari seorang balita. Perlahan dan berhati-hatilah atau balita itu akan melakukan tindakan yang salah dengan pembelajaran yang tidak benar.
Pada akhirnya Kyungsoo mengalah, dia terperangkap dalam dekapan Jongin. Merasakan lengan lelaki ini melingkar di perutnya yang rata. Napas Jongin terlalu menggelitik perpotongan lehernya.
"Jongin, aku boleh bertanya? Tentang pekerjaan padamu."
"Hmmm sebenarnya tidak. Tapi baiklah, akan kuberikan jawaban jika aku boleh mencium tengkukmu."
Wajah Kyungsoo mengernyit mendengar perkataan barusan.
"Apakah aku akan diakui dan sukses?"
Wajah pria itu maju untuk memastikan pertanyaan Kyungsoo, ia merasakan genggaman jemari Kyungsoo mengerat pada tangannya.
"Maksudku..."
"Ya tentu saja. Kau sudah berusaha untuk mendapatkan fokus dan rasa nyaman dalam pekerjaan ini."
Tanpa sadar Kyungsoo tersenyum mendengarkan jawabn singkat yang memotong kalimat tidak sempurnanya.
"Jonginhhhh!" senyumannya berubah menjadi sebuah pekikan ketika merasakan dingin dan lembab dari bibir tebal yang mencium bagian belakang lehernya. Menaikkan pundak Kyungsoo san membuat kakinya terangkat. Mata bulat itu terpejam erat sementara jemarinya meremas tangan Jongin semakin kuat.
"Apa kau nyaman menjadi istriku?" Sebuah pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut pria ini mengingatkan Kyungsoo tentang pertanyaan sebelumnya ketika Jongin bertanya apa dia menyesal menjadi istrinya? Pertanyaan yang membuatnya memberanikan diri untuk mencoba kehidupan baru.
"Apa kau tahu betapa aku menginginkan dan mendambakan sentuhanmu? Aku tidak berani melakukannya karena takut menyakitimu. Tapi malam ini kau membuatku sangat bergairah, kau menyiksaku Kyungsoo sayang," bibir tebal Jongin sama sekali tidak lepas dari kulit belakang Kyungsoo.
To be continue...
Good morning! Please sleep well after read this chapter ^^
-no preview 5th chapter-
[170702c -170925p]
