CONTEMPORARY
[5th Chapter]
Present by RoséBear
[KaiSoo FF]
About: Relationship – Family – Friendship – Love - Comfort - Sacrifice - Hurt
Content: Sensitive subject matter, Sexual Content, original fanfiction, GS, some typo
Ketika melangkah dan menemukan kontroversi atau perasaan tersakiti. Apa yang harus dilakukan? Menyadarkan diri dan memberi perhatian lebih terhadap lingkungan.
Dia seperti bintang terang di angkasa, energi dan cahaya menyala di orbitnya sendiri. Tadinya dia terlalu nyaman, begitu konservatif namun kemudian berusaha menerima kedatangan seseorang yang begitu mempesona dan begitu bertenaga. Orang yang melibatkan diri membawanya melihat dunia dengan cara berbeda.
Setelah penolakkan Kyungsoo tadi malam atas permintaan Jongin, hari ini pria itu meninggalkannya di apartemen. Kyungsoo terlalu lelah padahal Jongin sudah mengajaknya. Teman yang sering ia kunjungi, tepatnya hari ini akan keluar dari rumah sakit setelah tidak sadarkan diri selama satu tahun. Kyungsoo memilih tidak pergi, karena tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka. Rasanya akan sangat aneh jika tiba-tiba dia masuk dalam lingkungan Jongin tanpa sebuah persiapan.
Dalam keheningan wanita itu menyempatkan diri keluar apartemen seorang diri, tidak sepenuhnya seorang diri.
Baekhyun, adalah seorang wanita cantik yang mana orang tuanya bekerja pada keluarga Do sejak lama. Baekhyun sendiri adalah asisten Kyungsoo dalam menerjemahkan sebuah naskah untuk mendapatkan uang tambahan. Tapi wanita itu kembali menjadi editor dan mendapatkan pekerjaan baru setelah Kyungsoo menikah dan menolak tawaran penerjemahan naskah. Semua akibat pekerjaan barunya yang terlalu menyita waktu.
"Jadi bagaimana malam - malam indahmu Kyungsoo?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Baekhyun lebih tua satu tahun dari Kyungsoo, kurang lebih seperti itu, dia menempatkan diri sebagai seorang saudara jauh. Bukan teman dekat, tapi saudara tanpa hubungan darah. Baekhyun terlalu cerewet untuk ukuran wanita dewasa seusianya, tapi begitulah dia tumbuh karena ajaran ibunya yang dulu memang seorang pembawa acara radio. Bahkan bakat bicara itu ternyata menurun, sedikit berbeda dengan Kyungsoo yang memiliki darah aristokrat. Semua yang akan dikerjakan mengikuti aturan aristokrat, kaum bangsawan yang terhormat.
"Ayolah Kyungsoo, aku wanita yang sudah menikah. Kau bisa memberitahuku pengalamanmu."
Oke. Byun Baekhyun! Kini Kyungsoo mengenalnya sebagai nyonya Park. Dia menikah dengan seorang pemilik restoran terkenal di Seoul tapi empat hari yang lalu suaminya mengembangkan cabang restoran hingga ke Busan dan disinilah mereka berada, sebuah pusat bisnis di Korea Selatan. Kembali bertemu seperti dalam sejarah klasik. Terlalu kuno dan mendramatisir, menggelikan.
"Maksudku... Kau sedikit berubah. Secara penampilan dan..."
Baekhyun kembali berkomentar karena Kyungsoo tidak memberinya jawaban yang memuaskan. Mata sipit nyonya Park itu melirik Kyungsoo sembari kembali berfokus pada jalanan, saat ini dia yang memegang kendali mobil. Membawa seorang pengantin baru, oleh karena itu Baekhyun harus berhati-hati.
Pada akhirnya mobil mengambil parkir di sebuah kawasan perbelajaan. Baekhyun tidak membawa Kyungsoo ke Gukje market, melainkan memasuki gang-gang sempit yang dipenuhi berbagai kios penjualan. Karena Kyungsoo berkata bosan sementara Baekhyun penggila belanja mendapat kesempatan langka mendengar Kyungsoo mau berjalan kaki. Ya, katakan terima kasih pada Jongin yang mengajari Kyungsoo mulai terbiasa berjalan kaki walau setelahnya dia akan mengeluh karena lelah.
Sama seperti shopping street pada kota-kota lainnya, berbagai barang dagangan ikut dijual di sini. Baekhyun membawa Kyungsoo memasuki kios buku bekas. Astaga, mata bulat itu berbinar menemukan beberapa buku lama yang telah ia cari. Dua paper bag terisi dengan beberapa buku berbahasa inggris. Kyungsoo sangat suka membaca novel klasik, sedikit berbeda dengan Baekhyun yang menerima segala genre. Bahkan wanita ini adalah pengagum thriller.
"Kau ingin membelinya Kyungsoo?" Baekhyun bertanya saat menyadari tubuh wanita yang ia tarik memberi sedikit beban. Kyungsoo berhenti di sebuah kios aksesoris penjual barang murah.
"Tidak."
Kyungsoo menolak untuk membeli casing HP baru. Tapi Baekhyun telah terpesona pada benda-benda lucu lain yang dijual. Dia mengambil beberapa barang yang diinginkan, membawa mendekati pedagang lalu membayar agar barang itu resmi menjadi miliknya sementara Kyungsoo hanya mengedarkan pandangan pada bangunan di sekitar kios.
'Hanya dengan berdiri dan melihat kau mendapatkan banyak cerita baru.'
Tiba-tiba perkataan Jongin tempo hari mengingatkannya. Pria itu benar, Kyungsoo melihat begitu banyak cerita dari interaksi antar orang ataupun bangunan baru.
Astaga. Kemana saja dia selama ini, kenapa baru melihat hal menakjubkan seperti ini. Pandangan Kyungsoo sulit beralih dari sepasang suami istri yang saling membantu di kios milik mereka dalam melayani pelanggan. Sepasang orang tua beruban yang melepaskan tawa mereka ketika bicara dengan orang-orang. Ingin rasanya dia mendekat tapi kemudian suara Baekhyun menginstrupsi.
"Ayo kita kembali."
Pada akhirnya Kyungsoo hanya meninggalkan senyum tipis pada bibir hatinya. Wanita itu mengikuti permintaan Baekhyun. Mengantarnya kembali.
"Kau yakin tidak mau mampir?"
Kyungsoo bertanya sopan ketika Baekhyun berkata dia akan langsung pergi.
"Ya. Tentu saja, terima kasih menemaniku belanja Kyungsoo."
"Akh aku yang harus berterima kasih padamu."
Sebuah senyum tulus terukir pada bibir tipis Baekhyun. Dia punya hadiah untuk Kyungsoo.
"Untukmu. Sebagai orang yang pernah bekerja denganmu, aku yakin ini akan sangat berguna."
Kyungsoo tidak bisa menolak satu paper bag berisikan kaset dan juga buku bacaan ketika Baekhyun menyelipkan tali paper bag pada tangan Kyungsoo.
"Kasetnya bisa dinyalakan di laptopmu. Jika kebingungan kau bisa bertanya pada Jongin."
Kyungsoo mengangguk. Ia melangkah memasuki gedung apartemen. Rasanya beberapa pandangan menatap kearahnya. Seingat Kyungsoo dia berpenampilan biasa saja, bukankah Jongin bilang sweater hijau dengan jeans biru ini bisa digunakan untuk berpegian keluar.
Langkahnya menjadi semakin cepat. Benar saja, dengan mengubah penampilannya Kyungsoo mengalami krisis kepercayaan diri tapi dia hanya perlu bertahan dan fokus. Semua akan baik-baik saja.
Bagaimana seseorang bisa berkata jika dia melewatkan apa yang ingin Ia lakukan? Aku bahkan tidak yakin jika dia benar-benar ingin melakukannya. Karena semua pilihan-pilihan itu terlalu sulit. Aku bisa memberi jawaban ketika dia memberi kejelasan. Maksudku, berpikirlah lebih besar. Bukankah dunia ini sangat luas, sedikit kebaikan dan berikutnya kebahagiaan akan mengikuti.
Kyungsoo baru saja menghabiskan semangkuk sup labu setelah Jongin kembali. Pria itu kembali tepat setelah makan malam disediakan.
"Aku akan mandi. Mungkin kau bisa cerita perjalanan hari ini padaku."
Jongin berkata setelah mencium kening Kyungsoo. Ya ampun. Wajah Kyungsoo kembali merona hanya karena sentuhan lembut itu.
Malam hari di mana bulan dan bintang saling berpandangan menerangi langit memberitahu keberadaan mereka.
Kyungsoo kembali mengenakan pakaian yang dikirimkan saudara perempuan Jongin. Wanita ini semakin sexy dan menggoda saja setiap harinya. Dia akan punya hari besok untuk membaca beberapa buku tapi memulai dari sekarang tidak ada salahnya. Hanya saja, sedikit aneh ketika tangan Kyungsoo menyalakan laptop dan mengambil kaset yang diberikan Baekhyun. Tidak ada keterangan apapun. Rupanya Baekhyun membuat kaset itu polos dan orang yang membukanya sangat penasaran. Kyungsoo duduk di atas ranjang, ia pikir kaset itu berisikan beberapa e-book. Tapi ternyata sebuah film yang ingin di putar. Sepasang alisnya bertautan satu sama lain. Karena terlanjur dimasukkan dia menekan mode play.
"Sex education?" Kyungsoo bergumam lirih setelah mendengar seorang wanita bicara di atas sofa seperti seorang pembawa acara berita pagi yang sering di tonton oleh ayahnya.
"First sex."
Ia semakin mengernyit setiap mendengar kalimat yang terucap. Sebuah penjelasan bagaimana melakukan sex dengan pasangan. Beberapa style oh apa yang sudah dia lakukan? Kyungsoo tidak sengaja membuka video berisikan adegan dewasa di mana seorang pria dan wanita bertelanjang sedang melakukan hubungan seksual seperti yang dijelaskan pembawa acara sebelumnya. Awalnya dia sedikit risih namun setelah penampilan dan desahan didengar olehnya kembali pada seorang pembawa acara yang memberikan penjelasan berikutnya. Rasanya setelah dua bed scane itu Kyungsoo mulai penasaran, sekedar ingin tahu dia menarik bantal guling dan memeluk bantal mencari posisi nyaman. Wanita itu masih duduk bersila di atas ranjang. Mencoba berfokus pada apa yang dijelaskan dan mencoba mengalihkan pandangannya dari tiap adegan yang terus berulang diikuti sebuah desahan dan erangan dari pada pemain.
Siapapun yang melihatnya pasti akan terdiam, betapa Kyungsoo telah mendapatkan fokus yang bahkan mengabaikan suara deritan pintu kamar mandi di mana sosok Jongin muncul.
Pria itu mengernyit mencoba menatap punggung sempit Kyungsoo. Ia melangkah mendekati ranjang, mencoba mengintip apa yang sedang dilakukan istrinya dengan kabel pengisi daya laptop tersambung ke terminal listrik.
Sementara tangannya mencoba mengeringkan rambut dengan handuk, pria itu beringsut menaiki ranjang dengan lutut yang menggeser seprai.
Kepalanya tepat berada di sebelah wajah Kyungsoo. Jongin tersenyum melihat apa yang baru saja Kyungsoo tonton. Dia benar-benar menggemaskan, jemarinya meremas bantal dengan sangat kuat dan wajah penasaran Kyungsoo membuat Jongin tidak bisa menahan diri.
"Kau ingin mencobanya?"
Degh
Kyungsoo terlonjak kaget, ia memekik kuat lalu menutup laptop kasar menimbulkan bunyi berdetak yang kuat. Tubuhnya beringsut menjauh dari Jongin. Seolah terbakar suhu panas Kyungsoo merasakan tubuhnya berkeringat dan dia benar-benar malu kepada Jongin.
Wanita itu mengigit bibir bawahnya kuat dan menunduk dalam, menjauhi pandangan Jongin yang masih menelanjangi dirinya dengan sebuah tatapan menggoda.
"Kyungsoo sayang?"
Suara itu terdengar seperti desahan yang baru saja dia tonton.
"A-aku mau tidur."
Kyungsoo mengelak. Dia mencabut pengisi daya laptop. Membereskan barang-barang miliknya sebelum bersembunyi di balik selimut. Sungguh Kyungsoo sangat malu.
"Ya sayang. Apa yang kau lakukan? Meninggalkanku sendirian? Bukankah aku memintamu bercerita padaku? Apa saja yang kau lakukan hari ini?" Jongin berusaha mengguncang tubuh Kyungsoo yang sudah tertutupi semua bagian selimut. Usahanya menjadi sia-sia karena pertahan Kyungsoo untuk bersembunyi sungguh kuat. Sungguh tidak pernah dia menemukan gadis sepolos ini.
"A-aku hanya berbelanja dengan Baekhyun. Biarkan aku tidur Jongin!"
Ia terkikik geli mendengar kegugupan yang diikuti teriakan Kyungsoo pada kalimat terakhir. Sebagian suara perempuan itu tertahan oleh balutan selimut tebal.
"Ya baiklah."
Pria itu mengalah, bahkan dia berangsur menuruni ranjang dan mengambil pakaian. Berjalan gontai memasuki ruang ganti. Jongin hanya mengenakan celana piyama dan kaos polos. Ketika kembali ke ranjang rasanya benar-benar tidak nyaman.
Vosocongertion, pernahkah kalian para pria mengalami kondisi ini? Oh mungkin terdengar asing. Tapi bagaimana jika Jongin mengumpat dalam hati tentang blueballs? Ya. Pria ini mengalami blueballs akibat aliran darah yang tidak seimbang, membuat aliran darah itu terperangkap pada kelamin miliknya. Dia mengalami ereksi akibat melihat apa yang Kyungsoo lakukan sebelumnya tapi dia tidak bisa melanjutkan ke aktivitas selanjutnya. Rasa sakitnya sedikit menyiksa akibat terangsang tapi sekali lagi Jongin tidak bisa menekan Kyungsoo untuk melakukan hubungan seks karena dia begitu peduli pada perasaan wanita itu. Sebagai seorang pria Jongin juga tahu Kyungsoo sangat takut melakukannya, dia juga seorang pria dewasa yang tidak berpikir jika masturbasi adalah solusi untuk masalah ini. Dia hanya perlu sedikit lebih santai. Tapi nyatanya itu begitu sulit dilakukan. Sudah berapa kali ia mengalami blueballs karena Kyungsoo? Orgasme yang tak kunjung dicapai begitu menyiksanya.
"Jongin?"
Panggilan itu membuatnya tergagap.
"Y-ya?"
"Kumohon bicaralah, aku tidak bisa tidur."
Kyungsoo mengeluarkan sebagian wajahnya menatap pria yang berjarak satu bantal dari dirinya.
Jongin menahan dirinya, jika dia seorang brengsek maka Kyungsoo pasti akan mendesahkan namanya dalam beberapa menit saja tapi Jongin pria baik. Dia menahan diri sebentar, mencoba mengatasi masalah pribadinya walau itu sangat sulit.
"Jongin? Ada apa? Kau marah padaku?"
Ia mengeram sebentar. "Kau pernah mendengar istilah blueballs?" Jongin bertanya menahan senyumnya yang penuh arti. Kyungsoo menggeleng tidak mengerti. Pria tan harusnya tahu akan jawaban yang akan keluar dari Kyungsoo. Sudah bisa dipastikan wanita ini tidak memahami istilah-istilah semacam itu.
"Aku mengalaminya berkali-kali dan sekarang aku mengalaminya."
"A- pa itu Jongin ?" Kyungsoo setengah penasaran.
Lelaki itu membawa tubuhnya berbaring ke samping, menyentuh lembut pipi gembil Kyungsoo. Wanita itu tidak akan menghindar untuk sentuhan ringan seperti ini, sementara tangan Jongin terasa sedikit gemetar dari biasanya.
"Aku mencoba untuk baik-baik saja walau sangat sulit. Jika kau tidak mengerti sekarang maka kita jangan membahasnya. Kau mau mendengar kabar temanku?"
Kyungsoo mengangguk ketika Jongin mengubah topik pembicaraan mereka, kemudian mulai memejamkan matanya.
"Kami berkumpul bertiga. Sudah sangat lama sejak kecelakaan itu terjadi. Tapi aku merasa asing ketika bersama mereka. Tidak, mereka tentu tidak mengasingkan keberadaanku. Aku pikir untuk membawamu besok menemui mereka tapi bagaimana jika minggu depan?"
"Hmmm?" Rupanya Kyungsoo masih mendengarkan cerita Jongin. Dia menjawab dengan sebuah gumaman. Jongin berhenti sejenak, bagian bawahnya kembali mengalami sedikit rasa nyeri.
"Luhan adalah seorang wanita yang sangat baik."
Degh
Sesungguhnya Kyungsoo baru tahu jika temannya yang bersama Luhan adalah seorang wanita. Kyungsoo pikir adalah seorang pria yang bisa bertahan dari sebuah kecelakaan lalu lintas dan tidak sadarkan diri selama satu tahun, mengalami kebutaan namun tetap bisa tersenyum seperti biasa.
"Dia lebih tua dariku dan Sehun," Kyungsoo sudah tahu bagian ini. Sebab Jongin selalu berkata jika orang bernama Luhan telah melindungi dia dan temannya yang bersama Sehun dari anak-anak lain, bukankah terdengar seperti kakak tertua? Jangan salahkan Kyungsoo jika dia mengira Luhan adalah seorang anak laki-laki.
"Suatu hari dia berkata ingin bermain bola sepak, sementara aku dan Sehun hanya duduk di pinggir lapangan meneriakkan namanya. Kami seperti bocah idiot bodoh yang tidak peduli pada apapun. Luhan baru berhenti bermain ketika segerombolan anak perempuan mulai mengerubuni kami. Dia keluar dari lapangan bola dan menarik kami pergi setelah berteriak kasar pada anak - anak perempuan itu. Bagi kami, Luhan seperti saudara. Sekarang dia sedang sakit, kami sangat ingin menjaganya."
Jongin tersenyum mendengar napas teratur mulai mengalun lembut dari bibir Kyungsoo. Ia bergeser, sedikit berguling ke samping mencium bibir Kyungsoo. Pria itu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Sepertinya dia menarik kata-katanya. Kadang kala gairah seks seseorang meningkat menimbulkan siksaan mendalam. Sekarang dia hanya perlu mengurung diri di kamar mandi. Dia melakukan masturbasi dengan berimajinasi pada Kyungsoo. Terdengar sangat bodoh tapi begitulah yang terjadi. Dia membayangkan bercinta dengan Kyungsoo, semua terjadi ketika dia memulai proses ejakulasi. Menaikkan gairah, pria itu memegang kejantaannya dengan tangan kiri sementara tangan yang satu lagi merangsang scrotum. Sedikit agresif dan Jongin ingin mengakhiri penyiksaannya dengan cepat.
Dia kembali ke dalam kamar dengan wajah tampak lelah tapi kemudian kelelahan itu berangsur menghilang melihat wajah polos Kyungsoo tertidur dengan tenang. Hari ini memang melelahkan. Luhan tidak lepas dari bantuan Jongin, wanita itu baru sadar minggu lalu. Sejujurnya dokter belum mengizinkan dia kembali, tapi pada akhirnya perawatan di rumah adalah jalan yang ia ambil. Seorang perawat akan setia mendampingi dan Luhan juga akan melakukan pengecekkan secara rutin. Mengikuti terapi agar dia bisa berjalan normal sementara keluarganya juga menunggu jika ada pendonor agar Luhan bisa melihat lagi. Jongin masih merasa bersalah, tapi apa yang Sehun katakan padanya hari ini.
'Apa istrimu baik-baik saja?'
Ia segera berbalik menghadap Kyungsoo, menyingkirkan guling dan menarik wanita itu dalam pelukannya.
'Jika aku menyakitimu juga. Kau boleh memukulku, aku tidak akan menghindar bahkan jika kau ingin membunuhku. Kau satu-satunya yang tidak ingin kusakiti.'
Dia berjanji bahkan dalam sebuah keraguan untuk menepati janjinya sendiri. Lagi pula Jongin benar-benar ingin melakukannya untuk Kyungsoo. Apa yang pria ini cari selama ini bukankah sudah ada dalam pelukannya sendiri.
Kau tahu Kim? Cinta bisa menyelamatkan hidupmu.
~ RoséBear~
Kita semua ingin merasa terhubung dengan orang-orang di sekitar. Entahlah itu pada masa mana, jika hubungan itu bisa berdampak besar pada sebuah kebahagiaan bukankah artinya telah mempengaruhi kepuasan hidup. Rasanya tidak baik jika mengabaikan kebaikan seseorang.
Kyungsoo baru saja mempersiapkan sarapan. Tentu saja dia bisa memasak, karena kegiatannya bersama sang nenek adalah melakukan apa yang 'seharusnya' seorang wanita lakukan. Memasak hanya salah satunya. Tapi percayalah, mereka tidak melakukan pekerjaan yang menyiksa diri. Bahkan berkebun hanya untuk memindahkan bunga ke pot yang baru dan memotong ranting yang mana anak lima tahun pun bisa melakukannya walau tidak terlalu baik.
Kembalikan perhatian kalian pada Kyungsoo, wanita itu menggeleng mendapati Jongin masih bergelung selimut. Kyungsoo tidak akan mengganggu waktu istirahat suaminya. Lagipula ini weekend, pria itu telah bekerja keras selama jam perusahaan berlangsung. Dia juga terlihat lelah setelah pertemuan dengan teman-temannya kemarin.
Pandangan mata Kyungsoo kembali pada paper bag yang diberikan Baekhyun. Dia telah memberanikan diri mengabaikan laptop yang tersimpan dan di mana kaset itu masih bersembunyi di dalamnya. Kyungsoo mengambil satu buku, merobek plastik pembungkus dan mulai membaca sembari berjalan keluar kamar.
Wajahnya kembali berkerut. Astaga Byun Baekhyun! Kau seperti seorang dokter yang sedang mengobati pasien dengan obat yang diracik seorang diri. Kepala Kyungsoo merasa nyeri membaca tiap lembar yang bergambar adegan dewasa -sebuah novel bergambar. Wajah Kyungsoo merah merona membaca setiap percakapan dan entah kenapa otaknya yang pintar berimajinasi seorang diri dengan suara dari hasil bacaan.
Ia terdiam bukan karena merasa malu, tapi sedikit khawatir ketika membaca petikan bintang di bagian bawah yang menjelaskan sebuah istilah. Bukankah tadi malam Jongin membicarakan istilah ini.
Blueballs.
"Apa sangat menyiksamu?" Kyungsoo membatin membayangkan Jongin menahan rasa sakit itu walau ia sendiri tidak bisa mengetahui seberapa sakit itu.
Buru-buru dia menutup buku bacaan itu dan meletakkan di bawah meja. Kyungsoo memilih membaca koran pagi walau kenyataannya pikirannya melayang, menyiksa diri sendiri akibat pengaruh yang diberikan Baekhyun. Berapa lama dia habiskan untuk menarik kembali fokus diri nyatanya begitu sulit.
"Selamat pagi."
"O-owh!" Kyungsoo bahkan tergagap akibat sapaan pagi Jongin. Pria itu keluar dari kamar dengan penampilan segar sehabis mandi. Ia meneliti kegugupan Kyungsoo.
"Apa ada hal buruk terjadi sebelum aku bangun?" Jongin bertanya. Mengambil posisi duduk di sebelah Kyungsoo. Pria itu membalik tubuh Kyungsoo membelakanginya. Seperti biasa Jongin dengan sangat santai merapikan rambut kering Kyungsoo untuk membuat sebuah kuncir.
"Ahhhh."
Alis pria tan naik setingkat mendengar desahan Kyungsoo. Ia memajukan wajahnya untuk berbisik pada Kyungsoo.
"Kau yakin baik-baik saja Kyungsoo?"
"Jongin?"
Pria tan semakin bingung ketika Kyungsoo menahan diri dengan menekan bantalan sofa di depannya. Seperti seorang wanita yang sedang melakukan morning seks. Menaiki prianya dengan begitu baik.
"Kyungsoo? Katakan sesuatu?" Jongin mulai tampak khawatir melihat kegelisahan istrinya.
"Apa blueballs sangat menyiksa?"
Mungkin benar istilah untuk mengawali setiap hari dengan menanyai diri sendiri. Jongin baru saja melakukannya. Bertanya pada diri sendiri tentang apa yang terjadi pada Kyungsoo? Kenapa begitu tiba-tiba? Dia mulai merasa sedikit aneh, tidak masalah permintaannya di tolak tapi jika Kyungsoo menahan diri seperti ini maka itu membuatnya ikut tersiksa.
Pelan Kyungsoo membalikkan badannya, jemari wanita itu menyentuh dada bidang Jongin, wajahnya begitu mempesona dengan rona merah dan bibir menggoda.
"A-apa kau sudah tahu arti ucapanku tadi malam?" alih-alih mencari topik pembicaraan lain, dia memberikan sebuah pertanyaan baru.
Kepala Kyungsoo mengangguk menjawab pertanyaan barusan.
"Kapan kau mengetahuinya?"
"P-pagi ini." Jawab Kyungsoo gugup. Dia masih menatap Jongin menampilkan raut wajah menyesal.
"Itulah yang membuatmu melamun hingga terkejut ketika aku menyapa?"
Sekali lagi Kyungsoo menganggukkan kepala.
"Dengar Kyungsoo sayang, istriku." Suara Jongin mengalun lembut. Ia rapikan anak rambut Kyungsoo yang menutupi wajah manis wanitanya. Membelai lembut wajah itu membuat pemiliknya sedikit menggigit bibir bawah. Jongin menyentuh bibir hati Kyungsoo.
"Ini bisa berdarah jika kau terus menggigitnya."
Tapi sulit untuk Kyungsoo berhenti.
"Ya memang benar itu sangat menyiksa. Rasanya sangat sakit, terasa nyeri." Setiap kata yang terucap seolah sebuah anak panah yang menancap pada tubuh Kyungsoo. Tanpa sadar jemarinya meremas kaos biru yang pria itu gunakan. Begitu kuat hingga membuat kusut pakaian Jongin. Tangan pria itu turun membelai lengan Kyungsoo, menimbulkan sensasi hangat dan dia menuntun tangan wanita itu melingkarkan lengan di lehernya.
"Apa bercinta dengan pasangan adalah solusinya?"
Jongin tersenyum, kembali membelai wajah Kyungsoo. Rasanya ini pertama kali mereka bisa saling memandang dalam jarak yang begitu dekat dan dalam keadaan Kyungsoo tidak menolak sama sekali. Mata bulat itu begitu jernih, seolah tidak pernah kemasukan debu dan kulit wajahnya sangat lembut, bulu mata lentik serta alis tebal yang berkerut. Bibir hati Kyungsoo terbentuk sempurna, hidung mancung dan semua membuat Jongin tanpa sadar ikut tersenyum. Dia sangatlah beruntung mendapatkan Kyungsoo sebagai seorang istri.
"Memang benar menyelesaikan bisa dengan bercinta bersama pasangan."
Suara berat Jongin mengudara menyapa pendengaran Kyungsoo.
"Y-ya... aku sudah membacanya."
"Membaca?" Jongin bertanya bingung namun pandangan Kyungsoo kemudian berpaling pada buku di bawah meja. Tangan bebas pria itu mengambilnya, ketika mendapkan benda itu dia membuka setiap lembar. Ia mengernyit membuka apa yang baru saja di tunjukkan Kyungsoo.
"Ba-Baekhyun yang memberikannya padaku."
Jongin tentu mengenal nama wanita yang baru saja disebutkan Kyungsoo. Dia anak tuan Byun yang dulu pernah bekerja bersama Jongin di Kantor sebelumnya.
"Apa yang kau tonton tadi malam juga?"
"Y-ya. Baekhyun juga yang memberikannya."
Jongin menyingkirkan buku itu, dia kembali tersenyum menatap Kyungsoo.
"Lalu apa yang kau pikirkan setelah semua yang kau ketahui?"
Sedikit ragu Kyungsoo menyampaikan pendapatnya.
"Apakah berhubungan seks begitu menyakitkan?"
To be continue...
Hallo akhirnya kita sampai pada bagian ini...
Mungkin beberapa waktu kalian akan menemukan banyak dialog, bagaimanapun aku tidak bisa melakukan perubahan yang begitu banyak.
Attention please! To the next chapter no children under 18th. This is a married life, full of seksual content for the next chapter. Ahh sorry.
[170702c – 170902p]
