"Lalu apa yang kau pikirkan setelah semua yang kau ketahui?"
Sedikit ragu Kyungsoo menyampaikan pendapatnya.
"Apakah berhubungan seks begitu menyakitkan?"
CONTEMPORARY [6th Chapter]
Present by RoséBear
[KaiSoo FF]
Content: Sensitive subject matter, original fanfiction, GS, some typo
"Oh sayangku," Jongin bicara begitu lembut sembari mengelus wajah Kyungsoo. "Tidak begitu menyakitkan jika kita berhasil mencapai sebuah orgasme. Bagaimana aku harus menjelaskannya padamu?" Sedetik kemudian dia mengalami kebingungan.
Jongin mungkin sangat pandai menjelaskan sebuah rancangan periklanan untuk menarik perhatian konsumen tapi bagaimana dengan memberikan penjelasan pada Kyungsoo? Mungkin bahasa yang dia gunakan harus lebih disederhanakan. Anggap saja memberi penjelasan pada seorang balita tentang beberapa rangkaian kegiatan yang bisa dia lakukan bersama keluarga di sebuah taman kota pada akhir pekan.
Karena pastikanlah reaksi yang muncul pada diri Kyungsoo kemudian.
"Maksudmu?" Kyungsoo bertanya bingung.
Jongin menarik napas dalam, ia berusaha tersenyum sangat tampan sementara otaknya berpikir cukup keras.
"Sulit menjelaskannya. Tapi percayalah itu tidak menyakitkan, kau bisa percaya padaku. Sangat menyenangkan sayang," ia diam sejenak, tersenyum dan mulai bertanya kembali pada Kyungsoo. "Apa kau pernah menaiki rollercoaster?" Ketika itu Kyungsoo segera mengangguk.
Senyum Jongin semakin mengembang melihat pengakuan Kyungsoo.
"Orgasme itu tidak jauh berbeda seperti menaiki rollercoaster. Kita berusaha menaiki puncak paling tinggi, berhenti sebentar kemudian segera meluncur ke bawah hingga mencapai dasar. Bukankah menyenangkan?"
"Itu mengerikan."
Jongin terkikik geli mendengar komentar Kyungsoo. Sepertinya perumpamaan rollercoaster itu adalah sebuah kesalahan bagi seseorang yang tidak menyukai permainan jantung itu.
"Tidak Kyungsoo sayang. Sama sekali tidak mengerikan."
Pelan jemari Jongin membelai pinggang Kyungsoo membuat tubuh wanita itu bergerak gelisah. Membuatnya tertarik semakin dekat.
Tangan Kyungsoo masih melingkar di leher Jongin ketika pria itu memasukkan jemarinya ke balik kaos putih yang Kyungsoo kenakan.
Kyungsoo merasakan ketegangan seksual atas sentuhan asing pada bagian tubuhnya, tapi begitu lembut seperti digelitik dengan bulu ayam.
"Jonginhhh~" ia mendongak, mencoba menahan desahan yang muncul.
"Sebentar saja Kyungsoo," Jongin menemukan payudara Kyungsoo. Membuat pundak Kyungsoo naik dan perutnya membusung ke depan. Wanita itu kemudian melengkungkan tubuh ke belakang.
Bagian otak Kyungsoo mulai memproduksi rasa takut dan kecemasann ketika Jongin berhasil menangkup kedua payudaranya. Ia ingin menghindari sentuhan Jongin tapi di sisi lain juga menginginkannya.
Pria tan mendekatkan wajahnya, mencium bibir Kyungsoo menahan desahan wanita manis itu. Secara reflek Kyungsoo menarik leher Jongin. Ciuman itu membuat pernapasannya menjadi cepat. Tanda vital Kyungsoo mulai meningkat.
Bibir Jongin kembali mencium Kyungsoo dengan lembut, sementara tangannya masih menyentuh payudara Kyungsoo membuat naik bra yang istrinya pakai. Menyentuh puting Kyungsoo meningkatkan gairah dan menimbulkan rasa panas di bagian bawah. Tangan Jongin keluar dari dalam kaos Kyungsoo, membuka ziper dari celana berbahan silk yang istrinya kenakan. Masuk menyentuh kewanitaan Kyungsoo dari balik celana dalamnya. Jongin merasakan Kyungsoo mulai bangkit sementara tubuh istrinya semakin gelisah akan sentuhan itu.
"Jonginhhhh, aku merasa mau buang air kecil." Kyungsoo mencoba protes tapi satu tangan Jongin menahan pinggangnya sementara yang satunya lagi membelai kewanitaan Kyungsoo.
Pria itu mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di telinga Kyungsoo, "Shhh itu hanya perasaannmu saja sayang."
"Kumohon Jongin." Sekali lagi Kyungsoo berusaha melepaskan diri dari penahanan lelaki ini.
"Akan menyiksa jika kuhentikan." Sementara Jongin terus membalas penolakkan Kyungsoo.
Dia menahan tubuh wanita itu agar tidak beranjak dengan melingkarkan kaki ke pinggang Kyungsoo.
Jemari panjang lelaki itu menyentuh klitoris Kyungsoo membuat tubuh di hadapannya setengah maju mendekat secara reflek.
Bibir tebal lelaki itu kembali mencium Kyungsoo penuh gairah, sementara tangannya masih merangsang payudara Kyungsoo dan kewanitaannya secara bersama.
"Jonginhhhh, oughhh!" napas pendek-pendek dan jantung berdetak kuat.
Jongin memberikan irama yang sangat pelan pada awalnya kemudian sedikit menaikkan tempo sentuhannya, merangsang Kyungsoo dan membuat tubuhnya bergetar beberapa saat.
"Jonginhhhh!" Kyungsoo terpekik saat mencapai sebuah orgasme. Tubuhnya ambruk memeluk Jongin. Ia memeluk pria itu begitu erat. Napas panas Kyungsoo membelai kulit leher Jongin, menaikkan gairah pria itu dan membuat sesak miliknya sendiri.
Denyut jantung dan pernapasan Kyungsoo mulai melambat. Jongin bisa merasakan itu karena dia segera membalas pelukan Kyungsoo, merasakan hembusan napas wanita itu pada perpotongan lehernya sendiri.
"Kyungsoo sayang? Apa itu menyakitimu?" Jongin bertanya pelan tapi tetap berusaha untuk didengar Kyungsoo. Dia menunggu beberapa sampai ketika tangan Kyungsoo kemudian memegang kedua pundak Jongin dan menarik kepala menghadap lelaki ini. Dia menggeleng dengan sebuah senyum tipis. "Tidak Jongin."
Saat itu lelaki tan tersenyum senang. Wajah Kyungsoo setelah mencapai orgasme benar-benar sebuah godaan tersendiri. Jongin menikmati wajah polos Kyungsoo yang telah berkeringat.
"Apa yang kau rasakan?" Sekali lagi Kai berusaha bertanya.
"Aku merasa ringan. Sepertinya tubuhku melayang untuk beberapa saat." Kyungsoo berusaha memberitahu tentang perasaannya. Sebuah perumpaan singkat namun Jongin tersenyum menatap Kyungsoo, menggesekkan hidung keduanya dan mencium bibir hati itu beberapa saat.
"Kau percaya padaku kan? Bercinta denganku jauh lebih nikmat lagi Kyungsoo."
Wajah merah merona akibat aliran darahnya membuat Kyungsoo menegang, tapi Jongin benar-benar akan mengantarnya ke puncak kenikmatan. Pria itu tidak sedang berbohong.
"Kita akan melakukannya lalu beristirahat seharian agar bisa kembali bekerja besok pagi." Jongin mencoba mengajak Kyungsoo.
Mungkin setengah menit dibutuhkan Kyungsoo untuk berpikir sebelum dia mengangguk setuju. Saat itu Jongin putuskan mengangkat Kyungsoo. Melingkarkan kaki Kyungsoo ke pinggangnya, membawa wanita manis itu ke dalam kamar tanpa melepas ciuman yang membangkitkan gairah.
~ RoséBear~
No Children under 21, Sexual content, SMUT
Secara pelan Jongin membawa Kyungsoo ke atas ranjang, membuat tubuh dengan napas wanita itu memburu ketika terbaring. Mata sayu Kyungsoo begitu menggoda, membuatnya semakin bergairah. Jongin menopang tubuhnya agar tidak menindih dan menimbulkan keterkejutan pada istrinya.
Dirinya mencium Kyungsoo, menjilati bibir hati itu dengan penuh gairah. "Kau harus tahu jika ini tidak akan menyakitkan pada akhirnya." Bisiknya sepelan mungkin.
Kyungsoo mencoba mengangguk setuju sekali lagi. Tubuh itu sedikit merinding ketika Jongin menyentuh ujung kaos putih yang ia kenakan, mencoba melepas pakaian wanita itu meninggalkan bra yang tidak terlalu rapi akibat perbuatan Jongin sebelumnya.
"Jangan pernah berpaling dariku Kyungsoo. Kumohon."
Kepalanya hanya berpaling beberapa detik saja. Segera ia kembali menatap Jongin setelah perkataan lelaki ini beberapa saat lalu. Napas Kyungsoo setengah memburu, perut hingga dadanya naik turun dengan gerakan cepat. Jongin membawa tangan Kyungsoo ke bagian kepala ranjang.
"Ini tidak akan menyakitkan, percaya padaku."
Ia mengambil botol madu dari atas nakas. Pria itu membuka botol tanpa menimbulkan suara berisik. Sementara Kyungsoo hanya menunggu apa yang akan dilakukan Jongin, udara dingin akibat hujan di luar membuatnya sedikit terbelai. Ia kembali merasa asing ketika jemari yang telah dilumuri madu kental itu menyentuh bagian bawah bibirnya, berjalan hingga ke dagu dan menyentuh belahan dada.
"Jonginhh?"
Kyungsoo setengah bertanya. Semua tergambar jelas dari caranya menatap Jongin dan tangannya berusaha menghentikan gerakan pria itu.
"Ini akan sangat nikmat, bukankah kau memutuskan untuk percaya padaku?"
Pelan, Kyungsoo melepaskan tangannya kembali. Pria tan itu kembali ke atas tubuh Kyungsoo tanpa menindih, ia mencium Kyungsoo, membuat lidahnya sendiri membawa tetesan madu ke dalam mulut Kyungsoo. Tidakkah gerakan Kyungsoo sangat kikuk ketika membalas lumatan pria itu pada bibirnya.
"Menyenangkan?" Jongin bertanya dengan suara berat.
"Ya." Setengah malu Kyungsoo mengakui kenikmatan dari ciuman mereka barusan, membiarkan Jongin kembali memgeksplore tubuhnya yang menggelinjang ketika Jongin memainkan payudaranya dari balik bra yang belum terlepas. Meremas, membuat tubuh Kyungsoo terangkat ke atas.
Kaki Kyungsoo bergerak-gerak gelisah karena posisi kaki kanan Jongin yang berada di tengah kedua paha dalamnya. Wanita itu terus bergerak tanpa sadar menyentuh kejantanan Jongin dari balik celana.
"Ukhhh kau menyentuh milikku Kyungsoo."
Napas Jongin membuat leher Kyungsoo merasa hangat, tapi pria itu kembali melanjutkan aktivitasnya, mencium jalur yang telah ia buat dengan madu lalu kembali mensejajarkan wajahnya dengan Kyungsoo. Ia ingin memberitahu Kyungsoo jika seks yang akan mereka lakukan bukan sekedar karena nafsu, melainkan emosi, hasrat, cinta, kedekatan hingga kenikmatan.
Sementara wanita itu telah larut dalam permainan suaminya sendiri. Sejak kapan branya telah melonggar dan Jongin melepaskan benda itu, membuat telanjang bagian atas Kyungsoo. Payudara wanita itu terlihat menegang membuat Jongin semakin bergairah. Ia mencelupkan kembali jari tangannya ke dalam botol madu, mengoleskan kembali pada puncak payudara Kyungsoo.
"Jonginhhh~" sekali lagi Kyungsoo mendesahkan namanya ketika Jongin mencium puting payudaranya. Kaki Kyungsoo naik ke atas dan dia menghempaskan diri ke atas ranjang.
"Kau bisa menjilatinya sayang."
Tanpa sadar Kyungsoo meraih pergelangan tangan kanan Jongin. Memegangnya seolah itu adalah benda berharga. Ia mulai menjilati ujung jari-jari Jongin yang masih dilumuri oleh madu, tapi reaksi tubuhnya tak bisa berpaling dari sentuhan Jongin. Ketika mulut Jongin menguasai payudara kanannya makan tangan satu lagi yang bebas bermain pada bagian lain. Semua sentuhan pria itu membuat Kyungsoo merasa frustasi. Dia mengerang beberapa kali melewatkan lidah hangatnya pada ujung jari yang telah Jongin berikan.
"Hahh~ ahh~" wanita itu hanya bisa mendesah. Jongin kembali menarik jemari tangannya. Ia tersenyum menatap Kyungsoo.
"Anak pintar." Dia mencium kepala Kyungsoo lembut. Menunggu sepasang mata bulat itu kembali terbuka lalu bertanya pelan. "Kau tidak ingin melihat tubuhku?"
Pertanyaan itu juga diikuti gerakan Jongin yang membawa kedua tangan Kyungsoo menyentuh kaosnya yang masih terpasang. Perlahan Kyungsoo mengikuti ucapan Jongin, menarik kaos itu melewati kepala dan lepas begitu saja hingga membuangnya ke bagian lain ranjang.
Tangan Kyungsoo menyentuh dua bagian dada Jongin yang telah terbentuk dengan sangat baik, pria ini lahir dengan ketampanan luar biasa. Bentuk tubuh yang mendapat perawatan pun semakin lebih baik dan lihatlah senyuman yang begitu menawan.
Tangan Jongin mengoleskan madu pada miliknya sendiri. "Kau mungkin bisa mencobanya."
Kyungsoo memandang Jongin penuh tanya tapi kemudian dia berangsur setengah bangkit, membawa mulutnya sendiri pada puting Jongin.
"Hnghhh~" Jongin mengigit bibir bawahnya mengontrol desahan akibat sentuhan mulut Kyungsoo yang begitu hangat. Jongin dalam posisi berlutut membawa Kyungsoo semakin duduk. Kedua tangannya menahan butt Kyungsoo. Terasa begitu halus mengingat Kyungsoo mengenakan celana jenis silk.
"Bisakah aku menelanjangimu Kyungsoo?"
Mungkin terdengar begitu vulgar tapi dengan kalimat seperti itu barulah Kyungsoo akan mengerti, jangan pernah gunakan istilah orang dewasa padanya. Kyungsoo belum banyak belajar hal semacam ini. Lagi pula lihatlah reaksi Kyungsoo. Ia berhenti sebentar untuk memandang Jongin. Membawa pria itu mendekat untuk berani mencium turun ke bibir hatinya, lalu bagian tulang dada, sebuah kissmark terbentuk namun tidak merasakan sakit seperti saat Jongin mabuk. Kyungsoo mulai menikmati semua sentuhan Jongin bahkan napas yang menyentuh kulit tubuhnya. Ia mengangguk menyetujui keinginan Jongin.
Seorang pria tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia memanfaatkan itu, membaringkan Kyungsoo kembali dan melepaskan celana wanitanya. Meninggalkan celana dalam hitam dengan sedikit aksen renda yang telah basah akibat orgasme sebelumnya.
Kyungsoo menutup kedua pahanya membuat tangan Jongin kembali membuka bagian itu.
"Sudah kukatakan jangan berpaling dariku Kyungsoo sayang. Kau sangat indah, kau harus tahu betapa menawannya dirimu dan aku ingin menjadi yang pertama memuji semua yang ada pada dirimu. Bukan hanya pada sifat baikmu, tapi juga tubuhmu."
Jongin mencium bibir Kyungsoo dengan lembut. "Kau punya bibir hati yang begitu manis, aku sangat senang setiap kali mendapatkan ciumanmu."
Ia berpindah mencium leher Kyungsoo, meninggalkan sebuah kissmark lagi.
"Maafkan aku saat itu membuatmu takut. Tapi tidak akan lagi."
Sekali lagi dia semakin turun mencium kedua payudara Kyungsoo. "Tidakkah ini begitu indah?" Tangannya menangkup kedua kenikmatan itu. "Mereka diciptakan berpasangan dalam bentuk yang berbeda. Saling memuaskan satu sama lain."
Kyungsoo merona kembali akibat ucapan Jongin. Bibir lelaki itu turun menciumi perut Kyungsoo. "Suatu hari kau akan mengandung anak kita. Apa kau siap dengan hari itu?"
Beberapa saat Kyungsoo terdiam namun dia segera mengangguk.
"Akan sangat menyenangkan memiliki anak kecil di rumah."
Jongin tersenyum senang mendengar perkataan Kyungsoo yang spontan. Ia semakin turun, membuat kaki Kyungsoo kembali menggelinjang. Pria itu kembali mencium perut hingga ke bagian paha dalam Kyungsoo.
"Jonginhhhh~" suara merdunya kembali meluncur.
"Ya sayang?"
Pria itu hanya tersenyum. Jelas saja Kyungsoo memekik ketika bibir Jongin mencium celana dalamnya dari luar. Sebuah sensasi sentuhan yang begitu menggairahkan walaupun sangat asing. Lelaki itu segera kembali ke atas tubuh Kyungsoo. Membawa tatapannya pada wajah kebingungan Kyungsoo.
"Kau tahu bagian mana yang paling menyiksa akibat blueballs yang sering kualami?"
Kyungsoo mendongak memastikan. Sementara tangan Jongin yang lain membawa jemarinya mengelus bagian dada bidang itu. "Bukan bagian ini sayang. Dia semakin turun, menarik napas untuk membuat jalan agar tangan keduanya bisa melewati pinggang celana yang ia pakai. Di balik pakaian dalam Jongin, Kyungsoo bisa merasakan sesuatu yang menegang. Jongin menggeleng.
"Memang sakit tapi di bagian bawah lebih parah." Kini Kyungsoo merasakan sesuatu yang lembut dan itu adalah scrotum milik Jongin. Kedua bola yang merasa tersiksa akibat orgasmenya tak kunjung didapatkan.
"Ukghhhh Kyungsoo~" Jongin mendesah nikmat saat jemari lentik itu masih menyentuh miliknya. Jongin melepaskan diri, ia juga melepaskan celananya.
"Sudah terlalu lama gairah yang kutahan sayang. Kau sudah siap menerimaku? Kau akan mengizinkan aku berada di dalam dirimu?" tangannya menyentuh kewanitaan Kyungsoo. Mengakibatkan rasa panas yang meluap karena belaian jemari itu.
"Jongin? Kau berjanji ini tidak akan menyakitkan bukan?"
Tentu saja Jongin mengangguk cepat. Dengan pertanyaan itu ia memastikan jika Kyungsoo memahami maksud perkataannya barusan. Segera Ia menarik pakaian dalam terakhir Kyungsoo. Membuat tubuh wanitanya telanjang dengan sempurna.
'Kau benar-benar pusat dunia yang sempurna Kyungsoo.' Jongin membatin menyaksikan pemandangan di hadapannya kini. Bagaimana wajah itu merah merona sejak tadi dan begitu menggoda untuk semakin disentuh.
"Jongin? Apa aku..."
"Tidak. Kau sangat indah Kyungsoo," Ia mencium bibir Kyungsoo menghentikan kalimat yang akan meluncur. Kedua tangan pria itu membawa kaki Kyungsoo melebar.
"Jongin!" Sebuah penolakkan tapi Jongin kembali meyakinkan Kyungsoo. Pria itu menunduk. Membawa wajahnya menghadap kewanitaan Kyungsoo. Merah muda yang begitu menggoda. Tidak pernah tersentuh dan selalu terjaga hanya untuk dirinya, suaminya.
Kyungsoo meremas seprai kuat ketika Jongin mencium kewanitaannya. Sebuah sensasi yang lebih intim dari sebelumnya bagaimana hangat bibir tebal itu bermain pada bagian bibir vagina dan klitoris Kyungsoo. Tubuh wanita itu lama kelamaan merasakan sebuah ketegangan luar biasa, aliran darah sangat terasa. Begitu panas terutama pada bagian yang telah Jongin sentuh dan memiliki tanda dari bibir pria itu. Kyungsoo menginginkan sentuhan pada kedua payudaranya. Ia meremas sendiri mendapatkan kenikmatan lain.
"Hahh~ Hnghhh Jonginhhhh~"
"Ya sayang? Bukankah ini baik-baik saja?"
"Y-yeahhh"
Pria itu semakin mempercapat gerakan lidahnya pada kewanitaan Kyungsoo. Rasanya begitu basah dan juga panas walau ia harus berusaha melebarkan kedua paha KYungsoo akibat gerakan Kyungsoo yang tidak terbiasa dengan sebuah sentuhan semacam ini.
"Ahnghhhh!" Kyungsoo setengah berteriak. Gairahnya semakin meningkat, detak jantungnya berpacu kuat sementara tekanan darah meningkat. Ia mendapatkan sebuah orgasme lanjutan serta keluarnya cairan lubrikasi yang membuat Jongin tersenyum sangat senang.
Sebagian wanita tidak membutuhkan waktu lama untuk beristirahat saat mendapatkan sebuah orgasme. Jongin pikir Kyungsoo menjadi salah satu diantara wanita itu.
Ia menaiki tubuh Kyungsoo.
"Kyungsoo sayang, kau merasakan keteganganku? Aku sangat mendambakan sentuhanmu."
Jongin menuntun pandangan Kyungsoo pada apa yang dilakukan kepada tangan Kyungsoo membawa mereka menyentuh kejantaannya dari balik pakaian dalam. "Sangat menyiksa dan ingin disentuh."
"A-apa yang harus kulakukan?" Kyungsoo tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengurangi penyiksaan yang Jongin katakan. Dia telah mendapatkan begitu banyak kenikmatan dari berhubungan seks sementara Jongin masih berkata ini menyiksa.
"Memijitnya. Mungkin kau perlu membasahinya seperti milikmu... Dengan mulutmu."
Kyungsoo meneguk salivanya kuat, sangat sulit tapi kemudian ia mencoba beranjak. Membawa tubuh telanjang itu bergerak. Menarik kepalanya untuk mendekat pada milik Jongin. Pria itu berbaring di ranjang setelah mengganti posisi mereka. Membiarkan Kyungsoo berlutut diantara kedua pahanya yang terbuka lebar. Sedikit gemetar Kyungsoo menarik celana dalam Jongin. Ia bisa melihat ereksi pria ini. Pandangan mata bulat Kyungsoo kembali menatap mata Jongin karena muncul semburat keraguan.
"Lakukan saja Kyungsoo."
Ia mengangguk pelan. Membawa kedua tangannya menyentuh milik Jongin yang sangat besar. Napas hangat Kyungsoo terasa pada bagian ujung penis Jongin. Oh jangan lupakan, tadi pria itu berkata jika skrotum miliknya terasanya nyeri. Kyungsoo mencoba menyentuhnya dengan sangat lembut membuat Jongin mengerang.
"Arkhhhh Kyungsoo~"
Kyungsoo bisa mendengar Jongin mendesahkan namanya. Mungkin ini yang pria tan rasakan tiap dia memanggil nama lelaki itu. Gairahnya semakin naik dan ingin membawa lelaki ini pada apa yang dia sebut sebuah orgasme.
Tangan Jongin memegang jalinan kepala ranjang dengan kuat. Dia menikmati setiap sentuhan Kyungsoo.
Kyungsoo memasukkan penis Jongin ke dalam mulutnya. Terasa hangat bagi Jongin tapi begitu besar untuk Kyungsoo, atau mungkin memang milik Jongin yang mengalami perubahan akibat sentuhan Kyungsoo yang semkain lama memasuki tahap ketegangan luar biasa.
"Cukup Kyungsoo!"
Bahkan itu hanya berlangsung satu menit saja. Jongin menghentikan Kyungsoo, ia bangkit membawa dirinya menuntun Kyungsoo kembali berbaring. Jongin melebarkan kedua kaki Kyungsoo, memposisikan miliknya tepat pada lubang kewanitaan Kyungsoo yang nampak begitu indah. Wanita itu meremas seprai kuat ketika benda asing itu mencoba masuk membuat tubuhnya terangkat ke atas.
"Jongin!" ia berteriak kuat.
"Maaf sayang. Tapi aku janji hanya terasa sakit di awal. Percayalah."
Idiotnya Kyungsoo mengangguk walau dia sudah hampir menangis karena rasanya sangat aneh.
Jongin membawa miliknya semakin masuk. Mungkin terdengar sebuah robekan tapi Jongin tersenyum senang. Ini bukan hanya pertama kali untuk Kyungsoo, namun juga untuk Jongin. Dia tidak pernah melakukan seks dengan wanita lain, hanya Kyungsoo.
"Arghhhh!" Suara teriakkan Kyungsoo membawa kepala Jongin mendekatinya. Mencium semua bagian wajah Kyungsoo secara bergantian dalam waktu yang begitu cepat.
Gerakan pria itu terbilang pelan dan menyiksa. Kyungsoo membawa tangannya pada bagian kepala ranjang. Ia mencoba apa yang Jongin lakukan sebelumnya, berpegangan pada tiang ranjang namun tangan Jongin memaksanya lepas. Lelaki itu menautkan kedua jari mereka sementara miliknya terus saja berusaha menarik dan masuk dalam gerakan cepat. Membuat irama dari bibir hati Kyungsoo terdengar sangat indah.
"Hahh~"
"Hnghhh~"
"Jonginhhh oughhh. Ohh astaga! Jonginhhh! Kumohon Jonginhhh!"
"Ya sayang. Aku tidak akan berhenti."
"Hnhh~"Kyungsoo kembali merasakan sebuah tambahan kenikmatan akibat Jongin menciumi payudaranya sementara miliknya terus bergerak di bawah sana.
"Jonginhhh a-akuhhh merasa mau buang air kecil."
"Se-sebentara lagi sayang," Jongin mengingatkan Kyungsoo.
Tangan Jongin melepaskan Kyungsoo membuat wanita itu melingkarkan lengan pada lehernya.
Ia membawa kedua kaki Kyungsoo menekuk dan semakin membuka kewanitaannya. Kyungsoo merasa dirinya sangat sensitifnya saat ini terutama bagian intimnya.
Dalam berkali-kali hentakan Jongin menumpahkan spermanya ke dalam diri Kyungsoo. Mereka merasakan sebuah orgasme dalam waktu bersamaan. Napas menjadi putus-putus. Jongin melepaskan kaki Kyungsoo, menarik membawa wanita yang setengah membusur itu kembali telentang. Membiarkan Kyungsoo tetap memeluknya erat. Kyungsoo butuh sebuah pelukan sementara Jongin merasa sangat mengantuk. Ia berguling membawa Kyungsoo ke sampingnya. Menjadikan lengan Jongin sebagai bantalan Kyungsoo. Melepaskan penyatuan mereka pria itu menarik selimut setelah meminta Kyungsoo mengangkat sedikit tubuhnya.
"Bagaimana perasaanmu sayang?"
"Hmm? Aku bahagia Jongin."
Jongin melirik bercak darah pada bagian selimut yang menjadi alasan mereka. Sepertinya sedikit noda tidak menjadi masalah besar.
"Kita bisa tidur seharian. Apa kau lapar?"
Kyungsoo memejamkan matanya. Dia menggeleng.
"Tidak."
"..."
"Jongin?"
Jongin bergumam setelah keheningan diantara mereka.
"Apa kita tidak mandi? Rasanya lengket."
"Aku bisa melakukannya lagi jika kau meminta mandi sekarang "
Betapa mengemaskannya wanita ini ketika berusaha menolak sebuah penawaran. Tubuhnya lelah, baru terasa lelah ketika mereka mencapai orgasme bersamaan.
"Tidurlah sayang, kita masih harus bekerja besok pagi atau kau ingin sebuah izin? Aku bisa memberikan kenikmatan hingga malam hari jika kau menginginkannya."
"Tapi ini masih siang~" Kyungsoo setengah protes.
"Baik aku tidur Jongin!" Ia kemudian berteriak ketika Jongin mulai menciumi pundaknya yang masih polos semenara satu tangannya melingkar di perut Kyungsoo.
~ RoséBear~
Dunia mana yang pernah kalian tempati? Apakah ada bagian dimana kalian ingin menyembunyikan diri atau sebaliknya? Berdiri tegak dan memperlihatkan pada dunia jika kalian masih berada di dunia ini. Hidup dan bernapas dengan sangat baik, mungkin sesekali terasa begitu sesak akibat emosi sesaat.
Pria itu dengan sabar memegang mangkuk berisikan sup tanpa rasa. Ia menyuapi wanita cantik yang telah lama hidup bersamanya, mereka memang tidak tinggal di atap yang sama. Tapi kemudian dia memutuskan diri untuk tinggal di rumah yang sama. Sebuah alasan yang sangat konyol memang.
"Kau akan tinggal di sini membantu ibu dan aunty perawat merawatku?"
"Ya Luhan. Kumohon jangan bertanya lagi. Sudah puluhan kali kau bertanya sejak pagi ini."
Wanita cantik itu menghela napas. Ia menerima suapan makan siangnya.
"Andai Jongin juga tinggal bersamaku."
Percayalah. Satu kalimat pendek seperti itu bisa menyakiti perasaan pria ini. Tapi dia berusaha menahan diri.
"Ya. Hidup bertiga terdengar tidak buruk. Tapi kau sendiri sudah tahu jika dia memiliki istri."
Luhan mendengus.
"Ya. Kenapa kau tidak memberitahuku."
"Dia juga tidak memberitahuku Luhan," lelaki itu menegaskan. Dia tidak ingin disalahkan oleh wanita ini lagi.
"Hum. Wanita itu pasti sangat jahat sampai tidak membiarkan Jongin memberitahumu. Aku sangat yakin Jongin terpaksa menikah dengannya. Sehun-ah?"
"Ya?" Pemuda itu menyahut. Dia kembali menyuapkan satu suapan menahan kalimat berikutnya.
"Kau mau membantuku? Bawa aku..."
"Aku hanya akan membawamu menemui dokter. Kita sudah membicarakan itu. Jangan memaksaku lagi. Buburmu sudah habis Luhan."
Sehun mendekatkan cangkir minuman pada bibir Luhan membuat wanita itu meneguk beberapa.
"Sebaiknya kubawa piring kotor ke dapur."
Pria itu memilih pergi. Meninggalan wanita itu seorang diri.
"Kalau kau menolak secara langsung. Akan ada cara lain yang membawaku pada Jongin."
Mereka telah berteman sangat lama, namun kemudian sesuatu terjadi. Hal buruk yang sangat membebani satu sama lain. Menyakiti mereka secara bersamaan.
Ketika perasaan tidak bisa dipaksakan.
Namun seseorang kemudian memaksakan perasaannya.
Rasanya sangat menyesakkan.
Begitu menyiksa dan...
"Jongin... Kau tahu aku menyukaimu. Kenapa kau tega melakukan ini padaku?"
To be continue...
Oke! Chapter ini selesai setelah aku menghapus beberapa bagian ^^
Kalau ini terlalu pendek aku minta maaf, kalau ini membosankan aku juga minta maaf. Tapi terima kasih banyak untuk semua respon kalian. Aku akan lebih banyak belajar lagi. Oh ingatkan diri kalian untuk memanggilku 'Rosie' ^^
Thank You.
RoséBear
[170703c – 171013p]
