Malam ketika Jongin terjaga pertama kali dia hanya memandangi wajah lelap Kyungsoo. Pria itu beranjak, menggunakan pakaian dan berjalan menuju dapur. Dia melihat makanan yang seharusnya dimakan untuk sarapan masih tertata begitu rapi. Sebuah helaan napas berat untuk kemudian membawanya memanaskan satu persatu makanan itu.

Rasanya hanya setengah jam sejak Jongin terbangun dan dia menemukan Kyungsoo berdiri di ambang pintu dapur. Tersenyum menawan, telah menggunakan pakaian tidurnya yang lain namun masih menyeret selimut dengan noda.

Jongin melangkah mendekat, mendaratkan sebuah ciuman di bibir Kyungsoo. Entah perasaan Jongin atau memang bibir itu terasa semakin nikmat tapi kemudian Kyungsoo mengernyit.

"Apa terasa sakit?"

Wanitanya mengangguk. Tapi kemudian dia menggeleng cepat. "Semua baik-baik saja. Apa yang sedang kau lakukan Jongin?" Ia bertanya penasaran.

"Memanaskan makan malam kita."

Malam itu mereka memiliki beberapa obrolan yang membawa sebuah tawa. Di mana memandang wajah tersenyum Kyungsoo adalah hal yang paling lelaki tan suka. Karena di dunia ini, mereka sadar jika kebahagiaan itu sederhana.


CONTEMPORARY [7th Chapter]

Present by RoséBear

[KaiSoo FF]

Content: Sensitive subject matter, original fanfiction, GS, some typo, Friendship, Marriage Life, Sexual Content


Berapa lama mereka telah tinggal bersama di apartemen ini? Satu minggu? Atau lebih?

Berapa banyak perubahan yang terjadi pada Kyungsoo? Tidak terlalu banyak tapi cukup.

Dia telah belajar menjadi seorang istri untuk pria ini, membawa langkah pastinya memulai sebuah pekerjaan seperti orang kebanyakan.

Dan akhir pekan ini. Jongin menatap kagum pada Kyungsoo, sebuah gaun biru selutut dengan lengan hingga siku. Tidak tahan sekedar menatap, pria itu segera menarik Kyungsoo dalam sebuah pelukan. Hari ini dia telah berjanji akan membawa Kyungsoo ke sebuah gedung opera atas keberhasilan wanita itu bekerja di minggu keduanya. Tapi Jongin meminta Kyungsoo mengenakan pakaian mengembang itu di tengah cuaca dingin. Awalnya Kyungsoo ingin menolak tapi Jongin berniat membatalkan perjanjiannya. Sementara dia sudah begitu lama tidak pergi ke sebuah gedung opera. Di sinilah Kyungsoo berakhir, malam hari dengan pakaian yang Jongin pilihkan. Sesuatu yang baru namun dia merasa baik-baik saja ketika lelaki itu tidak melepaskan gandengan tangan mereka.

Satu hal yang Jongin suka. Ketika Kyungsoo tertawa begitu lepas. Kemudian wanita itu tersenyum, begitu banyak emosi kebahagiaan yang muncul membuat hangat hati dalam hitungan jam di dalam sebuah pertunjukkan sejarah China dengan sentuhan dance classic, live music dan running digital backdrops.

Selama pertunjukkan itu juga Kyungsoo harus menegaskan pada Jongin jika ini bukan Chinese ballet melainkan sebuah tarian tradisional yang mana beberapa teknik terlihat seperti ballet.Sesuatu yang sederhana, namun terasa sangat luar biasa. Kedua tangan mereka tetap bergandengan ketika melangkah keluar. Pertunjukkan itu hanya sebentar, tapi Jongin tidak berhenti melihat Kyungsoo masih merasakan kenikmatan pertunjukkan barusan

"Eghh! Aw!"

"Kyungsoo hati-hati!"

Jongin setengah berteriak ketika tubuh istrinya terdorong akibat seseorang melintas dari belakang melewati bagian kiri Kyungsoo. Pria itu segera menarik Kyungsoo, tanpa sadar menghapus jarak di antara mereka. Membawa tubuh yang lebih pendek itu dalam perlindungan. Namun apa yang Jongin temukan saat melihat siapa yang baru saja melintas.

"Luhan? Kenapa kau bisa di sini?"

Suara Jongin berhasil menarik perhatian seseorang.

"Oh. Jo-Jongin? Itukah dirimu?"

Yang menabrak Kyungsoo bukan hanya seseorang namun seseorang dengan kursi roda. Wanita cantik itu tidak menyadari jalan yang dia ambil karena memang dia tidak melihat.

Tangannya menggapai udara mencari keberadaan Jongin yang bicara dengannya, melihat itu secara reflek Jongin memberikan tangannya dan Luhan segera memegang begitu erat.

Di balik punggung Jongin, dia tidak menyadari jika Kyungsoo hanya diam memperhatikan. Wanita yang begitu cantik, kulitnya sangat putih dan bersih. Rambut kecoklatan, wajahnya mungil dengan bibir tipis dan sejujurnya mata itu sangat indah. Sesaat Kyungsoo mengagumi wanita ini.

"Aku bersama Sehun. Tapi aku kehilangannya."

Tangan Luhan sama sekali tidak melepaskan lengan Jongin ketika dia mulai bicara. Menarik pria itu untuk semakin mendekat sementara sedikit menjauh dari Kyungsoo.

"Kalau begitu aku akan menghubunginya untukmu." Jongin telah berusaha menyelesaikan permasalahan yang dia pahami. Hanya saja, Luhan memiliki pendapat lain.

"Tidak! Bisakah Kau mengantarku pulang? Katakan pada Sehun aku pulang bersamamu." Dia memohon. Membiarkan Kyungsoo mendengar permohonan itu.

Kyungsoo tentu ingin menolak. Dia ingin makan malam di luar bersama Jongin tapi dia siapa? Hanya orang yang bertemu bahkan pertemuan itu belum ada setengah tahun.

Jongin menatap Kyungsoo meminta persetujuan. Lalu wanita itu mengangguk pelan.

"Tapi aku tidak sendirian Luhan. Aku bersama seseorang." Sekarang dia memiliki kesempatan untuk memberitahu wanita ini.

"Si-siapa?" Luhan setengah kaget.

"Kyungsoo," Dia kemudian mendekatkan mulutnya pada telinga Luhan.

Kyungsoo tidak tahu apa yang Jongin bisikan. Tapi entah kenapa dia tersenyum melihat ekspresi Luhan yang terkejut.

"Kau tidak memberitahuku?"

Sedetik kemudian Kyungsoo kembali terkejut dengan nada suara Luhan. Terdengar tidak suka dengan apa yang baru Jongin sampaikan.

Jongin tersenyum pada Kyungsoo untuk menghilangkan kekhawatiran istrinya. "Aku berencana membawa Kyungsoo menemui kalian besok. Tapi kita sudah bertemu di sini."

"Luhan!"

Saat itu sebuah teriak membuat Jongin dan Kyungsoo menoleh pada seorang pria yang sedang terengah-engah mengatur napasnya.

Pria itu lalu mendekat. "Oh kau menemukannya lebih cepat dariku."

Seperti sebuah sindiran yang tertuju kepada Jongin.

"Sebaiknya kita pulang Luhan. Maaf membuatmu ketakutan." Dan kini pria itu telah memegang kedua sisi kursi roda. Bersiap membawa Luhan pergi.

"Aku tidak ketakutan Sehun," Luhan membantah pernyataan Sehun barusan. Ada nada di mana dia masih ingin bertahan di tempat ini.

"Kalau begitu kami permisi Kim."

Sehun! Pemuda itu menundukkan kepala kecil pada Jongin.

"Ya. Besok kami akan mengunjungimu. Hati-hati di jalan."

Jongin hanya tersenyum canggung, pegangan tangan Luhan lepas secara paksa dari lengannya. Pria tan hanya menghela napas berat. Memandang kedua sahabatnya pergi menjauh.

"Kau baik-baik saja suamiku?"

Ia menoleh mendapati Kyungsoo kemudian tersenyum canggung. Wanita itu menggigit bibir bawahnya seakan menggoda Jongin. Tapi percayalah, Jongin tahu jika Kyungsoo berniat menghibur hatinya. Bukankah dia terlihat seperti baru saja ditinggalkan.

"Kita cari makan malam sayang?"

Meninggalkan Jongin dan kembali pada dua orang yang kini berusaha memasuki mobil sedan hitam. Sehun menggendong Luhan dan mendudukkan wanita itu ke kursi depan. Menyimpan kursi rodanya lalu mulai melaju meninggalkan gedung opera.

"Kau sudah bertemu istrinya. Besok mereka akan berkunjung. Ini terakhir kali aku menuruti permintaanmu yang sangat konyol."

"Sehun? Kau marah padaku?"

Siapa yang bisa marah pada Luhan? Seseorang itu akan sangat jahat jika dia malampiaskan emosi pada wanita yang bahkan belum bisa berjalan dengan baik. Masih menggunakan kursi roda dan sedikit lebih baik ketika dia mulai belajar berjalan dengan penyanggah.

Tapi hanya sebuah helanaan napas yang berhasil membendung emosi. Sehun membelai rambut Luhan dengan lembut.

"Tidak Luhan. Maksudku, ini malam hari. Bagaimana kau bisa memaksaku ke gedung opera. Oh ayolah, ternyata ini yang kau rencanakan? Aku tidak tahu kau mendapat informasi darimana? Tempat duduk di dalam opera itu juga. Bagaimana kau bisa menemukan keberadaan Jongin?"

Luhan mempout bibirnya lucu. Perlahan suara Sehun terdengar semakin tenang walau masih mengintimidasi.

"Aku mendengarkan suaranya Sehun. Kau meninggalkan aku untuk membawa mobil mendekat ke pintu gerbang."

"Tapi bukan berarti kau bisa meninggalkan tempatmu. Bagaimana jika kau tersesat? seseorang menculikmu? Kau terperosok dan tidak ada yang membantu." Sehun segera memotong ucapan Luhan. Semua karena kekhawatiran lelaki ini.

Luhan menghela napasnya. Dia bukan lagi bocah lima tahun yang buta arah. Yeah. Akui saja dia buta secara fisik. Tapi tidak ada yang tahu jika otaknya kembali bekerja dengan baik. Saraf motoriknya menuntun Luhan mendengarkan suara Jongin. Dia sudah merencanakan ini. Dia berterima kasih pada Kris, pria itu yang memberi berita tentang sebuah pertunjukkan yang akan mereka datangi.

"Aku ingin segera melihat. Sangat menyusahkan jika tidak bisa melihat."

Sekarang Sehun merasa bersalah akibat perkataannya yang telah menyakiti Luhan.

"Kau akan segera melihat. Kita trus berusaha mencari pendonor untukmu. Tapi sebelumnya kau harus belajar berjalan. Dokter berkata sesuatu tentang kakimu tempo hari. Tapi Lu. Apa kau mau menjalani sebuah terapi di bawah bimbingan seorang dokter ortopedi langsung?"

"Ya?" ia menyahut dengan pelan.

"Aku punya seorang Paman di Edinburgh yang bisa membantu. Itu jika kau tidak keberatan untuk pindah kesana sementara waktu."

Luhan terdiam mendengar perkataan Sehun. Tentu saja dia menolak. Luhan tidak akan mau meninggalkan Jongin.

Itu sesuatu yang di mana dia menolak untuk terlibat. Jika seseorang memaksanya menjauh dari Jongin, maka Luhan akan membenci orang itu. Sekarang dia ada pada masa di mana dorongan untuk bersama lelaki tan itu semakin memuncak. Dalam kehidupan, sebagaimana dia telah merasakan terperangkap dalam istirahat panjang untuk waktu yang lama.


~ RoséBear~


Hujan yang mengguyur kota dia pagi hari setengah merepotkan. Membuat Kyungsoo harus berlari kecil, salahkan dirinya sendiri karena tidak membangunkan Jongin dan pergi ke supermarket menggunakan mobil.

Saat kembali Ia mendapati keterkejutan Jongin karena coat yang dipakainya setengah basah. Wanita itu hanya memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. Terlihat jika kemarahan dan kekhawatiran mendominasi suaminya.

"Kenapa kau tidak membangunkan aku?"

Jongin menarik Kyungsoo masuk ke dalam, mendudukkan wanitanya di kursi dan meraih handuk.

"Ma-maafkan aku Jongin." Dia memperlihatkan sebuah penyesalan, menatap Jongin dari balik bulu mata lentiknya.

"Aku yang minta maaf karena tidak bangun."

Terdengar manis dan terlihat begitu romantis. Bisakah selamanya seperti ini tanpa ada masalah? Rasanya begitu sulit walau sudah begitu banyak perubahan yang terjadi sejak mereka bersama. Akhirnya, Kyungsoo harus menahan diri untuk beberapa alasan.

Dari tempat duduknya, Kyungsoo bisa memperhatikan pergerakan Jongin ketika lelaki itu berkata dia akan menyiapkan sarapan sementara Kyungsoo bergulung di dalam selimut karena dingin. Dia hanya duduk di atas kursi, memandang bagaimana Jongin sedang bekerja di dapur kecil mereka. Melakukan beberapa pergerakan, mengambil langkah untuk menyiapkan sarapan.

"Ya Jongin! Bukan begitu. Arah potongnya ke samping."

"Baiklah tuan putri."

Sejak mulai memutuskan untuk membuat sarapan dia terus saja mendapat protes Kyungsoo karena melarang wanita itu berdiri membantu. Hasilnya Jongin mendapat begitu banyak protes.

Ponsel Jongin berdering, sebuah pesan suara kembali masuk. Di mana Luhan bertanya apakah Jongin akan benar-benar berkunjung

Sejenak dia ragu untuk pergi karena kondisi Kyungsoo. Tapi Kyungsoo bilang dia baik-baik saja.

Pada akhirnya keduanya bersiap. Sebelum menuju ke rumah Luhan, Kyungsoo putuskan untuk membeli beberapa potong roti dan puding serta sekeranjang buah. Bukankah ini adalah etika ketika mengunjungi seseorang yang sakit.


~ RoséBear~


Orang pertama yang menyambut mereka ketika pintu dibuka adalah Sehun. Pria itu telah tinggal di sini dan mendapat libur di akhir pekan. Ia tersenyum canggung, tentu saja Sehun masih punya rasa hormat. Semua karena Kyungsoo yang berdiri di depan Jongin. Rasa canggung dan kurangnya keterbukaan terhadap kondisi mereka menjadi satu-satunya alasan untuk menyadari masalah di sini.

"Masuklah. Luhan baru saja dimandikan perawat."

Pada akhirnya pria itu membuka pintu lebih lebar agar keduanya bisa masuk.

Kue kering dan juga teh hangat menjelang siang hari yang masih menyisahkan gerimis. Kyungsoo maupun Jongin mencoba menikmati semua itu, sebuah kecanggungan luar biasa ketika Sehun tidak beranjak dari tempat duduk namun juga tidak bicara. Akan sangat aneh jika Kyungsoo memulai sebuah percakapan, jadi wanita itu hanya mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah. Sebuah rumah dengan penataan space yang lebar. Ia pikir semua untuk memudahkan Luhan dalam bergerak.

Hampir beberapa waktu dia merangkai beberapa kesimpulan hingga pintu bercat putih di dekat anak tangga tiba-tiba bergerak. Luhan keluar dengan dress putih di dorong seorang perawat yang memang bekerja membantunya.

"Jongin? Kau sudah tiba?"

Kembali tangan wanita itu menggapai udara dan denga sigap Jongin memberikan tangannya. Pria itu berdiri mendekat.

"Ya. Aku datang bersama Kyungsoo."

Sekali lagi Kyungsoo melihat perubahan ekspresi Luhan yang tidak memiliki kejelasan namun terselip ambisi kecil. Dia tidak terlalu yakin namun lamunan Kyungsoo di pecahkan oleh perkataan Sehun.

"Aku masih memiliki pekerjaan. Jika membutuhkan sesuatu aku akan ada di kamar."

Pria itu pergi setelah mendapat persetujuan dari Luhan.


Mereka tidak sadar dengan apa yang mereka inginkan. Rasanya sangat aneh ketika Luhan berkata ingin makan siang di taman rumah ini. Kyungsoo hanya mengekor di belakang ketika Jongin mengambil alih mendorong kursi roda itu.

"Jongin... Kau mau menyuapiku." Itu adalah permintaan kesekian Luhan.

Sekali lagi Kyungsoo mengangguk memberi persetujuan. Awalnya dia pikir sedikit karena rasa simpati terhadap kondisi Luhan. Tapi semakin lama rasanya sedikit sesak. Di sinilah dia berakhir, ketika Jongin selesai membantu Luhan makan. Wanita itu meminta Jongin menemaninya melakukan terapi.

Mata adalah cara utama untuk mengenali dunia di sekeliling kita, tapi Luhan saat ini hanya bisa mengandalkan Indera pendengar, penciuman, peraba dan pengcap. Betapa sabar seorang perawat dan Jongin yang membantunya hari ini.

Kyungsoo seolah tidak dibutuhkan, sejak tadi dia tidak malukan apapun. Untuk pertama kalinya dia merasa begitu lelah. Bisa jadi karena efek hujan tadi pagi, dia berlari di menit pertama hujan. Ketika air dari langit itu membawa turun debu-debu. Dia tidak menduga jika hal itu bisa bisa membawa rasa pusing.

Jika saat ini seseorang bertanya apa Kyungsoo merasa lelah? Maka dia akan menjawab tidak. Itu karena dia memperhatikan bagaimana sabarnya Jongin mengajari Luhan tentang ukuran ruangan dan letak sebuah benda. Tanpa sadar dia tertidur di sofa ruang tamu hingga malam menjelang.

Ketika nyonya Xi menyiapkan makan malam barulah Jongin menghampiri Kyungsoo. Sejujurnya dia sudah melihat Kyungsoo terbaring sejak tadi, tapi Luhan tidak melepaskan genggaman tangannya. Hingga Jongin hanya meminta perawat untuk memasangkan selimut pada Kyungsoo.

"Jongin? Kau akan makan malam bersama kan?"

Sekali saja. Biarkan Jongin menolak keinginan Luhan untuk Kyungsoo, untuk istrinya.

"Luhan sayang, Jongin tidak bisa berlama-lama. Dia harus bekerja besok pagi." Suara itu adalah milik ibu Luhan. Wanita tua yang masih terlihat cantik. Dia menghampir putrinya, berusaha mengambil alih keberadaan Luhan.

"Tapi makan malam bersama tidak masalah bukan?"

Semua orang di ruangan itu hanya bisa menghela napas. Jongin tersenyum canggung pada mereka yang bisa melihat. Membuat pola pikir mereka dengan isyarat yang tidak akan dipahami Luhan.

"Ya. Kau bisa membersihkan diri terlebih dahulu Lu." Suara Jongin terdengar pelan.

Ketika Luhan telah di dorong memasuki kamarnya. Pria itu mendekati Kyungsoo. Mengguncang pelan pundak istrinya.

"Kita makan malam lalu segera pulang?" Bisiknya pelan.

"Heoh?" Kyungsoo butuh beberapa saat untuk segera sadar. Kepalanya pusing tapi kemudian dia memahami ucapan Jongin dan segera mengangguk.

Chup

Entah kenapa Jongin tiba-tiba saja mencium bibir Kyungsoo membuat mata bulat itu melebar dan menampilkan ekspresi yang begitu lucu dalam setengah kesadaran yang ia miliki.

"Kupikir kalian memiliki kamar pribadi untuk melakukan hal itu."

Mereka terkejut akibat sebuah kalimat yang meluncur dari seorang pemuda. Sehun baru saja keluar dari kamar dan menuruni tangga. Rupanya pria itu telah siap untuk makan malam bersama.

"Dan aku pikir kau akan mengerti jika sudah menikah."

Percayalah jika ucapan barusan meluncur begitu saja. Jongin tidak terlalu sadar mengatakannya kepada Sehun. Namun sukses membuat pria Oh memalingkan wajah menghindari tatapan keduanya. Ia lebih dulu menuju meja makan.

Bahkan sepanjang makan malam Kyungsoo hanya mengehela napas melihat bagaimana Luhan sangat sulit lepas dari Jongin.

'Do Kyungsoo. Sadarlah.'

Sekali lagi dia hanya bisa mengingatkan diri sendiri. Dia mengalami kesulitan untuk memaksakan diri mendapatkan Jongin sepenuhnya.


~ RoséBear~


Ada berapa banyak pertanyaan yang muncul setiap kali merasakan hal baru, tapi terlalu malu untuk mengungkapkan. Apalagi jika terpikir itu bisa menimbulkan masalah baru.

Jongin sangat tidak mengerti, kenapa Kyungsoo tidak bertanya apapun prihal Luhan. Ini bukan sekali dua kali saja terjadi. Ketika dia berkencan dengan para gadis di masa lalu, mereka selalu melakukan protes. Tapi Jongin selalu memilih Luhan. Hanya saja, jika sekarang adalah istrinya? Jongin akan mengalami kesulitan dan dia semakin kesulitan ketika masalah yang muncul lebih buruk lagi. Apalagi Kyungsoo juga tidak bicara apapun. Tidak ada pertanyaan apalagi sebuah protes.

Ia telah memarkir mobil, sejak tadi Jongin sadar jika Kyungsoo kembali tertidur di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang mereka. Lebih buruk ketika dia merasakan suhu tubuh istrinya naik dengan segera. Dia pasti sangat kelelahan hingga bisa tertidur begitu saja tanpa harus mendengarkan sebuah cerita.

Kyungsoo demam. Bisa jadi dia terlalu lelah untuk melakukan sebuah protes atau memang gadis ini terlalu baik. Jongin telah melakukan sebuah kesalahan dengan membawa Kyungsoo masuk dalam kehidupannya.

Ia membawa Kyungsoo kembali ke apartemen dengan menggendong wanita itu. Rasanya lelah tapi pria itu tidak peduli, ia membuka pakaian Kyungsoo dengan pelan. Menyeka tubuhnya dan membaringkan wanita itu di ranjang.

Tidak sekalipun dia pergi dari ranjang terlalu jauh, Jongin selalu mengganti kompres Kyungsoo setiap lima belas menit. Dia tidak mau wanita ini mengalami pusing ketika terjaga.

"Kyung~ maafkan aku. Jika kau bertanya aku akan mengatakan semuanya kepadamu kenapa aku tidak bisa meninggalkan Luhan begitu saja. Aku harap kau tidak meninggalkan aku dan tidak sekalipun aku berpikir akan meninggalkanmu," dia berbisik pelan. Mengecup wajah manis itu penuh kasih sayang.

Jongin terjaga semalaman untuk bisa merawat Kyungsoo, tapi sesekali dia juga merasakan kantuk yang sangat berat lalu kemudian ia tepis segera perasaan itu.

Sudah cukup pagi ketika dia menyadari jam di dinding kamar berdenting. Pria itu mengecek suhu tubuh Kyungsoo yang perlahan kembali normal. Ia pergi ke kamar mandi untuk bersiap, segera ke ruang ganti dan Jongin setengah terkejut mendapati Kyungsoo telah duduk dengan memegang kompresnya.

"Kau sudah bangun sayang?"

Ia segera duduk di sebelah Kyungsoo. Meraih gelas berisikan air minum dan mendekatkan bibir gelas pada Kyungsoo. Hanya beberapa teguk untuk melancarkan fungsi tenggorokkan wanita itu.

"Apa kau merasa pusing?"

Ia menggeleng pelan. "Apa kau merawatku semalaman?" Kyungsoo memegang wajah Jongin, mendapati sebuah senyum mengembang di bibir tebal itu.

"Ya. Aku tidak bisa tidur saat kau sakit, bergumam sepanjang malam dan kau baru tidur dengan tenang saat sepertiga malam."

Apapun yang dia coba katakan, Kyungsoo menyesal mendengarnya.

"Maafkan aku."

"Kenapa kau meminta maaf?" Kepala Jongin bergerak maju agar bisa mendengar suara Kyungsoo lebih dekat.

"Karena merepotkanmu," ia menunduk dalam. Menarik tangannya kembali. "Kau sudah merawat Luhan seharian kemarin lalu malamnya aku juga merepotkanmu."

"Tidak! Aku senang bisa merawatmu. Sama sekali tidak merepotkanku Kyungsoo sayang."

Pagi yang menyenangkan selalu berasal dengan hembusan angin tenang. Terasa hangat ketika seseorang tersenyum dengan tulus. Berjanji pada diri sendiri tidak akan menyusahkan siapapun. Namun sebuah ketakutan terkadang lahir dengan sendirinya.

"Jongin... Apa kau akan berangkat bekerja?" Kyungsoo bertanya pelan.

Pria itu menggangguk pelan, "Apa aku tidak perlu bekerja? Aku tidak akan pergi jika..."

"Tidak. Kau bisa pergi. Tapi aku?" Dia memastikan diri.

Jongin mengelus rambut Kyungsoo, "kau bisa mendapatkan izin hari ini."

Kyungsoo melihat jam di dinding. Sebentar lagi jam bekerja perusahaan akan dimulai. Sudah seharusnya Jongin pergi.

"Jongin... Bolehkah aku memelukmu sebelum kau pergi?"

Sejenak Jongin terdiam. Bagaimana Kyungsoo bisa meminta untuk hal semacam itu? Ia segera menarik wanita itu dalam sebuah pelukan.

"Tentu saja. Kau tidak perlu meminta izin untuk bisa memelukku. Kau bisa melakukannya kapanpun. Bahkan di tempat umun sekalipun, aku akan sangat senang sayang."

"Hmmm."

Jongin tidak terlalu yakin tapi tadi dia mendengar sebuah gumaman seolah Kyungsoo setuju dengan perkataannya. "Aku akan kembali lebih cepat untuk membawakan makan siang. Aku sudah menyiapkan sarapan, aku akan pergi setelah kau menghabiskan sarapan."

Bagaimana lelaki ini bisa tumbuh dengan sebuah kepedulian luar biasa. Dia menjadi begitu baik dan sangat diidamkan oleh para wanita. Tapi bukankah sejak dahulu Jongin memang digilai para wanita. Tidak hanya wanita, sebab dia yang tidak hanya baik dan ceria namun sangat tampan dan begitu cerdas menjadi sebuah centre di mana orang-orang dengan senang hati berkumpul di dekatnya. Mengajukan diri menjadi teman maupun kekasihnya. Kenyataannya Jongin hanya punya Luhan dan Sehun yang ingin dia jaga. Dua orang yang akan menginap ketika orang tuanya pergi ke luar negeri dan dua orang anak yang selalu membantunya dari kejahilan sang kakak perempuan. Jika mengingat saat itu, ketika tubuh Jongin dan Sehun lebih kecil dari Luhan, mereka berdua selalu berlindung di balik gadis itu. Tapi bukan itu alasan kenapa Jongin begitu peduli pada Luhan saat ini.


~ RoséBear~


Jika di apartemen itu mereka mendapatkan pagi yang begitu damai maka sangat berbeda dengan suasana sebuah rumah ketika Sehun baru saja terbangun dari tidur.

Pria itu mendengar suara berisik dari lantai pertama, atau tepatnya kamar yang di tempati Luhan.

"Aunty? Ada apa?"

Ia bertanya bingung ketika mendapati ibu Luhan dan perawat berdiri di depan pintu kamar Luhan. Suara lemparan barang masih terdengar dari dalam membuatnya ikut panik.

"Luhan!"

Sehun berteriak kuat. "Di mana kunci cadangan?" Dia setengah berteriak sekali lagi dan perawat yang membantu di rumah itu segera berlari ke bagian belakang mengambil kunci.

Mungkin akan terdengar begitu buruk. Tapi apakah orang buta benar-benar mengalami depresi? Bisa jadi. Tapi kemungkinkan yang dialami Luhan bukan sebuah depresi. Melainkan kesedihan mendalam yang begitu konstan.

Sehun segera berlari ke dalam dan meraih Luhan dengan segera. Yang mereka dapati bukan hanya kekacauan pada diri Luhan, tapi juga pada kamarnya. Di balik pintu yang terkunci dan entah di mana kunci itu dibuang bersama barang-barang berserakan.

"Luhan!" Wanita itu berhenti berontak, tubuhnya gemetar dan dia menangis. Sehun membawa Luhan ke pinggir ranjang sementara perawat itu segera membantu membereskan kekacauan. Di ujung ranjang ibu Luhan juga ikut duduk.

"Sehun~"

"Ya. Aku di sini. Bersama ibu dan juga perawat Seo," Sehun merasakan tangan Luhan meremas kaos polos yang ia kenakan.

"Di mana Jongin?" Tapi yang ditanyakan Luhan adalah seseorang yang dengan jelas tidak bersama mereka.

Sehun segera meminta nyonya Xi mengambil alih putrinya. Sementara Sehun perlu berbicara dengan perawat yang seharusnya mengawasi Luhan.

"Sayang? Bukankah sebaiknya kau mandi? Pagi ini Ibu akan memandikanmu."

"Ibu, Dimana Jongin?"

Sekali lagi dia bertanya.

"Ya. Ibu mungkin bisa memintanya kemari. Tapi pagi ini dia harus pergi bekerja Lu."

Di luar ruangan, Sehun segera bicara dengan perawat. Dia mendapat penjelasan kenapa kekacauan itu terjadi. Pagi ini ketika Luhan bangun, dia berkata ingin berjalan ke kamar mandi ketika perawat menawarkan diri membantunya untuk mandi. Karena ingin berjalan jadi perawat Seo keluar untuk mengambil tiang penyanggah. Tampaknya Luhan mengalami gangguang konsentrasi setelah hampir seharian kemarin dia belajar mengenal letak barang bersama Jongin. Belum lagi dia masih berada di masa-masa awal kesedihan mengenai kondisi fisiknya.

Sehun hanya tersenyum miris, dia dan para dokter juga sudah memperkirakan kondisi ini. Tapi baru kali ini dia melihat secara langsung tindakan Luhan. Sejujurnya Sehun tidak terlalu percaya begitu saja.

Pria itu putuskan mengakhiri percakapan mereka, beranjak ke kamar dan membersihkan diri. Ia mengalami sedikit kesulitan.

'Oh sehun! Apa yang salah denganmu!?'

Dia mengingatkan dirinya sendiri. Bahkan sepanjang sarapan, Sehun hanya memandang lemah pada Luhan.

"Sehun, aku boleh meminjam ponselmu?"

"Hm?" Lelaki itu setengah terkejut.

"Aku ingin mengirim pesan untuk Jongin. Ibu bilang ponselku rusak bersamaan barang-barang di kamar."

Bolehkah Sehun menolak permintaan Luhan kali ini? Mengirim pesan untuk Jongin? Tapi dia kesulitan.

"Ya."

Dengan bodohnya pria itu menyalakan mode rekam kemudian menyerahkan ponselnya pada Luhan.

"Jongin... Apa kau punya waktu istirahat siang ini? Aku harus ke rumah sakit."

Luhan menyerahkan kembali ponsel Sehun dan pria itu membatalkan pesan yang telah ia rekam.

"Jika dia tidak datang. Aku akan pulang untuk membawamu ke rumah sakit."

Tiba-tiba saja suasana di meja makan itu terasa sangat asing. Luhan menarik suara sementara Sehun hanya menghela napas, ia pasti tidak menyukai ucapan Sehun barusan.

Mungkin terdengar begitu bodoh, tapi Sehun telah menyimpan perasaannya seperti bocah idiot sesungguhnya. Ibu Luhan mungkin menyadari perasaan pria ini. Ya. Lelaki mana yang dengan sukarela akan tinggal bersama seorang wanita sekalipun mereka berkata memiliki hubungan pertemanan yang begitu dekat. Jika Sehun adalah seorang dokter, mungkin alasan itu bisa di terima tapi dia lebih terdengar seperti seorang relawan.

Dan semua orang juga tahu bagaimana Luhan menyukai Jongin. Tapi nyonya Xi atau siapapun tidak bisa memaksakan pria itu untuk menerima Luhan. Dia sadar dengan posisi dirinya dan sang putri. Keluarga Jongin mungkin menerima pertemanan mereka tapi tidak untuk hubungan lain.


~ RoséBear~


Menjelang siang hari Jongin bergegas menyelesaikan semua pekerjaan yang tersisa. Dia benar-benar ingin kembali ke rumah dengan segera setelah mendapat pesan singkat dari Kyungsoo.

'Aku kelaparan. Bisakah aku mendapat makan siangku lebih cepat?'

Lelaki itu telah tersenyum sepanjang jalan menuju rumah. Di mana dia menyiapkan sup ayam dengan rempah dari sebuah restoran.

Hening ketika langkah pertama Jongin memasuki apartemen. Dia tidak menemukan Kyungsoo hingga memasuki kamar, pria itu mendengar suara air mengguyur. Ia tersenyum kecil menyadari apa yang sedang Kyungsoo lakukan.

Untuk itu membawa langkah kaki Jongin ke dapur kecil mereka. Memilih menyiapkan makan siang untuk Kyungsoo. Nyatanya pria itu mengalami sedikit kesulitan hingga menumpahkan kuah sup pada kemeja yang dia pakai.

Kecelakaan kecil yang memaksa Jongin kembali ke kamar, pria itu melepas kemejanya. Meninggalkan celana dasar dan tanpa sadar melangkah memasuki kamar mandi.

Ia terdiam sejenak melihat Kyungsoo di kamar mandi. Wanita itu sedang berada di bawah shower pada bilik kaca pembatas tanpa menggunakan tirai.

Apapun itu, Kyungsoo yang sedang membelakangi Jongin baru saja meraih handuk setelah menghentikan guyuran air dari shower.

Pria tan itu meletakkan kemeja di atas wastafel. Kemudian melangkah memasuki bilik kaca.

"Owh!"

Keterkejutan Kyungsoo muncul saat Jongin tiba-tiba memeluk dari belakang.

"Jo-Jongin?"jelas terdengar kegugupan Kyungsoo menyadari lengan siapa yang kini melingkari di perutnya. Menghentikan gerakan Kyungsoo untuk melilitkan handuk di tubuhnya.

Namun pria itu tidak melepaskan Kyungsoo. Menyentuhkan ujung hidungnya dengan bagian leher belakang Kyungsoo.

"Kyungsoo sayang?"

Jemari Kyungsoo memegang erat ujung handuk yang hanya menggantung di bagian depan. Membiarkan tubuh bagian belakangnya merasakan sentuhan Jongin.

Tangan pria itu turun ke bagian pinggang Kyungsoo. Membuatnya terkesiap merasakan tangan hangat itu pada kulitnya.

"Kyungsoo?" Panggilnya sekali lagi.

Kepala Kyungsoo bergerak gelisah.

"Ya? Jongin? Apa yang mau kau lakukan?"

Dia bertanya cepat dengan menggerakkan kepalanya saat merasakan bibir tebal itu mengecup bagian leher.

"Bukankah menyenangkan memiliki teman untuk mandi sayang?"

Otak kecil Kyungsoo mulai berpikir, memproses perkataan Jongin namun sebelum dia mendapatkan jawaban, tubuhnya terbawa maju selangkah dan secara reflek kedua tangan Kyungsoo melepaskan handuk agar bisa menahan tubuhnya untuk tidak menabrak dinding kamar mandi.

"Jongin!" Wanita itu terpekik merasakan dorongan dari belakang.

"Apa aku boleh menyentuhmu sekali lagi? Di sini?"

"Tapi aku sudah selesai mandi."

Kyungsoo memberitahu. Napasnya pendek-pendek saat tubuhnya tidak berhenti menerima sentuhan Jongin secara intim. Di mana pria itu melingkarkan tangannya di area perut Kyungsoo sementara tangan yang bebas meraba paha dalam Kyungsoo.

"Ooughhhh Jonginhhhh."

Desahan kecil meluncur. Tubuh wanita itu di bawa menghadap Jongin. Segera tangan pria itu membawa wajah Kyungsoo menatapnya.

"Your voice like an angel."

Sontak Kyungsoo menggigit bibir bawahnya mendengar pujian barusan. Ia baru saja akan menunduk kembali ketika Jongin menahan tatapan Kyungsoo. Jemarinya turun membawa tangan Kyungsoo pada dadanya yang tidak tertutupi kemeja lagi.

"Kau bisa menyentuhku Kyungsoo."

Seberapa kuat Jongin mencoba meyakinkan, keraguan jelas masih terdapat pada cara Kyungsoo menatapnya.

Jongin mendekatkan wajahnya, menyentuh bibir Kyungsoo dengan sebuah ciuman kecil. Ia membawa kedua tangan Kyungsoo melingkar di lehernya. Kembali mencium Kyungsoo dengan menahan kepala wanita manis itu.

"Hmphhhhh."

Sebuah ciuman yang cukup lama. Berhasil membuat tubuh Kyungsoo menjadi panas dalam satu waktu.

"Apa aku boleh melakukannya sekali lagi?"

"Di sini?"

Kyungsoo bertanya pelan, ia harus mendongak tanpa melepaskan tangannya.

Pria itu mengangguk segera. Tubuh telanjang Kyungsoo yang sekarang di dalam pelukan Jongin merasakan ketegangan luar biasa.

"Bukankah saat itu kau bilang rasanya nikmat?"

Segera Kyungsoo memalingkan wajahnya mendapat alarm pengingat dari Jongin.

"Kyungsoo?"

Mata bulat Kyungsoo menatapnya memastikan, tapi Jongin sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menerima penolakan. Pada akhirnya dia mengangguk.

Segera senyum terukir di wajah tampan pria itu, dia membawa tubuh Kyungsoo lebih dekat, mencium bibirnya dan merasakan kelembaban dari kulit leher hingga dada Kyungsoo.

"Ohhh Jongin!" Kyungsoo berteriak ketika merasakan sentuhan Jongin yang terlalu dalam. Tapi tangannya yang berusaha memisahkan diri di tarik ke atas. Pria itu menautkan kedua jari mereka sementara bibirnya tetap bekerja pada dua payudara Kyungsoo.

"Kau bilang aku boleh menyentuhmu."

Untuk sesaat lelaki itu terdiam setelah mendengar perkataan Kyungsoo. Dia menghentikan aktivitasnya. Memandang Kyungsoo yang menunduk menahan malu, tapi detik berikutnya Jongin segera tersenyum. Membawa kembali tangan Kyungsoo pada tubuhnya.

"Maafkan aku sayang."

Ia merasakan pelukan Kyungsoo semakin erat setiap kali tangannya bergerak di bawah sana, menyentuh kewanitaan Kyungsoo yang masih basah namun mulai terasa licin.

"Eunghhhh... Ohhhh." Desahan panjang meluncur saat satu jari Jongin masuk ke dalam kewanitaan Kyungsoo. Rasa sakit itu membawa Kyungsoo mengeratkan lingkaran tangan pada leher Jongin.

Mereka bercinta siang itu dengan desahan panjang luar biasa. Membiarkan tubuh keduanya menyatu, bergerak dengan cepat untuk bisa sampai pada puncak kenikmatan. Suara erangan dan desahan yang saling melengkapi satu sama lain. Tanpa sadar mereka menjadi begitu dekat satu sama lain. Bukankah sudah seharusnya seperti itu. Di mana ketakutan itu melebur bersamaan dengan datangnya kebahagiaan. Saat Jongin merentangkan tangannya, saat itu Kyungsoo mendatangi lelaki ini. Masuk ke dalam pelukan Jongin dan mereka tertawa bersama.


To Be Continue...


Scane terakhir adalah bagian tidak terduga. Hehe. Tolong jangan terlalu di dalami ^^

Terima kasih banyak untuk yang sudah membaca dan menitipkan review pada chapter sebelumnya ^^

Sorry for everything. Sorry if the chapter isn't so great. But I realy hope you guys have been enjoying this so far. See you on the next weekend ^^

-Preiview Chapter 8-

"Apa kau sudah membuat pilihan Nona Do?" –Sehun

"Hanya perlu meminta maaf Kyungsoo." –Jongin

"A-aku... Aku tidak bisa tidur Jongin." –Kyungsoo

Thank You,

RoséBear

[170704c – 171029p, Contemporary -Kaisoo - KaiLu - HunHanKai-]