Thanks for waiting patienly, here's chapter 8th update. Everyone exited? Go on and read ^^

Content story: Sensitive subject matter, original fanfiction, GS, some typo


Ada berapa banyak waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menerima kondisi sebuah pernikahan? Ketika tinggal bersama orang asing dalam satu atap, bahkan dalam satu ranjang.

Satu hari?

Satu minggu?

Satu bulan?

Atau berapa lama yang kalian pikirkan?

Mungkin Kyungsoo bisa menerima pernikahan ini dalam waktu satu minggu. Dia benar-benar menerima keberadaan Jongin . Menghilangkan pembatas di antara hubungan mereka dan mengakui status hubungan ini. Tapi menerima Luhan sebagai seorang wanita asing yang harus begitu dipedulikan. Kyungsoo mengalami sedikit kesulitan.


CONTEMPORARY

[8th Chapter]

Present by RoséBear

[KaiSoo FF]


Ini pertemuan keempatnya bersama Luhan dalam tiga minggu terakhir. Setiap akhir pekan Jongin selalu membawanya menemui Luhan dan lihatlah apa yang wanita itu lakukan. Memberi cap pada Jongin seolah pria itu adalah kotak pelindung dirinya sementara dia sendiri adalah permata berharga.

Setelah minggu lalu Luhan mengajukan begitu banyak protes karena Jongin tidak pernah mengunjunginya lagi.

Kyungsoo sedikit bersyukur, protes pertama karena Jongin tidak menemani Luhan ke rumah sakit. Siang itu dia bersama Kyungsoo yang sakit dan seks singkat mereka. Hatinya kemudian menghangat tapi Kyungsoo menjadi bimbang ketika perjalanan pulang Jongin bilang dia sama sekali tidak menerima pesan Luhan karena sebenarnya Sehun membatalkan pengiriman pesan itu, pria berkulit nyaris albino itu memang tidak banyak bicara tapi dia tidak menutupi hal sekecil itu dan memberitahu Kyungsoo.

'Jika pesan itu terkirim? Apa kau akan menemaninya? Atau tetap menemaniku?'

Sebuah pertanyaan yang tak bisa Kyungsoo sampaikan. Dia terlalu takut untuk mendengarkan jawaban dari mulut Jongin .

Cemburu?

Kyungsoo mengakui itu.

Semua sisi yang dia lihat adalah bagian negative ketika harus menghubungkan Luhan dengan Jongin . Wanita itu terlalu memikat dan memaksa. Sampai detik ini, Kyungsoo sadar jika Luhan tidak menerima keberadaan Kyungsoo. Dia hanya mengharapkan kehadiran Jongin . Tapi pria itu bersikukuh untuk pergi bersama.

Dua hari yang lalu Kyungsoo memang tidak ikut ketika Jongin mengantarkan Luhan ke rumah sakit, Kyungsoo menolak karena Baekhyun meminta bantuannya. Wanita muda itu mendapat sedikit kesulitan di rumah yang mereka tempati.

Tapi hari ini Ia harus kembali berada di rumah yang sama pada akhir pekan. Kyungsoo pikir dia bisa beristirahat besok pagi. Maka tidak masalah lelah di hari sabtu.

Wanita mana yang tidak merasa sakit ketika melihat pria yang telah menjadi suaminya kini menyentuh wanita asing. Mungkin asing bagi Kyungsoo, dan begitu terikat menurut lelaki itu sendiri.

Kyungsoo akui, dia tidak terlalu menarik untuk begitu banyak lelaki jika harus dibandingkan dengan Luhan. Hanya dengan gaun soft pink selutut dan bahkan Luhan masih berusaha belajar berjalan. Rambut kecoklatan yang begitu panjang, Jongin benar-benar telaten dalam merapikan penampilan seorang wanita.

Tapi Kyungsoo tidak bisa berbangga diri, lelaki itu juga melakukan hal yang sama pada Luhan. Pada akhirnya Kyungsoo akan berakhir di ruang tamu seorang diri. Hanya sekali dua kali saja nyonya Xi menemaninya namun mereka tidak pernah memiliki pembicaraan yang baik. Sementara pria berkulit nyaris albino itu selalu menyambut dan mengantar kepulangan, sepanjang hari hanya mengurung diri di kamar dengan setumpuk pekerjaan yang selalu ia bawa pulang ke rumah. Lalu ketika nyonya Xi pergi berbelanja maka Kyungsoo akan benar-benar seorang diri. Belajar dari pengalaman tiga kali kunjungan yang lalu maka hari ini dia membawa dua buku bacaan. Kyungsoo tahu jika mereka akan pulang malam hari setelah melewatkan makan malam yang penuh kecanggungan dan kesabaran lebih saat Luhan begitu sulit melepaskan kepulangan Jongin .


Tapi apa yang terjadi sore ini ketika Luhan selesai berganti pakaian dan menghilangkan semua aroma keringat serta kelelahan setelah berlatih hampir setengah hari sejak kunjungan Jongin dan Kyungsoo kemari. Untuk pertama kalinya Kyungsoo mendorong sebuah kursi roda. Ia mendapat begitu banyak kecanggungan namun Jongin berkata tidak apa. Semua akan baik-baik saja karena pada awalnya Kyungsoo menolak membantu Luhan karena alasan pribadi.

Bahkan tidak sekali dua kali Kyungsoo mendorong kursi roda Luhan menempel pada Jongin agar dia bisa bertanya. Beberapa pertanyaan yang membuat Jongin hanya memandang Kyungsoo takjub dan kesulitan menahan tawa.

'Bagaimana cara agar aku bisa memutar balik kursi ini?'

'Akan ada turunan? Kalau meluncur bagaimana?'

'Yakin bisa melewati rerumputan itu?'

Oh astaga. Benarkah wanita ini berumur dua puluh delapan tahun dan telah menjadi istrinya. Tidak hanya sebatas itu, benar wanita ini pernah bercinta dengan Jongin ? Ya ampun. Jongin seperti membawa seorang balita yang mendorong kursi roda untuk kakeknya. Atau balita yang belajar menggendong adik bayinya.

Dia bahkan sempat menggoda Kyungsoo dengan bertanya. 'Bagaimana kau akan menggendong anak kita nanti jika mendorong kursi roda saja kau gemetaran?'

Tapi jawaban Kyungsoo diluar perkiraan Jongin . Wanita itu mengelak dengan cepat.

'Aku tidak gemetaran, lagipula saat Jeno kecil aku sering menggendongnya.' sebuah alasan yang masuk akal. Dia memiliki adik dengan jarak umur yang terpaut cukup jauh. Jongin membenarkan untuk hal itu.

"Jongin ... Aku ingin makan nasi goreng."

"Oh. Akan kusampaikan pada ibumu."

Sekali lagi Kyungsoo tidak memiliki obrolan. Dia hanya mendengarkan begitu banyak permintaan yang Luhan buat dan Jongin tidak menggunakan kesempatan untuk menolak.

"Tidak." Wanita cantik itu mendapatkan lengan Jongin ketika menyadari lelaki ini akan beranjak dari tempatnya. "Aku ingin kau yang membuatkannya."

Kyungsoo mencoba mengingat bagaimana Jongin memasak untuknya. Terlalu banyak kesalahan namun rasanya lumayan. Tapi Jongin pandai dalam memanaskan masakan dingin, mungkin karena dia terbiasa dengan fastfood.

Ia melihat pria itu mengangguk kemudian menatap Kyungsoo.

"Aku juga akan membuatkan untukmu."

Kyungsoo hanya memandangi tidak terlalu yakin. Mata bulat itu terlihat menggemaskan namun ketika Jongin melangkah pergi barulah Kyungsoo setengah panik. Dia ditinggalkan berdua bersama Luhan. Astaga. Kyungsoo tidak siap. Apa yang harus dia bicarakan dengan Luhan? Sementara mereka berada di area kolam berenang pribadi rumah keluarga Xi dengan lantai kayu tempat mereka berpijak saat ini.

Kyungsoo bahkan harus membasahi bibirnya dengan ludah ketika mendengar Luhan memintanya sedikit maju mendekati bibir kolam. Harusnya Kyungsoo bisa berbohong dan membawa ke sisi lain, tapi dia menyetujui begitu saja.

"Aku ingin bertanya padamu Kyungsoo."

Wanita itu mulai mengambil pembicaraan. Membuat jantung Kyungsoo harus bepacu cepat menyadari kecanggungan di antara keduanya.

"Bagaimana rasanya menikah dengan Jongin ?"

Harusnya Kyungsoo bisa menduga jika ada alasan kenapa tiba-tiba Luhan tidak keberatan ketika Jongin meminta Kyungsoo mendorong kursi rodanya sementara perawat Seo membersihkan diri.

"Ya Do Kyungsoo! Aku bertanya padamu!"

Kyungsoo memejamkan matanya. Tidak tahu harus menjawab apa dan tidak juga terkejut akan teriakan Luhan barusan.

"Sudah lama aku menyukai Jongin . Bagaimana bisa pada akhirnya kau merebut Jongin ketika aku tidak sadarkan diri!?"

Mata bulat itu melebar. Oh ya, Luhan benar. Dia memang baru saja sadarkan diri dengan begitu ajaib.

"Tidak seharusnya Kau menikah dengan Jongin ."

"Maaf Nona Xi Aku tidak mengerti maksudmu. Kurasa angin di luar tidak terlalu baik untuk kesehatanmu, aku akan membawamu ke dalam. Aku pikir perawat sudah menunggumu di dalam." Suaranya terdengar pelan dan sedikit menghindar. Kyungsoo seperti seorang anak perempuan yang menghindari teman-teman sekolahnya.

"Ya! Apa yang kau lakukan Do Kyungsoo?!"

Sesaat ketika Kyungsoo akan meraih pegangan kursi roda Luhan, wanita itu meneriakinya dan menggunakan tangannya sendiri mendorong roda membuat dirinya meluncur ke dalam kolam renang.

Suara deburan keras terdengar begitu kuat dan air kolam bahkan memercik hingga keluar.

Tentu Kyungsoo menjadi sangat panik. Wajah kyungsoo tidak bisa menyembunyikan bagaimana kini dia takut dengan apa yang telah terjadi.

"Lu-luhan!" Ia melihat sekeliling tapi tidak ada yang bisa memberinya bantuan. Bahkan ketika pandangan berhenti sepersekian detik pada sebuah jendela di lantai dua. Saat itu tanpa pikir panjang Kyungsoo menceburkan diri.

Ia mencoba meraih Luhan yang mulai tampak akan tenggelam. Sayangnya kebaikkan wanita itu tidak berjalan baik.

Ia menceburkan diri padahal dirinya sendiri tidak bisa berenang, jangankan berenang, memasuki kolam sendiri saja tidak pernah.

Kyungsoo harus berterima kasih pada Jongin , lelaki itu kembali ke area kolam renang dan begitu kembali ia melihat keduanya berada di dalam kolam renang dalam keadaan panik.

Tadinya dia ingin kembali bertanya apakah Kyungsoo akan suka jika ada daging dalam nasi gorengnya namun sesuatu yang lain terjadi. Jongin menceburkan dirinya ke dalam kolam setelah berteriak memanggil nama Kyungsoo dan Luhan.

Membawa keduanya ke pinggir kolam dan entah bagaimapun ia kemudian mendapat bantuan dari Sehun. Ya Tuhan. Pemuda Oh itu melihat percakapan Luhan dan Kyungsoo, ketika Luhan meluncur ke dalam kolam ia segera bergegas meninggalkan kamar, sayangnya Jongin lebih dulu sampai untuk membantu. Sehun mengambil alih Luhan dan membaringkan wanita itu ke lantai kayu. Ketika Jongin harus bersusah payah membawa Kyungsoo ke daratan. Sehun segera memeriksa jalur pernapasan Luhan. Pria Oh itu semakin panik, ia kemudian memeriksakan sirkulasi darah dan kembali pada pernapasan Luhan.

Sehun masih berusaha untuk tenang walaupun dia mendapat kesulitan. Ia bahkan memeriksa nadi Luhan namun tidak mendapati perempuan itu bernapas ataupun nadinya berdenyut dengan baik. Panik mulai terlihat begitu kentara.

Ia mulai meletakkan telapak tangan di atas dada Luhan, menekannya sesering mungkin. Kompresi yang bisa mencapai sepuluh kali itu membuahkan hasil dengan segera. Luhan mulai terbatuk dan ketika Sehun merasakan napas serta nadi Luhan pria itu barulah bernapas lega.

Ia memandang Jongin yang masih memegangi Kyungsoo.

"Sebaiknya kau urus istrimu!"

Saat itu Sehun segera mengangkat Luhan bridal memasuki rumah, tidak peduli jika ia membawa tubuhnya ikut basah. Ia disambut kepanikan ibu Luhan dan juga perawat yang mendengar suara keributan dari bagian luar rumah.

"Jongin?" ketika itu Jongin merasakan tubuh Kyungsoo bergetar hebat.

"Ssshhhhhh kau baik-baik saja sayang?"

Kyungsoo mengangguk walau terlihat begitu pelan. Napas hangat Jongin berhembus ke wajah Kyungsoo.

"Luhan baik-baik saja bukan?"

Degh

Bahkan dalam kondisinya sendiri yang begitu ketakutan dia masih sempat bertanya mengenai orang lain. Jongin tidak tahu apa yang terjadi tapi dia tidak ingin memperburuk keadaan Kyungsoo. Ia putuskan membawa Kyungsoo ke dalam. Mencari handuk sendiri karena semua orang sedang mempedulikan Luhan.

Ia kembali dan menghampiri Kyungsoo.

"Tenanglah sayang. Semua baik-baik saja."

Kyungsoo duduk di atas sofa kulit, ia telah membasahi bagian ruang keluarga rumah ini. Tapi hanya ruangan ini yang memberi mereka sedikit privasi.

Ia menggigit bibirnya kuat mencoba menahan ketakutan. Jemarinya saling bertautan satu sama lain, begitu juga dengan kaki telanjangnya.

Ketika sedikit berhasil membuat Kyungsoo kering, Jongin menariknya dalam sebuah pelukan.

"Apa yang membuatmu ketakutan Kyungsoo? Kau bisa mengatakannya padaku?"

Kyungsoo menggeleng pelan.

"A-aku... Aku takut terjadi hal buruk pada Luhan."

Jongin tersenyum mendengar perkataan Kyungsoo.

"Ke-kenapa kau menolongku lebih dulu?"

Kyungsoo bertanya karena dia benar-benar ingin tahu dan pertanyaan itu meluncur begitu saja keluar dari otaknya. Ia sadar jika memiliki jarak dengan Luhan saat mereka tenggelam, tapi Kyungsoo bisa tahu jika Jongin menariknya ke permukaan kolam lebih dulu.

"Karena Luhan bisa menahan napasnya cukup lama di dalam air."

"Ta-tapi dia tercebur lebih dulu."

"Lalu kau ikut menceburkan diri tanpa peduli jika kau sendiri bisa saja tenggelam!"

Jongin menyela ucapan Kyungsoo membuat wanita itu mempout bibirnya lucu.

"Jeno bilang kau tidak bisa berenang. Kumohon Kyungsoo! Jangan lakukan hal semacam ini lagi. Jika terjadi hal buruk ingatlah aku selalu berada didekatmu."

Sekarang Kyungsoo menyesal membuat Jongin mengalami masalah kepanikan serupa. Harusnya dia bisa membantu menjaga Luhan disaat semua orang melakukan pekerjaannya. Tapi yang terjadi benar-benar di luar perkiraan.

"Ma-maafkan aku."

Di balik pintu itu, sejujurnya Sehun mendengar percakapan keduanya. Sejak tadi dia ingin mengantarkan pakaian untuk Kyungsoo dan juga Jongin yang disiapkan perawat Seo atas permintaan ibu Luhan. Saat ini kedua wanita itu sedang mengurus Luhan di kamar. Lalu langkahnya berhenti ketika mendengar pertanyaan Kyungsoo.

Pada akhirnya Sehun mencoba mengetuk pintu membuat Jongin dan Kyungsoo diam. Mereka memandang pria yang masih menggantung handuk di kepalanya. Ia memegang pakaian kering di tangan.

"Aunty ingin aku mengantarkan ini."

Sehun hanya mengucapkan satu kalimat lalu meletakkan pakaian di atas meja sebelum ia pergi, pemuda itu menatap Jongin dan menghela napas.

"Kurasa tidak akan ada makan malam bersama. Kau bisa membawa pulang istrimu Kim."

Dengan sangat jelas Kyungsoo bisa mendengar ucapan Sehun. Sebuah pembatas luar biasa tebal dan begitu tinggi telah di pasang pemuda Oh terhadap Jongin .

Ada perasaan ketika dia ikut merasa sedih saat melihat Jongin tersenyum canggung pada seseorang. Ketika seseorang itu selalu masuk dalam cerita masa kecil Jongin , dalam bagian yang terdengar begitu menyenangkan bahkan membuat Kyungsoo bertanya bagaimana rasanya memiliki teman dekat. Sepertinya begitu menyenangkan hingga membentuk Jongin seperti ini. Tapi bolehkah satu kali saja Kyungsoo membenci seseorang yang menyakiti Jongin ? Tapi lelaki ini tidak akan menyukainya, sebaiknya Kyungsoo pendam pertanyaan itu lalu menyimpannya dan mengubur sedalam mungkin seperti pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.


~oOo~


Di sinilah dia setelah berganti pakaian dengan milik Luhan. Sesuatu yang mengepas di tubuhnya. Membentuk tubuh Kyungsoo namun membuat canggung. Ini terlalu mengetat dan Kyungsoo menjadi begitu risih.

Menutupi kecanggungannya maka Kyungsoo berjalan di belakang Jongin . Memasuki kamar Luhan di mana wanita itu masih berbaring.

"Aunty... Bagaimana keadaan Luhan?" Jongin mengajukan pertanyaan.

"Dia baik-baik saja. Terima kasih telah menolongnya."

"A-aku minta maaf tidak bisa menjaganya," sedikit sulit tapi Kyungsoo berhasil mengeluarkan kata-katanya.

"Tidak apa. Jangan merasa bersalah.."

"J.. Jo.. Jongin ."

Saat itu nama Jongin menjadi orang pertama yang dipanggil Luhan ketika dia berhasil meraih kesadarannya secara perlahan. Secara reflek Kyungsoo memandang Luhan. Memperhatikan bagaimana tangan wanita itu seperti biasa menggapai udara mencari keberadaan Jongin . Sekali saja Kyungsoo berharap Jongin menahan kakinya untuk tidak mendekat tapi itu tidak terjadi. Lelaki itu mendekat dan memberikan tangannya sebagai pegangan Luhan. Bahkan membantu wanita itu untuk segera duduk.

"Jongin ?"

"Ya Lu. Aku memegangmu."

Dia bahkan memberitahu Luhan.

Apa yang sebenarnya Kyungsoo harapkan? Dia hanya memalingkan wajah menjauhi pemandangan yang membuat sesak dadanya.

"Kyung... Kyungsoo."

Saat namanya di sebut, Kyungsoo menoleh.

"Kyungsoo mendorongku hingga terjatuh. Aku sudah katakan ingin kembali ke dalam. Tapi dia bilang aku harus menjauh darimu."

Jongin memandang Kyungsoo dan menggelengkan kepala pelan. Meminta agar wanitanya memilih diam tanpa mengeluarkan suara. Tapi Kyungsoo tidak terbiasa dengan sebuah kebohongan dan jelas sekali jika Luhan telah berbohong.

"Jongin."

"Kau sudah selamat Lu. Semua baik-baik saja."

"Terima kasih menyelamatkanku. Aku tahu kau tidak akan meninggalkanku?"

Saat itu ketika Luhan ingin memeluk Jongin . Tiba-tiba saja seseorang melewati Kyungsoo cepat dan mendudukkan diri di ranjang. Membuat tubuh setengah basahnya dipeluk oleh Luhan.

"Luhan... Jongin harus berganti pakaian. Tidakkah seharusnya kau melepaskannya? Dia harus pulang sayang."

Ketika itu nyonya Xi mengambil suara. Membuat Kyungsoo memandang takjub mereka. Tidakkah ini seperti sebuah drama menjijikan yang diperankan oleh para penipu?

"Kau tidak terlalu basah. Jadi kau bisa menggunakan pakaian milik Sehun. Jongin bisa menginap!"

"Sehun tidak ada di rumah sayang. Pintu kamarnya terkunci."

Sekali lagi nyonya Xi bahkan harus kembali berbohong kepada anaknya sendiri untuk membuat Luhan membiarkan Jongin pergi. Suatu pernyataan yang baik untuk Kyungsoo maupun Jongin , tapi di sini Kyungsoo menyadari pengorbanan begitu banyak orang, terutama pemuda Oh. Dirinya bahkan dianggap tidak ada setelah dia menyelamatkan wanita itu.

"Ba-baiklah. Tapi berkunjunglah lagi besok Jongin ."

Jongin hanya bergumam pelan ketika Luhan melepaskannya tapi secara fisik dia melepaskan sosok Sehun.

"Jongin, aku ingin mencium pipimu."

Kyungsoo benar-benar tidak tahan lagi. Ia putuskan membawa pergi langkah kakinya dari ruangan itu.

Bagaimana rasanya? Kyungsoo tidak bisa menjelaskan dengan pasti. Tapi tubuhnya bereaksi luar biasa. Berkeringat dingin, kakinya terasa lumpuh memaksa diri bertopang pada bagian belakang sofa ruang tamu. Sekuat apapun dia berusaha, otaknya ikut lumpuh tidak mampu memikirkan hal apapun, sulit keluar dari apa ang baru saja dia lihat. Ia sama sekali tidak percaya, dia merasa sakit tapi tidak bisa mengakui perasaannya sendiri. Kyungsoo bertanya-tanya tentang emosi apa yang sedang dia rasakan? Sampai sebuah pelukan dari belakang menyadarkan dirinya.

"Kita pulang sayang?"

Kyungsoo tidak memandang Jongin . Dia melirik pemuda yang mengekor di belakang mereka.

"Kau tahu apa yang terjadi sebenarnya?"

Pertanyaan Kyungsoo kepada Sehun membuat Jongin menatapnya bingung. Tapi kemudian Sehun tersenyum, berapa lama Jongin tidak melihat senyum pemuda itu. Tapi bisakah hal itu tidak bersumber dari Kyungsoo? Jongin menjadi tidak suka.

"Apa kau sudah membuat pilihan Nona Do?"

Rupanya Sehun terlalu berharap banyak dari pertanyaan Kyungsoo. Apa yang Kyungsoo tanyakan hanyalah tentang kejadian di kolam renang karena saat panik Kyungsoo melihat sesuatu bergerak dari jendela lantai dua. Dia bisa menyimpulkan jika Sehun memperhatikan percakapan mereka karena ia yakin itu adalah ruangan milik Sehun. Seharusnya Sehun juga melihat jika Luhan sendiri yang mendorong kursi rodanya dan bukan Kyungsoo.

Sementara pemuda Oh pikir Kyungsoo memahami semua situasi mereka.

"Sebaiknya kita pulang. Kami permisi."

Sekali lagi Jongin tersenyum canggung, ia membawa serta Kyungsoo pergi.

Bagaikan daun maple berwarna merah menyala yang jatuh berguguran, terlepas dari tempatnya karena belaian angin dan waktu. Semakin lama terlepas ia kemudian mengering lalu mengeras namun sangat rapuh. Ketika langkah kaki menginjaknya, daun itu hancur berkeping-keping.

'Aku mengambil satu.'

Anak itu berkata sambil berpikir menggunakan daun maple sebagai pembatas bukunya. Membuat daun itu rata karena tekanan kedua sisi buku yang begitu tebal. Kini daun itu bisa tersentuh dengan sangat baik.


~ RoséBear~


"Aku akan membantumu mencuci piring."

Jongin berkata sembari membawa piring Kotor ke wastafel kemudian berdiri di sebelah Kyungsoo. Ikut mengenakan sarung tangan karet. Ia mulai membilas satu persatu piring kotor yang digunakan untuk makan malam.

Tidak membutuhkan waktu lama ketika makan malam saat itu hanyalah nasi kepal.

"Jongin ," Kyungsoo mencoba menarik perhatian Jongin . Dia takut karena pria ini tidak bicara sama sekali.

"Ya?"

"Tentang Luhan."

"Hm?"

Jongin hanya berdehem pelan. Menunggu apa yang akan dikatakan Kyungsoo. Sementara wanita ini sibuk merangkai sebuah pertanyaan di dalam otaknya.

"Apa kau percaya dia baik-baik saja? Dia... Maksudku dia menelan banyak air karena kau menyelamatkanku lebih dulu."

Degh

Bisakah sekali saja Jongin berharap Kyungsoo bersikap egois? Mementingkan dirinya sendiri misalnya. Kenapa harus memikirkan orang lain. Sudah jelas jika dia mendengar Luhan menuduhnya.

"Besok pagi kita ke sana memastikannya."

Tapi jawaban Jongin menimbulkan reaksi penolakkan Kyungsoo.

"Aku tidak mau."

Percayalah jika dia hanya spontan mengatakan protes itu. Kyungsoo sendiri segera menutup mulutnya.

"Ma-maafkan aku. Tapi..."

"Hanya perlu meminta maaf Kyungsoo."

Pundak Kyungsoo terjatuh mendengar Jongin memotong perkataannya. Bukan itu yang menjadi masalah Kyungsoo, Kim Jongin. Istrimu tidak ingin pergi terlalu pagi, jika seperti ini terus kenapa kau tidak menikah saja dengan Luhan seperti yang diinginkan wanita itu.

"Bagaimana dengan minggu depan?"

Alis Jongin berkerut mendengar penawaran Kyungsoo. Ia bahkan mendekatkan wajah untuk memastikan.

"Be-besok itu."

"Apa sulitnya meminta maaf Kyungsoo? Kita tahu dia berbohong, tapi tidak masalah untuk meminta maaf. Lagipula Luhan..."

"Tidak bisa berjalan dan juga melihat. Apa aku juga harus berbohong seperti yang kalian lakukan padanya?"

Tanpa sadar Kyungsoo melepas sarung tangan karet dan membuangnya ke dalam wastafel begitu saja.

"Aku mau mandi!"

Wanita itu memang menyiapkan makan malam ketika Jongin membersihkan diri. Sekarang Kyungsoo memiliki alasan untuk melarikan diri.

Ada alasan lain ketika dia tidak ingin menemui Luhan besok pagi.

Bukankah besok adalah satu bulan pernikahannya bersama Jongin . Sementara itu lelaki ini pernah berkata untuk membawanya ke taman bermain, berkencan sejak matahari terbit. Kenapa tiba-tiba harus membatalkan rencana mereka? Kyungsoo sudah menemani Jongin mengunjungi Luhan, seharusnya dia juga menepati janjinya.


Keadaan menjadi buruk ketika Kyungsoo keluar kamar mandi dan mendapati Jongin telah terbaring di ranjang namun dengan posisi memunggungi tempat Kyungsoo. Sejenak Kyungsoo berpikir untuk tidur di sofa tapi kemudian dia ingat jika Jongin bisa ikut berbaring di sofa. Jika berbaring di sofa bersama tidak masalah, tapi bagaimana jika Jongin memilih di lantai? Atau tidak menyusul Kyungsoo.

Pada akhirnya ia putuskan menaiki ranjang. Jongin tetap tidak mengubah posisinya. Sementara mata Kyungsoo mengitari kamar yang terasa sunyi. Ia telah mengehela napas berkali-kali namun kesulitan untuk tidur.

Wanita itu bangkit. Ia pikir Jongin sangat marah karena Kyungsoo menyebut Luhan tidak bisa berjalan dan melihat. Bukankah itu seperti menyusahkan? Dan lagi mengingat posisi Jongin, dulu lelaki pernah protes setelah setengah jam berbaring memunggungi Kyungsoo? Tapi kini hampir dua jam dia tidak mengubah posisi.

Ia bangkit, duduk di pinggir ranjang lalu memandangi punggung Jongin yang bisa menyembunyikan tubuh Kyungsoo.

'Apa kau sudah tidur? Sangat marah karena aku mengatakan hal buruk tentang teman berhargamu?'

Tanpa sadar air matanya menetes dan Kyungsoo segera menghapusnya kasar sebelum sebuah isakan meluncur. Ia memilih kembali berbaring tapi begitu sulit untuk tidur.

"Huks..." Sebuah isakan benar-benar meluncur ketika Kyungsoo tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia menangis membuat Jongin terkejut dengan suara isakan istrinya. Pria itu tidak tidur, dia menunggu Kyungsoo untuk bicara karena Jongin tahu betapa baik hatinya Kyungsoo. Meminta Kyungsoo mengalah agar besok bisa pergi menemui Luhan.

"Kyungsoo? Sayang?"

Memegang kedua belah lengan atas Kyungsoo tidak segera menenangkan wanitanya. Melainkan membuat Kyungsoo menutup wajah dengan telapak tangannya.

"Hiks..." Tangisnya tak kunjung berhenti. Yang ada semakin kencang dan membuat Jongin makin panik.

"Sayang? Katakan sesuatu," lelaki itu masih berusaha.

"Bicarakan sayang. Kenapa kau menangis?"

"A-aku... Aku tidak bisa tidur Jongin."

Jongin terdiam ketika mendengar jawaban Kyungsoo. Jongin menyesal jika mendiamkan Kyungsoo membuat wanitanya menangis. Dia tidak akan melakukannya lagi.

"Maafkan aku Kyungsoo."

Ia meminta Maaf, kembali berbaring namun membawa Kyungsoo ke dalam sebuah pelukan. Hampir saja Jongin melupakan jika Kyungsoo sudah terbiasa dengan suara Jongin sebagai pengantar tidur selama empat minggu mereka berada di ranjang yang sama. Dia menyesal, sungguh.


To be Continue...


-Preview chapter 09-

"Akulah yang seharusnya minta maaf, reaksiku terlalu berlebihan." –Kyungsoo

"Sejak dulu kau tidak pernah bisa kudekati."-Luhan

"Karena kau adalah istriku dan akan tetap menjadi istriku. Aku tidak mau mendengar orang-orang itu mengatakan hal buruk tentang istriku." -Jongin

So sorry about that guys. this story so awkward and I can't remove just because something. I've decided just to keep this as a friendship story and bit romance ^^

[170705c – 171112p]

Thank You

RoséBear