CONTEMPORARY
[9th Chapter]
Present by RoséBear
[KaiSoo FF]
Content story: Sensitive subject matter, original fanfiction, GS, some typo
Jongin memandang takjub kepada Kyungsoo. Ada perasaan senang namun juga menyesal pada tempat yang sama di hatinya. Di mana dia bisa memiliki Kyungsoo sebagai seorang istri namun juga membuat wanita ini semakin menderita setelah memaksanya keluar dari zona nyaman.
Kepala Kyungsoo yang masih menjadikan lengan Jongin bantalan sejak setengah jam lalu ketika Jongin memulai dengan...
"In green myth, there is a story on Sisyphus who was condemned and punished by God.'
Satu kalimat dari buku yang pernah dia baca, kemudian membuat Kyungsoo segera terlelap. Jongin tentu tidak melanjutkan ceritanya, ia memilih memandangi wajah damai Kyungsoo. Menghapus jejak air mata dan merapikan rambut wanita itu. Tidak sekalipun Jongin berpikir untuk mendiamkan Kyungsoo lagi. Yang dia pikirkan adalah bagaimana membuat Kyungsoo bahagia.
~ RoséBear~
'Kakakku tersayang, bagaimana kabar pernikahanmu? Aku mendengar banyak perubahan pada kakak. Semua terlihat sangat baik. Kupikir aku harus berterima kasih banyak pada Jongin hyung. Dia membuat kakak semakin bersinar, seperti permata. Kakak harus tahu kenapa aku ikut menyetujui pernikahanmu, tadinya aku ingin kau mencoba hal baru tapi kemudian aku melihat hal luar biasa terjadi padamu. Semoga kakak terus bahagia bersama Jongin hyung. Aku mencintaimu. Jeno.'
"Kenapa harus berkirim surat yang begitu jauh jika bisa menggunakan surel atau pesan langsung?"
Kyungsoo mempout bibirnya lucu ketika Jongin memberikan sebuah komentar di pagi hari saat ia kembali dari lantai dasar membawa semua isi letter box milik mereka. Salah satu ditujukan untuk Kyungsoo.
"Surelmu tidak bisa membawakan barang jadi."
Jongin yang sedang menguncir rambut Kyungsoo mengintip ke depan di mana ia juga bisa melihat selain surat, paket yang di kirim Jeno berupa beberapa novel bahasa asing. Mereka masih membicarakan paket yang pria itu bawa dari lantai dasar bangunan apartemen.
"Kita ke tempat Luhan sebentar. Aku janji tidak akan lebih dari sepuluh menit. Setelah itu kita berkencan seharian."
Mereka telah membuat kesepakatan ketika pagi ini di mulai. Kyungsoo setuju untuk mengikuti permintaan Jongin. Tidak akan lebih dari sepuluh menit, bahkan tidak akan bergabung dalam sarapan. Dia hanya akan bicara bersama Luhan di tempat yang aman. Didengarkan Jongin dan Luhan juga akan menyadari situasi itu, lalu meminta maaf walau sesungguhnya bukan kesalahan Kyungsoo. Semua ketika satu pertanyaan Kyungsoo muncul membuat Jongin menjelaskan beberapa hal mengenai Luhan. Bagaimana mereka harus bersikap baik pada kondisi Luhan saat ini.
"Sudah selesai."
Kyungsoo membawa tatapannya ke bagian atas di mana Jongin menarik habis poni dan menyisahkan anakkan rambut di bagian depan. Rambut Kyungsoo dibiarkan tergerai tapi ketika Jongin menyerahkan cermin Kyungsoo memandang takjub pada apa yang telah lelaki tan perbuat kepada rambutnya. Waterfall braid atau kepang menyerupai air terjun membuat Kyungsoo terlihat seperti seorang putri yang sedang bermain di taman kastil. Ahh kastilnya, terkadang dia merindukan menjadi seorang putri dengan puluhan pelayan di rumah tua milik neneknya. Tapi Kyungsoo segera sadar dia tidak seharusnya terlarut dalam kondisi itu, bukankah dia sendiri yang sudah memutuskan kehidupan ini.
"Jongin... ini cantik sekali."
Lelaki itu berusaha menahan tawanya melihat Kyungsoo yang begitu senang. Tangan wanita itu tak berhenti untuk mencoba menyentuh hasil karya yang Jongin buat.
"Sekarang aku bisa mendapatkan ciuman dan pelukanku?"
Seketika wajah tersenyum Kyungsoo menatap Jongin melotot. Tapi dia berbalik badan segera. Masuk ke dalam pelukan Jongin.
"Terima kasih banyak Jongin."
Kyungsoo segera mencium bibir Jongin cepat sebelum pria itu menahan tengkuknya.
"Menyenangkan mendapat keduanya setiap pagi."
Bisikan itu semakin membuat Kyungsoo mempout bibirnya lucu. Ia merasa kalah, namun juga bahagia dalam satu waktu.
~ RoséBear~
Dari awal Jongin sudah mempunyai firasat tidak terlalu baik saat pertama kali Luhan memprotes ketika dia menyampaikan jika Kyungsoo adalah istrinya. Seperti ada busur panah yang siap Luhan layangkan pada Kyungsoo. Tapi Jongin sudah bertekad, apapun yang terjadi dia tidak akan meninggalkan Kyungsoo.
Ia duduk di sebelah Kyungsoo ketika pagi itu mereka tiba di rumah kediaman keluarga Xi. Perawat bilang sudah biasa jika hampir setiap pagi Luhan dalam kondisi down mencari keberadaan Jongin. Itulah alasan kenapa di kamar perempuan itu tidak memiliki perabotan berbahaya seperti benda-benda yang akan menggores tubuhnya.
"Aku tidak bisa memaafkan Kyungsoo."
'Membayangkanmu hidup bersama Jongin sementara aku bahkan tidak bisa melihat.'
Luhan melanjutkan pernyataannya di dalam hati. Dia tahu pasti keduanya sekarang sedang kebingungan.
"Ada apa?"
Jongin menghentikan Kyungsoo yang barusaja ingin menyela. Dia memberi isyarat seolah Jongin akan menyelesaikan sisanya.
"Aku mau tanya kenapa dia mendorongku?"
"Dia tidak mendorongmu dengan sengaja Luhan. Itu sebuah kecelakaan, maafkan aku yang salah menyetel kursi rodamu. Seharusnya aku lebih berhati-hati sebelum meninggalkanmu."
Suara Sehun. Luhan ingin marah karena dengan pernyataan Sehun itu artinya Kyungsoo tidak salah. Pria itu mengeluarkan kalimat yang terdengar tenang namun sangat mematahkan untuk Luhan melanjutkan protes.
"Jika kau masih marah karena terlibat kecelakaan itu. Maka marahlah padaku, apapun yang kau minta aku akan memenuhinya."
Sayangnya yang berkata begini adalah Sehun. Jika Jongin berani mengatakan hal seperti ini, Luhan akan meminta pria itu menikahinya. Ia bahkan berpikir tidak masalah selama bisa mendapatkan pria tan itu, bukankah sudah sangat lama dia terus memandang ke arah Jongin berada.
"Sudahlah," pada akhirnya Luhan menyerah.
"Jongin, kau datang pagi-pagi sekali. Mau menemaniku belajar membaca? Ibuku membelikan beberapa buku Braille."
Jongin hanya bisa tersenyum canggung yang tak akan dilihat Luhan.
"Maaf Luhan. Hari ini aku memiliki janji berkencan. Tapi kami akan berkunjung lagi lain hari."
Keperluan yang telah selesai terlihat berakhir dengan baik, nyatanya membuat sesuatu yang lama sekali telah muncul kembali. Kecemburuan Luhan meningkat karena Jongin telah berani meninggalkannya hanya karena sebuah kencan, semua dimulai dari kehadiran Kyungsoo. Membuat pikiran Luhan mengakar pada keberadaan Kyungsoo.
~ RoséBear~
Susah payah Jongin harus membujuk Kyungsoo agar tersenyum kembali. Perkataan Luhan beberapa waktu lalu membuat wanita itu memilih diam dan memandang keluar kaca mobil.
"Kyungsoo maafkan aku. Aku tahu ini berlebihan."
Kyungsoo menoleh menatap Jongin sejenak. Ia menggeleng pelan.
"Akulah yang seharusnya minta maaf, reaksiku terlalu berlebihan."
Jika keadaan terus dibiarkan begini, sama saja dia merusak kencan mereka. Padahal lelaki ini sudah sangat siap menghabiskan akhir pekan bersama. Namun sesuatu tiba-tiba melintas di pikiran Jongin.
"Aku punya ide, bagaimana jika kita mengunjungi orang tuamu minggu depan? Kita bisa menginap di rumahmu sayang."
Saat itu Kyungsoo tersenyum sumringah mendengar penawaran Jongin. Dia juga tidak harus menghancurkan kencan mereka hari ini, apalagi jika minggu depan dia bisa pergi mengujungi orang tuanya.
Satu hari berkencan dan Kyungsoo telah menghabiskan beberapa cup ice cream. Mencoba beberapa permainan di taman bermain hingga dia merasa lelah luar biasa
Sementara di rumah yang telah mereka tinggalkan. Wanita cantik itu hanya menghela napas berkali-kali ketika perawat Seo mengajarinya menggunakan buku Braille. Terlihat tidak berminat, dan begitulah dia setiap waktu tanpa Jongin.
"Apa kau terlalu bersinar untukku?"
Luhan bergumam pelan ketika dia mendapat waktu istirahat. Gadis manis itu duduk di jendela kamar menerima tamparan lembut angin dari luar. Matahari di luar sana akhirnya bisa bersinar setelah awan hitam menyingkir.
Ia sama sekali tidak menyadari kehadiran seorang pemuda yang telah berdiri di sampingnya, Oh Sehun. Pemuda itu hanya diam bahkan ia mengatur bagaimana napasnya tidak akan membuat Luhan menyadari kehadirannya karena teredam suara kipas angin kecil menempel di dinding yang di beri beberapa kertas membuat suara gesekkan.
"Sejak dulu kau tidak pernah bisa kudekati."
Sehun menyadari arti ucapan Luhan. Tentu saja karena dia juga berada di tempat yang sama di mana Luhan trus memandang ke arah Jongin.
Keadaan menjadi rumit setiap kali waktu berhasil mereka lewati.
"Kenapa kau selalu memandang begitu jauh. Tidak bisakah kau melihat di dekatmu?"
Luhan masih saja bicara seorang diri. Sementara pria itu tersenyum miris.
'Kau sadar begitu sulit meraihnya. Kenapa kau juga tidak melihat di sekitarmu?' Sehun tentu saja hanya berkata di dalam hatinya. Sesuatu yang tidak pernah dia beritahukan pada wanita ini.
"Luhan sayang... Oh?"
"Ya Mom?"
Luhan menoleh walau sadar tidak akan melihat di mana Ibunya saat ini. Hanya telinganya bekerja sangat baik setelah panggilan itu terjadi.
Ibu Luhan terdiam, dia mengangguk ketika Sehun memberi isyarat untuk diam perihal keberadaannya.
"Ibu harus pergi keluar untuk menemui seseorang." Wanita tua itu berjalan mendekati Luhan setelah melangkah melewati Sehun.
"Ayah?"
Luhan bertanya tapi yang didapat adalah sentuhan lembut pada wajahnya. Jemari lembut sang ibu bekerja dengan sangat baik.
"Bukan sayang," itu adalah sebuah pemberitahuan, "Klien ibu." Ia kemudian melanjutkan.
Luhan mengangguk dan ia mendapat sebuah kecupan kasih sayang pada pipinya. Wanita tua itu kemudian tersenyum menatap Sehun sebelum meninggalkan keduanya.
"Mom. Bisakah tutup pintunya untukku karena aku ingin tidur?" Bukan hanya sebuah permintaan, namun pernyataan itu membuat pikiran ibunya bekerja.
"Mau kuminta Sehun..."
"Tidak mom. Aku bisa berpindah sendiri, kumohon jangan terlalu banyak membantu saat aku ingin berjalan kembali."
Luhan menyela dan dia segera mendapati suara pintu tertutup setelah ibunya berkata mengerti.
Namun tanpa dia sadari pria itu masih berdiri di dalam ruangan.
Menyaksikan bagaimana Luhan berusaha untuk berdiri kemudian mengambil cukup banyak waktu mengistirahatkan diri dengan berpegangan pada sisi ranjang wanita itu membuka pakaian membuat Sehun panik, tapi jika dia bergerak kaki panjangnya bisa menyentuh sesuatu dan membuat Luhan menyadari keberadaannya.
Sehun memejamkan mata erat, tapi sebuah godaan membuatnya mengintip. Luhan meraba pakaian yang tergantung dan memakai gaun tidurnya. Sebuah gaun tidur terusan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Sesaat Sehun benar-benar terpesona, dia berhasil melihat tubuh setengah telanjang Luhan. Gadis itu dengan usahanya sendiri berhasil menaiki ranjang. Berbaring dan menggunakan indera perasa memposisikan bantal dan selimut.
~ RoséBear~
"Kau tahu sayang, Ayah sangat takut melewatkan pernikahanmu tapi akhirnya Ayah senang kau menikah. Semua orang tua hanya berharap anak mereka bahagia."
Minggu berikutnya Jongin membawa Kyungsoo berkunjung ke rumah kedua orang tuanya. Melakukan sebuah perjalanan cukup jauh dan menginap untuk menghilangkan perasaan rindu walau sebenarnya Kyungsoo sendiri memastikan pada Jongin sebenarnya dia baik-baik saja. Sejak kecil dia juga sangat jarang tinggal bersama kedua orang tuanya jadi sudah terbiasa jika tidak melihat mereka. Tapi Jongin memaksa mengingat janji mereka seminggu yang lalu, selain untuk menghindari kunjungan pada Luhan dia juga ingin memastikan jika Kyungsoo mendapatkan kebahagiaannya.
Untuk pertama kalinya Jongin akan tidur di ranjang milik Kyungsoo, sekali lagi Kyungsoo menegaskan jika Jongin tidak perlu berbangga diri. Dia juga baru meniduri ranjang ini setiap hari setelah neneknya meninggal. Malam ini di mulai setelah mereka menyelesaikan makan malam bersama beberapa obrolan bersama orang tua Kyungsoo
"Aku benar-benar penasaran bagaimana kau tumbuh bersama nenekmu?"
Kyungsoo yang duduk di pinggir ranjang menoleh menatap Jongin. Pria itu telah berada di atas ranjang terlebih dahulu dan sekarang merangkak ke pinggir mendekati Kyungsoo.
"Jika dulu aku berkata kau susul saja nenek. Tapi sekarang bagaimana jika besok kita mampir ke 'kastil' yang telah membesarkanku?"
Jongin terkikik pelan mendengar ucapan Kyungsoo. Dia menjadi tidak sabar untuk mengunjungi lingkungan yang membesarkan Kyungsoo hingga menjadi wanita konservatif. Tapi itu cerita dulu, maksudku lihatlah bagaimana penampilan Kyungsoo dan juga pikiran wanita ini sekarang, dia bahkan menerima gaun tidur Victoria secret di atas lutut. Mengenakan dengan begitu nyaman untuk mulai berbaring di ranjang berseprai putih.
Mungkin sesekali tidak sesuai yang di harapkan Jongin karena terlalu banyak yang dia minta dari Kyungsoo. Tap hal sederhana selalu bisa membuat pria itu merasa senang.
~ RoséBear~
Keesokkan pagi ketika membawa mobil meninggalkan kediaman keluarga Do, Kyungsoo memberikan sebuah petunjuk jalan.
Tidak ada hutan bambu yang mereka lewati, tidak ada pula jalan dua jalur, mereka hanya menemukan sedikit penerangan di jalan dan pagar di depan rumah yang tidak terlalu tinggi. Bangunan yang tampak sederhana, terlihat luas dan menyenangkan untuk tempat bersenang-senang atau mungkin tempat menghabiskan liburan. Sebuah bangunan di daerah sub urban. Sebuah rumah dua lantai, memiliki ruang penyimpanan, ruang baca, taman dan sebuah bangunan terpisah dengan samar-samar. Sangat luas dan menyenangkan namun tidak terlalu terawat lagi. Ayah Kyungsoo bahkan tidak tahu bagaimana cara mengurus rumah ini, namun mereka pastikan tempatnya akan selalu bersih. Mungkin suatu hari nanti seseorang akan membeli rumah ini sebagai kediaman atau hanya tempat menenangkan diri. Percayalah, bangunan ini bahkan memiliki cerobong asap yang sangat berfungsi ketika salju turun atau udara menjadi dingin.
Ingin Jongin tertawa tapi dia tahan melihat Kyungsoo duduk di ayunan berdebu. Memandang kosong pada bagian belakang rumah.
"Kau mengingat mereka?"
Ia mendapat anggukan pelan Kyungsoo.
"Kau akan baik-baik saja, bagaimana jika kau membawaku ke tempat makan? Aku lapar sayang."
Hal yang kau anggap tidak penting, bisa jadi itu sangat membantu. Perlahan Jongin merasakannya.
Kyungsoo mengangguk. "Ada restoran Jepang di dekat sini "
"Terdengar enak. Kita ke sana?"
Di rumah ini, Kyungsoo telah di besarkan oleh dua orang tua yang menjunjung tinggi aturan dan nilai aristokrat keturunan mereka. Pada bangunan dua lantai dengan banyak ruang menyimpan benda berharga ini juga kenangan kehidupan Kyungsoo tersimpan begitu baik. Dia mendapatkan libur musim panas ke pinggir pulau hingga ke luar negeri. Kunjungan kedua orang tua dan juga adik laki-lakinya. Apalagi yang bisa dia ingat? Ahh bagaimana dia pernah berjalan kaki karena sekolah pulang lebih awal dan belum ada yang menjemput. Seharusnya dia bisa kembali dengan segera tapi karena tersasar dia berputar-putar di sekitar jalan akibat kesalahan itu membuat panik satu rumah.
~ RoséBear~
Memasuki minggu kedelapan pernikahan mereka. Kyungsoo telah bekerja dengan sangat giat. Ia bahkan mendapatkan beberapa pujian di Kantor tapi semua tidak lepas dari perhatian Jongin. Suami sekaligus atasannya itu begitu sabar mengajari Kyungsoo.
Jongin telah begitu sibuk menjabat manager dalam satu tahun belakangan ini sejak berada di kantor lama. Akhirnya dia mendapatkan jabatan baru dengan tugas yang lebih berat lagi. Semua benar-benar karena usahanya. Jabatan general manager terdengar menyenangkan di telinga Kyungsoo yang menerima surat pengangkatan Jongin.
"Semua karena kerja kerasmu membangun tempat ini dalam waktu satu bulan lebih."
Jongin yang duduk di kursi kerjanya memandang Kyungsoo. Asisten sekaligus istrinya itu mengantarkan sebuah surat pemberitahuan yang mana sebenarnya Jongin juga mengetahui pengangkatannya.
"Bagaimana jika kau tidak perlu masak malam ini? Kita makan malam di luar?"
Kyungsoo menimbang-nimbang tawaran Jongin. Lalu menggeleng segera.
"Bagaimana jika piknik di akhir pekan?"
Jongin ingin makan malam di luar tapi dia juga tidak bisa menolak penawaran Kyungsoo barusan.
"Bagaimana jika melakukan keduanya? Ayolah sayang."
Kepalanya maju ke depan mengharapkan jawaban memuaskan. Menopang kepala dengan menunjukkan wajah termanisnya.
"Ya?" Jongin bertanya sekali lagi mencoba memastikan.
Ia melihat Kyungsoo menghela napas berat. Jelas terlihat bagaimana wanita itu kesulitan membuat keputusan untuk pilihan kali ini.
"Baiklah! Aku juga harus menyesuaikan pekerjaan baruku terlebih dahulu."
Mendengarkan ucapan Kyungsoo pria itu segera mengangguk. Tidak hanya jabatan Jongin yang merangkak naik, tapi dia juga membawa asisten manisnya itu semakin sibuk. Untuk sementara mungkin tidak masalah, Jongin bisa melihat bagaimana Kyungsoo sangat fokus pada pekerjaannya. Dia telah berjuang keras untuk mendapatkan pengakuan di perusahaan keluarganya sendiri. Bahkan rela menemani staf menemui klien dengan berjalan kaki. Jika itu Kyungsoo yang tinggal di 'kastil' neneknya, Jongin bisa pastikan penolakan pasti dilakukan, tapi lihatlah gadis kecil yang telah bertransformasi menjadi seorang wanita dewasa dengan pemikiran terbuka dalam waktu dua bulan saja.
'Jongin? Kau akan mengantarku check up sore ini?'
"Hahh."
Bagaimana Jongin menolak permohonan Luhan. Dia hanya menghembuskan napas setelah membuka pesan suara barusan. Tapi jika sesuai jadwal artinya dia bisa mengantar Luhan kemudian bersiap untuk makan malam di luar. Lagipula Kyungsoo sudah mulai mengerti tentang itu, tidak pernah dia mengeluh tentang kedekatan mereka lagi selama Jongin bisa bersikap sangat baik di sebelahnya.
Ketika detik berubah menjadi jam lalu membentuk hari.
Jongin menyadari di luar sana langit menjadi jingga. Ia keluar dari ruangan dan menyadari Kyungsoo di balik tumpukkan dokumen. Setelah tidak menemukan seorang pria tua yang seharusnya memiliki meja kerja di hadapan Kyungsoo. Hanya saja dia menjadi kurang peduli tentang sekretarisnya itu.
"Sayang?" Panggilnya pelan membuat kepala yang dia cari memyembul di antara sela-sela tumpukkan kertas.
Kyungsoo dengan kacamata bacanya adalah pemandangan yang sangat menyenangkan. Wanita itu menaikkan sudut kacamatanya untuk bisa memperbaiki penglihatan.
"Ya?"
"Sudah sore. Kau mau menemaniku mengantar Luhan ke rumah sakit? Sehun masih melakukan perjalanan keluar Kota."
Kyungsoo menggeleng pelan.
"Bukannya aku tidak mau. Tapi lihatlah pekerjaanku. Aku harus menyelesaikannya segera." Wanita itu memberitahu tentang keberadaan seberapa banyak yang harus dia selesaikan.
"Lalu bagaimana dengan makan malam kita?"
Jongin menatap Kyungsoo penuh harap,kali ini dia khawatir tentang rencana mereka tapi wanita itu tersenyum sangat manis.
"Aku akan datang tepat waktu, kau bisa kirimkan alamatnya padaku."
Jongin berjalan melingkari meja kerja Kyungsoo, ia menyingkirkan setumpuk dokumen dan mengambil posisi duduk di sudut meja dengan kedua kaki yang berusaha menopang tubuhnya. Pria itu menarik tubuh Kyungsoo dan segera memeluk istrinya.
"Aku tahu kau sudah bekerja keras. Jangan terlalu memaksakan dirimu, kalau begitu aku akan menemanimu bekerja."
Kyungsoo menggeleng cepat.
"Kau ingat apa yang dokter katakan dua hari lalu? Luhan tidak bisa melewatkan pengobatannya atau itu akan membuatnya melakukan terapi dari awal."
Selalu mengkhawatirkan orang. Bisakah Jongin memprotes kebaikan hati Kyungsoo?
"Aku akan menyusulmu. Tidak akan lama. Aku hanya butuh dua jam lagi untuk menyelesaikan semua ini."
Akhirnya Jongin mengangguk menyetujui. Dia mengangkat wajah Kyungsoo untuk mendekat, -menempelkan bibirnya. Memberikan ciuman yang begitu lembut. Jongin menghembuskan napas hangat ketika bibir Kyungsoo sedikit terbuka, merasakan getaran dari napas yang ia hembuskan pria itu kembali mencium belahan bibir Kyungsoo dan mendapatkan sebuah ciuman tanpa melibatkan permainan lidah.
~ RoséBear~
Berapa lama dia telah berdiam diri setelah perlahan menyelesaikan tumpukkan pekerjaannya?
Lima menit?
Sepuluh menit?
Rasanya telah setengah jam berlalu. Kyungsoo masih saja duduk di belakang meja kerjanya. Semua terjadi ketika dia memilih pergi ke toilet umum lantai tempatnya bekerja daripada menggunakan toilet pribadi di ruang kerja Jongin. Ketika berada di bilik ia dapat mendengar percakapan dua orang yang masih mempertanyakan pekerjaan Kyungsoo.
"Tentu saja dia ikut dipromosikan. Dia putri pemilik perusahaan ini. Direktur utama pasti juga menginginkan karier putrinya merangkak."
"Ya. General manager sudah bekerja keras. Aku melihatnya menyelesaikan masalah dengan cepat, tapi ketika dia mendapatkan jabatan sekarang kenapa putri direktur utama juga ikut mendapatkan jabatan baru
"Hum... Kurasa mereka menikah agar kita berpikir tuan putri telah berusaha. Padahal dia hanya mengekor saja."
Ingin menangis tapi Kyungsoo menahannya. Ponsel wanita itu kemudian berdering, sebuah panggilan yang menyedarkan Kyungsoo dan dia segera menjawab,
"Ya aku akan turun."
Panggilan dari Jongin yang memberitahu Kyungsoo jika dia sudah kembali lagi dari menemani Luhan. Kyungsoo bergegas membereskan peralatannya, dia bahkan membawa beberapa pekerjaan karena nyatanya tidak selesai seperti harapan sebelumnya. Ia tahu Jongin akan marah jika Kyungsoo membawa pekerjaan pulang. Hanya saja dia tetap harus menyiapkan presentasi untuk Jongin sampaikan besok siang, Kyungsoo baru menyelesaikan pekerjaannya setengah bagian, dia punya setengah hari besok untuk menyelesaikan. Tapi wanita ini memilih membawa pekerjaannya pulang agar besok bisa mengerjakan yang lain. Bukan hanya sekali dua kali, tapi sering kali seperti ini walau sudah mendapat protes Jongin.
Langkah wanita itu terhenti ketika lift umum mengalami masalah. Dia harus menggunakan tangga darurat. Beruntunglah ia berada di lantai ketiga, jadi bukan sebuah masalah besar bagi Kyungsoo yang telah terbiasa berjalan kaki.
Semua langkahnya kembali terhenti mendengar percakapan serupa seperti saat di toilet beberapa waktu lalu. Masih ada beberapa pekerja yang belum kembali. Pernah kukatakan pada kalian jika perusahaan memiliki jam kerja tapi para pegawai dituntut menyelesaikan pekerjaannya. Mereka bisa lembur hingga tiga malam kemudian di sisa minggu mendapatkan keleluasaan.
Di sinilah Kyungsoo, menyembunyikan dirinya di tangga bagian atas ketika dua pegawai membicarakan dirinya di bagian luar pintu tangga darurat lantai dua.
Napas beratnya meluncur begitu saja. Dada terasa sakit tapi Kyungsoo masih berusaha agar kedua pegawai itu tidak menyadarinya. Jongin pernah berkata jika menjadi seorang atasan maka dia tidak bisa menekan para pegawai, semua dilakukan agar para kegawai bekerja dengan sukarela tanpa tekanan yang membuat mual dan pusing. Sebuah pekerjaan segera teratasi jika pikiran seseorang bisa fokus di tempat.
Jemarinya saling bertautan satu sama lain menunggu agar kedua pegawai di balik pintu tangga darurat itu meninggalkan tempatnya. Kyungsoo sangat yakin mereka tidak akan menggunakan tangga ini, tidak ada keperluan di lantai atas jika sudah malam. Para direksi biasanya telah pulang. Namun nyatanya menjadi begitu lama untuknya berdiam diri.
Hangat
Ketika sebuah sentuhan lembut membuat tautan jemari Kyungsoo terlepas. Menautkan jemari yang lebih lebar itu kemudian menarik tubuhnya. Bunyi pintu terbuka mengejutkan kedua orang di balik pintu bahkan ikut mengejutkan Kyungsoo ketika dia menyadari sosok Jongin telah membawanya melewati kedua pegawai yang kini menundukkan kepala menyadari kedatangan dua orang ini.
Pria itu telah mencari Kyungsoo, lift untuk pegawai umum memang 'bermasalah', tapi seharusnya masih ada lift khusus yang bisa mereka gunakan. Ia sadar Kyungsoo pasti menggunakan tangga, semua seperti yang dia pikirkan. Tapi ada nilai tambah yang ia dapatkan ketika menemukan Kyungsoo hanya berdiri di balik pintu mendengarkan percakapan di luar sana.
"General Manager Kim? Anda belum pulang?"
Jongin berhenti di depan mereka masih dengan menggenggam jemari Kyungsoo. Ia tersenyum pada dua pegawainya.
"Ya. Aku harus menjemput istriku karena dia menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam. Lihatlah bagaimana dia sering kali membawa pulang pekerjaan agar aku tidak kerepotan besok pagi. Dia penasehat terbaik dalam menjalankan pekerjaan. Tapi kenapa kalian belum pulang?"
"Y-ya. Kami memiliki beberapa pekerjaan."
Jongin mengangguk paham. Kedua pegawai itu bahkan tergagap menjadi lawan bicaranya.
"Aku pikir kalian harus mendapatkan waktu istirahat. Pulanglah."
"Y-ya General manager Kim ."
Jongin membawa Kyungsoo berjalan meninggalkan mereka. Tidak sekalipun ia meninggalkan langkah Kyungsoo. Berjalan dalam diam hingga ke parkiran mobil.
~ RoséBear~
Saat langit benar-benar terlihat Jingga, pada fase yang tak menentu dia tidak kehilangan arah padangan. Di mana kemudian sesuatu telah menghangatkan hati kecilnya.
"Sayang?"
Jongin berusaha memanggil Kyungsoo ketika wanita itu hanya memandang keluar jendela mobil.
"Kenapa kau melakukannya?"
"Melakukan apa?" Jongin hanya butuh penjelasan singkat tentang apa yang Kyungsoo pikirkan.
"Kenapa harus membelaku? Bukankah pernikahan kita karena sebuah..."
"Ya aku tahu, kita menikah karena keinginan Ayahmu."
"Lalu kenapa kau tetap melakukannya?"
Jongin menepikan mobilnya, ia melepas sabuk pengaman dan menarik Kyungsoo dalam sebuah pelukan. Ia tahu ini yang dibutuhkan istrinya saat ini. Dunia kerja di luar masih meragukan kehadiran Kyungsoo, sebagai seorang suami bukankah tugas Jongin adalah menenangkannya?
"Karena kau adalah istriku dan akan tetap menjadi istriku. Aku tidak mau mendengar orang-orang itu mengatakan hal buruk tentang istriku."
Pria itu kemudian merasakan jika kemeja yang dia gunakan tertarik ke depan karena remasan tangan Kyungsoo.
"Jongin, kita akan tetap makan malam di luar?"
Jongin mengangguk cepat. "Tentu saja. Aku ingin memiliki banyak waktu bersamamu. Jika sudah pulang kau akan mengabaikan aku karena berkas itu."
Jongin melirik tumpukkan dokumen yang sejak tadi di bawa Kyungsoo.
"Maafkan aku. Tidak akan kubawa pulang lagi."
Dalam jarak yang begitu dekat, mereka telah bersama. Bahkan ketika sesuatu berusaha menarik salah satunya, sampai saat ini tidak pernah terpikir untuk benar-benar meninggalkan satu sama lain.
~ RoséBear~
Hanya berjarak dua hari ketika Sehun masih berada di luar kota karena pekerjaannya dan Jongin harus membantu nyonya Xi beserta perawat Seo membawa Luhan ke rumah sakit. Sore ini Kyungsoo menyempatkan diri, sudah berapa lama dia tidak mengunjungi wanita cantik itu. Tidak banyak yang berubah, dia semakin cantik saja setiap harinya. Menempel pada Jongin dan benar-benar hanya pria itu yang Luhan butuhkan.
"Jadi besok kau akan piknik bersama Jongin?"
Kyungsoo menoleh ke samping di mana Luhan sedang duduk di sebelahnya ketika Jongin menepikan mobil di pinggir jalan untuk pergi ke sebuah minimarket membeli beberapa perlengkapan piknik mereka yang kurang. Meninggalkan Luhan berdua saja di dalam mobil bersama Kyungsoo.
"Kenapa kau selalu mengambil akhir pekan Jongin untuk dirimu sendiri Kyungsoo? Kau membuatnya kelelahan karena mengurusi tuan putri sepertimu."
Ingin Kyungsoo protes tapi dia tidak melakukan itu. Dia bukan seorang yang begitu egois. Dalam situasi ini ia pikir lebih baik mengabaikan perkataan Luhan.
"Aku ingin kau melepaskan Jongin."
Tentu saja kalimat pendek terakhir membuatnya sangat terkejut.
"Maaf Luhan. Aku tidak akan melakukannya, aku tahu tentang masa lalu kalian tapi aku bukan sekedar teman kencan Jongin. Aku istrinya."
Pengakuan itu sukses membuat Luhan tercekat. Wajahnya memerah karena emosi marah terkumpul di satu tempat.
"Kau tidak tahu semuanya Kyungsoo. Jongin tidak mungkin mengatakan semuanya padamu. Perlu aku membuktikan padamu jika kau hanya menyusahkan dan Jongin tidak akan meninggalkan aku Kyungsoo. Aku pastikan kau hanya akan memiliki satu pilihan."
Saat itu Jongin melangkah mendekat dengan sekantung belanjaan. Kyungsoo menatap Luhan dan Jongin secara bergantian. Wanita itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat. Apa lagi sekarang? Dia baru bisa mengatasi sepenuhnya permasalahannya di tempat kerja.
'Apa kau sudah membuat pilihan Nona Do?'
Pernyataan Luhan barusan terdengar tidak asing. Ya. Ketika pria Oh pernah bertanya padanya. Pilihan? Pilihan seperti apa?
Kenapa begitu menyakitkan ketika dia memutuskan masuk ke dalam kehidupan Jongin. Apa yang terjadi pada mereka bertiga? Tentang tatapan terluka Sehun dan pengorbanan pria itu. Lalu Jongin? Kenapa dia selalu bersikap seperti pahlawan untuk Luhan? Bukankah mereka hanya berteman?
To be Continue...
What did you think? Please let me know.
This story is going to be defferent with Complementary. I'am hoping it will work. And thank you so much for the amazing response, I hope you continue enjoy with each chapter as the come.
-Preview Chapter 10-
"Tapi berjanjilah kau tidak akan melakukannya di kamar mandi?" -Kyungsoo
"Astaga Jongin! Bicaralah sesuatu. Kenapa kau hanya memandangiku?" –Kyungsoo
"Jika seperti ini terus dia bisa saja mati!" -Sehun.
"Ini bukan sebuah kecelakaan. Tapi usaha bunuh diri. Dia menjadi begitu frustasi mengetahui kabar..." –Anonymous.
[170707c – 171120p]
Thank You.
.
RoséBear
