Hallo,,, hallo! Next chapter is up! Sorry for the long wait but here we are with next chapter! Please enjoy and let's get this chapter rolling ^^

CONTEMPORARY

[10th Chapter]

Present by RoséBear

[KaiSoo FF]

Content story: Sensitive subject matter, original fanfiction, GS, some typo, Adult themes


Ini adalah pagi yang tenang ketika Jongin mulai terbangun. Ia mendapati aroma manis berasal dari dapur. Gurih sandwitch yang dikemas Kyungsoo serta beberapa cookies hangat lalu secangkir coklat panas tergeletak begitu saja, bahkan ia melihat Kyungsoo masih dengan gaun tidurnya sedang bersiap diri untuk rencana piknik mereka.

Lelaki itu hanya tersenyum ketika sadar Kyungsoo belum menyadari keberadaan dirinya. Kaki pria tan itu melangkah mendekat, pada bagian tangan ia telah menyiapkan sesuatu.

"Eokhh!"

Wanita itu terkejut mendapatkan sentuhan tiba-tiba Jongin di belakang tubuhnya. Pria itu menarik rambut Kyungsoo dan menguncirnya seperti hari-hari biasa ketika mereka mulai terbangun bersamaan.

"Kau bahagia?"

Tidak bisa Jongin pungkiri jika dia sangat ingin memeluk istrinya. setelah menguncir rambut itu, ia melingkarkan tangan pada perut Kyungsoo. Meninggalkan beban pada pundak wanita itu.

"Jongin."

Kyungsoo menggeliat ketika menerima sentuhan basah pada leher, tubuh wanita itu menerima getaran tiba-tiba merasakan bibir Jongin bergumam di kulit lehernya.

"Ya? Kau menginginkannya sayang?"

Kyungsoo mendesis mendengar pertanyaan Jongin. Sentuhan itu masih terasa begitu lembut dan sedikit asing walau dia sudah berusaha keras menerima.

"Jongin." tentu saja Kyungsoo ingin menolak. Tubuhnya sendiri bergerak gelisah di dalam pelukan pria ini.

"Ingin mandi bersama?"

Tapi ternyata pria ini lebih gigih dari apa yang dia bayangkan. Jongin sama sekali tidak mengendurkan pelukannya.

"Langit sedikit mendung untuk berangkat terlalu cepat. Bagaimana jika mandi bersama, bersiap lalu kita berangkat."

Penawaran Jongin terlalu berlebihan dan Kyungsoo kesulitan melepaskan diri.

"Kemarin kau bilang berterima kasih padaku." Pria itu menambahkan.

Ya. Kyungsoo ingat satu hari setelah kejadian di tangga darurat. Jongin memberinya kesempatan untuk menyampaikan presentasi langsung di mana Kyungsoo mendapat pujian yang sangat baik. Wanita itu terlalu senang dan menghambur memeluk Jongin, mengucapkan terima kasih berkali-kali atas kepercayaan padanya.

Mungkin di sana letak keinginan Jongin muncul. Kyungsoo memikirkannya berulang kali hingga tidak sadar Jongin telah membalik tubuhnya membuat bagian belakang Kyungsoo menyentuh sisi meja mini bar. Pria itu jauh lebih tinggi dan dia harus sedikit mendongak untuk menatap Jongin yang bicara.

Jongin memiliki telapak tangan yang sangat lebar dan juga kuat, menangkup hampir semua bagian kepala Kyungsoo. Ia mendekatkan bibirnya, mendapatkan pelukan dan ciuman Kyungsoo di pagi hari setelah hal kecil yang ia lakukan pada wanita itu adalah kebahagiaan ketika hari baru dimulai.

"Tapi berjanjilah kau tidak akan melakukannya di kamar mandi."

Kyungsoo meminta dan dia mendapatkan hembusan napas berat Jongin. Pria itu terlihat kecewa, "tapi aku boleh menyentuhmu kan?"

Kyungsoo menelan ludahnya susah payah mendengar permintaan Jongin. Menyentuh? Satu kata ini membawa banyak makna untuk dirinya.

"Seperti pada bagian ini."

"Arghh!"

Kyungsoo terkesiap, ia terlalu terkejut dan menepis tangan Jongin segera. Pria itu baru saja menyusupkan tangannya ke balik gaun tidur Kyungsoo dan meremas payudara istrinya.

Secara reflek wanita itu menyilangkan tangan di dada mengantisipasi gerakan berikutnya.

"Ma-maafkan aku Kyungsoo. Sebaiknya aku mandi duluan."

Ia memilih melarikan diri daripada mendengar kekesalan Kyungsoo. Istrinya masih belum siap, Jongin hanya perlu melangkah pelan-pelan jika tidak ingin menerima penolakan Kyungsoo. Salahkan dirinya yang terlalu tergoda dan ingin menyentuh milik Kyungsoo.


~ RoséBear~


Pria itu mengurung diri di kamar mandi, rasanya baru lima menit dia menenangkan diri dan kemudian terdengar suara ketukan pintu kamar mandi.

"Ya? Ada apa Kyungsoo?"

Jongin mematikan keran air supaya bisa memastikan pendengarannya. Dia berjalan dengan handuk di pinggang lalu membuka pintu kamar mandi. Menemukan Kyungsoo entah darimana wanita itu hanya mengenakan handuk putih membalut tubuhnya. Menampilkan pundak polos dan juga bagian lutut yang terekspos.

Sesaat Jongin benar-benar terdiam. Tapi kemudian dia tersenyum, membuka pintu kamar mandi agar Kyungsoo bisa masuk. Bahkan pria itu memilih berjalan mengekor menyusul Kyungsoo yang telah melangkah ke balik kaca di mana terdapat dua pancuran.

"A-aku hanya akan membersihkan badan dengan pancuran."

Kyungsoo memberi tahu namun Jongin terlihat tidak peduli dengan kegugupan istrinya sendiri. Ia ikut masuk ke balik kaca geser dan menemukan tubuh telanjang Kyungsoo yang setengah basah serta keterkejutan istrinya.

"Apa ada yang salah istriku?"

Kata-kata penggoda yang hanya ia tujukan untuk menimbulkan rona kemerahan pada wajah Kyungsoo. Jongin menyalakan keran pancuran satu lagi. Air pancuran itu terasa hangat di tubuh masing-masing. Derasnya air yang mengalir dari atas kepala hingga meluncur ke seluruh bagian tubuh berhasil melancarkan peredaran darah akibat gairah yang sempat tertahan.

Ia berbalik badan memandangi bagaimana Kyungsoo meraih sponge dan sabun, dia hanya bisa membayangkan wanita itu ikut menyentuh tubuhnya. Tapi sayangnya Kyungsoo sama sekali tidak menoleh pada Jongin, mengabaikan keberadaan dirinya yang sangat mendamba sentuhan Kyungsoo. Setengah kesal Ia meraih jet water yang tergantung dan menarik Kyungsoo dalam gerakan cepat. Menahan wanita itu agar tidak terpeleset karena licinnya lantai akibat sabun yang mengalir.

"Biar aku yang melakukannya."

"Jongin apa yang kau lalukan?" Kyungsoo bertanya setengah berteriak. Jongin menahan tubuhnya dengan satu tangan saja, berhasil menahan tubuh Kyungsoo. Pria itu berdiri menempel di belakang tubuh Kyungsoo, -menghapus jarak tubuh mereka.

Menggunakan selang panjang Jongin menyemprot pada bagian sensitif Kyungsoo membuat wanita itu terpekik hingga sponge dan sabun batangan di tangannya terjatuh. Sebuah reaksi berlebihan, namun tubuhnya memang merasakan kejutan luar biasa.

"Membersihkanmu."

Jongin menyemprot air bertenaga itu pada puting Kyungsoo, dalam gerakan cepat ia membawa arah jet water itu pada kewanitaan Kyungsoo.

"Ahhhh, Jonginhhhh." wanita itu mendesah. Berpegangan erat pada lengan kuat Jongin sementara tangan lain berusaha bertahan pada dinding kaca. Kejutan barusan melemahkan Kyungsoo.

Apa yang Kyungsoo harapkan ketika Jongin berhasil membangkitkan gairah seksnya? Tidak harus berjuang pada sebuah orgasme luar biasa. Pria itu tidak ingin menyiksa istrinya di bawah air pancuran. Melakukan morning seks dikala mereka harus bepergian rasanya bukan sebuah pencapaian. Hanya sebuah kenikmatan seksual untuk lebih mudah dalam menikmati setiap sentuhan ketika Jongin kemudian membersihkan seluruh tubuh Kyungsoo dan memberikan kecupan pada bagian wajah hingga leher Kyungsoo di mana dia masih memeluk wanita itu dengan satu tangan.

Tapi apa yang Kyungsoo rasakan? Merasakan milik Jongin yang mengeras, ia setengah terkejut dengan apa yang dia rasakan. Mati-matian Kyungsoo harus mengigit bibir bawahnya menahan desahan tapi rupanya ereksi Jongin telah bangkit dengan sempurna dan sekarang mencoba memasuki dirinya.

Kyungsoo membalikkan tubuhnya menghadap Jongin setelah pria itu meletakkan water jet kembali pada tempatnya. Ia melingkarkan tangannya ke leher Jongin.

"Ini tidak akan menyakitkan bukan?"

Sedetik Jongin terdiam mendengar bisikan Kyungsoo tapi kemudian dia tersenyum dan menggeleng cepat memahami pertanyaan barusan. Istri mengemaskannya merelakan diri untuk sebuah morning seks.

Dengan posisi berhadapan seperti ini Kyungsoo berpegangan pada leher Jongin ketika pria itu mengangkat tubuhnya. Membawa kaki Kyungsoo melingkar sementara kewanitaannya yang panas perlahan mencengkram milik Jongin.

"Ouwwhhhhh Jonginhhhh." Tubuhnya bergetar seiring milik Jongin memasuki tubuhnya. Gelenyar panas dan air telah menyatu untuk membuat nyaman. Dia tidak membutuhkan kesiapan yang begitu lama, nyatanya dia benar-benar siap untuk pria ini.

"Hnghhhh."

Pagi yang berhasil menguras keringat. Desahan bersama erangan telah menghiasi pagi hari di kamar mandi itu. Pertahanan Kyungsoo runtuh bahkan dalam hitungan menit ketika pria itu mulai menguasai dirinya. Jongin berhasil mendapatkan orgasme luar biasa bersama Kyungsoo.

"Astaga rasanya nikmat sekali Kyungsoo," pria itu mengerang setiap kali berhasil memasuki Kyungsoo membuat napas keduanya memburu.

"Terima kasih karena telah peduli pada perasaanku Kyungsoo. Tadi rasanya benar-benar menyiksa."

"Ku-kupikir kau membutuhkannya."

Kyungsoo berkata pelan, dia tersenyum dan juga kelelahan hingga menjatuhkan kepalanya di pundak Jongin. Membiarkan pria itu mematikan air pancuran dan membawa tubuh keduanya keluar dari area pancuran. Mendudukkan Kyungsoo di atas penyanggah. Pria itu meraih handuk kering. Mengeringkan tubuh Kyungsoo dengan hati-hati.

Tanpa sadar hujan benar-benar mengguyur kota dan tak kunjung berhenti selama berjam-jam. Membuat Jongin harus memilih diam menyaksikan kekecewaan Kyungsoo, pada akhirnya pria itu berkata dia akan mendirikan tenda dari beberapa kain panjang di dalam rumah. Sebuah tenda darurat menghadap ke jendela, menatap arah di mana hujan turun dengan ditemani sekeranjang makanan yang telah disiapkan Kyungsoo.

Ia menarik wanita itu ke dalam pelukan, saling berbagi kehangatan di tengah cuaca dingin. Cukup hangat untuk Kyungsoo terus berada di dalam pelukan lelaki ini.

"Bisakah kita membicarakan sesuatu?" Jongin yang mulai bertanya saat menyadari keheningan di antara mereka.

Kyungsoo yang duduk di dalam rengkuhan Jongin mengangguk pelan, menikmati aroma parfum citrus milik pria ini.

"Apa yang akan kita bicarakan?" dia hanya bertanya pelan. Pada sesuatu yang telah membuat bingung.

"Terserah padamu," Jongin menyerahkan pada Kyungsoo, mereka kembali hening tanpa sebuah kalimat. Ahh, kalimat itu tidak memberkan solusi. Kyungsoo bahkan kesulitan untuk berpikir tentang apa yang bisa mereka bicarakan.

"Astaga Jongin! Bicaralah sesuatu. Kenapa kau hanya memandangiku?"

Jongin mendekatkan wajahnya, mencium pipi Kyungsoo dan tertawa pelan. "Karena kau istriku. Biarkan aku memandangimu."

"Tapi tadi kau bilang sebaiknya kita bicara sesuatu."

Jongin tahu jika Kyungsoo mendapat kebingungan saat ini. Namun dia benar-benar senang hanya dengan memandangi wajah polos Kyungsoo.

"Hmmm kau mau aku bercerita? Tentang apa?" Tanya Jongin antusias.

Tidak ada keinginan khusus yang dipikirkan otak Kyungsoo. Tapi tiba-tiba saja pertanyaan kemarin sore melintas lagi.

"Bagaimana jika tentang Kau, Luhan dan Sehun. Apa aku boleh bertanya? Apa yang terjadi pada kalian saat ini?"

Tidak ada jawaban segera dari Jongin, wanita itu hanya merasakan sepasang mata yang terus mengawasi. Tapi bagaimana kemudian Kyungsoo merasakan tubuhnya semakin tertarik karena Jongin memeluknya semakin erat. "Ma-maafkan aku Jongin. Sebaiknya..."

"Kau penasaran kenapa Luhan bisa mendapat kecelakaan separah itu? Lalu Sehun juga terlihat menghindar dariku."

Kyungsoo mempout bibirnya lucu, tidak ada maksud lain, dia melirik Jongin kemudian menggangguk.

"Banyak yang ingin kukatakan padamu Kyungsoo. Tapi..." Sejenak Jongin terlihat ragu.

"Jangan menyembunyikan apapun dariku Jongin."

Jongin hanya tersenyum, "Aku ingin minta maaf padamu Kyungsoo. Aku ingin mengatakan semuanya. Setidaknya padamu, tapi aku kesulitan untuk memulainya." Akunya segera.

Kyungsoo merasakan tubuh Jongin sedikit bergetar. Sepertinya pria ini terlalu memaksakan diri karena mengingat sesuatu.

"Aku tidak memaksa Jongin. Aku bisa menunggu untuk itu." Suaranya yang terdengar pelan bersamaan dengan tepukan ringan pada lengan lelaki ini.

"A-apa yang kau lakukan Kyungsoo?" Jongin bertanya bingung ketika wanita itu berdiri dan menarik lengannya untuk ikut berdiri.

Wanita itu menjinjitkan kakinya mencium bibir Jongin menghapus jarak yang sesungguhnya. Dia benar-benar memiliki suasana hati yang begitu hangat.

"Hujannya berhenti. Aku ingin kau mengajariku bermain sepeda di taman." Goda Kyungsoo.

Seperti kata Kyungsoo, hujannya benar-benar berhenti. Sementara Jongin tidak bisa menolak permintaan istrinya. Ia membawa Kyungsoo pergi ke taman Kota yang sangat sepi. Sepertinya mereka adalah pengunjung pertama siang ini.


~ RoséBear~


Ketika piknik berubah menjadi sebuah pembelajaran lain. Untuk pertama kalinya Kyungsoo menaiki sebuah sepeda. Ia berkeringat namun Kyungsoo percaya Jongin tidak akan melepaskan pegangannya. Berkali-kali wanita itu terpekik dan menurunkan kaki untuk menahan tubuhnya, atau menahan sedikit getaran aneh akibat morning seks mereka pagi ini. Sepeda bergoyang di luar kendali Kyungsoo ketika ia mulai mengayun. Hal menyebalkan dan itu membuat Jongin tertawa lepas menyaksikan betapa kuat kemauan Kyungsoo untuk belajar.

Semua baik-baik saja, Kyungsoo bahkan mulai melaju beberapa meter tanpa harus menurunkan kakinya sampai ia menyadari jarak di antara dirinya dan Jongin ada beberapa meter karena pria itu melepaskan tangannya dari sepeda Kyungsoo. Namun kemudian pria itu menerima sebuah panggilan yang mengejutkan.

Brak

Tidak sadar jika Kyungsoo terjatuh dari sepeda, tapi Jongin benar-benar tidak menyadari itu. Kyungsoo membersihkan daun basah yang menempel di pakaiannya dan segera berjalan menedekati Jongin kembali untuk bertanya tentang apa yang terjadi sehingga ekspresi panik muncul pada pria ini.

"Kyungsoo, aku harus minta maaf padamu. Luhan kembali ke rumah sakit. Keadaanya kritis."

Seketika Kyungsoo terdiam. Luhan lagi, sekali lagi apa yang telah wanita itu lakukan hingga setiap kabar tentangnya selalu membuat Jongin panik. Tapi sebagai seorang istri, dia hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala.

"Kita harus ke rumah sakit bukan?"

Satu pertanyaan singkat yang kemudian membawa keduanya meninggalkan taman. Melaju di jalanan yang masih basah hingga memercikkan air yang ada pada lubang jalan. Mobil Jongin terbilang melaju sangat kencang hingga Kyungsoo harus berpegangan erat.

Mungkin karena wanita itu terlalu baik, terlalu pintar. Namun entah kenapa Jongin tiba-tiba melupakan keberadaan Kyungsoo. Koridor rumah sakit yang telah diisi beberapa orang, sudah terlihat wajah ketakutan mereka ketika langkah pertama Kyungsoo yang berlari mengejar Jongin. Pria itu ada di hadapannya, beberapa meter berjarak begitu jauh dari Kyungsoo yang memiliki kaki pendek untuk bisa mengejar.

Bugh

Mata bulatnya terbuka lebar menyadari Sehun baru saja memukul Jongin. Sesuatu yang bahkan tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.

"Ya! Apa yang kau kakukan!?" Kyungsoo terpekik.

"Kau bajingan brengsek!" Sehun hanya memaki dan tidak ada satu orang pun yang menghentikan pria berkulit nyaris albino itu untuk memukul Jongin kecuali Kyungsoo. Ia kemudian berhenti, jika tidak Sehun akan ikut menyakiti Kyungsoo.

"Berhentilah Sehun-ie... Semua sudah terjadi. Sebaiknya tidak membuat keributan yang bisa mengganggu pekerjaan dokter di dalam."

Nyonya Xi pada saat itu berjalan mendekati Jongin. Dia juga membantu Kyungsoo mengangkat Jongin untuk duduk di kursi tunggu. Wanita paruh baya itu kemudian mendekati Sehun. Memeluk pundak pria itu pelan dan tersenyum untuk menenangkan.

"Dia anak yang kuat. Aku percaya dia bisa selamat."

"Jika seperti ini terus dia bisa saja mati."

Samar-samar Kyungsoo bisa mendengar percakapan mereka. Dia sama sekali tidak tahu sementara Jongin hanya menunduk menatap lantai koridor. Tidak ada sedikitpun pembelaan apalagi penjelasan yang bisa dia dapatkan.

Kyungsoo tidak tahu tentang apa yang telah terjadi di sini. Dia sama halnya dengan para dokter, hanya berusaha dan berharap agar wanita yang dikatakan kritis di dalam sana bisa diselamatkan.


~ RoséBear~


Berapa lama mereka telah duduk dalam keheningan yang mengerikan. Berharap pintu terbuka dan dokter dari dalam ruangan membawa kabar baik.

Sudah terlalu lama sejak pertama kali Kyungsoo melangkahkan kaki ke koridor rumah sakit. Ia hanya duduk, sesekali matanya Terbawa arus menatap bagaimana Jongin berjalan mendekati pintu dan berusaha mengintip ke balik ruangan di mana seorang perempuan sedang dalam masa kritis sejak siang.

Dokter itu keluar ketika malam hari, dia memberitahu jika saat ini tidak ada seorang pun yang boleh masuk termasuk anggota keluarga, pasien masih dalam keadaan kritis dan membuat suasana semakin dingin. Hanya ada perawat yang bisa berjaga di dalam.

Hingga pagi menjelang. Kyungsoo hanya duduk, tidak ada yang mengajaknya bicara, dia seperti seorang penonton di gedung opera. Melihat penampilan mononton para pemain yang tidak saling bicara, hanya sesekali bergerak dalam ketakutan.

Napas beratnya meluncur berkali-kali, Kyungsoo terlalu takut memanggil Jongin. Pria itu tidak seperti suaminya. Tidak bicara, tidak banyak bergerak dan terlihat berada di dunianya sendiri di mana tidak ada cela bagi Kyungsoo untuk masuk.

Wanita itu mengirim pesan pada sekretaris Jongin, mereka akan mengambil izin hari ini karena ia menyadari pikiran Jongin terlihat kacau. Tidak mungkin lelaki itu akan bekerja disaat seseorang masih dalam keadaan kritis.

Ia mengigit bibir bawahnya, dia kelaparan tapi terlalu takut untuk memanggil Jongin yang masih duduk di ujung sana menunggu kabar dari dalam. Seorang dokter baru saja masuk lima menit yang lalu.

Kemudian dokter itu keluar menatap satu persatu orang di koridor rumah sakit.

"Kim Jongin? Pasien ingin bertemu."

Pandangan Kyungsoo terbawa menatap Jongin yang segera berdiri mendengar panggilan dokter yang menyebut nama aslinya. Setelah satu harian ia melihat Jongin tersiksa, kali ini garis melengkung yang begitu indah perlahan tercipta mendengar kabar baik pagi ini.

"Pasien baru saja sadarkan diri."

Jongin berdiri dari tempat duduknya. Saat itu Kyungsoo mulai menyadari tentang dirinya.

'Untuk apa dia di sini?'

'Kyungsoo bukan orang yang diharapkam Jongin.'

'Tidak ada gunanya dia menunggu Jongin.'

'Jika tiba waktunya, mereka akan berpisah.'

Memikirkan itu saja membuat dadanya sesak. Pikiran itu membawa ia bangkit dari tempat duduknya hanya beberapa detik ketika Jongin telah berjalan mendekati pintu ruangan di mana Luhan baru sadarkan diri pagi ini. Tapi kemudian ia merasa pening luar biasa ketika terlalu cepat berdiri. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, ia merasa linglung, di mana pandangan mengabur dan Kyungsoo merasa telinganya berdenging. Wanita itu kehilangan kesadaran membuat suara dentuman yang mengejutkan.

Orang-orang yang mendengar itu ikut terkejut, terutama Sehun yang memang berdiri di dekat Kyungsoo. Ia hampir terjungkal namun membawa tubuhnya segera mendekat. Ketika itu Jongin berlari menghampiri Kyungsoo lebih cepat dari Sehun.

"KYUNG!"

Hati pria tan itu terasa sesak menyadari kebodohannya. Di belakang Jongin, dokter yang baru saja keluar dari ruangan Luhan ikut mendekat memeriksakan denyut nadi Kyungsoo.

"Bawa dia ke ruang perawatan."

Jongin yang telah memeluk Kyungsoo segera mengangkat wanita itu. Ia berjalan mengikuti dokter tapi kemudian berhenti sebentar menghadap Sehun.

"Bisakah kau menemui Luhan lebih dulu?"

Sehun hanya mendecih mengejek pria itu. Tapi sebuah senyum kecil terukir begitu indah, Sehun mengangguk memahami siatuasi Jongin. Ia menepuk pundak pria tan kemudian berjalan berlawanan arah.


~ RoséBear~


Disaat dia memutuskan untuk bertunangan hingga menikah dengan Kyungsoo, Ia seharusnya sudah tahu tentang risiko yang akan mereka hadapi ketika Luhan tersadar.

Akan ada pilihan setiap kamu berpikir untuk melangkah. Mungkin sedikit gangguan hingga membuatmu terpaksa berhenti, Kim Jongin... Apa yang akan kau lakukan sekarang?

Sudah dua jam sejak Kyungsoo tidak sadarkan diri, tangan Jongin sama sekali tidak melepaskan genggamannya dari jemari Kyungsoo yang tidak di pasang infus. Sesekali ia mengelus wajah Kyungsoo yang terlihat pucat. Mereka mengira jika Kyungsoo kelaparan. Sejak tiba dia memang tidak makan ataupun minum. Apalagi wanita itu tidak memakan sarapannya sebelum piknik, tidak pula dia tidur untuk mengambil waktu istirahat.

"Jongin?"

Saat itu seorang pria menghampiri Jongin. Ia mendongak mendapati sosok pria itu kemudian tersenyum.

"Luhan sangat membutuhkanmu. Dia masih menolak kehadiran siapapun di dekatnya, bisakah kau menenangkannya?"

Jongin mengigit bibir bawahnya, menemui Luhan dan meninggalkan Kyungsoo? Kenapa dia menjadi seorang penjahat di sini?

Ia menggeleng pelan, Jongin masih harus menunggu hingga Kyungsoo sadar. Walau di dalam hati dia juga menjadi khawatir mengenai keadaan Luhan.

"Jongin? Dokter harus memberi Luhan obat. Kau harus membantu para dokter itu."

Sekali lagi pria itu memaksa Jongin untuk beranjak.

"Aku akan menjaga istrimu dan memberitahu dia jika sudah sadar."

Jongin menoleh menatap pria itu setelah mendengar sebuah penawaran yang disertai permohonan.

"Kumohon. Adikku membutuhkanmu Jongin."

Napas berat pria itu akhirnya meluncur. Ia bangkit walau belum melepaskan tangannya dari Kyungsoo, mencium kening Kyungsoo cukup lama.

"Aku akan segera kembali. Aku mencintaimu sayang."

Ia beranjak dan menatap pria itu segera.

"Tolong jaga istriku Kris. Segera beritahu aku jika dia sadar."

Pria tinggi yang Jongin panggil Kris itu mengangguk.

"Tolong selamatkan adikku Jongin."

Berpikir sejenak, mungkin ini sesuatu yang gila dan implusif. Mereka tidak tahu banyak hal, dan saat ini tidak cukup kebaikan yang tersedia. Hubungan ini mungkin bisa saja berakhir ketika sesuatu yang buruk datang.

Keinginan terakhir yang mereka coba dapatkan membuat sesuatu yang baru, mungkin terlihat berbeda ketika berhasil melewati batas.

Jongin keluar meninggalkan Kyungsoo dengan perasaan tertahan, dia segera berjalan dan mengetuk pintu masuk ruang perawatan Luhan. Terlihat sangat kacau dan beberapa orang memandang kehadirannya dengan berbagai ekspresi. Sebagian senang, sebagian lain menolak pilihan Jongin.

"Di mana istrimu?"

Pada saat itu Sehun yang bertanya pada Jongin. Sesungguhnya pria berkulit putih nyaris albino itu sangat baik. Dia begitu peduli pada temannya, tapi mereka sering kali melupakan dirinya.

"Dia akan baik-baik saja."

Jongin bersuara.

"Jongin?"

Ketika itu Luhan segera menyadari kedatangan Jongin. Wanita itu bahkan tidak hanya mencari keberadaan Jongin dengan tangannya, ia mencoba bangkit dan hampir saja terjatuh dari ranjang jika saja Jongin tidak segera memegangnya.

"Ya Lu. Aku di sini. Maaf terlambat."

"Ya. Aku tahu kau akan menemuiku. Tapi mereka tidak percaya padaku Jongin."

Sehun memalingkan wajahnya mendengar perkataan Luhan.

"Bukankah sebaiknya aku keluar mencari makanan untuk kalian."

Sehun meminta izin dan dia segera mendapat izin dari wanita cantik yang adalah ibu Luhan. Wanita yang sudah ia anggap seperti Ibunya sendiri.

Mencari makanan dan keluar adalah satu-satunya cara melindungi dirinya sendiri. Bertahun-tahun mereka bersama, berkali-kali pula Sehun mendapati keadaan serupa.

Sementara Jongin membantu para dokter memeriksakan Luhan, Sehun benar-benar keluar dari ruangan. Ia bertemu dokter yang akan ke ruangan Kyungsoo, sepertinya hasil pemeriksakan Kyungsoo telah keluar. Dokter itu menghampiri Sehun dan menyerahkan amplop coklat kepada pria itu.

Sehun berhenti di ruang sebelah di mana pintu tidak terkunci rapat. Tempat di mana tadi Jongin membawa Kyungsoo untuk beristirahat.

"Luhan adalah adik sepupuku. Kau tahu nona Do? Kehadiranmu membuat keadaannya semakin memburuk."

Alis Sehun mengernyit mendengar seorang pria yang mana suaranya sangat tidak asing bagi Sehun.

"Ini bukan sebuah kecelakaan. Tapi usaha bunuh diri. Dia menjadi begitu frustasi mengetahui kabar pernikahan Jongin dan dirimu. Adikku sangat mencintai pria itu dan telah menunggunya. Dia sudah berjuang untuk bisa bertahan hidup agar bisa hidup bersama Jongin tapi kemudian kau datang merebut Jongin darinya."

Ingin Sehun mendorong pintu dan memberitahu mereka keberadaannya. Menghentikan perkataan Kris kepada Kyungsoo. Bahkan ia bisa melihat Kyungsoo menatap Kris bingung, wanita itu baru sadarkan diri, bahkan tenaganya belum terkumpul penuh.

"Bagi Luhan, Jongin adalah mataharinya. Pria yang membuatnya bertahan hidup. Pria itu bahkan tidak bisa jauh dari Luhan. Bukankah ini waktunya kau mengetahui semuanya nona Do? Mungkin Jongin tidak memberitahumu, tidak ada seorangpun yang memberitahumu apa yang telah terjadi sebenarnya."

Sehun memperhatikan pergerakan Kyungsoo. Wanita itu menunduk dan menghela napas berat. Sesaat dia seperti melihat dirinya di sana.

"Setahun lalu, Jongin menjadi penyebab kecelakaan Luhan."

Sehun mendecih mendengar cerita Kris. Mungkin benar tapi tidak sepenuhnya.

"Pria itu yang membuat Luhan tidak bisa berjalan, membuatnya tidak bisa melihat dan tidak sadarkan diri untuk waktu satu tahun."

Pria itu ternyata mencoba mempengaruhi Kyungsoo.

"Kuharap kau mengerti. Jongin tidak akan melepaskan Luhan. Bukankah sudah waktunya kau melepaskan pria itu? Pernikahan kalian juga bukan karena saling mencintai."

"Aku butuh istirahat. Bisakah kau keluar tuan?"

Kali ini Sehun tersenyum mendengar suara Kyungsoo yang begitu lembut.

'Jongin lebih tidak akan melepaskanmu Kyungsoo.' Batinnya merasa begitu pasti.

"Jika kau terus berada di sisi Jongin. Bukan sesuatu yang mustahil jika Luhan mencoba bunuh diri lagi. Apa kau akan menjadi seorang penjahat dengan memisahkan mereka berdua? Akan banyak hati yang tersakiti hanya karena emosi sesaatmu."

Sehun tidak tahan lagi mendengar perkataan Kris. Ia putuskan mengetuk pintu dan mengubah tujuannya. Membuat kedua orang itu terkejut.

"Kau sudah sadar Kyungsoo?"

Keduanya menoleh menatap kehadiran Sehun.

Ia berjalan mendekati Kyungsoo. Mengecek keadaan wanita itu. Sejak ikut merawat Luhan, setidaknya Sehun memahami dasar menggunakan beberapa alat rumah sakit. Seperti saat dia akan melepaskan infus dari tangan Kyungsoo dengan benar.

"Jongin ingin aku membawamu pulang dan beristirahat. Dia sangat khawatir padamu." Suasana berubah hanya karena kehadiran lelaki ini, ucapannya menghangatkan Kyungsoo.

"Jongin? Di mana?"

Sehun hanya tersenyum dan masih membantu Kyungsoo turun dari ranjang rumah sakit.

"Dia masih harus membantu para dokter." Namun pada beberapa bagian dia juga tidak bisa untuk berbohong.

"Bisakah aku bertemu dengannya sebentar? Setidaknya aku harus memberitahu dia jika ingin pulang."

Sehun tentu saja mengangguk. Membawa Kyungsoo meninggalkan ruangan dan juga Kris lalu membawa Kyungsoo ke depan ruang perawatan Luhan.

Ia masuk seorang diri dan mendekati Jongin, berbisik pelan agar tidak di dengar Luhan.

"Istrimu sudah sadar dan ingin bertemu denganmu. Mungkin aku bisa membantu mengantarnya pulang selagi kau mengurus Luhan."

Jongin tidak menjawab perkataan Sehun.

"Lu, aku harus menyiapkan ruang inap untukmu."

Dia berkata pelan dan mendapat persetujuan Luhan langsung setelah gadis itu berkata Jongin jangan berlama-lama.

Ia melangkah keluar dengan tergesa, ia pikir harus berlari ke ruang sebelah tapi langkah Jongin terhenti melihat Kyungsoo berdiri dan tersenyum pelan di hadapannya. Wajahnya masih terlihat pucat, namun lebih baik dari ketika berbaring di ranjang tidak sadarkan diri. Pria itu bergegas menarik Kyungsoo dalam pelukannya. Ahh, rupanya Jongin merasa sangat bersalah. Dia menahan isakan atas apa yang terjadi pada Kyungsoo.

"Bagaimana keadaan Luhan?"

'Bagaimana kau bisa bertanya tentang orang lain sementara kau sendiri masih harus dikhawatirkan.'

Jongin tidak menjawab pertanyaan Kyungsoo, ia membatin dan memilik memeluk istrinya semakin erat. Menumpahkan semua perasaan yang dia miliki.

"Kau pasti sangat lelah. Aku pikir akan pulang dan menyiapkan beberapa pakaian ganti untukmu."

Jongin mengangguk, melonggarkan pelukan untuk membuat jarak. Jongin perlu sedikit menunduk untuk menghapus perbedaan tinggi mereka.

"Apa kau baik-baik saja melakukan itu untukku?"

Kyungsoo mengangguk. "Aku ingin membantumu Jongin."

dan saat itu Sehun keluar dari ruangan. Ia mengerti maksud Kyungsoo, segera mendekati Sehun dan meminta bantuan pria itu.

"Dia akan pulang dengan selamat Kim."

Walau terasa asing, tapi ucapan Sehun jauh lebih baik dari pria yang kini menatap ketiganya. Sosok Kris sejak tadi hanya memperhatikan mereka.

Jongin mencium Kyungsoo lembut.

"Maaf merepotkanmu sayang."


To Be Continue...


aku tahu ini mengecewakan, tapi aku memang harus menyampaikan bagian ini sebelumnya. ahh, aku bahkan memiliki preview untuk bagian selanjutnya. aku harap tidak membuat kalian menunggu lama lagi ^^

-Preview chapter 11-

"Apa dia benar-benar mencoba bunuh diri karena keberadaanku?"-Kyungsoo

"Bisakah kau mengatakan apa yang ada dalam pikiranmu padaku?" –Jongin

"Kau juga mendengarnya?" -Jongin

Thank You.

.

RoséBear

[170711c - 171216p]