AN: New chapter update the wait has been long, but I've done! So, please happy reading!

CONTEMPORARY

[11th Chapter]

Present by RoséBear

[KaiSoo FF]

Content story: Sensitive subject matter, original fanfiction, GS, some typo


[170713c-180113p]


Ada beberapa kebenaran yang masih bersembunyi. Sudah sewajarnya jika seseorang yang baik hati memberitahu kebenaran itu.

Mungkin terdengar konyol dan membuatmu tidak ingin mendengarkan kelanjutannya. Jadi mulai sekarang, sebaiknya kau tutup saja telingamu. Bukankah seharusnya seperti itu? Lantas kenapa kamu masih saja bertahan mendengarkan mereka.

Kyungsoo telah duduk di kursi penumpang sementara Sehun tetap fokus berkendara. Pria ini telah berbaik hati membelikan Kyungsoo beberapa roti dan juga sebotol air mineral. Tidak ada percakapan di antara mereka bahkan setelah setengah perjalanan di tempuh. Kyungsoo hanya menghela napas beratnya. Beberapa hal menjadi sulit bahkan sekedar untuk dipikirkan. Jika boleh, dia sangat ingin menangis. Tapi sekuat hati Kyungsoo menahan diri.

"Kau membenarkan cerita yang Kris katakan padamu?"

Tanpa sadar Kyungsoo menoleh setelah mendengar pertanyaan Sehun. Ia tidak mengerti, tidak juga tahu harus berkata apa. Jadi Kyungsoo memilih diam dan mendengarkan sebagaimana orang asing pada umumnya. Dia adalah orang asing, orang asing yang berusaha memahami situasi dan kondisi kehidupan suaminya.

"Aku mendengar apa yang dia sampaikan padamu. Apa kau percaya padanya Kyungsoo?"

Kyungsoo kembali menoleh sebentar kemudian menunduk. Jemarinya meremas botol minuman, terlalu bingung karena begitu banyak yang tidak dia ketahui.

"Apa kamu tahu sesuatu?" Dia bertanya dalam keraguan. Terdengar begitu formal dalam setiap susunan kata tapi Sehun mencoba memahami bagaimana keadaan Kyungsoo.

'Aku tahu kau sangat baik. Pantas saja jika Jongin begitu mencintaimu.' Sehun membatin menyadari bagaimana Kyungsoo tidak banyak mengetahui tentang Jongin. Mungkin dia menunggu saat yang tepat dan bukankah dia terlalu baik setelah sekian lama menyaksikan bagaimana cara Luhan bersikap kepada Jongin.

"Apa dia benar-benar mencoba bunuh diri karena keberadaanku?" Hati-hati sekali Kyungsoo bertanya.

"Aku berharap kamu tidak berbohong padaku tuan Oh."

Sehun sontak tertawa mendengar penyebutan nama untuknya.

Tuan Oh?

Beginikah yang Kyungsoo dan Jongin rasakan ketika Sehun menyebut Jongin dengan 'Kim'? Pria itu mencoba memahami situasi untuk kesekian kalinya.

Dia mengangguk membenarkan.

"Terjadi begitu saja ketika Ibunya melarang Luhan berhenti mencintai Kim karena pria itu telah memiliki istri. Bukankah tidak baik mengganggu hubungan di antara dua orang yang telah memiliki ikatan? Itu yang dikatakan Ibunya."

"Maafkan aku."

Alis Sehun naik dan dia kebingungan dengan permintaan maaf Kyungsoo barusan.

"Aku merusak hubungan mereka berdua."

Ah, sekarang Sehun paham maksud permintaan maaf dari Kyungsoo. Ia menggeleng pelan. "Jangan menyalahkan dirimu Kyungsoo."

"Bisakah kau menyebut nama Jongin seperti kau memangggilku Kyungsoo? Aku pikir Jongin terdengar lebih baik?"

Sehun melirik Kyungsoo yang terlihat kebingungan. Dia tersenyum canggung, di mana pikirannya melintas pada waktu yang berbeda dengan cepat.

"Itu sulit bagiku. Mungkin suatu hari ketika semua akan kembali seperti dulu."

Sehun menolak permintaan Kyungsoo. Pria itu masih fokus berkendara. Mereka baru saja memasuki jalan raya kembali.

"Aku tahu, aku tidak bisa memaksamu. Tapi bisakah kau mengatakan sesuatu tentang cerita kalian di mana tidak ada aku di dalamnya?"

Napas berat pria itu meluncur pelan, "apa yang akan kau lakukan jika mengetahui tentang kami?" sepertinya dia mendapatkan waktu yang tepat untuk memberitahu wanita ini sedikit tentang kehidupan mereka.

"Mungkin aku bisa membuat pilihanku sendiri."

Sehun menarik napas dalam. Percakapan mereka sangatlah canggung, terlalu kaku dan begitu formal. Suasana yang tidak akan membuat siapapun bertahan dengan baik. Namun dia memiliki kesempatan untuk memperbaiki situasi yang ada. Pilihan wanita ini pasti memiliki pengaruh untuk kelangsungan hubungan di antara mereka semua. Apapun itu, dia telah memulai semua ini.

"Aku bertemu Kim ketika memasuki taman kanak-kanak. Kemudian kami bertemu Luhan. Nyonya Xi adalah seorang pengajar di tempat penitipan saat itu. Dia sering membawa Luhan bersamanya. Aku dan Kim selalu menjadi yang terakhir di jemput sehingga Nyonya Xi dan Luhan selalu menemani."

Pertemuan pertama yang sangat manis pikir Kyungsoo. Mereka telah berteman sejak kecil. Pantas saja ikatan itu sangat kuat tidak peduli apa yang terjadi setelah itu.

"Luhan memang lebih tua, tapi kami memiliki kelas yang sama. Saat itu tubuhnya lebih besar dan dia selalu melindungi kami. Kim, pria itu memiliki hubungan yang baik dengan begitu banyak anak. Setiap hari Kim selalu mendapatkan teman baru, tapi dia tidak sekalipun meninggalkan kami. Pergi ke taman bermain, ke kuil, museum hingga pantai selalu dilakukan bersama-sama. Kim memiliki lebih banyak teman daripada kami karena dia sangat pintar, begitu baik dan mempesona. Seperti matahari musim panas yang menarik perhatian."

Kyungsoo bahkan membayangkan betapa masa kecil Jongin begitu menyenangkan. Jadi sejak kecil dia sudah memiliki banyak teman.

"Semakin tumbuh besar kami memiliki karakter masing-masing. Kim berkali-kali memiliki teman kencan dan Luhan terlihat tidak senang karena para wanita itu membuat Kim perlahan menjauh dari kami."

"Lalu kecelakaan itu?"

Kyungsoo spontan bertanya saat menyadari dia hampir sampai di gedung apartemennya.

Sehun memarkirkan mobil di depan gedung. Ia kemudian tersenyum memandang Kyungsoo yang masih sangat penasaran.

"Itu setelah Luhan menyatakan perasaan sukanya pada Kim. Pria itu menolak menjalin hubungan sebagai teman kencan karena tidak mencintainya. Luhan berlari meningalkannya lalu kecelakaan itu terjadi. Sebuah mobil menabrak Luhan."

Kyungsoo diam beberapa saat. Otaknya mencoba mencerna perkataan Sehun. Ah, bagian ini sungguh tidak terduga, seperti kereta ekspres yang mengekspresikan kecepatan. Pantas saja jika Jongin tidak bisa meninggalkan Luhan, dia pasti memiliki rasa bersalah karena keputusan itu.

"Sampai saat ini Kim sangat menjaga hubungan baik dengan kami. Aku harap pilihanmu bukanlah kabar buruk."

Kyungsoo mencoba memahami situasi dari cerita Sehun. Ia membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobil Sehun.

"Aku akan membawakan pakaian Jongin mungkin beberapa jam lagi. Terima kasih telah mengantarku Sehun-ah."

Sebuah panggilan yang terdengar begitu akrab membuat Sehun kemudian tersenyum membalas lambaian tangan Kyungsoo.

Wanita itu sangat baik, bahkan ketika seseorang menolak memanggil suaminya dengan nama panggilan dekat dia telah melupakan semua itu tanpa meminta penjelasan yang lebih banyak lagi. Seolah dia memaafkan Sehun dengan berhenti memanggilnya 'tuan Oh.

'Kyungsoo... Mungkin kau perlu tahu jika dulu Kim meninggalkan teman kencan wanitanya untuk kami, tapi aku pikir dia tidak akan meninggalkan istrinya. Dia memilih menjagamu saat kau tidak sadarkan diri.'


~ RoséBear~


Sekarang hanya ada wanita itu sendirian di apartemen mereka. Bahkan mereka telah meninggalkan bekas piknik di dalam apartemen. Sebelum menyiapkan keperluan Jongin, wanita itu membersihkan diri, dia juga memasak beberapa makanan hangat untuk Jongin.

Hatinya sedikit menghangat. Perjumpaan dengan Jongin telah mengubah begitu banyak hal pada diri Kyungsoo. Mengetahui Jongin khawatir saat dia pingsan, hal itu ikut menyenangkan Kyungsoo.

Seharusnya dia tidak perlu takut tentang perasaan siapapun. Masalahnya ada pada Luhan. Wanita itu harus di sadarkan tapi sepertinya bukan masalah mudah.

Kyungsoo hanya membungkus nasi, sup, daging lengkap dengan kimchi. Ia juga mengenakan pakaian sopan dan juga nyaman, sebuah dress Chinese.

Beberapa menit ia terdiam di depan cermin. Berkali-kali Kyungsoo hanya menghela napas. Pada akhirnya dia menyisir rambut dan menjepit untuk merapikan bagian depan. Kyungsoo sama sekali tidak pandai menguncir rambut sementara tidak ada seorangpun yang bisa dia mintai tolong saat ini.

Dengan rambut tergerai wanita itu kemudian keluar apartemen. Tidak lupa membawa pakaian yang mungkin dibutuhkan Jongin. Ia mencari taxi dan kembali ke rumah sakit.


~ RoséBear~


Tidak ada seorangpun yang menyambut kedatangan Kyungsoo. Suasana di rumah sakit kembali seperti saat dia datang kemari. Ibu Luhan duduk bersebelahan dengan Sehun yang menenangkannya sementara pria yang dia cari terduduk di depan pintu ruang perawatan Luhan.

Mata Kyungsoo berkedip berkali-kali mendapati suasana suram di koridor rumah sakit. Kenapa semua orang berada di luar? Lalu siapa yang menjaga Luhan di ruangan? Beberapa pertanyaan sejenis muncul begitu saja.

Ia baru akan melangkah mendekat dan ingin memberitahu mereka kedatangannya namun sebelum itu terjadi seseorang menarik pergelangan tangan Kyungsoo membuat tubuhnya menjauh. Wanita itu di bawa ke bagian luar koridor dan mereka tiba pada sebuah taman dengan beberapa orang berlalu lalang.

Kris

Pria yang tadi pagi dilihatnya ketika terjaga dan kini pria yang sama telah membawanya menjauh. Kyungsoo meminta tangannya di lepaskan namun Kris mendorong tubuh mungil itu terduduk di kursi kayu yang setengah basah. Membuat bagian dress yang Kyungsoo gunakan sedikit kotor.

"Aku perlu bicara denganmu."

"A-apa yang terjadi?" Kyungsoo setengah takut karena Kris memandanginya dengan tatapan permusuhan.

Kris menjelaskan jika tadi saat Jongin menemuinya, Luhan menyadari siapa yang bicara dengan Jongin di luar ruangan. Wanita itu ternyata memaksa turun dan semua alat bantu yang menempel pada tubuhnya terlepas secara paksa. Wanita itu kritis kembali hanya karena Jongin meninggalkannya keluar ruangan, hanya karena sebuah kebohongan tentang mempersiapkan ruang inap.

Pundak Kyungsoo melemas, kenapa Luhan begitu mencintai Jongin? Lalu kenapa Jongin tidak bisa mencintai Luhan?

"Aku tidak mengerti, bagaimana kalian bisa sejahat itu pada Luhan. Sejak lahir dia sudah tidak mendapatkan kasih sayang Ayah kandungnya."

Kyungsoo mendongak menatap Kris yang kini duduk di sebelahnya, pria itu berbicara sesuatu tentang Luhan. Sesuatu yang pribadi dan seharusnya Kyungsoo tidak perlu tahu. Tapi Kris tidak berhenti memberitahunya.

Mengatakan tentang siapa Luhan sebenarnya.

"Ayah kandung Luhan adalah adik ibuku. Dia memiliki istri namun kemudian berselingkuh dengan ibu Luhan."

Jadi Luhan lahir dari sebuah affair?

"Keluarga Wu menolak kehamilan itu membuat bibi Xi harus meninggalkan pekerjaannya yang seorang pelayan. Ibuku menawarkan sebuah pekerjaan karena merasa kasihan pada wanita malang itu."

Rasanya begitu berat mendengar kalimat demi kalimat yang meluncur dengan mudah dari mulut Kris. Bagaimana pria ini bisa mengatakan hal itu tanpa sebuah pertimbangan tentang keberadaan Kyungsoo sebagai istri Jongin. Setidaknya pria ini harus menjaga cara bicaranya.

"Aku tidak boleh mengatakan ini padamu tapi sepertinya kau harus tahu nona Do jika Luhan sangat mencintai Jongin. Sejak kecil Jongin adalah matahari musim panas bagi Luhan. Satu-satunya pria yang begitu dia cintai setelah dia kembali di tolak keluarga Wu."

"Tapi Jongin tidak menyukainya!"

Tanpa sadar Kyungsoo mengungkapkan isi hatinya.

"Apa dia juga mencintaimu? Kalian menikah bukan karena cinta."

Degh

Kyungsoo sontak terdiam mendengar perkataan Kris. Pria ini benar-benar bermulut pedas tidak peduli ketika dia bicara dengan seorang wanita yang bahkan menjadi sedikit gemetar.

"Luhan hanya ingin merasakan kebahagiaannya. Menikah dan hidup bersama Jongin. Tapi latar belakangnya di tolak keluarga Kim."

Karena dia anak yang tidak diinginkan.

"Mungkin dulu aku hanya bisa diam melihat adik sepupuku diperlakukan tidak adil oleh keluargaku sendiri. Tapi keluargaku harus mengakui Luhan sebagai seorang anggota keluarga saat ini. Dengan mendapatkan status di dalam keluarga maka tuan Kim juga akan menerima Luhan sebagai menantunya. Dengan begitu Jongin juga bisa mencintai Luhan, mereka telah bersama selama ini. Jongin terus menjaga Luhan. Dia hanya tidak bisa karena keluarganya menolak, perasaannya hanya terhalang oleh status kelahiran Luhan. Jika adik sepupuku bukan hasil perselingkuhan maka kau tidak perlu ada dalam kehidupan mereka. Tidakkah kau menyadari betapa indahnya kehidupan yang kau jalani? Lahir di keluarga kaya dan mendapat begitu banyak kasih sayang, hanya karena sebuah kesalahan kau mendapatkan Jongin sebagai seorang suami."

Kyungsoo menggigit bibir bawahnya kuat. Dia sangat ingin menangis karena kalimat terakhir Kris, tapi kemudian wanita itu menggeleng kuat. Menarik napas dalam dan masih begitu sulit bagi Kyungsoo untuk menenangkan diri sendiri.

"Jongin tidak akan melepaskanmu karena dia menjadi anak baik untuk keluarganya, dia tidak ingin mengecewakan keluarganya dengan meninggalkanmu. Kau tidak akan rugi apapun jika harus melepaskan Jongin lebih dulu, memberikan milikmu kepada seseorang yang lebih membutuhkan jauh lebih baik Nona Do."

"A-aku harus mengantarkan pakaian Jongin."

Kyungsoo setengah gugup meminta izin meninggalkan Kris. Ia pikir terlalu lama bicara dengan pria ini dia bisa saja memuntahkan makanan yang tadi sempat ia makan.

"Jangan karena kau terlalu egois Nona Do lalu bisa menyakiti banyak orang..."

Walau samar, Kyungsoo masih mendengar perkataan Kris. Ia menarik napas dalam berkali-kali hingga kembali tiba di ujung lorong. Memperhatikan bagaimana mereka sudah berada di depan ruangan menunggu Luhan kembali diselamatkan.

Dua jam? Bukankah itu waktu yang cukup lama.

Setiap kali langkah yang dia buat ketika mendekat, maka saat itu juga Kyungsoo merasa sebuah anak panah menancap pada tubuhnya. Semakin mendekati Jongin, langkah kakinya begitu berat dan ingin rasanya Kyungsoo memeluk Jongin, menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya pria itu. Dia merasa tersakiti oleh perkataan Kris.

Tapi sebelum itu terjadi, Jongin lebih dulu menyadari kehadiran Kyungsoo. Ia mendongak dan tersenyum kecil. Sulit bagi Jongin untuk bangkit tapi Kyungsoo meletakkan kotak bekalnya di atas kursi dan membantu Jongin untuk berdiri, ia menerima pelukan Jongin yang begitu erat. Semua rasa bersalah yang selama ini membebani Jongin seolah mengalir pada Kyungsoo secara perlahan.

"Maaf terlambat. Aku pikir kau harus makan, jadi aku menyiapkannya terlebih dahulu."

Kyungsoo bersuara pelan, tapi Jongin tidak melepaskan pelukannya, pria itu terisak membuat Kyungsoo tersentak. Rasanya bukan hanya Kyungsoo yang bisa mendengar suara isakan Jongin. Tapi dua orang yang kini memandang mereka, Nyonya Xi dan juga Sehun.

Ia balas memeluk Jongin, menepuk punggungnya berulang kali secara pelan. Menelan kembali air matanya agar tidak semakin menyakiti pria ini. Setidaknya Kyungsoo tidak harus menambah perasaan bersalah di dalam diri lelaki ini.

Jongin hanya terisak tanpa mencoba bicara. Memperlihatkan sisi rapuh yang tidak pernah dilihat Kyungsoo sebelumnya.

Tapi kenapa dia harus menangis?

"Kau baik-baik saja kan sayang?"

Jongin mengendurkan pelukannya dan menatap Kyungsoo. Wanita itu masih terkejut dengan pertanyaan Jongin. Kenapa tiba-tiba menanyakan keadaannya? Dengan gerakan pelan ia mengangguk walau sebenarnya Kyungsoo tidak dalam keadaan baik apalagi setelah bertemu Kris hari ini.

"Aku membawa pakaian dan makanan untukmu. Aku juga sudah menghubungi Kantor untuk izin hari ini."

Kyungsoo mencoba menjelaskan, dia membawa Jongin kemudian untuk duduk.

Berapa lama wanita itu memperhatikan Jongin mencoba makanannya setelah berganti pakaian? Penampilannya sedikit memprihatinkan tapi tetap terlihat kuat.

'Berapa banyak rasa bersalah yang tidak bisa kau hapus?'

Kyungsoo bertanya dalam hati. Kemudian terdengar suara pintu terbuka, seorang dokter keluar dari ruangan Luhan. Membuat semua orang berjalan mendekat.

"Pasien baik-baik saja. Dia berhasil melewati masa kritis. Hmm tuan Kim?" Dokter itu menyapa Jongin sekali lalu.

"Tolong jangan meninggalkan pasien sementara waktu."

Detik itu Kyungsoo meremas jemarinya. Sebegitu pentingnya Jongin dalam hidup Luhan? Bahkan wanita itu tidak menginginkan Ibunya, dia hanya menginginkan Jongin? Kenapa harus Jongin? Tidak bisakah posisi itu di tukar dengan...

Tanpa sadar Kyungsoo menoleh menatap Sehun. Pemuda itu kemudian tersenyum tipis.

Kyungsoo tahu ini kelewatan, ia menjatuhkan tubuhnya untuk duduk di kursi kembali, dia menjadi satu-satunya orang yang duduk. Terlalu banyak yang membuat kepala Kyungsoo pening, apa dia harus melepaskan Jongin?

Terlalu fokus pada pikirannya yang kolot, Kyungsoo tidak sadar setelah dokter meminta izin Jongin berlutut di depannya, menggenggam tangan Kyungsoo dan hanya bisa memandangi istrinya dengan perasaan khawatir.

Ia menunggu Kyungsoo kembali ke alam sadarnya seorang diri tapi itu terlalu lama hingga Jongin memberanikan diri bertanya langsung.

"Bisakah kau mengatakan apa yang ada dalam pikiranmu padaku?"

"Eoh!?"

Kyungsoo tersadar dan setengah terkejut, ia kemudian tersenyum memberanikan diri menyentuh wajah Jongin. Pria ini memiliki rasa bersalah yang begitu banyak kepada Luhan. Wajar saja sulit mengatakannya, terlalu bingung harus memulai darimana ketika Kyungsoo memintanya bercerita.

'Do Kyungsoo! Mungkin kau bisa tidak perlu menjadi egois kali ini.'

Ia membatin walau senyuman dari bibir hati itu terlihat menyedihkan.

"Kau tidak menemani Luhan di dalam sana?"

Bukankah dia sudah sangat baik?

Jongin terkesiap mendengar pertanyaan Kyungsoo.

"Dia belum sadarkan diri. Aku bisa masuk jika dia mencariku dan..."

Jongin bangkit dan segera duduk di sebelah Kyungsoo. "Kau ingin aku menemuinya?"

Degh

Kyungsoo menoleh menatap Jongin. Pria itu hanya tersenyum. Sepertinya Jongin benar-benar tidak akan melepaskan Kyungsoo tapi dia menerima begitu banyak perasaan bersalah. Lihatlah bagaimana pria itu memperlakukan wanitanya dengan sangat baik, ia mengambil karet yang memang selalu ada di dalam kantung celana, menarik pelan helaian rambut Kyungsoo dan menguncirnya.

Ketika waktu tidak berhenti berjalan, berusaha maju menuju masa depan dimana begitu banyak masalah baru muncul. Tempat berpijak seakan adalah bara api yang begitu panas dan menyiksa.


~ RoséBear~


Sore hari ketika ibu Luhan keluar dan sedikit bingung mendekati Jongin, pria itu berdiri dan berjalan meninggalkan Kyungsoo.

"Lu- Luhan sudah sadar dan dia mencarimu."

Kyungsoo juga mendengar perkataan ibu Luhan. Mungkin mereka menjadi bimbang untuk bertindak karena menghargai keberadaan Kyungsoo.

Ia berdiri dan melangkah menepuk punggung Jongin

"Aku perlu mengambil selimut untukmu? Kau akan menginap malam ini?"

Jongin memandang Kyungsoo bingung. Jalan pikiran wanita ini sulit ditebak, dia terlalu baik.

"Aku bisa menggunakan taxi. Kau bisa tenang mengenai itu."

Jongin kemudian tersenyum dan memeluk Kyungsoo sebentar sebelum membiarkan wanita itu pergi.

Kyungsoo sedikit berbohong tentang kembali ke apartemen mengambil selimut dengan menggunakan taxi. Wanita itu menggunakan bus, berpegangan erat pada tiang dan berjalan kaki sepanjang halte menuju gedung apartemen.

Napas beratnya berkali-kali meluncur. Beberapa orang berlarian mencipratkan air yang menggenang bersamaan hujan, sementara dirinya hanya berjalan pelan. Tidak peduli jika udara dingin dan hujan telah menyakiti dirinya. Otak Kyungsoo rasanya ingin pecah, dia kesakitan memikirkan apa yang harus dia lakukan.

Ia bahkan menghela napas ketika tiba di apartemen. Kyungsoo membereskan tempat tinggal mereka, membereskan apartemen. Begitu juga dengan barang-barangnya. Ia mengirim pesan pada seseorang, mungkin dia harus melakukan sesuatu kali ini.


~ RoséBear~


"Jongin? kau tidak akan meninggalkan aku lagi kan?"

Kyungsoo menahan diri ketika mendengar pertanyaan Luhan untuk Jongin. Dia telah kembali ke rumah sakit dengan membawa selimut dan beberapa barang yang mungkin akan mereka perlukan.

"Kyungsoo? Kau tidak masuk?"

Saat itu ibu Luhan menyadari keberadaannya membuat wanita itu terlonjak kaget. Begitu juga dengan Luhan dan Jongin yang berada di dalam ruangan.

Walau Luhan tidak bisa melihatnya, Kyungsoo tetap tersenyum. Ia kemudian berjalan mendekati sofa meletakkan selimut dan satu paper bag yang mungkin akan Jongin gunakan untuk berganti pakaian lagi.

Pria itu tersenyum menyambut kehadiran Kyungsoo, merenggangkan tangan dan menarik istrinya dalam sebuah pelukan. Jongin membutuhkan Kyungsoo. Dia membutuhkan istrinya sebagai sebuah senderan agar bisa bertahan.

"Bagaimana kabarmu Lu?"

Kyungsoo melepaskan diri dari Jongin dan bertanya penuh kehati-hatian pada Luhan. Di ruangan hanya ada mereka berempat, Sehun baru saja meninggalkan rumah sakit untuk membersihkan diri dan menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.

"Kau bisa melihatnya Kyungsoo!" Ia menjawab dengan ketus. "Ibu, aku ingin tidur. Jongin, kau akan menginap kan?"

Kyungsoo mengangguk memberitahu Jongin.

"Ya. Aku menginap di sini."

Ketika satu kalimat pendek itu meluncur, mereka bisa melihat senyum Luhan terukir begitu indah, wanita itu memang cantik bahkan setelah beberapa luka ia terima akibat perbuatannya sendiri.

"Tapi aku harus membersihkan diri. Kau tidak masalah kutinggal sebentar kan Lu?"

Jongin bertanya pada Luhan, menunggu bagaimana persetujuan wanita itu.

"Tidak lebih dari sepuluh menit Jongin."

Ia memberi izin dengan sebuah peraturan yang bahkan membuat Kyungsoo harus menahan diri agar tidak berdecih.

"Ya."

Jongin kemudian memberi isyarat agar Kyungsoo menunggu di sofa sementara dia membersihkan diri.

"Jongin, kau mau jjampong? Ibu akan membelikannya untukmu."

Ibu Luhan bertanya pada Jongin namun pria itu kemudian memandang Kyungsoo seolah bertanya apa dia juga mau. Tapi Kyungsoo menggeleng.

"Ya. Satu porsi untukku."

Jongin kemudian melangkah keluar kamar perawatan. Pria itu butuh pergi ke bagian lain untuk membersihkan diri, jika dia menggunakan kamar mandi di dalam ruangan, suara berisik mungkin akan mengganggu Luhan yang ingin beristirahat.

"Kyungsoo, bisa tolong jaga Luhan sebentar. Aku akan mencari makan malam keluar."

Tubuh Kyungsoo membatu sebentar. Terakhir kali dia ditinggalkan bersama Luhan, kejadian itu terjadi lalu bagaimana jika dia ditinggalkan berdua lagi? Sulit rasanya untuk menolak tapi melihat Luhan sudah tidur tanpa bergerak dia kemudian mengangguk menyetujui.

Ketika Jongin dan ibu Luhan melangkah keluar, wanita itu menarik kursi kayu dengan sangat pelan menghilangkan suara mengganggu.

"Jadi kapan kau akan meninggalkan Jongin? Seharusnya Kris sudah mengatakan padamu."

Kyungsoo terkejut mendengar suara Luhan. Rupanya wanita ini belum tidur dan kembali mengusik Kyungsoo.

Kyungsoo memilih diam. Menghadapi Luhan sama seperti dia melihat tumpukkan pakaian di lemari seorang wanita, jangan terlalu diperhatikan. Terlalu memusingkan, cukup pikirkan apa yang kau butuhkan dan ambil yang paling menarik perhatian. Dengan begitu kau bisa melewatkan yang lainnya.

"Kenapa kau tidak menjawabku? Apa kau berusaha menulikan pendengaran? Kau ingin Jongin membuat pilihan yang sulit padahal kau sendiri menyadari Jongin tidak akan meninggalkan aku! Semua akan lebih mudah jika kau pergi dari kehidupan Jongin."

Kyungsoo tersenyum miris, napasnya meluncur begitu saja. Dia bukan sekedar wanita lemah seperti yang Luhan pikirkan.

"Bagaimana jika aku ingin berada di dekatnya sebagai seorang istri?"

Kyungsoo bertanya penuh rasa penasaran dengan reaksi apa yang akan Luhan timbulkan.

"Kau ingin membuat Jongin lebih menderita dengan kehilanganku?"

Degh

Tiba-tiba saja perkataan Kris tadi pagi terngiang kembali. Ia menunduk dalam, Jongin pasti akan sangat menderita jika terjadi hal buruk lagi pada Luhan. Pria itu menyimpan rasa bersalahnya.

"Ibuku juga akan kehilangan putrinya, Sehun akan kehilangan wanita yang dicintainya."

Satu hal lagi tentang Luhan yang membuat Kyungsoo tidak mengerti. Sehun? Dia menyadari jika Pria Oh mencintainya? Tapi terlalu memaksakan diri kepada Jongin?

"Pikirkanlah. Jangan karena keinginanmu bersama Jongin akan membuat mereka menderita lebih buruk lagi."

Ya! Xi Luhan! Bukankah kau adalah sumber kesedihan mereka? Kau membuat begitu banyak rasa bersalah yang mereka tanggung hingga berani membohongimu.

Sekarang Kyungsoo mengerti kenapa mereka membuat sebuah sandiwara menjijikan untuk Luhan. Wanita ini yang membuat mereka melakukannya.


~ RoséBear~


Sementara setelah itu Jongin kembali dengan penampilan yang lebih baik. Ia mendekati Kyungsoo dan berpikir jika Luhan sudah tidur.

Tidak berapa lama Sehun juga kembali.

"Kau sudah kembali?"

Jongin bertanya dan Sehun hanya mengangguk. Pria itu kemudian tersenyum menyadari keberadaan Kyungsoo. Dia menjadi baik ketika bersama orang baik. Tapi tentang Jongin? Sehun punya alasan sendiri.

"Kau ingin duduk?"

Kyungsoo segera berdiri dan memberikan kursi kepada Sehun. Pria itu menggantikan Kyungsoo.

Hanya beberapa menit, ruangan menjadi sedikit ramai walau tidak banyak percakapan yang terjadi. Ibu Luhan kembali dengan tiga mangkuk makanan. Walau Kyungsoo menolak tapi Jongin tetap membagi miliknya. Mereka memiliki hubungan yang sangat manis, mungkin itu yang orang-orang pikirkan.

Tapi tidak ada yang tahu jika kehidupan orang-orang telah berubah.

Jam di dinding ruangan menunjukkan pukul sebelas malam hari.

Ketika itu hanya ada mereka bertiga lagi yang terjaga di mana Ibu Luhan sudah mengambil posisi berbaring di ranjang sebelah yang memang disediakan pihak rumah sakit.

"Mungkin kau bisa membawa istrimu beristirahat di sofa. Itu cukup untuk kalian berdua."

Sehun memberi saran ketika menyadari Kyungsoo kesulitan menahan kantuknya. Wanita itu pasti sangat lelah tapi tidak kunjung tidur tanpa tahu alasan sebenarnya kenapa Kyungsoo masih terjaga.

Jongin tersenyum kemudian mengangguk setelah Sehun berkata dia yang akan di sisi Luhan.

Dengan hanya selimut tebal dan sofa kulit yang terasa nyaman, pria itu kemudian membawa Kyungsoo dalam pelukannya. Mereka tidak bisa berbaring karena sofa tidak terlalu luas, tapi dengan posisi duduk bersender saja sudah cukup untuk beristirahat malam.

"Jongin?" Kyungsoo memanggilnya pelan.

"Hm? Mau mendengar cerita tentang orang asing yang menyerobot tempat parkirku?"

Kyungsoo menggeleng membuat Jongin menatapnya bingung karena ini pertama kali Kyungsoo menolak sementara Sehun yang memperhatikan sedikit penasaran dengan percakapan mereka yang tidak kunjung tidur.

"Bagaimana jika tentang anak-anak yang mengganggumu sewaktu kecil?"

Alis Jongin naik setingkat mendengar permintaan Kyungsoo. Tapi pria itu tidak menolak, dia mulai kembali pada kisah mereka bertiga. Samar-samar Sehun juga mendengarkan dan menyadari betapa dia dan Luhan selalu ada dalam cerita Jongin. Pria itu menceritakan tentang mereka pada Kyungaoo? Hanya bagian ketika mereka tumbuh dengan bahagia dan penuh ketenangan. Bagaimana dengan cerita beberapa tahun lalu? Ketika semua mulai menjadi kacau?

Hanya lima menit dan Sehun melihat Jongin menaikkan selimut pada tubuh Kyungsoo. Wanita itu tertidur dengan segera bahkan ketika cerita sebenarnya belum selesai.

"Kau juga mendengarnya?" Tiba-tiba saja Jongin bertanya membuat Sehun terkejut, pelan ia mengangguk mengakui.

"Kyungsoo tidak bisa tidur jika seseorang tidak bicara padanya. Dengan mendengarkan suara seseorang menjadi begitu efektif sebagai pengantar tidurnya setiap malam." Jongin memberitahu Sehun dan pria Oh hanya mengangguk mencoba memahami hubungan suami istri itu.


To be continue...


Aku ingin kau tetap menjadi matahari musim semi yang selalu datang setiap tahun. Selalu membawa kehangatan dan ketika matahari itu menjauh, semua terasa dingin kembali.

Special for D-O K-Y-U-N-G-S-O-O Day's [180112]

From

Rosiebear