(created-170713 : publish-180202)

CONTEMPORARY

[12th Chapter]

Present by RoséBear

[KaiSoo FF]

Content story: Sensitive subject matter, original fanfiction, GS, some typo


Berhentilah selama semenit dan pikirkanlah analog-analog dari semua cerita yang berhasil kau dengarkan. Begitu jernih seperti embun di pagi hari.

Bila sudah begitu, dapatkah membayangkan bagaimana Luhan telah bertahan selama ini? Tanpa kehadiran seorang Ayah? Hanya ada harapan untuk bisa menjadi bagian dari keluarga besar itu, dia seperti musim dingin yang menyiksa. Udara dingin menusuk menembus pori-pori, pada akhirnya menggigil dan menginginkan kehangatan.

Tidak ada yang lebih baik ketika dia kemudian bertemu dengan Jongin, lelaki itu sungguh bersinar seperti matahari musim panas. Dia melakukan banyak hal yang bisa membuat orang-orang mendatanginya tanpa paksaan. Semua orang menyukai Jongin, tidak ada yang bisa di tolak dari keberadaan pria itu. Para wanita menginginkannya menjadi teman kencan, kaum pria ingin dia menjadi big brother dan para baya mengagumi sifatnya, -ringan dan begitu bersemangat tentang banyak hal.

Tapi sesungguhnya tidak seperti itu yang terjadi pada Jongin. Seolah semua orang telah menggunakan topeng, mendekatinya untuk mendapatkan popularitas, menjadikan Jongin batu loncatan untuk merebut hati para wanita di sekitarnya, memperkenalkan mereka ke publik dengan sangat baik. Mengambil keuntungan dari semua tindakan Jongin. Lelaki tan itu hanya bisa menganggap Sehun dan Luhan sebagai temannya, bahkan seperti saudara yang sebenarnya ketika saudara perempuannya begitu sibuk dengan teman-teman sebayanya.

Sementara Sehun?

Lelaki ini tidak banyak bicara, dia menjadi pengamat yang tidak mengambil banyak keputusan. Dia hanya ingin orang-orang mengenal namanya dan menjadi lebih baik dalam melakukan banyak hal. Sehun seperti matahari musim gugur yang menarik udara dingin, seperti perpisahan namun menjaga kehidupan. Tidak menuntut namun menyedihkan, dia menjadi begitu tenang.

Bagaimanapun, Jongin itu adalah sosok yang istimewa, dia benar-benar bersinar cemerlang di manapun ia membawa langkah kakinya.


~ RoséBear~


Aku selalu memikirkan diriku sendiri tanpa peduli apa yang terjadi di luar sana. Melakukan apa yang kusukai tanpa peduli perasaan orang.

Aku begitu khawatir ketika pertama kali mendengar pertunangan kita yang hanya karena sebuah kecelakaan. Oh! aku harus berterima kasih padamu. Kau menolongku, jika tidak mungkin kakiku bisa saja patah karena kejadian itu.

Sesungguhnya aku masih bertanya apa aku pantas mendapat perlakuan begitu baik darimu. Aku memang tidak sering berinteraksi dengan orang, dan tiba-tiba kau menerobos masuk begitu saja mengirim pesan yang begitu manis, bahkan setiap gerakanmu membuatku sangat gugup.

Setelah menikah aku ingin mengucapkan terima kasih banyak, kau mau bertahan dengan orang sepertiku. Menghadapi wanita sepertiku butuh banyak kesabaran namun kau melakukannya. Kau juga membuatku begitu nyaman, tapi karena itu aku khawatir apa kau memperlakukan semua wanita sama.Sampai akhirnya aku bertemu Luhan yang selalu ada dalam ceritamu.

Disinilah aku menyadari betapa egoisnya aku. Aku mencoba menahanmu, menginginkanmu tanpa peduli perasaan mereka. Sampai aku menyadari aku bukan bagian dari kalian,karena aku tidak bisa hadir dalam satupun cerita milikmu.

Tapi Jongin, kau telah menjadi pria yang sangat hebat, berhasil mengajariku untuk keluar dari zona nyaman itu. Terima kasih banyak Jongin.

Sejujurnya aku tidak yakin semua baik-baik saja jika aku terus menghalangimu bersama Luhan. Tentang berapa banyak penyesalanmu kepada Luhan, aku menahanmu, meminta begitu banyak hal padamu dan bersikap sangat egois hingga membuatmu kesulitan.

Sekarang aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Terkadang aku frustasi, merasakan sakit tapi kemudian aku pikir lebih baik aku menyerah.

Terima kasih banyak Jongin, maafkan aku.

Aku akan menyelesaikan masalah yang telah kutimbulkan. Aku tahu Ayah tidak akan benar-benar marah. Mungkin butuh waktu untuk meminta maaf pada keluargamu, tapi aku akan bertanggung jawab agar kau tidak perlu khawatir.

Mulai saat ini kau bisa menjaga Luhan, setidaknya kau bisa mendapatkan cutimu hingga satu minggu ke depan. Aku sudah mengurusnya.

Terima Kasih.

Do Kyungsoo.


~ RoséBear~


Ketika pria itu telah merasa nyaman atas kehadiran seseorang, mendapatkan kehangatan karena sebuah sentuhan dan membuat dia menghindari hal-hal penting yang seharusnya bisa di hargai. Dia mempunyai semuanya, sampai tiba-tiba sesuatu yang hadir dan sangat dia inginkan terlepas. Pergi meninggalkan Jongin seperti angin, berlalu begitu saja sebelum mendengar pendapatnya.

Jika itu hanya teman kencan mungkin dia akan mencoba melupakan dengan segera, tapi bagaimana jika dia adalah seorang istri?

Bukan!

Bukan hanya karena seorang istri. Tapi karena dia adalah Do Kyungsoo.

Gadis polos yang bahkan tidak mengetahui banyak tentang dirinya. Terlalu sulit untuk menggambarkan kebaikan wanita itu, dia membawa begitu banyak kebahagiaan, mengubah perilaku seorang Kim Jongin untuk lebih menghargai hal kecil sekalipun.

"Jongin? Ada apa?"

Untuk pertama kalinya Sehun memanggil nama pria itu. Keduanya terdiam sejenak namun Jongin menggeleng cepat.

"Kyung... Kyungsoo... Aku harus mencarinya."

Sehun berkedip cepat mendengar kegugupan Jongin. Napas pria tan itu terputus-putus. Menjelaskan kondisinya dalam keadaan yang tidak begitu baik.

Jika dalam keadaan normal mungkin Jongin akan segera memeluk Sehun setelah mendengar pria itu memanggil namanya kembali, tapi dia sedang panik. Ketika bangun tidak menemukan Kyungsoo dan dia hanya menemukan selembar kertas berisikan surat tangan Kyungsoo.

Pagi itu juga dia melangkahkan kaki keluar rumah sakit setelah beberapa hari tertahan di sana. Meluapkan perasaannya yang tertinggal untuk seorang wanita yang tidak dia temukan pagi ini. Perasaannya menjadi kacau, sebagaimana raga yang tertinggal.

Pria itu bahkan meninggalkan Luhan yang mungkin sebentar lagi akan terbangun dan mencari keberadaannya.


~ RoséBear~


'Aku bersedia menjadi matamu sampai kau mendapatkan penglihatan kembali. Maafkan aku Luhan. Aku akan berusaha menjagamu, jadi jangan khawatir. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam kegelapan.'

Kyungsoo mencoba mengingat salah satu pesan Kris kemarin sore, memberitahu Kyungsoo tentang janji yang pernah diucapkan Jongin setahun lalu setelah kecelakaan itu terjadi. Sesuatu yang samar-samar bisa ia dengar sebelum meninggalkan pria itu. Mungkin sebaiknya dia benar-benar menjauh dari Jongin dan kehidupannya. Jongin terlalu baik, tidak seharusnya pria itu mendapatkan setumpuk kesulitan. Dia adalah pria dewasa yang bisa mempertanggung jawabankan semuanya. Kyungsoo percaya itu.

Hanya perlu Kyungsoo pergi agar Jongin bisa terus bersama Luhan, menepati keinginannya. Dari awal sudah seharusnya mereka bersama, dia hanya sebuah kebetulan yang beruntung bisa mendapatkan Jongin dalam ikatan pernikahan.

Tidak banyak yang bisa wanita itu lakukan selagi menunggu waktu keberangkatan, ia meninggalkan ponselnya, sementara di sekitarnya ia tidak ingin bicara dengan orang asing. Hanya mengayunkan kaki dan memikirkan semua tindakan yang telah dia putuskan dalam satu malam.

Dunia kita yang saling terhubung dengan milyaran saluran membuat kita bisa menjadi seorang pemilih. Itulah yang dilakukan Kyungsoo. Dia menyadari tentang keberadaan dirinya dan mencoba bersikap seperti orang dewasa. Ia membuat pilihannya sendiri berdasarkan satu asumsi semata.

Jika Kyungsoo menikmati waktu kesendiriannya, pria di sana begitu panik. Ia tidak menemukan Kyungsoo di Kantor. Ia malah mendapat pertanyaan balik tentang cuti yang di ambil Jongin dan yang lebih mengejutkan Jongin menemukan surat lain di atas meja kerjanya. Dari Kyungsoo, bedanya ini di ketik dan begitu resmi, -surat pengunduran diri.

Otak Jongin memaksanya melangkah kembali ke apartemen. Berharap menemukan keberadaan Kyungsoo di sana.


"Kau meninggalkan aku?"rintihnya seperti orang kesakitan.

Dalam sekejap semua tenaganya terkuras habis. Tidak ada kata yang bisa dia sampaikan lagi ketika menemukan tempat tinggalnya dalam keadaan rapi. Beberapa memo tertulis begitu manis di setiap sudut ruangan. Kyungsoo meninggalkan sesuatu yang menyakiti perasaannya, membuat hatinya hancur berkeping-keping.

'Kau sudah kembali?'

Ia menemukan pesan pertama di pintu masuk apartemen ketika menutup pintu.

'Selamat pagi Jongin. Kau sudah terlihat tampan sayang.'

Tulis tangan yang begitu rapi, secarik kertas dilipat dan di diletakkan di depan cermin. Bahkan Kyungsoo masih menulis kata sayang untuknya.

'Use me.'

Satu lagi memo yang diletakkan Kyungsoo pada salah satu parfum milik Jongin. Aroma amber yang begitu di sukai Kyungsoo dari Jongin.

'Jangan lupa sarapanmu.'

'Dasimu?'

Semua pesan itu seolah membuat Kyungsoo masih berada di apartemen ini, padahal wanita itu telah membawa barang-barangnya, tidak semua, tapi pakaian Kyungsoo menghilang dari dalam lemari.

Jongin menemukan ponsel Kyungsoo di atas meja, pria itu menyalakannya dan menemukan sebuah video tanpa gambar yang segera terputar memperdengarkan audio.

'Maafkan aku Jongin. Mungkin ini yang dirasakan teman kencanmu dahulu. Sekarang aku sudah tahu Luhan begitu mencintaimu dan kau punya janji kepadanya. Jika aku tidak ada maka kau bisa menepati janjimu. Jadilah pria sesungguhnya. Aku tidak ingin kau semakin terluka jika nanti Luhan terus mencoba menyakiti dirinya sendiri. Terima kasih banyak.'

Jongin tidak bisa berpikir kapan Kyungsoo memiliki waktu untuk melakukan semua ini. Tiba-tiba saja dia kehilangan Kyungsoo dalam satu waktu. Tatapannya nanar memandang tempat tinggal mereka. Ia menertawakan dirinya sendiri, tentang kebodohan tidak menyadari perasaan sakit Kyungsoo.

Tidak dia sadari ponsel itu kemudian memutar bagian selanjutnya.

'Aku tidak ingin menyakitimu Jongin. Ketika kita selalu bersama, sejujurnya aku mulai sangat menyukaimu. Jika suatu hari nanti kita bertemu lagi, mari memiliki hubungan yang lebih baik tanpa sebuah tekanan.'

"..." Ia terdiam cukup lama setelah mendengar suara Kyungsoo barusan.

Lelaki itu mengalami perubahan emosi yang besar hingga membuat air matanya mengalir. Ya. Jongin sedang menangis, ia tidak mendapatkan keseimbangan dalam hidupnya. Berapa banyak wanita meninggalkan Jongin? Berapa kali pula Jongin meninggalkan teman kencannya karena Luhan?

Sudah puluhan kali bahkan sejak pertama kali dia berkencan dengan wanita. Tapi kemudian ia menemukan kebenaran dalam perkataan Luhan jika wanita-wanita itu hanya memanfaatkan Jongin. Beberapa mereka mencintai Sehun. Beberapa lagi menginginkan kemewahan Jongin, selebihnya ingin menjadikan Jongin batu loncatan agar meraih popularitas.

Tapi Kyungsoo?

Wanita itu tidak datang dengan sendirinya. Jongin yang pertama memutuskan mendekati Kyungsoo. Dengan mudah dia berkata menyetujui pertunangan itu, dia mengikat Kyungsoo dalam hubungan dengan sebuah harapan Ia tidak akan meninggalkan Kyungsoo. Tapi kemudian Kyungsoo memilih meninggalkan Jongin karena tidak ingin menyakiti Luhan.

Saat itu ponselnya berdering. Sebuah panggilan tidak di kenal.

'Jongin kau dimana? Luhan terus mencarimu sejak ia terbangun!'

Suara Kris terdengar berteriak padanya.

Tidak ada Kyungsoo untuk dimintai persetujuan, Jongin hanya berhasil mendapati ruangan kosong. Ia menghembuskan napas berat kemudian berkata pelan.

"Katakan padanya aku akan segera kembali."


~ RoséBear~


Bukan risiko gila untuk mempertimbangkan hubungannya dengan orang-orang, tapi Kyungsoo tidak ditemukan bahkan sepanjang perjalanan yang memaksa Jongin kembali ke rumah sakit. Beberapa waktu pria itu gunakan untuk berdiri di pintu ruang inap Luhan.

"Kau kembali? Sendirian?"

Sehun. Lelaki itu yang pertama menyadari kedatangan Jongin. Tapi entah apa yang Sehun pikirkan hingga pertanyaan itu meluncur.

"Di mana Kyungsoo?"ia bertanya bukan karena dia memiliki perasaan kepada istri Jongin. Hanya entahlah... Sehun merasa sesuatu yang buruk bahkan lebih parah dari tragedi setahun yang lalu mungkin akan menghampiri mereka.

Jongin tersenyum miris. Bagaimana bisa temannya bertanya di mana istrinya saat ini, seingat Jongin sahabatnya ini tidak pernah peduli pada siapapun teman kencan Jongin. Tapi kenapa tiba-tiba bertanya mengenai Kyungsoo?

"Kau menyukainya? Mungkin kau bisa berusaha mendapatkannya karena dia benar-benar meninggalkan aku." Ucapnya sakratis

Mereka tidak peduli tentang kehidupan satu sama lain adalah sebuah kebohongan. Nyatanya mereka sangat mempedulikan satu sama lain.

"Jongin? Apa kau kembali?"

Ketika itu Luhan memanggilnya. Para perawat yang mencoba menenangkan memberi jalan untuk Jongin. Membuat pria itu juga melewatkan Sehun, lelaki itu hanya diam mematung mendengar perkataan Jongin.

Apa yang terjadi? Dia tidak tahu. Hanya bukankah sebelum meninggalkan rumah sakit Jongin berkata ingin mencari Kyungsoo? Lantas di mana wanita itu sekarang.

"Kau kemana saja? Bukankah dokter sudah sering mengingatkan untuk tidak meninggalkan Luhan."

Semua orang harus melakukan sesuatu, ketika itu Kris berteriak marah pada Jongin. Pria ini begitu menyayangi adik sepupunya, terlalu protektif dan hanya peduli pada perasaan Luhan.

"Tidak akan lagi."

Jongin hanya menjawab singkat membuat Kris bungkam dengan perkataannya, tapi kemudian pria itu mulai berpikir. Yang terpenting saat ini membuat Luhan kembali beristirahat.


"Jongin?" Kris memanggilnya. Hanya sebuah deheman singkat memberitahu jika dia mendengarkan.

"Tentang ucapanmu tadi, bagaimana kau bisa begitu yakin tidak akan meninggalkan Luhan lagi?"

Saat itu hanya ada Kris dan Jongin saja di koridor rumah sakit sementara Luhan bersama Ibunya dan juga Sehun di dalam ruangan. Tapi Jongin tidak memberikan jawaban. Lelaki itu memilih mengistirahatkan diri di salah satu bangku rumah sakit.

"Apa dia memilih meninggalkanmu?"

Ketika itu Sehun keluar dari ruangan. Ia telah mengambil waktu berpikir dan menemukan sebuah kesimpulan luar biasa.

Pandangan mata Jongin mengarah pada lelaki itu, ia menggeser tempat duduk ketika Sehun berjalan mendekat.

"Kurasa seseorang telah membuatnya salah paham."

Sehun bicara pelan namun seseorang dengan jelas bisa mendengar ucapannya barusan. Jongin tidak terlalu peduli, pikirannya melayang entah kemana. Terlalu jauh tanpa menemukan jejak Kyungsoo.

"Bagaimana Luhan?"

Sehun berdecih mendengar pertanyaan Jongin. Oh! Jangan salah paham pada Jongin, bukankah sudah kukatakan pria ini terlalu baik. Dia telah menerima begitu banyak penyesalan dan yang terburuk adalah ketika istrinya memutuskan pergi.

"Keadaannya membaik, dokter berkata jangan membuatnya tertekan lagi atau itu akan mempengaruhi keadaan psikologisnya."

Saat itu bukan Sehun yang menjawab pertanyaan Jongin, melainkan Kris. Pria itu memang telah menemui dokter dan bicara beberapa hal. Namun perkataannya barusan membuat Jongin tertekan. Karena dia harus meninggalkan Luhan untuk menemukan keberadaan Kyungsoo.

Ketika matahari terhalang awan gelap, angin membawa kabar terburuk sepanjang sejarah. Dia yang tidak bisa membuat pilihan, terdiam seribu bahasa.

-Aku akan menemukanmu. Kumohon jangan berlari dariku.


Malam hari ketika semua nyawa tertidur, di ruangan itu hanya menyisahkan Sehun dan Jongin yang tidak saling bicara satu sama lain.

"Aku harus mencari Kyungsoo! Tolong tenangkan dia Hun."

Lelaki itu berkata segera membuat Sehun setengah terkejut. Tapi kemudian pemuda Oh tersenyum. Ada setitik kebahagiaan saat Jongin mengatakn itu. Namun,

"Kau akan ke rumah orang tuanya? Seperti pria bodoh yang bertanya keberadaan istrinya?"

Degh

Seketika Jongin terdiam. Namun detik itu Luhan bergerak gelisah.

"Jongin~" wanita itu,,, bahkan dalam keadaan tidak sadar dia mencari keberadaan Jongin membuat Sehun memalingkan wajah.

Jongin sedikit menunduk, "Tenanglah Lu. Aku masih di sini."

Rasanya beberapa menit dihabiskan untuk memastikan wanita itu terlelap.

"Aku sudah mencaritahu kemungkinkan keberadaan istrimu. Dia tidak kembali ke Seoul, tidak juga mengunjungi temannya yang tinggal di Busan."

Pelan, Jongin menatap Sehun terkejut.

Baik!

Bagaimana Jongin harus bereaksi atas ucapan Sehun barusan? Dia harus berterima kasih? Tapi sepercik api telah menyalakan kembali bara di dalam dirinya.

"Apa kau akan menyerah pada Luhan karena mulai menyukai Kyungsoo?"

Entahlah, pikiran Jongin tiba-tiba menjadi begitu konservatif. Seperti orang tua bodoh yang tidak memahami arti kedekatan di masa sekarang. Kesimpulan bodoh itu terlintas begitu saja.

Sehun terkikik mendengar perkataan Jongin.

"Owhh kau merasa cemburu? Hmm jika kukatakan iya itu artinya pertama kali aku menyukai gadismu."

Wajah Jongin tiba-tiba mengeras mendengar jawaban Sehun. Dia akui, beberapa teman kencannya pada saat itu yang menyukai Sehun berakhir tragis karena lelaki ini tidak menyukai wanita yang berkencan dengan Jongin, karena semua orang yang melihat juga tahu bagaimana Sehun memilih Luhan, tapi dia terlalu bodoh untuk bertahan karena wanita itu sama sekali tidak pernah memilihnya.

"Bagaimana jika kubuat dia menyukaiku? Kau bisa memiliki alasan untuk bersama..."

Bugh

Satu kali dan untuk pertama kali Jongin berani memukul Sehun. Pria Oh tersungkur dan membuat suara dentuman kuat yang menggema di dalam ruangan. Tidak hanya ibu Luhan yang ikut terbangun tapi wanita yang beberapa menit lalu kembali tertidur kini ikut terbangun.

"Jongin!"

Luhan mencoba bangkit dan memangil Jongin. Tapi pria itu seolah ditulikan pendengaranya, napas memburu hanya memandang Sehun penuh emosi.

"Aku mencoba memahamimu! Tidak bisakah kau membantu situasiku saat ini?"

Setengah berteriak tertahan Jongin berhasil membuat ibu Luhan ikut panik. Wanita tua itu segera mendekati Luhan.

"Semua baik-baik saja!" Nyonya Xi trus berusaha menenangkan Luhan.

"Semua baik-baik saja Lu! Aku masih di sini!"

"Tapi kenapa kau berteriak?"

Sekali lagi wanita itu tidak bisa menahan rasa penasarannya membuat Jongin harus berusaha menenangkan diri.

"Sebuah panggilan. Kuharap kau bisa tidur kembali Lu. Maafkan aku."

Sandiwara itu adalah sebuah kebohongan. Mereka tampak nyata, tapi begitulah cara kerjanya.

Sebuah panggilan telepon?

Jongin! Kau keterlaluan. Setiap kali berbohong, sejujurnya kau telah menambah jumlah penyesalanmu.

Tidak ada yang tahu apa yang seharusnya dilakukan. Sehun memilih diam ketika Jongin mengelus kepala Luhan. Tapi dia tidak bisa berbuat apapun yang bisa menenangkan Luhan. Tidak juga tahu harus menyebut ini bagaimana, mungkin dia cemburu tapi Luhan telah bergantung pada Jongin sejak lama. Dia, ibu Luhan bahkan siapapun yang mengenal mereka sejak lama tahu akan itu.

Pada akhirnya pria Oh bangkit dan meninggalkan ruangan. Melarikan diri seperti seorang pecundang sejati. Bersama keheningan koridor rumah sakit, maka disinilah Sehun akan berakhir.

'Ini hanya luka kecil. Naiklah ke punggungku, aku akan menggendongmu pulang.'Suatu hari, Luhan bahkan pernah menawarkan punggungnya kepada Sehun.

'Kau baik-baik saja Hun? Oh tidak! Tanganmu terluka. Bibi bisa marah kalau melihat lukamu. Aku harus bagaimana?'

Mereka telah menghabiskan banyak waktu untuk bersama, semua bermula dari sedikit keributan.

Siapa yang harus bertanggung jawab atas perasaan mereka masing-masing? Ketika Sehun telah jatuh cinta pada Luhan sejak lama dan wanita itu justru mengatakan pada Sehun dia menyukai Jongin serta membenci para wanita yang menjadi teman kencan Jongin. Ahh lalu pria tan sendiri?

'Maaf Lu. Ayah mengizinkan aku berteman denganmu, bukan berkencan. Lagi pula aku tidak mau menjadi kekasihmu, aku ingin terus menjadi adikmu.'

Sebuah pernyataan singkat di hari itu, ketika kemudian Luhan menjadi begitu kecewa saat Jongin menolaknya padahal selama ini Jongin sudah berkali-kali berganti teman kencan, dia tidak menolak ajakan anak perempuan untuk berkencan dengannya. Tapi kemudian dia menolak Luhan.

Memulai semua perkara ini. Mari kembali pada sebuah fakta di mana Sehun masih duduk sendirian di koridor. Berapa banyak waktu yang telah dia gunakan untuk sekedar berpikir? Tidak bisa! Sehun bahkan tidak bisa berkencan dengan seorang wanitapun. Dia pernah mencoba dan tidak pernah berhasil. Luhan adalah cinta pertamanya.

Masalah mereka sesungguhnya bukanlah hal bodoh, lalu apa yang salah dengan sifat manusia? Mereka hanya menghasilkan konflik, yang kemudian percaya itu tidak akan menyakiti satu sama lain.

"Maafkan aku."

Ketika itu Jongin keluar dari ruangan. Sehun mendongak dan menatapnya, lelaki itu tersenyum kecil hampir begitu tipis sebagaimana ia mengikuti bentuk bibirnya sendiri.

Mereka duduk dan menghabiskan waktu bersama pikiran masing-masing. Terdiam di lorong sepi, menghirup aroma rumah sakit yang telah menjadi konsumsi sehari-hari. Keheningan dan kesedihan adalah teman terbaik di tempat ini, berpikir harapan menjadi satu-satunya cahaya kehidupan.

"Apa kau menyukai Kyungsoo? Maksudku... Kalian sudah berkencan cukup lama tanpa 'gangguan', lalu menikah dan benar-benar tinggal bersama."

Jongin terkekeh dalam satu hembusan napas. "Ya? Bagaimana aku harus memberimu jawaban?" Pria itu mengakui sendiri hubungannya dengan Kyungsoo.

"Kau harus menerima realitas dunia Jongin. Pemikiran yang memiliki sebuah harapan pun tidak bisa menggantikan dunia nyata. Bagaimana rencanamu ke depan?"

Jongin menarik napas dalam atas komentar Sehun barusan, menghembuskan pelan dan dia menatap ke langit-langit bangunan rumah sakit. Pria itu mencari sebuah kehangatan.

"Tentu saja. Aku mencintainya,,, kupikir Kyungsoo adalah cinta pertamaku. Maksudku, untuk pertama kalinya aku menginginkan seseorang untuk terus bersamaku selain kalian. Aku menikmati kehidupan bersamanya, kupikir semua akan baik-baik saja, sampai kemudian aku menyadari semuanya telah menjadi berantakan."

Pundak pria itu turun menunjukkan betapa dia sangat kecewa. Ini adalah tragedi terburuk dalam hidupnya. Bukan sekedar karena seorang wanita, melainkan karena itu adalah istrinya, Do Kyungsoo.

"Sehun-ah, sudah lama sejak terakhir aku melihatmu tersenyum padaku, sejak terakhir kali kau memanggil namaku..."

"Aku tidak mencintai istrimu. Percayalah." Sehun memotong ucapan Jongin membuat pria itu terdiam sejenak. Sebuah letupan kebahagiaan mendengar pernyataan Sehun barusan. Ia mengangguk cepat setelahnya.

"Aku percaya itu. Jadi? Maukah kau bekerja sama denganku mengatasi keegoisan masing-masing di antara kita?"

Sehun melirik Jongin. "Maksudmu?"

"Aku ingin mencari keberadaan Kyungsoo," ia menunduk. Meremas jemarinya kuat. Menahan perih yang menyesakkan dada. "Tapi aku tidak bisa begitu saja meninggalkan Luhan. Aku ingin memberikan Kyungsoo waktu untuk menenangkan diri, sampai saat aku menemukannya ketika itu juga aku tidak ingin menyakitinya lagi."

"Kau ingin aku membantumu bagaimana?"

"Aku, bahkan semua orang tahu jika kau mencintai Luhan."

"Tapi dia bertahan dengan keeogisannya dan kita tidak bisa berbuat apa-apa tentang kenekatannya."

Jongin mengangguk menyetujui ucapan Sehun. Mereka juga tidak mau Luhan menyakiti dirinya sendiri lagi.

"Aku tahu. Hal yang paling penting adalah menyembuhkannya terlebih dahulu, tapi aku sudah memikirkan ini selama satu tahun. Bisakah kau menyadarkannya? Aku... Benar-benar tidak bisa menjadikan Luhan seorang yang kucintai sebagai pasangan. Dia saudara yang ingin kujaga..."

Sehun menepuk pundak Jongin pelan. "Terkadang aku kasihan pada kita berdua. Bagaimana kita bisa terjebak dalam situasi seperti ini? Sampai kapan kita bisa bertahan? Kupikir mungkin semua berakhir ketika kau menemukan seseorang yang benar-benar kau cintai. Aku baru akan menyerah jika kau memilih Luhan. Tapi sepertinya aku harus membantumu Jongin."

Jongin tersenyum menatap Sehun. Apa yang telah mereka pikirkan? Sebuah kebohongan besar? Rasanya tidak. Mereka memutuskan mengakhiri kebohongan selama ini. Menanti sebuah hasil akhir yang mungkin bisa merubah segalanya. Sesuatu yang tidak mungkin dideskripsikan dengan baik, pengukuran tingkat keberhasilan pemikiran mereka masih terlalu rendah.

Tapi sebuah kebohongan?

Hanya itu yang mereka punya, itulah jati diri mereka saat ini. Tidak heran jika mereka melakukannya terhadap Luhan.


~ RoséBear~


"Apa? Oh? aku tidak bisa meninggalkan rumah sakit. Bisakah kau kemari membawa semua pekerjaanku? Akan kuselesaikan di sini."

Terlepas dari apa yang sedang dia lakukan, Jongin adalah seorang pekerja keras. Bukan hanya waktu yang dia tekankan melainkan keputusan yang bagus walaupun dia tidak menyentuh beberapa data mengenai pekerjaannya.

Dua hari sudah Kyungsoo meninggalkan Jongin, pria itu semakin buruk saja. Disetiap malam ketika memastikan Luhan tertidur, Jongin akan melangkah keluar dan berkeliling kota. Seperti petugas survey dia bahkan mendatangi beberapa hotel dan penginapan yang mungkin didatangi Kyungsoo.

Tentang pekerjaannya, Kyungsoo memang berkata dia telah mengambil cuti tapi itu terlalu mendadak. Sekretarisnya terpaksa ikut keluar masuk rumah sakit untuk mengantarkan beberapa berkas yang begitu penting.

Lelaki itu telah memaksa dirinya sendiri.

Sementara Sehun mencoba meyakinkan Luhan jika dia bisa mendapatkan pengobatan lebih baik di luar negeri dengan pengawasan langsung seorang dokter yang amat di kenal Sehun. Coba pikirkan risiko apa yang telah mereka berdua ambil dengan meyakinkan Luhan untuk kesembuhan dirinya sendiri.

"Apa artinya bisa berjalan dan melihat jika Jongin masih mencari wanita yang meninggalkannya setiap malam."

Mata sipit Sehun berkedip beberapa kali mendengar pernyataan Luhan. Wanita ini terlihat menahan emosinya.

"Karena Jongin mencintai Kyungsoo! Ini berbeda dengan wanita kencan biasa Lu. Kupikir kau lebih dewasa dari kami."

Sehun diam sejenak setelah melihat Luhan menunduk. Wanita ini tidak bisa melakukan banyak hal, dia hanya duduk terbaring di ranjang rumah sakit akibat perbuatannya sendiri, mendorong kursi roda berjalan menyusuri tangga keluar dan membuat terjatuh. Beginilah Sehun ketika Jongin berada di ruangan terpisah bersama sekretarisnya, lelaki tan itu juga masih harus memenuhi kewajibannya sebagai seorang atasan.

Ketika perdebatan kecil mereka menjadi keheningan, ketika itu pula orang yang Sehun yakini membuat keadaan semakin berantakan masuk.

Kris.

Bisakah Sehun berbuat jahat padanya? Seperti memberitahu keluarga Wu tentang kehadiran pria ini di rumah sakit pada setiap harinya. Mungkin dia akan mendapatkan teguran besar dari keluarga besar yang sangat terpandang itu. Tapi kemudian Sehun menjadi orang jahat bagi Luhan. Kris sedang membantunya mendapatkan pengakuan keluarga bangsawan itu.

Tentu saja Sehun tahu akan itu, tapi hanya dirinya. Semua dimulai dari ketidaksengajaan Sehun mendengarkan percakapan Kris bersama seseorang yang tidak dia kenal. Tentang Luhan yang bisa mengambil setengah harta milik Ayah kandungnya jika dia menjadi bagian dari keluarga itu sementara Kris, karena perbuatannya beberapa tahun lalu setelah membuat rusak nama keluarga Wu dengan sebuah kecelakaan yang menewaskan beberapa orang di jalan raya dia mendapat peringatan besar dari kakeknya. Satu satunya cara untuk Luhan kembali ke keluarga itu adalah jika dia berhasil menikah dengan Jongin. Luhan bisa mendapatkan sedikit bagian harta ayahnya, membagi bersama Kris terdengar sebagai rencana terbaik mereka. Bukankah keluarga Kim memiliki popularitas tinggi di kalangan pejabat pemerintah maupun pengusaha. Itu akan memperbaiki nama Luhan, hanya saja keluarga Jongin tidak akan memgambil risiko seburuk itu.

Kini Sehun menjadi tidak berdaya jika Kris telah tiba. Menjengkelkan jika harus berdebat dengan pria itu.

Ketika Kris mulai bicara mengenai keluarganya, tidaklah mengherankan jika muncul rasa tidak nyaman yang begitu hebat dengan keberadaan Sehun.

"Kris kau tiba?"

Saat itu nyonya Xi muncul dari balik pintu ruangan bersama Jongin. Menghentikan percakapan kedua anak manusia yang telah berhasi mengabaikan keberadaan Sehun.

"Sudah kukatakan jangan terlalu sering berkunjung. Kau meninggalkan pekerjaanmu lagi?"

"Aku sangat khawatir kepada adikku."

Dia hanya memberi jawaban singkat yang terdengar begitu menjijikan bagi Sehun. Saat itu nyonya Xi tersenyum tulus mendengar jawaban Kris. Perasaan Sehun atau memang ada sesuatu yang sedang disembunyikan wanita yang dia anggap sebagai ibu kedua baginya.

"Aku akan ke China dua hari lagi, kurasa aku akan bertemu paman di sana."

"Ayah? Bisa kau sampaikan salamku pada Ayah?"

Saat itu Luhan masih mendengarkan percakapan Kris dan Ibunya. Lelaki tinggi itu mengelus penuh kasih pada rambut Luhan.

"Tentu saja. Aku juga akan memintanya untuk membicarakan hubunganmu dengan Jongin kepada keluarga Kim."

Degh

"Apa?"

Saat itu Jongin yang sejak tadi hanya diam terkejut dengan perkataan Kris.

"Jongin? Kupikir kau akan memiliki hubungan yang pasti dengan Luhan. Sebenarnya... Aku akan menemui paman untuk mengakui Luhan bagian keluarga Wu."

Jongin tentu menggeleng. Kris seharusnya juga tahu seperti kedua orang lainnya. Jongin memang memiliki hubungan pasti dengan Luhan dan juga Sehun, hubungan pertemanan yang sudah seperti saudara. Tapi ekspresi seorang wanita menatap Kris tidak percaya.

Saat itu dokter tiba-tiba masuk ke ruangan. Memutuskan untuk membawa Luhan ke ruangan fisioterapi seperti sehari sebelumnya. Selama Jongin berjanji tidak meninggalkan rumah sakit, maka Luhan bersedia berada di ruangan itu dengan hanya bersama para dokter.

"Bisakah kita berempat bicara?

Dan sebuah getaran menyadarkan Sehun. Ia sedang membaca pesan yang masuk.

" Maaf Aunty, sepertinya aku harus pergi."

Lelaki Oh itu memiliki urusan pribadinya yang begitu mendesak membuatnya harus meninggalkan rumah sakit.

"Bibi? Kita akan bicara mengenai apa? Hubungan Jongin dan Luhan?"

Wanita itu menggeleng segera atas pertanyaan Kris.

"Luhan dan ayahnya."


To be Continue...


Terima kasih

RoséBear