(created-170717 : publish-180304)

AN: thank you for your times.

Maafkan aku membuatnya begitu lama. Ini sedikit mengecewakan. I really sorry dearest^^ I'll try to faster than every month. but, i hope you're fine with that.


CONTEMPORARY

[13th Chapter]

Present by RoséBear

[KaiSoo FF]

Content story: Sensitive subject matter, original fanfiction, GS, some typo


Di hadapan Jongin dan Kris, wanita itu mengakui sebuah rahasia yang selama ini telah disimpannya dengan sangat baik. Sebuah fakta mengejutkan mengenai hal yang tidak pernah terpikirkan oleh masing-masing dari mereka.

Luhan pada dasarnya bukanlah bagian dari keluarga Wu seperti yang mereka sangka selama ini. Pria yang mengurus kehamilan hingga kelahiran Luhan bukanlah Ayah kandungnya. Paman Kris bukanlah Ayah Luhan, melainkan seorang pria baik yang telah membantu pelayan di rumah mereka, -ibu Luhan. Tapi karena kebaikan itu dia menerima masalah dari keluarganya sendiri.

Nyonya Xi jatuh cinta pada seorang broker, bukan sekedar brokerseperti kebanyakan, tapi bagian dari mafia yang kemudian pada saat kehamilan bulan kelima lelaki itu tewas di tangan polisi setelah menjadi buronan bertahun-tahun untuk tindakan ilegalnya dalam penjualan obat terlarang serta senjata. Karena tidak ingin melihat nyonya Xi melahirkan Luhan tanpa Ayah, untuk itulah salah satu Wu membantunya lalu mengirim mereka ke Korea. Tapi ternyata menimbulkan masalah dikemudian hari. Masalah yang membuat salah paham di kehidupan seorang anak.

Kris terdiam mendengar pengakuan ibu Luhan. Jika seperti itu kenyataannya, sudah sewajarnya jika kakeknya menolak kehadiran Luhan. Tapi dengan begitu rencananya untuk mendapatkan bagian dari harta yang akan Luhan raih terhapus sudah.

Pria itu mendengus. "Jadi Luhan tidak memiliki garis keturunan keluarga Wu?"

Wanita tua itu mengangguk membenarkan. Dia harus mengatakan ini agar nanti Luhan tidak perlu merasa lebih sakit lagi jika Kris mendorongnya ke hadapan keluarga itu.

Sementara mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

Lalu apa yang sedang dipikiran oleh Jongin? Kenapa pria itu hanya diam bahkan tidak memiliki pertanyaan seperti Kris yang menumpahkan semua rasa penasaran dan semakin membuatnya kecewa. Bahkan lelaki itu meninggalkan rumah sakit begitu saja, sementara ibu Luhan mencoba memakluminya. Tapi dia tidak ingin Luhan tahu tentang Ayah kandungnya, lelaki itu bajingan walau cinta terkadang menutup semua kesalahan itu. Sementara Jongin, pikirannya setengah kacau.


~ RoséBear~


Malam semakin larut, kedua pemuda itu tidak saling bersahut. Sebab satu sama lain dari mereka tidak ingin menuntut. Dalam hidup yang ingin berlanjut, mereka tidak juga ingin menjadi pengecut.

"Kau terlihat lelah Jongin."

Lelaki itu mengangguk atas pernyataan Sehun. Ia baru kembali dan segera menarik selimut untuk menutup diri di atas sofa. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi hari, mereka seharusnya bergantian menjaga gadis itu, tapi Sehun tahu jika Jongin kelelahan setelah berkeliling mencari seseorang yang menghilang.

Udara dingin dan aroma antiseptik tidak mengganggu mereka seolah sudah terbiasa dengan hal itu, alih-alih mendekati Luhan yang tertidur, lelaki berkulit putih itu duduk menggeser keberadaan Jongin.

"Mau mengatakan sesuatu kepadaku?"

Jongin tersenyum kecil, dia membuka diri saat merasa terpanggil.

"Aku merindukan Kyungsoo."

"..."

Bukan ini jawaban yang Sehun inginkan. Jika Jongin memberinya jawaban spontan seperti ini, lelaki itu menjadi bingung bagaimana harus menanggapi keadaan. Namun dia memiliki kehangatan.

"Jangan khawatir. Aku percaya dia baik-baik saja..." Sehun mencoba menghilangkan kecanggungan di antara mereka.

Menyenangkan mendengar Sehun memanggil namanya lagi. Walau Jongin sedikit penasaran.

"Apa kau merasa kasihan padaku?"

Jongin bertanya membuat Sehun menatapnya bingung.

"Tidakkah kau sadar secara terus menerus memanggil namaku dalam beberapa hari ini?" ia mengutarakan pikirannya dengan segera.

"Kyungsoo yang memintaku. Dia memohon untuk suaminya. "

Sehun berkata cepat, menepuk celananya dan segera berdiri, lelaki itu tersenyum.

"Sesaat aku terpesona padanya. Tapi kemudian aku tahu kemana dia memandang, dia melihatmu dan kau pun sebaliknya." Ia memberitahu pria tan itu. Memupuk penyesalan karena dia kehilangan sosok mempesona itu.

"Sehun maafkan aku, mari kita buat Luhan bahagia."

Setiap waktu Sehun mencoba memahami maksud permintaan maaf Jongin. Tapi permintaan maaf sebelumnya selalu membuatnya senang, hanya saja emosi terkadang tidak stabil dan perasaan malu untuk meminta maaf membuat Sehun membangun tembok pembatas di antara dirinya dengan Jongin.

Permintaan maaf karena tidak bisa mencintai Luhan, Jongin benar-benar kesulitan tapi bukankah itu kabar menggembirakan untuk Sehun?

Hanya saja permintaan maaf kali ini kenapa terdengar berbeda.

Sehun pikir dia harus mengabaikan Jongin, lelaki itu butuh istirahat. Dia memiliki begitu banyak masalah dan sedikit waktu untuk membawa tubuhnya berbaring. Walau ragu Sehun memberi jawaban jika dia tidak akan mengganggu Jongin lagi. Sementara pikirannya berusaha keras memahami perkataan Jongin tentang membahagiakan Luhan.


~ RoséBear~


Ketika seseorang berusaha terlelap, maka di sisi lain dunia saat langit masih begitu jingga, -langit senja nan romantis.

"Kenapa kakak begitu kikuk!?"

"Ma-maafkan aku."

"Ya sudahlah. Kita pergi dari sini. Bagaimana jika ke London Eye?"

"London Eye?"

"Mari melihat langit sore kota London. Aku akan membelikan kakak ice cream."

"Tapi aku mau kopi."

"Ko - pi?"

Mereka bukan sepasang kekasih, tapi terlihat begitu simetris. Berjalan bergandengan tangan bukan untuk membagi kehangatan satu sama lain melainkan membuang perasaan egois. Sebab mereka berdua adalah saudara kandung yang dibesarkan di rumah berbeda dengan pegajaran tidak sama persis. Dan sekarang bagaimana sang adik lelaki sedang berusaha menjaga Kakaknya agar tidak tersesat di tengah hiruk pikuk ramainya kota London yang romantis.

London?

Ya. Do Kyungsoo melakukan perjalanan kemari. Dia melakukannya seorang diri.

"Hah! Segeralah mendapat pekerjaan. Jika begini, kau bisa menghabiskan uang bulananku Kak."

Jeno.

Lelaki itu mengeluh untuk kesekian kalinya sejak kehadiran Kyungsoo. Saudara perempuan yang begitu disayanginya. Tapi dia tidak bisa menolak kehadiran Kyungsoo yang mengejutkan setelah menyadari kesedihan di mata Kakaknya.

"Aku tidak mengerti kenapa waktu itu aku mau saja menerima panggilan dari orang asing."

Kyungsoo hanya menampilkan deretan gigi putih nan rapi untuk mengelak dari kekesalan adiknya. Dia senang berjalan bersama Jeno untuk saat ini, melihat hal baru dan di sinilah mereka membuat memori. Menghadap London eye dengan secangkir kopi di masing-masing tangan. Mengantre untuk bisa memasuki kapsul melayang itu.

"Woaghh!"

Seruan Kyungsoo membuat Jeno tersenyum senang melihat saudara perempuannya mengangumi Kota London. Sejak tiba Kyungsoo memang beberapa kali tersenyum namun terlalu dipaksakan hingga pagi ini dia membangunkan Jeno paksa meminta pria itu mengantarnya berkeliling Kota. Sesuatu yang sangat aneh dan begitu mengejutkan.

Mereka telah berjalan kaki, menyewa beberapa mesin berjalan, mengikuti tour kota London menggunakan bus dua tingkat dan sekarang berakhir di London eye. Pemandangan spektakuler di luar sana terkalahkan oleh senyum bahagia Kyungsoo.

'Bagaimana lelaki itu bisa menyia-nyiakanmu kak?' Dalam hati dia masih bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi hingga Kyungsoo melarikan diri kemari. Meminta Jeno tidak memberitahu siapapun tentang keberadaannya.

Tapi Kyungsoo terlalu aneh.

"Kakak menghabiskan kopi itu?"

Mata lelaki itu melotot melihat paper cup di tangan Kyungsoo sudah kosong. Wanita itu bahkan hanya mengangguk membenarkan ketika mereka memulai kembali perjalanan.

Mata bulat Kyungsoo mengitari area sekitar, seolah mencari tempat yang akan mereka kunjungi selanjutnya.

"Aku mau itu!"

Jari telunjuk Kyungsoo membawa pandangan Jeno pada...

"Pizza?"

Kyungsoo mengangguk semangat. Ia berlari ikut menarik tubuh Jeno melewati orang-orang. Berkali-kali lelaki itu menabrakkan orang asing dan segera meminta maaf sebelum menimbulkan masalah di kemudian.

Namun pada akhirnya Kyungsoo tertidur dengan pulas, wajahnya begitu damai membuat tubuh lelah Jeno yang menggendong Kyungsoo kembali ke apartemennya merasa tenang.

Lelaki itu menyelimuti Kyungsoo segera. Mencium keningnya dengan lembut.

"Jongin."

Langkah Jeno berhenti ketika Kyungsoo menarik ujung kemeja yang dia gunakan. Setengah bingung Jeno memilih berdiam diri.

"Jong-in."

Seketika bibir hingga tenggorokkannya terasa kering. Ia harus mengelap bibirnya sendiri dengan lidah, lelaki itu duduk di atas karpet dan membelai lembut wajah Kakaknya.

"Tenanglah... Jika dia memang pria baik. Aku yakin dia akan menjemputmu. Tapi sebelum itu biarkan aku memukulnya karena membuatmu menangis!"

Jari telunjuk lelaki itu mengusap air mata Kyungsoo yang mengalir.

"Jongin, maaf."

Bagaikan terhimpit di antara dua bangunan, dia merasa begitu sesak dan sakit mendengar Kyungsoo menangis. Tidak pernah Jeno mendengar Kyungsoo menangis seakan dia benar-benar menderita. Tapi kenapa saudara perempuannya harus meminta maaf?

"Apa yang terjadi sebenarnya? Kau melarikan diri karena apa? Bagaimana aku harus bertanya padamu Kak? Tapi aku pastikan besok kita bertemu seseorang yang akan kau sukai. Dia temanku, kita bisa merencanakan sesuatu bersama-sama."

Dia masih saja duduk di atas karpet. Lelaki itu menjatuhkan kepalanya di atas ranjang, memandang wajah Kyungsoo yang berlangsung tenang secara perlahan. Barulah dia memilih tidur di atas sofa ruang tamu dan meninggalkan Kyungsoo seorang diri.


~ RoséBear~


Jika kemudian mengetahui tentang hal buruk yang telah terjadi pada kehidupan, mendengar orang yang bahkan akan ditolong kemudian, mengukur sendiri bagian yang membuat diri sendiri begitu menderita dan merasa terabaikan.

Ia memilih kehilangan pekerjaan, kehilangan sahabat penting dan satu-satunya hal lebih buruk adalah setelah membandingkan perasaannya yang tidak pernah berbalas dan menekan emosi, ia pantas melakukan sesuatu untuk memperbaiki hidup.

Kemudian, ia mengambil jalan yang luar biasa setelah perdebatan bodoh pagi ini.

"Aku tidak ingin menyerah mengenai Jongin. Kau tahu betapa aku menyukainya sejak lama, perasaanku sakit setiap melihatnya bersama wanita lain."

Pagi itu Sehun hanya duduk bersama Luhan, menemani wanita itu sementara Ibunya memiliki urusan pribadi dan Jongin memiliki jadwal rapat yang amat penting untuk pempertahankan pekerjaannya, -itu yang lelaki tan katakan pagi ini.

Perdebatan mereka dimulai ketika Luhan mencari keberadaan Jongin. Oh astaga! Sehun sudah bekerja seharian kemudian malam hari dia juga menjaga Luhan lalu sekarang kepalanya terasa pening ketika Luhan tidak mempercayainya.

"Kau tiba?" ia bertanya sakratis.

Ketika itu pintu ruangan terbuka. Jongin muncul dengan wajah kusut dan butuh sedikit sapaan. Pria itu juga lelah setelah berjaga berhari-hari di rumah sakit, jika memiliki waktu keluar dia juga akan segera mencari keberadaan istrinya. Berjalan keluar seperti seorang zombie, Jongin sangatlah mengerikan. Sehun pikir lelaki itu seharusnya sakit agar bisa berbaring di ranjang rumah sakit.

"Oh Maaf. Aku harus bertanggung jawab terhadap pekerjaanku."

"Jongin? Bukankah kau sudah memiliki cuti?"

Jongin mengangguk walau sadar Luhan tidak akan melihat itu.

"Ya. Aku tahu itu, tapi aku tidak bisa mengecewakan tempatku bekerja Lu."

Jongin mengambil posisi berdiri di sebelah Sehun setelah melepaskan mantel yang dia kenakan.

"Apa kau takut pada Ayah Kyungsoo?"

Ketika itu Jongin langsung melepaskan tawanya! Sejujurnya dia sangat takut, tapi Jongin harus bisa mengatur emosinya. Ia mengerti maksud dari perkataan Luhan adalah sebuah sindiran.

"Lupakan tentang itu. Apa yang dikatakan dokter pagi ini?"

"Dokter bilang Luhan membutuhkan terapi lanjutan,,,"

"Butuh waktu lama untukku bisa berjalan lagi."

Luhan memotong ucapan Sehun membuat suasana kemudian hening detik itu juga. Mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing, dunia sempit yang hanya mereka ciptakan untuk menyendiri bersama masalah. Ketiganya menunduk mencoba berpikir mengatasi masalah bersama.

"Jongin, apa kau mau tinggal bersamaku?"

Degh

"Ya. Kurasa aku bisa mulai tinggal bersama kalian."

Dalam satu menit dia mendapat dua hantaman telak yang begitu menyiksa.

Sehun.

Lelaki itu menatap Jongin tidak percaya. Apa yang dipikiran Jongin dengan memberi jawaban semacam itu pada Luhan, kenapa ini begitu tiba-tiba.

"Aku perlu bicara denganmu."

Tidak peduli Luhan akan menanggapi bagaimana, Sehun menarik Jongin keluar dari ruangan.

"Kami hanya akan pergi sebentar."

Ia menutup pintu ruangan meninggalkan Luhan yang masih menginginkan kepastian Jongin. Tapi mendengar pengakuan pria itu saja sudah membuatnya sangat senang hingga memberi waktu kepada Sehun untuk bersama Jongin.

Lelaki itu mendorong tubuh Jongin membuat punggungnya menyentuh tembok rumah sakit.

"Apa kau sadar tentang yang kau katakan padanya? Aku tahu kita terbiasa membohonginya sejak dia sadar tapi tidak dengan mengambil jalan..."

"Aku tidak berbohong jika kau bertanya tentang tinggal bersama."

Sehun berdecih mendengar jawaban Jongin. Apa yang pria ini pikirkan, bukankah kemarin malam mereka baru membuat rencana untuk menyadarkan Luhan dengan membatasi pertemuannya dengan Jongin, tapi jika tinggal bersama itu artinya membuat Luhan akan sangat berharap.

"Jika kau ingin menukar Kyungsoo dengan Luhan. Aku akan mengatakan padamu, aku tidak menginginkan Kyungsoo. Aku bersungguh-sungguh."

Sehun berusaha menegaskan tapi Jongin tidak membenarkan perkataan Sehun barusan.

"Jika kau mengetahui kebenarannya. Apa yang akan kau lakukan jika menjadi diriku!?"

Jujur saja, barusan dia bertanya dengan setengah berteriak karena frustasi. Jongin menggigit bibir bawahnya kuat, ia menunduk membuat air mata mengalir begitu saja. Sehun tercekat melihat Jongin menangis.

"Sudah kukatakan aku merindukan Kyungsoo... Pagi ini aku tidak memiliki rapat, aku mencarinya tapi tetap tidak menemukannya di manapun. Aku bahkan membuat panik satu-satunya wanita yang pernah berteman dengan Kyungsoo."

Baekhyun.

Sehun juga sudah mendengar mengenai hal itu. Isteri dari pemilik restoran yang baru saja mengembangkan usahanya di Kota ini adalah satu-satunya wanita yang pernah pergi keluar bersama Kyungsoo.

"Tapi kenapa harus membuat keputusan segila ini? Aku ingin bertanya di mana letak otakmu Kim Jongin!?" Ia balas meneriaki Jongin.

"Otakku sudah tidak berfungsi dengan baik ketika Kyungsoo meninggalkan aku!"

Sehun terkejut tapi kemudian dia membalikkan badan. Dadanya naik turun menahan emosi yang siap meluap kapan saja sementara Jongin menangis di hadapannya.

"Berikan aku alasan yang masuk akal Kim!?"

Panggilan itu lagi. Sekarang Jongin tahu jika Sehun masih sangat marah padanya. Tapi kali ini mungkin lebih marah dari sebelumnya.

Jongin menjelaskan dengan pelan. Semua tentang apa yang nyonya Xi katakan padanya dan Kris.

Detik itu juga Sehun terdiam, kenapa mereka harus mengenal Luhan? Kenapa wanita itu harus menerima begitu banyak kehidupan rumit? Tidak bisakah dia segera mendapatkan kebahagiaannya?

"..."

Jongin menjatuhkan dirinya ke lantai, membawa punggungnya menggores dinding koridor rumah sakit. Lelaki itu menarik lutut dan menenggelamkan kepalanya.

"Sejak kecil hanya kalian berdua yang selalu bersamaku. Luhan telah menjaga kita dengan baik, tidak pernah sekalipun ada yang berani menyakitiku karena dia selalu menjadi malaikat pelindung. Bisakah sekali saja dia mendapatkan apa yang dia inginkan?"

Ingin rasanya Sehun berteriak dan mengumpat. Tapi sepertinya otak Jongin benar-benar tidak berfungsi lagi ketika Kyungsoo meninggalkannya. Ini membuatnya semakin frustasi.

Berangsur lelaki itu mengambil posisi duduk di sebelah Jongin. Napasnya meluncur pelan berkali-kali berusaha menenangkan diri sendiri. Sehun membawa pandangannya lurus, menatap masa lalu mereka ketika ketiga pasang kaki mungil masih bisa berlari dengan bebas, menceburkan diri ke sungai di bawah jembatan dekat sekolah, berbaring di atas rumput lapangan bola dan menatap langit biru cerah bersama-sama. Melempar bola salju dan berbagi satu selimut tebal di atas sofa dengan tiga cangkir coklat panas di atas meja.

"Mungkin kau benar... Sudah seharusnya kita mengakhiri semua ini. Tapi kupikir dia sudah mendapatkan kebahagiaannya sejak pertama kita masuk ke dalam hidupnya. Hari itu, ketika dia mendekati kita dan bertanya apa yang kita lakukan, ketika dia bergabung di ayunan taman bermain. Aku bisa mengingat dia tersenyum sembari menggandeng tangan kita berdua dengan tatapan lurus ke depan. Kim, kuharap kau mengerti. Membahagiakan Luhan bukan berarti harus menyakiti banyak orang. Jika suatu saat dia sadar orang-orang didekatnya tidak bahagia. Kau bisa bayangkan bagaimana perasaan Luhan? Sekarang dia hanya kehilangan perasaannya setelah di tolak keluarga Wu. Ingat, penolakan Itulah yang membuat dia seperti ini."

Terlalu banyak kata yang Sehun ucapkan membuat Jongin merasa pening tapi dia tidak sanggup menghentikan Sehun.

"Kuharap dia juga tahu jika dia bukan bagian keluarga Wu. Jadi dia bisa memiliki harapan tentang cinta ayahnya terlepas dari siapa lelaki itu sebenarnya."

Sehun berdiri, ia ingin meninggalkan Jongin sendirian.

"Kau mau kemana?"

"Menyelesaikan urusanku."

Sehun berhenti sebentar untuk menjawab pertanyaan Jongin. Pria itu memilih pergi meninggalkan tempat sempit yang telah menyiksa dirinya, membawa mobil melaju menjauhi bangunan rumah sakit.


~ RoséBear~


Sehun berhenti di sebuah sekolah. Ah! Itu adalah sekolah lama yang pernah membuatnya belajar banyak tentang pengetahuan. Rumput yang masih hijau dengan beberapa permainan serta jalan setapak menuju bangunan utama. Lelaki itu memarkirkan mobil di pinggir jalan, beberapa anak hanya melewatinya, sekarang sudah siang hari ketika anak-anak itu mendapatkan jam pulang.

Lelaki itu mendudukkan diri di salah satu ayunan, kakinya menapak rumput dan mengayun begitu pelan. Udara dingin dengan awan gelap di atas sana berhasil membuat kesimpulan.

Semua tentang penyesalan.

"Hahh," napas lelaki itu meluncur begitu saja. Begitu lembut dan juga hangat.

Orang-orang menjadi tidak peduli, mengabaikan bagaimana Sehun meneguk minuman kaleng yang sempat dia beli di salah satu minimarket dalam perjalanan kemari.

Sudah berapa banyak dia berpikir.

"Jika aku tidak ada di dalam cerita kalian. Bagaimana hidupku?"

Sekali lagi napasnya meluncur sebelum dia merasakan rintik hujan jatuh, Sehun segera bangkit. Ia kembali ke dalam mobil setengah berlari.

Ada hal yang memang harus dia lakukan. Lelaki itu kemudian menghubungi seseorang.

"Aku ingin berkunjung."

Bibir tipisnya tersenyum kecil kemudian kembali melajukan mobil ke sebuah bangunan.

Lelaki itu perlu menemui ayahnya di sebuah gallery seni. Ketika kaki melangkah memasuki bangunan dua tingkat itu, Sehun kemudian tersenyum... Yah, ayahnya hanyalah seorang pecinta seni dan menghabiskan hari-hari di gallery seni miliknya. Tetapi mereka tidak pernah sepi akan pengunjung. Lihatlah bagaimana pria tua itu masih menjadi pemandu untuk beberapa wanita dan pria tua asing yang berkunjung melihat koleksi terbuka miliknya padahal gallery seni ini akan di tutup dalam hitungan jam. Di mana beberapa lukisan telah terbungkus dengan tali dan siap di terbangkan ke luar negeri menemui rumah baru mereka.

Sementara ayahnya bekerja, Sehun bisa menyeduh secangkir teh hangat di dalam ruangan pribadi milik sang Ayah.

Dia hanya memperhatikan bagaimana ruangan ini bisa sangat membuat nyaman, sebuah jendela langsung menghadap ke jalanan, tepat pada sebuah halte yang telah berdiri kokoh dan sangat lama di sana.

"Kau mengambil tempat Ayah memperhatikan orang-orang?"

Pria itu berbalik dan tersenyum mendapati ayahnya telah berjalan mendekat.

"Ada apa pria sesibuk dirimu berkunjung kemari?"

Sehun belum membalas pertanyaan ayahnya. Dia memeluk pria tua itu cukup erat.

"Bagaimana jika aku ikut denganmu?"

Pelukan mereka terlepas segera.

"Maksudmu? Wanitamu menerima tawaran pengobatan itu?"

Sehun menggeleng segera. "Hanya aku."

"Owhh sayangku, apa yang terjadi pada pria kecil Ayah? Kenapa ini begitu tiba-tiba?"

Lelaki tua itu mengambil teh yang diseduh Sehun kemudian duduk di kursi kulit kebanggaannya. Menerima Sehun yang kemudian mendudukkan diri di sofa.

Ia bercerita banyak hal membuat mata ayahnya berkaca-kaca. Pria kecilnya sedang patah hati. Sebagai Ayah, apa yang bisa dia lakukan? Hanya memeluk dan mengusap punggung lebar itu. Berkata semua akan baik-baik saja.

"Kalau begitu, mari kita mulai hidup di kota baru bersama, hanya ada kita berdua. Uhmm mungkin beberapa saudara jauh yang menggemaskan."

Lelaki ini telah ditinggalkan istrinya cukup lama, satu-satunya wanita yang sangat dia cintai. Untuk itulah pria Oh memutuskan mengenang cinta pertamanya yang telah pergi, dia adalah pria romantis.

Menuju sebuah negara di mana dia pernah memulai kehidupan dan menemukan kekasih sejatinya.

"Ayah akan membawamu ke banyak tempat yang memiliki makanan enak. Kapan kau akan berkemas?"

"Kalau begitu aku akan segera berkemas. Aku sudah siapkan tiket penerbangan untuk kita."

Lelaki tua itu menggeleng dengan menggoyangkan jari telunjuknya, tidak setuju dengan perkataan Sehun.

"Susul Ayah besok sore. Seharusnya kau menyiapkan perpisahan yang baik untuk teman-temanmu. Kalian telah tumbuh bersama-sama, jangan meninggalkan mereka secara tiba-tiba. Mereka pasti akan sangat kehilanganmu nantinya."

Sehun menghembuskan napasnya berat. Dia memang harus berpamitan pada mereka.

"Baiklah. Aku akan berkemas lalu menemui mereka."


~ RoséBear~


Sementarawaktu berjalan, dia tiba di rumah Luhan.

Kakinya mulai melangkah masuk, satu persatu lampu ia nyalakan dan rumah itu menjadi sangat terang. Sehun melangkah dengan pelan, satu persatu anak tangga ia pijaki dengan hati-hati. Membawa pandangan matanya menerawang pada ruangan kosong yang dahulu pernah mereka isi. Ada dirinya, Jongin dan tentu saja anak pemilik rumah ini, Xi Luhan.

"Hahhhh," napas berat Sehun sekali lagi meluncur begitu saja. Ia berhenti di anak tangga terakhir.

"Kyungsoo telah menyerah terhadap Jongin, kupikir ini saatnya aku juga menyerah terhadapmu Luhan."

Lelaki itu.

Seorang diri dia mengemasi barang-barangnya, dengan bantuan seseorang dia mengurus kepindahan pekerjaannya yang mendadak.

Namun kemudian sesuatu membuat dada Sehun berdetak kuat ketika dia mengemasi barang-barangnya. Astaga! Dia melewatkan sesuatu yang penting, bagaimana dia bisa tidak menyadari hal itu. Segera, Sehun mengambil kunci mobilnya. Membawa langkah kaki panjangnya secepat mungkin untuk kembali ke rumah sakit ketika langit mulai gelap.

Saat itu rupanya Jongin sedang pergi. Sementara ia melihat ibu Luhan mulai mengantuk.

Berapa lama dia habiskan menemani Luhan untuk memastikan jika Ibunya sudah tidur.

"Jongin."

Wanita itu terbangun karena Sehun membelai wajahnya.

"Ini aku," suaranya ringan namun begitu dingin.

"Sehun-ah? Ada apa? Di mana Jongin?"

"Aku harus bicara denganmu... Kau tidak bisa menolaknya Lu. Mungkin ini terakhir kali kau akan bicara denganku."

"A-apa maksudmu? Dan di mana Jongin?" Suara Luhan mulai meninggi membuat Sehun menarik napas dalam.

"Jongin mencari Kyungsoo."

Degh

"A-apa maksudmu Sehun!?" Kini dia setengah berteriak. Lelaki itu duduk di pinggir ranjang, membantu Luhan untuk duduk berbaring, wanita itu mulai menjadi gelisah.

"Tidak perlu panik. Dia akan kembali beberapa jam lagi jika belum menemukan istrinya dan aku pikir dia tidak akan menemukan istrinya malam ini. Aku butuh bicara denganmu."

Luhan menghela napasnya. "A-ada apa?"

Banyak hal yang Sehun bicarakan membuat Luhan menunduk, Sehun terlalu memojokkannya walau setiap kata yang terucap begitu penuh perhatian. Tapi Luhan memang harus tahu, Sehun tidak akan menyesal. Sama sekali tidak akan menyesal setelah mengatakan jika Luhan bukan bagian keluarga Wu dan dia juga mengatakan siapa ayahnya yang sebenarnya dan lelaki itu sama sekali tidak membohongi Luhan prihal apapun termasuk sesuatu yang bahkan dia sendiri baru mengetahuinya.

"Aku berkata serius, tidak pernah terpikir olehku untuk membohongimu."

"Aku kembali."

Kedua orang itu mendengar suara lelah Jongin. Rupanya pria itu baru saja kembali dan dia juga memandang bingung pada sambutan mereka.

"Kau belum tidur Lu?" Jongin bertanya pelan sembari berjalan mendekat. Ia tersenyum canggung pada Sehun, membuat lelaki itu memilih bangkit dari tempat duduknya.

"Hm?"

"A-aku baru mau tidur. Sehun-ah, kau bisa membantuku?"

Kedua lelaki itu saling memandang satu sama lain. Tangan Jongin baru saja akan membantu Luhan tapi kemudian ia menarik diri membiarkan Sehun melakukannya.

"..."

Tiba-tiba tidak ada percakapan apapun di antara mereka. Terlalu bingung dengan pikiran masing-masing dan pertanyaan yang tidak bisa dikeluarkan. Mereka menyimpan hal-hal membingungkan di dalam hati masing-masing.

Jongin menepuk pundak Sehun.

"Kau tidak tidur?"

Sehun mengangguk. "Kau masih mencarinya?"

Lelaki tan itu menghela napas, seperti akan menangis kemudian menutup wajahnya dengan satu telapak tangan.

"Aku sangat merindukannya."

Sehun mendengar pengakuan itu, begitu jujur dan penuh kerinduan yang tidak pernah Jongin tunjukkan pada siapapun. Bahkan ketika Luhan tidak sadarkan diri, lelaki ini memang menangis tapi sesuatu itu terasa seperti penyesalan, atau mungkin permintaan maaf.

Sementara karena mencari keberadaan Kyungsoo, semua perasaannya bercampur aduk, mengacau jalan pikiran Jongin untuk berpikir lebih baik.

"Kalau begitu tidurlah, aku bisa menjaga Luhan malam ini."

Jongin melirik sebentar pada wanita itu, dia begitu tenang ketika berbaring.

"Ya. Terima kasih banyak."

"Jongin!?"

"Hm?" Jongin berbalik menatap Sehun. Pria ini memanggil namanya kembali membuat bibir tebal Jongin tertarik membentuk sebuah senyum tipis.

"Tidak ada."

Tiba-tiba saja Sehun menjadi ragu untuk berpamitan pada Jongin, lelaki itu terlalu lelah.

"Uhm... Aku akan tidur beberapa jam saja."


~ RoséBear~


Bagi sebagian orang, malam ini terlalu dingin dan ia sangat menginginkan sebuah pelukan hangat.

"Jangan berbalik badan."

"Jika aku berbalik..."

"Jongin!"

"Aku tidak bisa tidur. Nenek terbiasa membacakan dongeng untukku."

"Jika kau memesan sesuatu aku akan membiarkanmu memelukku."

"Jongin kumohon!Berhenti!"

Bahkan dalam mimpi pun ucapan Kyungsoo seperti tersihir dan mendatangi Jongin. Pemuda itu meringkuk di atas sofa, memeluk dirinya sendiri seperti bocah idiot.

"Kyungsoo sayang, aku tidak mabuk."

"Aku, aku hanya merindukanmu Soo."

"Sayang, kau dimana?"

"Kyungsoo, aku mencarimu."

"Maafkan aku Soo. Aku berjanji, aku akan berubah."

"Sekarang kau dimana? Aku tidak bisa hidup tanpamu."

Lelaki itu mengigau dengan sangat buruk di dalam ruangan rumah sakit, dia begitu merindukan istrinya. Wanita manis yang sekarang meninggalkannya dengan satu keputusan terbodoh.

"Jangan dibangunkan."

Pria itu berhenti setelah langkah pertama. Suara Luhan sejujurnya setengah bergetar ketika menahan Sehun agar tidak membangunkan Jongin. Saat itu di luar udara masih sangat dingin sementara langit begitu gelap. Ketika Luhan terusik oleh suara berisik yang Jongin ciptakan. Tidak hanya Luhan, tetapi Sehun dan nyonya Xi juga merasa kasihan pada pemuda itu. Dia begitu merindukan istrinya, bahkan air mata mengalir di wajah Jongin.

Sehun menarik napas dalam.

"Tidak pernah aku melihat dia begitu mencintai seseorang melebihi kita. Kyungsoo memang berbeda Lu, bahkan dia tidak pernah sekalipun protes..."

"Berhentilah memojokkanku Sehun!"

Sehun terdiam.

"Kau benar. Cintamu pada Jongin lebih besar." Dia berbalik menatap ibu Luhan. "Mom, aku harus mengantar Ayah ke bandara. Dia mendapat penerbangan yang begitu pagi."

"Apa kau akan pergi bersamanya?"

Setengah jam yang lalu saat ibu Luhan tiba-tiba terbangun Sehun telah menunggunya dan menceritakan semuanya. Termasuk kepergiannya.

"Tidak. Aku masih harus berkemas. Kupikir sore ini aku akan pergi."

Sehun melirik Luhan yang masih mendengarkan suara berat Jongin. Sesekali pria ini mengejutkan mereka dengan gumamannya.

"Sehun-ah, bisakah kau kembali siang ini? Aku masih harus bicara denganmu."

Ketika itu Sehun segera mengangguk walau sadar Luhan tidak melihat itu. "Kau sudah memikirkan perkataanku semalam?"

"Aku masih harus memastikannya."

Seketika senyum Sehun memudar mendengar jawaban Luhan. Wanita ini rupanya masih sangat keras kepala. Bagaimana dia bisa memastikan ketika hatinya menjadi sekeras batu.


~ RoséBear~


Tetapi, sikap dan sifat seseorang dalam menanggapi sebuah situasi sering kali berbeda. Misalnya, ketika seseorang menjadi begitu posesif. Kita tidak boleh langsung menyebutnya kolot, bagaimana jika dia menyimpan kesedihan mendalam, jika tiba-tiba kita menjadi sangat marah maka hal itu hanya akan membuat dia tersakiti, pertahanannya runtuh seketika.

"Apa kau sangat mencintai Kyungsoo?"

Jongin terkejut mendengar pertanyaan Luhan yang tiba-tiba ketika dia sedang menyuapi perempuan itu untuk sarapan. Jongin baru saja menyelesaikan pertemuan singkat dengan sekretarisnya, ia terlihat berantakan. Sangat berantakan dengan wajah mengantuk, kulit pucat, suara parau serta beberapa bulu halus yang mulai tumbuh di sekitar wajahnya.

Bingung harus menjawab apa, tapi Jongin memilih untuk jujur.

"Ya. Kupikir ini pertama kali aku mencintai seseorang dan begitu takut kehilangannya."

Jongin tertawa geli, menertawakan kebodohannya sendiri atas ucapan barusan.

Luhan meremas jemarinya yang bertautan.

"Apa kau tersiksa menemaniku di sini?"

Degh

Jongin mengehela napas beratnya. Tangannya meletakkan sendok dan beralih ke wajah Luhan, menghapus jejak air mata yang tiba-tiba menetes.

"Aku tidak bisa melihat, aku bahkan tidak bisa berjalan dengan baik. Aku merepotkan kalian. Ayahku seorang bajingan yang meninggal bahkan sebelum aku lahir ke dunia ini."

Jongin dan nyonya Xi terkejut mendengar ucapan Luhan. Tapi mereka memilih menahan suara ketika menyadari Luhan mulai terisak. Jongin benar-benar meletakkan mangkuk berisikan bubur ke atas meja, ia berdiri dan menarik Luhan dalam sebuah pelukan.

"Sssttt jangan menangis lagi. Ibumu akan sedih jika mendengarmu berkata begini. Lagipula dokter bilang kau akan bisa berjalan lagi dan aku..."

"Jongin! Jika memiliki pilihan untuk mendekati aku atau Kyungsoo. Kau akan mendekati siapa?"


To Be Continue...


well, thank for all support even if I'am really fixed schedule for any of my story. and hopefully you'll stick with me till the end because... there won't be too many chapters to this story anymore ^^

Thank You

RoséBear