(created-170803: publish-180328)

CONTEMPORARY

[14th Chapter]

Present by RoséBear

[KaiSoo FF]

Relationship – Family – Friendship – Love - Comfort - Sacrifice - Hurt

Content story: Sensitive subject matter, original fanfiction, GS, some typo


"Jongin! Jika memiliki pilihan untuk mendekati aku atau Kyungsoo. Kau akan mendekati siapa?"

Tubuh Jongin terasa membeku. Suatu pilihan yang sulit tapi sejujurnya pria itu telah memiliki jawaban yang pasti. Tidak ada jawaban segera dari Jongin, membuat tangan Luhan meremas kemeja yang digunakan pria itu untuk memeluknya.

"Dekatilah seseorang yang membuatmu lebih baik."

Jongin mengendurkan pelukannya, ia mengintip bagaimana Luhan telah menjadi seperti biasanya, begitu dewasa dan...

"Jangan salah paham. Aku tidak berharap kau kasihan padaku."

Jongin menggeser tubuhnya untuk duduk di sisi ranjang, masih dengan memegang kedua pundak Luhan. "Sebelum mengatakan pilihanku, bolehkah aku memuji cara pikirmu? "

Luhan mengangguk pelan. "Aku sudah dewasa Jongin."

"Pola pikir seperti inilah yang membuatku menyayangimu Lu. Kau tidak pernah ingin dikasihani. Tapi Lu, aku sangat mencintai Kyungsoo. Tidak pernah aku mencintai seorang wanita seperti perasaanku padanya. Aku menjadi begitu terbuka padanya, begitu mengharagainya. Bagi orang sepertiku, Kyungsoo memiliki aura luar biasa."

Luhan menundukkan kepala mendengar pengakuan Jongin, pria ini benar-benar menginginkan istrinya. Dia mengagumi istrinya, tidak hanya itu dia sangat mencintai Kyungsoo.

"Tapi bagaimana denganmu? Kyungsoo menghawatirkanmu, aku..."

Jongin menangis, suara isakannya begitu memilukan. Dia sudah menahan hal ini berhari-hari, tapi pada kenyataannya dia tersakiti.

"Aku baru saja memikirkan banyak hal. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu, aku ingin menyerah dan tidak ingin bicara lagi denganmu dalam waktu dekat."

Jantung Jongin berpacu mendengar ucapan Luhan. Ia menatap marah pada Luhan. Tangannya yang masih di pundak perempuan itu meremas kuat membuatnya meringis kesakitan. Luhan mencoba menahan diri untuk kembali menjelaskan.

"Aku ingin menyerah dan pergi, melakukan sesuatu yang lebih baik. Aku ingin bisa berjalan dan melihat lagi, aku akan ke luar negeri bersama Sehun untuk melakukan pengobatan, ini adalah sebuah langkah yang telah kupikirkan dengan matang. Mungkin butuh beberapa tahun untuk tidak saling berhubungan atau mungkin..." Dia memberi jeda sebelum mengeluarkan kata berikutnya.

"...selamanya."

"Maksudmu? Kalian akan meninggalkan aku sendirian?"

Suara Jongin meninggi membuat ibu Luhan khawatir. Itu memang rencana mereka tapi tanpa memikirkan perasaan Jongin.

"Arghh!"

Wanita itu berteriak tidak bisa menahan rasa sakit yang Jongin timbulkan membuat pria itu tergagap dan melepaskan pegangannya segera.

"Pertimbangkanlah Jongin."

Ketika itu ibu Luhan mendekati keduanya. Ia menepuk pelan pundak Jongin.

Mereka sama-sama menyadari hal ini bahkan sulit untuk dibayangkan, bagaimana mereka bisa meninggalkan Jongin sendirian setelah kekacauan ini.

"Jika ini keputusan yang telah kalian buat tanpa melibatkan aku. Lakukanlah."

Jongin beranjak. Dia meninggalkan ruangan itu sekalipun Luhan berteriak memanggilnya.


~ RoséBear~


Perasaan lelaki itu menjadi kacau, dia menangis seorang diri di koridor rumah sakit. Membuat beberapa orang menatapnya aneh namun tidak terlalu peduli. Rumah sakit itu terlalu identik dengan perasaan sedih. Hal serupa sudah biasa terjadi.

Berapa banyak waktu yang telah dia habiskan untuk sekedar meringkuk di atas lantai dingin koridor rumah sakit. Menarik kedua lutut dan memeluk tubuh yang begitu lemah.

Jongin mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, pria itu membuka gallery dan segera menemukan ratusan gambar Kyungsoo. Ponsel itu milik Jongin, yang telah dia gunakan untuk memotret beberapa kegiatan Kyungsoo ketika wanitanya terlalu fokus dan mengabaikan sekitar.

"Kau di mana? Apa kau sudah makan? Apa kau baik-baik saja sayang?"

Berulang kali dia menanyakan hal yang sama namun tidak sekalipun Ia mendapatkan jawaban pasti.

"Maafkan aku."

Dia menangis lagi. Mengeluarkan air mata tanpa perasaan malu sedikitpun.

"Aku merindukanmu. Apa kau tidak peduli padaku lagi? Kau membenciku?"

Sudut rumah sakit yang menyesakkan, bahkan untuk bernapas saja rasanya sangat sulit. Dia telah berada di rumah sakit ini untuk waktu yang cukup lama, keluar hanya untuk mencari keberadaan istrinya. Tidak ada tempat pasti yang bisa ia datangi, berada di kota yang ramai tapi dia mengalami banyak kesulitan. Asistennya di tempat kerja juga dibuat repot walaupun dia sudah mengambil cuti beberapa hari tapi pekerjaan tetaplah pekerjaan. Selama dia terlihat, dia akan dikejar oleh puluhan deadline mengganggu.


~ RoséBear~


Sementara di sudut lain Kota ini, lelaki berkulit putih itu baru menerima sebuah pesan ketika dia sedang menunggu kedatangan salah satu temannya.

Oh Sehun

Ia mendapat pesan dari ibu Luhan.

'Luhan memutuskan untuk pergi bersamamu, bisakah kau siapkan keberangkatannya kembali ke Seoul hari ini bersamamu sementara Mom harus menyelesaikan urusan di sini barulah kita pergi ke tempat pamanmu?'

Tidak bisa begitu saja pergi, mereka masih harus mengurus visa dan masalah lainnya. Tapi untuk itulah dia ada di sini.

'Aku sudah mengurusnya dengan baik, Mom tolong minta seseorang membereskan barang-barang di rumah.'

"Sehun!"

Ia mengalihkan perhatian dari ponselnya, ikut tersenyum ketika seorang pria menyapanya. Tanpa harus menoleh, Sehun sudah tahu suara siapa itu.

"Jongdae, duduklah."

Lelaki yang ia panggil Jongdae itu kemudian duduk di hadapan Sehun.

"Aku membawakan apa yang kau butuhkan dan tentang keberadaan wanita itu, mungkin kau akan sedikit terkejut."

Sehun membuka amplop cokelat berisi beberapa dokumen yang Ia butuhkan. Ia tersenyum melihat hasil pekerjaan Jongdae dalam waktu singkat. Senyumnya semakin lebar melihat beberapa gambar yang ikut disertakan.

"Ini alamat tempat tinggalnya. Dia tinggal bersama adik kandungnya, tidak sulit menemukan keberadaan wanita itu ketika memeriksakan satu persatu orang yang dekat dengannya."

Sehun mengerti ucapan Jongdae.

"Terima kasih banyak. Pantas saja kejaksaan sangat mengandalkanmu, kau penyidik yang luar biasa."

Lelaki dengan suara khas itu tersenyum bangga atas pujian Sehun. Ia menarik cangkir kopi yang tersedia di atas meja dan mengesapnya segera.

"Jadi? Kau benar-benar akan membawa Luhan bersamamu?"

Kini mereka masuk ke dalam obrolan para lelaki. Sehun meletakkan kembali berkas-berkas yang Jongdae berikan. Dia mengangguk pelan, menerima tatapan menuntut salah satu temannya ini.

"Ya. Jongin punya kehidupan sendiri, dia tampak kacau tanpa istrinya."

"Humm aku pernah sekali bertemu istrinya. Wanita yang manis dan..."

"Terlalu baik."

Sehun memotong perkataan Jongdae. Pria dengan senyum lebar itu menyetujui pendapat Sehun, kesan pertama yang Jongdae dapatkan dari seseorang yang terlihat dalam perlindungan Jongin hari itu memang terlihat sangat baik, seperti batu berlian.

"Kita masih sangat muda, sudah seharusnya mendapatkan kehidupan yang baik."

"Kapan kalian akan kembali bertiga? Tidakkah kau tahu sebagai orang yang mengenal kalian, aku sangat terkejut hal ini benar-benar terjadi."

Sehun menghela napas beratnya. "Terkadang aku merasa sangat lelah dan begitu bodoh. Tapi kemudian, aku sadar Jongin adalah orang yang paling banyak merasakan sakit akibat pertemanan kami. Tapi aku tidak bisa menjauhkan diriku dari mereka."

"Kau menyukai Luhan, sementara wanita itu memiliki obsesi pada Jongin, dan..." Jongdae bicara begitu pelan. Tidak ingin menyakiti perasaan Sehun. "Kini Jongin akan memiliki kehidupannya kembali. Kalian adalah teman terbaik yang dia miliki, semua akan baik-baik saja. Bukankah kau sendiri yang menekankan itu pada dirimu?"


Karena di awal musim, sepanjang angin menghembuskan udara dingin. Suara tawa memenuhi sepanjang jalan yang mereka lewati. Ketiganya telah berjalan tanpa melepaskan gandengan tangan satu sama lain. Ketika satu orang tersandung, maka dua orang lainnya akan ikut terjatuh. Sebab mereka memiliki ikatan yang begitu kuat.

Pertama, selesaikan keputusan yang telah dibuat. Sehun menerima semua keperluan kepindahannya. Dia juga telah mendapatkan pekerjaan dengan segera. Mengenai tempat tinggal? Tentu saja, keluarganya cukup banyak di sana. Lagipula ayahnya akan tiba segera dalam hitungan jam.

Selanjutnya, dia memastikan Luhan telah melepaskan satu-satunya yang menahan. Jongin.

Dia bergegas berterima kasih pada Jongdae, lalu melakukan sebuah perpisahan kecil dan kembali ke rumah sakit.


Banyak hal yang telah dia lihat, tapi melihat Jongin meringkuk sendirian di koridor rumah sakit memandangi ponselnya membuat Sehun mengernyit. Ia terkejut setengah mati mendapati layar ponsel Jongin menampilkan wajah tersenyum Kyungsoo. Pria itu memutar berulang kali gambar istrinya. Melihat kejadian itu sudah menjelaskannya betapa emosi Jongin telah berkumpul menjadi satu. Dia merindukan istrinya karena mencintai wanita itu. Ia menyesal membuat Kyungsoo tiba-tiba pergi, dia adalah suami terburuk. Tidak seperti apa yang terlihat.

"Aku butuh bicara denganmu."

Jongin mendongak, ia mendengus mendapati Sehun berdiri di dekatnya.

"Kami akan melakukan keberangkatan sore ini, tapi aku punya sesuatu untukmu ."

"Apa lagi!? Setelah Kyungsoo meninggalkanku karena kalian. Lalu kalian akan melakukan hal yang sama."

Pria itu menyimpan ponselnya, mencoba berdiri namun tubuhnya terlalu lelah. Dia mendapat bantuan Sehun untuk bisa duduk di kursi koridor, menjulurkan kaki panjangnya ke sembarang arah. Sehun menyusul duduk di sebelah Jongin.

"Semuanya untukmu, untuk kehidupan yang telah kau pilih. Sejujurnya kita sudah menemukan jalan masing-masing sejak hari itu. Kau ingat?"

Jongin menggeleng pelan atas pertanyaan Sehun.

Pria di sebelahnya mendongak menatap langit-langit rumah sakit.

"Hari di mana kita berjalan pulang dengan bergandengan tangan."

'Aku ingin menjadi penyanyi agar terkenal.'

'Aku akan memiliki usahaku sendiri dan kalian akan jadi pekerjaku.'

'Aku...'

"Ini bukan sekedar perkataanmu semata. Tapi Jongin, jangan sia-siakan apa yang telah kau miliki. Aku meminta bantuan Jongdae dan dia menemukan keberadaan istrimu."

Tubuh Jongin menegang mendengar ucapan Sehun.

Ya. Dia ingat nama itu. Jongdae pernah menjadi seniornya dan mereka pernah memiliki kelas yang sama, bahkan beberapa waktu yang lalu mereka bertemu, Oh saat itu masih ada Kyungsoo di sebelahnya.

"Jeno! Kyungsoo menemui adiknya." Sehun tidak berhenti memberi penjelasan.

"Apa maksudmu dia pergi ke London?"

Tubuh Jongin tertarik menghadap Sehun meminta kepastian.

"Ya. Tanpa memberitahu siapapun."

"Tapi bagaimana bisa? Maksudku? Jongdae menemukannya? Bagaimana caranya?"

Sehun menepuk paha Jongin pelan. "Tenang dan perlahan. Ingat, Jongdae adalah seorang penyidik dengan banyak koneksi. Cara apapun dia lakukan untuk mendapatkan informasi." Sedikit penjelasan untuk mengingatkan Jongin. "Pesawat penerbangan kami dipercepat beberapa jam lagi setelah dokter memastikan kondisi Luhan."

Lelaki itu masih tidak percaya dengan keputusan yang diambil oleh kedua temannya.

"Tidakkah kau juga harus menemui istrimu?"

Wajah Jongin terangkat untuk memastikan ucapan Sehun.

"...sepertinya dia butuh menenangkan diri akibat perkataan Kris dan juga Luhan."

"Kris dan Luhan?" ia bertanya pada Sehun.

"Pergilah menemuinya. Aku tahu kau sangat mencintai istrimu Jongin, dan kupikir dia sangat membutuhkanmu sekarang. Mulai sekarang, mari telusuri jalan yang telah kita buat dan bertemu kembali suatu hari nanti."

Jongin menunduk mendengar ucapan perpisahan Sehun. Ini menyedihkan, tepat untuk dirinya. Bagaimana mereka bisa melakukan hal seperti ini.

"Bisakah kau tidak mengatakan itu?"

Suaranya terdengar lirih seolah ia telah menemukan jalan buntu berulang kali. Namun Sehun tersenyum melihat reaksi Jongin.

Sehun membuka amplop yang sebelumnya diterima dari Jongdae, ia hanya menyerahkan beberapa gambar tentang keberadaan Kyungsoo di London. Wanita itu benar-benar bersama Jeno, pergi ke beberapa tempat makan maupun hiburan. Gambar itu di ambil beberapa jam yang lalu.

"Kenapa kau melakukan semua ini Sehun?"

Ia diam beberapa saat, tidak untuk mencoba berbohong.

"Bisakah kita bertiga mendapatkan kehidupan yang istimewa? maksudku berakhir bahagia. Ada banyak yang harus kita capai, terkadang kita merasa bingung dan tersesat tapi berapa banyak pengorbanan yang telah kita sia-siakan?"

"Aku mencoba mengerti perkataanmu Sehun. Kau ingin aku mengantar kepergian kalian bukan? Akan kulakukan?"

Barulah Sehun tersenyum. Ia yang pertama berdiri. Diikuti Jongin berjalan masuk ke dalam ruang perawatan Luhan.


Kini ketiganya berada di ruang yang sama. Terdiam beberapa saat bahkan setelah ibu Luhan meminta izin meninggalkan mereka. Tidak ada yang berani memulai, semua terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Mungkin beberapa bayangan yang melintas adalah kenangan masa kecil mereka.

"Kurasa diam seperti ini sangat buruk."

Luhan menjadi yang pertama bicara. Membuat Jongin dan Sehun mengangguk setuju walau wanita itu tidak melihatnya.

"Sehun-ah, apa kau sudah mengemasi semua barang-barangku?"

"Sebagian telah dikemasi, tapi sebagian lagi akan menyusul," jawaban yang singkat.

"Biarkan aku mengemasnya untuk kalian."

"Sungguh? Itu terdengar bagus, tapi Jongin tidakkah kau harus mencari istrimu?"

Jongin duduk di pinggir ranjang Luhan. Mengelus rambut halus wanita itu dan berkata begitu lembut. "Aku pasti menemukannya. Aku sangat mencintai Kyungsoo, dia juga tahu akan hal itu."

"Maafkan aku Jongin."

Sekali lagi Jongin memilih suara yang lembut untuk membalas ucapan Luhan. "Jangan khawatir, segeralah sembuh dan kembali kemari. Saat itu kau bisa bertemu Kyungsoo juga."

Mereka bicara seperti teman pada umumnya. Tidak berlangsung lama lalu kemudian perpisahan itu benar-benar datang.

Jongin harus melambaikan tangan kepada tiga orang itu. Sekarang hanya ada dia sendiri dengan tiket penerbangan yang diberikan Sehun.

Dia hanyalah orang dewasa yang kehilangan arah.


~ RoséBear~


London

07.00 GMT

Berapa jam penerbangan yang dilakukan pria itu? Pesawat yang Ia tumpangi tidak langsung membawanya ke London. Ia melakukan transit dan terdiam di Bandara sendirian, menerawang begitu jauh.

Apa yang harus dia katakan ketika bertemu Kyungsoo?

Tidakkah ini terlalu lama sejak dia tidak melihat wanita itu lagi?

Bagaimana kabar istrinya?

Apa Kyungsoo akan menerimanya kembali?

Bahkan, apa Kyungsoo akan mempertimbangkan kehadiran dirinya?

Jongin hanya menghela napas berat, ia tidak banyak membawa barang. Hanya ransel berisikan beberapa potong pakaian serta semua berkas perjalanan dengan cukup uang.

Tanpa ia sadari, Sehun masih menyimpan sebuah rahasia kecil lainnya.

London

09.00 AM GMT

"Kakak yakin bisa melakukannya?"

Jeno bertanya mencoba meyakinkan dirinya tentang ide apa yang baru saja dia dengarkan dari mulut Kyungsoo pagi ini. Ketika terbangun dari tidur, ia menemukan Kakaknya bersama beberapa lembar kertas dengan coretan pena yang sangat berarti, sebuah perencanaan luar biasa dari Kyungsoo setelah percakapan mereka tadi malam dengan teman kampusnya.

"Sure... Rubella memberi izin padaku? Jadi apa masalahnya?"

Bahkan nada suara Kyungsoo terdengar sangat berbeda dari biasanya. Lelaki itu sempat berpikir, apa yang telah saudara iparnya ajarkan hingga Kyungsoo menjadi seperti ini. Mungkin dia harus melupakan beberapa hari yang lalu tentang penolakkan Kyungsoo bicara alasan dia melarikan diri kemari serta larangan menghubungi keluarga mereka di Korea sana.

"Rubella bilang aku bisa menjaga kafenya untuk sementara waktu selama dia menyibukkan diri dengan tugas akhir. Kau lihat sendiri. Tadi malam dia menyukai kue buatanku."

"Tapi kakak yakin melakukannya sendiri? Maksudku, Rubella biasa bekerja bersama Peters dan keduanya sekarang akan sangat sibuk."

Wanita itu tersenyum, dia mengangkat selembar kertas.

Alis Jeno naik satu tingkat membaca tulisan Kyungsoo yang begitu rapi. Kakaknya ternyata berinisiatif mencari pekerja paruh waktu untuk membantu dirinya melayani pelanggan.

Jika melihat ke belakang, dia benar-benar merasa takjub pada perubahan Kyungsoo saat ini. Pertama, Kyungsoo mulai mengatasi situasi yang berhubungan dengan orang asing. Kedua, dia melihat Kakaknya tetap nyaman dengan kondisi seperti ini.

"Baiklah, aku akan mengantar kakak ke sana sebelum aku pergi ke kampus."

Ia mencoba menjelaskan, lelaki itu kesulitan menyangka tentang apa yang sedang terjadi pada saudara perempuannya.

Dia sudah menghabiskan beberapa hari bersama di London. Tidak banyak yang bisa Jeno tunjukkan. Kyungsoo telah meminta tanpa dia memberi saran. Awalnya pertemuan dengan Rubella, seorang senior di kampusnya karena ia pikir Kyungsoo akan menyukai kue buatan Rubella, tapi ternyata ia melakukan penawaran untuk menjaga kafe milik Rubella yang baru saja akan ditutup karena wanita Eropa itu harus memfokuskan diri pada tugas akhirnya.


~ RoséBear~


Dia telah berdiam diri cukup lama di sana, memastikan ruang sempit kafe bersih dan tersenyum senang pada beberapa potong roti yang baru saja keluar dari dalam oven. Kyungsoo telah bekerja keras seorang diri seolah ini adalah miliknya pribadi.

Dia siap membuka tempat ini setelah membiarkan bias cahaya masuk menembus pembatas kaca dari sela-sela gorden cream berpadu soft pink.

Wanita itu terlihat cantik dengan gaun biru selutut di balut apron sepinggang berwarna oren. Ia mengambil selembar kertas yang siap di tempelkan di bagian luar, sebuah pencarian pekerja paruh waktu yang akan di bayar harian. Kemudian memutar tulisan close dengan open yang menempel di pintu kaca.

Ia membutuhkan setidaknya satu orang untuk membantu pekerjaannya di sini sementara waktu.

Mungkin Kyungsoo kurang merasa senang tentang ukuran tinggi badannya. Dia mengalami kesulitan untuk mencapai tempat yang pas menempelkan kertas itu pada dinding kaca bagian luar. Bahkan setelah berjinjit beberapa kali.

"Ini tampak bagus, semoga kau tidak keberatan aku membantu."

Ia terlonjak kaget setelah sebuah tangan menarik kertas di tangannya kemudian sebuah suara berat tepat terdengar telinga kanan Kyungsoo.

Kyungsoo berbalik badan, sebuah pemandangan yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Keterkejutan yang membuat otaknya lambat berpikir tentang sosok Jongin yang kini mencoba tersenyum. Wajah pria itu sangat dekat ketika ia mendongak. Sulit untuk kembali bernapas dengan benar ketika pikiran di otaknya melayang entah kemana.

"Kyungsoo? Kau terkejut?"

Tentu saja dia terkejut. Bahkan mata bulat itu sulit untuk sekedar mengedipkan mata. Tubuh Kyungsoo serasa melayang ketika ia ditarik Jongin.

"Nona? Bisakah kami memesan dua..."

"Sorry, we close for today. Silahkan datang lain hari."

Bahkan Kyungsoo ikut terhenti ketika Jongin bicara bersama dua pemuda yang baru saja akan melangkah masuk melewati pintu kaca dan dengan tidak sopannya pria itu mengganti tulisan open menjadi close membuat kedua pelanggan pertama Kyungsoo harus mengehela napas berat lalu melangkah pergi.

"Kenapa kau harus mengusir mereka?"

Jongin diam beberapa saat mendengar pertanyaan tiba-tiba Kyungsoo.

"Biarkan aku menjadi pelanggan pertamamu."

"Darimana kau tahu aku disini?"

Pria itu bahkan belum sempat menarik kursi untuk duduk, Kyungsoo telah kembali bertanya.

"Aku menghubungi Jeno."

Kyungsoo memutar matanya kesal mendengar jawaban kedua Jongin.

Tapi tiba saat itu perut Jongin berbunyi membuat keduanya diam.

"Kapan terakhir kali kau mengisi perutmu?"

Kyungsoo bertanya sedikit emosi. Ia juga telah memperhatikan wajah pucat Jongin dan penampilannya yang begitu buruk.

"Aku sudah lupa."

"Tunggulah di sini."

Bergegas ia kembali ke bagian dalam kafe. Mengambil piring dan mengisinya dengan beberapa potong kue, Kyungsoo tidak lupa menyiapkan coklat hangat.

Astaga wanita itu, ia semakin membuat Jongin merasa bersalah. Padahal lelaki ini telah berusaha mati-matian untuk bisa mengeluarkan perkataannya. Bahkan ia mendapat teguran keras dari Jeno setelah tiba dan mendapati apartemen Jeno kosong. Ia menghubungi saudara iparnya, tentu saja Jeno berbohong tapi ketika Jongin bilang dia telah berada London. Ia segera mendapatkan informasi keberadaan Kyungsoo.

Kyungsoo kembali dengan sepiring roti yang masih hangat serta coklat panas. "Kau bisa memakannya."

Jongin hanya tersenyum pelan. Ia menarik Kyungsoo, meminta wanita itu untuk duduk di depannya.

"Kau temani aku makan?"

Ada sedikit keraguan ketika ia meminta. Jantungnya berpacu menunggu jawaban Kyungsoo tapi kemudian bibir tebal lelaki itu tertarik membentuk sebuah senyuman ketika melihat Kyungsoo menarik kursi dan ikut duduk bersama.

"Bagaimana kabar Luhan?"

Jongin berhenti menggigit potongan roti saat mendengar pertanyaan Kyungsoo. Ia meletakkan potongan rotinya segera, memandang Kyungsoo membuat wanita itu diam.

"Aku yang yang ada di hadapanmu. Haruskah aku membuat pernyataan tentang diriku sendiri?"

Kyungsoo memilih tetap diam tidak menjawab perkataan Jongin.

"Luhan baik baik-baik saja. Dia pergi bersama Sehun untuk melakukan pengobatan. Mungkin beberapa tahun atau selamanya. Dia menitipkan permintaan maaf untukmu. Suatu hari nanti ketika dia kembali, dia memintamu menjadi temannya."

Kyungsoo menggigit bibir bawahnya mendengar perkataan Jongin. Apa dia telah salah paham? Apa dia melakukan kesalahan dengan membuat keputusan meninggalkan Jongin? Maksudnya, lihatlah penampilan pria ini? Kyungsoo meningalkan Jongin beberapa hari yang lalu dan pria ini masih dalam keadaan baik. Tapi sekarang? Benar-benar kacau. Rambutnya yang sedikit panjang sama sekali tidak terurus, wajahnya setengah pucat, lingkaran mata yang mengelap serta sedikit bulu halus yang tidak sempat dicukur.

"Dengarkan apa yang ingin kukatakan," Jongin melanjutkan membuat Kyungsoo mendongak. Ia menerima sentuhan hangat tangan Jongin pada kedua tangannya di atas meja setelah menyingkirkan piring berisi roti.

"Aku mengalami serangan panik ketika kau pergi, aku benar-benar kehilanganmu Kyungsoo sayang," panggilan itu lagi, Kyungsoo berkedip beberapa kali.

"Aku ingin mengenalmu, kumohon berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku janji tidak akan mengecewakanmu. Aku mengakui sikap burukku, ini terdengar sangat egois tapi aku bersungguh-sungguh. Aku minta maaf. Aku jujur mengatakannya Kyungsoo."

Tidak ada jawaban dari Kyungsoo. Jongin menarik napas dalam. "Aku tahu telah memperlakukanmu dengan buruk, aku minta maaf. Kurasa sudah agak terlambat, tapi aku membutuhkanmu. Aku sangat mencintaimu."

"Le-lepaskan aku." Ketika itu Kyungsoo merasa seperti ada ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya. Ia membuat Jongin terkejut tapi kemudian wanita itu berlari meninggalkan Jongin, membuka pintu kamar mandi, ia sedikit menunduk mencoba mengeluarkan isi perutnya yang sempat bergemuruh.

Jongin mengejar Kyungsoo, ia melihat kesulitan wanita itu.

"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."

Mungkin Kyungsoo bisa berkata begitu tapi Jongin tidak menganggap itu kondisi baik.

"Apa kau sakit? Kau sudah memeriksakan diri ke dokter?"

Kyungsoo masih terduduk di lantai kamar mandi dengan bertopang pada bidet, ia menggapai tangan dan Jongin tahu dia segera mengambil tisu. Membantu Kyungsoo berbalik badan menghadapnya. Membersihkan beberapa cairan yang mengenai wajah Kyungsoo.

"Selalu begini beberapa hari ini, terkadang pagi tapi terkadang tengah malam."

"Beberapa hari ini?" Jongin tergagap mendengar pengakuan Kyungsoo.

Kyungsoo mengangguk pelan, ia mendapat bantuan ketika akan berdiri.

"Tapi aku baik-baik saja setelahnya. Jadi tidak membutuhkan Dokter."

Jongin membantu Kyungsoo berdiri. Tapi tangannya menahan pundak Kyungsoo membuat guratan bingung terukir sempurna di wajah manis Istrinya.

"Kapan terakhir kau datang bulan?"

Kerutan di wajah Kyungsoo makin bertambah, ia mencoba mencerna pertanyaan singkat Jongin.

"Kurasa... Aku telah melewatkannya bulan kemarin lalu bulan ini... Oh..." Tangannya bergerak reflek menutup mulut menghentikan ucapannya. Bahkan ia menutup muka dengan kedua telapak tangannya karena merasa malu atas perkataan barusan.

"Sayang, aku pernah melakukannya padamu. Jangan menutup mukamu dariku, biarkan aku melihatmu Kyungsoo."

Pelan Jongin menarik tangan Kyungsoo membuatnya bisa melihat wajah wanita itu.

"Aku masih punya kesempatan bukan?" Pegangan Jongin merosot menyentuh kedua pundak Kyungsoo, turun ke lengan dan dia mendapatkan jemari Kyungsoo. Pria itu berlutut, mendongakkan kepala memohon pada istrinya.

"Berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku minta maaf membuatmu menjalani hari-hari sulit, aku akan membuat pernyataan untuk diriku sendiri. Aku tidak akan meninggalkanmu, mulai sekarang jika kau membutuhkanku, aku akan ada di hadapanmu. Kumohon Kyungsoo."

Tidak pernah dia memohon seperti ini. Tapi untuk Kyungsoo, bahkan jika dia harus bersujud Jongin akan melakukannya. Dia mencintai Kyungsoo, wanita yang ia lihat seperti bidadari di pertemuan pertama mereka. Sejak matanya melihat keberadaan Kyungsoo, Jongin telah menyukai wanita itu. Cahaya matahari yang menerobos dan gaun putih hari itu membuat ia seperti malaikat kecil yang sedang memandang langit.

Kyungsoo sadar, Jongin tidak pernah meninggalkannya. Tapi dialah yang terlalu bodoh meninggalkan pria ini.

"Jongin... Aku hanya akan bilang sekali, karena aku ingin mencari penyelesaian.."


To be continue...


Epilog HunHan talk at hospital.

Sehun point of view

Kau tahu? Ketika aku mulai mencari pada tempat yang benar. Sesuatu itu mulai terkuak.

Aku ingin melakukannya, aku tahu ini belum cukup tapi setidaknya tidak salah ketika aku memberitahu Luhan. Dia harus tahu apa yang telah terjadi. Aku rasa dia akan terkejut, aku benar-benar menyesal baru mengetahui masalah ini. Bagaimana aku bisa menelantarkan informasi sepenting itu beberapa hari ini.

Kyungsoo hamil

Sudah pasti dia mengandung anak Jongin.

Aku sangat yakin hanya lelaki itu yang pernah menyentuh Kyungsoo secara keseluruhan. Umur kandungannya juga sangat cocok dengan pernikahan mereka berdua.

Aku bergegas memacu mobil setelah meminta Jongdae mencaritahu keberadaan Kyungsoo dan menyiapkan berkas yang kuperlukan untuk pergi. Jika Luhan bersikeras mengejar Jongin, aku akan menyerah seperti yang Kyungsoo lakukan. Walau otakku masih berpikir apa Kyungsoo sudah menyadari kandungannya? Bagaimana dengan Jongin?

Tidak

Jika dia tahu, aku yakin Jongin akan lebih frustasi lagi. Mata lelaki itu menunjukkan emosinya, dia masih mencoba bersabar pada Luhan.

Ketika tiba di rumah sakit tidak kulihat Jongin bersama mereka. Aku yakin pria itu mencoba mencari Kyungsoo. Berkeliaran di tengah kota seperti zombie. Hanya ada ibu Luhan yang mulai mengantuk, dia telah bekerja seorang diri sejauh ini. Dia wanita yang luar biasa, jujur dan karena nyonya Xi aku bisa bersenang-senang. Terkadang aku bertanya kenapa dia tidak menikah lagi, alasan yang sangat masuk akal dia begitu mencintai pria yang meninggal puluhan tahun lalu, bajingan yang terlibat di dunia gelap, tapi nyonya Xi memastikan jika Ayah kandung Luhan adalah pria terbaik yang pernah ia temui. Lelaki yang masih sempat mengelus perutnya setiap malam walau dalam masa pengejaran ketika itu.

Aku mengerti dengan cepat, seharusnya aku mendengarkan cerita ini sejak lama tapi sepertinya tinggal serumah tidak membuat wanita ini menceritakan masa lalunya.

Tapi sekarang aku mengetahuinya, ketika ibu Luhan telah tidur kubelai wajah wanita ini. Sangat halus dan membuatku menyesal jika harus menyakitinya.

Luhan selalu bertanya keberadaan Jongin, sesuatu yang bisa kuterima selama ini. Situasi seperti ini sudah biasa untukku.

Kami mulai bicara ketika dia tenang.

"Aku tahu ini terdengar..."

"Aku sangat terkejut tapi kenapa aku bahagia mengetahui diriku bukan bagian keluarga Wu? Ayah memperhatikan kandungan ibu setiap hari? Artinya dia menginginkan aku lahir ke dunia?"

Aku bahkan lebih terkejut lagi mendengar pengakuan Luhan setelah kukatakan tentang ayahnya. Dia tidak menyesal.

"Ibu mencintai ayah kandungku? Berarti dia Ayah terbaik yang kumiliki terlepas dari apa yang telah dia lakukan. Jadi apa yang ingin kau sampaikan lagi padaku Sehun?"

Malam ini, akan kuceritakan cerita lainnya. Mungkin aku mengalami suatu reaksi berlebihan tapi aku sendiri yang harus mengatakannya pada Luhan.

"Kyungsoo hamil dan kurasa keduanya tidak menyadari ini."

"Lalu bagaimana kau tahu?"

Aku menghela napas panjang sebab bagian ini akan sangat sulit untuk membuat Luhan menerimanya. Aku hanya perlu berusaha lebih lagi.

"Ketika kau mencoba bunuh diri terakhir kali dan Jongin datang kemari, dia bersama Kyungsoo. Wanita itu menemani Jongin, kemudian dia pingsan. Satu-satunya alasan kenapa Jongin terlambat menemuimu saat kau sadar. Dia menemani istrinya. Dokter memeriksakan kesehatan Kyungsoo tapi kemudian Kris memaksa dia menemuimu, lalu aku bertemu dokter yang memeriksakan Kyungsoo. Entah bagaimana dokter itu memberikan berkas kesehatan Kyungsoo padaku dan aku membawa pulang informasi itu. Aku menemui Ayah karena aku berencana meninggalkan kalian dan memulai hidup baru seorang diri tanpa kalian. Tapi sepertinya Tuhan ingin menyadarkan aku. Luhan..."

Kupastikan Luhan masih mendengar apa yang kuceritakan.

"Aku masih mendengarkanmu Sehun."

Aku mulai berkata kembali dengan mulutku, "aku menemukan kembali berkas itu dan menyadarinya segera."

"Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan padaku Sehun?"

Aku tersenyum menyadari Luhan mulai memahami maksud ucapanku.

"Kyungsoo mengandung anak Jongin. Apa karena keegoisanmu maka kau akan membuat anak itu lahir tanpa ayahnya? Sementara sang Ayah berusaha mencari Ibunya setiap malam tanpa henti. Aku tahu ini sedikit kejam untukmu, mungkin kau tidak merasakan kasih saying seorang Ayah yang sesungguhnya, tapi apa kau akan membuat anak itu mengalami hal yang sama denganmu?"

"A-apa maksudmu Sehun?"

Luhan mulai menghindariku. Aku tahu ini terdengar sangatlah jahat, tapi aku ingin berkata cepat. Aku sudah memilih jalan ini, kesimpulannya hanya satu.

"Aku menawarkan padamu kehidupan lain di mana aku tidak akan meninggalkanmu. Tentang aku yang menyukaimu, hidup bersama dan mulailah bicara, tersenyum dan bersinar seperti seorang Xi Luhan yang pertama kali kutemui."

Luhan masih diam, jemarinya bertautan satu sama lain. Dia mengalami tekanan luar biasa mendengar kabar kehamilan Kyungsoo. Apalagi aku membandingkan itu dengan dirinya.

"Atau kau ingin menikah dengan orang lain?"

"Sehun, kau adalah sahabatku," aku terdiam mendengar suara lembut Luhan.

"Aku menyesal mendengar kabar kehamilan Kyungsoo. Tapi bisakah kau tidak memojokkanku? Aku menyukai Jongin. Aku..."

Dia menangis. Hal inilah yang paling tidak kusukai. Aku segera beranjak ke pinggir ranjang, memeluk Luhan erat tapi ternyata isakannya membangunkan nyonya Xi.

Kukatakan apa yang terjadi,malam itu kami menunggu keputusan Luhan. Tidak bisa seperti ini secara terus menerus, apalagi menarik Kyungsoo dalam lubang dalam. Bahkan memisakahkan calon bayi mereka dari Jongin?


See You next chapter ^^

~ RoséBear~