This is it! The Final Chapter! All right guys, this is it the END!

Thanks for everyone for sticking with it. This is, in my opinion, I think this is my best work. It's my fovourite part. Hope that you all enjoyed reading it as much as I enjoyed writing it. Thank you from the bottom of my heart. I love you very much.


CONTEMPORARY

[15th Chapter]

Present by RoséBear

[KaiSoo FF]

Content story: Sensitive subject matter, original fanfiction, GS, some typo


"Jongin... Aku hanya akan bilang sekali, karena aku ingin mencari penyelesaian. Maaf seharusnya aku tidak pergi meninggalkanmu. Tapi Jongin, apa kau benar-benar berpikir aku sedang hamil? Maksudku, kita hanya melakukannya sekali."

Wanita itu memalingkan wajahnya, menghindari tatapan menyelidik Jongin. Oh astaga, dia bahkan masih merasa malu mengakui apa yang pernah mereka lakukan.

Jongin berdiri, menatap Kyungsoo meyakinkan. "Kita periksa ke Dokter bagaimana?"

Baru saja dia akan melangkah membawa Kyungsoo keluar dari ruangan tapi tubuhnya ditahan segera.

"Kau akan mencari dokter dengan penampilan seperti ini?"

Beberapa detik otak lelaki itu mengambang untuk berpikir tentang perkataan Kyungsoo tapi kemudian dia tersenyum, mendekat dan menarik Kyungsoo dalam pelukannya. Hangat dan seperti tempat untuk dia kembali. Wanita ini adalah segalanya, dia mencintai Kyungsoo lebih dari apapun yang bisa dilihat orang-orang.

"Kalau begitu kau bersedia membersihkan aku?" dia meminta dengan sebuah pertanyaan.

"Lagipula kita masih harus bertanya pada Jeno di mana Dokter kandungan? Atau setidaknya pergi ke apotek terdekat."

Jongin semakin mengeratkan pelukannya. "Apa kau tidak mempercayaiku? Aku sangat yakin kau sedang mengandung anak kita."

Mereka diam beberapa saat. "Apa kau benar-benar ingin meninggalkanku?"

Tidak!

Kyungsoo tidak ingin mendengar Jongin menanyakan itu. Pria ini terdengar menyedihkan, dan dia semakin menyedihkan ketika Kyungsoo mendongak menemukan air mata mengalir di wajah Jongin. Ia terkejut, sangat terkejut hingga sulit bernapas. Jongin menangis hanya memikirkan tentang Kyungsoo yang bisa saja tidak ingin kembali padanya.

"Tidak Jongin, aku tidak akan meninggalkanmu lagi."

Dengan gerakan lembut ia usap wajah tampan itu, merasakan wajah kasar Jongin. Membuatnya menyesal tidak bisa lebih bersabar menemani Jongin.

"Sebenarnya ada apotek di dekat sini. Aku akan pergi sementara kau bisa membersihkan diri sendiri."

Detik berikutnya Jongin terkikik geli mendengar perkataan Kyungsoo. Wanita dalam pelukannya ini masih berusaha menjaga diri tapi dia tidak menolak semua sentuhan Jongin.

"Jongin, aku benar-benar tidak akan meninggalkanmu. Apotek itu hanya beberapa blok dari sini."

Membawa pria itu mendekatkan wajahnya. Sedikit ragu tapi dia ingin menyentuh Kyungsoo. Merasakan bibir hati itu dengan sebuah perasaan. Karena tidak ada gerakan penolakan dia semakin menekan Kyungsoo. Mencium wanita itu menumpahkan segala kerinduan yang dia miliki. Rasa manis yang tidak pernah ada habisnya, begitu lembut dan mengikat. Dia sungguh menginginkan perempuan ini terus bersamanya.

Pada akhirnya Jongin melepaskan Kyungsoo.

"Di dalam tasku ada pakaian ganti milik Jeno. Dia akan kemari sore ini setelah berlatih basket. Mungkin aku bisa memintanya meminjamkan padamu."

Jongin menggeleng. Tatapannya tidak melepaskan Kyungsoo, sebab setelah ciuman itu ia bisa melihat wajah merona Kyungsoo.

"Aku punya dua potong pakaian di dalam ranselku."

Kyungsoo mengangguk menyetujui. Dia benar-benar bernapas lebih baik ketika Jongin melepaskan pelukannya, segera meraih mantel dan mengambil beberapa poundsterling untuk dibawa pergi ke apotek.

Dalam perjalanan, wanita itu tidak berhenti tersenyum, membayangkan dirinya benar-benar hamil? Dia hanya melakukannya dengan Jongin, itu artinya dia memiliki anak bersama Jongin. Seorang anak yang akan mereka besarkan bersama.

"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi Jongin."

Kyungsoo berjanji pada dirinya sendiri. Memiliki harapan kecil yang terasa besar ketika mereka memikirkannya bersama. Langkah kecil Kyungsoo menjadi penuh arti.

Sementara pria itu tidak membutuhkan banyak waktu untuk membersihkan diri, dia tidak benar-benar membersihkan diri secara menyeluruh. Hanya mandi dan menghilangkan aroma tidak sedap. selebihnya Jongin masih terlihat tampan dengan celana dasar serta kaos hijau berlengan panjang. Bahkan ketika keluar dia belum menemukan Kyungsoo kembali, tapi matanya mulai menangkap kedatangan Kyungsoo di persimpangan masuk kawasan kafe.

Ponselnya berdering. Sebuah pesan bergambar baru saja masuk.

'Kami baik-baik saja. Luhan mendapatkan dua pengobatan dengan segera, bagaimana kabar kandungan istrimu? Sepertinya aku lupa menyerahkan berkas kesehatan ketika dokter memeriksaknya saat dia pingsan di rumah sakit hari itu."

Mata Jongin terbuka semakin lebar. Dia mencoba membaca pesan Sehun hingga selesai.

'Jaga baik-baik Kyungsoo dan bayi kalian. Karena bayi itu alasan kenapa Luhan memilih melepaskanmu, dia tidak ingin anak itu kehilangan ayahnya. Merasakan hal serupa dengan dirinya.'

Tepat saat itu Kyungsoo masuk ke dalam kafe membuat Jongin berlari mengejarnya, memeluk wanita itu membuatnya terkejut.

"Jo-Jongin? Ada apa?"

"Aku akan menjadi Ayah. Ini luar biasa!"

Ia berteriak senang membuat tubuh Kyungsoo sedikit terangkat. Ia memekik kecil karena perasaan takut terjatuh.

"Ta-tapi kita belum memastikannya."

Jongin menurunkan Kyungsoo, mendudukkan wanita itu di salah satu kursi sementara dirinya menyentuh kedua lutut Kyungsoo. Menatap wajah bingung istrinya dengan senyum yang tidak pernah luntur sejak dia bertemu kembali dengan Kyungsoo.

"Sehun mengirimiku pesan. Dia bilang melihat hasil pemeriksaan kesehatanmu di rumah sakit tempo hari ketika kau pingsan."

Sedikit bergetar, tangan Jongin menyentuh perut Kyungsoo yang terasa tegang.

"Di sini ada alasan kenapa kita harus bersama."

Air mata terkadang menutupi logika. Mereka mendapat kebahagiaan setelah sebuah pengorbanan. Dalam situasi ini, mereka begitu mengerti bahwa hidup akan berlanjut hanya jika mereka mengiginkannya. Beberapa kali seseorang bertanya tentang jalan hidup yang dia miliki, sebab dia melewati waktu yang sulit. Hal yang membawa mereka menuju bagian akhir dari sebuah kehidupan. Tentu tidak ada pembatas, tidak juga ada keraguan untuk bersama.

Tidak ada konspirasi, kau hanya perlu merelakannya.


~ RoséBear~


Kyungsoo telah mencoba testpack dan melihat hasilnya. Di sinilah dia sejak beberapa jam yang lalu bersama satu-satunya pelanggan kafe hari ini. Jongin tidak berhenti memandangi Kyungsoo, mengekor bahkan ketika wanita itu berkata akan buang air kecil ke kamar mandi. Dia akan menunggu Kyungsoo dengan bersender pada sisi pintu. Begitulah Jongin memperlakukan Kyungsoo. Ia sangat menyesal beberapa hari ini membuat Kyungsoo menjalani hari-hari yang sulit. Mengalami morning sick dan harus mengatasinya seorang diri. Tapi mulai sekarang, Jongin berjanji dia akan selalu menemani Kyungsoo.

Mereka kini bergabung bersama Jeno, lelaki itu baru kembali dan menemukan Jongin tersenyum sumringah, begitupun saudara perempuannya.

"Apa yang terjadi?"

"Kau akan menjadi seorang paman."

Ucapan santai Jongin membuat Jeno melotot menatapnya, setengah bingung tapi instingnya bekerja cepat, ia berbalik menatap Kyungsoo. Tepatnya perut yang masih terlihat datar itu.

"Kakak hamil?"

Setengah malu Kyungsoo menganggukkan kepala.

"Oh astaga!" Jeno berseru, membawa tubuhnya jatuh ke atas kursi. Dia duduk di hadapan Jongin sementara Kyungsoo segera berdiri menyiapkan beberapa potong roti untuk pelanggan keduanya hari ini, Jeno.

Lelaki muda itu mencondongkan kepalanya hendak berbisik pada Jongin.

"Kakak tahu? Dia telah bertingkah aneh beberapa hari ini, tiba-tiba datang menghubungiku dengan panggilan asing, kemudian menangis. Lalu berkata dia meninggalkanmu, melarangku menghubungi keluarga dan lebih buruk ketika aku ingin menghiburnya. Dia menghabiskan uang bulananku dengan meminta banyak hal aneh. Kau tahu maksudku?"

Jongin memandangi Jeno dan Kyungsoo secara bergantian.

"Awalnya aku tidak tahu, tapi sekarang aku benar-benar ingin bertanya kenapa wanita itu sangat rumit ketika mereka sedang mengandung?"

Jongin mencoba memahami perkataan Jeno. Ia menerima coklat hangat yang entah untuk yang keberapa kalinya dalam satu hari ini.

"Karena mereka telah melewati hari-hari yang sulit."

Pria itu tersenyum pada Kyungsoo ketika istrinya ikut bergabung. Menarik Kyungsoo mendekat dan memeluknya erat, tepatnya memeluk pinggang Kyungsoo hingga kepala mengelus perut istrinya.


Mereka menghabiskan sisa malam bersama-sama.

Memastikan tidak ada salah paham dan menyelesaikan semua masalah. Perjalanan pulang, mereka mampir ke beberapa toko seperti permintaan Kyungsoo. Ketika itu Jongin mulai menyadari perkataan Jeno beberapa saat yang lalu tentang uang bulanannya.

"Kau keberatan jika aku membelinya?"

Tentu saja Jongin terkikik geli mendengar pertanyaan Kyungsoo ketika mereka berada di sebuah toko pakaian. Ketika istrinya membeli gaun yang mewah walau terlihat sederhana untuk dipakai.

Ia mengelus rambut Kyungsoo dan menggeleng pelan.

"Tentu saja tidak. Bukankah sudah kukatakan, aku memiliki uang yang cukup untuk membiayaimu dan calon bayi kita."

Kyungsoo menerima pelukan Jongin, melupakan keberadaan adiknya yang berjalan di belakang.

"Tidak masalah sayang, kita bisa bersenang-senang, kita makan malam di luar, berdansa dan melakukan hal yang kau sukai."

Sementara waktu berlalu dan mereka melewatinya dengan sangat baik. Mereka tidak memerlukan ide besar ketika memikirkan masa depan, sebab tidak ada yang membosankan. Mereka membicarakannya sepanjang waktu dengan ikut membayangkan bayi kecil yang nanti akan lahir dan bergabung. Menjadi berita terbaik yang telah mereka yakini sejauh ini.

Pada waktu yang sama, seseorang juga berjuang untuk masa depannya sendiri.


~ RoséBear~


Di suatu pagi yang begitu menyejukkan dengan udara lembab serta hembusan angin, membawa aroma menyegarkan dari rumput hijau yang baru saja di potong.

Tidak sekedar aroma menyegarkan, tetapi juga pemandangan luar biasa. Lelaki itu membuka pintu rumah dan merenggangkan tangannya selebar mungkin, menyambut hari baru dengan hati yang begitu ringan.

"Aku akan mendirikan sebuah firma baru di sini."

Ia bergumam pelan. Menghirup udara sebanyak yang ia mampu.

"Sehun-ah, roti panggang?"

Kepalanya menoleh ke samping di mana bagian luar rumah yang terhubung langsung dengan peternakkan serta ladang gandum. Bukan sebuah Kota besar, hanya kawasan sub urban yang membentang luas dan terhubung langsung dengan kehidupan perkotaan.

Seorang pria tua tengah berdiri membawa nampan berisikan roti panggang serta segelas susu hangat. Dan jangan lupakan pakaian petani yang ia kenakan membuat alis Sehun naik setingkat.

"Ayah dari kandang sapi?"

Ia turun dari rumah dan menghampiri Ayahnya, mengambil nampan itu kemudian mereka melangkah masuk.

"Jaga bicaramu, aku mendapatkannya dari tetangga kita."

Pria itu melepaskan sarung tangan karet dan menggantung semua perlengkapan yang melekat di tubuh pada sebuah tempat penggantungan di dekat pintu masuk.

"Luhan? Kau mau berjalan keluar?" Ayahnya tiba-tiba mengejutkan Sehun.

Ketika itu langkah mereka berhenti menyaksikan sosok Luhan yang berusaha seorang diri menuruni tangga dengan bersusah payah.

"Bukankah sudah kukatakan panggil aku jika kau mau turun? Tidak bisakah kau menunggu beberapa menit saja!?"

Ayah Sehun terkekeh pelan mendengar omelan anaknya untuk wanita itu. Buru-buru ia menerima kembali nampan berisikan roti panggang dan membiarkan Sehun membantu Luhan menuruni tangga. Wanita itu sudah berusaha cukup lama sejak mereka tinggal di sini.

"Bagaimana jika terjadi sesuatu? Operasi matamu bisa tertunda lagi!"

Tidak ada yang berani membantah perkataan Sehun yang satu itu. Sejak tinggal di negara ini tujuh bulan lalu, pada akhirnya mereka menemukan pendonor untuk mata Luhan. Suatu keajaiban mengharapkan wanita itu bisa melihat lagi. Tapi bagian ini sungguh menyenangkan, mengembalikan pandangan wanita itu tentang kehidupan yang sesungguhnya.

"Aku baik-baik saja Hun. Kumohon jangan berteriak, telingaku menjadi sakit karenamu."

Pertengkaran pagi ini selembut roti panggang yang dicelupkan ke dalam cangkir berisi susu hangat.

Dari interaksi ketiganya, seseorang sedang mengawasi mereka. Spontan Ayah Sehun membalik badan dan menemukan nyonya Xi tengah menyiapkan sarapan. Tidak ada hal spesial dari kehidupan mereka. Lelaki tua itu menghampiri dan meletakkan nampan berisikan sisa roti panggang.

Ia menarik kursi dan menatap ibu Luhan penuh arti. Wanita itu jauh lebih muda dari dirinya.

"Bagaimana hubunganmu dengan adik iparku? Kuharap kau mau membuka diri untuknya."

Wanita tua itu menoleh dan menatap tidak percaya pada perkataan Ayah Sehun. Oh astaga pria tua ini telah menjodohkan dirinya dengan saudara istrinya sendiri. Tapi rona merah yang muncul membuatnya semakin menggoda.

"Paman ingin mengajak berkencan."

Ketika itu Sehun membawa Luhan ke meja makan sembari menyampaikan sebuah pesan.

"Paman?"

Luhan yang tidak memahami situasi bertanya pelan tentang apa yang sedang mereka bicara.

"Aku punya pekerjaan di luar. Kalian bisa sarapan tanpa aku. Jaga dirimu sayang."

Ketika itu nyonya Xi mendaratkan sebuah ciuman di wajah putrinya. Meninggalkan ketiganya dengan dua pria yang berusaha menahan diri untuk tidak tertawa karena ibu Luhan berhasil menghindar dari obroan pagi yang menggoda.

"Aku juga harus membersihkan diri. Kalian bisa sarapan berdua saja."

Lelaki tua itu juga pergi meninggalkan Sehun.

"Sehun! Bisa kau jelaskan tentang apa yang kalian bicarakan tadi?"

Pada akhirnya pemuda Oh harus menjelaskan pada Luhan. Bukankah wanita ini berhak mengetahui banyak hal? Tidak ada rahasia apapun lagi, jadi dengan senang hati Sehun mengatakan jika pamannya yang adalah seorang dokter. Lelaki yang telah membantu proses menyembuhkan serta mencarikan donor mata untuk Luhan menyukai Ibunya. Lelaki itu adalah paman Sehun. Pria asing yang menyukai nyonya Xi sejak pertemuan pertama mereka. Cinta di umur yang bisa di bilang tidak muda lagi terkadang menjadi di luar kendali. Ada bagian di mana hati memiliki prioritas paling utama.

"Apa kau tidak ingin menikahiku?"

Satu pertanyaan spontan Luhan membuat Sehun menatapnya bingung. Apa dia mengalami gangguang pendengaran hanya karena belum membersihkan diri pagi ini? Tapi Luhan yang diam dan menunggu jawaban dalam sebuah kegugupan membuat Sehun masih berusaha mengendalikan diri.

"Kau mau menikah denganku?" Ucapannya pelan, terkesan terbata karena begitu gugup luar biasa.

"Setelah aku mendapatkan donor mata itu, bisakah hanya kau yang kulihat?"

Hatinya tersentak begitu kuat karena perasaan bahagia. Tidak pernah Sehun memikirkan hal semacam ini. Dia bahkan menahan diri terhadap perasaan kepada Luhan.

"Ya. Aku sangat ingin melamarmu. Setelah kau bisa melihat kita bisa menikah."

Akhirnya pengakuan perasaan itu terucap juga. Dia berhasil membebaskan perasaannya.

"Tapi Lu. Apa kau sangat yakin? Aku tidak ingin memaksamu untuk hidup bersamaku. Aku tidak ingin memaksa untuk memilikimu, jika kau merasa tidak bahagia dan menginginkan pria lain maka aku..."

"Ya Sehun! Apa kau tidak tahu perasaanku?"

Ketika itu ucapan Sehun terhenti karena jemari Luhan pampa sadar mencapai bibirnya.

"Haruskah aku menjawabnya?"

Mata Sehun berkedip beberapa kali mencoba memahami maksud Luhan.

"Apa itu artinya? Ya Luhan! Aku sangat mencintaimu."

Kertas putih itu mungkin tidak sama lagi setelah mendapat goresan yang membingungkan, tapi jangan lupa jika kita memiliki halaman berikutnya. Di mana kita bisa menulis kisah hidup yang lain. Sesuatu yang baru, terdengar manis dan menawan. Begitu rupawan serta menyenangkan. Kemudian hal kecil muncul, beberapa orang mendapatkan masalah. Kemudian mereka menyelesaikan segera, beberapa lainnya harus kebingungan karena memilih jalan yang sama. tapi karena tidak putus asa, dia mendapatka jalan keluar yang sebenarnya.


~ RoséBear~


Ketika sekujur tubuh berbalut pakaian rumah sakit itu terbaring di ranjang rumah sakit saat itu juga seorang pria menggenggam erat dengan menautkan jemari mereka.

"Bertahanlah sayang, aku tahu kau wanita yang sangat kuat. Anak kita akan lahir."

Berapa lama yang mereka butuhkan untuk mencapai hari ini? Ketika usia kandungan Kyungsoo mencapai waktunya. Wanita itu melahirkan seorang bayi yang sangat tampan.

Ketika kebahagiaan bertambah di keluarga kecil mereka, saat sebuah komitmen terbentuk di mana janji untuk membahagiakan satu sama lain terus berjalan di jalan yang sama.

Aroma pengharum ruangan menarik kesadaran Kyungsoo dengan segera, merasakan gerakan bayi kecil yang berbaring di sebelahnya mencari kehangatan.

"Sepertinya dia kelaparan sayang."

Kyungsoo tersenyum mendengar komentar Jongin. Dengan bantuan Jongin ia berbalik badan menghadap bayi kecil mereka yang telah lahir beberapa jam lalu. Mengeluarkan payudaranya mendekatkan puting susu pada mulut sang bayi. Hati Jongin menjadi begitu penuh perasaan bahagia melihat interaksi istri dan anaknya. Dia adalah pria paling beruntung dengan segala cinta yang ia dapatkan.

Berapa lama dia telah menunggu untuk kebahagiaan hari ini? Tapi setiap hari sejak dia mendapatkan Kyungsoo sepenuhnya adalah kebahagiaan bagi Jongin. Tidak pernah sekalipun dia berhenti untuk bersyukur, Kyungsoo mengajarinya banyak hal, menuntunnya untuk menjadi lebih dewasa dan berani bertanggung jawab dengan sebuah keputusan yang tegas.

"Jongin?" tanpa mengalihkan tatapan dari putra pertama mereka, Kyungsoo memanggil pria itu pelan

"Hm?" walau hanya sebuah gumaman sebab dia begitu takjub pada kehidupan yang sangat indah. Jemari tangan yang kokoh itu bergerak pelan membelai pipi bayi mereka. Ia terus tersenyum, jelas memperlihatkan perasaan bahagia.

"Dia anak kita." Ucap Kyungsoo lembut.

"Hmmm." Begitu bahagia hingga Jongin kesulitan membentuk sebuah kalimat untuk memberitahu bagaimana perasaannya. Tapi kemudian dia menatap Kyungsoo.

"Terima kasih kau mau bertahan dengan orang sepertiku. Kau tahu aku sangat mencintaimu. Ini adalah kesempatan terbesar yang aku miliki."

Air mata mengalir membuat Kyungsoo mengapit bayinya sementara satu tangan segera membelai wajah Jongin.

"Tentu saja. Kau telah melakukan semuanya dengan sangat baik."


~ RoséBear~


Epilog

Lelaki itu memarkir mobilnya pada sebuah toko roti yang berada di jalan utama dan tepat di persimpangan. Ketika melangkah masuk dia di sambut beberapa pegawai yang bekerja untuk sang istri.

Sepuluh tahun berlalu tanpa terasa Kyungsoo memiliki toko rotinya sendiri setelah memutuskan berhenti bekerja pada Jongin. Walau pada dasarnya dia tetap menjadi penasehat Jongin dalam bekerja.

Lelaki itu tidak langsung menerobos masuk ke bagian dapur, melainkan meraih sebuah kursi kayu dan duduk di pojok belakang. Memperhatikan Kyungsoo dengan apron polkadot di balik etalase kaca yang sedang membuat cake dengan isian krim.

"Krim puff?"

Jongin tersenyum atas keranjang yang telah diisi makanan oleh Kyungsoo.

Ia segera berdiri melihat Kyungsoo melepas apron dan menarik mantel coklat yang menggantung. Memberi beberapa instruksi kepada kepala koki utama di kafenya.

"Mari menjemput anak kita."

Mereka selalu melakukan piknik di taman Kota setiap tahunnya ketika ulang tahun anak mereka berlangsung.

"Jongin, sebenarnya tadi pagi ada surat yang masuk untukmu." Kyungsoo kembali ke balik kasir mengambil sebuah amplop dan segera menyerahkan pada Jongin. Lelaki itu menyerahkan keranjang piknik agar bisa membuka amplop yang diberikan Kyungsoo.

Mereka berjalan berdua keluar dari kafe dengan percakapan singkat.

"Apa isinya?" Tanya Kyungsoo setengah penasaran.

"Mereka kembali."

"Hmm?" Mata bulat Kyungsoo melebar tidak memahami ucapan Jongin. Tapi pria itu hanya tersenyum sembari memperlihatkan sebuah photo keluarga kecil kepada Kyungsoo.

Photo di mana Luhan dan Sehun yang sedang menggendong anak perempuan yang memegang angka delapan di depan namsan tower.

Melihat itu Kyungsoo ikut tersenyum. Sebuah kabar yang menyenangkan.

"Ayolah. Tae Oh pasti sudah menunggu."

Kyungsoo menarik Jongin untuk menuju mobil yang terparkir.

Apa yang telah terjadi? Ini bahkan sangat luar biasa ketika mereka menjemput Tae Oh dan menemukan anak laki-laki itu sedang duduk bersama seorang anak perempuan berwajah Asia Timur di depan sekolahnya. Mendengarkan permintaan anak mereka tentang ajakan untuk membawa teman barunya ke piknik keluarga bersama.

"Oh Ziyu."

Suaranya terdengar sangat manis ketika dia memperkenalkan dirinya dengan aksen Korea yang sangat tipis. Tapi sesuatu yang lain sangat mengejutkan Jongin.

Ketika piknik untuk satu keluarga kecil itu kedatangan tamu lama yang telah di tunggu kabar kepulangannya. Ketika ia melihat Sehun dan Luhan tersenyum pada mereka. Saat tikar itu terbentang menampung enam orang sekaligus.

"Jongin? Aku ingin bicara denganmu."

Saat itu Jongin segera tersenyum mendengar Sehun memanggil dirinya. Mereka berjalan ke lain arah ketika dua wanita itu mengawasi kedua anak mereka.

"Aku akan jujur mengatakannya. Aku sangat mencintai Luhan dan dia begitu menyayangi anak kami. Aku harap kau tidak..."

"Ya! Ya! Anak ini! Apa kau tidak tumbuh dewasa juga? Aku mendengar firma yang kau bangun menjadi begitu terkenal dalam beberapa tahun, apa itu tidak mengubah pikiranmu juga? Kita bisa melindungi keluarga kita masing-masing. Tapi Sehun-ah, aku tidak bisa menjamin melarang Tae Oh untuk menjaga jarak dari anakmu. Lihatlah dia tidak bisa lepas dari bidadari kecil kalian."

Sehun hanya terkekeh pelan memeperhatikan tentang apa yang barusan saja dikomentari Jongin.

"Sekarang aku tidak lagi merasa kehilangan Sehun-ah."

Bahkan saat melangkah keluar seorang diri, dia tidak memilik ketakutan apapun lagi. Sebab langit terbentang begitu luas, tidak ada alasan untuk berdiam diri. Selalu ada jalan untuk berbalik arah agar menemukan jalur yang sebenarnya. Semuanya dapat dimengerti, situasi-situasi kecil yang mendesak selalu bisa diatasi.


~ RoséBear~


"Kyungsoo?"

"Hm?"

"Aku mencintaimu."

"Hmm?"

"Aku ingin memiliki anak kedua denganmu."

"Entah kenapa tiap kali di dekatmu aku mengalami semacam heart attack," Kyungsoo tidak bercanda. Namun Jongin semakin tertawa. Menarik tubuhnya mendekat, mengabaikan hujan di luar yang menunda rencana akhir pekan mereka. Atau mungkin rencana itu berganti sebab mereka membutuhkan kehangatan yang lain.


-END-


(created-170803 : publish-180401)