Moon in the Spring

Chapter 1

A novel by : Hyun Go Wun

.

.

.

ps : ini ini fict remake dari novel terbitan Haru dengan judul yang sama. Cerita, alur, konflik, semua sama kecuali nama tokoh yang mengalami penyesuaian.

.

.

.

Kyumin (Kyuhyun-Sungmin/Kyuhyun-Hyunmin)

GS

.

.

.

Happy reading

.

.

.

Mati suri atau reinkarnasi

.

.

.

"Saudari Lee Sungmin kami nyatakan meninggal pukul 19.20 karena gagal jantung."

Tangan dan wajah dokter itu banjir keringat. Ia memperhatikan raut wajah anggota keluarga pasien yang ada di sekitarnya. Mereka tampak menahan napas masing – masing. Sebagai dokter, ia sudah melakukan semua cara untuk bisa menstabilkan kondisi pasien, tetapi tidak berhasil.

"Saya turut berduka cita."

Dokter itu ikut merasa sedih ketika pasien yang dirawatnya tidak berhasil melawan penyakit dan akhirnya meninggal. Sang dokter juga bisa merasakan duka keluarga yang ditingggalkan.

Akan tetapi hari ini berbeda. Di dalam kamar itu tidak ada yang berduka selain dokter muda itu. Suasana di dalam kamar itu terasa dingin, padahal kelurga yang berkumpul saat itu baru saja kehilangan salah satu orang yang mereka cintai. Sang dokter mulai merasa ragu dan sedikit curiga melihat situasi ini.

"Dia benar – benar meninggal?" gumam seorang pria dari pihak kelurga dengan suara yang rendah dan dingin.

Pria itu terdengar seperti berbicara sendiri. Namun suaranya terdengar jelas karena monitor jantung sudah dimatikan. Dari nada bicaranya, sama sekali tidak ada kesedihan di dalamnya. Bahkan sinar matanya tidak menyiratkan apa – apa. Anggota keluarga pasien yang lain pun tidak memberika respon.

"Kalaua saja aku tahu akan seperti ini jadinya, aku akan menyuruhnya menikah lebih cepat," kata seorang wanita paruh baya yang kemudian ditimpali oleh anggota keluarga pasien lainnya.

"Betul. Seharusnya merger perusahan kita lakukan lebih cepat. Karena siapa tahu saja, sesudah ini akan ada banyak hal yang harus diurus."

"Jadi siapa yang akan menjadi pemegang saham milik Sungmin?" tanya pria dengan suara dingin tadi.

Pris itu bernama Cho Kyuhyun, tunangan Sungmin, pasien yang baru saja dinyatakan meninggal. Ia menanyakan perihal saham kepada anggota keluarga Sungmin yang lain demi kepentingannya sendiri. Ia ingin bisa mencaci wanita itu. Tunangan yang sama sekali tidak berguna untuknya.

"Tentu saja sebagai ibunya, aku yang akan menjadi pewarisnya. Walaupun aku hanya ibu tiri, tetap saja aku ibunya. Dan menurutku, sudah sepantasnya kalau keluarga inti yang harus menerima warisan itu." Wanita paruh baya tadi, Nyonya Kim, menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan tegas.

Isi kepala mereka saat ini penuh dengan berbagai hal yang berbau warisan, tanpa benar- benar memedulikan apa yang baru saja terjadi. Mau bagaimana lagi? Kalau sudah meninggal, ya meninggal saja. Yang masih hidup, harus terus melanjutkan dan bertahan hidup.

"Pasti Pengacara Han sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Noona, sebaiknya kita cepat enyelesaikan urusan warisan ini. Lebih cepat lebih baik, kan?" sahut adik Nyonya Kim.

Dokter dan suster yang masih ada di dalam kamar itu hanya bisa bertukar pandang. Mereka bingung karena alih – alih berduka, keluarga itu lebih semangat membicarakan urusan mereka sendiri.

"Maafkan kami, Presdir Cho. Padahal kami ingin kau lebih dari sekedar rekan bisnis dan menjadikanmu anggota keluarga, tetapi…." Kata – kata adik Nyonya Kim kali ini ditujukan kepada Cho Kyuhyun.

"Ahjussi, menurutku kita menyerah terlalu cepat." Adik tiri Sungmin, Ryeowook, memdekati pamannya sambil menatap Kyuhyun.

Dibandingkan Sungmin yang pendiam dan hampir tidak terlihat, Ryeowook memiliki kepribadian yang lebih ceria dan menyenangkan. Mata Ryeowook berbinar ketika ia tahu kalau dirinya berhasil menarik perhatian Kyuhyun. Sebenarnya menikah dengan Kyuhyun akan menjadi beban untuknya, belum lagi… pasti akan sulit berurusan dengan pria itu. Akan tetapi membayangkan kekayaan dan kekuasaan yang akan didapatkannya, Ryeowook yakin kalau ia pasti bisa bersabar menghadapi semua kesulitannya itu.

"Aku akan menggantikan posisi eonni untuk menikah dengan Kyuhyun."

"Tidak perlu. Aku tidak berminat melakukan apa pun termasuk bertunangan lagi."

Kyuhyun menjawab dengan tegas dan tidak ragu memberikan senyum sinisnya kepada Ryeowook. Ia tak lagi memiliki tunangan. Lee Sungmin, wanita yang baru saja meninggal itu memiliki sesuatu yang selama ini diinginkannya. Hanya itu saja yang menggoda Kyuhyun, sisanya tidak ada. Pria itu bahkan tidak berniat untuk benar – benar menghabiskan waktu bersama Sungmin. Sampai saat ini, Kyuhyun menilai Sungmin sebagai wanita tak berharga.

"Dengan siapa pun kurasa tidak akan ada masalah," kata nyonya Kim

"Tentu saja ada."

Sebelum Kyuhyun membuka mulutnya, sesorang sudah terlebih dahulu menjawab. Suara orang itu jelas terdengar oleh siapapun yang ada di kamar itu, yang langsung memalingkan wajah dan dalam sekejab terdiam dengan pandangan tak percaya. Bahkan Ryeowook dan nyonya Kim hampir pingsan.

Dokter dan suster yang masih berada di kamar itu pun langsung menghentikan kegiatan mereka. Wajah mereka berubah pucat pasi. Hanya Kyuhyun yang masih terlihat bisa mengendalikan diri. Dengan raut wajah yang masih sama seperti tadi, Kyuhyun melangkah mendekati Sungmin yang terbaring di atas tempat tidur dan menarik kain putih yang digunakan untuk menutupi jasad tunangannya. Meski masih terlihat pucat, tetapi mata Sungmin bersinar seolah – oleh ngin mengatakan "Aku masih hidup".

"Kau tidak meninggal?"

"Memangnya aku terlihat seperti orang meninggal?"

Wanita itu menjawan sambil merapikan rambutnya yang berantakan menutupi dahi.

Wanita itu menatap Kyuhyun dengan senang, sementara Kyuhyun sibuk dengan pikirannya sendiri. Pria itu mencoba meyakinkan dirinya sendiri, apakah ia salah lihat atau tidak.

Sorot mata Kyuhyun terlihat kosong dan ia kembali memandang Sungmin. Raut wajah pria itu tidak menunjukkan emosi apa pun. Entah karena ia memang andal mengendalikan perasaannya atau memang hatinya yang sudah mati, sampai ia sama sekali tidak memedulikan apakah tunangannya meninggal atau tidak. Meskipun demikian, firasat Kyuhyun mengatakan sesuatu yang aneh sedang terjadi.

"Kau terlihat baik – baik saja."

"Iya. Dan aku akan baik – baik saja."

Senyum wanita itu tampak meyakinkan. Dan jujur saja, Sungmin merasa tertantang.

Sang dokter langsung memeriksa keadaan Sungmin yang kembali sadar. Tak lama, suster yang bertugas pun meminta semua orang yang ada di dalam kamar itu untuk menunggu di luar. Dengan raut wajah penuh tanda tanya, mereka keluar kamar setelah sebelumnya sempat memandang Kyuhyun dan Sungmin bergantian.

.

.

.

Sungmin yang kembali hidup membuat semua orang hampir pingsan. Semua, kecuali Kyuhyun. Dengan susah payah, Sungmin berusaha menopang tubuhnya sendiri sambil memperhatikan kamar itu. Dengan langkah yang belum seimbang, ia berusaha mencari dan segera masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca. Ia terlihat sakit.

Kulitnya pucat. Ia pun terlihat seperti tidak memiliki pipi sama sekali saking tirusnya. Dengan wajah seperti ini, ekspresi apa pun yang dibuatnya tidak akan bisa terbac oleh siapa pun. Dan keseluruhan wajahnya, yang terlihat menonjol adalah bagian hidung. Ia terlihat seperti hantu karena kembali hidup. Mata bulat itu bersinar, tetapi ada yang lain dengan tatapan matanya. Pelan – pelan, mata itu memperhatikan pantulan cermin yang ada di hadapannya. Pantulan itu juga memberikan bayangan wanita lain selain Sungmin. Ia adalah Hyunmin yang masuk ke dalam tubuh Sungmin, wanita yang sebelumnya sudah dinyatakan meninggal.

Ya. Tadi dokter sudah menyatakan Sungmin meninggal. Jadi yang saat ini menghuni tubuh Sungmin adalah Hyunmin yang tadi buru – buru turun dari langit.

Hyunmin adalah seorang dewi. Lebih tepatnya, Hyunmin adalah calon dewi. Tentu saja tidak ada manusia yang percaya kalau melihat dengan mata dan kepala mereka, tetapi Hyunmin benar – benar dewi. Alasan yang membuat Hyunmin berlari menuju bumi adalah karena ada seorang manusia yang memohon pertolongannya. Ia sudah melanggar prosedur ketat reinkarnasi dan masuk ke tubuh manusia begitu saja tanpa izin. Hyunmin yakin kalau Kaisar Langit tahu, pasti beliau akan menghukumnya.

Andai saja wanita itu tidak memohonke padaku.

Andai saja pria itu mau bersimpati sedikit saja, dan tidak terus menyimpan kebusukan di dalam hatinya.

Dan andai saja Hyunmin tidak terlanjur memberikan janjinya.

Seandainya semua itu tidak terjadi, ia tidak akan berada di bumi yang menjadi tempat manusia tinggal ini. Semua tindakannya kali ini membuat semua keadaan berubah.

Hyunmin menghela nafas karena teringat permohonan terakhir Sungmin. Hyunmin sudah memberikan janjinya kepada wanita itu, jadi walaupun wanita itu sudah tidak ada lagi di bumi, Hyunmin harus menepati janji itu.

Hyunmin bingung ia tidak bisa berhenti berpikir. Apa yang sebaiknya dilakukannya? Kali ini, dirinya sendiri yang menciptakan masalah ini. Akan tetapi Hyunmin tidak akan melangkah sejauh ini kalau bukan karena pria itu. Andai kata tadi sampai waktunya Sungmin pergi meninggalkan bumi, pria itu tidak memandang Sungmin dengan tatapan penuh kebencian, hal itu tidak akan terjadi.

Pria itu sama sekali tidak menunjukkan simpati atas kepergian Sungmin. Manusia tak berperasaan. Kemarahan Hyunmin, yang sekarang sudah menjadi Sungmin, muncul lagi ketika ia memikirkan apa yang terjadi satu jam sebelumnya.

.

.

"Tuhan! Tolong aku!"

Hyunmin langsung turun ke bumi, tepatnya ke sebuah kamar ruang rumah sakit tempat Lee Sungmin – 26 tahun – terbaring dengan tubuh yang kecil dan kurus sekali. Sungmin dalam keadaan kritis dan Hyunmin muncul untuk menawarkan bantuannya.

"Tolong aku! Aku mohon, bawa aku pergi dari sini. Kumohon. Selamatkan aku. Aku ingin mati. Sekarang. Sekarang."

Sungmin memohon kepada Hyunmin, yang sebenarnya tidak punya kuasa sama sekali atas kematian. Namun tampaknya memang kematian sudah mendekati wanita itu karena Malaikat Kematian muncul di kamar tersebut.

Malaikat nomor 2999 itu kelihatan bingung karena ada dua orang wanita di hadapannya. Siapa wanita itu? Kenapa kenapa dia bisa melihatku? Wanita itu membuat kamar itu terasa hangat dan terang, padahal sebelumnya kamar ini terasa suram dan gelap.

"Kau tidak bisa menyerah. Kau harus terus berjuang dan menang. Lawan. Aku yakin kau pasti bisa."

"Aku sudah tidak punya alasan untuk hidup. Tidak ada satu pun orang yang mencintaiku."

"Jangan khawatir, kau akan bertemu dengan orang yang mencintaimu sebentar lagi. Tunggu saja. Percayalah padaku."

Hyunmin berdiri di samping Sungmin dan tidak berhenti menyemangati wanita itu. Sayangnya Sungmin tidak berhenti menggelengkan kepalanya. Wanita itu sudah tidak ingin tinggal di dunia yang menyeramkan ini. Ia tidak ingin hidup sendiri dan kesepian. Tidak hanya itu, ia juga tidak ingin lagi merasakan sakit hati. Apalagi berhadapan dengan Cho Kyuhyun. Sungmin tidak ingin berurusan lagi dengan pria itu.

"Selamatkan dia. Masih ada urusan yang belum selesai."

Suara dingin dan tajam yang datang dari seorang pria membuat Sungmin menoleh. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Pria itu sampai datang ke sini! Wanita itu hanya bisa berteriak putus asa dalam hati.

"Apa yang membuatnya seperti itu?"

Tanya Kyuhyun dengan dahi berkerut. Ia tidak puas dengan jawaban yang sudah disampaikan oleh dokter. Wanita itu sengaja menyakiti dirinya dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Sampai hari ini Sungmin sudah dirawat kurang lebih dua minggu. Meski telah melalui proses cuci perut yang berjalan dengan baik, wanita itu belum juga sadar.

"Kalau untuk hal yang seperti ini saja Anda tidak bisa menjelaskannya kepada saya, apakah Anda pantas disebut dokter?"

"Penyakit bisa muncul karena banyak hal. Walau kami sudah melakukan pemeriksaan…."

"Lupakan saja. Saya tidak perlu penjelasan yang Anda buat – buat. Tolong selamatkan dia karena dia masih punya banyak urusan di dunia ini."

Urusan yang belum selesai. Tanpa rasa khawatir dan peduli sedikit pun, pria itu mengucapkan kata – kata tak berperasaan di hadapan tunangannya yang sedang sekarat dan membuat detak jantung wanita itu semakin lemah. Hyunmin menghela nafas dalam – dalam melihat hal itu. Ternyata yang ikut terpancing emosinya bukan hanya sang dewi, tetapi sang Malaikat Kematian yang baru saja muncul pun merasakan hal yang sama.

"Saya tidak percaya ada manusia sebusuk itu," kata sang Malaikat.

"Saya juga," balas Hyunmin.

Jangan – jangan pria itu sudah tahu kalau sebenarnya Sungmin juga ingin mati saja?

Pria bernama Cho Kyuhyun itu berambut pendek dan beralis tebal. Tatapan matanya setajam pisan dan dihiasi bingkai kacamata berwarna perak. Dengan wajauh tanpa ekspresi, pria itu tampak menyeramkan sekali. Auranya pun terlihat gelap. Melihat jiwa segelap itu, apa sungguh bisa disebut manusia? tanya Hyunmin dalam hati. Entah berapa banyak upacara ritual yang harus dilakukan untuk membersihkan jiwa segelap itu. Apakah manusia tidak tahu bahwa keburukan bisa menggerogoti hidup mereka sendiri?

"Tolong bawa aku pergi dari sini. Aku tidak sanggup menghadapi pria itu," kata Sungmin.

"Jangan pedulikan dia. Kalau kau tidak mengabaikannya, hidupmu sendiri yang akan hancur."

Jawaban Hyunmin itu berhasil membuat tatapan mata malaikat itu berubah.

Jadi, nona muda itu bukan manusia. Kenapa tadi aku tidak bisa langsung mengenalinya jika dia dewi dari langit? Malaikat itu akhir paham kenapa cahaya terang membalut tubuh wanita itu. Cahaya yang menbuat kamar suram itu menjadi lebih terang.

Malaikat itu membungkukkan badan sebagai tanda hormat kepada Hyunmin. Sang Dewi membalasnya dengan senyum lebar. Sekarang kamar itu tidak hanya berubah lebih terang, tetapi juga penuh dengan kehangatan. Akan tetapi apa yang membuat dewi itu sampai turun ke bumi seperti sekarang?

"Aku mohon! Aku mohon selamatkan aku. Aku tidak sanggup berhadapan dengan orang itu. Aku takut."

"Maaf. Saya tidak bertugas untuk menyelamatkan Anda. Tetapi kalau Anda sudah siap, saya akan membawa Anda pergi dari sini."

Melihat situasi tersebut, sang Malaikat akhirnya ikut bicara dan dengan sopan membungkukkan badannya.

"Anda tidak bisa membawanya pergi sekarang. Dia masih punya urusan yang belum selesai di sini."

Hyunmin menggeleng dan berusaha menahan malaikat itu membawa Sungmin pergi.

Malaikat itu memiringkan kepalanya karena bingung mendengar perkataan Hyunmin.

"Tetapi sekarang sudah waktunya dia untuk pergi."

"Tidak. Tidak mungkin."

Protesan Hyunmin membuat malaikat itu seperti kehilangan hidupnya sendiri.

Setiap manusia sudah memiliki takdirnya masing – masing. Begitu pula dengan usia manusi, usia hidup dan mati manusia pun telah digariskan oleh takdir. Akan tetapi bisa juga semua kembali pada tekad dan niat yang dimiliki manusia itu. Nasib manusia bisa berubah ketika ia mau bertarung dengan dirinya sendiri. Namun, semua akan berbeda ketika manusia itu sendiri yang ingin menyerah menjalani hidupnya. Bahkan langit pun tidak bisa berbuat apa – apa. Menurut pengamatan malaikat itu, manusia yang sedang diperjuangkan oleh Hyunmin sudah tidak ingin hidup sekarang. Dan hal itu membuat Hyunmin menghela nafas lebih dalam lagi.

Melihat perdebatan serius Hyunmin dan malaikat itu, untuk pertama kalinya wanita itu tersenyum. Akhirnya ia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.

"Dewi, tolong kabulkan satu permintaanku. Aku mohon Dewi untuk memanusiakan orang itu."

Wanita itu mengatakannya sambil menatap Hyunmin. Sekarang ia sudah siap untuk pergi.

"Tadi kau bilang kalau kau tidak menyukainya?"

"Memang. Aku sangat membencinya."

Sungmin menggeleng. Jawabannya terdengar tegas sekali.

"Lalu kenapa kau memintaku untuk mengabulkan permintaanmu itu?"

"Karena jika dia sudah menjadi manusia yang baik, dia akan bisa mencintai orang lain. Jadi nantinya dia akan bisa merasakan kesakitan dan penderitaan yang kurasakan. Aku ingin dia tahu."

Menjadikannya manusia. Manusia yang berhati busuk itu? Malaikat itu memandang Kyuhyun dan menggeleng. Sepertinya akan lebih mudah kalau langsung membawanya ke bawah bumi. Karena biasanya manusia seperti itu umurnya lebih panjang.

"Ini adalah permintaan terakhirku. Dewi, tolong bantu aku."

Sungmin menyampaikan permintaan terakhirnya sambil menatap mata Hyunmin dan menggenggam tangan calon dewi itu.

"Baiklah. Aku janji. Tetapi sebagai gantinya, bagaimana kalau kau bertahan sebentar lagi di dunia ini?"

"Aku tidak bisa. Semua sudah terlambat dan Dewi tahu itu."

Wanita itu tersenyum. Ia memercayakan semuanya kepada Hyunmin. Namun pelan – pelan senyum itu memudar.

"Detak jantungnya hilang."

"Naikkan tekanannya jadi tiga ratus joule."

Semua orang yang ada di kamar itu terpaku memperhatikan sang dokter yang bergerak cepat. Namun sayangnya, mesin monitor yang terpasang di tubuh Sungmin pelan – pelan memperdengarkan suara detak jangtung yang melambat.

Kyuhyun berjalan ke pinggir kamar supaya tidak menghalangi gerakan dokter yang sedang berusaha melakukan yang terbaik. Raut waajah pria itu tidak bisa terbaca dengan jelas. Ia tampak cemberut. Seharusnya, wanita itu tidak melakukan upaya bunuh diri. Kyuhyun tidak memungkiri bahwa Sungmin adalah wanita yang lemah. Meski demikian, ia tidak pernah menganggap Sungmin sebagai wanita gila yang lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

"Wanita itu memang tidak pernah beruntung."

Kyuhyun menggumam pelan yang mungkin tidak bisa di dengar oleh orang lain di dunia manusia ini, tetapi Hyunmin mendengarnya. Begitu juga dengan sang Malaikat. Pandangan mereka terpaku pada satu orang. Kyuhyun.

Jiwa Kyuhyun terlalu gelap, hatinya terlalu busuk. Dan manusia ini sudah terlalu banyak melakukan kejahatan.

Seolah bisa merasakan tatapan tajam Hyunmin, Kyuhyun membalik badan dan melangkah ke arah wanita itu. Luar biasa. Pria itu sensitive sekali.

"Sudah waktunya kami pergi."

Sang Malaikat berkata dengan hati – hati kepada Hyunmin, yang masih menggenggam tangan Sungmin. Sekarang sudah tiba waktunya.

"Dewi, Anda juga sebaiknya pergi."

"Iya. Anda pergi saja dulu. Saya ingin berada di sini sebentar lagi."

Malaikat itu kembali dibuat bingung. Karena sepengetahuannya, ada peraturan yang mengatakan kalau seorang dewi tidak boleh tinggal di dunia manusia.

"Harus ada yang membuat pria itu kembali menjadi manusia." Hyunmin bergumam pelan.

"Mak…sud Anda?"

Seketika sang Malaikat membelalakkan matanya. Ia terkejut. Ia ingin tahu apa yang sedang direncanakan oleh dewi itu.

Hyunmin tidak bisa membiarkan pria brengsek itu begitu saja dan pergi. Apalagi ia sudah terlanjur berjanji. Sepertinya pria itu sudah lupa rasanya menjadi manusia karena berbagai keburukan dan kejahatan sudah terlanjur bersarang di hatinya. Jadi untuk mengubah pria itu kembali menjadi manusia yang utuh, harus ada yang mengajarinya tentang dasar – dasar menjadi manusia yang baik.

"jangan – jangan Anda berpikir untuk reinkarnasi.…"

Malaikat itu langsung menutup mulutnya sendiri dengan tangan, olah – olah aka nada pihak lain yang akan mendengar pernyataannya tadi.

"Maafkan saya, Dewi. Anda harus mendapatkan izin dari langit jika Anda ingin melakukan reinkarnasi. Karena jika tidak, aka nada masalah besar dan Kaisar Langit akan marah besar!"

Tanpa sadar, malaikat itu berteriak. Bukan tidak mungkin kalau sang Dewi akan melakukan sesuatu kepada manusia menyedihkan yang bernama Kyuhyun itu.

.

.

"Anda tadi lihat sendiri, kan? Sebagai seorang dewi, saya harus menepati janji. Lagi pula ini adalah tugas yang diberika Kaisar Langit kepada saya. Bereinkarnasi sebagai manusia."

Memang target reinkarnasi Hyunmin berubah, tetapi ia harus menepati janjinya.

Pria brengsek! Kau lihat saja nanti. Aku akan memberimu pelajaran. Tekad bulat terlihat dari wajahnya. Tangan Hyunmin mengepal keras.

"Bagaimanapun ,juga, Anda…."

Hyunmin mengabaikan saran itu dan menghilang untuk bereinkarnasi.

"…tetap memerlukan izin." Sang Malaikat meneruskan kalimatnya yang terputus tadi.

Sudahlah. Entah. Yang penting, apa yang baru saja terjadi, tidak ada hubungannya dengaku. Tetapi kalau boleh jujur, yang dilakukan oleh dewi itu mengagumkan sekali. Dia berbeda sekali bila dibandingkan dengan dewi lainnya. Sang Malaikat punya pendapat yang sama dengan Hyunmin tentang pria itu. Pria brengsek yang harus diberi pelajaran.

"Tamat sudah riwayat kalian." Kata sang Malaikat sambil beranjak pergi.

Hyunmin yang sudah menjadi Sungmin menatap pintu yang tertutup. Sepertinya ia harus memundurkan jadwal reinkarnasi yang harus dilakukannya untuk menjadi seorang dewi. Tugasnya sekarang adalah memanusiakan seorang manusia. dan untuk saat ini, hal tersebut lebih mendesak dibandingkan menjadi seorang dewi.

.

.

.

"Kita ke kantor?" tanya Minho.

"Tidak," jawab Kyuhyun.

Sedari tadi Kyuhyun memandangi dengan kesal ponselnya yang terus bordering, sementara sekretarisnya memilih untuk diam dan memutar balik mobil. Macet dan sejauh mata memandang, yang terlihat hanya barisan lampu belakang mobil berwarna merah.

"Apa mungkin orang yang sudah mati bisa hidup lagi?"

Setelah hening beberapa saat, Minho bertanya dengan hati – hati kepada atasannya. Apa yang terjadi tadi tidak hanya mengejutkan Kyuhyun, tetapi juga bagi Minho.

"Tadi kau lihat sendiri. Sepertinya hal seperti itu mungkin saja terjadi."

Kyuhyun menjawab dengan raut wajah datar seolah tidak terjadi apa – apa.

Lee Sungmin. Wanita itu adalah tunangan Kyuhyun, tetapi pria itu tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadapnya. Lagi pula, sebenarnya pertemuan mereka bukan tidak disengaja. Sebaliknya.

Kekayaan wanita itu menggiurkan dan Kyuhyun yakin kalau ia berhasil, bisnisnya akan sangat terbantu. Dengan adanya desas – desus yang mengatakan kalau Sungmin cukup potensial, Kyuhyun dengan sengaja mencari wanita itu.

Ayah Sungmin yang merupakan presiden Perusahaan Konstruksi Mirae, presiden Lee, memberikan satu syarat kepada pria itu sebelum mereka bisa melakukan merger. Sayangnya, presiden Lee sebagai salah satu pihak yang membuat perjanjian itu meninggal dunia dan Sungmin pun memilih untuk melakukan upaya bunuh diri.

Akan tetapi sekarang wanita itu kembali hidup. Kyuhyun akan memanfaatkan waktu sebaik – baiknya agar proses merger bisa segera terwujud. Lebih cepat lebih baik.

"Padahal tadi saya yakin sekali kalau detak jantungnya sudah berhenti, tetapi ternyata… dia hidup lagi. Silit dipercaya."

"Aku percaya. Karena aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."

Nada bicara Kyuhyun kembali datar.

Posisi Kyuhyun kali ini cukup menguntungkan. Sebenarnya ia cukup merasa terganggu dengan adanya pertunangan itu, karena masih banyak hal yang harus diselesaikannya. Setidaknya sekarang, dengan Sungmin yang kembali hidup, Kyuhyun tidak harus mengulang semua pekerjaannya dari jika sampai hal itu terjadi, akan lebih mengesalkan dibandingkan pertunangan itu sendiri. Kyuhyun membenarkan posisi kaca matanya dan menatap ke luar jendela mobil dengan tatapan kosong.

.

.

.

Tak lama setelah pintu kamar hotel terbuka, Seohyun langsung memeluk Kyuhyun dan kemudian keduanya berciuman dengan penuh gairah.

"Perempuan itu hidup lagi?"

Seohyun langsung bertanya kepada Kyuhyun tak lama setelah melepas bibirnya dari pria itu.

Seohyun tahu betapa jahatnya Cho Kyuhyun. Menurutnya, Sungmin hebat sekali masih bisa bertahan hidup menghadapi pria itu. Kyuhyun maupun dirinya tak pernah memedulikan wanita itu, terlebih bersimpati terhadap apa yang dirasakan Sungmin selama ini.

"Sepertinya begitu."

"Tampaknya dia bukan perempuan biasa."

"Entahlah. Aku tidak peduli."

"Maksudku, dia memang berbeda. Aku tidak menyangka kalau ternyata dia semelankolis itu sampai bunuh diri segala. Aku tidak tahu kenapa dia sampai seperti itu."

Kyuhyun agak kesal mendengar perkataan Seohyun. Ia menepuk pundak wanita itu dengan halus. Kata 'bunuh diri' terlalu sensitive untuk diucapkan saat ini.

"Aku tidak bisa menunggu perempuan itu mati. Ayo kita cepat selesaikan semua hal, jadi kita bisa cepat menikah."

Seohyun memeluk pinggang Kyuhyun yang sedang mengeluarkan minuman dari kulkas. Kyuhyun sudah cukup lama bertunangan dengan wanita yang mirip dengan hantu itu.

"Seingatku, kita tidak pernah punya perjanjian apa – apa yang berhubungan dengan pernikahan."

Kyuhyun melepaskan pelukan Seohyun dari tubuhnya kemudian menata wanita itu.

Dalam keheningan, mereka sadar bahwa perjanjian yang mereka buat cukup sederhana. Yaitu, hubungan tanpa ikatan apa pun. Di awal pertemuan mereka, Seohyun menyetujui syarat itu. Ia tidak ingin menjadi istri siapa pun, tidak juga ingin mengerjakan berbagai pekerjaan yang bisa membuatnya kotor dan juga tidak ingin terlalu menyiapkan masa depan. Namun, melepaskan Kyuhyun begitu saja sekarang… mubazir sekali.

"Tetapi semuanya bisa saja berubah, kan?" tanya Seohyun.

"Hal itu tidak berlaku untukku."

Seohyun mencibir sebagai tanda tak puas mendengar jawaban Kyuhyun. Tak lama, wanita itu melepas kaca mata Kyuhyun dan membalas tatapan tajam pria itu dengan berani. Tatapan penuh gairah. Malam itu menjadi malam yang penuh rahasia untuk mereka berdua.

.

.

.

T B C

duch yang bagian akhir... saya ga kuat sendiri ngetiknya =_=

nemu banyak typo ya? maafkan, meskipun saya ngetik ulang tapi tetep aja jari saya masih suka 'kepleset'

awalnya saya baca juga agak bingung sama ceritanya tapi pas uda jalan malah jadi seru sendiri.

pada bingung antara Hyunmin sama Sungmin? sama saya juga #eh :D

Hyunmin itu dewi, Sungmin itu tunangannya Kyu yang ga disenengin Kyu. nach masalah Sungmin cinta ato ga..silakan simpulkan sendiri.

ada yang tanya, kalo Hyunmin tokoh utamanya, kenapa ga pake nama Sungmin? itu karna sampai akhir cerita kyu ga tau kalo tunangannya itu bukan Sungmin. jadi kyu taunya ya sungmin. karna hyunmin cuma ngisi raganya sungmin jadi orang2 ya taunya dia sungmin. kalo nama nya saya tuker, berarti nanti yang sering keluar namanya Hyunmin bukan sungmin. itu sebabnya di atas sebelum masuk cerita, kyumin nya saya kasi dua - kyuhyun-sungmin/kyuhyun-hyunmin. saya ngerti maksudnya kok..trimakasi untuk masukkannya dan ini adalah penjelasan saya ^^

terimakasih untuk reson yang cukup baik. semoga ceritanya ga semakin bikin bingung temen2 ^^. trimakasih juga buat saran2nya..saya tunggu saran yang lain juga.

thankyuuu ^^