Moon in the Spring
Chapter 2
A novel by : Hyun Go Wun
.
.
.
ps : fict ini hanya remake dari novel terbitan Haru dengan judul yang sama. Cerita, alur, konflik, semua sama kecuali nama tokoh yang mengalami penyesuaian.
.
.
.
KyuMin (Kyuhyun-Sungmin/Kyuhyun-Hyunmin)
GS
Typo(s)
'
'
'
Happy reading
.
.
.
Jatuhnya seorang dewi
Dengan terjadinya masalah yang paling dihindari selama ini, dalam waktu bersamaan, sebuah rapat darurat langsung digelar di langit dan di bawah bumi.
Hyunmin terlahir sebagai manusia. Sebagai calon dewi, ia memiliki hati yang baik dan juga jiwa yang suci. Hati yang baik dan jiwa yang suci itu tidak pernah berubah, tetap sama seperti dulu. Supaya bisa menjadi seorang dewi, darah manusia harus hilang dari tubuhnya. Itulah kenapa Hyunmin harus melakukan tujuh kali reinkarnasi. Namun sayangnya direinkarnasi ketujuh, wanita itu justru melakukan reinkarnasi yang benar – benar berbeda dari yang diperintahkan oleh Kaisar Langit kepadanya.
Ditambah lagi, Hyunmin masuk ke dalam tubuh manusia yang sudah meninggal, yang rohnya sudah pergi bersama Malaikat Kematian. Hyunmin menciptakan masalah besar dengan melakukan hal – hal yang tidak seharusnya ia lakukan. Entah berapa banyak peraturan yang dilarangnya. Namun yang pasti, lagi – lagi ia menciptakan huru – hara tidak hanya di langit, tetapi juga di bawah bumi. Para penghuni dua tempat itu terlihat resah dan tidak berani membayangkan jika Kaisar Langit tahu lalu murka. Akan tetapi karena reinkarnasi yang tak dikehendaki itu sudah terlanjur terjadi, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan untuk memperbaiki situasi tersebut.
"Cepat panggil dia kembali. Sekarang juga."
"Sepertinya tidak mungkin. Meski dilakukan tanpa izin, reinkarnasi itu sudah terjadi dan berjalan."
Tidak hanya para tetua langit yang dibuat pusing, dewa – dewi pun merasakan hal yang sama.
"Jadi manusia yang direinkarnasi oleh Hyunmin…."
"Lebih tepatnya, dia menggantikan posisi orang itu."
Dewa – dewi yang mendengar hal tersebut hanya bisa menghela napas. Ada kemungkinan, peraturan yang harus mereka patuhi nantinya akan semakin banyak. Dan tentu saja ini akan berpengaruh pada persiapan mereka, yang bisa jadi akan membutuhkan waktu lebih lama lagi dibanding sekarang.
Seandainya Hyunmin masih ingin menjadi seorang dewi, bukan tidak mungkin ia akan membutuhkan waktu yang lebih lama pula. Fakta yang membuat Siwon hanya bisa tersenyum pahit
"Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?"
Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Semua terdiam dan menundukkan kepala. Mereka semua sadar betapa besar masalah yang diciptakan Hyunmin dan seberapa besar tanggung jawab yang harus dipikul oleh calon dewi itu.
Jika Kaisar Langit tahu tentang masalah ini, sudah pasti beliau akan marah besar. Mana mungkin masalah sebesar ini disembunyikan. Bahkan bisa saja beliau sudah tahu semuanya. Tidak banyak yang bisa dilakukan sekarang, selain menunggu instruksi berikutnya dari Kaisar Langit.
"Ada berita apa dari bawah bumi?" tanya seorang anggota Dewan Langit.
"Belum ada laporan tentang hasil rapat mereka, tetapi saya rasa di sana pun tidak kalah kacaunya dengan di sini," jawab Siwon.
Keputusan yang baik tidak bisa ditentukan dalam waktu singkat. Kemungkinan, mereka harus menunggu selama beberapa waktu untuk akhirnya mendapatkan keputusan terbaik.
"Aduh! Kepalaku sakit sekali."
"Tolong maafkan Hyunmin. Saya rasa, hal ini terjadi karna dia tidak bisa berpikir secara bijaksana. Seperti yang anda tahu, jiwa dan darah manusia masih kental mengalir di dalam tubuhnya."
Dengan hati – hati Siwon berusaha membela adiknya.
"Kenapa dia tidak bisa sepertimu? Setidaknya… ada sebagian darinya yang sama denganmu."
Anggota dewan mendecakkan lidah karena heran.
.
.
.
"Aku harus bilang berapa kali lagi? Jangan pernah mencampuri urusan manusia!"
Sesuai dugaan, Tetua dunia bawah bumi pun dibuat pusing. Sudah berapa kali malaikat muda nan ambisius itu bertanya tentang langkah apa yang sebaiknya mereka ambil. Akan tetapi Tetua yang selama ini selalu bisa menilai dengan adil pun tidak mampu mengatasi masalah yang terjadi sekarang.
"Menurut saya, dalam masalah ini… Dewi langit…."
Tetua langsung menatap tajam ke arah sang Malaikat yang mencoba memberikan argumennya, tetapi lebih terdengar seperti alasan yang tidak masuk akal. Bagaimanapun juga, perbuatan Hyunmin sama sekali tidak bisa disebut pantas karena ia sudah melibatkan perasaan pribadinya dan berurusan langsung dengan manusia berjiwa gelap itu. Mendengar penjelasan bawahannya, Tetua itu justru menjadi semakin marah. Hal itu bisa menjadi pelajaran supaya sang Malaikat semakin berhati – hati dalam membuat setiap keputusannya.
Malaikat itu cukup yakin bahwa hukuman yang diterimanya kali ini akan tetap berhubungan dengan masalah yang telah terjadi. Kemungkinan besar, ia akan mengemban tugas untuk bisa mengatasi masalah tersebut.
"Aku tidak perlu mendengar penjelasanmu kenapa dia melakukan itu semua. Karena itu semua di luar kuasaku. Itu sudah menjadi urusan Kaisar Langit. Aku sekarang hanya ingin tahu tentang kesalahan yang kau perbuat." Tetua kembali berkata dengan tegas.
"Maafkan saya."
Malaikat itu boleh saja meminta maaf dan menyesal, tetapi raut wajahnya memperlihatkan sebaliknya.
Ia terlihat kesal. Sepengetahuannya, di dunia manusia banyak terdapat orang – orang jahat. Ia juga tahu seburuk apa perbuatan mereka. Kalau saja manusia – manusia seperti itu tidak ada, pasti bumi akan menjadi tempat yang tenang untuk ditinggali.
"Penjelasanmu terdengar sia – sia saja di telingaku. Walau kau bilang kalau kau tidak bermaksud mencampuradukkan emosi dalam masalah ini, seharusnya kau bisa menjaga emosi dan sikapmu. Kalau kau tidak bisa melakukannya, bagaimana kau bisa menyelesaikan tugasmu dengan baik?"
Tetua menghela napas. Mungkin karena lelah.
Meski mungkin malaikat itu kurang bisa mengendalikan emosinya sendiri, tetap saja selama ini ia adalah malaikat yang selalu bertanggung jawab dalam tugasnya. Sayangnya kali ini ia harus terlibat dalam masalah besar. Bahkan fakta bahwa dirinya bekerja sama dengan dewi langit dalam membuat kekacauan kali ini, semakin membuat masalahnya menjadi semakin rumit. Satu bawahannya membuat masalah saja sudah membuat Tetua pusing tujuh keliling. Apalagi masalah yang muncul ternyata melibatkan dewi langit. Masalah ini bukan masalah biasa. Tetua tidak dapat menyelesaikan masalah ini sendirian.
"Saya mengerti. Tetapi…."
"Apa lagi?"
"Selama saya dikenai masa percobaan lagi, apakah saya boleh naik ke bumi? Sebentar saja."
Setelah sempat merasa ragu, malaikat nomor 2999 itu akhirnya bisa mengatakan yang sejak tadi ditahannya.
Permintaan yang membingungkan. Bahkan terdengar seolah – olah malaikat itu sudah melupakan dampak yang muncul dari masalah yang sedang terjadi saat ini. Kepala Tetua semakin pusing dibuatnya.
"Memangnya kau tidak paham tentang konsep masa percobaan itu?"
"Saya mengerti. Tetapi saya mohon, izinkan saya untuk sebentar saja ke sana. Sejujurnya, saya juga merasa bertanggung jawab atas keberadaan dewi langit itu di dunia manusia. Saya yakin anda belum lupa bahwa di bumi jumlah manusia yang membawa keburukan di hatinya tidak sedikit."
Tetua itu terlihat ragu. Ia bertanya – tanya apakah murid yang sudah dididiknya selama ini akan bisa memecahkan masalah itu. Tekad bulat tampak dari sang Malaikat yang bisa dengan cepat memberikan argument lain kepada tetuanya.
"Saya yakin kalau dewi yang lugu itu akan kesulitan menyesuaikan diri di bumi. Menurut saya, bumi sudah terlalu banyak berubah, terutama dalam hubungan antar manusianya. Bahkan saya pun sebagai Malaikat Kematian menilai hal yang sa…."
"Aigoo! Aku rasa memang ada yang salah dengan kepalamu."
Biarpun malaikat itu menyampaikan pendapatnya dengan penuh sopan santun, Tetua tetap merasa kesal dan beliau tidak bisa menahan rasa kesalnya itu.
"Tidak ada yang berubah di dunia ini! Ada hidup, ada mati. Ada langit, ada bumi. Jadi menurutmu apa yang berubah?"
"Di bumi sekarang ini, manusia bisa menentukan sendiri tanggal kelahiran anak mereka. Belum lagi, dengan semakin berkembangnya dunia medis, rentang usia manusia pun bisa menjadi lebih panjang. Kalau hal – hal itu tidak bisa disebut sebagai perubahan, lalu seperti apa perubahan yang sebenarnya?"
"Itu bukan urusan kita. Kau juga tahu kalau itu urusan langit. Aku jadi bertanya – tanya, apa saja yang kau pelajari selama ini?"
"Sekali lagi maaf kalau saya lancang. Tetapi… kalau saya boleh jujur, saya tidak nyaman meninggalkan dewi itu sendirian di bumi. Saya harus membantunya. Apalagi yang dijalaninya kali ini bukan reinkarnasi yang seharusnya dilakukannya."
Sang Malaikat mengutarakan pemikirannya dan menambahkan dengan tegas,
"Maaf. Tetapi bagaimanapun juga, kita juga punya tanggung jawab dalam hal ini."
"Benar juga. Kalau kau bisa membantunya, bisa dibilang kau juga membantu pihak kita."
Dengan sistem dunia manusia yang sudah banyak mengalami perubahan, Hyunmin pasti sulit menghadapinya sendiri. Tetua sedang mencoba untuk meninjau masalah itu lebih dalam lagi ketika sebuah pesan datang dari langit.
"Kaisar Langit sudah membuat keputusan?" tanya sang Malaikat.
"Beliau sudah memutuskan, untuk saat ini yang paling penting adalah bagaimana kita mengatasi masalah ini. Tentu saja hal seperti ini membat resah semua pihak."
Terlepas dari keresahan yang dialami para penghuni langit dan bawah bumi, posisi bulan yang menjadi penghubung kedua dunia itu tampak semakin tinggi. Pada akhirnya diputuskan bahwa sang Dewi-pembuat-onar tidak tinggal di bumi sendirian. Ia ditemani oleh malaikat-dengan-jiwa pahlawan yang berasal dari bawah bumi.
.
.
.
Sementara dewa-dewi langit merasa resah, tidak demikian halnya dengan Hyunmin. Ia justru bisa menyesuaikan diri dengan baik di dunia manusia. berbeda dengan tugas – tugas reinkarnasi yang pernah ia jalani sebelumnya, kali ini Hyunmin bisa tetap menyimpan semua ingatannya. Baginya hal itu menjadi sebuah keuntungan. Ia jadi bisa mencegah dirinya sendiri dari melakukan kesalahan yang lebih besar lagi. Contoh kesalahan yang pernah dilakukannya terjadi di reinkarnasi tepat sebelum yang ini. Waktu itu ia akhirnya melakukan tindakan bunuh diri bersama dengan seorang pria menyedihkan.
Hyunmin membuka tirai yang tidak hanya berwarna gelap, tetapi juga cukup berat. Udara pagi itu dingin dan uap keluar dari mulutnya ketika ia menghembuskan napas. Sinar matahari yang masuk melalui jendela menyilaukan matanya.
Wanita itu menatap wujud barunya sebagai Sungmin dengan seksama melalui pantulan kaca. Wajahnya terlalu pucat sehingga ia tidak bisa membaca raut wajahnya sama sekali. Pipinya tirus dan tidak hanya itu, tubuhnya pun kurus sekali. Hyunmin bisa memastikan tubuhnya akan terbawa terbang dengan mudahnya ketika angin berhembus.
Wanita itu memang tidak secantik bunga, tetapi setidaknya ia tidak tampak menjijikkan. Posisi mata dan hidungnya cukup proporsional. Yang menjadi masalah adalah warna kulitnya sangat – sangat pucat. Sekujur tubuhnya terlihat pucat. Namun Hyunmin yakin, keadaan tubuhnya bisa menjadi jauh lebih baik seiring berjalannya waktu.
Hyunmin sudah menjalani hidupnya sebagai Sungmin selama kurang lebih dua minggu, tetapi ia baru diizinkan keluar dari rumah sakit sekitar dua hari yang lalu. Selama berada di rumah sakit, baik keluarga maupun tunangan Sungmin tidak ada yang datang untuk menjenguk. Meski belum banyak tahu tentang kehidupan Sungmin, setidaknya pengetahuan Hyunmin tentang orang – orang yang ada di sekitar wanita itu bertambah.
"Kepribadian dan karakter mereka buruk sekali," gumam Hyunmin sambil menatap buku harian Sungmin yang sudah habis dibacanya semalam.
Walau tidak banyak emosi yang tertuang di dalam buku harian berukuran kecil itu, Hyunmin merasa melalui rangkaian tulisan itu Sungmin bisa mengusir kesepian yang dirasakannya.
Lee Sungmin. Lulus dari sebuah perguruan tinggi musik di usia 25 tahun dan akan segera menikah. Ia kehilangan ibunya semasa kecil. Ia juga diabaikan dan ditinggalkan oleh kekasih yang dicintainya tanpa ia tahu alasannya. Keluarga Sungmin selalu membuatnya merasa semakin kesepian karena tidak memedulikan wanita itu sama sekali. Belum lagi keberadaan seseorang yang berstatus sebagai tunangannya. Seharusnya sebagai tunangan, pria itu bisa menjadi tempat berpaling setiap Sungmin membutuhkan bantuan. Sayangnya pria itu sendiri tidak punya hati. Tidak heran jika Sungmin memilih bunuh diri dengan meminum obat sampai overdosis.
"Ada apa dengan manusia – manusia ini? Kenapa mereka bisa tega sekali membuat seseorang merasa terkucilkan dan kesepian seperti ini? Jahat!"
Hyunmin kembali menghela napas menatap album foto Sungmin. Tidak banyak foto yang bisa dilihat di dalam album itu, tetapi dari foto – foto itu perubahan Sungmin terlihat jelas. Di foto yang diambil waktu usia empat belas tahun misalnya. Di dalam foto itu, Sungmin tersenyum lebar dan tampak manis sekali. Jauh berbeda dengan wujudnya sekarang, di mana raut wajahnya tampak murung.
Dan ada beberapa foto yang menurut Hyunmin lebih parah. Yaitu, foto – foto pertunangan Sungmin dengan pria bernama Kyuhyun. Ada sebuah foto yang menunjukkan baik Sungmin maupun Kyuhyun sama – sama memandang ke arah yang berbeda dan tanpa ekspresi. Siapa pun yang melihat foto itu pasti bisa tahu bahwa wanita itu tidak merasa bahagia.
Apa yang harus aku lakukan untuk memberi pelajaran orang – orang yang telah berbuat jahat kepada wanita ini? Bahkan sampai hari kematiannya pun….
Sekarang, Hyunmin yang akan menggantikan dan menjadi wanita itu. Hyunmin bertekat untuk menjalani hidup sebagai Sungmin dengan sebaik – baiknya, demi menggantikan kehidupan yang selama ini dijalani wanita itu. Kehidupan yang melelahkan dan penuh penderitaan.
Ia akan terus melakukan yang terbaik sampai ada perintah untuk kembali ke langit. Memikirkan Kaisar Langit dan dunia langit yang ditinggalkannya, membuat dahi wanita itu berkerut. Kali ini akan semarah apakah Kaisar Langit dan juga kakaknya? Sepertinya karena masalah ini, untuk sementara waktu ia tidak akan menerima tugas reinkarnasi. Akan tetapi kalau ia bisa menjalankan tugas, yang sebenarnya tidak bisa disebut sebagai tugas resmi ini dengan baik, mungkin saja ia akan menerima nilai lebih. Kehidupannya sebagai Sungmin resmi dimulai.
Sungmin-ssi, apakah kau sedang memperhatikanku di sini? Aku yang akan menggantikan dirimu untuk mencintai dirimu sendiri. Hyunmin menatap langit dan mengucapkan janjinya kepada Sungmin.
.
.
.
"Phiiiuh…. Berat juga rupanya."
Sungmin berusaha keras untuk bangkit dari tempat tidurnya. Ia menjadikan sebuah meja sebagai tumpuan karena langkahnya masih belum seimbang. Keringat dingin mengalir dari dahinya.
Ia belum lama keluar dari rumah sakit. Sekarang Hyunmin menghuni tubuh Sungmin yang lemah sehingga otomatis ia tidak lagi bisa menggunakan tenaganya seperti saat masih berstatus sebagai seorang dewi. Yang menjadi masalah utama saat ini adalah ia harus segera memulihkan tubuhnya. Lalu berikutnya, ia akan mulai bisa memikirkan hukuman yang pantas diberikan kepada pria yang berstatus sebagai tunangannya. Aku akan menjaga pola makanku dengan baik dan aku juga akan beristirahat banyak. Cho Kyuhyun, kau lihat saja nanti.
Di saat sibuk bicara – lebih tepatnya mengucapkan tekad – kepada dirinya sendiri, tiba – tiba seseorang membuka pintu dan langsung masuk ke kamar Sungmin, Ryeowook.
"Heh! Ada yang datang mencarimu!"
Musim dingin belum berlalu, tetapi Ryeowook sudah mengenakan rok mini dan kaos longgar. Meski dari wajah Ryeowook terlihat kalau ia merasa terganggu, sebenarnya ia merasa penasaran dengan orang yang datang untuk menemui kakak tirinya. Keingintahuan yang tidak pada tempatnya karena tetap saja gadis itu tidak peduli apakah Sungmin sakit atau sudah mati.
Sungmin melihat seorang pria muncul di belakang Ryeowook. Pria itu terus berjalan dan lewat di depan Ryeowook, kemudian memberi salam kepada Sungmin dengan membungkukkan tubuhnya.
"Annyeonghaseyo. Anda ingat saya?" tanya tamu itu.
"Tentu saja," jawab Sungmin.
Di salah satu lengan pria itu ada sebuah jas hitam yang terlihat agak berat karena tebal. Hyunmin dalam tubuh Sungmin masih mengenali pria itu karena mereka secara tidak sengaja bertemu di kamar rumah sakit beberapa waktu yang lalu. Saat itu si tamu sedang menjalankan tugasnya sebagai Malaikat Kematian.
"Siapa dia?" bisik Ryeowook setelah menarik Sungmin ke arah pintu.
Pria itu kini berdiri di samping jendela. Bahkan dari belakang pun, sosok pria itu terlihat berkarisma sekali.
"Dia kenalanku."
"Kenalanmu? Kenapa kau membiarkannya masuk ke kamarmu seprti ini? Kau tidak tahu apa yang ada di pikirannya!"
Dahi Ryeowook berkerut karena mendengar jawaban Sungmin. Rambut hitam, setelan jas hitam, tetapi yang lebih menyeramkan di mata Ryeowook adalah tatapan mata yang tajam milik pria itu.
"Rumah ini bukan milikmu ataupun keluargamu, tetapi milikku. Jadi jika seseorang datang untuk menemuiku, sebaiknya kau memberikan sambutan yang terbaik untuk orang itu. Dia temanku," sahut Sungmin.
"Teman? Kau tidak apa – apa? Kau sakit lagi?" Ryeowook terlihat ragu.
Ini pertama kalinya Ryeowook melihat Sungmin bisa bersikap dan berbicara dengan tegas seperti tadi. Dan apa dia bilang? Teman? Memangnya Sungmin punya teman?
Sejujurnya Ryeowook tak mengerti kenapa Sungmin bisa mengalami depresi apalagi sampai melakukan upaya bunuh diri. Gadis itu benar – benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran Sungmin. Entah apa yang bisa membuatnya depresi. Tidak ada masalah di rumah, juga tidak ada masalah dalam pelajaran. Belum lagi tunangannya kaya. Untuk apa dia merasa depresi? Lucu sekali!
"Aku baik – baik saja. Terimaksih sudah bertanya."
Sungmin sempat kaget karena Ryeowook bicara padanya dengan menggunakan banmal. Sebagian dari dirinya ingin menyampaikan sesuatu kepada gadis itu, tetapi saat ini Sungmin lebih memilih untuk diam dan hanya menatap adik tirinya itu.
Memiliki uang banyak dan tidak ada masalah dalam keluarga tidak bisa menjamin kebahagiaan seseorang. Menjalani hidup tanpa cinta sama saja dengan hidup penuh penderitaan. Selama ini tidak ada yang memedulikan kakakmu. Andai saja kau tahu betapa menderitanya dia. Kurasa kau tidak mungkin bisa merasakan yang dia rasakan selama ini. Di matamu, dia boleh saja lemah. Tetapi yang kau tidak tahu, dia berusaha keras untuk bisa terus bertahan. Kalau saja waktu itu kau bersedia membantunya.
"Kau yakin? Baiklah. Aku hanya tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Menyeramkan. Jadi lain kali, kalau kau mau mati… lakukanlah ketika aku tidak ada."
Ryeowook sempat goyah melihat bola mata Sungmin yang bulat dan berwarna hitam itu. Setelah dapat mengendalikan dirinya, Ryeowook melangkah keluar dan menutup pintu dengan keras.
"Manusia itu sombong sekali. Tidak hanya itu, dia juga terlihat serakah."
Sang Malaikat tidak menunggu lama untuk mengatakannya.
"Dia tidak sejahat itu. Tetapi ngomong – ngomong, apa yang membuat Anda ke sini?"
Malaikat nomor 2999 itu mengenakan pakaian yang biasa digunakan manusia, jadi penampilan pria itu kali ini terlihat tidak biasa. Sang Malaikat memadukan kemeja putih dengan setelan jas hitam.
Dia benar – benar terlihat seperti manusia. Kalau saja pakaian yang dikenakan malaikat ini sedikit berwarna, dia pasti akan terlihat lebih muda. Selera mode oppa ini sangat disayangkan sekali.
"Oh! Jadi begini, Tetua bawah bumi sangat marah atas apa yang terjadi. Jadi selama beberapa waktu saya menerima tugas khusus untuk berada di tempat ini dan menjaga Anda."
"Apa? Jadi… Anda sedang dihukum, begitu?"
"Betul. Saat ini saya berada dalam masa percobaan sampai nanti hasil hukuman saya keluar," cerita Malaikat itu dengan nada penuh penyesalan.
Sudah sepantasnya orang yang berbuat kesalahan harus menerima hukumannya. Tidak ada yang bisa menghindar dari karma. Dan hal itu berlaku ketika seseorang masih hidup ataupun sudah mati. Kepribadian dan karakter Hyunmin yang selalu ingin buru – buru telah membuatnya dalam masalah besar. Saat ini sang Dewi hanya bisa saling bertukar pandang dengan sang Malaikat. Mereka punya pikiran yang sama.
Kita adalah orang – orang yang terlalu baik hati. Sementara di luar sana, orang – orang jahat berkeliaran dengan jumlah yang tak terkira.
"Tetapi kenapa Anda malah berada di sini?"
Sungmin berbisik setelah melihat sekitarnya karena tdak ingin Tetua dunia bawah mendengar perkataannya.
Sesungguhnya tak peduli sekecil apa pun volume suaranya, baik Kaisar Langit maupun Tetua dunia bawah bumi pasti akan tahu isi hatinya yang terdalam. Dan mereka sudah pasti tidak akan membiarkan dan melupakan kesalahan yang pernah diperbuat Hyunmin begitu saja.
"Saya juga ikut bertanggung jawab atas keberadaan Anda di dunia manusia ini. Dan saya merasa, saya harus membantu Anda. Karena dunia manusia ini penuh dengan hal – hal yang bisa membahayakan Anda…."
Sebenarnya malaikat itu cukup terkejut karena tidak menyangka sang Tetua akan mengizinkannya pergi. Terselip kecurigaan di dalam hatinya. Meski demikian, ia yakin Tetua akan selalu bisa membuat keputusan yang adil dan baik. Ia tetap tidak boleh lengah.
"Terima kasih. Tetapi Anda yakin? Kalau Anda di sini Anda tidak akan menimbulkan masalah baru? Benar tidak apa – apa dengan berada di sini untuk membantu saya?"
"Ini adalah kewajiban saya."
Malaikat itu tersenyum. Ia tahu persis apa yang menjadi tujuannya datang ke bumi dan ia tidak akan melupakannya.
Manusia akan tetap menjadi manusia. Ia akan membiarkan manusia berhati baik untuk bisa hidup bahagia, tetapi untuk manusia berhati buruk? Jangan harap. Ia akan langsung menyeretnya ke neraka. Ia berharap akan bisa bertemu dengan manusia yang berhati baik. Dan ia juga berharap semoga bumi juga dipenuhi oleh manusia – manusia yang mau peduli dan bersimpati kepada sesamanya.
.
.
.
Musim dingin berlalu. Angin yang bertiup terasa lebih lembut. Rumput – rumput kembali tumbuh dengan liar di taman. Waktu berjalan dengan cepat di dunia manusia. Manusia cenderung ingin melakukan dan menyelesaikan semua hal dengan cepat. Dan kalau yang terjadi justru sebaliknya, mereka akan dengan mudah merasa kesal.
Saat ini kondisi Hyunmin yang berada di dalam tubuh Sungmin sudah lebih baik. Meski belum pulih sepenuhnya dan masih harus menyesuaikan diri dalam berbagai hal, keadaannya sudah jauh lebih baik.
Ia menjalani hari – harinya dengan santai. Akan tetapi masih sama seperti sebelumnya, Sungmin sama sekali belum mendengar berita apapun dari tunangannya. Mereka terakhir bertemu waktu pria itu datang menjenguknya di rumah sakit. Sebenarnya tidak bisa disebut menjenguk karena yang dilakukkannya hanya mampir sebentar. Setelah itu tidak ada telepon yang datang sekali pun. Walau hanya telepon untuk sekedar berbasa – basi menanyakan kabar wanita itu saja juga tidak ada sama sekali.
"Jangan – jangan sebenarnya pria itu datang, tetapi hanya sebentar?"
Malaikat itu tidak perlu menyebutkan dengan jelas kalau yang dimaksud dengan 'pria itu' adalah Cho Kyuhyun, karena Sungmin memahaminya.
"Sepertinya tidak mungkin. Kurasa dia bukan tipe orang yang mau peduli dan mengkhawatirkan orang lain."
Dari awal Sungmin tidak pernah berharap banyak. Tidak ada orang yang bisa tak acuh atau merasa santai ketika tahu seseorang yang dikenalnya, ternyata kembali hidup setelah sebelumnya dinyatakan meninggal. Sungmin sedikit banyak merasa kalau Kyuhyun saat ini sedang menyusun rencana untuk menguji dan membuktikan sesuatu. Sama dengan tunangannya itu, saat ini pun Sungmin sedang mencari cara untuk bisa mengubah pria itu menjadi manusia yang sebenarnya.
"Lalu, Anda akan diam saja?" tanya sang Malaikat.
"Tentu saja tidak," jawab Sungmin sambil tersenyum manis.
Sinar yang memancar dari matanya yang bulat dan besar itu menjadi hal yang paling menonjol dari seluruh tubuhnya yang kurus.
Ah, aku suka sekali bekrja berama dewi ini. Ini adalah pertama kalinya sang Malaikat bertemu dengan seseorang yang memiliki isi kepala, isi hati, dan juga melangkah dengan langkah yang sama. Kalau saja dewi itu menjadi partnernya, pasti mereka akan menjadi pasangan kerja yang hebat. Bahkan malaikat itu sendiri tidak mampu membayangkan hasilnya.
"Bagaimana keadaan Anda?"
"Saya baik – baik saja meski belum terlalu sehat. Sepertinya butuh waktu lebih lama untuk benar – benar bisa memulihkan tubuh ini."
Sama seperti sebelumnya, dewi itu masih terlihat pucat dengan tubuh yang kurus sekali. Di dunia manusia yang keras ini pasti Sungmin dipandang sebagai wanita yang lemah. Hati sang Malaikat pedih melihat sosok Sungmin. Baginya akan lebih mudah kalau bisa langsung menyeret pria brengsek itu ke neraka. Namun sayangnya ia tidak bisa benar – benar melakukannya. Hal itu hanya mungkin terjadi di dalam bayangannya saja.
"Sebenarnya dunia manusia ini cukup menyenangkan. Tetapi udara di tempat ini…. Hhhuuft…."
"Benar. Tidak hanya udaranya,tetapi juga makanan dan penghuninya. Mereka terlalu… provokatif dan kuat." Sang Malaikat menganggukkan kepalanya.
Menurutnya, makanan yang biasa dikonsumsi manusia rasanya terlalu manis, yang nantinya bisa memicu berbagai macam hal lain. Manusia sering melakukan hal – hal yang tidak terpuji karena keserakahan mereka. Untuk mereka berdua, dunia manusia adalah dunia yang penuh kekacauan.
"Tidak sedikit manusia yang sengaja berbuat jahat kepada manusia lain. Apalagi manusia bernama Cho Kyuhyun itu. Kejahatannya luar biasa," ujar sang Malaikat.
"Saya rasa dia sendiri tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu."
"Bisa jadi. Karena banyak orang yang berbuat lebih jahat dibandingkan dirinya."
Banyak manusia yang sebenarnya sudah 'mati' karena di dalam hati mereka sudah tidak tersisa kebaikan sama sekali. Akhirnya mereka sendiri kesulitan mencari jati diri, sementara waktu dan kehidupan terus berjalan.
Tidak ada yang bisa mengalahkan kejahatan seorang manusia yang tidak mau berbagi dengan sesamanya. Padahal yang dimilikinya lebih banyak. Memang ada manusia yang memilih untuk tidak memiliki hati. Mungkin seperti itulah Cho Kyuhyun.
"Apakah Anda pernah mencoba menebak apa yang membuat orang itu ingin menikah? Karena dia sangat serakah, jadi saya rasa dia tidak rela berbagi dengan siapa pun." Sang Malaikat mencoba menganalisis motivasi Cho Kyuhyun.
Menikah tidak hanya menyatukan dua hati, tetapi juga dua raga. Jadi bagi yang memutuskan untuk menikah, harus sudah yakin kalau mereka bisa berkompromi. Dalam kasus ini, sebagai manusia yang tidak punya hati dan perasaan, tidak mungkin Kyuhyun mau memedulikan dan memberi toleransi kepada orang lain.
"Kalau bukan karena cinta pasti karena keserakahan."
Mereka sudah tahu jawabannya. Jika memang pria itu mampu mencintai orang lain, tidak akan ada keserakahan di dalam hatinya. Lee Sungmin sendiri tidak mungkin ingin memiliki orang serakah seperti itu. Akan tetapi pria bernama Cho Kyuhyun itu sama sekali tidak terlihat bodoh, jadi pasti di balik ini ada sesuatu yang mereka harus cari tahu.
"Sepertinya Anda mengetahui sesuatu…."
"Saya yakin dia pasti menyembunyikan sesuatu. Pasti dia punya motif lain. Dan saya akan mencari tahu lebih lanjut tentang itu."
Malaikat itu mengangguk pertanda setuju mendengar jawaban sang Dewi. Pikiran mereka sama.
"Bagaimana kalau kita mencari tahu hal itu bersama – sama?"
Dewi itu menjawab ajakan sang Malaikat dengan tersenyum. Sinar matanya membuat dunia terasa lebih terang. Hal itu membuat semangat sang Malaikat membara. Untuk membuat kehidupan para penghuni bumi ini menjadi lebih menyenangkan dan penuh rasa bahagia, ia bertekad untuk bekerja sama dengan sang Dewi. Mereka yakin, walau baru satu hari pasti ada pengaruhnya.
"Jadi kita mulai hari ini?" tanya sang Malaikat dengan penuh semangat.
"Iya. Tetapi saya punya satu masalah kecil."
Seketika wajah sang Malaikat berubah cemas.
"Masalah kecil? Apa? Mungkin saya bisa membantu Anda."
"Sayangnya kali ini oppa tidak akan bisa membantu."
"Maksud Anda? Saya cukup percaya diri menghadapi masalah yang ada di bumi manusia ini. Jadi coba Anda sampaikan saja kepada saya."
"Untuk yang satu ini, modal percaya diri saja tidak cukup. Karena ini menyangkut dengan gaya berpakaian. Saya tidak mungkin keluar dari rumah dengan gaya seperti ini. Tenang saja, oppa. Untuk hal lain, saya akan mempercayakannya kepada Anda. Tetapi untuk yang ini… saya rasa tidak."
Sungmin memandang dirinya sendiri dan kecewa melihat penampilannya dengan terusan berwarna abu – abu. Pakaian yang menempel di tubuhnya itulah yang disebutnya sebagai masalah.
"Ada yang salah dengan pakaian ini. Saya tidak mengerti. Wajah ini cantik, tetapi kenapa harus memakai pakaian yang terlihat seperti karung? Warnanya juga tidak cantik. Dan asal oppa tahu saja, di dalam lemari hanya ada pakaian yang rasanya cocok sekali dipakai kalau saya mau pergi ke pemakaman. Saya tidak mungkin pergi dengan pakaian seperti ini."
Sang Malaikat berdiri di samping dewi yang sedang mengosongkan lemari pakaian dengan penuh emosi.
Wanita itu kemudian mengambil sebuah terusan berwarna hitam dan menempelkannya di tubuh untuk melihat pakaian itu cocok atau tidak.
"Menurut saya tidak ada yang salah dengan pakaian itu," kata sang Malaikat.
"Baju warna hitam seperti ini?"
Sungmin langsung melemparkan pakaian yang ada di tangannya itu ke dalam lemari. Tindakan yang membuat sang Malaikat bingung. Tidak terlalu banyak pilihan warna dan pakaian – pakaian yang ada di dalam lemari itu. Hanya ada warna hitam dan abu – abu. Sungmin pun semakin sulit menemukan pakaian yang cocok dengan berat badannya yang turun drastis. Bisa dibilang saat ini, wanita itu berada dalam keadaan darurat untuk menemukan pakaian yang tepat.
Sungmin keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar sebelah. Sang Malaikat semakin bingung karena di matanya tidak ada yang salah dengan terusan berwarna hitam tadi. Namun tampaknya wanita itu tidak sependapat. Setelah berpikir selama beberapa saat ternyata ada benarnya juga. Warna hitam bisa membuat wajah dewi terlihat semakin pucat seperti orang sakit.
Baiklah. Warna hitam tidak akan membantu.
Kali ini giliran sang Malaikat yang berkaca. Ia memperhatikan pantulannya di kaca lemari Sungmin dan tersenyum puas melihat posturnya yang tinggi, kulit putih, dan mata bersinar.
"Aku boleh pinjam baju?" tanya Sungmin begitu Ryeowook membuka pintu kamarnya.
Ryeowook terdiam. Ia mencoba mencerna perintah kakak tirinya. Bagaimana tidak, belakangan ini Sungmin terlihat aneh.
Sungmin yang biasa ditemuinya setiap pagi adalah wanita yang jarang tersenyum. Ryeowook bahkan sempat berpikir kalau dirinya tinggal bersama orang gila. Bayangan yang tidak menyenangkan, meskipun itu hanya ada dalam kepalanya saja. Sungmin adalah kakak tirinya, tetapi mereka jarang sekali bicara. Dalam satu hari saja, mereka tidak pernah bertukar kata lebih dari sepuluh kata. Belum lagi wanita itu tidak pernah peduli dengan pakaian yang dipakainya, apalagi untuk urusan berdandan.
Sungmin yang sekarang ada di hadapan Ryeowook terlihat berbeda. Wanita itu mulai memperhatikan penampilannya. Sejak awal Sungmin memang sudah aneh. Akan tetapi setelah ia berhasil hidup kembali, keanehan wanita itu semakin menjadi – jadi. Namun jika diperhatikan lebih baik lagi, sepertinya wanita itu tidak gila.
"Apa?" tanya Ryeowook.
"Baju yang ada di lemariku semuanya kebesaran. Dan kalau kuperhatikan, selama ini kau selalu memakai baju yang ukurannya terlalu kecil untukmu. Memangnya kau tidak sesak napas?"
"Apa maksudmu? Dari awal memang bajunya seperti ini!" Ryeowook menggenggam kaus yang dipadukan dengan celana panjang yang memperlihatkan pusarnya.
"Kurasa tidak seperti itu. Eh, tetapi sepertinya kalau aku mau meminjam bajumu, aku tidak boleh bicara seperti ini, ya?"
Sungmin menertawakan humornya sendiri, sementara Ryeowook dan Nyonya Kim – yang kebetulan juga ada di kamar Ryeowook – memandang dirinya dengan penuh tatapan binggung. Sungmin benar – benar aneh. Biasanya wanita itu selalu ada di sudut kamarnya untuk bermain piano dan hanya memberi jawaban singkat jika ada yang bertanya kepadanya. Kali ini di mata Ryeowook dan Nyonya Kim, wanita itu benar – benar berbeda. Sungmin berubah total dan perubahan yang terlihat menonjol sekali. Ini adalah pertama kalinya Sungmin terlihat aktif dan ceria.
"Memangnya kau mau kemana?"
"Aku mau bertemu Kyuhyun."
"Apa? Jadi Kyuhyun oppa mau ke sini?"
Dalam sekejap raut wajah Ryeowook berubah. Matanya berbinar dan wajahnya tampak ceria sekali. Seperti anak kecil yang menerima hadiah mainan. Gadis itu tanpa ragu – ragu menunjukkan kalau ia tertarik kepada tunangan kakaknya sendiri. Bagaimanapun juga, sepertinya perilaku anak ini tidak terlalu buruk.
"Bukan aku yang mau ke sana."
"Kau?" ujar Ryeowook kaget.
Sepertinya wanita itu tidak hanya aneh, tetapi juga gila. Ryeowook yakin kalau ada yang salah dengan kepala Sungmin. Tidak biasanya wanita itu berinisiatif menemui Kyuhyun lebih dulu. Karena setahu Ryeowook, bagi Sungmin, Kyuhyun lebih menyeramkan daripada hantu.
"Eomma, aku rasa dia sudah gila." Ryeowook mengalihkan pandangannya ke Nyonya Kim.
Mendengar Ryeowook, ekspresi malaikat yang sedari tadi mengikuti percakapan mereka berubah. Ia tersinggung. Memangnya mereka siapa sampai berani – berani menyebut sang Dewi dengan kata 'gila'. Ada yang salah dengan gadis itu.
"Sudah. Kau diam saja. Dan kau… kau benar – benar akan menemui Kyuhyun?"
"Memangnya tidak boleh?" Sungmin bertanya balik kepada Nyonya Kim sambil mengepas jaket dan rok yang baru saja dipilihnya dari lemari Ryeowook.
Sementara itu Ryeowook memperhatikan pilihan baju kakaknya. Ia terkesima karena selera berpakaian wanita itu tidak buruk.
"Bukannya tidak boleh…."
Nyonya Kim tidak menyelesaikan jawabannya karena ia tahu sebelum Sungmin jatuh sakit, wanita itu benar – benar ketakutan setiap bertemu Kyuhyun. Akan tetapi yang ada di hadapannya sekarang adalah wanita yang benar – benar berbeda. Wanita itu seperti bukan Sungmin yang dikenalnya. Bahkan sekarang, Sungmin sengaja mempersiapkan diri untuk bertemu tunangannya itu. Sepertinya yang dikatakan Ryeowook tadi benar adanya. Sungmin sudah gila.
"Kau yakin?"
"Iya." Sungmin kembali memberi jawaban tegas kepada Nyonya Kim yang terlihat ragu.
Sampai sekarang Kyuhyun tidak pernah sekali pun menampakkan batang hidungnya, padahal tunangannya sudah keluar dari rumah sakit sejak beberapa hari yang lalu. Jadi wajar saja kalau Sungmin tidak tinggal diam. Apalagi hari ini adalah hari Jumat. Hari di mana mereka biasanya bertemu.
"Aku pinjam yang ini, ya. Tenang saja. Aku tidak akan merusak bajumu."
"Terserah kau saja. Tetapi kau sungguh – sungguh akan bertemu dengan Kyuhyun oppa?" Ryeowook kembali bertanya karena masih tidak percaya dengan keputusan Sungmin.
"Iya."
"Kau sudah gila, ya? Iya, kan? Kau gila."
"Aku tidak gila. Ngomong – ngomong, umurmu berapa?"
"Dua puluh dua tahun. Kenapa memangnya?" Ryeowook heran kenapa tiba – tiba wanita itu tertarik dengan usianya.
Ia terus memandang Sungmin untuk memastikan kalau kakaknya itu memang sudah gila. Karena jika memang wanita itu gila, Ryeowook tidak ingin tinggal bersamanya.
"Umurku dua puluh enam. Aku lebih tua darimu. Jadi… tolong perbaiki cara bicaramu dan bicaralah lebih sopan kepadaku."
"Apa? Maksudmu…."
Dalam sekejap, emosi Ryeowook tersulut. Sungmin bicara dengan tegas diiringi mata yang juga bersinar membuat gadis itu benar – benar yakin kalau kakaknya memang sudah gila.
"Coba jawab dengan, 'Iya, Eonni.' Sepertinya kau sudah lupa bicara dengan penuh sopan santun seperti itu, ya? Aku hanya mengingatkanmu saja, karena kalau terus – terusan bicara tidak sopan kepada orang yang lebih tua, nantinya akan menjadi bumerang untuk dirimu sendiri."
"Apa?"
"Aku hanya mengingatkanmu untuk lebih berhati – hati waktu bicara. Kalau kau tidak bisa seperti itu, aku sendiri yang akan menyeretmu ke psikiater supaya mereka bisa memeriksa kejiwaanmu. Ingat! Aku ini kakakmu."
Sebelumnya Sungmin selalu terlihat melankolis, tetapi kali ini ia bisa tertawa dan bicara dengan tegas. Ryeowook sepertinya tidak paham apa yang dikatakan Sungmin tadi bercanda atau tidak. Gadis iitu hanya bisa menatap Sungmin dengan pandangan penuh tanya.
"Eomma, Sungmin… dia aneh sekali ya?" tanya Ryeowook kepada ibunya setelah Sungmin pergi dari kamarnya dan membawa semua pakaian berwarna cerah pilihannya dengan ekspresi puas. Ryeowook yakin kalau Sungmin berubah.
"Dari dulu dia memang sudah aneh. Yang menurutku lebih aneh adalah… dia yang bisa hidup lagi dari kematiaannya."
Jawab Nyonya Kim berusaha melakukan pembenaran. Menurut Nyonya Kim, Sungmin kehilangan akal sehatnya setelah kembali hidup dari kematiaannya sendiri. Ia tampak seperti wanita lain karena sekarang kepribadiannya lebih ceria dan terbuka. Nyonya Kim merasa kepalanya mulai sakit. Beliau pun berhenti memikirkan Sungmin.
"Bukan itu maksudku. Tetapi memang ada yang berbeda darinya," kata Ryeowook.
"Oh ya? Kalau begitu sebelum dia bennar – benar gila, lebih baik mempercepat pernikahannya dengan Kyuhyun. Kurasa akan menjadi solusi yang paling tepat juga untuk perusahaan kita. Lalu kita tidak perlu lagi bingung dengan urusan uang. Iya, kan?"
Biarpun berkali – kali kata 'aneh' muncul, tidak ada yang berubah dari keluarga Sungmin. Kalau proses merger perusahaan itu berjalan dengan lancer, saham yang dimiliki oleh Sungmin akan berubah menjadi uang yang sangat banyak. Dan kalau uang itu sudah ada di genggaman mereka, semuanya akan beres. Tentu saja Sungmin, anak dari almarhum suami Nyonya Kim itu masih akan terus menjadi masalah. Namun Nyonya Kim yakin kalau Sungmin tidak akan bertahan hidup lama. Lagi pula Sungmin bukan anak kandungnya, jadi Nyonya Kim berpikir nantinya ia tidak perlu hidup bersama wanita itu lagi.
"Aku kesepian sekali di rumah ini. Kesepian! Seandainya saja ada orang lain, aku bisa main go-stop walau Cuma taruhan seratus won. Aku bosan sekali!"
Nyonya Kim sibuk berbicara sendiri di dalam rumah yang terlalu sepi sampai terasa seperti kuburan.
T B C
Hallo.. annyeonghaseyo...lama tak jumpa.
Maaf saya baru menampakan diri. Ada beberapa hal yang menyita perhatian saya dan buat saya ga fokus ngetik.
Ditambah saya yang harus pindah rumah sekaligus pindah kost. Jadilah sekarang saya resmi jadi anak kost.
Maaf saya malah curhat. nach karna sekarang saya uda jadi anak kost, semoga saya bisa fokus ngetik. No intruption. Ngerti maksud saya kan? kkkkkkkk
Dan sekarang saya dateng dengan fict yang tidak sesuai harapan temen2. Maaf.
OPM nya lagi ongoing. Mohon menuggu.
Oke, cukup. Saya ucapin makasi buat yang masih nungguin OPM.
Meskipun ini bukan cerita saya, tapi bolehlah saya dibagi tau pendapat temen2 tentang fict ini. heheheee
Thankyuuuuu ^^
