Annyeong...author amatir balik lagi. Thanks buat kalian yg uda nunggu lanjutan crita gaje saya. Banyak hal yg bikin saya lama nglanjut ni crita, mian. Tapi saya coba brtanggung jawab buat nyelesein ni crita. heheheheee
Oiya, crita ini beneran hasil dari imajinasi otak sempit saya walopun iya, saya dpt inspirasi dr sana sini, tapi crita ini beneran punya saya.
Dalam crita ini ada SiBum (SiwonxKibum) as main pair, Kyuhyun as their child, HaeHyuk (DonghaexEunhyuk) as their friends. Awas, typo dimana-mana! Waspadalah!
Cukup cuap cuapnya, now enjoy the story ^^
Pagi ini penghuni rumah mewah itu tampak menikmati sarapannya dengan tenang walaupun salah satu dari mereka tak hentinya mengerucutkan bibir. Namja kecil itu tampak masih kesal karena menunggu orang tuanya untuk sarapan, yang menurutnya..lama.
"hei..jangan seperti itu baby..oke, daddy minta maaf. Maaf karena membuat Kyunie menunggu sendiri di meja makan. Mianhae." Siwon mengucapkan permintaan maafnya dengan mimik seolah sangat merasa bersalah. Kibum terkekeh melihat Siwon yang ikut kekanak – kanakan. Rasanya sudah lama sekali tidak melihat suaminya bertingkah seperti itu.
"ayolah…eum,,sebagai permintaan maaf daddy akan mengantar Kyunie sekolah,otte?" kini Siwon mulai melakukan negosiasi dengan putranya. Kyuhyun yang semula mengacuhkan ayahnya langsung menghadap Siwon dengan wajah berbinar,lucu.
"really?" kyuhyun kembali memastikan tawaran ayahnya.
"tentu saja. Mulai hari ini daddy yang akan mengantar Kyunie ke sekolah."
"yeeeee... mom, daddy akan mengantar Kyunie…yeeee" Kibum tersenyum lebar melihat kedekatan ayah dan anak di depannya. Terlihat bahwa Kyuhyun sangat mendambakan perhatian dari ayahnya. Biasanya sang ibulah yang selalu mengantar jemputnya tapi tadi ayahnya bilang mulai hari ini ayahnyalah yang akan mengantar ke sekolah. Ayahnya yang supersibuk meluangkan waktu untuk mengantarnya ke sekolah.
"kalau begitu habiskan sarapanmu agar kau dan daddy tidak terlambat." Kibum kembali mengingatkan dan dibalas dengan "yes,mom" penuh semangat dari Kyuhyun. Aaaa rasanya pagi ini Kibum senang sekali setelah tadi mendapatkan pelukkan mesra dari namja yang dia cintai, sekarang dia melihat putranya tampak riang. Padahal beberapa menit yang lalu Kibum memutar otaknya untuk mengembalikan mood sang tuan muda. Secara refleks bibir Kibum menyunggingkan senyum yang sangat manis. Siwon tampak menikmati pemandangan yang tersaji indah di depannya. Kyuhyun yang tampak bersemangat menghabiskan sarapannya dan yeoja maniis berstatus istrinya tampak mengulum senyum menawannya. Siwon tidak menyanga jika hanya dengan mengantar Kyuhyun ke sekolah membuat Choi junior begitu girang. Siwon ikut tersenyum. Senyum yang sulit diartikan. Ada rasa menyesal di sana. Kenapa tidak dari dulu saja dia seperti ini, memberikan sedikit perhatian untuk putra semata wayangnya. Kenapa dia tidak pernah mengantar Kyuhyun ke sekolah jika itu bisa membuat namja kecil itu senang. Kenapa di saat dia telah memutuskan untuk berpisah dengan istrinya. Kenapa kenapa kenapa. Terlalu banyak kenapa yang memutar di kepalanya. Tak lama sebuah tangan menyadarkan dari lamunan, tangan Kibum yang menggenggam jemari besar Siwon. Wanita itu tersenyum dan menggerakkan bibirnya mengucap 'gomawo' yang di balas anggukan dan senyum lembut dari sang namja.
"jangan nakal di kelas. Jangan jahil terhadap temanmu. Dengarkan songsengnim dengan baik. Arachi?" serentetan nasehat Siwon beri untuk Kyuhyun. Yach memang anaknya kadang sedikit jahil terhadap temannya. Setidaknya begitulah yang diceritakan Kibum padanya.
"yes,sir" jawab kyuhyun mantap.
"kalau begitu sampai jumpa nanti,jagoan."
Kyuhyun sedikit berlari meninggalkan Siwon setelah sebelumnya mendapatkan ciuman perpisahan dari ayahnya. Siwon masih berdiri di sana, memperhatikan putranya sampai namja kecilnya hilang dari pandangannya.
Sosok tegap itu mulai berjalan memasuki gedung tempat dia bekerja. Mereka yang melihat dan berpapasan dengannya memberikan salam dengan hormatnya. Sosok tegap itu- Siwon hanya membalas dengan senyum ramahnya.
"Tiff?" Siwon sedikit terkejut sekretarisnya yang juga kekasihnya sudah ada di ruangannya ketika dia masuk ke ruang kerjanya.
"kau terlambat,oppa. Kau juga tidak menjemputku."
"aaa mian. Aku mengantar Kyuhyun dulu jadi aku sedikit terlambat." Hei.. bukankah Choi Siwon adalah pemilik perusahan kelas atas ini? Tidak masalahkan jika dia terlambat? Tidak akan ada yang menegurnya. Tapi bukankah disiplin adalah salah satu kunci keberhasilan? Itulah yang Siwon pegang hingga saat ini.
"jadi itu sebabnya kau juga tidak menjawab telponku?" ya, Siwon tahu selama perjalanannya mengantar Kyuhyun ponselnya bergetar tanda seseorang sedang menghubunginya. Tapi sayangnya Siwon sedang tidak ingin momen bersama buah hatinya terganggu, bahkan oleh Tiffany sekalipun.
"mian. Tapi sepertinya mulai besok kau harus berangkat sendiri karena aku akan mengantar Kyuhyun ke sekolah terlebih dulu." Siwon sudah mulai mendudukkan diri di kursi nyamannya.
"lalu kemana ibunya? Apa dia sudah tidak mau mengurus anaknya? Eoh apa ini juga bagian dari perjanjian kalian?" sepertinya yeoja satu ini sedang marah. Siwon menghentikan kegiatan memeriksa dokumen ketika mendengar serentetan pertanyaan dari yeoja yang masih berdiri angkuh di depannya.
"anak yang kau maksud itu juga anakku. Jadi tidak salahkan jika aku melalukan tugasku sebagai seorang ayah. Dan lagi ini tidak ada hubungannya dengan Kibum. Sama sekali tidak ada. Sekarang kau bisa kembali bekerja nona Hwang." Tiffany merengut tidak suka dan pergi meninggalkan ruangan itu. Entah kenapa Siwon tidak suka ketika Tiffany dengan entengnya menjelekkan Kibum. Dia merasa orang lain tidak berhak menjelekkan, memojokkan, bahkan menghina Kibum karena mereka tidak tahu apa – apa tentang yeoja salju itu. Siwon tidak ambil pusing atas sikap Tiffany dan kembali dengan kegiatannya memeriksa dokumen.
Siang itu di sebuah rumah sakit seorang namja tampan terlihat tengah berjalan santai. Seragam putih dan stetoskop yang melingkar di lehernya cukup menjelaskan jika dia adalah seorang dokter di rumah sakit itu. Nampaknya dokter tampan ini baru saja selesai dengan kegiatannya berkeliling memeriksa pasiennya dan hendak kembali ke ruangannya. Namun sebelumnya dia berhenti di meja resepsionis untuk menanyakan jadwal praktiknya.
"apa setelah ini aku ada janji dengan pasien?" tanyanya pada seorang perawat di balik meja resepsionis.
"ada,uisanim. Anda ada janji dengan nyonya Choi."
"nyonya Choi? Choi Kibum aniya?"
"benar. Beliau sedang menunggu di ruangan anda Lee uisanim."
"baiklah kalau begitu terimakasih."
Dokter Lee – Lee Donghae bergeges menuju ruangannya. Dia tak ingin pasiennya menunggu lebih lama lagi, terlebih pasien kali ini adalah sahabatnya.
Yeoja itu sedang menunggu seorang diri di dalam ruangan yang dominan dengan warna putih. Setidaknya tiga hari yang lalu dia baru saja datang kemari. Yeoja itu sedang menunggu seseorang yang mungkin bisa menolongnya. Setidaknya seseorang ini bisa menolongnya memperpanjang sisa hidupnya. Dia mengedarkan pandangannya menyusuri isi ruangan tempatnya berada. Sebuah ranjang untuk memiriksa pasien, di sebelahnya ada semacam meja nakas untuk peralatan medis dan tak lupa tirai yang menggantung mengelilingi ranjang, lemari arsip, tiang gantung pakaian(?), meja kerja. Tidak ada yang istimewa, ruangan itu tidak jauh beda dengan ruang praktik dokter pada umumnya. Manik indahnya berhenti pada sebuah benda yang ada di meja kerja, tepat di hadapannya. Sebuah figura meja yang tidak terlalu besar dengan sepasang orang dewasa dan seorang yeoja kecil sebagai objek pengisi figura tersebut. Tanpa sadar sebuah senyum manis menghiasi wajah cantiknya.
"kau pasti bahagia,hae." Lirihnya.
Clek
Reflek yeoja itu menoleh ke arah pintu. Yeoja itu tersenyum hangat saat tau siapa yang membuka pintu.
"menunggu lama,Kibummie?" sapa seseorang yang baru saja masuk ke ruangan itu dengan senyum yang tak kalah menawan.
"aniya. Saya tahu anda sibuk Lee uisanim." Yeoja itu – Kibum menjawab sapaan Dokter Lee yang ternyata adalah Lee Donghae, sahabatnya, orang yang sekitar lima menit yang lalu dia tunggu, seseorang yang akan menolongnya sedikit memperpanjang hidupnya.
"aish. Aku tidak suka kau bersikap seperti itu. Seakan aku ini orang lain saja." Dokter muda itu mencibir, dia memang tidak suka jika Kibum bersikap formal padanya. Kini Donghae sudah duduk di depan Kibum dengan tetap mengerucutkan bibirnya. Melihat tingkah sahabatnya Kibum malah terkekeh. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa laki – laki di hadapannya ini masih saja bersikap kekanakan padahal dia sudah beristri dan dikaruniai seorang malaikat kecil yang cantik, ditambah profesinya sebagai seorang dokter yang cenderung serius.
"baiklah, mianhae. Jadi bagaimana kabar mu? Apa Eunhyukie dan Taemin baik – baik saja? Rasanya sudah lama tidak bertemu mereka." Kibum bertanya sambil memandang foto pada figura di meja Donghae. Wanita ini tidak terlihat seperti seorang pasien yang sedang memeriksakan diri pada dokternya, malah lebih terlihat seperti teman lama yang tak pernah bersua. Donghae ikut memandang figura tersebut dan tersenyum seolah sedang tersenyum dengan dua sosok cantik dalam foto itu.
"mereka baik. Hyukie sedang sibuk dengan butiknya jadi kami sepakat menitipkan Taemin. Lain kali datanglah ke butiknya sekedar untuk mengobrol." Mereka masih memandang foto itu.
"foto itu diambil saat ulang tahun Taemin tahun lalu. Aku berencana akan mengganti foto itu setiap tahunnya, setiap ulang tahun Taemin." Ya, Donghae memang ingin melakukannya. Berfoto dengan keluarga kecilnya setiap ulang tahun anaknya lalu memasang foto itu di meja kerjanya dan ini adalah tahun keempat Donghae melakukannya. Kibum masih saja memandang foto keluarga kecil sahabatnya. Ada rasa iri di sana. Foto bersama? Kapan terakhir mereka melakukannya? Ulang tahun? Tahun lalu sang putra hanya merayakan ulang tahun bersamanya. Saat itu Siwon berada di luar negeri dan tidak bisa merayakan bersama hanya mengirimkan kado dan ucapan selamat melalui telepon, begitu pula dengan kakek neneknya yang sampai saat ini masih berada di Cina.
"mereka cantik."
"ne."
"kau pasti bahagia."
"sangat."
Tiba – tiba senyum manisnya menghilang dari wajah tampannya berganti dengan kerutan di alisnya, seakan teringat sesuatu.
"hei, kenapa kita membicarakan tentang aku dan keluargaku? Kau datang kemari sebagai seorang pasien. Jika kau hanya ingin mengobrol denganku kau bisa melakukannya setelah jam praktikku selesai , Kibummie. Kau tidak lupa dengan tujuanmu datang kemarikan?"
"hahahahhaaa aku memang tidak ingin membahas tentang penyakitku. Akh padahal tadi aku sudah mulai lupa kau malah mengingatkanku. Kau menyebalkan." Melipat tangannya di depan dada, menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya. Gaya merajuk ini dia pelajari dari Kyuhyun. Tidak, Kibum tidak benar – benar marah. Dia juga tidak benar – benar lupa. Dia selalu ingat akan vonis yang dijatuhkan untuknya.
Hening. Donghae tahu bagaimana perasaan sahabatnya menyangkut vonis kanker otak yang dia idap.
"apa kau sudah bicara dengan Siwon? Tentang chemotherapy yang aku sarankan."
"eum..aku memutuskan untuk tidak melakukan chemotherapy."
"mwo? Kau bercandakan? Walaupun itu bukan langkah penyembuhan tapi setidaknya itu akan memperlambat penyebaran sel kanker."
"arrayo. Apa bedanya cepat atau lambat jika pada akhirnya aku tetap akan mati. Hanya masalah waktu, kan?"
"Kibummie."
"lagipula aku dengar chemo itu menyakitkan. Mereka bilang rasanya lebih sakit dari kanker itu sendiri. Dan lagi jika aku melakukan chemotherapy aku hanya akan menghabiskan waktuku di rumah sakit. Tidak, Hae. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa membuang waktuku yang berharga hanya dengan berbaring pasrah di sini. Aku lebih memilih menghabiskannya bersama anak dan suamiku. Membuat kenangan indah sebanyak mungkin." Yeoja yang selalu terlihat tenang itu kini nampak penuh emosi.
"aku mohon, Hae, mengertilah." Suaranya yang penuh emosi berubah lirih. Sebutir Kristal bening lolos dari manic indahnya.
Seminggu sudah Kibum menjalani hidup seperti ini. Sekarang dia harus selalu meminum bermacam – macam obat hanya untuk menopang hidupnya, hanya untuk terlihat baik – baik saja di depan orang – orang terutama di depan Siwon dan Kyuhyun. Hubungannya dengan Siwon juga masih berjalan lancar, mereka masih menjalankan kesepakatan mereka. Donghae juga tak pernah bosan menyuruh Kibum untuk melakukan chemo walaupun Kibum juga tak akan mau merubah pikirannya.
Sekarang yeoja manis itu sedang memberikan sedikit polesan di wajah cantiknya meskipun pipinya tak se-cubby dulu, dia tetap mempesona. Hari ini dia berjanji pada Eunhyuk, istri Donghae untuk menemani istri sahabatnya berbelanja. Tak ada salahnya, kan? Lagipula hari ini Kyuhyun akan pulang terlambat karna les yang di ikutinya. Setelah belanja aku akan menjemput Kyuhyun, pikir Kibum.
Selesai dengan polesan make-upnya, kini dia mulai menyisir rambut panjangnya yang tergerai indah. Seketika dia terkejut menatap sisir di gengggamannya, rambutnya rontok. Bukan dua atau tiga helai tapi ini bisa disebut gumpalan rambut. Kibum bukan yeoja bodoh, dia tau kenapa rambutnya rontok seperti itu. Sejak dia divonis mengidap kanker otak, Kibum aktif mencari tau tentang penyakitnya dan ini adalah salah satu tanda bahwa sel kanker sedang aktif menyerang tubuhnya. Donghae juga sudah pernah menjelaskannya pada Kibum apa – apa saja yang akan dia alami. Parasnya yang ayu menyiratkan kesedihan. Dia tau kanker dalam tubuhnya sedang aktif menggerogoti dirinya.
"sepertinya aku harus memotong rambutku." Lirihnya.
"apa kau tidak sayang pada rambutmu? Rambutmu kan bagus kenapa dipotong?" Eunhyuk masih tidak habis pikir dengan ide Kibum memotong rambutnya. Mereka baru saja keluar dari salah satu salon ternama di pusat perbelanjaan tersebut.
"aku bosan. Kau tau, tidak mudah merawat rambut panjang. Begini kan jadi lebih praktis, tidak membuang waktu." Sahabatnya itu memang tidak tau bagaimana mengurus rambut panjang karena ia memang lebih suka memelihara rambutnya hingga sebatas bahu saja. Eunhyuk hanya mengedikan bahu sebagai respon.
"Lagipula cepat atau lambat rambutku tetap akan habis, kan." Kibum tampak murung mengingat alasannya memangkas rambutnya.
"Kibumie, jangan begitu. Lagipula kau terlihat lebih fresh." Hibur Eunhyuk. Kibum memang terlihat lebih segar dengan rambut barunya. Ia memangkas rambut sepunggungnya menjadi beberapa centi di bawah telinga dengan poni yang ditata sedemikian rupa.
"jeongmal? Eum..sepertinya aku juga akan mulai menyiapkan rambut palsu jika nanti kepalaku sudah mulai botak. Hahaaa" kibum tertawa hambar, menertawakan nasibnya. Eunhyuk hanya tersenyum prihatin. Kibum masih muda, petualangan meraih kebahagiannya masih panjang. Jika bukan karena kanker sialan itu… begitulah pikir Eunhyuk.
Drrtt drrtt drrttt
Smartphone putih milik Eunhyuk bergetar di dalam salah satu saku blazernya, menyadarkan kedua ibu muda itu dari lamunannya masing – masing.
"yeoboseo"
"…"
"kau sudah sampai? Baiklah, kami segera ke sana."
"…"
"ne, I love you too." Sambungan terputus sedangkan Eunhyuk masih tetap mengulum senyum. Ratusan bahkan ribuan kali suaminya mengumbar kata cinta untuknya tetap saja dia merasa melayang, dan pasti ada semburat merah di wajah cantiknya.
"kajja. Donghae sudah sampai. Dia sedang menunggu kita." Eunhyuk mulai melangkahkan kakinya diikuti Kibum. Beberapa saat yang lalu di tengah acara berbelanjanya, Eunhyuk mengusulkan mengajak Donghae bergabung untuk makan siang bersama, bahkan dia meminta Kibum untuk mengajak Siwon juga. Namun Kibum tau namja Choi itu pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya atau sibuk dengan yang lain. Itu sebabnya Kibum menolak saran Eunhyuk. Tak apa jika hanya makan bertiga walau sempat terbesit rasa iri pada kedua sahabatnya. Mereka selalu menyempatkan waktu untuk sekedar makan siang bersama. Menyenangkan sekali, pikir Kibum.
"memang dia menunggu dimana?"
"restoran Jepang favorit kami. Aku sedang ingin makan Japanesse food, tak apa,kan?"
"eum. " kibum hanya menggumam sebagai jawaban atas pertanyaan Eunhyuk. Keduanya pun berjalan bersama sambil menenteng beberapa kantung belanja. Tak lama mereka melihat namja rupawan yang tengah berdiri menunggu mereka tak jauh dari restoran tujuan mereka. Salah satu dari mereka, Eunhyuk bergegas mennghampiri sang namja dan memberikan kecupan di bibir namja tersebut. Sedangkan yeoja yang satunya hanya tersenyum melihat keromantisan kedua sahabatnya.
"Hae-ah, kenapa tidak menunggu di dalam saja? Apa kau sudah lama menunggu?"
"aniya. Aku hanya ingin kita masuk bersama." Mereka saling menatap, saling melempar senyum hingga…
"EHEEMM" sebuah suara menginterupsi kemesraan mereka. Membuat mereka sadar jika mereka tidak sedang berdua.
"apa – apaan kalian ini?! Ayo masuk, aku sudah lapar." Kibum, 'sang perusak' suasana romantic Haehyuk berjalan masuk restoran mendahului kedua sahabatnya. Tak ingin membuat Kibum lebih kesal, merekapun turut masuk ke dalam restoran.
Apa yang dilihat Kibum adalah nyata. Laki – laki yang hanya terpaut satu meja dari tempatnya berdiri adalah suaminya, Siwon. Sedang duduk mesra dengan seorang yeoja. Yeoja itu..dia kenal siapa yeoja itu. Tiffany Hwang. Kibum sangat tau nama itu, yang telah mengalihkan perhatian suaminya, yang telah merebut cinta suaminya. Wanita itu adalah alasan Siwon mengajaknya bercerai. Kibum memang sudah tau perihal hubungan gelap suaminya dengan sang sekretaris tapi melihatnya secara langsung…Kibum tak sanggup.
"yak! Kibumie, apa yang kau lakukan? Ayo kita duduk. Kenapa masih berdiri di sini?" bahkan suara berisik Eunhyuk pun tak membuatnya bergeming. Donghae dan Eunhyuk hanya saling menatap dan mengangkat bahu masing – masing tanda mereka tak mengerti apa yang terjadi dengan sahabatnya. Hingga arah pandang Eunhyuk mengikuti arah manic Kibum menatap. Tentu saja dia penasaran apa yang membuat Kibum seperti itu.
"omo! Hae-ah.." Eunhyuk memekik tertahan, tak ingin menjadi pusat perhatian. Apa yang Eunhyuk lihat benar – benar mengejutkan. Choi Siwon, suami sahabat dekatnya tengah asik bermesraan dengan wanita lain yang tak dia kenal. Tidak mungkin jika yeoja itu adalah rekan bisnisnya. Mana mungkin rekan bisnis sampai bergelayut manja di lengan kekar Siwon. Pantas Kibum shock seperti ini, pikir Eunhyuk.
"waeyo?" Tanya Donghae heran.
"kau ingin tau kenapa Kibum seperti ini? i..itu..coba lihat di sebelah sana." Eunhyuk menunjuk tepat ke arah meja Siwon dan Tiffany berada. Tanpa babibu Donghae bergegas menghampiri meja sejoli yang sedang mengumbar kemesraan.
"brengsek kau,Choi!" dan tangan Dongahe terlalu bebas hingga mendarat di wajah tampan Siwon. ketiga wanita di sana – Kibum, Eunhyuk, Tiffany, sudah berteriak histeris. Beruntung saat itu restoran tersebut tidak terlalu ramai walaupun ada beberapa dari mereka berbisik – bisik, menerka apa yang terjadi. Sang namja tampan yang mendapat serang tiba – tiba pun sangat terkejut. Pasalnya dia baru saja mendapat pukulan tiba – tiba dari sahabat istrinya yang juga berteman baik dengannya. Saat ini di depan Siwon, namja pecinta ikan itu tengah menarik kerah bajunya sedang sebelah tangannya siap memberinya pukulan tambahan. Mata Donghae memerah menahan amarah, sorot matanya tajam menusuk sosok di hadapannya.
"SIAPA KAU? CEPAT LEPASKAN TANGANMU DARI KEKASIHKU!" itu suara Tiffany. Tampaknya dia tak tau siapa namja yang baru saja dia bentak. Dia juga tidak menyadari kehadiran Kibum di sana.
"DIAM KAU! JADI DIA KEKASIHMU?" tak mau kalah Donghae balas berteriak pada Tiffany. Entah kenapa nyali yeoja yang selalu berpenampilan sexy itu menyusut hanya dengan sentakan dan tatapan tajam namja di depannya.
"kau memang brengsek, Choi Siwon!" Donghae beralih pada Siwon. Tangannya benar – benar sudah siap memberikan tinju gratis untuk suami sahabatnya, hingga seseorang memeluknya dari belakang, menghentikan ayunan tangan Donghae yang akan memukul Siwon.
"hentikan, Hae..hiks aku mohon hentikan hiks.." Eunhyuk. Dialah yang tengah memeluk suaminya. Ya, dia menangis, dia takut jika suaminya sudah bersikap seperti itu. Donghae sangat menyeramkan jika sedang di bawah pengaruh emosi yang cukup tinggi. Eunhyuk merasa suaminya akan menjadi orang lain jika dia sedang marah. Donghae sadar Eunhyuk tengah memeluknya dengan badan yang sedikit bergetar. Dia tau jika istrinya pasti takut dengan sikapnya saat ini. Perlahan Donghae menurunkan kepalan tangannya dan mulai melepaskan cengkramannya pada kerah baju Siwon. Segera Siwon meraup oksigen banyak – banyak. Dia cukup kesulitan bernapas tadi. Donghae kini tengah menengkan sang istri yang masih terlihat sesenggukan. Eunhyuk takut kejadian itu terulang lagi dimana Donghae nekat menghajar seorang namja- yang dengan kurang ajar menggoda Eunhyuk-hingga babak belur. Bahkan saat itu orang tersebut sudah meminta ampun namun seolah tak mau dengar Donghae tetap melayangkan pukulan demi pukulan. Saat itu Enhyuk tak pernah melihat Donghaenya seperti itu, dia takut. Jika Eunhyuk tak menghentikannya mungkin orang itu sudah tak bernyawa. Dan sekarang hal yang sama terulang lagi, aura itu keluar lagi. Namun kali ini yang Donghae pukul bukan orang lain melainkan Siwon, suami sahabatnya. Eunhyuk tak ingin Kibum menjadi janda karna ulah suaminya.
"kau baik – baik sajakan, sayang?" tiffany tampak cemas dengan keadaan kekasihnya begitu juga dengan Kibum. Yeoja yang sedari tadi hanya menjadi penonton itu mulai mendekati sumber keributan. Merassa khawatir dengan keadaan suaminya yang baru saja mendapat 'hadiah manis' dari sahabatnya.
"nan gwenchana." Siwon berusaha menepis tangan Tiffany. Tatapannya beralih pada sosok wanita yang telah menemani hidupnya sepuluh tahun terakhir.
"Kibumie.." lirih Siwon. Sang pemilik nama hanya diam tak berniat membalas. Ekspresi wajahnya datar cenderung dingin, tatapan matanya kosong sarat akan rasa sakit. Ada apa ini? Kenapa rasanya seperti ini? Bukankah Kibum sudah tau hubungannya dengan Tiffany? Tapi ini adalah kali pertama Siwon tertangkap basah sedang berselingkuh. Rasanya seperti menanggung dosa yang amat besar. Tatapan itu, entah kenapa tatapan itu begitu menyayat hati Siwon, membuatnya menjadi seorang pendosa.
"huh. Jadi ini yang kau lakukan di belakang Kibum, Choi Siwon-ssi? Bagus sekali." Donghae yang berbicara. Jika tak bisa menghajarnya dengan tangan tak ada salahnya menghujani lawanmu dengan kalimat – kalimat tajam,kan?
"aku tak menyangka. Aku pikir kau adalah laki – laki setia yang akan menjadikan Kibum satu – satunya. Sepertinya dulu ada yang dengan lantang bersumpah akan menjaga dan mencintainya sampai akhir. Tapi nyatanya…hahahaaa" donghae tertawa mengejak sedangkan Siwon tak mengucapkan sepatah katapun, terlalu malu untuk membantah karna yang dikatakan Donghae adalah benar. Dulu, tujuh tahun yang lalu, dia bersumpah di hadapan Tuhan bahwa dia akan menjaga dan mencintai Kibum hingga maut memisahkan, bukan perceraian yang akan memisahkan mereka.
"hentikan, hae.." wanita salju itu berucap pelan. Donghae mendengarnya tapi saat ini dia sedang tidak ingin mendengarkan sahabatnya.
"kau tau tidak apa yang dialami Kibum belakangan ini? Kau tau tidak apa yang menimpa Kibum saat ini? Kau tau tidak jika Kibum – "
"HENTIKAN! Cukup Hae. Kita pergi dari sini." Kibum tau apa yang akan dikatakan Donghae jika ia tidak menghalanginya. Kibum sudah bertekat agar Siwon tak perlu tau.
"tapi Kibumie…" kibum menggeleng tanda tak setuju dengan sahabatnya.
"aku mohon, Hae.." Donghae hanya menurut saat Kibum menarik paksa tangannya untuk keluar dari restoran. Eunhyuk yang sudah berhenti menangis sedari tadi hanya mengikuti suami dan sahabat. Namun langkahnya terhenti saat sebuah suara menginterupsinya.
"apa yang terjadi pada Kibum? Tolong jelaskan padaku. Kau pasti tau sesuatu,kan?" Siwon sangat penasaran apa yang terjadi pada wanita yang masih menjadi istrinya itu. Apa yang tidak dia tau dari istrinya.
"aku tidak bisa mengatakannya. Mian." Dan Eunhyuk melanjutkan langkahnya menyusul Kibum dan Donghae meninggalkan Siwon yang masih dengan rasa bingung dan penasarannya.
T B C
waaaa apa itu? uda update lama cuma kaya gitu doang...hehe :D
maaf yach kalo critanya ngebosenin..
mohon bantuan reviewnya ya ^^
