SiBum n baby Kyu are back, after long time. mian ^^v

Cast bukan punya saya, tapi karakter dan cerita beneran punya saya.

Watchout! typo in everywhere!

Happy reading ^^

Minggu kedua

Ini adalah minggu kedua sejak mereka – Siwon dan Kibum – menyepakati perjanjian tak tetulis yang Kibum ajukan. Sejak kejadian itu – Siwon yang tertangkap selingkuh dan Kyuhyun yang marah pada Kibum – hubungan sepasang suami istri itu memang tidak terlalu hangat, Kibum cenderung bersikap dingin. Tapi itu tak berlangsung lama. Kibum punya pemikirannya sendiri atas sikapnya terhadap Siwon.

Kibum pov

Tak terasa sudah dua minggu aku dan Siwon menjalani kesepakatan ini. Itu artinya aku sudah menghabiskan dua minggu dari sisa hidupku, tinggal dua minggu lagi. Aku dan Siwon sudah berbaikan walaupun selama dua hari aku sempat mengacuhkannya. Tapi aku pikir itu hanya akan membuang waktuku. Bukankah aku ingin memiliki kenangan yang indah sebelum Dia memanggilku. Itu sebabnya aku harus menekan egoku, aku mengalah pada diriku sendiri. Aaaa aku jadi ingat bagaimana dia berusaha mencari perhatianku. Dia menanyakan banyak hal yang ku rasa dia tau jawabannya, terus mengajakku bercerita, menceritakan orangtuanya, masa kecilnya, walaupun aku tak memberikan respon yang cukup bersahabat tapi dia tetep bicara. Tak jarang juga dia menggunakan Kyuhyun untuk mendapat perhatianku. Jika diingat ternyata lucu juga. Ck, aku sudah seperti anak muda yang dimabuk cinta sedang memikirkan kekasihnya saja. Ku tatap pantulan diriku pada sebuah cermin di meja riasku yang cukup besar di depanku. Ku dudukkan diriku di depan cermin itu. Aku benar – benar memperhatikan diriku.

"lihat dirimu, Kim Kibum. Mana ada yang mau melihatmu jika kau seburuk ini. Pantas saja suamimu lari pada yeoja lain yang lebih cantik dan sexy. Sekarang bahkan kau jauh terlihat lebih kurus dari Eunhyuk," monologku. Ku pegang kedua pipiku yang dulu berisi. Aaa kemana perginya isi pipiku? Kenapa tirus begini? Mata ku juga terlihat lebih cekung. Aku tampak lebih tua dari usiaku. Kasian sekali kau, Kim Kibum.

Ceklek

Perhatianku beralih pada sumber suara. Pintu kamar mandi terbuka, Siwon sudah selesai mandi. Omo! Apa – apaan orang ini. Reflek mataku melebar melihat Siwon yang topless. Aish…harusnya aku menutup mataku bukannya malah membuka selebar ini. Kupejamkan mataku sekaligus menutupi wajahku yang sepertinya sudah merah dengan tanganku.

"kau kenapa, Kibummie?"

"seharusnya aku yang bertanya. Kenapa tidak pakai baju di dalam kamar mandi saja?"

"bajuku'kan ada di sini."

"kalau begitu ambil dan pakai di dalam."

"shireoyo. Kenapa aku harus pakai di dalam jika aku bisa memakainya di sini?"

Kenapa dia bilang? Aish!

"karena..eum..karena di sini ada aku."

Kenapa aku jadi gugup begini. Paboya Kim Kibum! cukup lama tak ada suara darinya. Apa dia sudah masuk kamar mandi? Perlahan ku buka tanganku yang menutupi wajahku dan…

"omo! Apa yang kau lakukan? Kau mengagetkanku."

Tiba – tiba saja dia sudah ada tepat di depanku dengan jarak yang tidak bisa dikatakan jauh dengan senyum yang bisa membuat jantungku berdegup lebih kencang. Apa namja ini ingin menambah penyakitku, eoh? Aku pun sedikit menambah jarak agar tak terlalu dekat seperti ini. Iya, sedikit. hehee

"kau yang kenapa? Kenapa menutupi wajahmu begitu? Aaaa aku tau…kau malu melihat suamimu topless ya.. eoh come on chagiya..kau bahkan sudah pernah lihat seluruhnya. Kenapa harus malu, eum?"

Benar juga. Aku sudah pernah melihat secara keseluruhan,aku juga pernah merasakannya hingga kami memiliki Kyuhyun tapi kenapa aku malah bersikap konyol begini. Ck. Molla, aku sendiri juga tidak mengerti kenapa aku tiba – tiba malu melihat Siwon seperti itu.

"aigoo, lucunya istriku jika sedang malu begini."

Dia mulai menarik kedua pipiku gemas karena aku hanya diam dan sibuk dengan pikiranku sendiri. Apa dia tidak tau kalau pipiku sakit, eoh. Ku lepaskan tangannya dari pipiku.

"appo.."

Dia hanya terkekeh.

"ini sungguh sakit Choi Siwon. Kenapa malah tertawa?!"

Dia pikir tangannya sekecil apa? Tangannya itu besar dan kencang (?). jika untuk mencubit pipiku tentu saja sakit. Kugunakan kedua tanganku untuk mengusap kedua pipiku berharap mengurangi sakit.

Chup

Mwo? Apa yang baru saja dia lakukan? Dia menciumku? Tuhan, kenapa aku jadi berdebar begini. Inikan bukan pertama kali. Siapa saja ingatkan aku berapa lama aku hidup bersamanya. Aish apa ini juga akibat dari kanker di kepalaku? Tapi Donghae tidak pernah bilang kalau kanker juga bisa membuatku bodoh seperti ini. Apa aku harus menanyakannya?

"morning kiss." Sepertinya Siwon megerti dengan keterkejutanku.

"ne? tapi tadi aku sudah memberikannya."

"iya. Tapi sepertinya kau masih belum cukup, kan? Buktinya kau memajukan bibirmu seperti itu."

Hah?! Suamiku ini benar – benar.

"aku tidak bermaksud begitu. Ini juga karna kau yang menarik pipiku." Aku lihat dia malah terkekeh. Apa ini lucu?

"tak peduli. Jika aku melihat mu seperti itu lagi maka aku tak segan mencium mu entah itu pagi siang sore atau malam sekalipun." Ucapnya mutlak. Senyum masih betah ada di wajah tampannya. Ku rasakan mukaku panas hanya karna mendengar kata – kata mutlaknya itu. Siwon mulai mendekatiku lagi. Tangannya terulur membelai pipiku.

"apa sakit sekali, eum? Sampai merah begini. Aku menariknya terlalu keras ya? Mian." Dia masih mengusap pipiku. Secara naluri aku menutup mataku, menikmati sentuhannya. Hangat dan…lembab. Dia mulai menciumi kedua pipiku bergantian. Ku rasakan salah satu tangannya menyibak rambutku, menyelipkannya ketelingaku. Deru nafasnya begitu terasa di telingaku. Aku masih memejamkan mataku.

"kau cantik, sayang." Bisiknya lembut, mengalun merdu menyapa pendengaranku. Dia kembali mencium pelipisku, sedikit melumat daun telingaku.

"aku menginginkanmu, sayang." Kalimat sederhana itu langsung menyadarkanku dari buaiannya. Seketika aku memberi jarak darinya, ku tatap dia tajam.

"michoso?!" aku sadar suara ku cukup tinggi. Bukannya aku tak mengerti dengan maksud ucapannya. Dia menginginkannya, menginginkan berhubungan suami istri. Dengan status pernikahan kami yang diambang kehancuran. Jika aku bisa bertahan hidup maka kami akan tetap bercerai. Aku tidak ingin membuat diriku semakin sulit melepasnya. Disamping itu juga aku takut jika dia menyebutkan nama lain disela permainan kami. Aku yakin, sangat yakin Siwon dan kekasihnya sudah sering melakukannya. Aku hanya tak ingin lebih sakit lagi. Aku masih menatapnya. Aku melihat penyesalan tercetak jelas di wajah tampannya. Aku tau dia pasti menyesal.

"mianhae." Satu kata singkat yang diucapkannya dengan penuh penyesalan.

"kau boleh memelukku, boleh menciumku. Tapi maaf aku tak bisa berhubungan intim lagi denganmu. Kau tau alasannya, bukan? Mohon mengertilah." Ya, aku mengijinkannya memelukku dan menciumku tapi aku takkan ijinkan dia menyentuhku lebih jauh. Suasana kamar kami mulai terasa tak enak. Siwon masih dengan penyesalannya, tak berani menatapku. Ku putuskan untuk menunggunya di luar saja. Bukan, bukan keluar kamar, tapi keluar menuju balkon yang ada di kamar kami. Menikmati pagi di atas balkon sepertinya tak buruk. Mungkin bisa mengembalikan suasana hatiku.

Kibum pov end

Siwon pov

Kau pasti sudah gila Choi Siwon! Berani sekali kau menginginkannya sedangkan kau sudah menjatuhkan talak padanya. Dasar tak tau malu. Huhf rasanya aku ingin menjeburkan diri di sungai Han. Aku malu, sangat malu padanya. Sekarang apa yang dia pikirkan tentangku. Pasti dia berpikir betapa brengseknya aku. Ck Choi Siwon bodoh. Aku tak tau harus mengumpat bagaimana lagi untuk melampiaskan kekesalanku pada diri sendiri. Padahal aku sudah susah payah membuat dia mau bicara lagi denganku. Ya, selama dua hari dia benar – benar mengacuhkanku. Dia hanya menanggapiku jika ada Kyuhyun diantara kami. Bersyukur kami punya Kyuhyun. Kami terutama Kibum sangat memanjakan Kyuhyun. Ku anggap itu wajar karena kami hanya punya dia sebagai putra kami. Kibum selalu bilang wataknya benar – benar seperti aku, tapi jika sudah marah dia sangat mirip ibunya. Yach begitulah putra kami.

Aku sudah selesai dengan berpakaian dan berhias diri. Ku lihat dia yang sedang terdiam di balkon kamar kami. Kibum adalah wanita yang baik, istri dan ibu yang luar biasa. Aku menikahinya tujuh tahun yang lalu. Berawal dari teman semasa senior high school, perlahan tumbuh rasa cinta layaknya remaja SMA. Tidak mudah mendapatkan hatinya. Dia adalah sosok yang sederhana, tak sedikit namja yang menginginkannya. Cantik, cerdas dan bersahaja adalah pesona yang dia tawarkan pada setiap namja dan aku adalah salah satu yang terikat oleh pesonanya. Usahaku tak sia – sia karena akulah yang berhasil mendapatkan hatinya. Hubungan kami berjalan hingga kami meneruskan kuliah di universitas yang sama. Tak jarang pertengkaran kecil mewarnai hubungan kami. Hingga pada semester akhir aku putuskan untuk melamarnya dan dua minggu setelah kami menyandang gelar sarjana kami menikah. Jika kalian pikir Kibum adalah orang berada seperti aku, itu salah. Kibum, dia adalah seorang yatim piatu sejak usianya sepuluh tahun. Ayahnya seorang buruh bangunan dan meninggal akibat kecelakaan di tempat kerja. Sepeninggal ayahnya, ibu Kibum sering sakit sakitan hingga akhirnya menyusul sang ayah. Tak ada sanak saudara karna orang tuanya tak pernah menyinggung tentang saudara – saudara mereka. Tiga hari setelah itu, salah seorang tetangganya membawa Kibum ke panti asuhan. Kehidupan di panti asuhan membuatnya menjadi sosok yang tegar, sabar dan penyayang. Tentu saja, dia juga harus menjadi kakak untuk adik – adiknya di panti, kan? Mungkin itu sebabnya dia memiliki sifat keibuan. Lalu semasa SMA dia juga bekerja part time. Ya walaupun seluruh biaya pendidikannya dari beasiswa tapi dia juga harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Dulu ketika aku mendengar kisahnya aku sempat terharu. Dia seorang gadis yang tegar dan tak menyerah pada keadaan yang menyulitkannya. Dan aku sangat beruntung karna yeoja itu telah menjadi , aku memang beruntung memilikinya tapi sekitar dua minggu lalu aku mengajaknya berpisah. Alasannya, karena aku terikat hubungan dengan sekretarisku. Atau bila dijelaskan lebih mudahnya aku berselingkuh dengan sekretarisku dan dia memintaku untuk menikahinya. Dan bodohnya, aku tak bisa menolah dan malah memilih melepaskan wanita yang sudah tujuh tahun mengarungi rumah tangga bersamaku. Apa aku mencintai sekretarisku? Entahlah, aku hanya merasa nyaman bersamanya. Cinta untuk istriku? Tentu saja masih ada. Kalian boleh menyebutku pria brengsek tak tau diri, karena aku sendiri juga merasa begitu.

Ketika aku membicarakan tentang perceraian dengannya, Kibum sama sekali tak histeris walaupun tetap menangis. Tapi, itu diluar prediksiku. Aku bahkan sudah bersiap jika dia akan menghajarku habis – habisan. Dia justru mengajukan syarat sebelum bercerai denganku. Menggendongnya dari kamar untuk sarapan, dan menjadi ayah yang baik, itu yang dia ajukan padaku. Tentu saja dengan senang hati aku menyetujuinya. Bukan karna aku ingin segera lepas darinya tapi lebih karna aku ingin dia menyimpan kenangan indah bersamaku. Aku juga mengatakan alasanku bercerai padanya dan yang mengejutkan, dia tau lebih dulu. Saat itu aku melihat sosoknya yang terluka dan hancur dan itu semua karna aku. Aku jadi ingat, dia juga ingin membicarakan sesuatu denganku tapi urung dia katakan. Aku tak tau apa itu karna dia bilang itu bukan hal yang serius.

Haaahh~ ku hembuskan nafas pelan sekedar mengurangi rasa gugup menghadapinya. Kenapa aku gugup? Aku sendiri tak mengerti sejak kapan aku gugup menghadapi istriku sendiri. Ya, istri. Masih boleh'kan aku menyebutnya 'istriku' karna kami memang belum resmi bercerai. Ku langkahkan kaki ku ke balkon kamar kami. Menghampiri istriku, memeluknya dari belakang. Aku tau dia terkejut. Ku tumpukan dagu ku pada bahu sempitnya. Wangi. Aroma tubuhnya masih sama.

"mianhae. Tolong maafkan aku."

Kubisikan kata maaf di telinganya. Dia memutar kepalanya tanpa melepas pelukkanku darinya. Menatapku dalam dan tersenyum. Terimakasih Tuhan, aku masih bisa melihat senyum menawannya pagi ini. Kudaratkan kecupan hangat pada keningnya. Hangat, dalam dan penuh kasih, menunjukkan betapa aku sungguh – sungguh dengan permintaan maafku. Cukup lama hingga…

Dok dok dok

"dad, bisa kita berangkat lebih awal? Kyunie mendapat tugas kebersihan di sekolah."

Itu suara jagoanku. Segera ku lepaskan kecupanku.

"yes, sir. Tunggu daddy di bawah."

Tak terdengar balasan dari luar, hanya suara langkah kaki yang semakin menjauhi kamar kami. Aahhh semoga dia tidak marah.

"kajja. Akan sangat susah jika dia sudah merajuk."

Kibum benar, jagoanku akan susah jika sudah merajuk. Ku tatap sosok di hadapanku, senyum masih menghiasi wajah ayunya. Kupeluk dia.

"sudah siap untuk hari ini ?"

Ku rasakan anggukan di dadaku. Segera kuangkat tubuhnya.

"let's go!"

Siwon pov end

Mereka – atau hanya Siwon – menuruni tangga perlahan dengan Kibum dalam gendongannya. Kibum mengalungkan lengannya pada leher Siwon sebagai pegangan dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami.

"apa kau sedang diet ? badanmu terasa lebih ringan. Kau juga tampak sedikit lebih kurus."

Siwon tak bohong, Kibum memang terasa lebih ringan saat dia menggendongnya.

"aku? Tidak. Untuk apa berdiet. Hanya menyiksa diri."

Sejak dulu Kibum memang tak pernah setuju dengan yang namanya diet. Hanya menyiksa diri, itu pikirnya.

"kau merasa aku lebih ringan saat kau gendong mungkin karna kau sudah terbiasa melakukannya hingga merasa lebih ringan." Tambah Kibum.

"ya, mungkin saja."

Selesai. Siwon tak ingin terlibat debat dengan Kibum.

Tepat di depan meja makan Siwon menurunkan Kibum dari gendongannya.

"morning, jagoan" sapa Siwon pada Kyuhyun tak lupa memberi kecupan di puncak kepala putra kecilnya. Sedang anak kecil itu sudah duduk manis di kursinya.

"morning, dad. Mommy, aku tidak mau itu ada dalam rotiku."

Kyuhyun tampak menunjuk sesuatu yang dipegang ibunya.

"selada? Kau harus makan sayur, sayang. Sedikit saja tak apa, eum?"

Saat ini Kibum memang sedang menyusun sandwich untuk sarapan pagi ini, dan sepertinya Kyuhyun kecil tak suka jika benda hijau bernama selada ada dalam lapisan tersebut.

"shireo."

Akan selalu seperti itu jika Kibum membujuk Kyuhyun memakan sayur walau hanya sedikit. Namja februari itu memang tak suka dengan sayur.

"geure.."

Sesering apapun Kibum membujuk, sesering itu juga Kibum mengalah. Dia lebih memilih mengalah dari pada putranya tak mau makan sama sekali.

"kenapa tak suka makan sayur? Itu baik untuk tubuhmu, baby. Bagaimana kalau kau sakit karna kekurangan sayur?" Kini giliran sang ayah angkat bicara.

"sayur itu tidak enak, dad. Rasanya aneh dan kadang pahit. Daddy tenang saja, Kyunnie tak akan sakit walau tak makan sayur."

Kyuhyun mengutarakan alasannya dengan percaya diri dan dia juga yakin tidak akan sakit meski tak mengonsumsi sayur. Itu sudah seperti jawaban wajib, hafal luar kepala jika ditanya alasan tidak makan sayur. Siwon dan Kibum hanya pasrah dengan sikap anak mereka. Pernah mereka memaksa dan hasilnya si kecil sama sekali tak mau makan.

Acara sarapan pagi itu berjalan dengan tenang. Kyuhyun tampak sudah selesai dengan roti isi tanpa sayurnya begitu juga dengan susu yang sudah tandas dia teguk.

"dad, ayo berangkat. Aku ada tugas kebersihan hari ini. Aku tak mau membersihkan kelas sendirian sepulang sekolah jika sampai terlambat."

Kyuhyun turun dari duduknya menghampiri Kibum, mengecup kedua pipi Kibum yang nampak lebih tirus.

"bye, mom."

"bye, baby. Belajar yang rajin dan dengarkan seongsengnim dengan baik, arrachi?"

Hanya anggukan sebagai respon atas nasehat sang ibu. Kibum balas mengecup putranya, mulai dari kedua pipi cubbynya dan berakhir di kening.

"aku tunggu di mobil ne, daddy."

Kibum terkekeh melihat kyuhyun berlarian menuju mobil ayahnya. Rupanya benar – benar tak ingin terlambat, eoh?

"bergegaslah, Siwonnie. Putramu bisa benar – benar marah jika terlambat."

Kibum membantu suaminya memakai jasnya, membenarkan letak dasi dan merapikan kembali penampilan sang suami. Suaminya ini harus terlihat tampan walaupun tidak hanya dia saja yang menikmati ketampanan suaminya.

"sudah, berangkatlah."

Terakhir, Kibum menyerahkan tas kerja Siwon. Bukannya bergegas, Siwon malah menunjuk bibirnya sambil mengerucutkannya. Dan Kibum tentu saja tau maksud Siwon.

"astaga, Siwonnie. Baiklah."

Tampak Siwon tersenyum penuh kemenangan. Perlahan Siwon mulai mengecup bibir milik istrinya. Keduanya mulai memejamkan mata. Dari kecupan berumah menjadi kuluman. Tak ingin melayang lebih tinggi, Kibum segera sadar malaikat kecil mereka sedang menunggu di luar. Dengan tak rela Siwon menyudahi acara berpamitannya. Perlahan dia membuka mata dan betapa terkejutnya dia dengan apa yang ada di hadapannya.

"ya Tuhan, Kibummie, hidungmu berdarah, sayang."

Kibum sendiri juga terkejut. Kenapa harus sekarang, kenapa di depan Siwon. Siwon bergegas mengambil beberapa lembar tissue dari meja makan dan meletakkannya di depan lubang hidung Kibum, menyeka dan menghalau darah yang terus keluar.

"kau sakit, sayang? Ada apa denganmu, eum? Katakan padaku mana yang sakit?"

Panic, cemas dan khawatir. Itu yang dirasakan seorang Choi Siwon saat ini. Pasalnya, Kibum tak pernah sakit sampai seperti ini.

"nan gwenchana, Siwonnie. Mungkin ini hanya kelelahan."

Kibum mengambil alih tissue dari tangan Siwon.

"kita ke dokter saja, ya?"

"tak perlu. Aku hanya butuh istirahat. Tenanglah. Sekarang cepatlah berangkat, Kyuhyunnie sudah menunggu di mobil."

"tapi, Kibummie…"

"Tidak ada tapi. Palli!"

"kau sungguh tak apa? Aku akan mengantarmu ke rumah sakit."

"ish. Kau ini. Nan gwenchana, jeongmal."

Kibum menambahkan senyum termanisnya untuk meyakinkan sang suami.

"baiklah."

Siwon mengalah, terpaksa mengalah. Dengan berat hati Siwon meninggalkan Kibum setelah sebelumnya memberikan kecupan hangat di kening Kibum.

Blam

Pintu tertutup tanda Siwon sudah meninggalkan rumah. Senyum di wajah cantiknya perlahan sirna berganti dengan rintihan. Perlahan Kibum mendudukkan diri di salah satu kursi meja makan. Bohong jika Kibum bilang dia baik – baik saja. Kepalanya begitu sakit, serasa akan pecah. Dia masih merintih, mencengkram kepalanya kuat berharap bisa mengurangi rasa sakitnnya. Darah sudah berhenti dari hidungnya. Sekuat tenaga Kibum berdiri mencoba berjalan, menjadikan apa saja sebagai tumpuannya. Tujuannya adalah lemari kaca kecil P3K yang tak jauh dari dapur. obatnya ada di sana. Sebenarnya lemari itu hanya beberapa langkah dari dapur, namun dengan kondisinya saat ini membuat perjalanannya terasa jauh.

Sampai. Kibum berhasil sampai di depan lemari kecil itu dan bergegas mencari botol kecil yang berisi butiran penopang hidupnya. Namun botol itu kosong, tersisa satu butir. Kibum bernafas lega, setidaknya saat ini dia masih memiliki kesempatan hidup.

'sudah habis, ya. Hari ini aku akan menemui Donghae dan meminta obat.'pikir Kibum.

T B C

Allohaaaa

saya datang lg stlh skian lama.

uda update lama bngt, pendek lg. mian ya heee

sbenernya sya ga pede mau post ini. ga tau knpa sya mlh ga dpt feel ny *lhoh

mungkin crta ny jg brtele tele tp sya jg bingung ntr takut ny mlh jd kecepetan.

jd ya benilah jadinya heheee

sya masih mempersilakan kalian buat ninggalin cuap cuap kalian d kotak review.

thankyu...c u ^^