Sibum n baby Kyu are back as lovely family with Eunhae as bestfriend

all of cast isn't mine, but this story is really mine

u'll find many typo, so take care ^^

last, happy reading

"bagaimana, Hae-ya?"

"aku harus menjawab apa? Kau ingin aku menjawab bagaimana? Kau sendiri tau bagaimana keadaanmu sekarang."

Kibum sedang duduk berhadapan dengan Donghae di ruangan dokter muda itu. Setelah melakukan serangkaian medical check up, kini saatnya Kibum mendengarkan 'laporan' kesehatannya.

Donghae tampak membuang nafasnya berat.

"kau tau Kibummie, penyakitmu semakin memburuk. Kau akan lebih sering mengalaminya. Jangan terlalu lelah dan jangan terlalu membebani pikiranmu. Aku rasa Siwon-"

"andwe. Siwon..jangan biarkan dia tau hal ini. Tidak sekarang."

"tapi keadaanmu semakin tidak baik. Setidaknya dia masih suamimu dan dia berhak tau. Sebelum terlambat."

"aku belum siap memberitaunya. Biarkan seperti ini dulu. Aku janji dia akan tau, tapi tidak sekarang."

Donghae menyerah. Akan selalu seperti ini jika dia membujuk Kibum memberitau Siwon tentang penyakitnya. Jika dulu Donghae gencar membujuk Kibum untuk chemo, sekarang dokter muda itu ingin sahabatnya memberitau suaminya tentang kanker otak yang dideritanya. Tapi hasilnya selalu sama ketika dia membujuk untuk chemo, Kibum menolak. Dengan alasan tak ingin membuat Siwon khawatir. Dan lagi – lagi Donghae tak bisa berbuat banyak selain memberikan butiran – butiran penopang hidup untuk sahabatnya. Dia akan selalu kalah bila berdebat dengan Kibum.

"baiklah, kau menang, dan akan selalu menang."

Donghae memberikan secarik kertas berisikan resep yang harus Kibum tebus.

"gamsahamnida, Lee uisanim. Anda adalah dokter terhebat dan tertampan yang pernah kutemui."

Donghae hanya mendengus mendengar pujian yang selalu Kibum ucapkan jika dia mengabulkan permintaannya. Kibum memasukkan resep tersebut ke dalam tasnya. Sepertinya dia sudah siap untuk meninggalkan ruangan Donghae. Tapi sebelum Kibum sempat beranjak Donghae menggenggam tangan Kibum.

"aku tau ini pasti tak mudah untukmu. Kau menanggungnya sendiri tapi kau masih punya aku dan Hyukkie. Kami akan selalu ada untukmu."

"aku tau kalian akan selalu ada untukku. Aku beruntung memiliki kalian. Aku pasti bisa Donghae-ya."

"ne, kau pasti bisa Kibummie."

"cha… kalau begitu aku pamit. Sekali lagi terimakasih."

Kibum meninggalkan ruangan Donghae setelah sebelumnya memberikan senyum terindah untuk sahabatnya terkasih.

"aku selalu berdoa untukmu Kibummie." Lirih Donghae setelah Kibum benar – benar meninggalkan ruangannya.

Kibum baru saja menebus resepnya di apotek rumah sakit. Dia tampak berjalan ringan. Dia sudah mendapatkan kembali penopang hidupnya. Setidaknya itu yang terlintas dalam pikirannya. Jam tangan mewah nan elegan hadiah ulang tahun dari suaminya melingkar indah di tangan mulusnya, menunjukkan pukul 10.30 am. Setidaknya Kibum masih punya waktu dua jam sebelem menjemput Kyuhyun.

"masih terlalu awal menjemput Kyunie. Tak ada salahnya mampir ke butik Eunhyukie," gumam Kibum.

Kini ibu satu anak itu sudah sampai di lobi rumah sakit, tinggal beberapa meter lagi maka dia akan melewati pintu keluar rumah sakit hingga seseorang menabraknya dari belakang. Cukup keras hingga membuat Kibum hampir terjatuh.

"jeosonghamnida~" yeoja itu – orang yang menabrak Kibum – menundukkan kepalanya tanda dia meminta maaf.

"nan gwenchana, agassi." Kibum tersenyum ramah. Namun senyum itu perlahan pudar berganti keterkejutan saat dua pasang manic indah itu saling bertatap.

"Kibum eonni." Yeoja itu tampak terkejut dengan siapa yang ada di hadapannya.

"Fanny-ah." Kibumpun juga tak kalah terkejutnya, sama seperti yeoja yang Kibum panggil 'Fanny'

Setelah keterkejutan masing – masing berakhir, kedua yeoja itu – Kibum dan Fanny atau Tiffany – sepakat untuk duduk sebentar di sebuah kafe tak jauh dari rumah sakit.

Kini mereka duduk saling menatap satu sama lain. Mengabaikan begitu saja latte di hadapan mereka.

"kenapa eonni tidak melepaskannya saja. Bukankah eonni sudah tau." Tiffany, yeoja dengan make up cukup tebal itu memecah keheningan antara mereka. Menatap remeh pada Kibum. kibum tau kemana arah pembicaraan wanta di hadapannya itu.

"kenapa bukan kau saja yang pergi dari kehidupan keluargaku. Kau tau, kau tak akan bisa memilikinya."

Tifanny hanya tersenyum sinis.

"tapi nyatanya dia meminta berpisah denganmu, kan? Apa itu belum cukup membuktikan dia sudah tidak mencintaimu lagi?"

"lalu kau pikir dia lebih mencintaimu? Percaya padaku, Fanny-ah, hanya ada aku di hatinya. Suamiku hanya tersesat dan akan segera pulang, padaku." Kibum mengucapkannya dengan yakin. Ya, dia percaya suaminya hanya tersesat dan akan kembali padanya.

"jadi berhentilah, Fanny-ah." Yeoja yang lebih muda dari Kibum itu tertawa meremehkan lalu menatap Kibum dengan serius.

"kau tau sendiri aku tak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang kau miliki."

"tapi kau tak akan bisa mendapatkan yang satu ini. Tak akan kubiarkan. Kau cantik dan juga pintar, akan ada banyak namja yang mengejar cintamu."

"tapi aku tetap menginginkan milikmu."

Cukup. Tiffany rasa pembicaraan ini sudah cukup maka dia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.

"Tiffany Hwang." Langkahnya terhenti saat Kibum menyerukan namanya, langkahnya belum terlalu jauh dari meja mereka.

"aku sudah banyak mengalah untukmu, dan kali ini aku tak bisa mengalah lagi. Dia, Choi Siwon suamiku akan kembali ke pelukkan ku. Kau boleh pegang kata – kataku, nona Hwang."

Tanpa berbalik Tiffany masih bisa mendengar dengan jelas setiap kata – kata Kibum. dia melanjutkan langkahnya, benar – benar meninggalkan kafe tanpa berniat menanggapi perkataan Kibum.

Kibum dan Tiffany memang saling mengenal, sangat kenal malah. Tentu saja, mereka tumbuh besar dipanti asuhan yang sama. Kibum sangat menyayangi Tiffany, dibanding dengan anak – anak yang lain mereka memang lebih dekat satu sama lain. Layaknya seorang kakak, Kibum selalu menuruti keinginan Tiffany, memberikan apa yang dimintanya meskipun itu adalah sesuatu yang Kibum suka sekalipun. Tapi bukankah dia seorang kakak jadi dia harus mengalah untuk adiknya, begitulah pikir Kibum saat itu.

Tapi hati manusia siapa yang tau. Ternyata Tiffany menyimpan benci dan iri yang sangat dalam untuk Kibum. dia selalu meresa Kibum mendapatkan lebih dibanding dirinya. Mereka lebih sering membicarakan dan memuji Kibum, entah itu tentang kejeniusannya atau kebaikan hatinya. Tak jarang pula dia dibandingkan dengan Kibum, membuat rasa benci dan iri semakin bertumpuk. Sejak saat itu Tiffany bertekat untuk menyamai Kibum, merampas apa yang Kibum punya. Dalam hati dia menyatakan Kibum sebagai rivalnya.

Sampai pada suatu hari Kibum pulang dengan membawa seorang namja ke panti, mengenalkannya sebagai namjachingu. Tiffany bisa melihat pancaran bahagia dari mata Kibum. dia juga tau pasti Kibum sangat mencintai namja itu. Pasti namja itu juga salah satu yang paling berharga, maka Tiffany bertekat akan merampasnya. Dia harus memiliki apa yang Kibum miliki. Untuk mengejar ambisinya Tiffany harus bekerja keras menjadi – setidaknya – seperti Kibum. Dia tau Siwon – namjachingu Kibum – adalah namja dengan status sosial yang tinggi.

Tibalah hari pernikahan Kibum dan Siwon. Semua berbahagia, bahkan Tiffany turut hadir dalam perayaan mewah tersebut, ikut menyaksikan dua anak manusia bersatu di hadapan Tuhan.

Tiffany tidak buta, dia bisa lihat dengan jelas betapa bahagianya Kibum dengan keluarga barunya. Bahkan orangtua Siwon tak mempermasalahkan status sosial Kibum. beruntungnya Kibum. Namun hal itu justru membuat Tiffany semakin memupuk rasa irinya. Keinginan merampaspun semakin besar.

"chukkaeyo, eonni.." Tiffany menghampiri kedua mempelai dan memeluk Kibum sambil mengucapkan selamat.

"gomawo, dongsaeng-ah."

"selamat untukmu juga, Siwon-ssi." Tiffany sudah melepas pelukkannya pada Kibum dan beralih menjabat tangan Siwon, tak lama.

"kau'kan juga adikku sekarang jadi panggil aku oppa saja." Siwon tersenyum ramah pada Tiffany, dan hanya dibalas dengan anggukan. Dalam hati yeoja ini sedang berdebar karna senyum Siwon.

"Bummie, kajja kita sapa yang lain."

"Fanny-ah, kami tinggal dulu ya. Nikmati acaranya."

"ne, eonni. Sekali lagi selamat. Semoga kalian berbahagia."

Siwon merangkul bahu Kibum, membimbing istrinya untuk menyapa tamu yang lain. Sepertinya acara ini tak akan berjalan singkat mengingat begitu banyaknya rekan sekaligus relasi keluarga Choi.

Tiffany masih memperhatikan sang pengantin baru yang semakin menjauh darinya.

'nikmati kebahagiaanmu, karna aku akan merampas semuanya darimu,' senyum licik tercetak pada wajah cantik Tiffany Hwang. Gadis itu sudah bertekad akan menghancurkan kebahagiaan seorang Kim Kibum.

Begitulah, setelah resepsi pernikahan mewah itu Kibum dan Tiffany sudah sangat jarang bertemu. Tentu saja mereka sibuk dengan urusan masing – masing. Kibum dengan peran barunya sebagai seorang istri dan Tiffany yang sibuk dengan kuliahnya, agar dia bisa bersaing dengan Kibum – setidaknya begitu pemikirannya. Mereka hanya bertemu sekali dua kali di panti. Ya, Kibum masih mengunjungi panti asuhan tempatnya tumbuh. Kibum bukan tipe orang yang lupa pada kulitnya. Bahkan dia juga menjadi penyumbang tetep untuk panti tersebut.

Sampai suatu hari Tiffany mengajak Kibum bertemu. Gadis itu sudah dinyatakan lulus dari jenjang pendidikannya dengan gelar sarjana terbaik. Dia butuh pekerjaan, sedangkan mencari pekerjaan di kota metropolitan sekelas Seoul tidaklah mudah. Itulah alasannya mengajak Kibum bertemu. Dia butuh orang untuk memudahkannya mendapatkan pekerjaan. Melalui Kibum dia akan meminta agar Siwon memberinya pekerjaan. Itu bukanlah hal sulit untuk pengusaha sekelas Siwon, apalagi memgingat banyaknya perusahan yang berada di bawah pimpinannya.

Dan bertemulah keduanya. Dengan alasan melepas rindu sekaligus merayakan kelulusannya Tiffany berhasil membuat Kibum menemuinya. Di sebuah kafe di kawasan pusat kota mereka bertemu, melepas rindu dan merayakan kelulusan Tiffany. Hingga akhirnya gadis itu menyampaikan maksud sebenarnya pada Kibum. Dia yakin Kibum akan membantunya.

"baiklah, aku akan mencobanya." Tepat, sesuai dugaannya, Kibum menyanggupinya. Kibum hanya tidak tau jika itu adalah upaya adik tercintanya untuk menghancurkan rumah tangganya, menghancurkan hidup.

Entah bagaimana Kibum akan menyampaikannya pada Siwon, dia merasa tidak enak hati pada sang suami. Bukan karna akan ditolak, bukan. Suaminya itu akan selalu mengabulkan setiap pintanya. Tapi kali ini berbeda, dia akan meminta tolong untuk orang lain.

"Kyunie sudah tidur?" pertanyaan Siwon menyambut Kibum ketika dia membuka pintu kamarnya. Hanya dengungan yang menjadi jawaban atas pertanyaan Siwon. Ya, saat itu Choi Kyuhyun sudah hadir di tengah mereka, usianya baru dua tahun. Kibum menghampiri suaminya yang sedang duduk bersandar di atas ranjang besarnya sambil membaca buku yang entah buku apa Kibum tak tau. Sedikit mendengus, Siwon bahkan tak menatapnya ketika berbicara dengannya. Kibum naik ke atas ranjang, langsung memeluk suami tampannya dari samping.

"apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Siwon, masih tetap focus pada bukunya.

"tidak ada." Kibum menyamankan sandaran kepalanya pada dada bidang Siwon.

"sayangnya kau tak bisa bohong padaku."

"huhf, memang apa pedulimu?" oke, Siwon sadar kalimat istrinya adalah sindiran untuknya yang tidak benar – benar memperhatikan istri cantiknya. Padahal nyatanya, sejak Kibum masuk tadi Siwon sudah tidak focus pada bacaannya.

"baiklah, kau menang, nyonya Choi." Siwon menutup buku dan letakkannya di atas meja nakas di samping tempat tidurnya, sedangkan Kibum mengulumkan senyum kemenangan.

"jadi sekarang katakan apa yang sedang kau pikirkan, eum?" Siwon membalas pelukkan Kibum dan menyamankan posisi berpelukkan mereka.

"oppa, hari ini aku bertemu Tiffany. Kau ingat Tiffany, kan?" Kibum memulai ceritanya. Kibum jarang memanggil oppa kecuali jika dia sedang ingin bermanja atau menginginkan sesuatu, pikir Siwon.

"ne, lalu?"

"dia sudah lulus kuliah dengan nilai terbaik pula, jadi kami merayakannya. Kau tau'kan masalah apa yang dihadapi setelah lulus?" Kibum menatap Siwon setelah puas menunduk dan bermain dengan dada bidang suaminya. Siwon tersenyum dan menatapnya hangat.

"eum..dia butuh pekerjaan."

"kau benar, oppa. Jadi bisakah kau membantunya? Tidak masuk di kantormu pun tak apa yang penting dia-"

"suruh dia bawa aplikasinya ke kantor besok."

"ne? Oppa mau memberinya pekerjaan?" Kibum masih menatap tak percaya pada suaminya. Dia sudah takut Siwon akan menolaknya. Siwon mengangguk mantap mengiyakan pertanyaan Kibum.

"huwaaa gomawo, oppa. Saranghae."

Chup

Kibum memberikan kecupan pada bibir joker Siwon, membuat sang namja terkekeh dengan tingkah Kibum.

"lalu apa imbalan untukku? Kau tau'kan aku ini seorang pebisnis jadi aku tak mau rugi begitu saja." Sepertinya Kibum lupa jika suaminya akan selalu meminta imbalan setiap dia mengabulkan permintaannya.

"baiklah, kalau begitu apa yang kau inginkan?" mereka mulai melakukan penawaran.

"kau tau aku sudah memiliki semuanya, jadi aku tak butuh yang lain kecuali kau." Kibum mengerti maksud Siwon.

"I'm yours, master. Lakukan yang kau mau." Kibum tersenyum menggoda yang langsung dihadiahi ciuman panas oleh Siwon.

Begitulah usuha Kibum mendapatkan pekerjaan untuk Tiffany. Dia harus mengimbangi ulah Siwon sepanjang malam dan itu melelahkan.

Keesokkan harinya Tiffany mengirimkan surat lamarannya ke Choi Tower – kantor Siwon, dan hari berikutnya gadis itu sudah resmi bekerja di sana. Tak sampai setahun Tiffany sudah diangkat menjadi sekretaris Siwon. Kibum ikut senang mendengarnya walaupun ada rasa janggal dalam hatinya. Namun Kibum tak ingin rasa aneh itu terus menguasainya hingga Kibum mengetahui sendiri kenyataan pahit antara keduanya.

Mobil sedan mewah itu tampak terparkir rapi tak jauh dari sebuah butik di kawasan pertokoan yang cukup ramai. Seorang yeoja keluar dari mobil itu dengan anggunnya. Melangkahkan kaki jenjangnya pada salah satu butik. Berhenti sejenak untuk memastikan tujuannya adalah benar, Jewel Boutique.

"selamat datang." Sapaan ramah terdengar ketika dia masuk ke dalam butik tersebut.

"ada yang bisa saya bantu?" seorang pegawai dengan ramah menawarkan bantuan untuknya.

"apa Nyonya Lee ada?" tanyanya tak kalah ramah.

"beliau ada di ruangannya. Mari saya antar." Dengan anggun yeoja itu mengikuti sang pegawai menuju ruangan seseorang yang ingin dia temui. Sejujurnya, dia memang tak ada niat untuk berbelanja di butik ini selain untuk bertemu dengan pemiliknya.

Sedang di sebuah ruangan yang tak terlalu besar tapi cukup untuk seperangkat meja kerja, lemari arsip, kulkass kecil dan tak lupa sofa beserta mejanya untuk bersantai, seorang yeoja dengan pesona gummy smilenya sedang serius dengan lembaran kerjanya. Ada beberapa hal yang harus dia periksa seperti laporan keuangan, daftar supplier, dan yang lainnya. Walaupun terhitung sebagai butik baru tapi butik miliknya ini cukup ramai dan tak kalah saing dengan butik – butik yang sudah lama ada. Di butik ini tak hanya menjual baju dan gaun tapi juga tas, sepatu dan pernak - pernik lain untuk wanita. Maka tak heran jika cukup banyak supplier yang ingin memajang produknya di sana.

"kenapa banyak sekali proposalnya? Aku tak mungkin mengambil semuanya, kan?" gumamnya.

Tok tok tok

Tak lama pintu ruangannya diketuk dari luar. Membuyarkan konsentrasinya. Seorang pegawai masuk, sedikit menunduk memberi hormat.

"maaf, sajangnim, ada yang ingin bertemu dengan anda."

'nugu?' Tanyanya dalam hati

"persilakan masuk." Satu perintah darinya dan sang pegawai mengerti. Tak lama seorang yeoja secantik putri salju masuk ke ruangan tersebut.

"Hyukkie-ah"

"omo, ternyata kau Kibummie. Aku kira siapa" dan kedua yeoja itu – Kibum dan Eunhyuk – saling berpelukkan. Eunhyuk menuntun Kibum untuk duduk dan mengobrol di sofa.

"jadi apa yang membawamu datang kemari?"

"aku masih punya banyak waktu sebelum menjemput Kyuhyun jadi ku pikir tak ada salahnya mampir kemari."

"begitu ya. Eoh, apa kau dari rumah sakit?"

"eum. Kau tau, suamimu itu bertambah cerewet saja. Kadang aku bosan mendengar ceramahnya." Kibum mencoba mengadu pada Eunhyuk atas kelakuan Donghae yang menurutnya bertambah cerewet. Sedangkan Eunhyuk malah tertawa lepas. Kadang dia merasa kedua sahabat itu sangat lucu dan kekanakan.

"tapi aku tak heran, istrinya saja juga cerewet begitu." Tambah Kibum.

"ya! Aku tak secerewet itu, lagipula akukan yeoja jadi wajar,kan." Eunhyuk sedikit tak terima dan membela diri. Dan mereka berdua kembali tertawa bersama. Cukup tertawa, mereka meneguk coke dingin yang entah kapan Eunhyuk mengambilnya dari kulkasnya.

"aku juga bertemu seseorang di sana." Kibum memulai lagi pembicaraan.

"nugu?"

"yeoja yang tempo hari kita temui sedang makan siang bersama Siwon."

"mwoya? Lalu apa yang kalian lakukan?"

"kami hanya bicara. Dia memintaku untuk menyerah dan meninggalkan suamiku."

"lalu? Kau menyerah?"

"mungkin saja. Tapi selama aku masih hidup, tak akan ku lepaskan suamiku begitu saja."

"bagus, Kibummie. Ah, harusnya tadi kau juga mengajakku jadi aku bisa membantumu menjambak rambutnya atau mencakar wajahnya biar wajahnya jadi buruk rupa. Aku yakin kau tak akan tega melakukannya." Kibum tertawa lepas mengabaikan Eunhyuk yang masih gemas pada yeoja selingkuhan suami sahabatnya.

"tapi sepertinya aku memang harus melepaskannya. Entah itu pada Tiffany atau yeoja lain. Walaupun aku tak pernah akan menyerah atas Siwon tapi aku bisa apa jika Tuhan yang berkehendak, Hyukkie." Tawa berubah sendu di wajah cantiknya. Tapi bukankah dia sudah bertekad tak akan melepaskan Siwon begitu saja selama dia masih hidup? Ya, dia sudah bertekat.

"Kibummie" Eunhyuk beringsut memeluk Kibum, memberi semangat dan dukungan untuk sahabatnya.

"ya Tuhan, kenapa semua ini menimpa dirimu? Bahkan kau adalah orang yang baik, Kibummie." Eunhyuk tak kuasa menahan tangis. Yeoja ini memang mudah menangis. Tak beda dengan Eunhyuk, Kibum juga juga menitikan air matanya. Keduanya menangis dalam diam.

"Tuhan sayang padaku, Hyukkie. Dia ingin menguji seberapa besar cintaku untuk Siwon dan juga keluargaku. Siwon hanya tersesat, Eunhyukkie. Aku yakin dia akan kembali padaku." Sebenarnya kata – kata itu bukan untuk meyakinkan Eunhyuk, melainkan untuk menguatkan dirinya sendiri.

Keduanya melepaskan pelukkan dan menghapus air mata masing – masing.

"ah, sudahlah. Kenapa malah jadi seperti ini." Kibum tersenyum canggung, begitu juga Eunhyuk.

"oiya, aku lihat butikmu cukup ramai, ya?" kibum mengalihkan pembicaraan, mencairkan suasana sendu antara mereka.

"eum. Cukup menyita perhatianku. Kadang juga membuatku lelah."

"lalu Taemin?" Tanya Kibum penasaran. Pasalnya setau Kibum, kedua sahabatnya itu tak mempekerjakan pengurus rumah ataupun pengasuh anak. Jika keduanya sibuk lalu bagaimana dengan anak mereka, Taemin?

"mengenai Taemin, aku dan Donghae sepakat menitipkannya di tempat penitipan anak. Aku akan menjemputnya pukul empat. Mau bagaimana lagi, kedua orang tua kami tak ada di Seoul. Tak mungkin juga kami tinggal dia di rumah sendirian," jelas Eunhyuk.

"aku mengerti. Tapi cobalah memberi perhatian lebih padanya. Kenapa tak kau ajak saja dia di sini. Buat sedikit ruang untuknya bermain. Lagipula aku pikir Taemin bukan anak yang mudah rewel. Beri dia pengertian maka aku yakin dia pasti mengerti. Dengan begitu kau bisa mengawasi dia langsung, kan? Eunhyuk-ah, beri dia perhatian sebanyak yang kau bisa, sebelum dia benar – benar tak bisa menerima perhatianmu lagi." Serentetan nasehat Kibum sampaikan untuk sahabat terkasih.

"kau benar. Sejak butik ini dibuka, aku sudah jarang bermain dengannya. Aku akan memikirkannya dan membicarakan ini dengan Donghae. Gomawo, Kibummie."

"baiklah, aku harus pergi sekarang. Aku akan kewalahan jika jagoan kecilku sudah marah."

"eum. Tapi sebelum kau pergi, ada baiknya kau membeli sesuatu dari butikku, kan?" ah, sepertinya nyonya Lee yang satu ini tak akan membiarkan Kibum pergi tanpa membeli apapun di butiknya.

"tapi aku tak punya uang, Eunhyukkie."

"omong kosong. Jika istri seorang pengusaha besar sepertimu tak punya uang, mungkin aku sudah susah untuk makan. Tak mungkin Siwon membiarkan istrinya tak punya uang. Lagipula, kami menerima pembayaran dengan kartu kredit." Sepertinya Eunhyuk tak akan menyerah

"baiklah, sepasang sepaatu sepertinya tak masalah." Eunhyuk bersorak mendengar keputusan Kibum. Jika Kibum menjadi pelanggan tetapnya, bukan tak mungkin para kalangan sosialita yang sering Kibum temui saat menemani Siwon menghadiri perjamuan juga akan menjadi pelanggannya, kan? Lagipula tak masalah bagi Kibum. hitung – hitung sebagai ucapan terimakasih karna telah menampung curahan hatinya.

T B C

ah, uda TBC lagi..heheee mian.

apa saya uda update cepet?

kayanya uda lebih panjang dr yg kemarin, kn?

saya kasi sedikit flesback antara Kibum sama Tiffany

ada yg ngrasa critanya lamban, kan? saya jg lagi mikir gmna biar ga lamban tp jg ga kecepetan. #nach lo

ga tau dech mau jd apa fic perdana saya. sinetron kali ya ==

oke, makasi yg masi mau ngikutin crita gaje saya, makasi jg reviewnya.

yg mau cuap cuap masi boleh kok..di kotak review yaaa

thankyu ^^