Chapter 8
chap 8 has come...yeeee
maaf untk ktrlambatan yg amat sngat hehee
waspada, chap ini cukup panjang dan membosankan
awas, kalian akn menjumpai typo yg cukup bnyak
ini crita tntang rmh tangga Sibum plus baby Kyu, ada HaeHyuk dan HanChul sebagai pendukung
semua tokohnya bukan milik saya, tapi crita ini beneran punya saya
.
.
selamat membaca ^^
.
.
Siang itu Kibum tampak terburu – buru menjemput buah hati tercintanya. Bisa gawat jika Kibum belum sampai sebelum putranya keluar dari kelas. Tangan Kibum hampir membuka pintu mobil jika dering ponselnya tak menginterupsinya. Melihat sejenak sang penelepon lalu menerima panggilan itu.
"ne, eomma?" itu adalah ibu mertua Kibum, Choi Heechul.
"…"
"ne, eomma, arraseo."
"…"
"ne, annyeong"
Percakapan singkatnya dengan ibu mertua sudah selesai. Kibum masuk ke dalam mobilnya, melajukannya namun tidak ke sekolah Kyuhyun melainkan Choi Tower, tempat suaminya bekerja. Tadi ibu mertuanya menelepon, mengajak Kibum juga Siwon dan Kyuhyun makan siang di kediaman keluarga Choi dan sang nyonya besar Choi itu yang sudah menjemput putranya dan dia hanya harus menjemput suaminya saja.
Di sinilah Kibum sekarang. Mobilnya berhenti dengan mulus di depan pintu besar Choi Tower. Ketika Kibum keluar dari mobilnya, salah seorang security menghampirinya, membantu memarkirkan mobil sedan biru tersebut. Saat Kibum mulai masuk gedung megah itu tak jarang dari mereka yang sejenak berhenti sekedar memberi hormat dan salam padanya. Predikatnya sebagai istri bos membuatnya mendapat perlakuan semacam itu. Langkahnya berhenti pada meja resepsionis sekedar untuk menyapa petugas reseptionis.
"excuse me, can I see Choi sajangnim?" Kibum menyapa seorang resepsionis yang tampak sedang sibuk mencatat entah apa Kibum tak tau. Ini adalah perusahaan besar kelas internasional, maka bilingual sudah hal yang lumrah'kan?
"do you have appointment before, ma'am?" sang resepsionis tidak melihat Kibum, masih sibuk dengan kegiatannya.
"should I make it before?" sang resepsionis sudah akan menjawabnya namun ketika dia mendongak betapa terkejutnya ketika tau siapa yang ada di hadapannya. Dia bukan tamu biasa, sosok yang berdiri di hadapannya adalah seorang Choi Kibum, istri bos besar Choi Corp. kibum masih mengulum senyumnya ketika lawan bicara menunduk penuh hormat.
"jeosonghamnida, saya sungguh tidak tau nyonya ada di sini. Maaf saya tidak memperhatikan kedatangan anda. Jeongmal jeosonghamnida." Wanita berseragam rapi itu menunduk semakin dalam tampak sangat menyesal dengan keteledorannya yang menurut Kibum itu bukanlah hal yang berlebihan. Kibum yakin wanita di hadapannya ini ingin sekali menangis. Sebenarnya Kibum agak tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
"gwenchana. Tidak perlu sampai seperti itu, nona. Aku tau kau sedang sibuk. Aku hanya ingin menyapamu saja." Kibum memberikan senyum terbaiknya ketika kepala sang resepsionis menatapnya. Wanita itu sudah memikirkan berbagai macam hal tentang karirnya jika Kibum mengadukannya pada Choi sajangnim.
"jangan terlau kaku padaku. Jika kau lelah tak ada salahnya mengistirahatkan diri sebentar. Pergilah ke restroom dan jernihkan pikiranmu sejenak, aku rasa itu tak akan membuat perusahaan ini bangkrut'kan? Hahahahhaaa"
Astaga, benarkah yang di hadapannya ini istri presdir? Dia memang pernah mendengar tentang profile istri Choi sajangnim yang sederhana, humble, supel. Dia pikir itu hanya berlaku untuk kalangan sosialita, tapi ini, istri big boss nya benar – benar low profile.
"baiklah, nyonya." Sepertinya senyum seorang Kibum bisa menular. Nyatanya sang resepsionis sekarang ikut tersenyum.
"jadi, bisakah saya bertemu Choi sajangnim?" Kibum mengulang pertanyaannya.
"tentu saja, nyonya. Sajangnim ada di tempat, anda bisa menemui beliau. Apa saya perlu mengantar anda, nyonya?" Wanita berseragam itu tampak sudah lebih relex, terlihat dari jawaban ringan yang dia beri untuk Kibum.
"tidak perlu, terimakasih. Kau bisa kembali bekerja. Ingat, jangan terlalu tegang."
"ye, algaesumnida." Sang resepsionis menunduk hormat sebelum Kibum meninggalkan meja kerjanya. Aaaaa bagai menemukan oasis di tengah pekerjaannya yang cukup melelahkan seharian ini. Sejenak dia tampak kagum pada pribadi seorang Choi Kibum sebelum melanjutkan pekerjaannya.
TING
Lantai 29. Lift itu berhenti di lantai yang memang khusus untuk presdir dan stafnya saja. Langkah ringan Kibum terus bergerak tak lupa seulas senyum yang dia sunggingkan. Rasanya sudah lama dia tak mengunjungi suaminya di kantor. Kapan terakhir aku kemari ya? Kira – kira begitu pikir Kibum. Langkahnya berhenti pada sebuah meja mirip meja resepsionis yang ada di lobi lantai dasar hanya saja kali ini lebih kecil. Kibum melihat karyawan itu juga tampak sedang sibuk. Ah..sepertinya tidak ada orang yang menganggur di sini.
"annyeonghaseyo, Han-ssi" kibum sudah kenal dengan karyawan yang satu ini, itu sebabnya dia langsung menyapa karyawan bermarga Han itu.
"oh! Annyeonghaseyo, nyonya Choi. Lama tak bertemu dengan anda." Nona Han tampak terkejut dengan kedatangan istri atasannya itu. Pasalnya dia memang sudah lama tak bertemu dengan wanita cantik pendamping hidup Choi sajangnim.
"ne. bagaimana kabar mu? Kau semakin cantik saja. Pasti sudah berkencan dengan banyak namja, eoh?" kibum tersenyum menggoda. Sifat Kibum yang low profile memang mudah akrab dengan siapa saja, tak terkecuali karyawan suaminya. Jika dengan nona Han, Kibum memang suka sekali menggoda wanita muda itu.
"ah nyonya, tidak seperti itu." Jawab nona Han malu – malu. "kabar saya baik. Apa nyonya sendirian? Tidak dengan tuan muda?"
"tidak, aku sendiri saja. Kyunie sudah dijemput neneknya di sekolah. Oiya, apa sajangnim ada?" pertanyaan yang sama saat Kibum berada di lobi lantai dasar.
"sajangnim sedang ada rapat dengan investor dari Turki. Mungkin sebentar lagi selesai karna mereka sudah rapat sejak pukul sepuluh tadi. Apa nyonya akan menunggu?" selain sekretaris presdir, nona Han juga tau jadwal presdir setiap harinya.
"begitu ya. Eum..boleh aku menunggu di ruangannya saja?"
"tentu boleh, nyonya. Saya akan mengantarkan teh untuk anda."
"tidak perlu, Han-ssi. Sepertinya aku tak lama." Kibum menolak dengan halus. "aku langsung ke ruangannya saja." Kibum berjalan meninggalkan nona Han, namun belum jauh dia berbalik menghampiri nona Han. Sang wanita muda dengan tanggap berdiri, siap menerima perintah kalau – kalau wanita di hadapannya memerlukan sesuatu. Kibum tampak menengok jam tangannya.
"sebentar lagi jam makan siang, lebih baik kau bersiap karna aku yakin akan ada banyak tawaran makan siang untukmu."
Begitulah Kibum, dia memang suka menggoda wanita muda itu, sedang yang digoda masih tampak terkejut dengan pipi yang entah bagaimana bisa merona. Nona Han memperhatikan Kibum yang berjalan menuju ruangan bosnya. Bahu sempit Kibum tampak berguncang halus. Ah sepertinya sedang menertawakan dirnya. Namun sejenak dahi wanita muda itu berkerut. Dia merasa nyonya muda Choi itu lebih kurus dibanding terakhir kali dia kemari. Tak ingin berpikir terlalu jauh, nona Han kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ceklek
"tak berubah" gumam kibum ketika dia melangkahkan kaki di ruang kerja suaminya. Ya, tidak berubah. Tampaknya si pemilik ruangan tidak sempat mendekor ulang ruangannya. Ruangan itu cukup luas. Ketika membuka pintu kau akan langsung bisa melihat si pemilik ruangan karna memang letak meja kerja dan pintu saling berhadapan. Lalu sebelah kiri dari pintu ada sofa dan meja yang cukup nyaman untuk mengobrol ataupun membahas sesuatu juga sebuah lemari pendingin kecil di sudut ruangan. Dan dari pintu sebelah kanan ada sebuah televisi plasma layar datar dengan segala penunjangnya, lemari kaca yang cukup besar yang digunakan untuk menyimpan berkas, tiang penggantung baju. Dan yang terakhir, tentu saja 'singgasana' pemilik ruangan. Kibum lebih suka menyebut meja kerja suaminya dengan singgasana karna suaminya itu akan benar – benar seperti seoarang raja jika sudah duduk di sana. Satu lagi, sebuah jendela besar di balik meja kerja itu. Si pemilik sangat suka dengan posisi meja kerja yang membelakangi jendela besar itu. Karna jika dia sedang merasa penat dia hanya cukup memutar kursinya menghadap jendela itu, menikmati pemandangan kota Seoul dari sana, menurutnya cukup mengusir penat.
Merasa cukup mengabsen isi ruangan yang tak banyak berubah, Kibum melangkah menuju satu – satunya meja kerja di ruangan itu. Mendudukkan diri di kursi besar itu. Lagi – lagi manic Kibum mengabsen apa – apa saja yang ada di meja kerja itu. Laptop yang masih menyala dengan wallpaper keluarga kecilnya, tiga buah figura kecil yang masing – masing berisi foto Kibum dan Siwon – suaminya – saat kencan pertama, foto pernikahan mereka dan foto Siwon-Kibum dengan si kecil Choi Kyuhyun. Kibum senang mendapati foto – foto itu masih aman berada di sana meskipun Siwon sudah memintanya berpisah. Kibum menghela nafas beratnya, memutar kursi itu menghadap jendela besar dan langsung bertatapan dengan hiruk pikuk kota Seoul. Ah, Siwon benar, cara ini memang cukup ampuh menghilangkan penat, sedikit meringankan hati. Pandangan Kibum menerawang jauh kedepan, entah apa yang sedang yeoja itu pikirkan. Namun kegiatannya 'menikmati kota Seoul dari tempat yang tinggi' terganggu seiring dengan pintu yang terbuka.
Ceklek
Seiring dengan pintu yang tertutup, Kibum membalikkan kursi yang dia duduki.
"Kibummie" suara bass seorang namja dewasa menyapanya, tak lupa ekspresi terkejut yang juga disuguhkan untuk Kibum. kibum hanya tersenyum. Tapi tunggu, nampaknya tak hanya Siwon – sang namja dewasa – saja yang terkejut tapi sesosok wanita di belakangnya juga ikut terkejut dengan keberadaan Kibum di ruangan itu.
"hai, Siwonnie."
"apa yang kau lakukan di sini?" Siwon menghampiri Kibum begitu juga dengan Kibum yang beranjak dari duduknya.
"memangnya kenapa? Aku ingin mengunjungi suami ku. Kau tak suka?" jawab Kibum tenang dengan ekspresi polosnya, namun cukup membuat seorang Choi Siwon gelagapan. Bukan itu maksudnya…
"tidak, bukan begitu Kibummie. Aku hanya terkejut. Kenapa tak memberitauku dulu, eum?"
"kalau begitu kejutanku berhasil'kan?" pertanyaan itu tak perlu dijawab karna Kibum sudah pasti tau jawabannya. Siwon masih melihat senyum itu di wajah ayu istrinya. Entah kenapa dia tak bisa mengartikan senyum yang diberikan untuknya.
"aku tak lama. Eomma ingin aku mengajakmu makan siang bersama di rumah eomma." Kibum langsung saja mengatakan niat kedatangannya. Lalu pandangannya beralih pada Tiffany – yeoja yang mengikuti Siwon – yang entah sejak kapan berdiri d belakang suaminya.
"itu pun jika kau tak sedang sibuk. Tapi sepertinya kau sedang sangat sibuk," lanjutnya. Dan manic indah itu kembali menatap sang suami.
"tak apa, aku akan pergi sendiri." Kibum segera mengambil tasnya yang dia letakkan di meja kerja itu, melewati Siwon begitu saja. Sadar tak diberi kesempatan bicara, Siwon segera berbalik sebelum Kibum mencapai pintu.
"Kibummie."
"oppa."
Kibum berhenti ketika merasa sebuah tangan kekar tengah menahannya. Posisi saat ini adalah, Siwon yang mencekal tangan Kibum sedang tangan Siwon yang satu ditahan oleh Tiffany.
"oppa, oppa tak lupa'kan? Kita akan makan siang bersama."
Kibum tak perlu dengar jawaban Siwon. Dengan sedikit tarikkan dia berhasil melepas tangan Siwon pada pergelangan tangannya, berlalu meninggalkan ruangan itu.
Bunyi pintu yang cukup keras membuat Siwon tau bagaimana suasana hati istrinya.
Siwon memejamkan matanya, mencoba bersabar. Mereka berdua saling berhadapan. Dengan pelan Siwon melepas tangan halus itu dari tangannya.
"oppa tadi bilang kita akan – "
"jangan salah paham. Sebenarnya aku juga mengajak yang lain. Aku ingin sedikit memberi evalusi terutama kau, nona Hwang."
Terkejut. Itu tidak sesuai dengan apa yang dia angankan. Selama mendampingi Siwon rapat tadi dia sudah membayangkan akan makan siang berdua dengan Siwon. Tentu saja senang karna belakangan ini kekasihnya – Siwon – sudah jarang pergi berdua dengannya.
"aku rasa belakangan ini kinerjamu kurang memuaskan. Dokumen yang kau berikan pada ku terakhir kali, aku sama sekali tak mengerti. Aku ingin kau mengulangnya. Dan berikan padaku besok pagi." Ucap Siwon tegas. Pria itu tampak membereskan meja kerjanya tanpa peduli dengan yeoja muda yang masih betah berada di tempatnya.
Siwon sudah terlatih dan terbiasa bekerja professional tak peduli dengan siapapun, begitu juga dengan Tiffany. Meskipun mereka memiliki hubungan khusus, tapi jika di kantor mereka tetap pimpinan dan bawahan. Itu sebabnya Siwon tak segan bertindak tegas pada Tiffany yang merupakan sekretarisnya.
Sementara itu, Kibum masih berdiri di depan ruangan Siwon. Hatinya sakit. Iya, sakit. Tapi dia harus kuat, dia harus tegar. Pertahanannya tak boleh runtuh. Dia tak ingin orang – orang tau meskipun Kibum yakin bahwa hubungan special suaminya dengan sang sekretaris sudah menjadi rahasia umum di sini. Dia sadar dia harus segera pergi. Anak dan mertuanya pasti sudah menunggunya di kediaman keluarga Choi. Kibum berjalan setenang mungkin, seolah tak terjadi apa – apa. Meskipun jam istirahat, tapi beberapa dari staff presdir masih ada yang berada di sana. Ada yang masih sibuk dengan pekerjaannya atau hanya sekedar bersantai melepas penat. Tak jarang pula Kibum menerima salam dari mereka. Meskipun setelah Kibum lewat tak jarang dari mereka yang berbisik di belakang Kibum. tentu saja Kibum tau apa yang sedang mereka bicarakan.
"wah tumben sekali nyonya Choi kemari."
"tapi tadi aku lihat Tiffany juga ikut masuk ke ruangan presdir."
"wah..kira – kira apa yang terjadi ya"
"apa menurutmu nyonya Choi tau hubungan presdir dengan Tiffany?"
"ugh, bahkan nyonya Choi jauh lebih cantik. Ck."
Kibum hanya tersenyum. Senyum miris. Dia merasa seperti seorang istri yang sedang melakukan 'inspeksi' pada suaminya di kantor.
'huhf' Kibum mendengus geli dengan pemikirannya sendiri.
"Kibummie, tunggu." Itu suara suaminya, dan Kibum berhenti, berbalik menatap Siwon. Arah pandangnya juga ikut tertuju pada Tiffany yang masih saja mengikuti Siwon. Kibum tersenyum samar.
"kau mau kemana? Bukankah kau datang kemari untuk mengajakku makan siang? Kenapa malah pergi begitu saja, eum?"
"aku pikir kau tak akan ikut. Bukankah kau sibuk? Jadi aku sendiri pun tak apa."
"hei, kau sendiri bahkan tak memeberiku kesempatan untuk menerima ajakkan mu."
Sebelah tangan Siwon membawa tas kerjanya sedang yang satunya dia gunakan untuk mengusap rambut halus Kibum lalu beralih ke pipi yang dulu tembem. 'halus,' pikir Siwon ketika dia menggesekkan ibu jarinya pada pipi putih bersih itu.
"jadi…kau akan ikut?" Tanya Kibum memastikan. Entah kenapa Siwon jadi sangat gemas dengan Kibum. istrinya itu bertanya dengan ekspresi polosnya sambil memiringkan kepalanya. Sungguh menggemaskan di mata Choi Siwon.
"eum." Siwon mengangguk mantap, tak lupa senyum deep dimple yang tercetak di wajah tampannya. Siwon tak tahan lagi dengan tingkah Kibum yang menggemaskan. Ditariknya Kibum dalam pelukkan hangatnya. Saat itu juga mulai terdengar bisik – bisik dari para karyawan yang berada di sana, seolah sedang menjadi penonton drama mereka. Siwon sepertinya tak peduli jika mereka menjaadi perhatian banyak pasang mata, begitu juga dengan Kibum. yeoja salju itu tersenyum dalam dekapan suaminya. Namun senyum itu berubah menjadi…seringai kala maniknya beradu dengan manic Tiffany. Hei, Kibum benar – benar sedang menyeringai. Seolah mengejek pada Tiffany.
'aku tak tau apa yang kau lakukan ini hanya acting untuk menutupi skandal, Choi Siwon. Tapi yang jelas, yeoja itu sedang metapku begitu tajam. Bisa saja sepasang belati keluar dari matanya,' inner Kibum. Sepertiya Kibum sedang membuktikan kata – katanya pada Tiffany ketika terakhir kali mereka bertemu di café dekat rumah sakit. Tiffany masih menatap tajam pada Kibum sedang yang ditatap malah melempar senyum mengejek untuknya. Sepertinya Tiffany harus memutar otak agar Siwon bisa kembali ke pelukkannya karna sikap Siwon yang sudah mulai menjauh darinya.
"kajja. Eomma akan mengomel jika kita terlalu lama." Siwon melepaskan pelukkanya dan menggenggam erat tangan Kibum.
Pasangan yang menjadi pusat perhatian itu sudah menghilang meninggalkan Tiffany dengan rasa kesalnya dan bisik – bisik beberapa karyawan.
"lihat, apa benar dia punya hubungan khusus dengan presdir? Bahkan presdir lebih memilih istrinya."
"kalo aku jadi presdir, aku tetep akan memilih nyonnya Choi. Dia cantik, baik, ramah, berbeda sekali dengan seseorang yang hanya menginginkan uang."
Begitulah, Tiffany harus tahan mendengar bisikan – bisikan sinis untuknya.
"sebenarnya kau tak perlu memaksakan diri jika kau memang tak bisa bergabung bersama kami. Aku yang akan jelaskan pada eomma." Kibum menatap lurus kedepan. Sekarang keduanya – Kibum dan Siwon – sedang dalam perjalan menuju kediaman keluarga Choi.
"hei, kenapa berkata seperti itu? Aku sama sekali tidak merasa terpaksa." Siwon tampak menghela nafas. Entah apa yang dipikirkan istrinya tapi yang jelas dia benar – benar ingin ikut dengan istrinya.
"memang apa yang akan kau katakan pada eomma jika aku tak ikut?" lanjut Siwon.
"lunch meeting. Bukankah itu yang sering kau katakan padaku untuk menolakan ajakan makan siangku? Eomma pasti mengerti."
Nyut
Siwon merasa ada sesuatu yang mencubit hatinya. Ya, Siwon mmemang selalu menjadikan lunch meeting sebagai alasan untuk menolak ajakan makan siang Kibum. tapi sekarang Siwon merasa bodoh. Kibum menyerangnya dengan alasan yang dia buat sendiri.
"mian…"lirih Siwon
"tak apa. Aku sudah terbiasa. Ah sudahlah. Bukankah sekarang kau ada bersamaku?" Kibum menatap Siwon dengan senyum indahnya. Siwon mematikan mesin mobilnya karna memang sekarang mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka. Siwon balas menatap Kibum, mengangguk mantap dan tentu saja tak lupa senyum tak kalah mempesonanya. Kedua tangan besarnya membingkai wajah Kibum. didaratkannya kecupan hangat sarat akan perasaan yang dalam pada dahi Kibum. Merasa cukup, Siwon menjauhkan bibirnya dari dahi Kibum, beralih menyelami manic kelam istrinya.
"ayo, jagoan kita pasti sudah menunggu kita." Ucapan Kibum menyadarkan Siwon.
"MOMMY" suara melengking milik kyuhyun mungkin bergema di seluruh ruangan rumah mewah itu kala Kibum memasukinya. Kyuhyun langsung memeluk perut Kibum.
"halo, baby Kyu." Kibum menyamakan tingginya dengan Kyuhyun memberikan kecupan di kedua pipinya.
"hanya mommy saja, eoh? Padahal ada daddy juga di sini." Siwon melipat tangannya di depan dada, pura – pura merajuk pada jagoan kecilnya.
"daddy!" sadar ada sosok tegap ayahnya di belakan sang ibu, Kyuhyun langsung saja menerjang Siwon dan dengan sigap Siwon membawa Kyuhyun dalam gendongannya. Memberikan kecupan – kecupan kecil pada wajah Kyuhyun membuat putranya kegelian.
"kalian sudah datang rupanya." Suara berat penuh wibawa itu milik tuan besar Choi Hangeng, namja berdarah Korea – Cina. Namja yang masih tampak rupawan meski sudah mulai termakan usia. Namja sukses yang mengajarkan disiplin, kerja keras, dan segala hal yang dia tau tentang dunia bisnis pada putra semata wayangnya – Choi Siwon. Namja yang menurunkan kesuksesannya pada Siwon. Jadi tak aneh jika sedikit banyak Siwon memiliki sifat Hangeng. Kadang Heechul kesal karena suaminya terlalu menekan dan menuntut putranya, tapi apa boleh buat, mereka hanya memiliki sseorang Choi dan itu Siwon.
"kapan appa pulang?" Kibum menghampiri dan memberikan pelukan hangat untuk ayah mertuanya..
"appa pulang tadi pagi. Bagaimana kabar mu? Kau terlihat…lebih kurus."
"aku baik, appa. Eum..benarkah?"
"apa kau sakit,eum?" Hangeng tampak meneliti Kibum. menurutnya menantu kesayangannya itu terlihat lebih kurus dari terakhir mereka bertemu tiga bulan yang lalu. Dan Kibum hanya tersenyum melihat ayah mertuanya yang sangat memperhatikan dirinya. Kibum benar – benar merindukan sosok ayah di hadapannya itu.
"aku baik – baik saja, appa. Appa yang harusnya lebih menjaga kesehatan. Bolak balik Seoul – Beijing pasti melelahkan." Lagi – lagi Kibum harus berbohong. Kau baik – baik saja, Kibum, itulah yang terus dia tekankan pada dirinya sendiri. Dia tak ingin orang – orang yang dia sayangi begitu mencemaskannya. Hangeng tampak tersenyum lega. Dalam hati dia sudah siap membantu istrinya memberiakn 'ceramah' pada Siwon jika benar Kibum sakit. Poor Siwon
"MAKAN SIANG SUDAH SIAP! AYO KITA MAKAN!"
Suara lantang itu milik sang ratu di kediaman keluarga Choi. Sedari tadi sang nyonya besar memang sibuk di dapur. dia selalu suka jika kelurganya berkumpul seperti saat ini. Masakan siap di hidangkan dan dia hanya butuh melantangkan 'sedikit' suaranya untuk mengumpulkan anggota kelurganya di meja makan.
Hangeng menghela Kibum, bersama memenuhi panggilan sang ratu. Meninggalkan Siwon yang masih menggendong Kyuhyun.
"haah..padahal aku belum menyapa appa. Sepertinya appa lupa kalau aku adalah anaknya." Siwon menggumam kesal. Ya, selalu seperti itu jika orang tuanya bertemu Kibum, maka anak mereka adalah Kibum dan bukan Siwon, setidaknya begitulah yang Siwon pikirkan.
"daddy mengatakan sesuatu?" Kyuhyun memutuskan perhatiannya pada rubik yang asik dia mainkan ketika Siwon menggumamkan sesuatu yang tak jelas di telinganya.
"nope. Daddy tidak mengatakan apa – apa. Cha…ayo kita makan. Kau pasti sudah lapar'kan?"
Tak perlu jawaban dari Kyuhyun, Siwon melangkah menuju meja makan.
Makan siang hari itu berjalan dengan penuh suka cita, ditemani celoteh riang seorang Choi Kyuhyun. Bercerita tentang banyak hal yang menarik perhatiannya. Hangeng – Heechul dan Siwon – kibum hanya bisa tertawa disela kegiatan makan mereka.
Sekarang keluarga bahagia itu sedang berada di halaman belakang rumah. Hangeng, Siwon, dan Kyuhyun sedang seru bermain bola. Sedangkan kedua nyonya Choi hanya memperhatikan mereka dari teras ditemani beberapa camilan dan air dingin yang menyegarkan.
"kau tak ingin memberi teman untuk Kyunie, Kibummie?" pertanyaan Heechul menghentikan gelak tawa mereka ketika memperhatikan tingkah lucu Kyuhyun yang sedang bermain bola.
"maksud eomma?"
"adik untuk Kyunie. Apa kau tak ingin memiliki Choi kecil lagi? Eomma pikir Kyuhyun sudah cukup besar dan mengerti jika dia punya adik."
'ingin, eomma. Aku sangat ingin tapi aku tak bisa. Maafkan aku', jerit Kibum dalam hati. Dia tak bohong. Kibum sungguh ingin punya anak lagi tapi keaadaannyalah yang membuatnya tak mampu.
"ne, eomma. Aku pikir juga seperti itu."
"lalu?"
"biarkan seperti ini dulu saja." Heechul tampak mengerutkan alisnya dan Kibum mengerti jika ibu mertuanya itu sedang bingung.
"ya, aku masih ingin seperti ini. Aku masih ingin bertiga saja dulu. Aku ingin Kyuhyun benar – benar mendapatkan perhatian penuh dari kami. Lagipula, Kyuhyun tidak seperti yang eomma katakan tadi. Di rumah anak itu masih menginginkan perhatian penuh dari kami. Anak itu masih sangat manja, eomma." panjang lebar Kibum coba menjelaskan pada ibu mertuanya.
"tapi mungkin dengan adanya adik Kyuhyun jadi belajar berbagi dan belajar menjadi seorang kakak yang baik untuk adiknya." nampaknya seorang Choi Heechul memang pantang menyerah. Dan Kibum tau betapa inginnya Heechul memiliki cucu kedua. Tiba – tiba muncul rasa bersalah dalam hati wanita salju itu. Kibum merasa menjadi menantu yang tak bebakti.
"akan aku bicarakan dengan Siwonnie, eomma." kibum tak tau harus menjawab apa lagi maka hanya itu yang terucap. Dan Heechul, dia sudah membingkai senyum berbinar pada wajah cantiknya. Dia yakin putranya pasti setuju.
"mommy, ayo ikut main!" seru Kyuhyun mengajak ibunya ikut bermain bersama mereka.
'kau jangan terlalu lelah, Kibummie.' pesan yang diberikan Donghae untuknya kembali teringat.
Tak sabar karna Kibum yang tak kunjung bergerak membuat Kyuhyun menghampiri ibunya. Bocah kecil itu sudah menarik tangan ibunya.
"mommy, kajja! Ayo main dengan Kyunie juga." kibum sadar putranya sedang dalam mode merajuk dan memaksa. Taulah jika keinginan tuan muda satu ini ditolak.
"ne, let's go, baby!"
Tapi ketika Kibum baru berdiri, kepalanya terasa ditimpa beban yang begitu berat, dihujani ratusan jarum tak kasat mata.
"mom, are you oke?"
"kibummie, gwenchana?"
Tak hanya Kyuhyun dan Heechul yang merasa khawatir, nampaknya dua namja di tengah halaman sana pun ikut cemas. Hingga akhirnya mereka memutuskan menghampiri Kibum.
"sayang, kau kenapa?" itu suara Siwon. Tidak dibuat – buat, Siwon benar – benar khawatir. Satu tangan Kibum masih memegang kepalanya sedang yang satunya masih menggandeng tangan kecil Kyuhyun.
"Kibummie." siwon membawa Kibum dalam pelukannya. Sebelah tangannya ikut mengusap kepala Kibum berharap membantu menghilangkan rasa sakitnya. Tak lupa kecupan – kecupan ringan Siwon berikan pada puncak kepala Kibum.
"gwenchana." lirih Kibum. Kibum perlahan melepaskan pelukan Siwon.
"nan gwenchana. Geogjeonghaji maseyo." kibum berusaha menguasai dirinya. Tidak boleh seperti ini. Dia tidak boleh membuat orang – orang terkasihnya cemas seperti ini.
"kau yakin, sayang? Eomma panggilkan dokter, ya?" wanita paruh baya ini pun tak kalah cemasnya dengan Siwon.
"tak perlu, eomma. Aku baik – baik saja. Sungguh."
"tapi chagia – "
"sungguh tak apa, appa."
Mungkin akan terlihat berlebih jika saja wajah Kibum tidak memucat. Ya, sekarang Kibum tampak pucat. Tentu saja mereka khawatir.
Kibum menyamakan tingginya dengan Kyuhyun, berusaha tersenyum untuk melegakan hati putranya. Kibum tau pasti jagoan kecilnya sangat cemas pada dirinya.
"ayo kita main. Bukankah Kyunie ingin main bersama mommy, eum?"
"tapi mommy sedang sakit."
"mommy tidak sakit, sayang. Kajja! Daddy, let's go!" kibum menarik tangan Kyuhyun juga Siwon. Tampaknya hanya dia saja yang masih semangat untuk bermain sedang ketiga orang dewasa lainnya menatap cemas pada dirinya. Siwon tak bisa berbuat banyak. Dia hanya merutuki sifat keras kepala istrinya.
Ketiganya – Siwon, Kibum, Kyuhyun – tampak asik bermain, benar – benar keluarga kecil yang tampak bahagia. Kyuhyun sudah kembali ceria, Siwon juga menikmati kegiatan mereka meski namja tampan itu juga memeperhatikan Kibum sekali – kali. Istrinya masih terlihat pucat. Sedangkan Kibum, dia mati – matian menahan sakitnya, berusaha tampak biasa – biasa saja. Ikut berlari, mengejar bola, menangkap bola, membuat wanita salju itu terlihat benar – benar seperti salju, putih pucat.
Bola menggelinding cukup jauh, Kyuhyun mengejarnya. Siwon mengulum senyum, perhatiannya tertuju pada putranya, dia merasa melihat dirinya sewaktu kecil. Dan Kibum, dia berusaha meremas kepalanya. Sepertinya rasa sakit itu datang lagi. Dia merasakan sesuatu mengalir dari dalam hidungnya. Darah.
"mommy, awas!"
Kibum terlalu focus dengan rasa sakitnya hingga tak memperhatikan sekitar. Bahkan dia tak tau jika putranya mengoper bola padanya. Kibum tak siap hingga akhirnya bola tangan itu tepat mengenai kepala Kibum. Tak butuh waktu lama hingga Kibum kehilangan kesadarannya.
"hiks.. mommy…hiks.." Kyuhyun sudah tampak lebih tenang di gendongan kakeknya. Saat Kibum jatuh pingsan tadi, ketiga orang dewasa di sekitarnya begitu panic. Sebenarnya Kyuhyun juga panic atau lebih tepat dikatakan takut. Dia hanya tidak mengerti dan tak tau apa yang harus dilakukan selain menangis. Siwon masih terlihat sibuk membersihkan sisa darah yang keluar dari hidung istrinya. Sejujurnya pria ini sedang takut, pasalnya dia tak pernah mendapati istrinya sakit hingga seperti ini. Siwon sangat cemas hingga kecemasannya berubah menjadi rasa takut. Dia ingat ini bukanlah pertama kali Kibum merasa sakit di kepalanya hingga mimisan dan jika seperti itu istinya hanya butuh vitaminnya saja. Siwon tak tau obat apa yang dikonsumsi istrinya. Yang dia tau itu adalah vitamin, karna memang itu yang dikatakan Kibum padanya.
' sebenarnya kau kenapa, sayang?' siwon hanya mampu menyimpan pertanyaannya dalam hati.
"aku sudah menelpon dokter Park tapi kenapa belum datang juga?" Choi Heechul sudah mulai gusar. Setengah jam sudah dia menelpon sang dokter tapi belum juga datang.
"apa kita bawa langsung saja ke rumah sakit?"
"tenanglah, yeobo. Dokter Park sedang dalam perjalanan. Lagipula rumah kita tidak dekat dengan rumah sakit." Heechul sebenarnya tak habis pikir dengan watak suaminya yang bukan main sabarnya. Dalam siatuasi sepanik apapun suaminya selalu berusaha bersikap tenang, berbeda 180 derajat dengan dirinya.
Tok tok
"nyonya, dokter Park sudah datang." Suara seorang maid dari luar kamar membuat Heechul terbebas dari rasa paniknya.
Ceklek
"kami sudah menunggu anda, dokter. Tolong periksa putriku." Sang nyonya besar langsung saja menyuruh dokter Park untuk memeriksa putrinya. Ya, putrinya. Heechul tidak suka dengan sebutan anak menantu untuk Kibum.
"baik, nyonya. Anda sekalian silakan menunggu di luar, saya akan memeriksa nyonya muda." Sebenarnya Heechul tampak tak rela jika harus menunggu di luar, tapi ruangan itu terlalu ramai untuk sang dokter menjalankan tugasnya. Setelah mereka keluar sang dokter pun segera menjalankan tugasnya dibantu seorang perawat.
Tak lama setelah mereka meninggalkan kamar tersebut, Kibum tampak sudah sadar dari pingsannya.
"anda sudah sadar, nyonya?" suara dokter Park yang pertama kali menyapa pendengaran Kibum. Hanya dibalas anggukan lemah oleh Kibum. Entah kenapa seluruh tubuhnya terasa lemas.
"saya akan memeriksa anda." Tanpa menunggu persetujuan Kibum dokter Park langsung memeriksa Kibum.
"uisa-nim, mohon lihat ini." Seorang perawat memberikan sebuat tablet pada dokter Park. Meminta sang dokter memperhatikan apa yang terlihat dari dalam tablet. Sontak sang dokter terkejut dengan apa yang dia baca dari tablet tersebut.
"anda mengidap kanker otak, nyonya?" entah kalimat sang dokter terdengar seperti pertanyaan atau pernyataan, Kibum tak ambil pusing. Kibum memejamkan matanya dan mengangguk lemah. Ya, dalam tablet tersebut terpapar jelas riwayat kesehatan seorang Choi Kibum.
Tablet itu berfungsi seperti buku laporan. Benda kotak itu berisi beberapa aplikasi dan data base dari setiap pasien yang pernah berobat di Seoul Medical Centre. Cukup masukkan nama dan riwayat kesehatan akan keluar dengan cepat. Tentu saja milik Kibum juga ada di sana mengingat dokter yang menanganinya juga bekerja di rumah sakit tersebut.
"saya mohon uisa, jangan beritau hal ini pada keluarga saya. Saya tidak ingin mereka bersedih."
"tapi nyonya, penyakit anda – "
"saya tau. Biarkan saya yang memberitau mereka. Saya mohon" dengan sisa kekuatan seadanya Kibum berusaha melakukan negosiasi dengan sang dokter.
"baiklah, nyonya. Saya akan melaporkan keadaan anda pada dokter Lee dan segeralah melakukan check up karna sepertinya penyakit anda semakin parah. Saya hanya akan memberi resep vitamin saja."
"terimakasih banyak, uisa-nim"
"sudah menjadi tugas saya, nyonya. Kalau begitu saya permisi."
Dokter Park tidak bisa berbuat banyak karna ini di luar wewenang dan kapasitasnya. Yang bisa dia lakukan hanya melaporkan kondisi Choi Kibum pada dokter Lee. Dokter yang sudah menangani nyonya muda keluarga Choi selama hampir sebulan ini.
Sepeninggal dokter Park, Kibum masih berbaring. Tentu saja, tubuhnya masih terasa sangat lemas. Tanpa diminta air mata mengalir dari manic cantiknya. Waktu bejalan begitu cepat hingga tak terasa waktu satu bulan akan segera habis. Sekarang yang harus Kibum pikirkan adalah bagaimana memberitaukan keadaannya pada keluarganya.
Mereka – Hangeng, Heechul, Siwon dan Kyuhyun – sedang menunggu di ruang keluar, di lantai satu. Membiarkan dokter kepercayaan keluarganya memeriksa Kibum.
Heechul tampak menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Hangeng dan dibalas dengan pelukan hangat nan menenangkan oleh suaminya. Hangeng tau istrinya sedang sangat khawatir. Siwon duduk di sisi sofa yang lain dengan Kyuhyun yang sudah berada dalam pangkuannya. Pikirannya terus melayang pada apa yang tengah terjadi pada istrinya. Dia masih sangat penasaran dengan obat yang kerap dikonsumsi istrinya. Dia tau persis bahwa istrinya bukan pengonsumsi obat. Bukan karna tanpa alasan'kan istrinya mengonsumsi vitamin yang Siwon yakin itu adalah obat. Namja tampan itu bertekat akan mencari tau. Ya, dia harus mencari tau.
"ini pasti karna Kyunie'kan, dad?" suara lirih Kyuhyun membuyarkan lamunan Siwon.
"kenapa berkata seperti itu, baby?"
"karna Kyunie nakal, dad. Karna Kyunie melempar bola pada mommy. Hiks Kyunie tidak sengaja jika bolanya mengenai kepala mommy hiks sungguh." Yang Kyuhyun tau Kibum seperti itu karna dia tak sengaja melempar bola dan mengenai kepala ibunya. Yang Kyuhyun tau semua karna dirinya.
"baby, kenapa bicara seperti itu, eum? Ini bukan salah Kyunie. Tidak ada yang salah, oke." Siwon makin mengeratkan pelukkannya. Dia tak tega jika anaknya menyalahkan diri sendiri. Kenapa jagoan kecilnya bisa berpikir seperti itu, Siwon tak habis pikir.
"bagaimana keadaan Kibummie, uisa-nim?" Heechul yang pertama kali buka suara ketika dokter Park selesai menuruni anak tangga dan berjalan menghampiri mereka.
"nyonya muda baik – baik saja. Hanya… terlalu lelah." Jelas sang dokter, mencoba memasang senyum terbaik untuk meyakinkan mereka.
Hanchul tampak lega, menurut dokter kepercayaan mereka Kibum hanya kelelahan. Tapi lain halnya dengan Siwon. Siwon tampak tak yakin dengan penuturan sang dokter. Entah mengapa Siwon menangkap ada sesuatu yang disembunyikan oleh dokter Park.
"apa Kibum sudah sadar?"
"ne, nyonya muda sudah sadar, tuan. Anda bisa menengoknya."
"baiklah kalau begitu kami akan melihat keadaannya. Terimakasih banyak, Park uisa-nim."
"sudah menjadi tugas saya, nyonya. Kalau begitu saya permisi." Dokter Park undur diri, diikuti seorang perawat meninggalkan rumah mewah itu.
"Kyunie ingin melihat mommy, dad." Kyuhyun tampak berusaha turun dari gendongan sang ayah. Siwon yang mengerti pun segera menurunkan putranya. Sontak Kyuhyun berlari menaiki tangga menuju kamar Kibum berada, diikuti Hangeng dan Heechul. Siwon? Namja tampan itu masih betah berdiam di sana. Masih memikirkan kejanggalan yang mengitari pikirannya. Segera Siwon mengejar dokter Park untuk memastikan kejanggalan yang dia rasakan adalah salah, untuk meyakinkan dirinya bahwa Kibum memang baik – baik saja.
"uisa-nim!" Siwon berhasil mengejar dokter Park saat sang dokter akan memasuki mobilnya.
"apa ada yang lain yang bisa saya bantu, tuan muda?"
"tidak. Cukup katakan bagaimana keadaan Kibum. Katakan bagaimana keadaan Kibum yang sebenarnya. Saya tau ada yang anda sembunyikan, uisa-nim." Siwon langsung pada poinnya, mengutarakan kejanggalan yang dia rasakan. Dia sangat yakin jika istrinya tidak dalam keadaan yang baik saat ini. Dokter Park tampak mulai resah, bimbang antara menjaga janjinya pada Kibum atau mengatakan yang sebenarnya pada Siwon.
"saya mohon maafkan saya. Tapi saya tidak bisa mengatakannya. Nyonya muda sendirilah yang akan menjelaskannya pada anda dan keluarga. Saya permisi." Dokter Park bergegas memasuki mobil sebelum Siwon semakin memaksanya. Bukan setahun atau dua tahun dokter Park menangani keluarga Choi melainkan sejak Siwon remaja jadi sedikit banyak dia tau sifat anggota keluarga Choi.
Pernyataan dokter Park semakin menguatkan asumsi Siwon akan keadaan Kibum. Sekarang Siwon sangat yakin jika istrinya menyembunyikan kondisi kesehatannya darinya. Sakit kepala yang amat sangat, darah yang mengalir dari hidung seiring rasa sakit itu datang, vitamin – yang sekarang diyakini Siwon sebagai obat – yang sering Kibum konsumsi, dan tubuh Kibum yang terlihat lebih kurus, semua itu benar – benar mengusik pikirannya. Jika dia tak berhasil mendapatkan penjelasan yang pasti dari dokter Park dan Kibum yang sepertinya menutup rapat mengenai kondisinya, maka Siwon bertekat akan mencari tau sendiri kebenarannya.
"Kibummie, sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?" lirih Siwon.
well done!
panjang ya? ngebosenin abis pula == heheee
sebenernya uda dr kemaren pngn ngepost tp belum ada kesempatan..mian
saya minta maaf krn saya ga bisa update cepet. kenapa? krn saya seorang pemalas #oops
krn saya akan menulis jika ide sudah terkumpul d tambah mood yg baik untuk menulis
skali lagi mohon maafkan saya
chap ini...saya sendiri kaget ternyata nyampe 12 halaman . buat saya ini wah banget!
walo begitu terimakasih untuk chingudeul yg berbaik hati membaca bahkan sampe kasi review.
dan untuk chap ini saya masi persilakan untk kasi cuap cuap d kotak review
terakhir, slamat berpuasa, semoga ga bikin pahala puasa kalian berkurang ato malah sampe batal. amien
gomawo, c u next chap ^^
