Chapter 9
Minggu ketiga
Ini adalah hari minggu yang cerah di minggu ketiga bulan Juni. Di sebuah kamar yang cukup luas tampak seorang wanita sedang berhias diri. Tidak bisa dibilang sungguh – sungguh berhias diri karna dia hanya memoleskan bedak, tidak berlebihan, lalu dia memberikan warna pada bibir kissablenya dengan warna yang tak jauh beda dengan warna bibirnya. Dari cermin di depannya, Kibum – wanita itu – bisa melihat seorang namja yang tengah duduk di atas ranjang sambil asik memperhatikan dirinya. Merasa risih karna terlalu lama diperhatikan membuat Kibum buka suara.
"apa yang kau lakukan?"
"aku? Kau bisa lihat sendiri aku sedang memperhatikan istriku berdandan. Dia cantik sekali", ucap Siwon, sang namja yang terus memperhatikan Kibum, membuat Kibum terkekeh geli.
"berhenti menggombal, Tuan Choi."
Siwon turun dari ranjang menghampiri Kibum yang sekarang sedang menyisir rambut sebahunya. Siwon mengalungkan lengan kekarnya pada leher Kibum, tubuhnya agak menunduk agar sejajar dengan kepala kibum.
"aku tidak sedang menggombal. Kau memang cantik, nyonya," ucap Siwon pelan tepat di depan telinga Kibum dan diakhiri dengan kecupan di pipi Kibum. Yeoja salju itu terkekeh. Kadang suaminya begitu manis, tak jarang juga kekanakan. Tak berubah, pikir Kibum.
Ya, tak berubah. Satu fakta yang ditarik sendiri olehnya membuat hatinya sedikit menghangat. Setidaknya sikap manis suaminya pada dirinya tak berubah, kecuali cinta dan kesetiaan sang suami.
Kibum melepas pelan kungkungan lengan kekar itu, berdiri dan sedikit merapikan penampilannya.
"kau akan tetap pergi hari ini?"
"eum. Kau tak lihat aku sudah berdadan cantik seperti ini,eoh? Lagipula aku sudah berjanji pada Eunhyukie akan menemaninya hari ini." Kibum menjawab tanpa menghentikan kegiatan merapikannya. Ya, semalam istri Lee Donghae meneleponnya dan mengajak Kibum untuk menemui supplier. Tentu saja Kibum tak menolak. Yeoja bergummy smile itu sudah kerap menolongnya jadi tak masalah,kan. Lagipula dia juga ingin sedikit menghabiskan waktu di luar.
"tapi keadaanmu…eum, kau baik – baik saja?"
Kibum berbalik, mengalungkan lengannya pada leher Siwon, tak lupa senyum manis yang meyakinkan.
"aku baik – baik saja, Siwonie. Jangan khawatir."
"aku takut tiba – tiba kau sakit lagi."
"tidak akan. Percaya padaku."
Sejak penyakit Kibum kambuh di kediaman keluarga Choi beberapa hari yang lalu, Siwon menjadi lebih protektif. Hampir setiap jam namja tampan itu menelepon Kibum sekedar menanyakan keadaan Kibum, apakah sudah makan, dan pertanya – pertanyaan kecil lainnya yang merupakan bentuk perhatian Siwon terhadap Kibum. Kadang Kibum merasa jengah dengan sikap Siwon, namun setiap Kibum menerima pertanyaan – pertanyaan itu dia akan tersenyum lebar. Masih ada perhatian untuknya, pikir Kibum. Akhir – akhir ini Kibum merasa seperti pengantin baru meskipun rumah tangganya diambang kehancuran. Namun ibu beranak satu itu tak mau ambil pusing dengan kenyataan yang menimpa rumah tangganya. Dia lebih memilih menikmati apa yang sedang dia jalani saat ini.
Kibum berlalu dari hadapan Siwon, mengambil tas Channel limited edition yang dia beli di negara asalnya yang dia simpan di lemarinya. Tas tangan dengan desain sederhana namun tak mengurangi nilai elegan dan kemewahnya, menunjang penampilan Kibum yang semakin terlihat…cantik.
"kau sepertinya sangat antusias ketika Eunhyuk mengajakmu. Apa kau juga tertarik untuk membuka butikmu sendiri? I'll make it for you." Siwon tau istrinya tampak antusias ketika Eunhyuk menelepon semalam. Dia pikir mungkin Kibum juga ingin memiliki butiknya sendiri. Bukan perkara yang sulit bagi seorang Choi Siwon hanya untuk mewujudkan sebuah butik, bukan?
"there's no need, Mr Choi. Aku lebih suka mengurus kalian. Jika aku memiliki butik atau toko lain maka waktuku akan banyak tersita untuk itu. Waktuku untuk bersama kalian akan semakin sedikit." Sadar atau tidak, Kibum berubah sendu.
"asal kau bisa membagi waktumu, aku tak masalah." Kibum mengerti niat baik suaminya, tapi dia sungguh tak membutuhkannya. Wanita cantik itu tersenyum hangat, berjalan menghampiri Siwon dan menggenggam tangannya.
"terimakasih, Siwonie. Aku mengerti niat baikmu. Tapi aku sungguh ingin menghabiskan waktuku bersamamu dan Kyuhyun. Simpan saja uangnya untuk biaya pendidikan Kyuhyunie." Kibum sangat tau jika suaminya ini pasti sudah menyiapkan biaya untuk pendidikan putranya, namun kalimat terakhir itu melintas begitu saja di kepala Kibum.
You have a message
Dering nyaring dari ponsel Kibum membuyarkan suasana intim yang telah tercipta. Kibum bergegas meraih ponselnya di meja rias.
From : Eunhyukie
Kibumie, kita bertemu di kafe dekat butik ku. Aku berangkat sekarang. Kau yakin tak perlu ku jemput?
Ternyata pesan itu dari Eunhyuk. Untuk kesekian kalinya sahabat Kibum itu menawarkan diri untuk menjemput Kibum, dan selalu dibalas dengan jawaban yang sama.
From : Kibumie
Tidak perlu, Eunhyukie. Sepuluh menit lagi aku sampai. See u ^^
Kibum memasukkan ponsel canggihnya ke dalam tas. Siwon tau jika istrinya akan segera berangkat.
"Kibumie, aku mengijinkanmu pergi tapi tidak dengan membawa mobil sendiri. Aku akan mengantarmu."
"tidak usah, Siwonie. Aku akan pergi dengan taksi. Tenang saja."
Sepertinya Kibum tak ingin berdebat lebih lama lagi dengan suaminya dan membuatnya terlambat. Kibum segera keluar dari kamar, menuruni tangga diikuti Siwon. Dari arah tangga mereka bisa melihat putra semata wayang mereka sedang asik bermain PS. Kyuhyun yang mengetaui orang tuanya menghampiri dirinya pun segera menghentikan permainannya. Namun alisnya berkerut ketika melihat sang ibu yang berdandan cantik sedang ayahnya hanya mengenakan pakaian rumah saja. 'mommy mau kemana?' pikir Kyuhyun.
"mommy akan pergi kemana?"
Pertanyaan itu langsung terlontar ketika kedua orang tuanya sudah sampai di ruang keluarga – tempat Kyuhyun bermain PS –. Kibum langsung menghampiri Kyuhyun dan berjongkok di depan Kyuhyun yang sedang duduk di bawah, sedangkan Siwon memilih duduk di sofa belakang Kyuhyun.
"mommy akan pergi sebentar dengan Hyukie ahjumma. Kau di rumah dengan daddy, ya."
Kibum menjawab pertanyaan putranya sambil mengusap rambutnya dengan sayang.
"kenapa aku dan daddy tidak diajak, mom?"
"karna itu urusan yeoja, jagoan. Kau di rumah saja, bermain bersama daddy, oke."
Belum sampai Kibum menjawab Siwon sudah menjawabnya terlebih dulu. Akan butuh waktu tidak sebentar jika Kibum meladeni pertanyaan Kyuhyun mengingat betapa kritisnya putra mereka. Lagipula bukankah Kibum sedang terburu – buru?
"baiklah kalau begitu."
Sedikit tidak rela. Tapi mau bagaimana lagi jika kedua orang tuanya sudah 'se-iya sekata', Kyuhyun tidak punya 'pendukung',kan?
"hei, mommy akan usahakan untuk pulang cepat. Kau baik – baiklah di rumah, eum."
Kibum mencium kening Kyuhyun lalu berdiri. Kini yeoja salju itu akan berpamitan dengan Siwon.
"aku pergi dulu, Siwonie. Tolong jaga Kyuhyun. Aku akan segera pulang jika sudah selesai."
"kau ini. Kyuhyun 'kan anakku juga, sudah pasti aku akan menjaganya tanpa kau minta. Baiklah hati – hati. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku, arrachi?"
Tampaknya Siwon mulai mengeluarkan sifat protektifnya. Dan sebagai jawabannya Kibum hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu Kibum berlalu meninggalkan kedua namja yang dia cintai. Namun belum terlalu jauh sebuah suara menginterupsi langkahnya.
"Kibumie." Ternyata Siwonlah pelakunya.
"ada apa lagi? Aku bisa terlambat, Siwonie."
Kibum tampaknya tidak bisa santai menanggapi panggilan Siwon. Terbukti dengan nada suaranya yang naik satu oktaf.
"kau melupakan sesuatu, Kibumie."
"mwo?"
Siwon menghampiri Kibum dengan tenang. Sepertinya tidak peduli jika istrinya sudah mulai tidak sabar. Dan dengan cepat bibir tebalnya mengecup bibir Kibum yang sudah dipoles lipstick. Ingat, hanya mengecup atau istrinya akan marah besar karna terlambat.
"kau melupakan itu, nyonya Choi. Sekarang kau boleh pergi. Hati – hati di jalan."
Senyum menawan milik Siwon menjadi pengantar kepergian Kibum. Dan Kibum sendiri segera melarikan diri dari hadapan Siwon ketika tersadar dari keterkejutannya selama tiga detik, mungkin.
Kafe itu tampak ramai, tentu saja karena ini adalah hari minggu maka banyak muda mudi yang memilih kafe tersebut untuk sekedar menghabiskan waktu bersama kekasih atau teman. Selain itu kafe tersebut juga berada di salah satu distrik pusat keramaian di kota Seoul.
Diantara keramaian kafe itu ada Eunhyuk dan Kibum juga di sana. Mereka menempati salah satu meja di samping jendela besar kafe tersebut. Sekitar sepuluh menit yang lalu mereka – atau lebih tepatnya Eunhyuk – baru saja selesai bertemu dengan supplier yang akan bekerja sama menambah koleksi di butik Eunhyuk.
"terimakasih ya, Kibumie. Hari ini kau sangat membantu." Eunhyuk, yeoja bergummy smile menawan itu mengungkapkan rasa senangnya pada Kibum dengan binar kepuasan yang terpancar dari kedua maniknya.
"kau ini. Aku 'kan tidak melakukan apa – apa. Kau sendiri yang membuatnya berhasil. Kau hebat Eunhyukie."
Ya, pertemuan hari ini berjalan dengan sangat lancar. Mereka berhasil melakukan negosiasi untuk harga beserta pembayarannya bahkan mereka telah berhasil memilih apa – apa saja yang akan mengisi koleksi Jewel Boutique. Dan Kibum benar, semua memang dilakukan oleh Eunhyuk. Lalu Kibum? Menurut Eunhyuk, Kibum adalah penasihat fashionnya. Mengingat target pasar Eunhyuk adalah para kalangan sosialita dan Kibum juga termasuk di dalamnya. Itu sebabnya Eunhyuk lebih memilih mengajak Kibum dari pada suaminya sendiri.
"ngomong – ngomong kau dapat referensi dari mana hingga kau memilih supplier tadi?" tanya Kibum penasaran.
"dari internet. Mereka juga melakukan pemasaran secara online. Aku mengunjungi websidenya dan aku merasa mereka memang terpercaya. Komentar yang ditinggalkan di sana juga positif walaupun ada beberapa complain tapi mereka menanganinya dengan baik. Lagipula mereka mengutamakan kualitas dan kepuasan pelanggan. Kau dengar sendiri'kan tadi, besok mereka akan mengirim sample dari setiap barang yang aku pilih dan jika aku tidak suka maka aku boleh menukarnya. Bagaimana menurutmu? Aku tidak salah pilih, kan?"
"tidak, aku sependapat denganmu. Aku yakin butikmu akan semakin ramai. Kau benar – benar hebat, Eunhyukie."
"aish… tapi tetap saja aku harus berterimakasih pada mu. Kau banyak memberiku masukkan. Akan lain jadinya jika aku mengajak Donghae."
Kibum meminum jusnya dengan alis berkerut tanda dia bingung dengan ucapan sahabatnya.
"memangnya kenapa kalau kau mengajak Donghae?"
"kau tau sendiri dia tidak bisa di ajak berunding untuk hal macam ini. Dia pasti akan bilang menyukai setiap pilihanku dan menyuruhku mengambil semua yang aku suka. Padahal kau tau aku hampir menyukai semua barang yang ada di catalog tadi. Tak mungkin aku mengambil semuanya, kan? Aku bisa bangkrut, Kibumie."
"ahahahahaaa kau lucu sekali." Kibum malah terpingkal mendengar rentetan alasannya.
"memang apanya yang lucu?" dan sepertinya Eunhyuk tak suka Kibum menertawakan dirinya.
"ikanmu itu tak akan membiarkan monyet cantiknya bangkrut begitu saja."
"maka dari itu aku tidak mengajaknya karna dia bisa dengan mudah memberikan uangnya. Ini adalah usahaku jadi aku ingin melakukannya dengan uangku sendiri. Ya..walaupun dia juga ikut membantu. Tapi kau mengerti maksudku,kan?"
"iya, aku mengerti, Eunhyukie." Kibum mengulas senyum bangga untuk sahabatnya.
Sahabatnya itu memang memiliki keinginan untuk membuka butik sejak dia masih duduk di bangku sekolah menengah. Eunhyuk sebenarnya berasal dari keluarga yang cukup berada, bisa saja ayahnya dengan mudah mewujudkan impiannya namun gadis bergummy itu lebih memilih mewujudkannya dengan usahanya sendiri. Menyisihkan uang bulanannya yang tidak bisa dibilang sedikit, menyimpan uang hasil kerja paruh waktunya ketika dia kuliah, lalu tak lama setelah dia menikah dengan seorang dokter spesialis penyakit dalam – Lee Donghae – mimpinya baru terwujud. Itupun karna bujukan dan desakan sang suami agar diijinkan membantu dalam proyek butik tersebut.
Di mata Kibum, seorang wanita bernama asli Lee Hyukjae itu adalah wanita yang benar – benar mandiri.
Dddrrrtt dddrrrttt
Getar salah satu ponsel di meja itu menginterupsi percakapan mereka.
My Fish-ie calling
Itu adalah ponsel milik Eunhyuk
"yeoboseyo"
"…"
"ne, sebentar lagi aku pulang."
"…"
"ya! Lee Donghae! Aku tidak mau tau ketika aku pulang nanti putriku harus sudah berhenti menangis atau kau akan terima akibatnya, arrachi?!"
Sambungan terputus dan Eunhyuklah yang memutusnya terlebih dulu. Wanita itu tampak menghela nafas guna menenangkan emosinya, mengabaikan tatapan penuh tanya dari Kibum.
"wae? Apa terjadi sesuatu? Kenapa berteriak?"
"Donghae. Taemin menangis karna ayahnya yang ceroboh telah menumpahkan susu pisang kesukaannya. Dan sayangnya itu adalah satu – satunya yang tersisa di kulkas. Haaahh aku merasa seperti punya dua balita, kau tau?"
"hahahahaa tenanglah, Hyukie. Donghae 'kan tidak sengaja."
"ya, dia tidak sengaja dan ceroboh. Semoga saja dia tidak ceroboh menangani pasiennya." Eunhyuk berkata sambil memperlihatkan mimic prihatinnya akan sifat suaminya. Dan Kibum masih saja terkekeh.
"jangan khawatir, suamimu adalah dokter yang hebat, Eunhyukie. Jja..sekarang cepatlah pulang, Taeminie pasti menunggumu."
"ne. aku akan mengantarmu dulu lalu membeli susu pisang kesukaannya dan pulang. Jangan menolak, nyonya Choi. Tadi kau menolak 'ku jemput maka sekarang aku harus mengantarmu."
Eunhyuk tau kalau Kibum akan menolak ajakannya yang lebih terdengar seperti keharusan untuk Kibum.
Setelah membereskan meja kedua yeoja cantik itu pergi meninggalkan kafe yang justru semakin ramai.
Brugh
Siwon terkesiap mendengar sesuatu terjatuh dari arah halaman samping rumahnya. Saat itu Siwon yang sedang berada di dapur membuat sirup dingin langsung melesat membuka pintu dapur yang memang langsung menuju halaman samping. Dia masih ingat jika dia meninggalkan putranya sebentar di sana.
"Kyuhyunie!"
Siwon terkejut melihat Kyuhyun sudah terduduk dengan lutut terluka dan sebuah pot yang pecah berantakan tak jauh dari putranya duduk. Siwon segera menghampiri Kyuhyun.
"gwenchana?"
Kekhawatiran itu hanya di balas anggukan kecil oleh Kyuhyun sambil menahan tangisnya. Luka di lulutnya mengeluarkan darah, tapi ayahnya pernah bilang pria sejati tidak mudah mengeluarkan air mata. Kyuhyun merasa dirinya adalah seorang pria sejati itu sebabnya dia tidak ingin menangis hanya karna lututnya terluka, meskipun terasa perih di lulutnya.
Siwon menggendong kyuhyun, membawanya masuk ke dalam rumah, mengabaikan pot yang pecah berantakan. Dia akan membereskannya nanti setelah menangani putranya.
Tadi mereka sedang asik bermain bola di halaman samping rumah. Karna cuaca yang cukup terik membuat mereka letih dan kehausan. Lalu Siwon meninggalkan Kyuhyun sebentar untuk membuat sirup dingin dan membiarkan putranya bermain sendiri. Tapi belum selesai Siwon membuat minuman untuk mereka, insiden itupun terjadi.
Siwon mendudukan Kyuhyun di salah satu kursi pantry. Dengan segera Siwon menuju lemari obat yang tak jauh dari dapur. Namja tegap itu tampak mengabsen apa saja yang bisa mengobati putranya. Mulai dari kapas, alcohol, obat merah, dia juga mengambil kain kasa dan plester karna luka Kyuhyun terlihat cukup lebar. Namun gerak tangannya terhenti ketika akan mengambil kotak kain kasa. Dia melihat ada obat yang tak familiar. Siwon tak tau obat apa yang ada dalam botol kecil itu. Ya, Siwon hapal apa – apa saja yang mengisi lemari obatnya yang terbilang cukup lengkap. Ada antiseptic, alcohol, paracetamol, obat batuk, dan obat – obat rumahan yang lain. Tapi ini, Siwon baru melihatnya. Botol obat itu bukan miliknya dan tak mungkin itu milik Kyuhyun. Kemungkinan besar itu punya istrinya. Memori Siwon kembali pada saat dia melihat Kibum meminum obat yang tampaknya disembunyikan dari dirinya. Dan secara reflex Siwon memikirkan apa saja yang telah terjadi pada Kibum, menyangkut kesehatannya. Rasa penasaran seorang Choi Siwon pun tergugah. Menanyakan pada Kibum akan sangat sia – sia karna dia yakin istrinya akan menutup mulutnya rapat – rapat. Mengambilnya dan menanyakan ke apotekpun tak mungkin karna Kibum pasti akan mencari obat tersebut. Dan dengan cepat Siwon mengambil ponselnya, membuka pemintas untuk kamera dan segera mengambil gambar botol tersebut dengan label yang jelas terpampang dalam layar ponsel Siwon.
"daddy…!"
Panggilan Kyuhyun menghentikan acara duga menduga yang Siwon lakukan. Merutuki kebodohannya yang lupa dengan tujuannya membuka lemari obat.
"ne, baby!"
Siwon segera menghampiri Kyuhyun. Berlutut di depan Kyuhyun yang duduk di kursi pantry, mulai membersihkan lukanya dengan alcohol. Kyuhyun sedikit berjengit ketika sepotong kain putih yang sudah di beri obat mereh di tengahnya mengenai kulitnya yang terluka.
"appaso?"
Kyuhyun hanya mampu mengangguk. Sekali lagi, dia menahan tangisnya. Siwon menutup luka itu dengan sangat hati – hati sambil meniupnya.
Siapapun yang melihat pasti akan meberikan predikat good daddy pada Siwon.
"selesai."
Tak butuh waktu lama dan Siwon sudah selesai mengobati lutut Kyuhyun, tak lupa sebuah kecupan Siwon berikan pada luka Kyuhyun yang telah tertutup. Dia sering melihat Kibum melakukannya ketika sudah selesai mengobati lukanya atau Kyuhyun. Kibum pernah bilang itu seperti sebuah doa agar sakitnya hilang dan lukanya cepat sembuh.
Siwon menatap putranya dengan senyumnya yang menyejukkan seakan memberikan semangat bahwa lukanya akan segera sembuh. Dalam hati dia bangga karna putranya mengingat pesannya dan berusaha untuk tak menangis. Dia membereskan peralatan yang dia gunakan dan megembalikannya ke tempat semula sebelum Kyuhyun mencegah langkahnya.
"daddy"
Rumah besar itu saat ini hanya di isi oleh dirinya dan Kyuhyun maka meskipun suara Kyuhyun pelan dia masih bisa mendengar. Siwon kembali berjongkok di depan Kyuhyun. Si kecil Choi itu memanggilnya namun dia menyembunyikan wajahnya. Siwon tau ada sesuatu yang dipendam oleh putranya, mengangkat dagu Kyuhyun agar melihatnya.
"ada apa, heum? Apa kau juga terluka di tempat lain?"
Kyuhyun lebih memilih menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.
"lalu? Ada apa? Katakan pada daddy."
"itu…eum…pot bunga milik mommy. Kyunie tak sengaja menabraknya. Kyunie melempar bolanya terlalu tinggi. Karna tidak memperhatikan sekitar Kyunie menabrak pot bunga itu. Potnya pecah dan tanamannya rusak. Eottokaji?"
Kyuhyun mengakhiri ceritanya yang sedikit berantakan dengan suara lirih. Dia tau jika ibunya begitu menyukai tanaman. Lalu bagaimana jika ibunya tau salah satu tanamannya rusak. Kyuhyun takut.
Siwon mengerti dengan yang dirasakan putranya, walaupun dia yakin sang istri akan sangat maklum dan tak mempermasalahkannya. Siwon hati – hati memeluk Kyuhyun agar tidak terkena lututnya yang terluka, mengusap rambutnya penuh sayang. Secara tidak langsung mengatakan bahwa semua akan baik – baik saja.
"don't worry, baby. Nanti daddy yang akan bicara dengan mommy. Daddy yakin mommy tidak akan marah. Justru sepertinya mommy akan sedikit khawatir dengan lukamu" Siwon mengatakan kalimat terakhirnya dengan kekehan kecil. Membayangkan Kibum yang akan cepat panic bila terjadi sesuatu dengan Kyuhyun maupun dirinya. Istrinya terlihat lucu.
"I'm sorry for making you worry, dad. Maaf karna Kyunie ceroboh dan kurang hati – hati," ucap Kyuhyun penuh penyesalan.
"it's oke, baby. Nah, sekarang kau duduk saja di ruang tengah, menonton TV atau bermain PS. Daddy akan membereskan halaman samping, oke." Dan Kyuhyun hanya mengangguk, tak ingin membantah.
Hap
Siwon menggendong Kyuhyun dan membawanya duduk di ruang tengah lalu bergegas ke halaman samping untuk membereskan kekacauan akibat insiden yang dialami putranya.
Ting tong
Saat bel rumah mewah itu berbunyi, Kyuhyun sedang asik dengan serial Captain America favoritnya.
'mommy' pikir Kyuhyun senang.
Dengan langkah sedikit tertatih Kyuhyun berusaha mencapai pintu utama rumahnya.
Ceklek
"mommy"
Bukan. Yang di hadapan Kyuhyun bukan ibunya. Kyuhyun terpaku dan merasa asing dengan sosok wanita yang berdiri di depannya. Sepatu high heels yang Kyuhyun kira setinggi sepuluh senti, mini dress warna merah yang panjangnya diprediksi Kyuhyun hanya sejengkal dari pangkal paha, dan Kyuhyun tidak pernah tau jika ada pewarna bibir semerah itu. Kyuhyun pernah melihat ibunya berdandan dan seingatnya tak ada satupun pewarna bibir milik ibunya yang berwarna begitu menantang seperti yang sekarang dia lihat.
"hai, boy. Kau pasti Choi Kyuhyun, kan? Aigooo kau tampan sekali. Apa daddy ada?"
Wanita itu sedikit membungkuk agar tingginya sama dengan Kyuhyun, bertanya sambil sedikit mencubit gemas pipi tembem Kyuhyun. Jika Kyuhyun adalah namja dewasa pasti dia sudah panas dingin karna pemandangan seronok yang tepat di hadapannya. Jelas saja, wanita itu mengenakan mini dress dengan belahan dada yang lumayan dalam. Taulah apa yang terjadi jika kau merunduk dengan baju seperti itu. Bersyukur Kyuhyun kecil tidak mengerti dengan hal – hal macam itu.
"ahjumma siapa?" tanya Kyuhyun polos.
Ahjumma? Entah kenapa sebutan itu membuat sang wanita sedikit gerah. Apa dia terlihat tua hingga bocah cilik itu memanggilnya ahjumma?, pikir wanita itu. Tampak sekali sang wanita tidak nyaman dengan sebutan yang dilayangkan Kyuhyun. Namun dia berusaha menahan emosinya mengingat tujuannya datang ke sana bukan untuk marah – marah pada anak pemilik rumah.
"kau lupa pada ku, ya? Tapi wajar saja karna terakhir aku melihatmu kau belum sebesar ini. Baiklah, kenalkan aku – "
"siapa yang datang, kyu?"
Belum selesai wanita itu memperkenalkan diri pada Kyuhyun namun suara Siwon menginterupsi terlebih dulu. Namja gagah itu nampaknya sudah selesai membereskan halaman samping. Ketika dia akan kembali memasuki rumahnya, dia mendengar bel rumahnya berbunyi maka dia bergegas mencuci tangannya dan membukakan pintu. Namun ternyata Kyuhyun kecil sudah lebih dulu membukakan pintu. Selesai mencuci tangan Siwon segera menyusul Kyuhyun ke depan karna dia juga penasaran dengan tamu yang datang. Siwon tak bisa melihat siapa tamu yang berkunjung karna Kyuhyun membukanya tak lebih dari separuh pintu.
Siwon sudah sampai di sana, dia bisa dengan jelas melihat siapa yang datang.
"kau"
"daddy kenal ahjumma ini?" tanya Kyuhyun polos.
"eum..dia sekretaris daddy. Kyuhyunie masuk saja, lanjutkan acara menontonnya."
Astaga. Namja dewasa ini tampaknya sedang mati – matian menahan rasa gugupnya, sedangkan Kyuhyun mematuhi perintah ayahnya dengan sedikit tak rela.
Siwon menunggu putranya benar – benar tak terlihat dan masuk ke ruang tengah. Belum selesai Siwon menghela nafas lega, wanita itu sudah menubruknya, memeluk tubuh tegapnya dengan posesif.
"oppa, bogoshippo," adu wanita itu. Suaranya sedikit teredam oleh dada Siwon.
"Fanny-ah, apa yang kau lakukan? Kenapa kau datang ke rumahku?"
Siwon melepaskan pelukan wanita itu yang ternyata adalah Tiffany Hwang, Siwon masih cukup waras untuk tidak membiarkan Tiffany memeluknya apalagi di depan rumahnya. Takut – takut kalau ada tetangga yang meihat mereka. Atau yang lebih menakutkan jika Kyuhyun atau bahkan Kibum memergoki mereka.
"aku merindukanmu, oppa. Kau sudah tidak pernah pergi denganku lagi. Di kantor kau juga mengacuhkanku. Ya sudah, aku datang saja ke rumahmu."jelas Tiffany ringan.
"aish..bagaimana jika anakku melihat?" agaknya Siwon gemas dengan Tiffany yang seperti tidak takut jika ada yang memergoki mereka.
"biar saja. Toh kami tadi juga sudah bertemu. Lagipula kenapa tidak oppa katakana saja padanya kalau aku adalah calon ibunya yang baru."
"karna putraku hanya punya satu ibu dan itu adalah aku. Selama aku masih ada, Kyuhyun hanya punya aku sebagai ibunya."
Bukan Siwon yang menjawab celotehan Tiffany, melainkan sosok wanita salju yang kini terlihat begitu dingin, Kibum.
"Kibumie" lirih siwon.
Rasanya Siwon ingin berlari ke dapur, mengambil pisau dan memotong nadinya sendiri. Dihadapkan pada situasi seperti itu membuat Siwon ingin bunuh diri saja.
Mereka tidak tau kalau Kibum sudah ada di sana bahkan sejak Tiffany memeluk Siwon.
Kibum berjalan menghampiri mereka, berdiri tepat di depan mereka.
"apa yang kalian lakukan? Menjijikkan sekali. Aku tau ini adalah rumahmu, aku juga tau kau berhak melakukan apapun di sini tapi apa kau akan menghancurkan kehormatanmu sendiri? Mempermalukan dirimu di depan orang lain yang melihat tontonan menjijikan kalian?"
Siapapun yang melihat pasti tau jika Kibum sedang marah saat ini.
"sayang, bukan begitu. Aku bisa jelaskan."
Demi apapun di dunia ini, Siwon sangat gugup dan takut. Dia benar – benar tidak tau kalau Kibum sudah datang sejak tadi. Yang dia takutkan benar terjadi dan dia harus menjelaskannya pada Kibum, istrinya.
'sayang? Yang benar saja. Kenapa namja ini terlihat breksek di mataku. Sial.' umpat Kibum dalam hati.
"aku tidak mau tau. Cepat selesaikan urusan kalian atau cari tempat lain untuk menyelesaikan urusan kalian. Aku tidak ingin anakku sampai melihat hal menjijikkan semacam ini." Kibum melayangkan tatapan penuh amarahnya pada Siwon.
"dan kau" tatapan dingin menusuk itu berpindah pada sosok wanita lain yang ada di sana, Tiffany.
"jangan pernah kau berani ingin menjadi ibu pengganti untuk putraku, bahkan hanya bermimpi sekalipun, tak akan aku biarkan. Selama aku masih hidup, Kyuhyun tak akan punya ibu yang lain. Camkan itu!"
Rasanya Kibum tak ingin berlama – lama ada di depan dua orang itu. Kibum masuk ke dalam rumah setelah menabrak kasar bahu Siwon.
"lucu sekali. Bukankah jika nanti kalian sudah bercerai dan aku menjadi istrimu, itu artinya aku juga akan menjadi ibu untuk putramu. Lagipula kenapa oppa tidak bilang kalau Kibum eonni tidak di rumah? Kita bisa menghabiskan waktu bersama, kan?"
Wanita itu masih saja bergelayut di lengan kekar Siwon dan tak peduli pada apa yang tengah terjadi. Dan sikap Tiffany benar – benar membuat Siwon frustasi.
"kau gila, Tiff. Benar – benar gila."
Siwon dan Kibum tidak tau jika ada yang sedang tertawa bahagia meihat situasi ini.
'ya, aku gila karna kalian.'
Sementara itu Kibum sudah berada di ruang keluarga. Dia bisa lihat Kyuhyun sedang asik menonton acara kartun kesukaannya.
Kibum masih berusaha menenangkan emosinya. Merasa tak habis pikir dengan kelakuan suaminya yang sudah berani membawa pulang wanita simpanannya. Bagaimana jika Kyuhyu bertanya macam – macam? Bagaimana jika Kyuhyun tahu? Apa Siwon benar – benar tak memikirkannya? Sial. Kibum dalam hati masih saja mengumpati suaminya. Yang dia takutkan hanya Kyuhyun.
Baiklah, tampaknya Kibum sudah bisa megontrol emosinya, dia berjalan menghampiri putranya, bersikap sewajar mungkin.
"hai, jagoan." Sapa Kibum sedikit mengagetkan Kyuhyun.
"mommy sudah pulang?" Kyuhyun mengalihkan perhatiannya pada Kibum.
"iya, sayang. Kau sudah makan?"
Kyuhyun menggeleng.
"lihat, mommy bawa jjajangmyeon kesukaanmu." Kibum tersenyum cerah sambil menunjukkan kantong plastic yang dia bawa. Ya, sebelum pulang tadi dia meminta Eunhyuk untuk mampir sebentar di kedai langganannya. Dan Kyuhyun tampak berbinar mengetahui ibunya membawakan makanan kesukaannya.
"kalau begitu ayo kita makan."
Mereka beranjak menuju ruang makan yang jaraknya bahkan bisa mereka lihat dari tempat mereka sekarang berada. Namun alis Kibum berkerut melihat cara jalan Kyuhyun. Hei, lututnya masih terasa perih dan agak kaku jika lututnya diluruskan, jadi wajar 'kan jika Kyuhyun berjalan agak terpincang?
"lututmu kenapa, sayang?" Tanya Kibum. Maniknya langsung tertuju pada lutut yang telah tertutup perban. Namun tidak langsung dijawab oleh Kyuhyun. Anak itu malah menunduk seakan ikut memperhatikan lututnya, tapi bukan itu. Kyuhyun takut jika ibunya marah karna salah satu tanamannya rusak karna dirinya.
"mom, I'm sorry. Eum…salah satu pot mommy pecah dan tanamannya juga rusak. Maaf, tapi Kyunie tidak sengaja menabraknya. I'm so sorry, mom."
Akhirnya pengakuan itu keluar dari bibir mungil kyuhyun. Mengakui perbuatannya juga termasuk dalam pelajaran menjadi pria sejati, kan?
Kibum tau jika Kyuhyun merasa sangat bersalah. Yeoja salju itu berlutut di depan putranya agar tinggi mereka sama. Tanpa Kyuhyun duga ibunya malah mencium lututnya yang terluka, kebiasaan Kibum.
"semoga cepat sembuh." Itu terdengar seperti doa.
"mommy tidak marah?"
Bukannya menjawab, ibunya malah tersenyum dan merengkuh tubuh kecilnya, merasakan usapan di punggungnya.
"absolutely no. mommy justru mencemaskanmu, baby."
Sesuai dugaan ayahnya, ibunya tidak akan marah yang ada justru khawatir.
"tapi bagaimana dengan pot dan tanamannya?"
"kau tenang saja. Mommy bisa membelinya lagi."
Kibum sudah melepaskan rengkuhannya, membingkai wajah putranya. Kyuhyun juga sudah berani menatap Kibum.
"siapa yang mengobati mu, sayang?"
"daddy, mom."
Benar juga. Bukankah tadi dia meninggalkan Kyuhyun pada Siwon. Lagipula hanya suaminya dan Kyuhyun yang ada di rumah. Tentu saja yang mengobati Kyuhyun pasti Siwon. Monolog Kibum. Namun alisnya berkerut tanda dia sedang mencerna sesuatu dalam otaknya. Jika Siwon yang mengobati berarti Siwon membuka lemari obat karna di sanalah satu – satunya tempat Kibum menyimpan obat termasuk alcohol dan perban, juga obatnya. Obat yang dia sembunyikan.
'apa jangan – jangan Siwon tau?' inner Kibum
"mom, ayo kita makan. Kyunie lapar."
Rengekan Kyuhyun membawa Kibum dari acara duga menduga.
"ne, kaja."
Senyum itu selalu bisa menenangkan Kyuhyun. Senyum favorit Kyuhyun dan Siwon, killer smile milik kibum.
Makan malam kali ini terasa agak berbeda, atau setidaknya itulah yang dirasakan Siwon. Apalagi penyebabnya jika bukan karna Kibum yang mengacuhkan dirinya. Kibum akan menjadi hangat ketika menanggapi celotehan Kyuhyun dan akan kembali dingin jika Siwon juga ikut menanggapi. Nampaknya Kibum masih marah pada dirinya. Hey Choi Siwon-ssi, hati wanita mana yang tak sakit ketika tau suaminya membawa simpanannya ke rumah?
Siang tadi setelah Kibum marah di hadapan dirinya dan Tiffany, Siwon langsung berusaha mati – matian menyuruh Tiffany pergi. Tidak mudah karna wanita itu terus saja merengek. Dan dengan sedikit paksaan Siwon berhasil mengusir Tiffany dari rumahnya.
Dia tak ingin rumah tangganya hancur. Ya, walaupun memang sudah hancur sejak dia mengajak istrinya berpisah. Tapi setidaknya tidak sekarang. Paling tidak masih ada waktu seminggu untuknya memperbaiki diri, mengganti waktu yang terlewatkan dan tentu saja memberi kenangan indah untuk dirinya juga Kibum.
Setelah berhasil mengusir Tiffany, Siwon harus rela diacuhkan dan mendapat perlakuan dingin dari Kibum sepanjang sore.
Makan malam sudah selesai. Kyuhyun sudah naik ke kamarnya. Tapi Siwon masih anteng di tempat duduknya, memperhatikan Kibum yang sedang membereskan meja makan, menumpuk piring – piring kotor pada wastafel, lalu mencucinya. Siwon ingin sekali menjelaskan yang terjadi tapi lelaki tampan itu masih maju mundur untuk mengatakannya. Bukan tanpa alasan, sudah sejak tadi dia berusaha tapi Kibum seolah buta dan tuli akan dirinya.
"Kibumie, tolong dengarkan aku."
Wanita salju itu sepertinya sudah selesai mencuci piring, dia sedang mengeringkan tangannya.
Kibum mendengernya, tapi hatinya sama sekali tak ingin mendengar. Dia marah, benar – benar marah. Kibum terus saja mengacuhkan Siwon, tak peduli apa yang dikatakan suaminya.
Kibum berlalu begitu saja meninggalkan ruang makan dan Siwon. Namun tangannya dicekal kuat oleh suaminya.
"kau harus mendengarkan ku, Kibumie."
Kibum memberikan tatapan terdingin yang dia punya. Tanpa menjawab, Kibum menghempaskan tangan Siwon dengan cukup kasar, bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Siwon tak tinggal diam, dia mengikuti istrinya ke kamar.
Kibum segera menutup pintu begitu sampai di kamar namun tangan kokoh suaminya menahan pintu tersebut. Sadar jika kamar itu masih menjadi kamar bersama, Kibum membiarkan Siwon begitu saja. Siwon yang mendapat kesempatan pun tak tinggal diam. Dia segera masuk dan menutup pintu rapat. Siwon dengan cepat membalikkan badan Kibum yang membelakangi dirinya.
"apa mau mu?"
Kibum bertanya datar. Dia sadar jika Siwon menatapnya penuh rasa frustasi.
"mau ku? Aku mau kau mendengarkan ku."
"mendengarkan apa? Mendengarkan mu mencari alasan? Kau sengaja melakukan ini, kan? Kau memanfaatkan kepergianku agar bisa mengenalkan kekasihmu pada putraku, iya kan?"
"astaga… aku tidak seperti itu. Jika aku ingin mengenalkan mereka, sudah ku lakukan sejak lama."
"eoh, jadi sekarang kau menyesal kenapa tidak mengenalkan mereka sejak dulu, Choi Siwon-ssi?!"
Bodoh kau, Choi Siwon. Kenapa malah bicara seperti itu. Rutuk Siwon dalam hati.
"ya Tuhan, Kibumie. Aku sungguh tidak membawanya kemari. Aku tidak mengundangnya. Dia tiba – tiba datang dan kebetulan Kyuhyun yang membuka pintunya. Ku mohon percayalah pada ku."
"apa? Percaya? Kau meminta aku percaya pada mu? AKU SUDAH MEMBERIKANNYA SEPULUH TAHUN INI. SEMUA KEPERCAYAANKU. SEMUANYA. TAPI APA YANG KAU LAKUKAN PADA KU, CHOI?! KAU MENGHANCURKAN SEMUANYA. KAU MENGHANCURKAN PERNIKAHAN KITA. Dan sekarang kau ingin aku percaya lagi pada mu?! KENAPA KAU BEGITU BRENGSEK, HAH?!"
Keluar sudah. Air mata dan emosi yang berusaha Kibum tahan. Kibum terengah. Tenaganya terkuras hanya untuk berteriak pada suaminya. Siwon sendiri tak bisa membantah, tak mengeluarkan sepatah kata. Dia mengerti jika istrinya perlu melampiaskan amarahnya. Dan semua yang dikatakan Kibum tak ada satupun yang salah. Sejak sepuluh tahun yang lalu, sejak mereka berpacaran dan menjalani kehidupan pernikahan tujuh tahun ini, Kibum tak pernah ragu padanya. Sedikitpun tidak. Tapi pengkhiatannya akan menjadi penyesalan Siwon sepanjang hidupnya. Dan satu hal yang baru dia ketahui, di mata istrinya dia tak lebih dari seorang pria brengsek tak tau malu.
Air mata masih terus saja mengaliri pipi Kibum. Kepalanya tertunduk, bahunya bergetar, Kibum terisak. Siwon menatap Kibum dengan penuh rasa sakit. Hatinya selalu sakit jika melihat wanitanya menangis, dan menjadi semakin sakit jika penyebabnya adalah dirinya. Jujur saja, Siwon ingin sekali merengkuhnya, menghapus air matanya dan merapalkan kata maaf ratusan kali. Tapi Kibum akan semakin marah jika Siwon menyentuhnya saat emosi mendominasi wanita salju itu.
Hening. Kamar besar itu terasa sunyi meski ada penghuni di dalamnya. Mereka masih saja terdiam hingga…
Tok tok tok
"mommy…daddy.."
Kyuhyun. Itu suara Kyuhyun. Seharusnya buah hati mereka sudah terlelap. Jam digital di meja nakas menunjukkan angka 10.07 PM, terlalu malam bagi Kyuhyun untuk masih terjaga.
Kibum segera menghapus air matanya dan bersikap biasa sebelum membukakan pintu kamarnya.
"hei, kenapa belum tidur, eum? Mommy pikir kau sudah tidur."
"Kyunie tidak bisa tidur, mom."
"baiklah, malam ini mommy akan tidur dengan Kyunie. Jadi sekarang kita ke kamar Kyunie dan segera tidur karna ini sudah terlalu larut. Mommy tak mau besok pagi kau kesiangan, oke."
Kibum dengan cepat menutup pintu kamarnya dan menggiring Kyuhyun menuju kamarnya, meinggalkan Siwon sendiri di kamar besar itu.
Kyuhyun sedikit bingung, karna biasanya jika dia tidak bisa tidur maka dia akan tidur bersama orang tuanya di kamar orang tuanya. Tapi ini… sebenarnya sejak Siwon 'kembali' Kibum sudah tidak pernah lagi tidur dengan Kyuhyun. Dan sekarang ibunya sedang tidur dengannya ditambah wajah ibunya yang terlihat seperti habis menangis. Kyuhyun semakin memperbesar tanda tanya di kepalanya.
"mom, apa mommy dan daddy bertengkar? Kyunie tadi mendengar mommy berteriak."
Mereka sedang berbaring di ranjang single milik Kyuhyun. Mereka saling berhadapan, Kibum memeluk Kyuhyun, menyandarkan kepala sang putra pada dadanya dan menjadikan kepala Kyuhyun untuk menopang dagunya. Hatinya mencelos ketika Kyuhyun bertanya apa yang terjadi antara dirinya dan Siwon. Sebenarnya Kibum sangat khawatir jika Kyuhyun tau apa yang sebenarnya menimpa orang tuanya. Tidak, Kyuhyun kecilnya tak boleh tau. Tidak sekarang.
"maaf jika mommy dan daddy mengusik tidurmu. Tapi kami tidak bertengkar, mommy hanya sedikit meninggikan suara saja. Kyunie, kau tidak akan mengerti. Kau belum bisa mengerti. Kelak ketika kau sudah dewasa nanti kau akan mengerti. Sekarang bisakah kita tidur? Mommy sudah sangat mengantuk, sayang."
Terasa anggukan di dada Kibum, tanda putranya setuju dengan ajakannya. Posisi mereka masih sama hingga beberapa menit terasa deru nafas teratur milik Kyuhyun. Kibum sedikit melonggarkan dekapannya dan menatap paras sang putra. Tampan, seperti ayahnya. Kibum membelai pipi tembem Kyuhyun dan tanpa terasa air mata jatuh begitu saja seolah ada pisau tak kasat mata yang menyayat hatinya.
"maafkan mommy, sayang. Mommy gagal menjadi ibu yang baik untukmu. Mommy tidak tau bagaimana harus menjelaskannya padamu jika mommy bisa bertahan hingga akhir bulan ini. Kau tidak harus menanggung ini semua, sayang. Tolong maafkan mommy. Hiks.. tumbuhlah menjadi laki – laki yang tampan, menjadi pria sejati dan memiliki kepribadian terpuji. Dengarkan setiap perkataan daddymu dan menurutlah. I love you, baby. Love you so much."
Diakhiri kecupan hangat pada kening Kyuhyun, Kibum mengistirahatkan dirinya terutama mengistirahatkan pikirannya.
Dan namja itu masih berdiri di depan pintu kamar Kyuhyun yang dia buka sedikit. Tadi saat Kibum meninggalkannya begitu saja, dia merasa perlu mengejarnya. Namun saat dia membuka pintu kamar putranya, dia mendengar pertanyaan Kyuhyun untuk Kibum, membuatnya urung untuk masuk dan tetap menyimak percakapan malam istri dan anaknya. Namun percakapan mereka tak lama karna Kibum yang memaksa untuk segera tidur. Dan Siwon tau itu adalah alasan agar Kyuhyun tidak bertanya terlalu banyak. Ketika Siwon pikir keduanya sudah terlelap dan memutuskan kembali ke kamarnya, dia mendengar suara Kibum yang terdengar lirih. Tak hanya bersuara lirih tapi juga menahan isakannya, membuat Siwon kembali merasa sakit. Dan tak butuh waktu lama agar kamar tersebut menjadi sunyi. Kedua penghuni di dalamnya sudah larut dalam mimpi indah masing – masing. Dengan sangat perlahan Siwon memasuki kamar itu, menghampiri satu – satunya ranjang yang ada di sana. Siwon memberikan kecupan hangat pengiring tidur di masing – masing kening Kibum dan Kyuhyun. Tak ingin mengusik tidur istri dan anaknya, Siwon segera keluar dari kamar yang didominasi warna biru itu dan menutupnya dengan sangat pelan hingga tak menimbulkan sura yang berarti.
T B C
Allohaaa lama tak jumpa… maafkan sya krna lama bngt update heheee :D
Saya putusin buat nyelesein dari pada terus ngegalauin sungmin.
Jujur aja, saya juga Kyumin shipper. Jadi pas denger dia dating, saya hancur 2 kali. Trus skrng dia bilang mau married, apa lagi di tanggal yang selalu jadi hari bahagia saya setiap setaun sekali, sya hancur berkali lipat.
Sya trima keputusannya, tapi sya kecewa sama caranya. Dan tiba2 sya merasa terkhianati.
Haaahhh reader-deul, sya hancur, sungguh. Tapi ya sudahlah.
Itu sebabnya sya mohon maaf kalo pas yg di bagian akhir chap ini agak aneh gaje. Sya mhon maklum krna otak sya lagi ngeror #bow.
Dan sya nulis ini adalah tepat pukul 00:00 tgl 15oct. slamat ulang tahun untk donghae oppa. Semoga dia bisa dengan tabah dan sabar menerima setiap scandal yg trjadi d sekitarnya. Semoga setiap kekacauan bisa teratasi dngn baik.
Sbenernya ini mau sya post tgl 15 tp krna kesalahan system internet sya jd molor dech hehee
Well guys, thanks for waiting this chap, I feel so sorry for imperfectness from this fict.
Last, I still need ur review, guys.
Many many many thanks.
