Chapter 10
Pagi menjelang. Kibum terbangun ketika jam digital di meja nakas Kyuhyun menunjukkan pukul 05.00 AM. Tanpa di minta ingatannya kembali memutar kejadian kemarin, kedatangan Tiffany, pertengkarannya dengan Siwon, dan Kyuhyun yang terbangun karenanya.
Haaahh
Fokusnya kini beralih pada namja kecil yang masih terlelap di sampingnya. Perlahan dia mengusap rambut Kyuhyun – si namja kecil – lalu dengan sayang mencium keningnya. Dengan perlahan Kibum turun dari ranjang dan keluar dari kamar untuk memulai tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga.
Kibum perlahan menuruni tangga menuju dapur rumah mewah yang dia tinggali. Dan ini masih terlalu pagi tapi kepalanya terasa dihujam ribuan jarum tak kasat mata.
"Ya Tuhan, ini masih terlalu pagi. Tidak bisakah aku melaksanakan kewajibanku dulu?" lirihnya.
Tes
Liquit merah pekat menetes dari hidung Kibum. Darah itu seolah tak terbendung seiring rasa sakit di kepala Kibum.
Wanita salju itu berhasil mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga, tangannya menggapai beberapa lembar tissue untuk menghalau aliran darahnya. Bibirnya terus merapalkan doa. Dia tau Tuhan bisa kapan saja mengambil dirinya.
Obat
Kibum butuh penopang hidupnya. Setelah merasa kekuatannya sedikit pulih, Kibum berusaha menuju lemari obat yang tak jauh dari dapur.
Dapat. Syukurlah obat itu masih tersisa cukup banyak. Dengan segera dia mengambil dua butir dari dalam botol tersebut, lalu menelannya.
"Aku mohon jangan sekarang."
Suara itu terdengar lirih tapi masih cukup mampu ditangkap oleh pendengaran Siwon. Ya, Siwon melihat Kibum berjalan sempoyongan menuju lemari obat dan menelan obat yang ada dalam botol yang dicurigai Siwon. Alisnya mengerut ketika mendegar kalimat sang istri.
'Apa maksudnya?'
Siwon ingin sekali menolong Kibum namun langkahnya terhenti ketika dia mengingat betapa marahnya sang istri padanya semalam. Lalu dengan berat hati Siwon kembali ke kamarnya tanpa sepengetahuan Kibum.
Kibum sudah ada di kamar setelah menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Ketika masuk ke kamar mereka, Siwon sudah bangun dan sedang mandi. Tidak biasanya suaminya itu bangun lebih dulu sebelum dia membangunkannya.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka tapi sama sekali tak mengusik Kibum yang sedang asik berdiam diri di beranda kamar.
"Kau di sini?"
Suara berat milik Siwonlah yang membawa Kibum kembali ke alam sadarnya.
"Aku sudah siapkan pakainmu. Pakailah."
Kibum tidak tau jika ada sesuatu dalam dada Siwon yang berdegup cukup keras saat Kibum melayangkan senyum pertamanya di hari ini. Siwon segera bergegas berpakaian sedang Kibum masih berdiri menikmati pagi di luar kamarnya.
"Bisa bantu aku memakai dasi?"
Wanita itu tidak menjawab namun langsung masuk ke kamar dan menghampiri Siwon. Jari – jari lentiknya begitu terampil mengikat simpul dasi tersebut.
Suasananya canggung meskipun jarak mereka sedekat itu namun seolah ada sepotong kayu cukup panjang yang memberi jarak pada mereka.
"Eum… apa kau masih marah?"
Siwon berinisiatif mencairkan suasana yang sudah sedingin musim dingin. Namun Kibum memilih diam dan focus pada simpul dasi yang sebenarnya bisa selesai dengan cepat. Jujur saja, Kibum gugup saat ini.
"Aku minta maaf, Kibumie. Tapi sungguh aku tidak mengundangnya kemari. Kibumie, apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku? Aku tidak tahan jika kau terus mengacuhkanku, sungguh."
Selesai. Dasi Siwon sudah terpasang dengan rapi. Namun Kibum tak urung menurunkan tangannya dari dada Siwon. Menatap manik indah milik suaminya, tak ada dusta hanya ada penyesalan yang Kibum lihat. Dan tanpa diaba bibir kissable milik Kibum mengembangkan senyum manisnya. Senyum kedua yang membuat Siwon berdebar.
"Kau tak perlu melakukan apa – apa, Siwonie. Kau sudah meminta maaf. Aku malah merasa terlalu kekanakan kemarin. Terimkasih kau masih menghargai keberadaanku di rumah ini, Siwonie. Dan maaf untuk sikapku semalam."
Siwon langsung membawa Kibum dalam dekapan hangatnya.
"Tidak. Aku tidak mau kau meminta maaf karna kau tak salah, Kibumie. Kau berhak marah dan bersikap seperti itu padaku."
Kibum mengangguk dan membalas pelukan Siwon.
Cukup lama mereka berpelukan hingga Siwon melepasnya. Tangan kekarnya membingkai wajah ayu sang istri dan mendaratkan ciuman tepat di bibir ranum milik Kibum.
"Morning kiss."
Siwon sudah melepas ciuman mereka, walau begitu kening mereka masih saling beradu. Menikmati suasana intim yang tercipta begitu saja.
"Kau bangun lebih awal, Siwonie. Bahkan sebelum aku membangunkanmu. Apa ada rapat pagi ini?"
"Tidak. Aku hanya tidak bisa tidur. Kau tak ada di sampingku, tak bisa ku peluk jadi bagaimana mungkin aku bisa tidur dengan nyenyak."
"Ini masih pagi, tuan. Berhenti menggombal."
"Aku tidak sedang menggombal, nyonya cantik."
"Kalau begitu teruslah buat aku marah dan mengacuhkanmu."
"No more, honey. Aku tidak sanggup, sungguh."
Siwon kembali membawa Kibum dalam pelukkannya dan sama – sama terkekeh.
"Sudah siap untuk hari ini?"
"Eum."
Tanpa menunggu Siwon langsung menggendong Kibum ala pengantin, membawanya turun untuk memulai hari.
Sarapan pagi ini begitu hangat. Tak ada Siwon yang diacuhkan seperti makan malam semalam. Kyuhyun kecil juga memakan sarapannya tanpa banyak protes dan sesekali berceloteh.
"Kibumie, hampir saja aku lupa. Temanku mengundang kita untuk datang ke acara pertunangannya, nanti malam. Kau akan menemani ku, kan?"
"ne. tentu saja, Siwonie."
Senyum itu terkembang lagi. Mengundang senyum lain pada seorang namja.
Kibum sudah terbiasa dengan undangan semacam itu. Pesta resepsi pernikahan, pembukaan sebuah tempat, peluncuran produk baru, atau bahkan hanya jamuan makan malam, sudah menjadi hal yang biasa baginya selama sepuluh tahun terakhir bahkan dia sudah ikut menghadiri acara semacam itu sejak mereka masih menjadi sepasang kekasih.
"Baby Kyu, tak apa 'kan kalau nanti malam Kyunie main di rumah halmeoni?"
"ne, daddy."
Kyuhyun kecil tau itu bukan acara untuk anak – anak seusianya walaupun kadang orangtuanya juga mengajaknya. Itu memang salah satu cara mereka untuk memperkenalkan Kyuhyun pada dunia yang kelak akan dia geluti juga.
Pukul 07.05 mereka – Siwon dan Kibum – sudah sampai di salah satu hotel berbintang di tengah kota Seoul. Sebelumnya mereka terlebih dahulu menitipkan Kyuhyun di kediaman keluarga Choi. Mereka tidak mungkin meninggalkan putra mereka sendiri di rumah.
Hotel mewah nan megah itu tampak lebih ramai. Tentu saja, karna salah seorang konglomerat Korea Selatan sedang menyewa ballroom berkapasitas 3000 orang untuk acara pertunangan anaknya.
Siwon dan Kibum disambut dengan sangat baik. Siwon menunjukkan undangan yang dikirimkan temannya lewat email. Dan tak lama mereka sudah berada dalam lift menuju lantai lima tempat acara itu diadakan, sesuai dengan arahan yang diberikan sang resepsionis.
Ruangan besar itu sudah ramai dengan tamu – tamu undangan. Sedikit banyak Siwon mengenal beberapa dari mereka. Entah itu mereka yang pernah terlibat hubungan kerja atau hanya saling kenal lewat media. Berbeda dengan Kibum yang tak terlalu mengenal orang – orang yang ada di sana, mungkin hanya sebatas tau.
Kibum yang malam itu datang dengan mengenakan long dress tanpa lengan berwarna pitch dengan belahan hingga paha, memamerkan kaki jenjangnya, dan juga belahan pada punggungnya hingga mengekspos punggung indahnya, tampak begitu cantik dan anggun. Jangan lupakan hiasan yang melekat pada dirinya yang menambah kesan berkelas pada dirinya. Saat tiba tadi mereka sempat menjadi pusat perhatian. Tentu saja karna mereka tampak begitu sempurna, Kibum yang cantik menggamit lengah kekar Siwon yang mengenakan setelan tuxedo lengkap. Tampak seperti pasangan Barbie dan Ken.
Mereka berjalan perlahan menyusuri ruangan besar itu guna mencari pemilik acara. Tak jarang langkah mereka terhenti sekedar untuk menyapa tamu lain yang Siwon kenal. Meskipun Kibum tak begitu mengerti siapa – siapa saja yang suaminya sapa namun Kibum tetap ikut menyapa mereka dengan ramahnya.
Saat sedang asik berbincang, sebuah tepukan ringan di bahu kanan Siwon membuatnya reflek berbalik, melihat siapa yang sedang berusaha menyapanya.
"Yesung Hyung."
Siwon berseru senang setelah tau siapa yang menepuk bahunya.
Kim Yesung adalah orang yang coba dicari oleh Siwon, orang yang mengirim undangan padanya, pemilik acara ini, dan tentu saja bintang pada malam ini. Siwon dan Yesung saling mengenal dan memutuskan berteman karna mereka ada dalam satu club golf. Yesung memang lebih tua dari Siwon, mungkin itu salah satu alasan yang membuat mereka cocok satu sama lain dan akhirnya berteman.
"Aku mencarimu, hyung. Tamumu banyak sekali, aku sampai kerepotan mencarimu."
"Orang tua kami yang mengundang mereka. Awalnya kami hanya mengundang teman – teman dan kerabat saja. Tapi ya beginilah. Dan kau datang dengan…?"
"Eoh, aku datang dengan Choi Kibum, istriku."
Kini focus Yesung berpindah pada yeoja cantik yang berdiri di samping Siwon sambil menggandeng lengan Siwon. Meskipun mereka sudah cukup lama mengenal tapi Yesung sama sekali belum pernah bertemu dengan istri Siwon. Perbedaan profesi yang membuat Yesung tak pernah bertemu Siwon beserta istrinya. Ya, Yesung bukanlah salah seorang pengusaha atau anak seorang pengusaha seperti Siwon. Yesung adalah seorang pengacara yang terlahir di keluarga pengacara juga. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, kan?
Tanpa sadar manik kembar Yesung membulat saat dia memperhatikan Kibum. Ketika melihat Kibum, Yesung seperti sedang melihat seseorang.
"Annyeonghasimnika, Kibum imnida. Selamat untuk pertunanganmu, Yesung-ssi."
"Ne, gamsahamnida, Kibum-ssi."
Yesung masih memperhatikan Kibum. Penglihatannya masih sehat, jadi tak mungkin dia salah lihat.
Kibum tampak membisikkan sesuatu pada Siwon.
"Apa perlu aku antar?"
"Tak perlu. Kau di sini saja. Aku akan segera kembali."
"Baiklah."
Kibum beralih menatap Yesung dengan senyum yang Yesung akui dalam hati jika senyum itu sangat manis.
"Saya permisi sebentar, Yesung-ssi."
Dan hanya dibalas dengan anggukan oleh namja bermata sipit itu.
Dengan anggunnya Kibum berjalan meninggalkan kedua namja itu. Langkahnya tidak mulus karna beberapa kali dia harus menghindari para tamu yang datang.
Mata sabit Yesung masih saja memperhatikan Kibum hingga…
"ehem! Kau sedang memperhatikan istri orang di depan suaminya, hyung. Aku hanya memperingatkan, aku tak ingin merusak malam bahagiamu ini. Kau tak ingin acara tunanganmu batal malam ini juga, kan hyung?"
Bukannya tak tau, Siwon sangat tau jika namja di depannya itu terus saja memperhatikan istrinya. Meskipun bisa dibilang mereka cukup dekat, tapi tetap saja dia tak suka namja manapun memperhatikan istrinya hingga seperti itu.
"Ah mianhae, Siwon-ah."
Yesung terlihat salah tingkah. Dia menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal untuk menutupi gugupnya.
"Aku tau dia cantik, tapi dia milikku. Jangan menatapnya seperti itu. Aku tak suka, hyung."
"Iya iya, maafkan aku. Kau tenang saja hatiku sudah terkunci pada wanitaku."
"Lalu?"
"Hanya saja dia mirip seseorang. Apa dia punya saudara? Kembaran mungkin?"
"Tidak. Kibumie hanya punya aku dan putra kami. Waeyo?"
Siwon mulai tertarik dengan pembicaraan mereka. Dia tau persis siapa Kibum. Istrinya adalah seorang anak tunggal dan sebatang kara. Jadi Kibum tak punya saudara apa lagi kembaran.
"Kau tau, istrimu itu sangat mirip dengan – "
"Oppa!"
Belum juga Yesung selesai dengan kalimatnya, seorang yeoja terlebih dulu datang bergelayut pada lengan Yesung.
"Baby? Kau dari mana? Oppa mencarimu."
"Yang benar saja. Aku yang mencari oppa. Oppa sama sekali tidak menyelamatkan ku dari Kim eomma. Huh."
"Baiklah, oppa minta maaf. Sudah jangan cemberut begitu. Eoh, kenalkan ini teman oppa, Choi Siwon. Siwon-ah, dialah wanita yang telah mengunci hatiku."
Yesung memperkenalkan wanita itu – yang ternyata tunangannya – pada Siwon dan dengan wajah merona wanita itu membalas uluran tangan Siwon.
"Choi Siwon imnida."
"Jung Ryeowook imnida."
Jung Ryeowook adalah yeoja yang telah mengunci hati seorang Kim Yesung. Dia adalah sulung dari keluarga Jung, pemilik perusahaan konstruksi besar di Korea
"Selamat untuk pertunanganmu, ryeowook-ssi."
"Gamsahamnida, Siwon-ssi. Anda datang sendiri?"
"Tidak. Saya datang dengan istri saya. Dia sedang ke toilet sebentar."
"Eoh, begitu ya."
Ketiganya tampak asik berbincang hingga seorang pelayan menghampiri mereka.
"Maaf nona Jung, Tuan Jung memanggil anda dan tuan muda Kim. Beliau ada di sisi kanan panggung."
"Terimakasih. Kami akan ke sana."
Bukan Ryeowook yang menjawab, melainkan Yesung. Ryeowook sendiri sudah memasang tampang bosannya. Ini bukan pertama kalinya orang tua mereka memanggil mereka sejak acara dimulai. Para orang tua tentu saja ingin memamerkan anak beserta calon menantunya pada para kolega bisnisnya.
"Siwon-ah, maaf kami harus meninggalkanmu."
Sebenarnya Yesung merasa tak enak pada Siwon. Mereka baru sebentar berbincang tapi Yesung harus meninggalkan Siwon untuk sekedar menyapa tamu yang lain.
"Tak apa, hyung. Aku mengerti. Sudah sana, jadilah menantu yang baik."
Siwon terkekeh.
"Sekali lagi maafkan kami. Silakan nikmati acaranya, Siwon-ssi. Kami permisi."
Sepasang sejoli yang tengah berbahagia itu pergi meninggalkan Siwon. Namja Choi itu sangat maklum dengan situasi yang dihadapi temannya itu. Dia jadi teringat ketika acara resepsinya dengan Kibum dulu. Kibum? Yeoja mempesona itu belum juga kembali sejak dia berpamitan tadi.
'Kenapa Kibumie lama sekali.'
Siwon bermaksud menyusul Kibum namun belum jauh, mata elangnya menangkap sosok Kibum yang sedang berjalan ke arahnya. Tapi…ada yang berbeda. Istrinya itu memang berkulit seputih salju bukannya pucat seperti yang saat ini Siwon lihat.
"Maaf membuatmu menunggu lama. Yesung-ssi eodiga?"
Nampaknya Kibum tak sadar dengan tatapan cemas yang suaminya berikan.
"Kau baik – baik saja, sayang? Kau cukup lama di toilet. Aku khawatir makanya aku akan menyusulmu."
Bukannya menjawab, Siwon malah mengutarakan kecemasannya.
"Eum.. toiletnya cukup ramai jadi aku harus mengantri."
"Benarkah? Tapi kau terlihat pucat, sayang. Apa kau sakit?"
"I'm fine, Siwonie. Geogjeonghajima."
Merasa tak puas dengan jawaban Kibum, Siwonpun meraih tangan Kibum sedang tangannya yang lain menyentuh kening lalu beralih pada pipi Kibum. Tidak panas, hanya saja dingin. Begitu juga dengan tangannya. Kibum berkeringat dingin dan sedang menahan sakit. Setidaknya itu yang disimpulkan Siwon.
"Aku tidak yakin kau baik – baik saja. Kita pulang sekarang, Kibumie."
"Tapi acaranya belum selesai. Aku baik – baik saja, sungguh."
"Tidak, Kibumie. Aku mohon."
Kibum menangkap rasa khawatir dari manik Siwon, hingga dia menganggukkan kepala menerima ajakkan Siwon.
Siwon dengan hati – hati membimbing Kibum keluar dari ruangan besar yang penuh dengan orang. Sampai di depan mobil mereka, Siwon mendudukkan Kibum di bangku samping kemudi.
"Aku merasa tak enak dengan Yesung-ssi. Kita pergi begitu saja."
Kibum langsung bersuara begitu Siwon duduk di sampingnya. Meskipun dengan mata tertutup namun Kibum tau jika suaminya itu sudah siap di bangku kemudi.
"Kau tenang saja, nanti aku akan menghubungi Yesung hyung dan menjelaskan keadaan kita. Kibumie, di mana yang sakit, sayang?"
"Kepalaku sakit sekali, Siwonie."
Lirih Kibum. Siwon masih bisa mendengarnya dengan jelas. Siwon melihat Kibum memejamkan mata begitu erat seperti menahan sakit yang amat sangat. Tak tahan melihat Kibum yang seperti itu Siwonpun membawa Kibum dalam pelukkannya. Mengusap kepalanya sambil sesekali mencium pelipisnya.
"Kita ke rumah sakit saja."
"piryo eobso. Just take Kyuhyunie and we're home."
Suara Kibum terdengar lemah.
"Are you sure we don't need to go to hospital, sweetheart?"
Kibum menggeleng dalam pelukan Siwon. Namja tampan itu hanya bisa menghela nafas pasrah. Istrinya tidak suka dipaksa.
"Baiklah, kita langsung pulang saja."
"Lalu Kyuhyun?"
"Biarkan bersama eomma dulu. Nanti aku akan menelpon eomma dan menjemput Kyuhyun besok pagi. Sekarang jangan pikirkan apapun. Istirahat saja, arrachi?"
"Eum."
Siwon merasakan anggukan dari wanita yang sedang dia peluk. Pelukan itu semakin erat dan diakhiri dengan kecupan hangat di kening Kibum. Siwon memposisikan kepala Kibum agar terasa nyaman.
'Aku mohon bertahanlah, sayang.'
Dan mobil yang Siwon kendarai melaju meninggalkan bangunan mewah hotel berbintang itu.
Sementara itu, acara pesta pertunangan yang Siwon hadiri tadi masih berlanjut, hanya saja sepasang sejoli yang sedang berbahagia itu memilih memisahkan diri dari kerumanan para tamu undangan yang lebih didominasi oleh rekan – rekan orang tua mereka.
Yesung dan Ryeowook sedang menikmati waktu mereka berdua. Yesung memposisikan dirinya di belakang wanitanya. Meletakkan dagunya di bahu sempit itu. Sesekali mencuri kecupan di pipi halus sang wanita. Mereka tengah menikmati pemandangan malam kota Seoul dari balkon hotel tempat acara mereka diadakan.
"Baby."
"Heum?"
"Aku sedang penasaran akan sesuatu."
"Apa itu, oppa?"
"Apa kau punya saudara lain selain adikmu? Atau adikmu kembar, mungkin?"
Wanita mungil itu otomatis memalingkan wajahnya pada Yesung dengan alis yang berkerut. Ryeowook tampak bingung dengan pertanyaan tunangannya itu. Lagipula bukankah tunangan tampannya sudah sangat tau tentang keluarganya, lalu kenapa masih bertanya. Pikir Ryeowook bingung.
Cup
Jarak mereka terlalu dekat hingga Yesung bisa dengan mudahnya mencuri kecupan di bibir Ryeowook. Bagi Yesung ekspresi tunangannya itu sangat menggemaskan.
"Jawab saja, baby."
"Maksud oppa ini apa? Oppa 'kan sudah sangat tau tentang keluargaku. Appa dan eomma hanya punya dua anak, aku dan adikku. Lalu adikku juga tidak kembar. Aku tidak sanggup jika punya dua adik seperti dia. Aku bisa gila."
"Hey, kenapa bicara seperti itu tentang adikmu sendiri. Tidak baik, baby."
"Biar saja. Aku masih kesal padanya. Dia tidak menyayangiku. Jika dia sayang pada kakaknya seharusnya sekarang dia berada di sini bersama kita. Bukannya malah sibuk dengan semua perkamen dan cetak birunya. Menyebalkan."
Si sulung Jung yang sedang kesal pun mempoutkan bibir tipisnya. Membuat Yesung yang berada tepat di depannya menjadi tidak tahan untuk sekedar mengecupnya.
Cup
"Oppa! Aku ini sedang kesal. Sekali lagi kau berani mencuri ciumanku, aku akan benar – benar marah padamu."
Bukannya takut, Yesung malah terkekeh. Tentu saja, kekasihnya itu justru terlihat menggemaskan.
"Ish.. berhenti tertawa, oppa. Lagipula kenapa oppa bertanya seperti itu?"
Ryeowook melepaskan pelukkan hangat Yesung dan menghadapkan tubuh mungilnya pada tubuh tegap kekasihnya. Matanya menatap Yesung penuh tanda tanya juga selidik.
Ddrrtt ddrrrtt
Satu pesan diterima oleh ponsel canggih milik Yesung. Menginterupsi pembicaraan mereka berdua yang belum selesai.
Kening Yesung sempat berkerut ketika membaca pesan tersebut namun tak lama Yesung mengetik sesuatu pada ponselnya dan sedikit tersenyum. Tak pelak membuat Ryeowook curiga.
"Nugu?"
"Siwon. Temanku di tempat club golf, yang tadi ku kenalkan padamu, masih ingat? Dia pamit pulang lebih dulu karna istrinya sakit."
Yesung menyerahkan ponselnya pada Ryeowook karna merasa tunangannya belum puas dengan jawaban yang dia berikan. Tak lama ponsel itu sudah kembali pada pemiliknya tanpa ada suara dari Ryeowook. Dengan cepat Yesung menyimpan kembali benda kotak pipih itu di saku dalam jasnya. Yesung kembali memeluk wanitanya, karna Yesung merasa mood Ryeowook berubah.
"Hei, kau kenapa, baby? Kau lelah? Kenapa cemberut begitu, eum?"
Yesung sadar acara yang mereka adakan memang menguras tenaga.
"Aniya. Hanya saja oppa belum menjawab pertanyaanku. Kenapa oppa tiba – tiba membicarakan adikku? Oppa, sebentar lagi kita akan menikah. Aku ingin tidak ada rahasia lagi. Katakana saja sekarang. Aku tak apa."
Pelukan Ryeowook semakin erat. Sebenarnya Ryeowook harap – harap cemas dengan jawaban yang akan dia dapatkan. Wajar, kan jika kita meminta pasangan kita mengungkap rahasia hidupnya sebelum pernikahan?
"Sayang, kau ini bicara apa? Kau tau semuanya. Aku tak bisa sembunyikan apapun darimu. Aku mohon jangan ragukan oppa, chagiya."
"Lalu kenapa, oppa?"
"Jika oppa bilang adikmu mirip dengan istri Choi Siwon apa kau akan percaya?"
"Mwo?"
Yeoja yang tingginya tak lebih dari dada Yesung itupun berseru terkejut dan reflek melepaskan pelukkannya. Memandang Yesung dengan tatapan penuh tanya dan tak mengerti.
Dengan cepat Yesung merogoh sakunya, mengambil ponselnya. Ryeowook sempat bingung dengan yang dilakukan tunangannya, lalu ikut memfokuskan manik karamelnya pada ponsel Yesung. Ternyata namja tampan itu sedang berselancar di dunia maya, membuka salah satu akun social medianya. Yesung membuka daftar temannya dan mengetik sebuah nama pada kolom pencari. Tak lama layar ponsel itu menampilakan "Siwon Choi" sebagai hasil dari pencarian lengkap dengan foto profilnya.
Tak lama mereka kembali dikejutkan dengan apa yang mereka lihat. Sebuah foto postingan lama, seorang namja yang mereka ketahui adalah Siwon dengan seorang wanita cantik. Dalam foto itu tertulis "with my lovely wife".
"Oppa, ini tidak mungkin."
Di sebuah kamar besar tampak Siwon sedang duduk di pinggir ranjang king size. Dia tidak melakukan apa – apa. Hanya duduk sambil memperhatikan sosok yang sedang terlelap yang selalu menemani tidurnya.
Ya, Siwon dan Kibum sudah sampai rumah tiga puluh menit yang lalu. Tadi, begitu mereka sampai Siwon langsung membawa Kibum ke kamar mereka. Kibum sempat meminta Siwon mengambilkan obatnya karna Siwon bersikeras melarang Kibum turun dari ranjang. Siwon tau obat apa yang dimaksud istrinya meskipun Kibum mencoba menjelaskannya. Tak perlu diminta dua kali, Siwonpun melesat mengambil obat yang dimaksud. Walaupun Siwon masih tak tau obat apa itu, tapi setidaknya Siwon tau obat itu digunakan istrinya untuk saat seperti ini. Dan setelah menenggak dua butir obat tersebut, Kibum berangsur tenang dan perlahan terlelap. Sejak saat itu Siwon belum berpindah dari samping Kibum.
Sebenarnya tadi Kibum baik – baik saja, sampai saat dia akan kembali dari toilet tiba – tiba kepalanya kembali terasa dihujami ribuan jarum tak kasat mata. Dan sialnya, obat yang diberikan Donghae tertinggal di lemari obat. Mati – matian Kibum berusaha terlihat baik – baik saja. Dia sudah terlalu lama meninggalkan Siwon. Dia takut Siwon menyusulnya dan mengkhatirkannya, walaupun pada akhirnya suami tampannya tetap menaruh kekhawtiran padanya.
Siwon masih di sana. Memperhatikan paras ayu sang istri yang asik terlelap. Siwon baru sadar jika pipi istrinya tak segembil dulu. Siwon suka sekali memainkan pipi Kibum jika sedang gemas. Tapi sekarang…
Siwon menggenggam tangan Kibum, sebelah tangannya meraih pipi yang tampak menirus. Membelainya pelan agar tak mengganggu istrinya.
"Apa kau seperti ini karna aku, sayang? Aku mohon maafkan aku. Padahal aku sudah bersumpah akan membahagiakanmu tapi aku malah membuatmu seperti ini. Maukah kau menungguku, Kibumie? Aku hanya sedang tersesat dan bingung. Tunggulah aku. Aku mohon tunggu aku, Kibumie."
Tak terasa setetes air turun dari manik Siwon. Namja berbadan atletis itu bersungguh – sungguh dengan monolognya sendiri. Mencium tangan Kibum sebelum beranjak ke kamar mandi membersihkan diri. Siwon tak pernah tau jika dalam tidur istrinya juga ikut berair mata.
T B C
Apa kabar?
Saya akan mengawali cuap2 saya dengan maaf.
Maaf menunggu lama, maaf juga karna cerita chap ini pendek heheheee *bow
Sebenernya chap ini uda ready sejak lama tapi pas saya mau post ternyata ffn nya ga bisa dibuka, dan cukup bikin saya frustasi. =_=
Btw, saya bawa YeWook lhoooo tapi maaf mereka cuma jadi cameo. Saya pengen kasih clue lewat mereka. Adakah yang sadar ada clue di sana? Silakan readerdeul tebak sendiri hohooo.
Ceritanya makin kaya sinetron ya..rasanya saya pengen cepet2 ngelarin ni crita biar ga makin mirip sinetron. Semoga readerdeul sabar menanti.
Oiya, makasi banget buat respon oneshot gagal saya (first interview). Awalnya itu mau jadi drable aja tapi pas uda ditulis lhoh kok malah jadi panjang =_= maka jadilah oneshot, dan gagal hahaa
Untuk critanya sendiri emang sengaja saya bikin nggantung tapi kayanya saya mulai terpengaruh buat bikin sibum jadi pasangan dech..tapi ga bisa janji juga. Just pray for me.
Sekali lagi makasi yang uda baca, buat yang uda nyempetin ngisi kolom review di fict saya.
Semoga fict saya bisa menghibur readerdeul, apalagi yang lagi ngegalauin Sungmin. Kita doakan saja yang terbaik buat dia, buat super junior, buat Kyuhyun juga *apadechini =_=
Well, saya kembali mempersilakan readerdeul buat ngisi lagi kolom review di chap ini. Semoga kalian ga bosen dan setia menunggu.
Many many many thankyuuuu *_*
