SiBum

(Siwon-Kibum)

Kyuhyun as SiBum's son

Donghae

Tiffany

ps: i have re-edit and re-read, but if u still find typo,im so sorry. if u feel this fict is really borring, just leave.

.

.

Happy Reading

.

.

.

Minggu keempat

Siang itu Siwon sama sekali tak fokus pada pekerjaannya. Sebenarnya sudah sejak pagi tadi. Pagi tadi sebelum dia berangkat ke kantor, istrinya masih terlihat pucat dan lemah. Sejak dua hari yang lalu, sejak Siwon mendapati sendiri istrinya kesakitan, Kibum – sang istri – belum terlihat pulih. Ditambah Kibum yang tak mau dibawa ke rumah sakit semakin membuat namja satu anak itu tak bisa tenang.

Saat ini Siwon sedang berpikir keras bagaimana caranya membawa Kibum ke rumah sakit atau paling tidak membuat wanita mempesona itu mau mengatakan sakitnya pada Siwon. Lama Siwon berpikir hingga tiba – tiba dia teringat sesuatu. Dia segera meraih ponselnya dan langsung membuka gallery foto. Dia ingat, dia pernah mengambil gambar botol obat Kibum. Jika Kibum tak mau mengatakan apa – apa maka dia sendirilah yang harus mencari tahu.

Siwon sedang bersiap pergi ketika seseorang memasuki ruangannya.

"Oppa, kau akan pergi?"

"Ne. aku harus pergi, Tiff. Letak saja dokumennya di mejaku, akan aku persiksa besok."

"Apa kau akan kembali?"

"Tidak. Aku akan langsung pulang. Tolong kau atur ulang jadwalku."

Blam

Tak banyak kata lagi, Siwon langsung pergi. Namja itu tak ingin membuang waktu dan ingin segera mencari tahu. Sedang Tiffany, yeoja itu masih diam di ruangan Siwon. Dia harus kebal menghadapi sikap namjachingunya. Ya, dia masih menganggap Siwon sebagai kekasihnya. Tiffany tahu Siwon tak akan kembali ke kantor. Tapi dia yakin namja itu pasti kembali pada istrinya. Pemikirannya membuat dirinya menggeram tertahan.

.

.

.

Siwon pov

Haaaaahh~

Sepertinya aku sudah hampir mengelilingi separuh kota tapi belum juga mendapatkan informasi apapun. Hampir setiap apotek aku masuki tapi tak satupun dari mereka tahu obat apa yang dikonsumsi Kibum selama ini. Dan ini adalah apotek kesekian yang aku datangi.

Ku parkirkan mobilku dan bergegas masuk ke apotek itu dengan membawa harapanku.

"Ada yang bisa saya bantu, tuan?"

"Saya ingin mencari obat ini."

Ku tunjukkan gambar botol obat Kibum yang pernah aku ambil beberapa hari yang lalu. Pelayan itu tampak sedang berpikir sambil memperhatikan gambar itu. Ekspresi yang selalu aku lihat, setidaknya sejak dua jam terakhir.

"Maaf, tuan, kami tidak menjual obat ini."

Astaga, aku gagal lagi.

"Sebenarnya apotek anda adalah apotek kesekian yang saya kunjungi untuk mencari obat ini. Tapi mereka memberikan jawaban yang sama dengan anda. Setidaknya beritahu saya obat apa ini dan di mana saya bisa mendapatkannya."

Aku yakin pelayan ini menangkap nada frustasi dari kata – kataku.

"Yang anda cari ini bukan obat sembarangan, tuan. Untuk mendapatkannya anda harus memiliki resep dari dokter. Dan obat ini hanya ada di apotek rumah sakit. Untuk kegunaan obat ini saya tidak terlalu paham. Sepertinya ini semacam obat pereda rasa sakit pada penyakit tertentu. Hanya itu yang saya ketahui, tuan. Maaf kami tidak dapat banyak membantu."

"Tidak apa – apa. Saya sangat berterimakasih atas informasi yang anda berikan. Saya permisi."

Jadi obat ini memang tidak dijual di apotek, pantas saja hampir seluruh apotek ku kunjungi tak ada satupun yang tahu obat ini. Sekarang berpikirlah Choi Siwon, di mana Kibum bisa mendapatkan obat ini.

Seoul Hospital. Benar. Kibum tidak akan pergi ke rumah sakit lain selain ke sana.

Aku segera memacu mobilku menuju rumah sakit yang pasti di kunjungi Kibum. Entah kenapa aku merasa begitu bersemangat. Jujur saja, aku sangat mengkhawatirkan istriku. Sepuluh tahun aku bersamanya membuat ku hafal tentang dirinya, di luar kepala.

.

.

.

"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"

Begitu sampai aku langsung menuju ke bagian farmasi dan salah seorang petugas segera melayani ku.

"Di sini apa saya bisa mendapatkan obat ini, agassi?"

Untuk kesekian kalinya ku tunjukkan gambar botol obat Kibum, dan petugas itu mengangguk.

"Nde. Hajiman, apa anda memiliki resepnya? Karna obat itu harus dengan resep dokter."

"Eum.. begini, istriku sedang sakit jadi dia meminta tolong padaku untuk membelikan obat ini. Saya sudah mencarinya di setiap apotek tapi mereka bilang obat ini hanya bisa didapat di apotek rumah sakit. Dan sayang sekali saya tak punya resepnya. Apa anda bisa memberi saya informasi siapa dokter yang harus saya datangi untuk mendapatkan resep itu?"

Yah, katakanlah aku sedikit mengeluh pada petugas itu.

"Apa istri anda pernah menjadi pasien di sini?"

"Nde. Nama istri saya Choi Kibum."

"Kami akan memeriksa pada data base kami. Mohon ditunggu sebentar."

Bagus. Dengan begini aku bisa tahu siapa dokter yang menangani Kibum. Kerja bagus, Choi Siwon!

"Nyonya Choi Kibum terdaftar sebagai pasien dokter Lee Donghae. Anda bisa menemui beliau di bagian spesialis penyakit dalam, tuan."

Lee Donghae? Sudah ku duga, pasti ada yang disembunyikan oleh namja ikan itu.

"Baiklah, terimakasih atas informasi yang anda berikan, agassi."

Lee Donghae, kau harus menjelaskan pada ku! Tapi… penyakit dalam? Berarti Kibum terdaftar sebagai pasien penyakit dalam? Ya Tuhan, sebenarnya istriku sakit apa?

.

.

.

"Permisi, apa saya bisa bertemu dokter Lee Donghae?"

Aku langsung bertanya pada seorang perawat yang sedang berjaga di lobi. Jujur saja aku merasa gugup. Bukan karna perawatnya. Bukan. Tapi karna aku akan bertemu dengan sahabat ku yang sudah lama tidak bertemu. Baiklah, itu berlebihan. Terakhir kali kami bertemu adalah ketika dia memukulku saat dia bersama istrinya dan juga Kibum melihat ku sedang bersama Tiffany.

"Maaf, dokter Lee sedang berkeliling memeriksa pasien. Boleh saya tahu siapa anda dan ada keperluan apa dengan dokter Lee?"

"Saya Choi Siwon, sahabat dokter Lee. Saya hanya sedang ada keperluan dengan dokter Lee. Eum.. boleh saya menunggunya saja?"

"Nde. Anda bisa menunggu di ruangan beliau. Ruangannya ada di sisi sebelah kanan pintu kedua."

"Aragaseumnida. Gamsahamnida."

Aku tak ingin menundanya maka aku memilih untuk menunggunya saja.

Aku berdiri di depan pintu dengan tulisan "LEE DONGHAE". Sudah pasti ini ruangan yang dimaksud oleh perawat tadi. Aku masuk ke dalam dan menunggu Donghae di sana. Ini adalah pertama kalinya aku masuk ruang kerja sahabatku sejak dia menjadi dokter. Kami memang sering bertemu, dulu. Tapi kami selalu bertemu di luar.

Ku dudukkan diriku di depan meja kerjanya. Ku perhatikan ruang kerjanya, tidak ada yang istimewa. Lalu fokusku jatuh pada figura di meja kerja itu. Potret keluarga bahagia, Donghae, Eunhyuk, dan Taemin yang sedang membawa kue ulang tahun dengan empat lilin di atasnya. Tanpa sadar aku terkekeh. Aku jadi ingat dengan meja kerjaku yang bahkan juga ku isi dengan satu figura kecil memanjang dengan tiga foto di dalamnya. Tentu saja foto istri dan anakku.

Ceklek

Pintu ruangan terbuka dan itu cukup untuk mengagetkan aku. Apa tidak bisa mengetuk dulu?

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Oh, tentu dia tak perlu mengetuk karna ruangan ini miliknya.

"Eoh, Donghae-ya, annyeong. Oremaniyeyo."

Astaga. Aku kan tidak mencuri tapi kenapa aku gugup begini. Donghae tak menjawab dia hanya menunjukkan wajah datarnya dan duduk di kursi kerjanya.

"Cepat katakan ada urusan apa kau datang kemari?"

Dulu dia adalah namja konyol dan bersahabat yang pernah ku miliki. Aku sadar kenapa dia bersikap dingin pada ku. Pertemuan terakhir kami kurang mengenakkan. Aku sedang tidak ingin mengingatnya. Jujur saja, aku malu. Baiklah, sepertinya Donghae sedang tidak ingin berbasa basi.

"Ini tentang Kibum. Aku yakin kau pasti tahu sesuatu tentang istriku."

"Siapa yang kau maksud istrimu? Kibum? Kau masih menyebut dirimu suami Kibum setelah kau mengajukan talak padanya? Huh lucu sekali, tuan Choi."

"Cukup katakan yang kau tahu, Donghae-ya."

Sabar, aku harus sabar.

"Memang apa urusanmu? Kenapa aku harus memberitahu mu?"

"Karna aku masih suaminya, Lee Donghae. Jadi aku berhak tahu, dan Kibum masih menjadi tanggung jawabku."

"Jadi hanya karna tanggung jawab? Kau tidak perlu bertanggung jawab atas Kibum. Lagipula kemana saja kau selama ini? Kenapa baru sekarang? Setelah semua yang kau lakukan padanya, kau masih berani menyebut dirimu berhak atas dirinya?! Brengsek kau, Choi!"

Kejadiannya begitu cepat. Tiba – tiba dia sudah menarik kerah kemejaku dan menghempaskan ku seiring dengan makiannya. Kami sama – sama terbawa emosi. Aku memang seperti lelaki brengsek tak tahu diri. Lalu apa yang harus aku lakukan? Bayangan Kibum menjajah seluruh perhatianku.

"Pergilah. Aku tak bisa memberitahu mu."

"Donghae-ya"

"Aku mohon. Sebelum aku benar – benar menghajarmu seperti tempo hari."

Aku tahu tak ada gunanya memaksa sahabatku ini. Aku tak ingin membuat Kibum khawatir karna pulang dengan wajah babak belur.

"Baiklah, aku pergi. Tapi jika terjadi sesuatu dengan Kibum, aku akan mencarimu, dokter Lee."

Aku tidak bermaksud mengancamnya. Sungguh. Aku memang tidak tahu penyakit Kibum tapi aku tidak sepenuhnya gagal. Setidaknya aku tahu siapa yang harus aku mintai penjelasan jika terjadi sesuatu dengan kesehatan Kibum.

Ku langkahkan kaki ku ke arah pintu, sebelum aku berhasil membuka pintu aku mendengar Donghae berbicara dengan nada yang mengiba, mungkin?

"Saat ini kau memang tak tahu apa – apa. Meskipun hanya karna tanggung jawab, bisakah kau menjaganya? Jangan biarkan dia sendirian. Segera bawa dia kemari jika terjadi sesuatu padanya."

"Araseo."

Tanpa berbalik aku mengiyakan perkataannya, lalu benar – benar meninggalkan ruangan itu.

.

.

.

Haaahh~ yang kau lakukan sudah bagus, Siwon-ah. Meskipun kau tak tahu penyakit Kibum, kau hanya perlu menjaganya. Ya, benar.

Aku berusaha menghibur diri. Mungkin jika dokter itu bukan Donghae, aku sudah tahu semuanya. Tapi ini Donghae. Lee Donghae. Dia tak akan melupakan pertemuan terakhir kami, terlebih aku yakin dia sudah tahu semuanya. Dia pasti memaksa Kibum bercerita.

Tentang yang Donghae katakana tadi, aku akan melakukannya bahkan tanpa dia harus memintaya. Sebenarnya ini bukan tentang tanggung jawabku pada istriku. Bukan. Aku sendiri tak tahu kenapa alasan itu keluar dengan lancangya. Aku bersumpah aku sangat mengkhawatirkannya. Dan tanggung jawab adalah alasan kesekian yang bahkan tak terpikirkan olehku.

Haaaahh~

Entah kenapa hari ini aku merasa begitu lelah. Tentu saja, hampir seluruh apotek di distrik ini aku kunjungi.

Dddrrttt dddrrrttt dddrrrttt

Beloved Snow White is calling

Kibumie? Oh God, hambaMu ini tiba – tiba merindukannya. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa terjadi sesuatu?

"Yeoboseyo."

"…"

"Aku tidak sibuk. Kebetulan aku sedang di luar. Apa terjadi sesuatu, sayang?"

Dia tidak menjawab. Kenapa Kibumie diam saja. Membuatku semakin cemas.

"Chagiya, what's happened? Are you oke? Malhaebwa."

"…"

"Ne?! chagiya, bukankah aku memintamu istirahat di rumah? Lalu kenapa kau bisa ada di sana? Kau tidak mendengarku, eum?"

"…"

"Baiklah baiklah, nyonya. Tunggu aku dan jangan kemana – mana. Aku akan segera ke sana."

"…"

"Ne. Eum… I love you, yeobo."

"…"

Rasanya sudah lama aku tidak mengatakannya. Kira – kira kapan terakhir aku mengungkapkan cintaku padanya? Entahlah yang jelas sekarang aku berdebar hanya karna menyatakan cinta pada istriku sendiri. Rasanya seperti pertama kali aku mengatakannya. Tuhan, rasanya aku jatuh cinta lagi pada istriku.

Ah, kenapa malah membahas perasaanku. Aku harus bergegas karna Kibum sedang menugguku. Dia memintaku menjemputnya di supermarket dekat sekolah Kyuhyun karna mobilnya tiba – tiba mogok, padahal aku menyuruhnya istirahat di rumah. Ya begitulah Choi Kibum. Dia akan tetap dengan keinginannya meskipun aku melarang. Namun parahnya aku yang selalu kalah.

Well, nyonya Choi Kibum, aku segera datang.

Pov end

.

.

.

Agak canggung. Beitulah suasana dalam mobil Siwon. Di dalam Siwon dan Kibum tidak terlibat pembicaraan aktif. Mereka sibuk dengan pikiran mereka atau lebih tepatnya sibuk dengan perasaannya masing – masing. Jujur saja bagi Kibum, dia masih merasa berdebar setelah suaminya mengakhiri pembicaraan via telepon dengan ungkapan cinta yang Kibum sendiri tak begitu ingat kapan suaminya mengatakan kalimat itu padanya.

"Jadi jelaskan kenapa kau bisa berakhir di supermarket dengan begitu banyak belanjaan, nyonya Choi? Padahal suamimu menyuruhmu istirahat di rumah?"

Introgasi versi Siwon pun dimulai.

"Aku bosan di rumah, Siwonie. Lalu tiba – tiba aku rindu panti. Maka ku putuskan untuk berbelanja dulu sebelum ke sana. Sekalian menjemput Kyunie."

"Jadi setelah ini kau ingin ke panti asuhan?"

"Eum. Apa kau sibuk? Aku akan pergi dengan taksi saja jika kau sibuk. Dan Kyuhyun akan ikut bersamaku."

"Tidak. Aku akan ikut denganmu. Lagipula sudah lama aku tidak berkunjung ke sana."

"Benarkah? Gomawo, Siwonie."

Cup

Sebuah kecupan manis mendarat di pipi kanan Siwon. Ungkapan terimakasih dari Kibum karna suaminya sudah bersedia menemaninya berkunjung ke panti asuhan tempatnya dulu pernah tinggal.

Siwon sendiri juga merasa terkejut. Lagi – lagi dia merindukan tingkah istrinya yang seperti itu. Perlahan dia sadar ada banyak hal yang telah terlewatkan.

Suasana kembali canggung. Siwon yang sedang sibuk menyetir diam – diam melirik Kibum yang sedang tertunduk malu. Siwon terkekeh pelan, merasa lucu dengan sikap istrinya. Mereka sudah bersama sepuluh tahun tapi istrinya itu masih saja merasa malu jika bersikat manis pada diriya.

Siwon meraih tangan kiri Kibum. Membuat sang empunya bertemu pandang dengan manik tajam Siwon. Perlahan namja tampan itu memberi kecupan pada punggung tangan istrinya.

"Kau masih saja tidak berubah, sweetheart."

Satu kecupan lagi Siwon berikan, kali ini di kening istrinya.

"Ayo turun. Jagoan kita pasti sudah menunggu. Dia tidak suka menunggu terlalu lama, ingat?"

Seketika Kibum terperanjat, memperhatikan sekitar. Benar saja, mereka sudah sampai di depan sekolah Kyuhyun. Kibum tidak sadar jika mereka sudah sampai di sekolah Kyuhyun karna dia sedang sibuk menyembunyikan rasa malunya. Sedangkan Siwon, namja itu sudah turun dari mobil dan menghampiri buah hati mereka.

.

.

.

Bocah kecil itu sedang asik dengan PSPnya ketika teman – temannya ingin bergegas pulang. Dia tahu ibunya belum datang menjemput, maka dia akan menunggu di salah satu bangku taman halaman depan sekolah. Dua security berdiri di masing – masing sisi pintu gerbang. Memperhatikan murid yang mencoba pulang tanpa orang tua. Peraturan sekolah mengharuskan muridnya untuk menunggu di lingkungan sekolah jika belum ada yang menjemput. Dan Kyuhyun sudah sangat tahu tentang peraturan itu, maka dia lebih memilih duduk dan memainkan PSPnya.

Kyuhyun merasa baru sebentar memainkan benda persegi panjang itu ketika sebuah suara memanggil namanya.

"Baby Kyu, annyeong."

"Daddy!"

Kyuhyun cukup terkejut mengetahui siapa gerangan yang memanggil namanya. Seketika namja kecil itu menerjang tubuh tegap ayahnya. Siwon pun dengan sigap menangkap tubuh kecil jagoannya. Kyuhyun sempat bingung karna biasanya sang ibulah yang menjemput, tapi ini…

"Hai, jagoan."

Suara yang begitu familiar datang dari belakang punggung ayahnya. Sang pelaku menampakkan dirinya lengkap dengan senyum cantiknya.

"Mommy!"

Kyuhyun memekik girang. Bocah enam tahun itu sangat senang. Tentu saja, karna kedua orang tuanya datang menjemput. Ini sangat jarang mengingat betapa sibuknya Siwon.

"Apa sudah menunggu lama, sayang?"

"Eum… aniyo."

Sebenarnya jika mengingat Kyuhyun yang tidak suka menunggu, – bahkan sesebentar apapun – dia akan merajuk. Tapi siang itu dia terlalu senang hingga lupa dengan merajuknya.

"Baiklah, kalau begitu kita harus bergegas. Kajja."

Ketiganya berjalan meninggalkan lingkungan sekolah, menghampiri mobil Audy sedan milik Siwon dengan Kyuhyun masih di gendongan Siwon.

Dengan gantle sang namja dewasa membukakan pintu untuk Kibum, lalu mendudukkan Kyuhyun di pangkuan sang istri. Kyuhyun melayangkan tatapan penuh tanya pada ibunya. Biasanya dia akan duduk di belakang.

"Kyuhyunie duduk dengan mommy, oke."

"Why?"

Tidak menjawab, Kibum hanya memberi tanda agar sang putra melihat ke bangku belakang.

"Wow! Mommy belanja banyak sekali."

Jok belakang mobil itu memang terisi penuh dengan tas – tas belanja.

"Ne. itu karna kita akan ke panti asuhan."

"Really?"

"Eum."

"Asiiikk! Aku akan bermain dengan Eun Gyeol dan Eun Byul. Yeeeee!"

Kyuhyun tidak pernah menolak jika diajak berkunjung ke panti. Di sana dia sudah punya teman. Itu sebabnya dia akan sangat bersemangat.

Sepasang suami istri itu saling menatap dan melempar senyum. Ada perasaan lega sekaligus bangga pada buah hati mereka. Kyuhyun memiliki jiwa social yang cukup baik. Sejak kecil mereka sudah memberikan pengertian untuk berbagi dengan yang kurang beruntung. Bersyukur karna Kyuhyun mengerti dan tidak berontak.

Perjalanan mereka terasa begitu ramai dengan celoteh riang si kecil Choi. Namja kecil itu bercerita apa – apa saja yang dia alami di sekolahnya hari ini.

"Bagaimana dengan ujian hari ini? Matematika, kan? Apa kau kesulitan mengerjakannya?"

Benar. Hari ini adalah hari pertama ujian semester akhir di sekolah Kyuhyun. Diawali matematika di hari pertama, lalu bahasa Inggris di hari kedua dan diakhiri dengan pendidikan kewarganegaraan dan uji kemampuan diri di hari ketiga.

"Tidak, daddy. Kyunie yakin akan mendapat nilai sempurna pada mata pelajaran matematika."

"Lalu bagaimana dengan yang lainnya?"

"Daddy tenang saja. Aku pasti bisa jadi juara pertama. Heheee"

Semester lalu Kyuhyun juga menempati peringkat pertama. Kemampuan belajarnya sudah terlihat sejak dia masih balita. Maka kali ini dia yakin akan menjadi juara pertama lagi.

"Oiya, hari ini kelas Kyunie ada murid baru pindahan dari Jepang. Hari pertama di sekolah baru dia langsung ikut ujian."

"Wah benarkah? Yeoja namja?"

"Yeoja. Mommy tahu, dia seperti kelinci."

"Eh? Kenapa bisa?"

"Badannya gendut, giginya seperti kelinci dan dia mengikat rambutnya seperti telinga kelinci. Jadi semakin terlihat seperti kelinci 'kan, mom? Aku memanggilnya bunny. Hahahaaa"

Sepertinya sifat usil Choi kecil mulai kambuh.

"Sayang, kau tidak boleh seperti itu dengan temanmu. Lagipula dia kan masih baru. Kau justru harus beteman baik dengannya. Bagaimana jika dia marah Kyunie memanggilnya bunny? Bagaimana jika dia tak punya teman karna teman – teman yang lain mengejeknya? Dia pasti memiliki nama yang bagus."

Kyuhyun tertunduk mendengar nasihat Kibum.

"Namanya Lee Sungmin, mom. Kyunie tidak bermaksud membuatnya tidak punya teman. Hanya saja Kyunie rasa panggilan itu cocok untuknya."

Buah hati pasangan Siwon Kibum sepertinya sudah mulai belajar berargumen. Huhf.

"Eum.. bagaimana kalo Minnie? Tak apa kan jika aku memanggilnya Minnie?

"Minnie? Panggilan yang manis, baby."

"Baiklah, kalau begitu mulai besok Choi Kyuhyun akan menjadi teman baik Minnie."

Kedua orang tuanya hanya bisa terkekeh dengan tingkah Kyuhyun. Setelahnya, bocah cerdas itu bercerita tentang lebih banyak hal. Membuat satu jam perjalanan itu terasa begitu menyenangkan.

.

.

.

Mereka sudah sampai di sebuah panti asuhan di daerah pinggiran Seoul. Setibanya di sana mereka disambut dengan suka cita. Kyuhyun pun langsung bermain dengan si kembar Eun Gyeol dan Eun Byul. Sementara Siwon dan Kibum sibuk memindahkan belanjaan dari mobil dengan bantuan beberapa suster. Setelahnya mereka menuju ruangan suster kepala. Suster kepala sangat senang menerima kedatangan keluarga Choi. Mengingat KIbum adalah salah satu anak didik terbaiknya. Keduanya – Kibum dan suster kepala – larut dalam percakapan yang lebih tepat disebut nostalgia. Siwon yang merasa sudah 'tidak pada tempatnya' memilih meninggalkan mereka yang sedang melepas rindu dan berkeliling.

Siwon memperhatikan setiap ruangan yang dia lewati. Ada yang digunakan untuk belajar, bermain, membuat kerajinan atau hanya sekedar duduk – duduk saja. Dalam hati Siwon bersyukur dirinya hidup dengan sangat berkecukupan begitu juga dengan Kyuhyun. Sangat bersyukur karna putra semata wayangnya tak mengalami hidup seperti ibunya dulu. Ya, dulu Kibum tumbuh dan besar di sana dan Siwon tahu itu tak mudah. Tapi semua berakhir saat dirinya meminang Kibum.

Langkahnya terhenti pada sebuah ruangan. Melalu jendela kaca dia bisa melihat isi ruangan itu, banyak piala di dalamnya. "ruang prestasi" setidaknya itulah yang tertulis pada papan yang tergantung di pintu ruangan itu. Memasuki ruangan itu Siwon merasa kagum. Meskipun hidup mereka tidak lengkap namun mereka tetap memiliki semangat yang besar. Ruangan itu terisi dengan berbagai macam piala, mulai dari akademik hingga nonakademik. Semua tertata rapi. Tak hanya piala, di sana juga terpajang piagam juga medali. Siwon memperhatikan semua yang bisa tertangkap oleh manik tajamnya. Membuatnya merasa semakin kagum. Dia berharap putranya juga bisa sehebat mereka. Lalu langkahnya berhenti pada sebuah pigura ukuran sedang yang tergantug di salah satu sisi ruangan. Di dalam pigura itu ada sebuah piagam dengan nama istrinya menghiasi piagam itu. Siwon tahu piagam apa yang sedang dia lihat. Itu adalah piagam saat Kibum menjadi siswa terbaik ketika senior high school. Siwon ingat betul saat itu. Istrinya memang tak hanya cantik tapi juga cerdas.

"Anda di sini, tuan Choi."

Suster Han menyapa Siwon. Siwon kenal suster paruh baya itu. Suster Han adalah wali Kibum ketika istrinya masih di panti asuhan.

Suster Han tersenyum hangat. Siwon masih ingat dulu istrinya kerap kali menceritakan sosok hangat dan bijaksana itu. Maka tak khayal bila Kibum juga tertular sifat sang wali.

Siwon membalas sapaan suster Han dengan senyum jokernya. Sang suster mengikuti arah pandang Siwon.

"Kim Kibum. Setidaknya dulu kami memanggilnya begitu. Tapi sejak sepuluh tahun yang lalu kau datang menjemputnya. Dia sangat senang ketika kau menjadikannya bagian dari keluarga Choi. Dia anak yang baik. Dia pantas mendapatkan kebahagiaannya."

Siwon tersenyum lemah. Kebahagiaan? Benarkah dia sudah memberikannya untuk Kibum sesuai janjinya?

Dalam diam mereka menyusuri ruangan yang banyak terisi lambang prestasi anak – anak didik panti asuhan tersebut.

"Hwang Mi Young?"

Siwon menggumamkan sebuah nama – yang dia baca pada sebuah piagam – dan didengar oleh suster Han. Entah kenapa dia begitu familiar dengan foto anak perempuan berseragam senior high school pada piagam itu.

"Anda mengenalnya, Siwon-ssi."

Siwon tak mengerti. Ekspresinya menunjukkan kebingungan.

"Tiffany Hwang."

"Aaaa Tiffany ternyata."

"Kibum sangat menyayanginya. Dia sudah menganggap Tiffany seperti adiknya sendiri. Mereka sangat dekat. Tiffany selalu menjadikan Kibum panutan, semangatnya untuk menjadi seperti Kibum sangat besar. Tapi saya sempat khawatir karna saat itu yang saya lihat Tiffany lebih cenderung menjadikan Kibum sebagai obsesinya. Dia merasa harus bisa lebih dari Kibum. Tak jarang dia meminta apa yang dimiliki Kibum, meskipun itu adalah kesukaannya Kibum tetap memberikannya pada Tiffany. Karna Kibum merasa dia adalah seorang kakak maka dia harus mengalah."

Penjelasan suster Han cukup membuat Siwon menganga. Siwon tidak pernah tahu cerita ini meskipun Kibum bilang sudah menceritakan semuanya. Tiba – tiba sebuah pemikiran muncul di kepala Siwon.

'Ya Tuhan, jangan – jangan…'

"Tapi itu dulu, Siwon-ssi. Sekarang mereka sudah sama – sama dewasa dan memiliki kehidupan masing – masing. Sekarang mereka pasti semakin dekat setelah anda menerima Tiffany bekerja di perusahaan anda. Saya sangat berterimakasih."

"Saya hanya berusaha membantu, suster."

Sebenarnya Siwon merasa tak enak dengan suster Han. Karna kenyataannya tidak sama dengan yang diucapkan sang suster. Istrinya sudah tak pernah dekat lagi dengan Tiffany.

Akhirnya mereka meninggalkan ruangan itu dengan tetap melanjutkan obrolan ringan mereka.

.

.

.

Kibum duduk di bangku taman halaman belakang panti asuhan itu. Setelah berbincang denga suster kepala Kibum berniat mencari suaminya namun dia justru berakhir di taman itu ketika melihat gerombolan anak – anak bermain di sana. Dia duduk sambil memperhatikan mereka. Kyuhyun juga ada di antara mereka. Dia senang dengan interaksi putra semata wayangnya dengan anak – anak panti yang telah menjadi temannya bahkan sejak pertama Kyuhyun diajak ke sana.

"Sedang memperhatikan apa?"

Kibum berjengit kaget. Siwon mengejutkan dirinya. Namja tampan itu baru saja mengakhiri obrolannya dengan suster Han karna sang suster harus mengajar. Siwon melihat istrinya tengah duduk sendiri di bangku taman itu dan akhirnya menghapiri Kibum.

"Kau mengejutkan 'ku, Siwonie."

"Heheee benarkah? Kau bahkan juga tak tau aku di sini? Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?"

Kibum terkekeh. Entah kenapa Siwon terlihat kekanakan.

"Tidak ada. Aku hanya sedang memperhatika mereka."

Siwon mengikuti arah pandang Kibum.

"Kau tau, Kibumie, kadang aku merasa sangat bersyukur karna putra kita memiliki apa yang tidak mereka miliki. Aku juga bangga karna jagoan kita mengerti untuk berbagi. Aku sangat berterima kasih padamu yang telah menyempurnakan hidup Kyuhyun juga hidupku."

Siwon meremas lembut tangan Kibum. Mereka saling bertukar pandang, melempar senyum satu sama lain. Namun senyum Kibum terasa berbeda.

'Tapi maafkan aku, Siwonie. Mungkin setelah ini hidup kalian tidak terasa sempurna lagi.'

Mereka masih saling menatap hingga suara keributan – yang berasal dari anak – anak yang sedang bermain – mengganggu momen mereka. Dari tempat mereka duduk terlihat dua anak sedang bertengkar berebut mainan. Tak ingin pertengkaran semakin besar maka mereka menghampiri anak – anak itu.

"Anak – anak, ada apa ini? Kenapa bertengkar?"

Siwon bertanya sambil memegang salah satu anak yang bertengkar, sedang yang lainnya dipegang Kibum.

"Eun Gyeol dan Yeon Sang berebut PSP, dad."

"Dia curang. Dia tidak mau gantian." – Yeon Sang

"Aku tidak curang. Bukankah kita sudah sepakat yang kalah akan gantian. Tapi aku belum kalah, ahjushi." – Eun Gyeol.

Baiklah, Siwon mulai merasa bingung. Kedua anak itu sama – sama tak mau mengalah. Apa jika Kyuhyun punya adik juga akan bertengkar seperti ini? Aish,, apa yang kau pikirkan, Choi Siwon?!

"Hei, dengar anak – anak, sesama saudara harus saling menyayangi, tidak boleh bertengkar dan harus mau mengalah satu sama lain. Dengan saudara harus saling menjaga dan menghargai. Begitu kan yang diajarkan para suster?"

Kibum mencoba memberi pengertian dan mereka mengangguk, setuju dengan yang dikatakan Kibum.

"Nach, bagaimana kalau peraturannya kita ganti saja? Setiap anak yang bermain PSP hanya boleh memainkan satu kali saja, tak peduli dia kalah atau menang tetap harus dioper pada anak yang lain. Jika gilirannya sudah habis maka akan kembali pada anak pertama, bagaimana? Jadi semuanya bisa ikut bermain, eum?"

Siwon kagum pada sosok malaikat di diri istrinya. Kibum bisa dengan tenangnya menghadapi mereka. Oh ayolah Choi Siwon, Kibum adalah seorang ibu, naluri keibuannya bekerja dengan sangat baik. Tak ada protes dari anak – anak dengan usulan Kibum, membuat Siwon berkali lipat mengagumi sosok istrinya.

"Baiklah, masalahnya sudah beres, sekarang saling meminta maaf dan bersalaman. Ingat yang diajarkan para suster, kan?"

Akhirnya kedua bocah itu berjabat tangan dan saling meminta maaf. Masalah terselesaikan dan mereka berjanji tak akan bertengkar lagi.

"Daddy."

Tiba – tiba Kyuhyun menggoyangkan tangan ayahnya, membuat Siwon otomatis berjongkok agar tinggi mereka sama.

"Ada apa, sayang?"

"Dad, boleh tidak ini Kyunie berikan untuk mereka?"

Kyuhyun menunjuk barang kesayangannya – PSP – yang tengah dia genggam. Ya, si kecil Choi berencana melepas PSP kesayangannya untuk teman – teman pantinya. Hal itu membuat kedua orang tua di sana tersenyum penuh arti.

"Kau yakin? Bukankah itu PSP favorit mu?"

"Eum… iya, Kyunie yakin."

Siwon dan Kibum terkekeh melihat tingkah Kyuhyun yang sebenarnya masih enggan melepas mainannya.

"Baiklah, jika uri Kyunie sudah yakin, kau boleh memberikannya untuk mereka."

Setelah mendapat ijin dari ayahnya Kyuhyun memberikan mainan itu pada salah satu dari anak – anak di sana.

"Ini untuk kalian. Tapi janji ya tidak boleh ada yang bertengkar lagi."

Aaaahh uri Kyunie memang menggemaskan. Dia sudah mulai belajar memberi dan berbagi, meskipun Siwon dan Kibum yakin setelah ini pangeran kecil mereka akan merengek untuk sebuah PSP baru.

.

.

.

Waktu menunjukkan pukul 11:05 PM. Setidaknya sepert itu yang terlihat pada jam digital di atas meja kerja itu. Namja itu – Siwon – hanya duduk di sana tanpa melakukan apapun sejak dia memasuki ruangan yang memang sengaja dia buat untuk mengerjakan pekerjaan kantornya di rumah.

Hari ini memang terasa melelahkan untuknya. Setelah memasuki hampir setiap apotek dia menemani Kibum ke panti asuhan hingga sore hari. Dilanjutkan makan malam di restoran favorit mereka. Tak sampai di situ, Siwon juga harus menemani Kyuhyun belajar untuk persiapan ujiannya besok. Namun setelah menemani sang buah hati hingga terlelap, dia lantas tak menyusul istrinya yang sudah berada di kamar mereka. Dia lebih memilih duduk berdiam di dalam ruang kerjanya. Yang dia lakukan memang hanya duduk, sambil berpikir. Memikirkan setiap cerita suster Han. Cerita yang sama sekali belum pernah dia dengar. Baik dari Kibum apa lagi Tiffany. Wanita satu itu nampaknya benar – benar tak ingin ingat bahwa dirinya dan Kibum pernah dekat satu sama lain.

Setidaknya hampir tiga jam Siwon ada di sana. Selama itu akhirnya dia menemukan satu pemikiran. Dimulai dari Tifanny yang sangat ingin memiliki dirinya, Kibum yang terkesan tanpa perlawanan saat tahu siapa selingkuhan suaminya, juga cerita dari suster Han tentang Kibum juga Tiffany. Dari cerita itu dia sadar bahwa Kibum adalah orang yang akan selalu mengalah pada adiknya dan Tiffany yang selalu menginginkan apa yang dimiliki Kibum. Lalu kesimpulan yang dia ambil adalah bahwa dirinya bukan target sesungguhnya. Dalam masalah ini target sesungguhnya adalah Kibum, istrinya. Tiffany menginginkan drinya bukan karna cinta ataupun alasan sejenisnya, melainkan karna dia memang ingin memiliki apa yang dimiliki Kibum dan menghancurkan yeoja salju itu. Dirinya hanyalah alat dan dengan memiliki dirinya adalah cara membuat Kibum hancur. Bukankah mengambil orang sangat dicintai sama dengan menghancurkan hidup seseorang?

Siwon merasa dirinya sangat bodoh. Bagaimana bisa dia tak sadar jika seseorang sedang berusaha menghancurkan istrinya, terlebih menggunakan dirinya sebagai alat penghancurnya. Siwon memang merasa nyaman dengan Tiffany. Namun dia juga merasa berbeda antara Tiffany dengan istrinya. Hatinya masih utuh terkunci untuk Kibum meskipun dia juga menyayangi Tiffany. Rasa sayang yang sama yang Kibum beri untuk Tiffany, sebatas adik kakak. Akhirnya namja itu sadar, yang dilakukannya salah. Dia terlahir sebagai anak tunggal maka memiliki adik adalah kebahagiaan tersendiri. Memanjakan adiknya adalah impiannya. Tapi bagaimana bisa dia meng-iya-kan permintaan Tiffany untuk meninggalkan istrinya dan menikahi wanita yang dia anggap adiknya sendiri.

"Bodoh kau, Choi Siwon!"

Ceklek

Pintu itu terbuka, menampakkan seorang yeoja salju dengan balutan piyamanya. Membuat Siwon mengalihkan perhatiaannya.

"Ternyata kau di sini."

Kibum masih berdiri di depan pintu sambil melipat tangannya setelah menutup pintu itu.

"Kau belum tidur?"

"Bagaimana aku bisa tidur jika suamiku tak ada di sampingku?"

Alis Kibum sedikit mengerut. Tak ada lembaran – lembaran kertas dokumen ataupun laptop yang menyala, seperti biasanya.

"Apa yang kau lakukan di sini? Kau sedang bekerja?"

'Atau sedang menikmati waktu mu dengan wanta itu?'

Lanjut Kibum dalam hati.

"Aku hanya…duduk."

"Kau lebih memilih hanya duduk di sini dan mengabaikan istrimu di kamar, begitu?"

Kibum memberi sedikit penekanan pada 'hanya duduk', menandakan Kibum tak mengerti dengan yang di lakukan suaminya. Sedang Siwon malah terkekeh pelan. Menurutnya Kibum sangat lucu jika sedang merajuk. Kadang dia berpikir kebiasaannya merajuk Kyuhyun menurun dari istrinya.

"Kemarilah, sayang."

Siwon meminta Kibum untuk mendekat dan duduk di pangkuannya. Namja tampan itu langsung memeluk Kibum ketika yeoja itu sudah duduk di pangkuannya.

"Maafkan aku. Tapi sungguh aku tak berniat mengabaikanmu."

"Aku tahu."

Kibum tersenyum, jemari lentiknya menyisir surai kelam milik suaminya.

"Biarkan seperti ini dulu. Aku sedang sangat ingin memelukmu."

Siwon menyembunyikan wajah tampannya pada perpotongan leher Kibum, menghirup roma khas istrinya.

"Saranghae, Kibumie, nae sarang."

Hari ini Kibum sudah mendengarnya dua kali. Jika tadi siang Siwon mengatakannya lewat telepon maka sekarang namja itu mengatakannya sambil memeluk dirinya.

'Maka jangan tinggalkan aku, Siwonie.'

"Saranghaeyo nado."

Dan pelukkan itu semakin erat, seakan tak ingin lepas satu sama lain.

Bolehkah Kibum berharap jika suaminya akan kembali padanya? Meskipun suaminya tak pernah menyinggung tentang perceraian lagi ataupun rencana membatalkannya. Namun ungkapan cinta yang Siwon berikan membuatnya kembali berdebar seperti dulu saat mereka masih sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Tuhan, ijinkan hambaMu ini berharap.

"Cha… sekarang kita tidur. Ini sudah terlalu malam untuk snow white. Seharusnya putri salju ini sudah tidur dalam dekapan sang pangeran, kan?"

Mereka terkikik bersama, merasa sangat geli dengan sikap mereka yang bak remaja. Siwon mengangkat tubuh kurus Kibum, menggendongnya seperti pengantin baru. Kibm tak bisa berbuat banyak selain menyamankan kepalanya pada dada bidang Siwon.

Malam itu mereka tidur saling berpelukkan. Siwon menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Kibum. Yeoja penawan hatinya itu sudah lelap dalam mimpinya, namun Siwon masih saja betah menatap paras ayu Kibum.

"Aku akan segera menyelesaikan kekonyolan ini. Aku janji, Kibumie. Maka tunggulah aku, eum."

Siwon berucap lirih, tak ingin Kibum terganggu. Ya, Siwon sudah bertekat, dia sudah berjanji akan menyelesaikan semuanya. Dia sadar hatinya tak bisa berpaling dari istri tercintanya.

T B C

chap 11 akhirnya bertelur jugaa setelah sekian lamaa ampe lumutan nyampah di ffn heheheee

trimakasih yg uda nungguin fict abal saya.. makasi jg uda ngingetin saya buat lanjutin OPM..

uda mau kelar nich..tinggal beberapa chap lagi dan cerita abal ini menemui kata END

yg suka mba tiffany..maaf yaa saya kasi dia peran jelek di sini. tapi itu cuma skrip aja kok..beneran dech

gimana dengan chap ini? silakan beri opini di kotak review

skali lagi saya ucapin makasi buat dukungannya

so many many many thankyuuu

#bow