SiBum
(Siwon-Kibum)
Kyuhyun
HaeHyuk
(Donghae-Eunhyuk)
Taemin
Tiffany
ps: i have re-edit and re-read, but if u still find typo(s), im so sorry. if u think this fict is really borring, just leave.
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
"Aku senang akhirnya kita bisa makan siang berdua. Rasanya sudah lama sekali."
Siang itu Siwon sengaja mengajak Tiffany makan siang, tentu saja bukan karna tanpa alasan.
Siwon tak berniat menanggapi ocehan yeoja di hadapannya. Dia sedang menyusun kata untuk disampaikan pada Tiffany.
"Sudah hampir sebulan, itu artinya oppa akan segera bercerai dari istri oppa dan kita akan bisa segera menikah. Rasanya sudah tidak sabar."
"Fanny-ah, ada yang ingin aku katakan padamu."
"Katakan saja, oppa. Apa ini tentang konsep pernikahan kita? Atau tentang gaun yang akan aku pakai? Atau – "
"Tidak, Fanny-ah. Ini tentang hubungan kita. Aku ingin mengakhirinya."
"Ne? jangan bercanda, oppa. Tidak lucu."
"Tidak. Aku serius."
"Ck. Kita sudah sebulan tidak berduaan seperti ini, lalu tiba – tiba kau ingin mengakhiri hubungan kita. Aku jadi curiga, apa saja yang sudah istrimu katakan selama sebulan ini. Apa dia mengancam akan bunuh diri jika kau menceraikannya?"
Siwon menahan emosinya. Dia tidak suka wanita di depannya menjelekkan istrinya. Ini tidak ada hubungannya.
"Jaga bicaramu, nona Hwang. Ini tidak ada hubungannya dengan Kibum."
"Lalu? Apa kau menemukan wanita lain?"
"Tidak. Alasannya hanya satu, aku mencintai Kibum dan hanya dia. Hubungan yang kita jalani selama ini salah. Kibum menganggapmu sebagai adiknya, maka aku pun sama. Lalu mana bisa kakak dan adik menjalin hubungan asmara. Selama sebulan ini aku sadar, aku hanya menyayangimu sebagai adik perempuan dan aku hanya mencintai istriku."
"Tapi aku mencintaimu."
"Tidak. Tolong jangan bohongi hatimu. Kau tidak sungguh – sungguh mencintaiku. Kau hanya terobsesi padaku. Bukan. Kau selama ini terobsesi pada Kibum dan kau hanya menjadikanku alat untuk menghancurkannya."
Tiffany tak bersuara. Dia cukup terkejut dengan kata – kata Siwon. Motifnya sudah terbongkar. Dia memang tidak sungguh – sungguh mencintai namja beranak satu itu. Dia hanya ingin menghancurkan Kibum, dan mengambil Siwon adalah cara yang tepat.
"Kau selalu merasa kau harus memiliki apa yang Kibum miliki. Tapi aku bukan sepeda, bukan permen, aku juga bukan mainan yang dulu biasa kau minta darinya. Aku punya hati. Aku menolak ketika kau memintaku darinya."
"Sadarlah, Fanny-ah, yang kau pikirkan selama ini keliru. Kibum adalah kakakmu dan dia sangat menyayangimu. Dia selalu memberi apa yang kau inginkan, kan. Biarkan dia memiliki aku. Biarkan dia egois sekali ini saja. Dengar, kau itu cantik. Kau juga menarik dengan caramu sendiri, aku yakin akan ada namja baik yang mencintaimu nanti."
Hening. Tidak ada yang ingin mencairkan suasana. Siwon merasa lega telah mengatakan semuanya pada Tiffany. Sedangkan yeoja cantik itu masih memikirkan perkataan Siwon. Mereka masih terdiam hingga ponsel pintar Siwon bergetar, sebuah pesan masuk dari Kibum.
'Tolong jemput Kyuhyun.'
Siwon mengerutkan alisnya. Pesan itu cukup singkat. Namun Siwon mengabaikan seberapa panjang pesan itu dan memilih bergegas menjemput putra tunggalnya.
"Maaf, aku harus menjemput Kyuhyun. Kau bisa merenungkan semuanya. Dan aku yakin kau akan mendapatkan jalanmu sendiri. Aku pergi."
Siwon pergi setelah mengusap kepala Tiffany. Seperti seorang kakak yang baru saja memberi nasihat pada adiknya.
.
.
.
"Daddy!"
Siwon hanya butuh waktu setidaknya lima belas menit untuk sampai di sekolah putranya.
Bocah lelaki itu dengan riang menghampiri ayahnya dengan sebuah kertas di tangannya.
"Hai, jagoan!"
Siwon dengan sigap membawa Kyuhyun dalam gendongannya.
"Aku pikir mommy yang menjemput. Ternyata daddy."
"Kau tak suka, eum?"
Siwon pura – pura merajuk. Dia sedang ingin menggoda namja kecil itu.
"Bukan seperti itu. Kyunie suka dijemput daddy. Hanya tidak biasa saja. Heheee."
Bocah enam tahun itu memamerkan deretan gigi rapinya agar sang ayah tidak merajuk lagi. Dan hal itu tentu saja berhasil. Siwon sudah tersenyum cerah sekarang. Kyuhyun tidak berbohong. Dia memang senang ayahnya menjemput, mengingat betapa sibuknya sang ayah.
"Daddy lihat, hasil ujianku sudah keluar."
Kyuhyun menunjukkan kertas yang sedari tadi dia bawa.
Ini adalah hari Jumat terakhir di bulan Agustus. Sesuai jadwal, hasil ujian Kyuhyun akan keluar pada hari itu.
"Wow.. uri Kyunie hebat, eoh."
"Keurom. Kyu kan sudah pernah bilang, Kyu akan jadi nomor satu di kelas."
"Jagoan daddy memang hebat. Sekarang kita pulang dan tunjukkan hasil ujianmu pada mommy. Kajja."
Mereka meninggalkan halaman sekolah menuju mobil sedan kesayangan Siwon dengan Kyuhyun yang masih dalam gendongannya. Dalam hati Siwon bersyukur otak jenius Kibum menurun pada Kyuhyun. Sejak awal dia tak meragukan kemampuan belajar putranya.
Dalam tiga puluh menit perjalanan ke rumah, Kyuhyun tak bosan berceloteh. Dia menceritakan banyak hal, membuat Siwon tak bosan sama sekali.
"Dad, boleh pinjam ponsel daddy?"
"Untuk apa?"
"Menelepon mommy."
Siwon mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya. Kyuhyun sudah sangat lancar menggunakan benda kotak pipih itu. Sesekali Siwon melirik Kyuhyun yang masih menempelkan ponselnya pada telinga kecil Kyuhyun.
"Tidak diangkat?"
"Eum. memang mommy kemana, dad? Kenapa tidak mengangkat teleponnya?"
"Entahlah, sayang. Mungkin di rumah mommy sedang sibuk."
Kyuhyun mengangguk mengerti, lalu mengembalikan ponsel itu pada Siwon.
Tak lama mobil itu berhenti di depan sebuah toko bunga.
"Daddy akan membeli bunga untuk mommy. Kyunie tunggu di mobil saja, oke."
Siwon seolah paham arti tatapan tak mengerti dari putranya. Ya, sejak Kyuhyun berusaha menghubungi Kibum, dia medapat ide untuk memberi bunga lili kesukaan Kibum. Dengan bunga itu dia akan mengungkapkan kembali perasaannya pada sang istri dan membatalkan rencana perceraian mereka.
.
.
.
"Selamat datang, tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
Siwon langsung di sambut karyawan toko itu begitu dia masuk ke dalam toko yang penuh bunga itu.
"Saya ingin memberikan bunga lili untuk istri saya. Bisa bantu saya menyusun karangan bunga yang cantik?"
"Tentu, tuan. Saya akan siapkan untuk anda. Mohon tunggu sebentar."
Setelahnya pelayan itu segera memenuhi pesanan Siwon. Sembari menunggu Siwon mengedarkan pandangannya menyusuri isi toko tersebut. Begitu banyak bunga di sana. Siwon jadi teringat Kibum yang juga sangat suka pada tanaman terlebih bunga. Kibum ditambah ibunya adalah tim bercocok tanam yang hebat. Siwon terkekeh pelan membayangkan kedua wanita itu jika sedang asik berkebun.
"Permisi. Pesanan anda, tuan. Apa anda menyukainya?"
Pelayan tadi memberikan rangkaian bunga lili pesanan Siwon, sekaligus menghentikan lamunan Siwon akan Kibum juga ibunya.
"Wah, ini sangat cantik. Saya menyukainya."
"Terimakasih. Apa ada yang lain yang bisa saya bantu, tuan?"
"Tidak. Saya rasa cukup."
"Baiklah, tuan, untuk pembayarannya silakan ke meja kasir di sebelah sana."
Pelayan itu menunjuk sisi sebelah kanan tak jauh dari pintu masuk.
Siwon bergegas menuju meja kasir. Rasanya dia sudah tak sabar ingin memberikan bunga – bunga cantik itu pada istrinya.
Siwon masih berdiri di depan meja kasir itu hingga manik tajamnya tertuju pada sebuah botol kecil di samping mesin kasir. Dia merasa sangat familiar dengan botol kecil itu.
"Jeogiyo. Ahjumma, boleh saya tahu ini botol apa?"
Siwon menunjuk botol kecil itu. Dia tak ingin menyimpan rasa penasarannya. Beberapa hari yang lalu dirinya hampir memasuki setiap apotek di kotanya hanya untuk mencari tahu obat apa yang terkandung dalam botol itu. Dan kini botol yang sama ada di hadapannya, tentu dia tak akan menyiakan kesempatan untuk bertanya.
"Eoh, ini obat milik putraku. Dia divonis mengidap kanker otak."
"Kanker otak?"
"Iya. Dia masih harus tetap mengkonsumsi obat itu meskipun sudah menjalani kemo. Aish, anak itu kenapa bisa menaruh obatnya sembarangan. Oiya, apa anda juga memiliki kenalan yang juga mengkonsumsi obat yang sama?"
"Ya, tapi setiap kali saya bertanya dia akan menjawab yang dia minum hanyalah vitamin. Tapi sekarang saya tahu itu bukan sekedar vitamin."
"Nach, karna sekarang anda sudah tahu, ada baiknya anda bersikap baik padanya. Karna kita tidak pernah tahu sampai kapan kanker itu akan menguasai tubuhya. Jangan sampai kita menyesal setelah kanker itu menang dan membawa orang itu pergi dari kita. Ini bungamu, anak muda. Aku dengar dari karyawanku bunga ini untuk istrimu. Semoga dia senang dengan bunga yang kau berikan ini."
"Nde, ahjumma, kamsahamnida. Terimakasih juga untuk informasi yang ahjumma berikan."
Siwon menunduk sopan sebelum keluar dari toko bunga itu.
Hati namja Choi itu mencelos setelah mendengar perkataan ahjumma penjaga kasir tadi. Selama ini yang dikonsumsi Kibum bukanlah vitamin tapi obat untuk penderita kanker.
'Jadi selama ini Kibum mengidap kanker otak? Dan dia menyembunyi ini dari ku? Ya Tuhan, Kibumie…'
Sekarang entah kenapa perasaannya menjadi tidak karuan. Tiba – tiba pikirannya dipenuhi oleh Kibum. Rasa cemas dan khawatirnya bertambah ketika sekali lagi Kibum tidak menjawab panggilannya.
Siwon bergegas memasuki mobilnya dan menjalankannya. Kyuhyun yang melihat perubahan sikap ayahnya menjadi terkejut. Ayahnya tiba – tiba terlihat panik dan itu cukup membuatnya takut.
.
.
.
Perjalanan itu terasa begitu panjang bagi Siwon. Dia sudah sangat ingin sampai di rumah. Pikirannya dipenuhi oleh Kibum beserta kemungkinan – kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi pada yeoja salju itu. Belum lagi dia harus tetap bersikap tenang di depan Kyuhyun. Anaknya cukup kritis dan dia belum siap untuk menjelaskan apapun pada Kyuhyun.
Dan perjalanan panjang itu berakhir ketika Siwon berhasil memarkirkan mobil di garasi rumahnya, berdampingan dengan mobil Kibum. Melihat mobil sang istri ada di garasi membuatnya yakin bahwa Kibum ada di rumah.
Kyuhyun bergegas memasuki rumah. Namja kecil itu sepertinya sudah tidak sabar untuk memamerkan hasil ujiannya. Siwon mengikuti putranya dari belakang sambil membawa rangkaian bunga lilinya. Dalam hati dia juga sudah tidak sabar memberikan bunga itu pada Kibum dan meminta Kibum untuk kembali bersamanya.
"Daddy! Cepat kemari! Tolong mommy. Mommy pingsan, dad."
Dari lantai dua Kyuhyun berteriak memanggil ayahnya. Siwonpun segera menyusul Kyuhyun yang masuk ke kamar utama milik Siwon dan Kibum. Namja dewasa itu terkejut begitu sampai di kamarnya. Dia melihat Kibum tak sadarkan diri di atas lantai yang dingin dengan hidung yang mengeluarkan darah. Siwon membuang begitu saja bunga lili yang sedari tadi dibawanya. Dipangkunya tubuh Kibum yang sudah mulai dingin. Darah yang keluar dari hidungnya sudah mulai mengering. Itu artinya Kibum sudah cukup lama pingsan.
"Kibumie, bangun!"
"…."
"Sayang, bangun. Aku mohon."
Masih tak ada reaksi dari Kibum, membuat Siwon bertambah panik. Dan jangan lupakan Kyuhyun yang sudah mulai menangis melihat keadaan ibunya. Dia sangat terkejut mendapati ibunya tergeletak tak sadarkan diri ketika dia memasuki kamar sang ibu.
"Kita bawa mommy ke rumah sakit."
Dengan mudah Siwon membopong tubuh ringkih itu diikuti Kyuhyun di belakangnya dengan lelehan air matanya. Siwon ingat dengan apa yang dikatakan Donghae tempo hari. Namja Lee itu meminta Siwon untuk membawa Kibum padanya jika terjadi sesuatu dengan wanita itu.
.
.
.
Ruang itu terkesan begitu ramai meski hanya berisi tiga orang saja. Adalah Lee Donghae sang dokter muda tampan pemilik ruangan itu beserta istrinya, Lee Hyukjae dan buah hati tercinta, Lee Taemin. Mereka sedang menikmati makan siang mereka ditemani celoteh polos si kecil Taemin. Sesekali sang wanita dewasa menyuapkan makanan yang mereka santap pada Taemin. Gadis kecil itu sedang sibuk dengan buku gambar dan crayonnya.
"Appa, coba lihat ini. Bagus, kan appa?"
Taemin menunjukkan buku gambarnya pada sang ayah. Nampaknya yeoja kecil itu sudah selesai menggambar.
"Wah, bagus sekali. Anak appa menggambar apa ini?"
Donghae tidak bodoh, dia jelas tahu jika yang digambar putrinya adalah gambar sebuah keluarga sedang bergandengan tangan. Tapi kenapa ada empat anggota keluarga? Bukankah mereka hanya bertiga?
"Ini appa." – menunjuk salah satu gambar di sisi paling kiri.
"Ini eomma." – telunjuknya mengarah pada gambar paling kanan. Berbeda dengan yang tadi, gambar ini seperti perempuan dengan rambut sepunggung, seperti ibunya.
"Ini Taeminie," – tunjuknya pada sosok perempuan, hanya saja lebih kecil.
"Dan ini, dongsaeng."
Dongsaeng? Seketika Donghae melotot dan Eunhyuk berhenti memakan makan siangnya. Bukankah ini tanda bahwa putri kecilnya setuju jika orang tuanya memberi adik untuknya.
"Dongsaeng? Taeminie ingin punya adik, ya?"
"Eum. namdongsaeng. Taeminie ingin adik laki – laki saja, ne appa."
Donghae sudah tersenyum puas sedang Eunhyuk masih tak percaya dengan yang dia dengar. Bukannya tidak siap memberi adik untuk putrinya, hanya saja sebenarnya dia dan suami sudah pernah berencana menambah momongan. Tapi mereka menundanya dengan mempertimbangkan Taemin. Mereka tak ingin putri kecilnya merasa kasih sayang orangtuanya terampas dengan adanya seorang adik. Itu sebabnya mereka menunda dan mencoba perlahan memberikan pengertian pada si kecil. Tapi nyatanya Taemin sendiri yang meminta.
"Kenapa ingin adik laki – laki, sayang? Tidak perempuan saja?"
"Tidak, eomma. Kata Suli, punya adik perempuan itu tidak enak karna dia akan mengambil mainan milik kakak perempuannya. Aku ingin laki – laki saja, eomma."
"Tapi jika laki – laki nanti Taeminie tidak bisa bermain dengan adik. Kan anak laki – laki tidak bermain boneka."
"Tidak. Aku akan tetap bermain dengan adik. Eomma tenang saja."
"Sudah sudah. Laki – laki atau perempuan kan sama saja. Tidak perlu dipusingkan."
Donghae sebenarnya sudah menahan tawa sejak dua malaikatnya mulai beradu argumen. Semakin ingin tertawa setelah mendengar alasan polos Taemin. Laki – laki atau perempuan memang sama saja, toh dia bisa memberikan keduanya.
"Appa akan segera mengusahakan adik laki – laki untuk Taeminie, - " Donghae mengecup pipi bulat putrinya.
" – lalu memberi adik perempuan untuk eomma."
Donghae berbisik seduktif di telinga sang istri. Membuat Eunhyuk melotot horror. Pasalnya, mereka sudah sepakat akan memiliki dua anak saja. Apa Donghae akan berubah pikiran? Aish, entahlah. Dilihatnya pasangan ayah dan anak itu, mereka terlihat begitu senang, membicarakan angan – angan mereka tentang adanya anggota keluarga baru.
Tok tok tok
Seorang perawat masuk ke ruangan Donghae, menginterupsi keceriaan keluarga kecilnya.
"Permisi. Maaf, uisa-nim. Ada panggilan darurat dari UGD. Nyonya Choi Kibum ada di sana, uisa-nim."
"Kibumie."
Dua Lee itu merasa tulangnya lepas dari tubuh mereka, lemas. Sahabat mereka sedang berjuang di ruangan dingin UGD.
"Bagaimana keadaannya?"
"Pasien sudah tak sadarkan diri ketika di bawa kemari. Dokter jaga sedang menangani nyonya Choi sembari menunggu anda."
"Aku mengerti. Aku akan segera ke sana."
Setelah menunduk hormat, sang perawat meninggalkan ruangan itu. Donghae langsung memeluk istrinya ketika pintu tertutup sempurna. Apa yang mereka takutkan akhirnya terjadi juga. Sebenarnya Donghae sudah punya firasat tak enak sejak pagi tadi. Itu sebabnya Donghae minta Eunhyuk membawakan makan siang dan membawa Taemin serta. Dia pikir itu akan bisa mengurangi perasaan tak enaknya.
"Tenangkan dirimu, yeobo. Kibum sedang membutuhkanmu. Kau tidak bisa panik seperti ini, eum."
Eunhyuk mengusap sayang punggung lebar suaminya. Mencoba memberi kekuatan. Bohong jika dia tidak panik, dia pun sama. Tapi dia harus tetap tenang agar suaminya tidak bertambah panik. Donghae memang seorang dokter yang sudah biasa mendapati keadaan kritis pasiennya. Tapi kali ini bukan sekedar pasien. Ini adalah Kibum, sahabat mereka. Donghae sudah menganggapnya sebagai adik kecil sejak mereka berkenalan.
"Sudah sana, cepatlah. Uri Kibum membutuhkanmu."
Mereka saling melepas pelukan. Donghae mengatur napasnya, salah satu cara menenangkan pikiran ala Donghae. Setelahnya dia bergegas memenuhi panggilan tugasnya. Sebelum pergi Eunhyuk menyempatkan diri memberi kecupan penyemangat di bibirnya.
"Eomma, appa pergi kemana? Kenapa tergesa – gesa?"
Sejak mendapat berita tentang Kibum dia sempat lupa bahwa dia membawa Taemin kemari bahkan sekarang anak itu menatapnya tak mengerti. Setelah menutupi rasa paniknya dari sang suami, kini dia harus bersikap baik – baik saja di depan buah hatinya.
"Appa harus memeriksa pasien, sayang. Kita tunggu appa di sini, ya."
Tak lupa senyum manis bergummy untuk meyakinkan putrinya.
.
.
.
Siwon tengah menunggu Kibum dengan cemas di ruang tunggu. Kyuhyun ada di pangkuannya. Namja kecil itu terlihat begitu terkejut dengan keadaan ibunya. Dia belum pernah melihat sang ibu sakit hingga seperti itu.
"Daddy, how is mommy? Mom will be oke, right?"
"Eum. mommy will be fine. Tidak akan terjadi apapun dengan mommy, oke."
Siwon mengeratkan pelukkannya pada Kyuhyun. Sebenarnya kata – kata itu juga untuk dirinya.
"Siwon-ah."
Seorang namja berjas putih menghampiri Siwon. Lee Donghae, sahabat sekaligus dokter yang menangani Kibum.
"Donghae-ah, Kibumie.. dia ada di dalam. Aku… aku segera membawanya kemari seperti yang kau katakan padaku. Kibum sudah cukup lama di dalam. Aku tidak tahu apa yang mereka lalukan pada Kibum di dalam."
"Kau tenanglah. Aku akan melihat keadaannya."
Sebelum masuk ke ruangan berpapan 'emergency', Donghae sempat menepuk pelan pundak Siwon. Setelah itu Siwon kembali berteman dengan sunyi, masih dengan Kyuhyun dalam dekapannya. Karna saat ini Kyuhyunlah kekuatannya.
.
.
.
Ini sudah satu jam sejak Donghae masuk ke ruang emergency itu. Membuat Siwon semakin merasa cemas. Dia benar – benar tak tahu apa saja yang dilakukan Donghae dan tim medis di dalam sana. Dia masih duduk di sana dengan Kyuhyun yang sudah tertidur di pangkuannya. Namja kecil itu sepertinya lelah menangis hingga membuatnya tertidur.
"Siwon-ah, bagaimana?"
Suara itu membangunkan Siwon yang hampir saja terlelap. Sahabatnya yang lain datang, Eunhyuk.
"Aku tidak tahu. Setidaknya sudah ada satu jam suamimu ada di dalam sana. Jika suamimu itu sudah keluar aku pasti tahu bagaimana keadaan istriku."
Ada nada putus asa yang sangat kentara dari ucapan Siwon. Tapi, sama dengan Siwon, Eunhyukpun juga merasa begitu cemas. Dia sangat tidak sabar menunggu Donghae di ruangan sang suami hingga dia meminta ibunya untuk menjemput Taemin. Dan begitu sang ibu datang dan membawa Taemin, Eunhyuk bergegas menuju ruang UGD. Di sana dia mendapati Siwon yang tengah duduk bersama Kyuhyun yang tertidur di pangkuannya.
"Dia akan baik – baik saja kan, Hyuk? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku dan Kyuhyun jika sampai terjadi hal buruk pada Kibum."
Siwon berucap lirih. Eunhyuk sendiri tak bisa berucap banyak karna dia tahu keadaannya memang sedang tidak baik.
.
.
.
Ceklek
Pintu ruangan dingin itu akhirnya terbuka. Donghae keluar dengan tampang lelahnya. Siwon langsung berdiri menyambut Donghae. Kyuhyun sudah berpindah di pangkuan Eunhyuk sesaat setelah yeoja itu datang.
"Bagaimana keadaannya? Kenapa kau lama sekali?"
Siwon bisa lihat tampang lelah itu. Pasti telah terjadi hal yang tak mudah di dalam sana. Dokter muda itu masih belum bersuara.
"Hae-ya, katakan sesuatu."
Eunhyukpun juga tak bisa menutupi rasa penasarannya.
"Kibumie.. ah ani. Maksudku, pasien Choi Kibum, kami sempat kehilangan pasien. Setidaknya dua menit jantungnya tidak berdetak."
Rasanya semua tulang dalam tubuhnya menghilang begitu saja, membuatnya lemas. Siwon bersumpah akan menukar semua harta yang dia punya demi istrinya.
"Berkat doa kita semua kami berhasil membawa pasien kembali. Keadaan pasien Choi sudah mulai stabil, hanya saja dia belum siuman karna pengaruh obat. Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap."
"Hanya itu? Kau tak ingin menjelaskan keadaan Kibum yang sebenarnya padaku, dokter Lee Donghae?"
"Aku sudah menjelaskannya, lalu apa?"
"Kau tahu benar maksudku. Tolong katakan semua tentang Kibum yang kau dan istrimu sembunyikan dariku."
Siwon mulai terbawa emosi. Donghae tak menjelaskan apapun tentang penyakit Kibum. Bahka dokter muda itu tak memberitahu kenapa Kibum bisa sampai seperti ini. Eunhyuk pun tak banyak bicara sejak yeoja itu ikut menuggu Kibum. Siwon bukan orang bodoh, dia sudah bisa menebak apa penyakit Kibum. Hanya saja namja itu tak ingin percaya. Dia berharap dugaannya keliru.
Donghae melakukan kontak mata dengan Eunhyuk dan sang istri memberi isyarat pada Donghae. Inilah saatnya Siwon tahu. Sudah waktunya mereka membocorkan rahasia sahabat mereka.
"Baiklah. Aku akan ceritakan semuanya."
.
.
.
Dua namja muda beda profesi itu tengah duduk di salah satu bangku taman rumah sakit. Donghae, namja yang memakai jas putih ala dokter, baru saja selesai menceritakan rahasia Kibum yang memang sengaja disembunyikan dari Siwon.
"Kenapa kau baru menceritakannya sekarang setelah penyakit istriku semakin parah? Kenapa kalian sembunyikan hal sepenting ini dariku?"
Siwon merasa dirinya adalah satu – satu orang bodoh di sini.
"Jangan salahkan kami. Salahkan dirimu sendiri. Kau pikir karna siapa Kibum menyembunyikan penyakitnya. Dia bahkan menolak terapi yang harusnya dia jalani. Dia berpikir, untuk apa dia hidup jika kau pergi meninggalkannya. Dia tetap akan merasa mati meskipun dia hidup."
Ya, jika Siwon ingin menyalahkan seseorang maka orang itu adalah dirinya sendiri. Seandainya dia lebih peka, seandainya dia tidak egois, Kibum tak akan sampai seperti ini. Penyesalan itu benar – benar membuat Siwon merasa bersalah.
"Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan ingin memulai kembali dari awal bersamanya. Waktu satu bulan yang dia beri untukku membuatku sadar bahwa aku sepenuhnya bergantung padanya. Aku tidak tahu jika waktu satu bulan itu untuk mengisi setiap kenangan yang kami lewatkan. Apa aku tak punya kesempatan?"
Namja gagah itu tertunduk dalam. Merasa tak ada kesempatan untuknya memperbaiki apa yang telah dia rusak. Donghae yang melihat Siwon begitu terpuruk pun merasa iba. Dia kenal Siwon dengan baik. Sahabatnya itu sedang tak bercanda kali ini.
"Kau masih punya waktu. Setidaknya kau punya waktu untuk mengutarakan lagi cintamu, meyakinkannya bahwa yang kau lakukan bukan karna belas kasih. Gunakan waktu yang tersisa untuk mengukir kenangan indah bersamanya."
"Apa maksudmu? Kibumie akan baik – baik saja kan?"
"Dokter juga manusia biasa, Siwon-ah. Ini sudah di luar kuasa kami. Kita berdoa yang terbaik saja untuk Kibumie."
Donghae meninggalkan Siwon sendiri. Memberi waktu pada Siwon untuk menerima kenyataan yang baru dia dapati. Sang dokter muda sendiripun juga membutuhkan sandarannya. Dia butuh wanita itu, yang akan selalu ada untuknya.
.
.
.
Mata beningnya perlahan terbuka, mencoba mengadaptasi cahaya yang terbias dari kaca jendela ruangan itu.
"Kau sudah bangun? Terimakasih Tuhan."
Kibum bisa melihat betapa senangnya Siwon. Namja itu terus berucap syukur sambil menggenggam tangannya dan sesekali memberi kecupan pada punggung tangannya.
"Siwonie."
Suaranya begitu lirih namun cukup mampu terdengar oleh sang namja.
"Kau ingin sesuatu?"
"Haus."
Kibum merasa tenggorakannya begitu kering hingga terasa sakit saat berbicara. Siwon segera meraih segelas air putih di meja nakas samping ranjang Kibum.
"Kenapa tidak ke kantor? Ini sudah hampir siang."
"Aku menunggumu terbangun, sayang."
"Aku hanya tidur. Kau tak perlu menungguku."
"Ya, kau hanya tidur. Hampir empat puluh delapan jam. Jika hari ini kau belum bangun juga maka kau akan dinyatakan koma."
Benar, sejak nyawanya terselamatkan, Kibum sudah tidur hampir dua hari. Membuat Donghae dan tim medis bersiaga memantau keadaan Kibum. Dan jika hari ini Kibum tak juga bangun maka dia benar – benar ada dalam tidur panjangnya, koma.
"Aku akan panggil Donghae sebentar."
Siwon bergegas menuju ruangan berpapan 'Nurse Station' yang tak jauh dari ruang rawat Kibum. Donghae sendiri sudah berjaga di sana sejak Kibum dipindahkan ke ruang rawatnya.
Tak butuh waktu lama, Siwon kembali bersama Donghae dan membiarkan sahabatnya memeriksa keadaan istrinya.
"Sejauh ini keadaannya baik."
'Kecuali kanker yang terus menguasai tubuhnya'
Donghae melanjutkan kalimatnya dalam hati. Dokter muda itu sudah selesai memeriksa Kibum. Keadaan pasien istimewanya itu memang terlihat baik – baik saja, tekanan darahnya juga normal, hanya saja sel kanker dalam tubuhnya sudah bergerak begitu cepat. Namja itu akan tetap berusaha untuk sahabatnya meskipun semuanya telah dia pasrahkan pada Tuhan.
"Kau tidur lama sekali. Siwon hampiir gila menunggumu bangun. Apa kau bermimpi indah hingga baru sekarang kau bangun?"
"Entahlah. Aku hanya merasa harus bangun dan melakukan sesuatu."
Manik bening wanita itu tertuju pada pemandangan di luar jendela ruang rawatnya. Daun – daun kuning berguguran. Entah kenapa pemandangan itu terlihat begitu indah di mata Kibum.
"Musim gugur."
"Ya, sudah masuk musim gugur."
"Aku pikir, aku tak akan sempat melihat musim gugur. Jadi, aku mendapat 'bonus' ya."
"Eum. Itu karna Tuhan sangat sayang padamu."
Baik Siwon maupun Donghae dapat melihat wajah sendu Kibum. Wajah pucat bak salju yang dulu selalu terlihat cerah kini semakin pucat dan meredup. Wanita itu benar – benar sedang ada dalam dunianya. Bahkan dia tak sadar saat Donghae memberi isyarat pada Siwon untuk bicara di luar.
"Maaf harus mengatakan ini. Tapi aku juga tak bisa berbohong. Keadaannya memang terlihat baik – baik saja, tapi dia bisa pergi kapan saja. Tetaplah bersamanya. Katakan apa yang ingin kau katakan."
Tepukkan pada pundak Siwon tanda bahwa Donghae memberi dukungan untuk namja Choi itu. Setitik air mata menetes dari manik tajamnya. Donghae benar, dia harus segera mengungkapkan kembali perasaannya pada sang istri. Meyakinkan Kibum bahwa hatinya yang pernah tersesat telah kembali ke rumahnya, ke hati Kibum. Aku tak punya banyak waktu.
.
.
.
Musim telah berganti. Itu artinya waktu satu bulan yang dia ajukan pada Siwon telah berakhir. Dulu dia sempat berpikir tak akan bertahan hingga akhir bulan namun Tuhan memberinya 'bonus' hingga dia bisa menikmati musim berganti. Namun itu artinya rumah tangganya juga akan segera berakhir seperti musim panas yang telah lalu. Kini hatinya gugur seperti daun – daun yang berguguran di musim gugur. Siwon akan meninggalkannya. Membuat Kibum serasa mati meskipun masih tetap hidup. Dan air itu mengalir begitu saja dari manik beningnya. Inikah akhirnya?
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Kibum terlalu asyik memikirkan nasib rumah tangganya hingga tak sadar jika Siwon sudah kembali dan sedang duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Tangan besar milik suaminya itu begitu hangat.
Kibum hanya menggeleng. Sebenarnya dia ingin menjawab walau sekedar kalimat pendek, namun dia tak cukup berani. Kibum takut suaranya akan terdengar bergetar karena menahan tangis. Tapi sepertinya Kibum lupa jika Siwon sudah terlalu hapal akan dirinya. Namja itu tak begitu saja percaya. Siwon yakin ada yang sedang mengganggu pikiran istri cantiknya.
"Kau pembohong yang sangat buruk. Apa lagi di depanku, kau tak akan pernah bisa berbohong. Sekarang katakan, apa yang sedang mengganggu pikiranmu."
Percuma saja terus menutupi. Kibum memang harus bicara. Dia tak bisa menahan Siwon lebih lama lagi.
"Eum… sudah satu bulan, lebih. Aku rasa… aku..aku siap menandatangi suratnya."
"Surat? Surat apa yang kau maksud?"
"Surat gugatan cerai. Apa lagi? Bukankah kita sudah sepakat akan berpisah setelah satu bulan? Dan ini sudah lebih dari satu bulan. Jadi berikan saja suratnya. Aku akan langsung menandatanganinya."
Jangan tanya Kibum bagaimana dia mati – matian menahan diri agar tidak menangis. Sedang Siwon sendiri cukup terkejut. Pasalnya, istrinya itu baru bangun dari tidur 'pulasnya' pagi tadi, dan sekarang wanita cantik itu membahas perceraian mereka.
"Sayang, apa yang kau katakan? Kau bahkan baru bangun pagi tadi, bagaimana bisa kau membahas hal seperti ini. Aku lebih tertarik membahas kesehatanmu, sayang."
"Aku hanya tak ingin menahanmu lebih lama lagi. Apa lagi sekarang kau sudah tahu keadaanku. Aku sendiri tak tahu sampai kapan aku bertahan, Siwon-ah. Aku pikir aku tak akan berhasil melewati satu bulan. Jika seperti itu maka aku tak perlu menandatangi surat cerai. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Jadi berikan saja, aku tak apa, sungguh."
"Tidak. Kita tidak akan menandatangi surat apapun. Kita tidak akan berpisah. Tak kan ada yang bisa memisahkan kita, apapun. Kau dengar?"
Siwon membawa tubuh ringkih itu dalam pelukkan hangatnya. Kibum sudah tak sanggup hingga akhirnya tangis itu pecah juga.
"Aku mohon jangan kasihani aku, Siwon-ah. Aku mohon hiks. Bukan hal yang baik jika kau tetap bersamaku hanya karena kau kasihan padaku. Pergi saja, Choi Siwon. Pergi. Hiks hiks hiks aku mohon jangan seperti ini hiks."
Tangis itu semakin kencang. Siwon semakin erat memeluk Kibum. Wanita itu pasti merasa sangat sakit. Sakit di hampir sekujur tubuhnya karna kanker, belum lagi sakit di hatinya yang disebabkan oleh Siwon. Dia menanggung semuanya sendiri.
Siwon perlahan melepas pelukkannya ketika dirasa Kibum sudah lebih tenang. Tangan besarnya membingkai wajah pucat Kibum. Kedua ibu jarinya dia gunakan untuk menghapus air mata yang sudah membanjir. Dan mata mereka saling bertemu.
"Tatap mataku. Tolong cari kebohongan di sana. Hanya ada cinta untukmu. Jika kau menemukan secuil saja kebohongan, maka aku akan kehilangan semua yang ku punya."
Seperti terhipnotis, Kibum menyelami manik tajam yang kini terlihat teduh milik suaminya. Itu adalah cara Siwon jika Kibum merasa ragu padanya. Dan Kibum tak pernah berhasil menemukan kebohongan di mata Siwon, walau hanya secuil. Jika sudah seperti itu maka Kibum akan memeluk Siwon dengan erat. Sama seperti sekarang, Kibum memeluk Siwon erat. Dan Kibum tidak tahu jika manik tajam suaminya meneteskan air mata.
"Kau… kau telah membawaku kembali. Kau menuntun pulang hatiku yang tersesat. Selama sebulan ini kau membuatku sadar akan arti hadirmu. Ternyata masih tetap kau dan akan selalu kau yang ada di pikiranku saat aku terbangun hingga tertidur lagi."
"Itu kau yang selalu tersenyum padaku meskipun aku tahu ada luka dalam senyummu. Kau yang selalu menyambutku dengan hangat. Semuanya adalah dirimu, Choi Kibum. Kau, bukan yang lain."
"Maafkan aku, Kibumie. Maaf karena telah mengingkari semuanya. Maaf karena telah salah mengartikan yang semu menjadi selamanya. Maaf karena sempat berpaling darimu dan membuatmu kecewa. Maaf sempat mengabaikan cinta tulusmu dan menodai cinta suci kita. Maafkan aku untuk semuanya. Juga untuk air mata yang sudah banyak mengalir dari manik indah ini."
Siwon kembali mengusap air mata Kibum yang sudah menganak sungai di pipi tirusnya.
"Aku mohon maafkan aku, Kibumie."
Rasanya Kibum tak sanggup lagi mendengar Siwon terus meminta maaf.
Kibum menutup matanya menikmati sentuhan hangat tangan Siwon di wajahnya. Dia mengangguk sebagai jawaban maaf Siwon. Dan tak lama sebuah kecupan yang sarat akan cinta mendarat di keningnya. Mereka kembali berpelukan.
"Terimakasih. Aku sangat mencintaimu."
"Aku pun sama. Terimakasih telah kembali."
Terimakasih Tuhan, Kau telah menuntun pulang hati suamiku.
T B C
Allohaaaaa OPM is coming.
Makasih yang udah nanyain dan setia nunggu fict abal ini.
Maaf karna udah bikin temen2 nunggu lama (buuuaaanggeet). Sekali lagi maaf #bow
Chap ini saya bikin dengan selingan air mata. Apa lagi yang di segmen terakhir.
Emang ceritanya yang saya buat sedih apa saya yang lagi baper..saya juga ga tau..apa lagi sambil dengerin album barunya Kyuhyun..rasanya nyeess *penulisnya uda mulai ngalay*
Saya kasih HaeHyuk momen buat temen2 biar ga terlalu kangen bngt sama couple hyperaktif kita..btw,,suju sepi bngt rasanya tanpa mereka. Tapi ya sudahlah..mereka akan kembali, bukan begitu?
Okeee karna saya sudah kasih OPMnya sekarang giliran temen2 isi kotak review buat saya ^^
Sekali lagi makasi buat kritik sarannya ^^
See u next time
#pyeong
