Last Chapter

SiBum (Siwon x Kibum)

Kyuhyun

HaeHyuk (Donghae x Eunhyuk)

Taemin

HanChul (Hangeng x Heechul)

.

.

Note : GS as always. This would be long and boring story. So many typo. Leave it quickly when u feel this story is realy boring and annoying. then, last...

.

.

.

Happy reading

.

.

.

.

.

Chapter 13

.

.

.

"Dengar nak, kau akan baik – baik saja. Ada daddy, monie, bojie..kau tidak akan merasa kesepian. Donghae ahjussi dan Hyukie ahjumma akan bisa menghiburmu, kau juga bisa bermain dengan Taeminie. Jadi mommy tak perlu khawatir kan, sayang? Karna mommy yakin ada banyak orang yang sayang pada uri Kyunie."

Kibum berucap lirih di hadapan Kyuhyun. Putra kecilnya itu sudah terlelep di sampingnya. Sejak siang tadi, sejak dia tahu ibunya sudah bangun dari tidurnya, Kyuhyun sama sekali tak mau lepas dari Kibum. Dia benar – benar tak mau turun dari ranjang Kibum meskipun Siwon sudah berkali – kali memintanya untuk turun dan membiarkan ibunya beristirahat. Tapi Kyuhyun tetaplah Kyuhyun. Dia mewarisi watak keras kepala milik Choi Siwon di masa muda. Namun berbeda dengan Kibum, sang ibu justru membiarkan Kyuhyun untuk tetap di atas ranjangnya. Kibum menganggapnya sebagai hadiah karna Kyuhyun berhasil mendapatkan nilai memuaskan pada ujian kemarin. Ya, namja kecil nan aktif itu langsung menunjukkan hasil ujiannya ketika tau ibunya sudah sadar.

"Kau harus ingat, mommy selalu bersamamu,eum."

Kibum mengecup puncak kepala Kyuhyun, lalu turun ke dahi, sepasang mata kecil Kyuhyun yang tertutup, kedua pipi berisi milik putranya, dan terakhir, membawa tubuh kecil itu dalam rengkuhan hangatnya.

"Saranghae, uri adeul."

Bisiknya pelan di telinga Kyuhyun.

Ceklek

Pintu ruang rawatnya terbuka. Siwon adalah orang pertama yang masuk diikuti oleh kedua orang tuanya.

"Kau belum tidur, sayang?"

Kibum cukup menggeleng dan tersenyum samar. Lalu ketiga orang itu – Siwon, Hangeng, dan Heechul – mengitari ranjang Kibum.

"Kyuhyun sudah tidur. Kenapa kau tidak ikut tidur, Kibumie?"

"Aku masih ingin melihat Kyuhyun, eomma."

Kibum tak memperhatikan lawan bicaranya. Wanita salju itu masih betah memandangi putranya.

"Aku akan pindahkan Kyuhyun."

"Tidak, Siwonie. Biarkan dia di sini. Aku ingin tidur dengannya malam ini."

"Tapi kau perlu banyak istirahat. Kyuhyun mungkin saja akan mengganggumu. Kau…kita bertiga bisa tidur bersama, tapi tidak untuk malam ini."

"Aku hanya ingin malam ini saja. Aku mohon, Siwonie."

Sekuat apapun Siwon membujuk tapi jika Kibum sudah memasang jurus merayunya, Siwon tak akan pernah menang.

Dan Siwon akhirnya mengangguk saat mengucap kata 'baiklah'. Sekali lagi Kibum menang. Dalam hidup namja tampan itu, Kibum akan selalu jadi pemenang. Dia hanya mengijinkan dirinya kalah dari Kibum seorang.

"Kami ingin bicara, Kibumie."

Suara berat ayah mertuanya terdengar. Kibum tahu mereka pasti menuntut penjelasan, entah itu ibu atau ayah mertuanya. Tapi Kibum hanya tidak tahu bagaimana mereka ketika menerima kabar tentang dirinya. Heechul yang bahkan sampai pingsan dan Hangeng yang berusaha menjadi lebih kuat dan tegar berkali lipat. Demi istri, anak dan juga cucu kecilnya. Namja paruh baya itu yakin anggota keluarganya sedang terguncang. Siang itu ketika menerima kabar dari Siwon, dia dan Heechul langsung mengambil penerbangan tercepat ke Seoul, menunda semua urusan di Hongkong.

"Appa tak akan bertanya kenapa kau merahasiakan penyakitmu. Appa yakin kau punya pertimbanganmu sendiri. Ya, walaupun yang kau pertimbangkan itu keliru."

"Kami hanya merasa… terkejut. Sangat. Kami pikir kau baik – baik saja. Tapi ternyata tidak. Bukankah kau sudah menganggap istriku ini seperti ibumu sendiri? Lalu kenapa kau menyembunyikan hal sepenting ini dari ibumu, heum?"

"Hannie-ah"

"Appa, mian. Mianhae, eomma. Hiks."

Kibum menunduk dalam persis seperti anak kecil yang dimarahi ayahnya, air matanya menetes. Dia merasa bersalah telah membuat kedua mertuanya terkejut. Kibum merasa mereka telah kecewa padanya.

Heechul tak tahan melihat Kibum seperti itu, lalu memeluknya. Seorang anak butuh pelukan ibunya sebagai pelindung ketika dimarahi ayahnya, begitulah.

"Sudah, nak. Jangan dengarkan appamu."

Heechul memberikan tepukan – tepukan ringan di punggung sempit Kibum. Menantu kesayangannya itu menggeleng masih sambil terisak.

"Aniya, eomma. Aku pasti sudah membuat kalian kecewa. Maaf. Sungguh maafkan aku."

Wanita baya itu mengurai pelukkannya dengan Kibum. Diusapnya air mata yang mengalir di pipi tirus Kibum.

"Tidak, nak. Tidak seperti itu. Kami hanya sangat khawatir padamu karena kau adalah putri kami. Kami tidak ingin kehilangan dirimu. Kau mengerti, kan sayang."

"Itu sebabnya kami akan berusaha mencari cara agar kau bisa sembuh."

"Maksud appa?"

Kibum tak mengerti. Dokter sudah memvonis hidupnya tak akan lama lagi. Tapi kenapa ayah mertuanya bicara seperti itu?

"Appa akan membawamu berobat ke Amerika. Appa dengar dari teman appa, di Boston ada salah satu rumah sakit penanganan kanker terbaik di dunia. Appa ingin kau berobat ke sana."

"Appa..."

"Kau tenang saja, kami sudah membicarakan ini dengan Donghae juga para dokter senior dan mereka tak masalah jika kita mencoba berobat ke sana. Siwon juga sudah setuju. Kita akan berangkat besok. Appa sudah siapkan – "

"Appa, tolong dengarkan aku."

"Aku tak akan pergi kemana – mana. Aku tak ingin kemanapun. Aku ingin di sini, bersama kalian. Menghabiskan sisa hidupku dengan mengukir setiap kenangan tentang kalian. Dokter bilang aku tak punya harapan hidup, appa."

"Kibumie, meskipun sembilan puluh sembilan persen kita sudah tahu bagaimana hasilnya, tak ada salahnya kita berharap pada sisa satu persennya, nak."

"Tapi aku tak ingin jauh dari suami dan anakku. Aku tak ingin jauh dari kalian. Lagipula Amerika sangat jauh, kita tidak tahu apa yang akan terjadi selama di perjalanan. Bisa saja kan jika aku tak tertolong saat dalam perjalanan. Aku tak ingin seperti itu. Jadi biarkan aku tetap di sini. Biarkan aku bersama kalian."

"Tapi, nak – "

"Aku mohon, appa. Ini permintaan terakhirku."

Hangeng tak tahu harus mengatakan apa lagi. Dia sudah merasa cukup telak dengan permintaan Kibum. Menantunya itu memang keras kepala. Keinginannya seperti sebuah mandat, mereka hanya punya pilihan untuk meng-iya-kannya.

Siwon sendiri sedari tadi hanya diam sambil mengusap kepala Kyuhyun, agar tidur putranya lebih tenang. Dia tahu bicara dengan Kibum bisa dibilang bukan hal yang mudah. Namja tampan ini sudah sangat paham bagaimana istrinya. Kibumnya memiliki prinsip yang kuat. Kibumnya memiliki tekat sekuat baja. Tidak mudah membujuk Kibum. Itu sebabnya dia hanya diam dan menyerahkannya pada sang ayah. Mungkin saja jika itu bukan Siwon, jika itu adalah orang tua yang sangat dihormati Kibum akan mendengarnya. Tapi nyatanya, sama saja.

"Jangan bicara seperti itu, sayang. Kau membuat eomma sedih."

"Eomma~"

Dua wanita itu kembali berpelukkan. Kibum akan mengingat bagaimana pelukkan seorang ibu, untuk terakhir kali.

"Eomma, terimakasi telah menerimaku menjadi menantu eomma. Bahkan menganggapku sebagai putri eomma sendiri. Aku kembali merasakan kasih sayang seorang ibu. Terimakasih."

"Suatu hari aku ingin seperti eomma yang mengabdi pada suami dan keluarga. Aku juga ingin mengabdi pada eomma. Membalas setiap kebaikan yang eomma beri. Meskipun belum bisa seperti eomma, tapi sampai saat ini aku sudah lakukan yang terbaik hiks. Tapi tolong maafkan aku hiks karena tak bisa mengabdi dan melayani eomma lebih lama. Aku sendiri juga merasa kecewa dengan diriku sendiri, eomma. Mian. Hiks hiks."

"Tidak, nak. Kau adalah putri terbaik yang pernah eomma miliki. Kau juga yang terbaik untuk putra nakal eomma. Hiks hiks. Astaga, putriku yang malang. Hiks hiks."

Heechul tak tahu harus berkata apa. Dia hanya menangis dan memeluk Kibum erat. Semua ini membuat jantungnya bekerja lebih cepat hingga kadang wanita itu merasa tak mampu menahan debaran jantungnya dan membuatnya seperti akan pingsan. Dari awal mengenal Kibum, sejak belum menikah dengan anaknya, Heechul sudah menyukai Kibum dan bertekad menjadikannya seperti putrinya sendiri. Dan sekarang putrinya dinyatakan tak akan bertahan hidup lebih lama lagi. Meskipun hanya ibu mertua namun tetap saja tak akan tenang, kan?

Heechul merasa Kibum sedang berpamitan padanya. Membuat hati nyonya Choi itu menjadi beribu kali lipat lebih sedih.

Kibum melepaskan pelukkannya, beralih menatap Hangeng. Namja paruh baya itu pun ikut terharu melihat istri dan menantunya.

"Appa~"

Hangeng mendekat, tangan besarnya menggenggam tangan kurus Kibum.

"Iya, nak."

Kibum memandang Hangeng, lalu tersenyum simpul.

"Appa masih saja tampan meski sudah tak muda lagi. Pantas saja sampai saat ini eomma masih terpesona. Pasti saat muda dulu appa begitu tampan. Iya kan?"

Hangeng menganggung menanggapi Kibum.

"Uri Siwonie juga pasti akan tampan saat seusia appa kelak."

"Appa tahu, aku adalah penggemar appa. Aku begitu kagum pada appa. Appa adalah namja yang hebat. Menjadi suami, ayah, juga menjadi pimpinan perusahaan, appa menjalankan peran sesuai porsinya. Benar – benar hebat. Aku harap kelak Kyuhyun akan belajar banyak dari kakeknya"

"Terimakasih, nak. Kelak Kyuhyun juga akan belajar banyak dari ayah dan ibunya."

"Aku juga berterimakasih, karena memberiku ijin untuk menjadi satu dengan keluarga terpandang seperti keluarga Choi. Mengijinkan aku ikut menyandang marga kebanggaan appa. Jeongmal kamsahamnida, appa."

"Tak perlu bicara seperti itu, nak. Seperti kata eommamu, kau adalah putri kami."

Meskipun Kibum lebih dekat dengan Heechul, bukan berarti dia tak sayang pada ayah mertuanya. Meskipun mereka jarang bertemu, karena Hangeng yang lebih sering dinas keluar kota bahakan luar negeri, tetapi jika sudah bertemu sang ayah mertua akan mencurahkan kasih sayangnya untuk menantu kesayangannya.

"Mengenai penyakitku ini… appa pasti kecewa. Mianhaeyo."

"Bukan seperti itu, Kibumie. Appa hanya merasa… gagal menjadi orang tua yang baik untukmu. Bahkan kau lebih memilih menyimpan sakitmu dari pada membaginya dengan kami. Bukankah itu tanda kami tak cukup baik untukmu, eum. Kami gagal menjagamu, nak. Maafkan kami."

"Apa yang appa katakan. Aku mohon jangan bicara seperti itu. Ini adalah pilihanku, jadi jangan pernah menyalahkan diri kalian. Mengenai pengobatan ke Boston, aku minta maaf karena tak bisa menerimanya. Waktuku akan habis untuk perjalanan panjang itu. Lagipula aku ingin menikmati musim gugur di tanah kelahiranku. Bolehkan, appa?"

"Apapun untukmu, anakku."

Kibum tersenyum lebar lalu merentangkan tangannya, ingin Hangeng memeluknya. Seolah mengerti, sang ayah mertua pun memberikan pelukkan untuk Kibum.

"Terimakasih telah hadir di tengah keluarga kami, nak."

Hangeng berbisik di telinga Kibum. Menantunya itu tak sanggup membalas, hanya mengangguk. Air matanya mulai menganak sungai, begitu juga dengan sang mertua.

"Eomma tak ingin memelukku lagi?"

Kibum melepas sejenak pelukkannya dan mengajak Heechul untuk bergabung. Tak perlu menjawab, Heechul sudah ikut memeluk Kibum.

"Aku sangat menyayangi kalian. Terimakasih."

Kibum berucap lirih di masing – masing telinga kedua mertuanya.

Siwon begitu terharu dengan apa yang dia lihat. Terharu sekaligus sedih. Rasanya seperti sedang melihat Kibum berpamitan dengan kedua orang tuanya. Siwon sadar betapa mereka menyayangi istrinya, bahkan kadang melebihi dirinya. Bagi keluarga Choi, kehadiran Kibum seperti mentari di musim dingin. Hangat. Dia menghangatkan mereka dengan senyum cerahnya. Lalu sekarang, sang mentari mulai kehilangan cahayanya, meninggalkan kesedihan untuk mereka semua.

Siwon menyimpan tangisnya dalam diam. Air matanya pun tak kalah dengan mereka bertiga. Di samping itu, ada rasa bersalah yang ikut menggerogoti hatinya, membuat Siwon berkali lipat merasakan kesedihan.

Tok tok tok

Pintu ruang inap VIP milik Kibum diketuk dari luar. Membuat suasana haru biru itu berakhir. Tak lama, sesosok namja memasuki ruangan itu.

"Selamat malam. Apa aku mengganggu?"

"Tidak, Hae-ah. Ayo kemari."

Namja itu adalah Lee Donghae. Dokter yang menangani Kibum. Namun kali ini sang dokter muda tak mengenakan jas putih kebanggaannya. Donghae hanya mengenakan kemeja bergaris berwarna biru dan celana kain berwarna hitam. Membuat penampilan sang dokter terlihat lebih casual.

Donghae mendekati satu – satunya ranjang di ruangan itu setelah Kibum menyuruhnya untuk mendekat.

"Bagaimana keadaanmu?"

"Setidaknya baru satu jam yang lalu kau memeriksa keadaanku. Apa aku harus menjawab juga?"

Donghae sama sekali tak tersinggung apa lagi marah. Dia justru terkekeh mendengar jawaban Kibum, begitu juga yang lainnya. Kibum masih bisa bercanda.

"Kau akan pulang?"

"Nde, ahjumma. Taeminie ingin tidur denganku malam ini. Jadi ya… aku harus pulang."

Donghae menjawab seadanya. Tadi setelah memeriksa Kibum, ponselnya bergetar, nomor sang istri tertera di sana. Namun ternyata bukan Eunhyuk yang menghubunginya, melainkan sang tuan putri Lee Taemin. Gadis kecil itu merengek agar Donghae pulang menemaninya tidur. Lalu jangan pikir Donghae akan mengabaikannya, pria itu justru bergegas menyelesaikan pekerjaannya agar bisa lekas pulang. Namun sebelum pulang sang dokter sengaja mampir ke ruangan Kibum.

Donghae bisa melihat bekas air mata di wajah mereka. Tampaknya dia mengerti dengan apa yang telah terjadi. Sore tadi tuan dan nyonya Choi melakukan konsultasi mengenai penyakit Kibum hingga melibatkan para petinggi rumah sakit dan dokter senior. Mereka ingin membawa Kibum berobat keluar negeri dan meminta pendapat dari pihak rumah sakit. Hingga akhirnya mereka mendapat persetujuan untuk membawa Kibum berobat hingga ke negeri Paman Sam. Meskipun Donghae juga ikut menyetujui, namun dalam hati dia tak yakin Kibum akan menerimanya. Sama seperti Siwon, Donghae juga tahu bagaimana Kibum.

"Pasti karna aku, ya? Kau mengabaikan istri dan anakmu pasti karna aku."

"Heeei, jangan ge-er begitu. Ini bukan karna kau tapi karna pasienku. Lagi pula aku tidak mengabaikan mereka. Aku mencari uang untuk mereka."

"Kalau begitu lekaslah pulang. Jangan bekerja terlalu keras hingga mengabaikan anak dan istrimu."

"Nde, ahjussi. Kalau begitu aku permisi."

Donghae memberi salam pada Hankyung juga Heechul dan berpamitan pada Siwon dan Kibum. Namun belum juga Donghae keluar, Kibum sudah memanggilnya.

"Besok bisakah kau membawa Eunhyukie dan Taeminie? Aku ingin bertemu dengan mereka. Bisakah?"

'Untuk yang terakhir kali, Hae-ah. Aku mohon.'

"Tentu saja, nyonya muda Choi. Aku akan membawa mereka besok."

Sebelum keluar, dokter muda itu tersenyum pada Kibum, menyanggupi permintaannya.

.

.

.

"Kibumie ahjumma!"

Saat itu masih pagi ketika seorang gadis kecil berlarian masuk ke ruang rawat Kibum. Membuat mereka terkejut dengan suara cempreng sang gadis cilik.

"Taeminie, jangan berlarian, nak."

Seorang wanita dewasa ikut masuk ke ruangan itu tak lama setelah si gadis kecil itu masuk. Nampaknya wanita dewasa itu sedikit kewalahan menghadapi tingkah aktif putri kecilnya.

"Ingat pesan eomma, tak boleh berteriak di tempat kerja appa. Taeminie ingat kan?"

Wanita itu – Eunhyuk – sudah berjongkok di depan Taemin. Sambil merapikan rambut putrinya, Eunhyuk memberikan nasihat. Sebenarnya hanya mengingatkan saja karena selama dalam perjalanan tadi Eunhyuk sudah meminta Taemin untuk tidak berlarian dan berteriak jika sudah sampai di tempat kerja sang ayah. Belakangan ini tuan putri Lee itu sedang senang berteriak ataupun berbicara keras – keras.

Gadis cilik nan manis itu hanya mengangguk patuh. Dia cukup mengerti jika ibunya tak suka jika nasihatnya diabaikan begitu saja.

"Sudahlah, Eunhyuk-ah, tak apa."

Heechul merasa sedikit tak tega melihat wajah takut Taemin. Wanita paruh baya itu sudah menganggap putri pasangan Lee itu seperti cucunya sendiri.

"Ah~maaf sudah membuat ribut. Sayang, ayo beri salam pada halmonie dan haraboji."

"Annyeonghaseyo~"

Dengan polosnya Taemin menurut. Gadis cilik itu menghadap pada Heechul dan Hangeng yang sedang duduk di sofa lalu membungkukkan badannya sedikit. Benar – benar menggemaskan.

"Sayang, ayo kemari!"

Kali ini giliran Kibum yang sudah tak tahan dengan tingkah lucu si kecil Lee itu. Taemin yang penurut pun menghampiri ranjang Kibum. Si gadis kecil itu berusaha keras agar bisa naik ke ranjang pasien itu. Namun usaha Taemin terhenti ketika Eunhyuk menggendong tubuh kecilnya.

"Tidak, sayang. Ahjumma sedang tidak bisa bermain, nak."

Eunhyuk berusaha memberi pengertian. Dia sangat tahu jika sang putri cukup dekat dengan sahabatnya.

"Tak apa, Eunhyukie. Aku hanya akan memangkunya saja."

Kibum mencoba bernegosiasi. Dia sangat ingin memeluk putri sahabatnya. Kibum juga merasa rindu dengan gadis kecil itu. Tapi Eunhyuk hanya merasa tak enak. Kibum adalah seorang pasien, dia butuh banyak istirahat. Eunhyuk tak ingin Kibum kelelahan dengan tingkah aktif putri kecilnya. Tapi melihat Kibum yang merengek membuat yeoja bergummy itu luluh juga. Perlahan Eunhyuk mendudukkan Taemin di pangkuan Kibum. Lalu dengan segera si yeoja salju itu memeluk Taemin. Putri pasangan Lee itu sudah seperti putrinya sendiri. Jika takdir Tuhan untuknya tak begini, dia ingin memberikan seorang adik perempuan yang tak kalah manis dari Taemin untuk Kyuhyun. Namun dia tak punya kuasa untuk merubah itu semua. Kibum kembali tersenyum miris mengingat nasibnya.

Eunhyuk hanya bisa tersenyum haru melihat Kibum. Sahabatnya itu terlihat begitu senang dengan kedatangan Taemin juga dirinya.

"Ahjumma sakit apa?"

Gadis kecil itu bertanya penuh rasa ingin tahu.

"Ahjumma tak sakit, sayang."

"Lalu kenapa ahjumma tidur di sini? Eomma bilang, orang yang tidur di tempat kerja appa berarti orang itu sedang sakit."

Lalu si kecil Lee itu memberikan penjelasan dengan polosnya. Kibum dan Eunhyuk menahan tawanya, sedangkan Hangeng dan Heechul memilih tertawa pelan.

"Benarkah? Tapi shjumma tidak sakit. Ahjumma hanya menemani appa Taeminie bekerja."

"Taeminie juga ingin menemani appa bekerja, tapi eomma selalu melarang."

Kali ini Taemin memberikan ekspresi cemberutnya. Dia ingat ibunya selalu melarangnya menyusul sang ayah ke rumah sakit. Membuat gadis kecul itu merasa kesal.

"Itu karena rumah sakit bukan tempat yang tepat untuk anak seusia Taeminie."

Merasa gemas, Kibum mencubit kedua pipi bocah cilik itu. Dan selanjutnya hanya gelak tawa yang terdengar.

"Siwon kemana?"

Eunhyuk buka suara. Sadar jika suami Kibum tak ada di ruangan itu.

"Sedang membeli sarapan bersama Kyuhyun."

"Kyuhyun? Dia tak sekolah?"

"Tak mau. Dia ingin di sini bersamaku. Jadilah aku dan Siwon sepakat meminta wali kelasnya datang kemari untuk mengajar Kyuhyun. Lalu kau, kau kemari hanya bersama Taemin?"

"Tidak. Aku datang bersama Donghae. Dia bilang harus memeriksa pasien dulu baru bisa kemari."

Ceklek

Panjang umur. Mereka yang sedang dibicarakan telah datang. Donghae datang bersama Siwon yang sedang menggendong Kyuhyun.

"Appaaaa!"

Taemin yang sadar akan kehadiran sang ayah langsung berseru senang memanggil ayahnya. Kedua lengan mungilnya terulur, minta Donghae menggendongnya.

"Aigo tuan putri, tidak boleh berteriak jika di tempat kerja appa. Kau bisa mengganggu Kibum ahjuma. Taeminie mengerti, kan?"

Donghae mencoba memberi pengertian setelah berhasil menggendong buah hatinya.

"Biarkan saja, Hae-ah. Aku justru suka karena ruangan ini tidak akan terasa seperti di rumah sakit."

"Taeminie sayang, kau harus mendengarkan kata – kata eomma dan appa. Ahjuma tahu taeminie anak yang pintar, bukan begitu?"

"Eum."

Gadis cilik itu mengangguk dengan penuh semangat hingga poni rambutnya bergoyang. Menggemaskan.

"Ahjumma, Ahjumma tahu tidak, Taeminie akan punya dongsaeng."

"Taeminie akan punya dongsaeng? Benarkah?"

"Ne. Appa bilang seperti itu."

Ah putri kecil Lee itu benar – benar polos. Kibum beralih menatap Donghae dan Eunhyuk bergantian.

"Benarkah itu?"

"Ne, Kibumie. Kami sedang menjalani program untuk memberikan adik untuk Taeminie."

Eunhyuk menjawab dengan wajah merona. Yeoja manis itu sudah bergelayut pada lengan bebas sang suami.

"Wah, semoga kalian berhasil. Aku turut senang."

"Ah, Taeminie mau bantu ahjumma?"

"Ne, ahjumma. Apa yang bisa Taeminie bantu?"

"Nanti jika ahjumma tidak bisa bermain dengan Kyunie oppa, Taeminie mau kan bermain dengan Kyunie oppa?"

"Geure, ahjumma. Taeminie akan mengajak oppa bermain meskipun nanti Taeminie punya dongsaeng."

Kibum menatap sayu putri sahabatnya.

"Hyuk-ah, kelak jika adik Taeminie sudah lahir kau harus bisa membagi waktumu dengan baik. Jangan melulu memikirkan butikmu saja. Dan kau, Lee Donghae, aku yakin kau bisa menjaga wanita hiperaktif ini. Aku berdoa semoga kalian hidup bahagia."

"Ya! Choi Kibum, kenapa kau bicara seperti itu? Membuat ku sedih saja."

Eunhyuk benar – benar ingin menangis. Apa yang dikatakan Kibum terdengar seperti orang yang sedang 'berpamitan'. Tak hanya Eunhyuk, mereka yang di ruangan itu ikut merasa miris mendengar kata – kata Kibum. Namun yeoja salju itu hanya tersenyum menatap kedua sahabatnya. Mencoba merekam setiap lekuk wajah kedua sahabatnya juga malaikat cantik yang digendong Donghae. Dalam hati dia bersyukur memeiliki mereka. Bagi seorang Kibum mereka sudah seperti keluarga kedua. Lalu Kibum tersenyum lebar. Dia tak ingin menangis. Mereka harus mengingat Kibum yang tersenyum, bukan berderai air mata.

"Hae-ah, boleh kan aku jalan – jalan keluar sebentar?"

"Ne, tentu saja boleh. Nanti jika keadaanmu sudah membaik kau boleh pergi ke mana pun kau mau."

"Tidak. Aku ingin sekarang. Hanya sebentar saja."

"Tapi keadaanmu masih lemah, nyonya muda Choi Kibum."

Kibum menatap lekat pada Donghae.

'Aku mohon, Hae-ah. Anggap ini permintaan terakhirku.'

Mereka seperti sedang berkontak batin. Donghae yang ditatap sedemikian rupa oleh Kibum akhirnya luluh juga.

"Baiklah. Tapi hanya sebentar, setelah itu kau harus kembali kemari, arrachi?"

"Nde, uisanim. Lee Donghae uisanim yang terbaik!"

.

.

.

"Memang kita akan kemana, mom?"

Kyuhyun bertanya antusias pada ibunya. Mereka – Siwon, Kibum, dan Kyuhyun – sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat dengan Kyuhyun yang duduk di pangkuan Kibum. Dia tetap memaksa agar Kyuhyun duduk di pangkuannya meskipun Siwon sudah membujuk.

"Kita akan ke sekolah tempat daddy dan mommy bertemu dulu."

Yang dimaksud Kibum adalah SMA tempat mereka menimba ilmu. Dan di sanalah dia bertemu dengan cinta pertamanya, dan juga akan menjadi cinta terakhirnya. Seorang idola pujaan murid perempuan satu sekolah, Choi Siwon.

Lalu tak lama berselang, mobil yang mereka tumpangi sudah masuk ke pelataran parkir tujuan mereka. Siwon keluar terlebih dulu, menyiapkan kursi roda untuk istrinya. Lalu membuka pintu di samping Kibum dan menurunkan Kyuhyun. Terakhir, dia menggendong Kibum dan mendudukannya di kursi roda. Siwon mendorong kursi roda Kibum dan Kyuhyun menggandeng tangan kanan Kibum.

"Waaah sekolahnya besar sekali, mom."

Kyuhyun kecil terkagum begitu mereka memasuki halaman sekolah itu. Paran High School adalah SMA swasta terfavorit dengan murid – muridnya yang berotak encer dan juga para orangtua yang berkantong tebal. Kibum menyapukan pandangannya menelusuri gedung bertingkat tiga itu. Banyak yang berubah, seiring pergantian zaman. Paran High School tetap menempati urutan teratas dengan lulusan – lulusan berkualitasnya. Dalam hati Kibum bangga bisa bersekolah di sini, walau dengan beasiswa yang mengharuskan dirinya mengikuti seleksi mengalahkan ratusan siswa lain. Berbeda dengan Siwon yang sudah pasti akan langsung diterima hanya dengan menyebutkan dari keluarga mana dia berasal.

"Apa Kyunie ingin sekolah di sini juga ketika sudah besar nanti?"

Siwon tahu putranya begitu tertarik dengan almamaternya.

"Ne, dad. Kyunie juga mau sekolah di sini seperti mommy dan daddy."

"Kalau begitu Kyunie harus belajar yang rajin. Mommy tidak mau Kyunie masuk ke Paran karena bantuan daddy. Putra tampan mommy juga harus menggunakan ini."

Di akhir kalimatnya, Kibum menunjuk pelipisnya, memberi tahu Kyuhyun untuk menggunakan otaknya bukan hanya nama besar sang ayah.

"Got it?"

"Yes, Ma'am!"

Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah. Tak banyak bahkan tak ada murid berkeliaran karena memang jam belajar mengajar sedang berlangsung.

"Sudah cukup ya, sayang. Kita kembali ke rumah sakit."

Mereka telah mengitari sekolah itu dengan menyusuri koridor. Siwon menghentikan kursi roda Kibum tepat pada titik di mana mereka memulai, tempat yang sama yang juga mengarah ke pintu gerbang. Siwon bersimpuh di depan Kibum. Sebenarnya namja tampan itu sudah sejak tadi mengkhawatirkan keadaan istrinya.

"Sudah cukup kita berada di sini. Sekarang kita kembali. Kau tak lupa pesan Donghae kan?"

"Eum. tapi sebelum itu, tolong bawa aku ke satu tempat lagi."

"Tapi sayang – "

"Aku mohon."

Tatapan sayu penuh permohonan. Siapa yang tak luluh jika sudah ditatap seperti itu oleh Kibum. Dan itu sangat ampuh jika dipraktikkan pada Siwon. Suami Choi Kibum menghela nafas. Dia menyerah, tak akan pernah bisa menolak tatapan memohon itu.

"Well, where will we go, sweetheart?"

"I wanna go to our first date place. Ajigdo gieogna?"

"Eum, aku masih ingat. Tapi kita tidak boleh terlalu lama. Ingat, keadaanmu masih lemah, sayang."

"Ne, arraseoyo."

Sesuai permintaan Kibum, kini mereka menuju tempat tujuan selanjutnya. Sebuah danau buatan di pinggiran kota Seoul. Dulu Siwon membawa Kibum ke sana untuk berkencan. Ya, di sanalah mereka melakukan kencan pertamanya. Saat itu Siwon bingung akan membawa Kibum kemana, mengingat Kibum bukan seperti gadis – gadis pada umumnya yang suka menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan. Taman bermain juga bukan menjadi pilihan Siwon karena Kibumnya juga tidak terlalu suka keramaian. Lalu seorang teman menyarannya untuk membawa Kibum ke tempat itu. Siwon masih ingat betapa senangnya Kibum begitu mereka tiba di sana. Siwon tak akan pernah lupa senyum cerah milik Kibumnya.

Tiga puluh menit perjalanan dan akhirnya mereka tiba di sebuah danau buatan yang indah. Seperti sebelumnya, Siwon membantu Kibum turun dari mobil dan mendorong kursi rodanya. Cuaca hari itu sangat baik, mengingat ini masih awal musim gugur. Banyak daun mulai berguguran tertiup angin.

Siwon membawa Kibum juga Kyuhyun pada sebuah bangku taman, hanya beberapa meter dari tepi danau. Siwon memindahkan Kibum agar duduk di bangku itu lalu dia duduk di samping Kibum. Yeoja salju itu memberi isyarat pada Kyuhyun untuk duduk di pangkuannya.

"Tidak banyak yang berubah ya, Siwonie? Tak jauh beda saat kita terakhir kemari."

"Ya, kau benar, sayang."

"Kau ingat kapan terakhir kita kemari? Saat kita merayakan lima tahun pernikahan kita. Dan setelah itu kau menjadi sangat sibuk."

"Mian. Aku pasti telah mengabaikanmu saat itu. Maafkan aku."

"Sudahlah. Ittu sudah lama berlalu. Yang penting sekarang kau ada bersamaku. Gomawo."

Mereka terdiam, menikmati suasana. Kibum selalu suka suasana di danau itu. Begitu menenangkan. Kibum mengedarkan maniknya, merekam dalam hati seolah dia tak akan ke tempat itu lagi.

"Apa Kyunie juga suka tempat ini?"

"Eum. kyunie suka, mom. Nanti kalau Kyunie sudah punya yeojachingu akan Kyunie bawa dia kemari."

Baik Siwon maupun Kibum terkekeh. Entah mengapa buah hati mereka sangat ingin meniru apa yang pernah mereka lakukan, seperti bersekolah di Paran High School dan menjadikan danau itu sebagai tempat kencannya kelak. Putra yang pernah dilahirkan Kibum begitu mengagumkan. Dan tanpa terasa Kibum mengeratkan dekapannya pada Kyuhyun.

"Kyuhyunie sayang mommy kan, nak?"

"Ne. kyunie sangaaaat sayang mommy."

"Kalau begitu berjanji pada mommy, setelah ini Kyunie harus mendengarkan daddy dengan baik, harus menurut, tidak boleh nakal. Kyunie juga harus bisa mengikat tali sepatu sendiri jika mommy tak ada untuk membantumu mengikatnya. Kyuhyunie mommy harus tumbuh menjadi anak yang mandiri dan cerdas, juga tampan. Kyuhyunie bisa kan, sayang?"

"Ya, mom. Kyunie berjanji. Tapi kenapa mommy bicara seperti itu? Memangnya mommy akan pergi kemana? Kenapa tidak bisa membantu Kyunie mengikat tali sepatu, mom?"

"Mommy tidak kemana – mana, sayang. Mommy akan selalu bersama Kyunie. Di sini akan selalu ada mommy."

Kibum menuntun tangan kecil Kyuhyun untuk meyentuh dada kirinya sendiri.

Angin berhembus. Tak kencang tapi cukup membuat Kibum merasa dingin. Namun setelah itu sepasang lengan kekar memeluknya, menghangatkan. Kibum menoleh ke samping. Tepat saat itu sang suami tengah tersenyum padanya membuat Kibum semakin merasa hangat.

"Kau pasti kedinginan. Apa seperti ini sudah terasa lebih hangat?"

"Eum. Sangat hangat."

Lalu Kibum menyamankan diri dalam dekapan Siwon.

"Siwonie, apa kau masih mencintaiku?"

"Apa yang kau katakan, sayang. Aku akan selalu mencintaimu. Tentang apa yang terjadi pada kita belakangan ini, aku minta maaf. Aku sungguh menyesali kekhilafanku."

"Sudah, Siwonie. Kau sudah menyesalinya. Terimakasih kau telah kembali."

"Jika kau mencintaiku, kau akan mengabulkan keinginanku, kan?"

"Geurom. Katakan padaku, apapun itu. Aku akan mengabulkannya untukmu."

"Siwonie, setelah ini aku ingin kau membantuku membesarkan uri Kyunie. Aku pun juga ingin kau hidup bahagia."

Siwon melerai pelukkannya dan menatap dalam manik sayu milik istrinya.

"Heei, apa maksudmu, sayang? Kita akan membesarkan Kyunie bersama. Dan aku akan hidup bahagia bersamamu juga anak kita. Kenapa bicara seperti itu?"

"Tidak, Siwonie. Maafkan aku melimpahkan tanggung jawab itu padamu. Tapi aku tidak bisa."

Kibum membawa tangan besar Siwon di atas kepalanya.

"Tolong berjanji padaku, kau akan menjaga Kyuhyun dan menjadikannya prioritas utamamu. Setiap kali kau akan mengambil keputusan, kau harus memikirkan uri Kyuhyunie. Dia hanya punya kau, jadi maukah kau mencarikan ibu untuknya? Aku percaya kau akan selalu mencintaiku. Tapi Kyuhyun tetap membutuhkan seorang ibu. Kau juga butuh istri yang bisa melayanimu dan membantumu mengurus Kyuhyun."

"Tidak, Kibumie. Aku – "

Siwon hendak menurunkan tangannya dari kepala Kibum namun urung saat Kibum menahannya.

"Aku mohon, Siwonie. Demi aku. Kau akan mengabulkannya, kan?"

Tatapan mata itu penuh permohonan. Dan ingat, Siwon akan selalu kalah oleh tatapan itu. Dengan berat hati Siwon pun menyetujui keinginan Kibum.

Siwon kembali memeluk istrinya. Rasanya sakit mendengar Kibum berkata seperti itu. Siwon ingin percaya bahwa semua akan membaik. Istrinya akan baik – baik saja.

"Siwonie, sejak kapan ada perahu di sana?"

Siwon mengikuti arah pandang Kibum, mengarah pada tengah danau.

"Indah sekali. Aku baru tahu di danau ini ada perahu seindah ini."

"Kibumie.."

"Oh ada eomma dan appa juga di perahu itu. Aku ingin ikut mereka. Aku rindu mereka. Eomma dan appa sudah menjemputku, Siwonie."

Kibum sudah mulai berhalusinasi. Di tengah danau itu tak ada apapun seperti yang dikatakan Kibum.

"Sayang, lihat aku. Tak ada perahu atau apapun di danau itu. Kau tak akan kemana – mana. Kau akan tetap di sini. Bersamaku juga anak kita."

Siwon panik, dia takut. Air matanya mengalir begitu saja. Istrinya bicara yang tidak – tidak. Bagaimana bisa Kibum melihat kedua orang tuanya yang telah lama meninggal. Siwon ingat orang – orang pernah berkata tentang orang yang akan meninggal, mereka bisa melihat orang yang telah meninggal.

'Tidak. Tidak mungkin. Aku mohon, Kibumie.'

"Heeei, suami tampanku tidak boleh menangis. Ketampananmu bisa hilang nanti."

Siwon benar – benar terisak. Kibum mengusap air matanya. Tangan kecil itu terasa dingin di pipi Siwon. Wajah putih cerahnya kini terlihat begitu pucat.

"Kau ingat tidak, dulu kau mengambil ciuman pertamaku di tempat ini."

Siwon mengangguk, tak sanggup untuk berkata – kata. Namja itu masih terisak. Sampai saat ini pun Siwon masih ingat bagaimana ciuman pertama mereka kala itu.

"Sekarang, aku ingin memintanya kembali. Kau mau kan memberi ciuman terakhir untukku?"

"Bukan terakhir, sayang. Nanti, besok, setiap hari aku akan menciummu."

"Tapi aku ingin sekarang. Waktuku tak banyak lagi, Siwonie. Lakukan untukku."

Suara Kibum mulai terdengar lirih. Seperti sudah tak punya tenaga sekedar untuk bicara.

"Jangan menangis ketika menciumku. Dulu kau tak menangis ketika ciuman pertama itu."

Kibum kembali menghapus air mata Siwon. Siwon membingkai wajah pucat istrinya dan mulai mengikis jarak antara mereka. Hingga akhirnya bibir mereka bertemu. Ada kepedihan yang terasa dalam tautan itu. Rasa cinta mereka yang begitu dalam. Juga rasa tak rela kehilangan. Kibum mulai menghisap kuat bibir Siwon hingga hisapan itu berubah menjadi gigitan. Hal itu membuat Siwon terkejut. Dia mencoba mengintip apa yang tengah terjadi. Bukan nafsu atau gairah, yang dilihat Siwon adalah raut wajah ayu istrinya yang sedang menahan sakit. Dia mengerti, Kibum berusaha melampiaskan rasa sakitnya pada bibir Siwon. Siwon ingin sekali melepas tautan bibir mereka. Bukan karena rasa sakit – bahkan dia tak peduli jika nanti bibirnya akan robek – melainkan kerena dia ingin menolong Kibum dan segera membawa istrinya ke rumah sakit. Namun nyatanya Kibum seperti tak mengijinkan Siwon melepas tautan itu. Setitik air bening tertangkap oleh manik Siwon sedang turun dari mata Kibum yang terpejam erat.

'Sayang, lepaskan aku. Biarkan aku membawamu kembali ke rumah sakit. Kau pasti sedang sangat kesakitan. Aku mohon biarkan aku menolongmu. Tuhan, aku mohon.'

Sayup – sayup Siwon mendengar isak tangis. Itu Kyuhyun. Ibunya memeluknya begitu erat hingga membuatnya takut meski akhirnya dia balas memeluk sang ibu.

'Aku bahagia, Siwonie. Karena aku bersamamu hingga akhir. Cinta pertama dan terakhirku, terimakasih telah mengantarku dengan ciuman ini. Maaf aku menyakiti bibirmu. Setelah ini lanjutkanlah hidupmu dan berbahagialah bersama buah hati kita. Aku sangat mencintai mu juga pangeran kecil kita. Saatnya aku pergi, eomma dan appa telah menungguku. Jangan pernah merasa aku pergi karena aku akan selalu ada bersama kalian. Saranghae.'

Siwon merasa Kibum sudah tidak menggigit bibirnya lagi. Hisapan Kibumpun perlahan melemah. Sepasang tangan kurus yang memeluk Kyuhyun eratpun turut melemas, terkulai. Ini bukan hal yang bagus karena Siwon sudah tak merasakan hembusan nafas hangat milik Kibum. Choi Kibum, istrinya, sudah berhenti bernafas. Tubuhnya lemas tak bertenaga, terkulai dalam rengkuhan Siwon. Sedang namja dewasa itu mulai panik, mengguncang tubuh kurus itu, menepuk pipinya, berusaha membangunkan istri tercintanya.

"Kibumie.. sayang, bangunlah. Ayo kita pulang dan kau bisa tidur di ranjang yang nyaman."

Tak ada respon.

"Aku mohon sayang, bangunlah. Jangan sekarang. Kibumie, jangan seperti ini. Aku ingin memperbaiki kesalahanku. Bahkan kau belum memberiku kesempatan untuk menebus semuanya. Hiks.. aku menyesal, kau dengar. Bangunlah. Bagaimana aku bisa hidup tanpamu di sisiku. Hiks.. Kyuhyun. Putra kita. Kau tega meninggalkannya? Kibumie.. aku mohon hiks. Maafkan aku hiks."

Semua yang diucapkan Siwon nyatanya tak mampu membuat Kibum kembali bernafas. Siwon kembali memeluk tubuh tak bernyawa Kibum sambil terus menggumamkan kata maaf. Ini adalah pukulan telak dalam hidup seorang Choi Siwon. Belahan hatinya telah pergi. Bagaimana bisa dia hidup jika separuh jiwanya juga dibawa mati. Bagaimana dunianya nanti tanpa senyum cerah sang istri. Rumah bak istana itu akan terasa sepi. Ranjang luasnya akan kosong. Siwon hanya akan memeluk udara dan kehampaan. Bagaimana Siwon bisa menjalani hidup seperti itu. Dunianya sudah terbiasa berkutat dengan seorang Kibum di dalamnya.

"Mommy, Kyunie sayang mommy. Kyunie janji akan jadi anak baik hiks. Kyunie janji akan mendengarkan daddy hiks. Kyunie akan menali sepatu sendiri hiks. Mom.. hiks mommy hiks ireonabwayo. Hiks hiks hiks."

Siwon sadar dia tak sendiri. Ada Kyuhyun bersamanya. Putra kecilnya pasti sangat terpukul. Usianya baru enam tahun tapi dia harus kehilangan ibunya. Siwon tahu betapa dekatnya Kyuhyun dengan ibunya. Seperti hanya Kibum yang bisa mengendalikan Kyuhyun. Siwon juga membawa Kyuhyun dalam pelukannya bersama Kibum. Mereka terisak bersama. Sekarang Siwon tak hanya berperan sebagai ayah, dia juga harus bisa memegang peran seorang ibu.

'Kau harus kuat, Choi Siwon. Demi putra semata jalan, sayang. Kita akan bertemu lagi di kehidupan yang lain. Saranghae, yeongwonhi.'

Tak jauh dari tempatnya duduk ada sosok tak kasat mata yang terus memandang mereka. Sosok itu terlihat begitu sendu. Dia mendengar semua yang dikatakan Siwon juga Kyuhyun. Sebutir air mata turun dari masing – masing maniknya.

'Maafkan aku harus pergi. Yakinlah, setelah ini kalian akan menemukan kebahagian kalian kembali. Aku pergi, Siwonie, Kyuhyunie. Annyeong.'

Sosok itu berjalan menjauhi mereka, menghampiri sepasang orangtua paruh baya yang telah menantinya. Senyum terlukis pada paras renta kedua orangtua itu. Menyambut sosok itu dan membawanya pergi bersama. Menaiki perahu yang tak akan bisa terlihat oleh mata awam. Perlahan perahu itu menjauh lalu menghilang. Meninggalkan Siwon dan Kyuhyun yang masih terisak sambil memeluk tubuh tanpa nyawa milik Kibum.

.

.

.

E N D

.

.

.

.

.

Yaaach udah end gitu ajaaa. yach mau gimana lagii. ya gitulah.

Maaf kalo ternyata jadinya sad ending gini. Maaf yaa padahal uda lama ga d lanjutin eee tau tau udah kelar. Mana sad end lagi. heheee

Maaf kalo uda bikin kecewa. Makasi buat masukannya. Tapi saya punya pemikiran saya sendiri.

Kalo ini saya bikin happy end..ntar clue yang pernah saya kasih mubazir doong. kan sayaaang heheee

Selamat buat yang uda bisa nebak akhir critanya bakal jadi sad. hehee

Ada yang merasa feelnya kurang dapet? Harap maklum..yang bikin masih amatir soalnya.

Selanjutnya saya akan buat sekuelnya.

Makasi buat temen2 yang masih mau nungguin fict abal saya. Makasi juga buat kritik saran nya.

Saya masih dengan senang hati memeprsilakan temen2 buat ngisi kotak review saya.

Thankyuuu ^^