Hai haaii saya datang lagi. Setelah sekian lama :D Maafkan..
Sebenernya saya masih galau antara lanjut sequel apa udahan aja. Ada beberapa dari chingu yang kasih masukan buat ga usa pake sequel. Tapi kalo saya ga salah inget, saya pernah janjiin kasih sequel. Dan galaupun datang.
Saya kasi bocoran dulu tentang part ini :
Ternyata sequel nya bakal panjang, lebih dari perkiraan saya. jadi part sequel ini masih TBC.
Karena panjang, maka tidak menutup kemungkinan temen2 bakal bosen.
Sequel ini ga merubah crita awal ya. Jadi yang berharap ada keajaiban di part ini..maaf banget, ga ada.
Part ini isinya nostalgia kisah cinta si pemeran utama. Jadi part ini alurnya maju mundur.
Langsung baca aja ya. Warning khusus nya itu aja, sisa nya sama seperti warning2 yg lain.
Makasi yang uda tetep nungguin, maaf kalo ga sesuai expectasi.
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
SEQUEL
Story of My Life
.
.
.
Kau harus kehilangan dulu baru kau sadar seberapa berartinya apa yang telah hilang itu.
Kau harus merasa menyesal dulu baru kau tahu bahwa apa yang telah kau lakukan adalah salah.
.
.
.
Seorang pastur telah selesai memimpin upacara pemakaman Kibum. Hari itu komplek pemakaman terlihat begitu ramai. Mereka yang datang adalah rekan bisnis keluarga Choi, para kaum sosialita, juga tak ketinggalan dari panti asuhan tempat Kibum pernah tinggal. Mereka mengenakan pakaian berwarna hitam atau setidaknya berwarna gelap sebagai tanda bela sungkawa.
Berita meninggalnya Choi Kibum langsung menjadi trending topik begitu pihak rumah sakit memberikan keterangan. Tak sedikit dari mereka yang dikejutkan oleh berita itu.
Choi Kibum, masyarakat mengenalnya sebagai pribadi yang baik hati dan dermawan. Tak jarang dia terlibat dalam berbagai penggalangan dana dan kegiatan amal. Jiwa sosialnya yang tinggi membuat dia dicintai banyak orang.
Siwon dengan sabar menerima ucapan bela sungkawa dari mereka yang hadir. Sedangkan Kyuhyun, putranya itu sudah tertidur di gendongan sang kakek.
"Kami turut berduka, Siwon-ssi. Tuhan lebih menyayangi Kibum, kita harus merelakannya."
"Iya, terimakasih, suster."
Suster Han menepuk bahu Siwon. Suster Han juga merasa kehilangan. Kibum sudah seperti putrinya, mengingat beliau pernah menjadi wali Kibum ketika gadis manis itu tinggal di panti asuhan. Tak hanya Suster Han, beberapa suster juga turut menghadiri pemakaman itu.
Hingga akhirnya para tamu telah pergi menyisakan Siwon dan kedua orang tuanya juga Kyuhyun yang masih terlelap.
"Appa dan eomma pulang dulu saja. Kasihan Kyuhyun, sepertinya dia sangat lelah. Aku ingin tinggal di sini sebentar lagi."
"Baiklah, kami akan pulang. Jangan terlalu lama. Ingat, Kyuhyun juga membutuhkanmu."
"Ne, appa."
Dan tinggallah Siwon sendiri, berjongkok di samping gundukan yang masih basah itu. Tangannya membelai nisan yang terpahat nama istrinya. Tak terasa lelehan bening itu turun dari matanya.
"Sayang, tidakkah kau berpikir kau pergi terlalu cepat? Apa yang harus aku lakukan dengan hidupku tanpamu? Bagaimana dengan Kyuhyun kita, eum? hiks hiks hiks."
Hingga akhirnya namja itu terisak. Isakan yang telah dia tahan sedari tadi. Biarlah dia sejenak melepaskan embel embel kebanggaannya. Saat ini dia hanyalah seorang Choi Siwon yang rapuh.
"Siwon oppa."
Siwon segera menghapus air matanya dan mencari orang yang telah memanggilnya.
"Fanny-ah."
Tiffany datang dengan mengenakan dress hitam dengan panjang di bawah lutut berlengan panjang. Wajah cantiknya tak terpoles make up sama sekali. Siwon bisa melihat mata itu tampak sembab.
"A-aku turut berduka cita."
Lalu Tiffany ikut berjongkok di sisi lain pusara Kibum, berhadapan dengan Siwon.
"Eonni, kau pergi begitu saja. Aku belum meminta maaf padamu. Bahkan aku belum memelukmu untuk terakhir kali. Hiks. Eonni, aku menyesal dengan apa yang telah aku lakukan padamu. Hiks. Kau adalah kakakku yang terbaik tapi aku justru menghancurkan hatimu. Maafkan aku hiks hiks. Eonni tahu? Perkataan eonni waktu itu terus berputar di kepalaku. Dan eonni benar, Siwon oppa tidak bisa mencintai wanita lain selain eonni. Hiks."
Siwon sedikit mengerutkan dahinya mendengar perkataan wanita di depannya.
"Kau pernah bertemu Kibum sebelumnya?"
"Ne. beberapa minggu yang lalu aku bertemu eonni di rumah sakit."
"Rumah sakit?"
"I-iya. Saat itu aku akan menjenguk temanku lalu tanpa sengaja aku bertabrakan dengan eonni di lobby rumah sakit. Aku bahkan ikut membantunya membereskan bungkusan – bungkusan obat yang terjatuh dari tangannya."
"Dan kau tidak mengatakannya padaku?"
"Sa-saat itu aku sedang dikuasai oleh rasa iri dan dengki. Jadi saat itu aku pikir untuk apa memberitahumu. Maafkan aku."
"Mungkin jika saat itu kau menceritakannya padaku. Jika saja sifat egois dan rasa dengkimu yang konyol itu tidak menutupi hatimu, aku pasti akan memaksa Kibum mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak perlu kehilangan Kibum seperti ini!"
Nada suara namja itu naik. Dia marah. Dia ingin sekali marah..
"Hiks maafkan aku. Hiks hiks maaf. Aku sungguh meminta maaf. Hiks hiks."
Siwon sadar, tak ada gunanya marah pada Tiffany. Toh itu tak akan mengembalikan Kibumnya. Dia hanya kecewa. Dia menyesalkan sikap Tiffany. Andai wanita itu menceritakannya pada Siwon pasti tidak seperti ini jadinya.
"Sudahlah. Semua sudah terjadi. Maaf, tak seharusnya aku marah. Aku hanya… kecewa. Sekarang pulanglah. Tinggalkan aku di sini bersama Kibum."
Tiffany tidak ingin mendebat Siwon. Wanita itu langsung berpamitan pada Siwon setelah sebelumnya dia menyempatkan diri memeluk nisan Kibum. Dan Siwon kembali sendiri, bersama pusara Kibum.
.
.
.
Matahari sudah mulai turun, berganti senja namun rumah bak istana itu masih terlihat didatangi para pelayat. Karangan bunga bela sungkawa berjejer rapi di sepanjang pelataran luas itu.
Seorang namja turun dari mobilnya diikuti seorang yeoja yang juga turun dari mobil yang sama. Mereka berjalan beriringan menuju pintu utama istana itu. Si yeoja secara otomatis menggamit lengan namjanya. Mengingat tingginya hanya sampai sebatas bahu sang namja, membuatnya merasa pas jika memeluk lengan namjanya.
"Ternyata masih banyak yang datang untuk melayat."
"Ne. Sepertinya tak buruk kita datang sekarang."
Mereka terus berjalan hingga hampir sampai di depan pintu sang namja menghentikan langkahnya. Dia seperti teringat sesuatu.
"Ah sebentar. Oppa katakan lebih dulu padamu, sampai di dalam nanti kau jangan terkejut. Walaupun oppa yakin kau akan terkejut tapi tolong jangan perlihatkan pada mereka. Bersikaplah seperti biasa, oke."
"Apa maksud oppa? Aku tidak mengerti. Tapi… baiklah."
Akhirnya sang yeoja mengangguk setuju meskipun dia benar – benar tak mengerti dengan yang dikatakan kekasihnya.
'Memangnya kenapa?'
Si yeoja masih saja tak mengerti. Tapi bukankah kekasihnya memang kadang bersikap aneh?
'Ah sudahlah.'
Mereka memasuki rumah besar itu. Tak jauh dari pintu mereka bisa melihat foto seorang wanita cantik yang dipajang di tengah ruang tamu.
Wanita itu menegang. Secara reflek dia mencengkram lengan namjanya.
"O-oppa. I-itu.. benarkah?"
"Ne, chagiya. Seperti yang pernah aku katakan padamu di pesta pertunangan kita."
"Ti-tidak mungkin. Kenapa bisa mirip sekali?"
Wanita itu berucap lirih. Merasa tidak percaya dengan apa yang telah dia lihat.
"Seperti yang aku katakan di depan tadi. Kau harus bersikap biasa. Sekarang genggam tanganku dan bersikaplah sewajarnya."
Tak perlu disuruh dua kali, sang yeoja menggenggam tangan besar namjanya. Terasa lebih nyaman dan cukup menenangkan, pikir sang yeoja.
"Siwon-ah."
"Oh, Yesung hyung. Kau datang bersama Ryeowook-ssi?"
"Iya. Maaf kami baru datang."
"Tak apa, hyung. Terimakasih telah datang. Annyeonghaseyo, Ryeowook-ssi."
"Ah ne. A-annyeonghaseyo, Siwon-ssi. Kami turut berduka cita."
"Terimakasih. Mari, silakan duduk."
Mereka terlibat perbincangan ringan. Meskipun sebenarnya hanya Yesung dan Siwon saja yang aktif berbicara. Ryeowook hanya sesekali menanggapi. Wanita mungil itu sesekali masih memperhatikan foto mendiang Choi Kibum.
'Aku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku memang pernah dengar, setidaknya ada tujuh orang yang memiliki kemiripan dengan kita. Tapi aku yakin masih ada bagian yang berbeda. Tapi ini…. Ya Tuhan, kenapa mirip sekali? Seperti duplikat.'
"…sayang?"
Sepertinya Ryeowook terlalu larut dengan ketidakpercayaannya hingga dia mengabaikan dua pria yang bersamanya.
"Ah. Ye?"
"Kau kenapa sayang? "
"Kau baik – baik saja, Ryeowook-ssi?"
"N-ne, gwenchana. Maaf Siwon-ssi, aku mengabaikanmu. A-aku hanya – "
"Mungkin kau sudah lelah, sayang."
Yesung tahu pasti jika kekasih mungilnya sedang bingung harus berbicara apa di depan Siwon. Sejak tadi dia juga tahu jika Ryeowook terus memandang foto yang tengah di pajang di ruangan itu.
"Sepertinya Ryeowookie sudah lelah. Seharian ini dia sibuk mengurus persiapan pernikahan kami. Dan aku baru bisa menemaninya menjelang sore tadi. Belum lagi dia juga mengurus butiknya sendiri. Tolong maafkan kami."
"Ah hyung, kau ini. Santai saja, aku sangat mengerti bagaimana repot dan melelahkannya mengurus persiapan pernikahan. Aku justru berterimakasih kalian masih menyempatkan diri untuk datang ke mari."
Siwon tersenyum tulus penuh pengertian. Sedangkan Ryeowook diam – diam menghela nafas lega. Dia sangat berterimakasih pada Yesung yang menyelamatkannya dari suasana canggung dengan Siwon. Rasanya yeoja itu sudah tidak sabar ingin mengeluarkan isi kepalanya.
"Aku ingin kau hadir di hari bahagia kami, Siwon-ah. Walaupun sebenarnya kami berharap kau datang dengan mendiang istrimu, tapi mau bagaimana lagi. Kita tidak bisa berbuat apa – apa, kan?"
Siwon tersenyum miris.
"Ne, hyung. Aku pasti datang. Sekarang lebih baik kau antar calon istrimu ini pulang. Biarkan dia istirahat.. kasihan Ryeowook-ssi, pasti sangat lelah."
"Baiklah, Siwon-ah, kami pamit. Sekali lagi kami turut berduka cita. Kau harus kuat, demi si kecil Choi."
Yesung menepuk pelan bahu Siwon, memberi semangat. Lalu sepasang kekasih itu berpamitan dan meninggalkan rumah bak istina itu. Setelah ini Yesung harus tahan mendengar sang kekasih mengeluarkan isi kepalanya. Dia yakin sepanjang perjalanan nanti kekasihnya tak akan berhenti berbicara. Yesung sudah sangat tahu apa yang akan dibicarakan Ryeowook.
.
.
.
Matahari mulai meninggi hingga bias sinarnya menembus jendela kamar Siwon. Hal itu tak khayal membuat Siwon terganggu dalam tidurnya. Dengan mata yang masih terpejam dia meregangkan ototnya. Meraba sisi ranjang tempatnya berbaring.
Kosong
Biasanya ada sosok yang mengisi sisi ranjangnya. Biasanya dia akan memeluk tubuh kecil itu sebelum bangun. Biasanya dia akan mendaratkan beberapa kecupan pada sosok itu. Istrinya.
Tapi itu dulu, saat Siwon tak sadar jika setiap manusia bisa pergi. Entah itu atas kemauan sendiri atau atas kehendak Sang Pencipta.
Mendapati dirinya hanya seorang diri di kamar besar itu membuat Siwon sadar bahwa Kibum-nya telah pergi. Bahkan dia juga ikut mengantar kepergian Kibum. Lalu seketika seolah awan mendung ada di atas kepala, berbanding terbalik dengan cuaca cerah di luar.
"Mommy"
Kyuhyun mengetuk pintu kamar sambil memanggil ibunya. Membawa Siwon pada kenyataan bahwa dia tak sendiri. Masih ada Kyuhyun yang memerlukan perhatiannya. Dia sudah berjanji pada Kibum untuk selalu menjaga putra kebanggaan mereka.
Siwon paham, Kyuhyun pasti belum terbiasa tanpa Kibum. Maklum saja, wanita tercintanya itu hampir selalu ada di sekitar putranya. Setiap saat.
Siwon segera mengumpulkan kesadarannya sedangkan pintu kamar masih di ketuk oleh Kyuhyun. Bergegas membuka pintu sebelum sang putra kehilangan kesabarannya.
"Mommy."
"Morning, baby."
"Daddy? Where is mommy? Kenapa mommy tidak membangunkan Kyunie?"
Seharusnya Siwon sudah siap dengan pertanyaan simple yang sudah pasti akan ditanyakan putranya. Tapi nyatanya Siwon sedang bingung menyusun kalimat untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun. Hingga akhirnya Siwon memilih membawa Kyuhyun dalam gendongannya dan duduk di tepi ranjang.
"Baby, dengarkan daddy. Mulai hari ini kita hanya akan hidup berdua. Kyunie dan daddy. Karena sekarang mommy sudah tidak ada bersama kita lagi."
"Hiks mommy~"
"Walau begitu Kyunie harus selalu ingat, mommy ada di dalam hati kita. Selamanya. Mommy sudah ada di surga bersama para malaikat, melihat kita dari sana. Jadi jika kita terus bersedih maka mommy akan ikut bersedih juga. Kyunie suka mommy bersedih, eum?"
"A-anni hiks hiks."
"Nah kalau begitu kita harus kuat untuk mommy. Mulai sekarang Kyunie harus dengarkan daddy. Karena daddy akan menjaga Kyunie. Daddy juga akan menjadi mommy untuk Kyunie. Tapi daddy tak bisa sendiri. Daddy butuh bantuan. Dan satu – satunya yang bisa membantu hanya jagoan daddy ini. Jadi, maukah Kyunie membantu daddy?"
"Eum. Kyu akan membantu daddy."
"Terimakasih, sayang. Jja.. sekarang kita tidak boleh bersedih lagi ya. Demi mommy di surga, oke."
Siwon memeluk Kyuhyun erat. Sesekali Kyuhyun masih sesenggukkan. Siwon sendiri sudah tak kuasa menahan laju air matanya.
'Daddy menyayangi mu, nak. Sekarang hanya kau satu – satunya alasan daddy bertahan. Hanya kau kekuatan daddy. Kibumie, ini tak akan mudah. Tolong bantu aku juga. I love you.'
Ya, ini tak akan mudah.
Hari itu mereka mulai dengan saling berpelukan dan menangis. Ini adalah awal baru hidup mereka tanpa Kibum di antaranya.
.
.
.
Ini adalah hari ketiga setelah kepergian Kibum. Walau begitu masih ada ucapan bela sungkawa yang Siwon terima.
Keadaan sudah mulai kembali seperti sebelumnya. Meski tak bisa dipungkiri kesedihan itu masih ada. Kyuhyun sudah kembali dengan aktivitas sekolahnya. Mengenai Kyuhyun, Siwon sangat berterima kasih pada ibunya yang telah membantu mengurus Kyuhyun. Ini wajar karena yang biasa dilakukan Siwon hanya mengajak Kyuhyun jalan – jalan, menemaninya bermain dan belajar. Tapi mengurus anak bukan hanya tentang itu, kan?
Siang itu Siwon sedang duduk di halaman belakang, seorang diri. Tadi Heechul menelepon, mengatakan akan menjemput Kyuhyun dan membawanya ke mension Choi. Tidak seperti sang anak yang sudah mulai beraktivitas, Siwon masih enggan melakukannya. Dia lebih memilih mengurung diri di rumah besarnya. Tidak melakukan apa – apa. Hanya duduk dari satu tempat ke tempat yang lain. Seolah mereka ulang setiap kebiasaan mendiang istrinya.
Dan siang ini Siwon duduk diam di halaman belakang. Seolah dia sedang melihat Kibum merawat beberapa jenis tanaman di sana. Siwon suka melihatnya. Memperhatikan ekspresi serius istrinya sungguh lucu. Lalu tanpa dia sadari sebutir kristal bening mengalir begitu saja. Tak ingin semakin larut, Siwon pun beranjak menuju kamarnya. Kamar besar yang sejak tiga hari lalu hanya dihuni olehnya saja.
.
.
.
Siwon tak sengaja menemukan sebuah buku yang besarnya tak lebih besar dari buku tulis. Buku berkover tebal berwarna biru langit dengan beberapa gambar boneka teddy bear sebagai hiasannya. Siwon menemukannya ketika akan membereskan meja rias Kibum. Dia berniat menyimpan setiap pernak pernik yang mengisi meja itu ke dalam laci meja tersebut.
Dahinya berkerut, merasa asing dengan buku itu. Jelas bukan miliknya dan tak mungkin milik putranya. Choi Kyuhyun tentu saja akan lebih memilih robot dari pada boneka.
"Apa ini milik Kibumie?"
Rasa ingin tahu membuat Siwon bersemangat mencari tahu isi buku tersebut.
Kibum's Diary
Tulisan pada halaman pertama itu membuat Siwon yakin jika buku itu milik Kibum-nya, juga membuat Siwon semakin penasaran dengan isinya.
'Aku adalah pemilik buku ini. Namaku Kim Kibum. Aku mendapatkan buku ini dari Suster Han sebagai hadiah karena aku berhasil masuk SMA unggulan. Terima kasih, suster, aku menyukainya ^^'
Siwon tersenyum membacanya. Cara Kibum menulis benar – benar khas anak 16 tahun.
Siwon semakin tertarik dengan buku penemuannya. Siwon pikir dia bisa bernostalgia dengan istrinya lewat tulisan tangan curahan hati sang istri. Mungkin dia bisa mengulik beberapa rahasia yang Kibum sembunyikan darinya. Lalu dengan tak sabarnya Siwon menghampiri ranjang – tempat yang dia pikir paling nyaman untuk membaca buku harian Kibum – dan duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Dia menyamankan dirinya.
Siwon sepertinya benar – benar larut dalam buku harian Kibum yang kini telah menjadi buku bacaan favoritnya. Setidaknya sejak satu jam yang lalu Siwon sudah banyak mengeluarkan ekpresi wajahnya. Bahkan dia tak segan untuk tertawa ketika membaca 'cerita lucu' dari mendiang istrinya. Meskipun dulu Kibum sudah menceritakan semua kisahnya selama tinggal di panti, tapi tetap saja Siwon merasa apa yang dia baca adalah hal baru yang belum pernah Kibum ceritakan. Melalui buku itu Siwon juga bisa tahu bahwa sebenarnya Kibum juga mengagumi dirinya sama seperti murid perempuan lainnya. Buktinya, nama "Choi Siwon" muncul di beberapa halaman.
5 Maret 19xx
LEE DONGHAE MENYEBALKAAAN!
Kenapa dia membawa namaku?! Aku tidak ingin berurusan dengan Choi Siwon. Harusnya dia mengerti. Meskipun hanya beberapa bulan tetap saja aku tidak mau. Baiklah, besok aku harus bicara dengan si ikan jelek itu. Aaarrggghh.
Siwon tersenyum membaca deretan kalimat itu. Dia jadi ingat saat pertama kali dia berkenalan dengan Kibum, berkat seorang Lee Donghae.
.
.
.
Fleshback
"KAU SUDAH GILA YA?!"
"Ssssttt jangan berteriak seperti itu, Kim Kibum. Kita bisa jadi pusat perhatian."
"Biar saja. Kau ini memang sudah gila, Lee Donghae. Aigoooo kenapa kau lakukan ini pada ku?"
"Maafkan aku. Aku terpaksa. Hanya namamu yang ada dalam kepalaku saat itu."
Lee Donghae benar – benar menyesali perkataannya kemarin. Saat dia dimintai tolong oleh sang ketua OSIS untuk mencarikan sekretaris pengganti. Posisi menggiurkan itu memang telah kosong sejak dua minggu lalu. Bukan berarti tidak ada pendaftar, hanya saja banyak dari mereka – perempuan – yang hanya ingin dekat dengan sang ketua dan sisanya tidak memenuhi persyaratan. Donghae dan sang ketua bisa dibilang cukup dekat, itu sebabnya sang ketua tidak sungkan untuk meminta tolong. Sang ketua yakin Donghae mengerti orang seperti apa yang dibutuhkannya untuk mengisi posisi sekretaris OSIS.
"Memangnya kemana sekretarisnya? Apa dia dipecat? Atau berhenti karena tidak tahan?"
"Sekretarisnya pindah sekolah sejak dua minggu lalu. Kau tak tau?"
Sebenarnya Kibum sudah tahu, tapi dia merasa itu bukan urusannya.
Kibum kembali fokus pada buku bacaannya sambil menikmati semilir angin. Tadi sebelum Donghae datang, suasana taman belakang begitu menenangkan bagi Kibum. Lalu berubah saat Donghae datang dan menceritakan pembicaraannya dengan ketua OSIS.
"Sebenarnya sudah banyak yang mendaftar."
"Lalu? Bukankah itu bagus? Tinggal pilih salah satu dari mereka. Selesai."
"Tidak semudah itu, nona Kim. Mereka kebanyakan hanya ingin dekat dengan ketua, tidak bisa diajak bekerja. Lalu aku pikir kau cocok untuk posisi ini. Kau yang pekerja keras, giat, dan juga kau tidak terlalu peduli dengan apa yang bukan urusanmu."
"Harusnya kau tanya dulu padaku, Hae-ah."
"Kau akan menolak jika aku bertanya dulu padamu."
"Kau sudah tahu aku pasti akan menolak lalu kenapa kau masukkan namaku?"
Susah. Akan sangat susah berdebat dengan seorang Kim Kibum. Baiklah, sepertinya Donghae akan menggunakan jurus andalannya.
"Ayolah, Kibumie~ dia sudah terlanjur setuju bertemu denganmu besok. Aku tidak enak padanya jika harus membatalkannya. Lagipula tidak akan lama. Setidaknya tiga bulan lagi masa jabatannya berakhir. Ayolah…please.."
Memelas. Adalah jurus terakhir yang Donghae yakin akan mempan pada Kim Kibum.
"Baiklah. Besok aku akan bertemu dengannya."
"Benarkah, Kibumie? Aku tidak salah dengar kan?"
"Ya. Dan jika kau terus bertanya maka aku akan berubah pikiran."
"Andweyo. Kau tidak boleh berubah pikiran. Gomawoyo, Kibumie. Neon is mwondeul! (you are the best)"
Yes, menang, batin Donghae senang.
.
.
.
Esok harinya saat jam istirahat berlangsung, Donghae tampak tak sabar mengajak Kibum untuk bertemu dengan sang ketua OSIS.
"Kau ini kenapa?! Pelan – pelan saja. Aku tidak akan lari, oke?!"
Donghae tahu Kibum kesal. Dia hanya menanggapi Kibum dengan cengiran polos andalannya.
"Huh. Menyebalkan!"
Biarkan saja Kibum mengumpat, Donghae tak peduli. Setelah melewati lorong itu mereka akan sampai di ruang OSIS.
Tok tok tok
Setelah mengetuk tiga kali, tanpa menunggu jawaban dari dalam Donghae langsung membuka pintu bertulisankan 'Ruang Ketua' dengan penuh percaya diri.
"Kau sudah datang, ya."
Di dalam ruangan itu hanya ada seorang namja yang tak melepaskan pandangannya dari lembaran – lembaran kertas di mejanya.
"Ne, Siwon-ah. Aku membawa temanku juga."
Seketika namja yang dipanggil Siwon itu berpaling dari lembaran – lembaran kertas dan menatap Donghae bergantian dengan Kibum. Lalu senyum memikatnya tersungging saat manik tajamnya tertuju pada Kibum. Tanpa kata Siwon mempersilakan mereka berdua untuk duduk.
"Jadi ini temanmu yang sering kau ceritakan padaku? Kenalkan, Choi Siwon."
Tangannya terulur untuk menjabat tangan kecil Kibum.
"Kim Kibum."
"Donghae sering bercerita kaulah yang terbaik di kelas. Tapi jika Kim Kibum yang dia maksud adalah kau, maka aku tahu. Aku tahu kau tak hanya yang terbaik di kelasmu, tapi kau juga yang terbaik di sekolah kita."
Kibum memang pernah menyandang predikat yang terbaik ketika berada di tingkat pertama.
Eoh, apa itu artinya Siwon mengenalnya?
"Baiklah, kita langsung saja."
Siwon hanya mencoba berbasa – basi tapi melihat ekspresi datar gadis di depannya membuat Siwon berpikir bahwa Kibum ingin segera menyelesaikan urusan mereka.
"Aku ingin meminta bantuanmu untuk mengisi posisi sekretaris OSIS. Jujur saja, aku kewalahan mengurus semua berkas ini."
Tanpa diperintah manik Kibum menelusuri meja di hadapannya. Ada beberapa map di sana. Laporan penggalangan dana, proposal bakti sosial, proposal kegiatan lomba, dan masih ada map lain yang Kibum tak tahu apa isinya. Belum apa – apa Kibum sudah bisa membayangkan seperti apa sibuknya dia jika menjadi sekretaris organisai utama sekolah.
"Kau pasti tidak terlalu terkejut karena aku yakin Donghae sudah menceritakannya padamu. Jadi bagaimana, Kibum-ssi? Kau mau membantu, kan? Hanya beberapa bulan sampai masa jabatanku habis. Kau tahu kan, kita terbebas dari segala macam kegiatan non-akademik jika sudah di tingkat akhir? Bagaimana?"
"Eum.. kenapa aku? Kenapa kau tidak membuka pendaftaran saja? Melakukan seleksi dan lain sebagainya."
Siwon tersenyum mendengar pertanyaan Kibum yang lebih terdengar seperti sebuah protesan. Dalam hati namja Choi itu membenarkan perkataan seorang Lee Donghae.
"Tak mudah membujuk Kibum. Kau harus menemukan alasan paling masuk akal agar dia mau menerima tawaranmu. Dia adalah gadis yang berpikir paling logis yang pernah ku kenal."
"Kau bisa lihat di sana, Kibum-ssi."
Kepala Kibum secara otomatis mengikuti arah tunjuk Siwon. Sudut ruangan. Di sana ada bertumpuk map berisi CV dari mereka yang ingin menjadi pengganti sekretaris sang ketua.
"Tanpa aku memberikan pengumuman resmi, mereka sudah memberikan map – map itu padaku. Kau harus tahu isinya, Kibum-ssi, mereka memberika CV dan melampirkan surat cinta di dalamnya."
Jadi apa yang pernah Donghae ceritakan itu benar? Ternyata Donghae tidak mengada – ada tentang surat cinta itu. Kibum memang pernah tahu teman – teman sekelasnya – terutama para yeoja – berbondong – bondong mendaftar menjadi calon sekretaris OSIS. Saat itu Kibum memang benar – benar tidak tertarik. Tapi Kibum juga tak tahu jika di dalamnya ada surat cinta yang terlampir untuk sang ketua. Kibum yang polos.
"Apa semua berisi sama seperti itu?"
"Tidak. Ada beberapa yang benar – benar serius. Tapi sayangnya mereka tak cukup berkualitas untuk masuk dalam jajaran kepengurusanku."
Dahi Kibum berkerut. Dia tak suka perkataan Siwon. Namja di depannya terlihat arogan ketika mengatakannya.
'Huh. Sombong sekali!'
"Aku rasa kau sudah paham kenapa aku memilihmu. Itu karena, satu, kau tidak tertarik dan kedua, kau berkualitas."
"Kau tahu aku tak tertarik tapi kenapa kau malah memilihku? Kau tak takut aku akan mengacau?"
"Tidak. Aku yakin kau tak akan menjadi pengacau. Donghae menjamin kau akan bekerja professional. Dan aku setuju."
Kibum memberikan lirikan mematikannya pada Donghae. Sedangkan yang dilirik lebih memilih membuang muka. Ugh, itu menyeramkan bagi Donghae. Dia sudah bisa membayankan Kibum akan memarahinya habis – habisan.
"Begitu ya. Tapi maaf, aku benar – benar tidak tertarik menjadi bagian dari kalian. Aku tidak bisa menerimanya. Aku permisi."
Kibum berlalu begitu saja. Si ketua terlihat begitu arogan di mata Kibum. Namun sebelum Kibum berhasil keluar dari ruangan itu, Siwon memberi interupsi.
"Ternyata penilaianmu tentang temanmu itu salah, Donghae-ya. Dia tidak lebih dari gadis keras kepala yang egois."
Kibum berbalik, menatap Siwon tajam. Kibum tak suka.
"Aku pikir dia bisa sedikit saja membalas kebaikan yang sudah sekolah berikan padanya. Tapi nyatanya, dia hanya gadis egois yang tak peduli dengan sekitarnya. Huhf, sayang sekali."
Mata mereka bertatapan. Siwon dengan tatapan mengejeknya dan Kibum, gadis itu benar – benar hilang kesabaran. Kibum melangkah cepat berhadapan dengan Siwon. Emosinya sudah siap meledak.
"Kau pikir kau ini siapa hah? Ya, kau adalah penguasanya tapi bukan berarti kau bisa menggunakan kuasamu sesuka hati. Apalagi menilai seseorang, kau tak berhak. Tentang membalas kebaikan pada sekolah, aku membalasnya dengan caraku sendiri. Kau tahu apa?! Tapi jika yang kau maksud adalah dengan bergabung dalam organisasi memuakkan ini, maka baiklah. Aku terima. Apa kau puas, tuan ketua OSIS yang terhormat?!"
Sudah cukup Kibum bersabar. Emosinya benar – benar meledak sekarang. Dua kali namja itu menyebut dirinya egois benar – benar membuat Kibum kesal.
Kibum masih belum melepaskan tatapan tajamnya pada Siwon, nafasnya pun masih memburu. Ternyata meluapkan emosi cukup melelahkan juga, pikir Kibum.
"Wow. Kau benar – benar berkarakter."
Bukannya marah karena sudah diteriaki, Siwon justru mengulas senyum puas. Membuat Kibum berkerut tak mengerti.
"Kau gadis yang berbeda. Donghae benar. Saat semua siswi ingin dekat dengan ku, kau justru menolak ku mentah – mentah. Wah sepertinya di matamu aku kurang mempesona, ya?"
Siwon terkekeh tidak jelas. Setidaknya seperti itulah yang dipikirkan Kibum.
"Baiklah, karena tadi kau sudah setuju maka mulai besok kau sudah bisa mulai bekerja sebagai sekretaris OSIS. Selamat bergabung."
Siwon mengulurkan tangannya. Namun melihat Kibum tak kunjung menjabat tangannya, Siwon berinisiatif memaksa tangan putih ramping itu untuk menjabat tangannya. Lalu senyum yang bisa melelehkan hati setiap gadis pun terlukis di wajah tampan Siwon.
Sesaat Kibum sadar namja di depannya itu sengaja menyentil harga dirinya. Sial, laki – laki ini telah menjebaknya. Dan selamat untuk Kibum karena telah masuk dalam jebakan sang ketua.
Flashback end
.
.
.
TBC
.
.
.
Sesuai warning di atas, part ini masih bersambung.
Untuk tulisan Italic itu isi dari buku harian Kibum.
Last, silakan tuangkan cuap2 temen2 di kotak review.
Many many many thanKYU :*
