Rated: T
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Vocaloid © Yamaha Corp and Crypton Future Media.
Pair: Len x Rin
Warning: Typo, EYD yang buruk, Ide pasaran.
By © Go Minami Asuka Bi
Np:
"..." : Bicara
"..." : suara masa lalu atau ingatan masa lalu.
RnR Please...
.
.
Langit sore yang berwarna orange kini terasa begitu menyakitkan bagi Len. Entah mengapa berbagai ingatan dalam masa lalunya kini terbuka lagi. Tidak biasanya ia merasakan hal seperti ini tapi sudah satu minggu sejak kedatangan murid baru itu, luka lama yang ia rasakan kini terasa menggores kembali. Len melepas earphone kuning di telinga dengan sedikit kesal. Jujur, ini pertama kalinya ia melepaskan earphone itu, padahal biasanya suara yang keluar dari sanalah membuatnya tenang. Sekarang hanya ketenangan yang bisa menenangkannya, mungkin saja jika bayangan masa lalunya tidak terus menghantui seperti saat ini.
"Apa kau membenciku?"
"Tidak."
"Mengapa kau tidak menatapku?"
"Bukan begitu aku..-"
"Apa yang kau suka dariku?"
"..."
Len mengigit bibirnya tatkala pertanyaan itu muncul di ingatannya. Haruskah ia menjawabnya? Sungguh ini menyakitkan baginya.
"Aku tak tahu."
.
.
.
Suasana kelas tak jauh beda terasa dari sebelumnya. Candaan, obrolan, dan aktifitas lainnya pun tetap tak jauh berbeda dari sebelumnya namun, sesosok gadis honey blonde selaku anak barulah yang membedakannya. Len melirik sekilas pada helaian honey blonde disana dengan pandangan datar. Masih teringat di benaknya saat gadis itu memperkenalkan diri di depan kelas hingga membuat kehebohan karna kekonyolan dirinya. Ia benci gadis honey blonde itu.
Len memasang earphone kesayangnya itu pada telinga lalu memutar mp3nya sebelum ia menaruhnya pada meja dan kembali pada dunianya. Mulai dari sini, semua orang takkan bisa mendekati Len. Entah mengapa setelah memakai earphone, dunia mereka dengan Len serasa berbeda. Len takkan menanggapi seseorang, bahkan menghiraukannya. Seramai apapun tempatnya bagi Len tidak masalah jika ada earphone itu karena selama itu juga ia takkan memperdulikan apa pun termasuk gadis di depannya ini. Ya, gadis honey blonde yang kita sebutkan tadi kini tengah berdiri di hadapan Len seraya menatap pemuda itu intens.
"Ano... Kagamine-san."
Tak ada jawaban.
"A-ano, Kagamine-san. Aku ingin bertanya tentang kelompok praktik IPA. Kau satu kelompok denganku jadi aku-.."
Tak ada jawaban.
Rin mengigit bibirnya canggung saat menghadapi situasi seperti ini.
"Sudahlah, Kagari-san. Dia takkan menjawabmu dalam mode seperti itu." Ujar Kaito yang tengah duduk tak jauh dari mereka berdua.
Kau tau seperti kebanyakan orang bilang, jika ia menyerah maka bukan Kagari Rin namanya. Dan karna itulah ia masih tetap stay di tempat ia berdiri tadi. Sekarang ia mulai mencari cara agar dirinya mendapat sedikit perhatian dari Len. Tak begitu lama ia berpikir, kini matanya teralih pada mp3 berwarna kuning yang berada di atas meja. Rasanya ia mengenal mp3 itu.
"Aku lihat mp3mu seben-,"
Bruk!
"Rin/Kagari-san."
Suara terkejutan para siswa-siswi di kelas itu membuat kegaduhan. Bukan tanpa alasan mereka berteriak, mereka berteriak ketika melihat murid baru di kelasnya itu terjelembab ke atas lantai. Gadis itu terjelembab karna hempasan kuat yang di layangkan Len padanya. Padahal hanya masalah sepele karna Rin ingin melihat mp3 milik Len tapi ia sudah di hempas begitu? Sebenarnya apa yang di pikirkan pemuda itu hingga berani melakukan hal kasar pada perempuan.
"Apa yang kau lakukan?! Kau sudah gila hingga berlaku kasar pada seorang perempuan, huh?!"
Kaito, pemuda berambut biru itu cukup kesal dengan kelakuan Len. Jika pemuda blonde itu melakukannya pada laki- laki, sungguh ini sama sekali tak jadi masalah tapi jika perempuan? Ini beda cerita. Sepertinya percuma Kaito meneriaki pemuda blonde itu, ia benar- benar tak terlihat seperti akan meminta maaf malah Len berlalu begitu saja meninggalkan keributan itu bahkan ia melupakan mp3 yang menjadi masalah semua ini.
"Apa- apaan sih dia itu?" Kata Miku saat melihat Len yang berlalu begitu saja.
"Kau baik- baik saja kan, Rin?" tanya Gumi khawatir.
Rin mengangguk seraya tersenyum menanggapi perkataan Gumi. "Aku baik- baik saja. Hanya sedikit terkejut."
"Sebaiknya kau jangan terlalu dekat Kagamine-san. Dia memang agak kasar terlebih soal mp3nya."
"Umm.." Rin kembali mengangguk. "Trima kasih atas sarannya."
Dengan perlahan Rin bangkit dari posisinya dengan di bantu oleh beberapa siswi disana. Sungguh ia sama sekali tak apa- apa tapi teman- teman barunya ini terlalu khawatir padanya. Yah, jika boleh jujur, memang tulang ekornya sedikit nyeri akibat dorongan tadi tapi dia tak mau membuat Len mendapat masalah. Toh, ia juga salah karena sembarangan mengambil mp3 kesayangan pemuda itu. Tunggu, ngomong- ngomong tentang mp3...
Rin menengok ke arah meja milik pemuda blonde yang mendorongnya tadi dan tepat seperti yang ia duga. Pemuda itu pasti meninggalkan mp3 itu. Benar- benar, sifat cerobohnya itu sama sekali tidak hilang. Rin berjalan ke arah meja itu dan mengambil mp3 itu dalam lalu memasukannya ke dalam saku almamaternya. Ia akan mengembalikannya saat pulang sekolah nanti.
.
.
.
Len sama sekali tak pernah mengira bahwa ia akan ketiduran hingga sore hari seperti ini di atap bahkan ia melupakan mp3 kesayangannya itu. Ngomong- ngomong soal mp3nya, ia benar- benar tak ingat dimana menaruh benda kecil itu. Saku, kolong meja bahkan tasnya sama sekali tak menampakkan keberadaan mp3 kesayangannya itu. Menyusahkan! Padahal gerbang sekolah akan di tutup sebentar lagi tapi ia masih saja belum menemukan mp3nya itu.
"Apa yang kau cari?"
Suara yang terdengar di telinga Len membuat pemuda itu terdiam di tempatnya. Ia menggertakkan giginya menahan rasa di dalam dadanya sebelum dirinya menutup mata dan menghela nafas untuk mempersiapkan diri menengok ke arah suara tersebut. Len mendecak malas tatkala ia mengetahui siapa pemilik suara yang begitu Len kenal tersebut. Gadis itu berdiri di ambang pintu seraya memegang tas miliknya dengan jersey olahraganya. Sepertinya ia habis dari klubnya, secepat itukah gadis itu menemukan klub?.
"Ah ya." Saat ia mengingat sesuatu yang harus ia berikan pada Len, Rin pun membuka tasnya dan mengambil mp3 milik Len. "Aku menemukan ini tertinggal di me-."
Belum habis Rin berkata, mp3 itu sudah di rebut oleh pemiliknya dengan kasar. Memang Rin sedikit terkejut dengan tindakan kasar Len tapi seketika itu pun raut wajahnya berubah menjadi senyuman. "Aku senang kau masih menyimpannya."
"..."
"Oh ya, jika itu memang penting bagimu. Jangan pernah untuk meninggalkannya sembarang seperti tadi."
"..."
"Aku minta maaf tentang yang tadi. Aku tak bermaksud mengambilnya aku hanya ingin melihatnya saja."
"..."
"Jujur karena bagiku, itu sangat special"
"Jujur karena bagiku, itu sangat special"
Deg!
Rin membelakkan matanya terkejut tatkala ia merasakan sesuatu yang hangat melingkupi tubuhnya yang sedikit basah karna latihan klub berenangnya. Sungguh, Rin tak menyangka jika pemuda di hadapannya ini akan memeluknya erat seperti ini.
"A- ano, Kagamine-san?"
"Panggil namaku."
"Ta- Tapi."
"Sekali ini saja. Kali ini saja."
"..."
Dekapan itu semakin kuat. Tidak, ini terasa berbeda. Rin merasakan tubuh tegap itu bergetar hingga membuat gadis honey blonde itu terdiam sesaat. "Len-san."
"Sekali lagi. Kumohon sekali lagi, hanya namaku."
"Len."
TBC
Yeah! Akhirnya. Masih sedikit wordnya XD... kayanya udah biasa saya bikin word sedikit di awal ya XD. Tapi saya usahakan chapter besok lebih panjang deh...
Ngomong- ngomong nih, ada yang mau nebak ga? Siapa gadis masa lalu Len? dan apa yang terjadi dengan dia dan Len? :v.
Kalau gitu, balas review dulu :
*Aku manusia: saya juga suka kalau ada yang mau review . Trima kasih reviewnya ya. Hummm... ikutin jalan critanya aja ya kalau mau tau :b. Mau nebak lagi juga silahkan. Ini udah lanjut juga kok.
*Asuka Akari: Huaa... Thx 4 ur review. Sudah lebih panjang nih, walau sedikit :3... Keep reading this story.
Ok segitu saja untuk Kali ini. Trima kasih sudah mau membaca. Jangan lupa review...
Salam Hangat,
Go Minami Asuka Bi
