Pernahkah ada yang berpikir bahwa hari minggu adalah satu hari paling membosankan di dunia? Kebanyakan orang akan menjawab, tidak! Tapi, bagi pemuda blonde yang tengah menatap awan dari jendela kamarnya itu adalah ya. Dan sangat membosankan jika mengingat ia tinggal sendiri di sebuah apartemen kecil yang di sewanya selama menjadi pelajar.

Baginya kemandirian adalah sesuatu yang jarang ditemui dalam ruang lingkup kota besar seperti ini. Bukannya apa-apa, tapi kebanyakan orang menikmati kemandiriannya untuk hal yang sangat tabu seperti berpesta pora atau menjadi sarang para wanita malam. Menurutnya itu bukanlah kemandirian, itu semua hanya nafsu dan keegoisan dalam diri sendiri. Menyedihkan.

Sebenarnya dimana peran orang tua selama ini? Begitu percayakah mereka terhadap anak-anaknya yang mengiming-iming kata 'mandiri' tanpa tahu apa perlakuan anak mereka di luar sana. Hahhh... Sudahlah, mengapa jadi membahas urusan orang lain?

Len menghela nafas tatkala pikirannya mempermasalahkan hidup orang lain. Sepertinya ini efek kebosanan.

"Refresing?"

Mungkin itu yang memang perlu Len lakukan. Dan maka dari itulah dirinya kini berbalik lalu berjalan ke arah lemari pakaian untuk berganti pakaian. Yah, jika mengingat pakaian santai yang ia pakai sama sekali tidak cocok untuk keluar rumah. Yah, author tak bisa membayangkan Len berjalan- jalan keluar hanya dengan menggunakan boxer dan kaos tanpa lengan. Di jamin akan menjadi pusat perhatian.

Ternyata keluar rumah tanpa tujuan pun sama membosankannya dengan berada di apartement seharian. Padahal sudah 30 menit berlalu sejak kakinya melangkah keluar dari apartementnya tapi tak ada yang menarik perhatiannya. Sepertinya pedesaan memang lebih nyaman di banding perkotaan seperti ini. Tapi, jika itu masih ada 'dirinya'. Yah, setidaknya tempat ini tak terlalu kota, jadi ia masih bisa menikmati tempat tempat yang asri seperti disini. Apartement dekat dengan taman dan bukit meski agak jauh jaraknya dari sekolah. Tapi ini membuatnya nyaman.

"Kagamine-san?"

Merasa terpanggil, Len membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang memanggilnya.

Deg!

Rambut Blonde yang menjuntai, mata indah secerah samudra, dan senyuman manis yang telah lama ia rindukan. Mungkinkah? Tapi, tunggu! Ini terlalu indah untuk menjadi nyata! Semuanya tidak mungkin terjadi. Lagipula 'dia' takkan memanggilnya dengan panggilan Kagamine-san, bukan?

"Selamat siang, Kagamine-san."

Salam dari gadis yang di lihat Len membuat pemuda itu tersadar dari mimpi semunya. Dan kini ia bisa melihat siapa sosok yang berada di depannya. Memang suaranya sama, memang warna rambutnya sama, memang warna mata indah itu sama, tapi ia yakin bahwa gadis itu bukanlah 'dirinya'. Gadis itu adalah Kagami Rin.

Tanpa membalas sapaan dari Rin, Len kembali memutar tubuhnya dan berjalan perlahan meninggalkan gadis itu. Yah, meski di bilang di tinggalkan, rasanya tidak juga. Toh, gadis itu malah berlari mendekat dan berjalan di samping Len dengan tatapan innocent.

"Berhenti menatapku seperti itu."

"Ah! Maaf!" Aksi menatap Rin kini berakhir. Sekarang gadis itu hanya berjalan santai mengikuti langkah Len di samping pemuda blonde itu. "Aku tak bermaksud membuatmu takut. Hanya saja rasanya ada yang kurang darimu."

Takut katanya? Untuk apa dia takut pada tikus pengganggu seperti Rin. "Hm." Jawab Len ambigu.

"Aku serius! Aku merasa kau agak berbeda." Kata Rin yang kembali memperhatikan Len. "Ah, ya! Headset dan mp3. Apa kau lupa membawanya?"

Mp3?

Len menghentikan langkahnya, lalu mulai mencari mp3nya di dalam saku jaket dan celana. Hal tak terduga telah terjadi! Len meninggalkan mp3nya di rumah. Ck! Sial! Ini pertama kalinya ia melupakan mp3 kesayangannya itu. Pantas saja ia merasa ada yang terlupakan sejak tadi. Ternyata ini.

"Tak biasanya kau melupakan hal yang bagimu penting."

"Itu bukan urusanmu."

Yah, itu bukan urusannya.

Tunggu, tapi setelah di pikir ini bukannya kesempatan? Maksudku, Rin berada disini. Jadi, bukankah ini kesempatan yang bagus untuk menanyakan soal lagu yang di nyanyikan gadis itu sebelumnya? Bukankah Len ingin tau bagaimana Rin tau soal lagu tersebut. Sepertinya pemuda itu akan bertanya.

"Ada ya-"

"Kuil?"

Perkataan Len terhenti tatkala gadis itu berhenti seraya melihat ke arah puluhan anak tangga yang menuju ke atas bukit di sampingnya. Yah, benar kata Rin, diatas sana memang ada sebuah kuil. Namun, kuil itu terbengkalai begitu saja. Menyedihkan memang tapi mau bagaimana lagi? Bukankah hampir 40% populasi di jepang malah tidak percaya dengan Tuhan atau bisa di bilang Atheisme. Belum lagi kesibukan yang padat dan kurangnya kepedulian, itu semua membuat kuil-kuil yang harusnya tempat suci menjadi terbengkalai begitu saja.

"Bagaimana kalau kita kesana?" Tanya Rin seraya menoleh pada Len untuk meminta pendapat pemuda itu.

"Aku tak tertarik." Memang tak tertarik, masalahnya dia salah satu orang yang menganut paham atheisme. Jadi, pemuda itu berbalik dan berniat melanjutkan perjalannya.

Namun, itu kembali terhalang karna tarikan Rin pada ujung kemejanya. "Hanya sebentar." Kata Rin dengan nada memohon. "Lagipula, setelah sampai ke kota ini, aku sama sekali belum berdoa."

"Itu bukan urusanku."

"Ayolah temani sebentar. Toh, tak ada salahnya datang kepada Tuhan."

Melihat Rin yang semakin ngotot, Len dengan kasar melepaskan tangan gadis blonde itu. "Dengar, aku sama sekali tak percaya pada Dewa! Kau tahu, Tuhan itu hanya pembohong besar! Dia takkan pernah memberikanmu apa pun meski kau menangis darah sekalipun! Kau mengerti?! Jadi jangan paksa aku!"

Rin mengerjap beberapa kali saat melihat Len membentaknya. Sebenarnya gadis itu terkejut, hanya saja rasa terkejutnya agak sedikit memberikan respon lucu seperti skarang.

"Kenapa?"

"Apa kau tak mengerti juga?! Aku membenci, Tuhan!"

"Kau tahu, Len. Aku pernah dengar bahwa kau mengutuk Tuhan sekalipun. Ia tetap menyayangimu apa adanya." Tanpa di duga setelah bentakan dari Len, gadis itu masih tersenyum tulus padanya. "Jika Tuhan tidak memberikan yang kau mau, bukan berarti ia tak menyayangimu. Ia hanya ingin memberimu yang terbaik dan menurutnya pilihanmu bukan yang terbaik untukmu."

"Apa maumu dengan menceramahiku seperti itu?"

"Jika menurutnya pilihanmu terbaik, maka dia akan memberikannya padamu meski itu agak lama sekalipun."

"Tuhan takkan pernah mengabulkan doaku maupun doamu! Dia hanya pembohong yang mencari kepuasan dengan melihat kesungkaran dari hamba-hambanya! Apa kau mengerti itu?!"

"Yah, mungkin saja." Rin sedikit menduk menatap tanah di bawahnya sebelum kembali menatap Len. "Aku percaya Tuhan akan memberikanmu kebahagiaan."

"Aku percaya Tuhan akan memberikanmu kebahagiaan, Len."

Deg!

Seakan tumpang tindih, sosok gadis di depannya terasa tersamarkan dengan sosok lain. Sosok gadis lain yang pernah mengisi hatinya lampau.

"Jadi maukah kau menemaniku?"

Len kembali tersadar saat pertanyaan Rin terdengar oleh telinganya. Sepertinya menolak keinginan gadis di hadapannya ini bukanlah hal yang bagus. "Hanya sebentar."

"Ya!"

"Apa doamu masih belum juga selesai? Ini sudah lebih dari 10 menit."

"Tunggu sebentar." Jawab Rin tanpa membuka mata dan melepaskan tautannya pada kedua telapak tangan mungilnya. Tak berapa lama gadis itu membuka matanya. "Sudah selesai."

"Lama."

"Aku begitu senang menemukan sebuah kuil dan kembali berdoa lagi sampai lupa jika sudah terlalu lama aku berdoa."

"Jika sudah selesai, lebih baik kita cepat kembali. Sepertinya akan turun hujan."

Seperti kata Len. Entah mengapa, dengan tiba-tiba cuaca mulai berubah secara mendadak. Langitnya begitu kelam seakan mendatangkan keburukan. Padahal seingatnya tadi, pembawa berita mengatakan bahwa hari ini akan cerah hingga sore, tapi sekarang sudah seperti akan turun badai saja. Manusia memang tak bisa di percaya.

Rin menengadah keatas untuk melihat langit yang mulai gelap. "Kau benar."

"Lebih baik kita kembali sekarang sebelum kehujanan."

Bukannya berjalan pulang mengikuti kata-kata Len, Rin malah terus menengadah menatap awan gelap tersebut. "Ne, Kagamine-san. Pernahkah kau berpikir seseorang yang kita sayang tengah memberikan kita sebuah kesedihannya? Maksudku,-" Rin menurunkan pandangannya pada Len. "Pernahkah kau berpikir bahwa hujan tiba-tiba seperti ini adalah tanda yang di berikan oleh orang yang sudah tiada sebagai tanda bahwa mereka menangis melihat kita."

Len menyeringit bingung dengan perkataan tidak jelas Rin. "Apa maksudmu?"

"Pernahkah kau berpikir bahwa, seseorang yang dekat dengan kita namun telah meninggal tengah memperhatikan kita dan tahu keadaan kita. Bagiku, ini adalah salah satu tanda bahwa mereka menunjukkan kesedihan mereka. Kesedihan saat melihat orang yang di sayanginya tidak bahagia."

Len terdiam atas ucapan Rin kali ini.

"Sejujurnya, aku selalu merasa bahwa kau bersedih akan sesuatu."

"Ada yang ingin ku tanyakan padamu." Kata Len tiba-tiba.

Rin sedikit bingung dengan jawaban Len yang sebenarnya tidak nyambung dengan obrolan Rin. "Apa?"

"Darimana kau tau lagu yang ku putar saat berada di atap waktu itu?"

Rin tak menyangka jika Len akan menanyakan hal tersebut padanya. Tapi, jika ia berkata jujur, akankah Len percaya padanya? Tidak, itu pasti jawabannya. Namun, sepertinya ia jujur saja. Toh, ia pun ingin tahu darimana Len mendapat lagu tersebut.

"Jika aku mengatakannya, apa kau akan percaya?"

"Hm."

Rin menghela nafas saat mendapat jawaban ambigu Len. Sudahlah, yang penting ia jujur. Rin menarik nafas perlahan sebelum menjawab pertanyaan Rin.

"Aku yang membuat lagu itu."

Bersama dengan rintik air yang turun tanpa tanda ini. Semuanya semakin menyakitkan

*