"Aku yang membuat lagu itu"
Langkah kaki yang mengiringi pemuda blonde ini terhenti begitu saja tatkala pikirannya terus berputar pada kata-kata yang sama. Padahal ini sudah 3 hari berlalu sejak ia datang ke kuil bersama gadis honey blonde itu, tapi rasanya tetap masih terbayang begitu saja.
Len menengadahkan kepalanya menatap langit senja yang mulai termakan oleh gelapnya malam. Pandangannya tertuju pada bintang-bintang di langit yang mulai memperlihatkan dirinya satu persatu hingga ia mengingat sesuatu. Ya, dia mengingat bahwa dulu sewaktu dirinya masih kecil, ada yang pernah mengatakan padanya bahwa bintang-bintang adalah perwujudan dari orang yang sudah meninggal. Biasanya, orang yang sudah meninggal akan naik ke langit dan berubah menjadi bintang untuk mengawasi kita. Len tahu, hal ini begitu kekanakan dan rasanya sulit di percaya tapi dapatkah ia mempercayainya? Ahh, jika saja bintang Polaris bisa menuntun dirinya pada "Dia", mungkin sekarang ia telah menjadi pemuda paling bahagia di dunia ini.
Len melepaskan Earphone yang sejak tadi terpasang rapih di telinganya seperti biasa. Tapi kali ini sedikit berbeda. Berbeda karena tak ada satu pun lagu yang terputar pada mp3nya. Bagaikan formalitas, Earphone itu terpasang tanpa alasan yang jelas. Rasanya hati Len seakan tak mau mengikuti perintahnya sejak pagi hingga senja yang berganti seperti sekarang.
"Kimi ga kureta no wa shiawase no jikan
Kimi ga kureta no wa yasashii egao
Kimi ga kureta no wa modorenai kako
Kimi ga kurenakatta futari no mirai…
Are kara mō dore kurai no fuyu o koe tadarou
Futari de ueta kono hana mo nando atatakai haru o meguri…
Kono me ga yagate ōkina ki e to kawatte mo
Kawaranai kimi no sugata
Ano hi no egao ga kokoro no ichiban oku ni
Kusabi to natte uchikoma reta mama
Boku ga ageta no wa yasuragi no hibi?
Boku ga ageta no wa namida no kakera?
Boku ga ageta no wa ano hi no omoide
Boku ga age rarenakatta kimi to no ima
Dō shiyō mo naku sabishii yoru wa
Kimi no utagoe o omoidasu yo
Dō shiyō mo naku nakitai yoru wa
Kimi no kureta uta utatte miru yo
Kanashii uta ni wa shitakunai yo
Kanashii uta ni wa shitakunai yo"*
Tanpa terasa, sebuah lantunan lagu tanpa pengiring terdengar dari bibir Len. Lagu apa itu? Lagu siapakah itu? Mungkin hanya Len dan Tuhan yang tahu. Tapi yang jelas lagu tersebut terlantun sendiri dari bibir Len tanpa ia sadari. Meski potongan lirik itu belumlah lengkap yang memang sudah dari sananya begitu, tapi hati pemuda itu sedikit lebih tenang sekarang.
Tunggu, ngomong-ngomong soal lagu dan Polaris, sejak tadi ia sama sekali tak menyadari kemana kakinya melangkah. Bukan tanpa alasan ia bisa berkata seperti itu. Dirinya kini benar-benar kebingungan dengan jalanan dan rumah yang ia lalui sekarang. Mungkinkah dia tersesat? Bodoh sekali.
"Jalan mana yang ku lewati tadi?" Gumam Len tatkala kebingungan dengan begitu banyak persimpangan disana-sini pada tempatnya berdiri itu.
~Endless Tears~
08.45
Len menghela nafas tatkala layar ponselnya menunjukkan waktu yang cukup malam untuk tersesat. Pemuda itu sejak tadi masih saja mencari jalan keluar meski berkali-kali pula harus kembali ke tempat awal. Sejujurnya ia sedikit curiga dengan jalanan disini. Disini begitu sepi bahkan tak ada satupun orang yang lewat sejak tadi, apakah ini adalah dunia pararel? Ataukah dia masuk ke dalam sebuah perkampungan hantu seperti dalam game yang sering ia mainkan? Ataukah, dia ini sudah kelewat frustasi hingga tak bisa berpikir jernih dan malah berkhayal yang tidak-tidak.
Yah, sepertinya bisa kita asumsikan bahwa Len mengalami hal ke tiga.
Kaki Len berhenti seketika tatkala pandangannya mengarah pada sebuah toko kue yang masih buka di ujung jalan. Sudah terhitung 5 kali Len mencari jalan dan untuk yang pertama kalinya ia menemukan sebuah toko. Padahal sejak tadi ia terus saja melihat toko- toko yang telah tutup jika mengingat ini memang sudah lewat dari batas buka toko.
Len sedikit berlari tatkala kakinya menuju toko tersebut. Hanya satu tujuannya yaitu, menanyakan jalan menuju apartemen miliknya. Dan ia berjanji, jika dirinya sampai ke apartemen maka ia akan memanjakan seluruh tubuhnya hingga tertidur. Sungguh! Ia benar benar muak dengan jalanan ini.
Klingting!
"Selamat datang."
"Permisi, sa-"
Dua orang berbeda usia itu saling terdiam tatkala melihat satu sama lain. Dan dari keterkejutan mereka, Len lah yang kembali sadar dengan kebutuhan pentingnya. Pemuda melangkah pelan ke arah counter tempat pembayaran dimana sang pemilik masih terus terdiam dan memperhatikannya.
Len membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai rasa hormat pada orang yang lebih tua di depannya ini. "Maaf mengganggu ketenangan anda, Kagane-san. Ada hal yang mendesak hingga membuat saya harus masuk ke toko anda." kata Len yang sedikit menekan kata 'ketenangan' pada ucapannya seakan sebagai ketidak sukaan pada orang yang di hadapannya ini.
Wanita dengan rambut Blonde panjang itu akhirnya tersadar tatkala Len memberitahukan maksud ke datangannya datang ke toko tersebut. Kagane Lily, seorang wanita yang berusia setara dengan ibu Len ini hanya memandang pemuda itu dengan tak menentu. Entah apa yang dirasakan wanita itu pada Len, tapi hanya satu yang pasti. Dia tak ingin Len berlama-lama di tokonya. Wanita itu bukannya benci pada Len, hanya saja ia merasa tak nyaman.
"Adakah yang bisa saya bantu, Kagamine-kun?" Tanyanya pada Len.
"Saya hanya ingin menanyakan jalan menuju apartemen XX. Tapi jika anda tidak berkenan mengatakannya, saya bisa mencari orang lain untuk bertanya." Jawab Len dengan nada sinis.
Wanita itu hanya tersenyum kecut menanggapi pemuda yang tidak sopan itu. Inilah yang sejujurnya membuat Lily ingin cepat-cepat Len pergi dari sana, pemuda itu membuatnya tak nyaman. Dia tahu, sampai kapanpun Len takkan pernah berbaik hati padanya jika mengingat apa yang ia lakukan di masa lalu.
"Apartemen XX? Kurasa itu tidak terlalu jauh dari sini. Kau hanya perlu lurus ke arah utara dan belok kanan pada pesimpangan ke 7." Jelas Lily.
Len memperhatikan perkataan Lily, namun ada satu hal yang membuat pria itu terdiam sejak penjelasan Lily tadi. "Apakah ini salah satu kebohonganmu untuk menjauhkanku seperti dulu, Kagane-san?" Kata Len dengan nada sarkartis.
Lily tahu, ini pasti akan terjadi. Sangat sulit bagi pemuda itu percaya padanya. "Kebohongan atau bukan, kau bisa membuktikannya sendiri." Jawab Lily.
Dengan bermodal sedikit kepercayaan yanh sebenarnya tak mau ia percayai namun karena mendesak, Len akan mencoba jalan yang di beritahukan kepadanya. Untuk kali ini, ia akan mempercayai lagi perkataan wanita di depannya, toh jika Lily berbohong pun, ia masih bisa kembali ke tempat ini mengingat mudahnya petunjuk yang dia berikan.
"Trima kasih atas informasinya."
Len membungkukkan tubuhnya sebagai sedikit rasa hormatnya sebelum melangkahkan kakinya keluar dari toko kue tersebut. Dan akhirnya, sebuah helaan nafas lega terhembus dari wanita berambut panjang tersebut. Dia sama sekali tak menyangka akan bertemu lagi dengannya.
"Setidaknya hanya itu yang dapat kulakulan untuk menghilangkan sedikit kesalahanku padamu."
~Endless Tears~
Len menatap layar ponselnya yang menunjukan pukul 09.06. Sudah terlalu malam dan ia masih melangkah mencari persimpangan ke 7 yang lumayan jauh. Sudah hampir 2 tahun Len tinggal di apartemennya tapi dia tak pernah berjalan- jalan sejauh ini, maka dari itu ia tak tahu jalan. Terlebih jalan yang ia lewati ini, sama sekali tak ada lampu jalan. Tadinya ia berpikir untuk menyalakan aplikasi senter pada smartphonenya. Namun, melihat batrai benda itu tinggal 20%, Len mengurungkan niatnya dan berakhir berjalan di tengah kegelapan. Walau tak terlalu gelap juga jika mengingat malam ini terang bulan.
Len menengadahkan kepalanya untuk menatap langit berbintang di atas sana. Dan seketika ia melihat bintang, dirinya pun mengingat soal Polaris. Bukankah Polaris itu adalah bintang utara yang tak pernah berpindah tempat? Berarti bisa di katakan bahwa Polaris adalah bintang kebenaran. Kalau begitu bagaimana jika Polaris jatuh? Akankah dia bisa mengabulkan permohonan lebih akurat dari bintang biasa?
Pikiran-pikiran Len yang masih terfokus pada salah satu bintang paling populer itu harus hilang seketika saat matanya tak sengaja melihat sebuah bintang jatuh. Meski cukup cepat, tapi Len yakin itu adalah bintang jatuh. Dan hanya karena itu, dengan bodoh Len mengucapkan sebuah permohonan layaknya anak kecil. Yah, meski setelahnya ia tersenyum kecut menyadari permohonannya takkan mungkin terkabul.
"Bodoh."
Len kembali mengarahkan pandangannya pada jalan yang ia lalui hingga pada sebuah persimpangan tak jauh darinya, ia melihat sesuatu yang tak asing. Disana, seakan mendramatisirkan suasana, cahaya bulan menyorot langsung pada seseorang yang mengenakan gaun one piece tanpa lengan. Sosok seorang gadis dengan kulit seputih susu ini membuat Len yakin dengan apa yang ia lihat. Tapi itu tidak mungkin.
"Siapa disana?"
Seakan mendengar perkataan Len, gadis sedikit menegok ke blakang dengan senyuman yang membuat Len membelakkan mata terkejut. Tidak mungkin! Tidak mungkin gadis itu berada disini. Dengan rasa yang tak percaya, Len mempercepat langkahnya menuju gadis tersebut. Namun, saat dirinya hanya berjarak 2 meter dengan gadis itu, gadis tersebut seakan mempermainkannya dengan melangkahkan kakinya masuk ke dalam gang pada persimpangan tersebut.
"Tu-Tunggu!"
Melihat gadis itu berbelok masuk ke arah sebuah gang, Len pun memacu kecepatan kakinya mengikuti gadis tersebut. Namun, saat Len ke tempat itu, ia sama sekali tak menemukan siapa pun di gang itu. Kosong? Tak ada siapa pun. Sepertinya Len hanya berhalusinasi tadi. Len menghela nafas atas tindakan bodohnya, bisa-bisanya dia berpikir gadis itu nyata.
"Kagamine-san."
Sebuah suara terdengar di telinga Len. Ada yang memanggilnya dan dia kenal suara tersebut! Tapi, dimana?! Len mengarahkan pandangannya ke penjuru gang hingga tepat pada ujung sana, pemuda itu melihat sedikit gaun yang berkibar di belokan sebelah kiri. Tanpa berpikir panjang, Len pun kembali berlari mengikuti sosok yang ia yakini ini. Namun, sekali lagi hatinya seakan di permainkan. Sesaat setelah dia berbelok, ia pun tak menemukan siapapun disana. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Kagamine-san?"
Len kembali mendengar suara yang memanggil namanya. Dan kali ini pun Len segera berbalik ke arah dimana datang suara tersebut. Tepat saat ia berbalik, Len memang menemukan sosok gadis dengan ciri yang sama namun perbedaan juga terlihat. Itu bukanlah sosok yang ia cari.
"Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini, Kagari-san?"
Ya, gadis di belakangnya itu adalah Rin. Sosok gadis yang dia hindari sejak pertama bertemu. "Ah itu, tadi aku habis dari rumah pamanku. Dan-," Rin memperhatikan penampilan Len yang masih memakai pakaian sekolah. "Apa yang kau lakukan di luar apartemenmu malam-malam seperti ini?" Sambung Rin yang membuat Len terkejut.
Luar apartemennya?
Len mengarahkan pandangannya pada seluruh bangunan di tempat ini. Dan tepat seperti kata Rin, Len kini bisa melihat bangunan apartemen yang berada di sebelah kanannya. Kali ini Len benar- benar meyakini bahwa bangunan itu adalah apartemennya. Apa-apaan ini sebenarnya?
"Ada apa Kagamine-san?" tanya Rin saat melihat ekspresi kebingungan Len.
Len tersentak kaget mendengar pertanyaan Len. "Tidak." Len terdiam sebentar sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "Ku rasa aku harus masuk, permisi." Kata Len yang berlalu meninggalkan Rin begitu saja hingga membuat gadis itu kebingungan.
"Ada apa dengannya?"
Bruk!
Len menghempaskan tubuhnya pada tempat tidur. Kepalanya masih terasa berputar jika mengingat kejadian aneh yang terjadi padanya tadi. Tapi, apakah itu nyata? Atau hanya sebuah imajinasinya saja? Meski benar pun, mungkinkah itu Rin? Entahlah. Hal seperti ini benar- benar bisa membuatnya gila. Jika dari segala hal yang ia ingat, apakah mungkin permohonannya di kabulkan?
"Aku tahu ini terlalu egois, tapi jika memang bisa. Pertemukanku dengannya."
Segalanya dapat terjadi, jika itu rancangan Tuhan.
TBC
_
Np:
* itu potongan lirik 'Endless Wedge' - Kagamine Len -
Terjemahan:
Yang kau berikan adalah, waktu kebahagiaan
Yang kau berikan adalah, dengan lembut senyuman
Yang kau berikan adalah, masa yang takkan kembali
Yang kau tak berikan adalah, masa depan berdua…
Sudah b'rapa banyak musim dingin ini berlalu sejak saat itu
Bunga yang telah kita berd'ua tumbuhkan bersama
berulang melewati musim semi
Walau saat tunas ini t'lah jadi satu pohon
Wujudmu pun tidak berubah, sama s'perti dulu
Senyumanmu hari itu, terpaut di dalam hati ini
Di lubuk paling dalam, tertanam dan tak terlepas
Yang kuberikan adalah, hari penuh ketenangan
Yang kuberikan adalah, serpihan air mata
Yang kuberikan adalah, kenangan di hari itu
Yang tidak kuberikan adalah, momen kita berdua
Bila di malam yang sepi tanpa daya apapun
Teringat dengan segera, s'uara nyanyianmu
Bila di malam tangisan tak bisa kutahan lagi
Kucoba tuk menyanyikan lagu yang kau beri
Ku tak ingin jadikannya seb'uah lagu sedih
Ku tak ingin jadikannya sebuah… kesedihan…
