Bittersweet
Naruto © Masashi Kishimoto (Tidak ada keuntungan materi apapun dalam pembuatan karya ini. Fanfiksi ini dibuat hanya untuk hiburan semata)
Pairing: Sasuke U./ Sakura H. Rating: T.
Genre: Romance. Note: Alternative Universe.
( Sasuke pemilik café yang tak ramah. Sakura si mantan pacar yang tiba-tiba datang melamar kerja. Semua berawal dari pertemuan formalitas tak terelakan../ "Sederhananya, sekarang aku atasanmu dan semua keinginanku adalah perintah untukmu" )
…
"Selamat datang di Felice, bisa Saya catat pesanan Anda?" Sakura mengembangkan senyum semanis mungkin dari balik konter. Sejujurnya, ia kewalahan. Café yang tak terlalu besar ini ternyata memiliki banyak pengunjung yang sebagian besarnya adalah perempuan.
"Satu vanilla latte tapi tolong kurangi whipped cream-nya," Pemuda itu terdiam cukup lama sembari memerhatikan rak pastry. Tanpa bisa dicegah Sakura mengamati pemuda yang sedang kebingungan memilih kudapan untuk menemani vanilla latte-nya. Dia satu-satunya manusia bergender laki-laki yang Sakura lihat dalam antrian. Rambutnya berwarna merah dan sedikit berantakan. Sebuah headphone mengalungi lehernya. Dari cara berpakaiannya Sakura bisa menyimpulkan jika pemuda di depannya adalah seorang mahasiswa.
"Bagaimana kalau Saya sarankan Anda mencoba cheese cake kami?" Pemuda itu mendongak untuk melihat Sakura kemudian mengangguk setuju. "Kalau begitu aku pesan itu,"
"Baiklah . Satu vanilla latte dengan sedikit whipped cream dan sepotong cheese cake," Sakura tersenyum sekali lagi selagi mencatat pesanan pemuda itu. "Pesanannya atas nama siapa?"
"Gaara dan ini uangnya," Pemuda berambut merah itu segera melengos pergi setelah memberikan uang dan menuju sebuah meja di dekat jendela. Sakura sedikit terkekeh melihat betapa tidak pedulinya pemuda berambut merah itu duduk di tengah-tengah café yang semua pengunjungnya adalah perempuan.
"Satu vanilla latte dengan sedikit whipped cream dan sepotong cheese cake untuk meja nomor sembilan atas nama Gaara!"
…
Sasuke diam-diam mengamati bagaimana Sakura bekerja. Seperti yang Sasuke duga, gadis itu memiliki tingkat kemampuan adaptasi yang luar biasa. Gadis yang terlambat tadi siang kini tengah tersenyum dan berbicara secara lancar di balik meja kasir. Sasuke bisa melihat gadis itu menghela napas lega setelah tidak ada antrian pengunjung.
Sakura memutar lehernya untuk mencoba merilekskan lehernya yang kaku. Tapi secara tak sengaja ia menangkap Sasuke yang sedang melihat ke arahnya. Merasa diamati oleh atasannya yang mempunyai wajah-tampan-penggait-pengunjung itu, Sakura balik menatap Sasuke dengan pandangan jenaka.
"Sudah kubilang jangan meremehkan kemampuanku," ucapnya lalu tersenyum angkuh. Sasuke hanya diam dengan wajah datar tanpa menanggapi Sakura. Detik berikutnya, Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada dan menggerakan dagunya menunjuk ke beberapa meja yang berantakan.
"Bersihkan!" Sasuke memerintah dengan suara dinginnya yang jernih.
"Hei! Kau tidak memberiku kesempatan untuk berdiam diri sejenak? Sungguh?"
Sasuke menghela napasnya. Tangannya masih terlipat di depan dada. "Kau masih harus membersihkan meja, mencuci piring dan cangkir, membersihkan jendela dan mengepel lantai sebelum café ini tutup. Ingin protes?"
"Hah?! Kau bercanda?"
Sasuke hanya menatap Sakura tajam tanpa membalas ucapannya. "Kenapa kau tidak minta yang lain untuk mengerjakannya?" Sakura mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Sasuke. Kedua tangannya menapak di atas rak pastry yang menjadi pembatas mereka.
"Yahiko-san sudah seharian menjadi barista dan Konan-san disibukan dengan kue-kuenya. Kau ingin menyuruh siapa?"
Sakura menatap tajam Sasuke tanpa peduli jika masih ada beberapa pengunjung di dalam café. "Tapi aku juga sudah bekerja seharian," hardiknya.
"Apa datang terlambat masih bisa dikatakan seharian ?"
Sakura membuka mulutnya ingin membalas ucapan Sasuke tapi pada akhirnya ia hanya terdiam dan kemudian berkedip cepat. Sakura mengatur napasnya sebelum kembali menatap Sasuke. "Baiklah. Tidak seharian—tapi tetap saja 'kan aku sudah bekerja terlalu banyak dan kau ingin memberiku pekerjaan lagi?"
"Bukankah sudah kubilang jangan bicara seolah kita dekat saat sedang bekerja? Apa begini cara bicaramu pada atasanmu?"
"Hah?"
"Keinginanku adalah perintah untukmu. Aku ingin kau membersihkannya jadi kau wajib membersihkannya. Itu sudah menjadi konsekuensi yang kau dapat jika bekerja padaku," lalu Sasuke meninggalkan Sakura yang masih memandanginya dengan pandangan tak percaya.
…
"Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini!" Sakura membungkuk pada Konan dan Yahiko yang melambaikan tangan keluar dari café. Ia menoleh pada jam dinding berwarna putih yang tergantung di salah satu dinding. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Buru-buru ia melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai. Perhatiannya teralihkan pada Sasuke yang berjalan ke salah satu meja dengan tangan penuh membawa dua mug yang mengeluarkan aroma harum khas.
Merasa diperhatikan, Sasuke balik menatap Sakura dari balik cangkir yang dikecapnya. Pandangannya kemudian menunjuk sisi kursi yang kosong di depannya. "Duduklah," ujarnya singkat kemudian meneguk kopinya lagi.
Sakura meletakkan alat pelnya lalu duduk dengan canggung di depan Sasuke. Sakura masih diam mengamati Sasuke yang duduk melipat kaki dan memandangi jalan raya dari balik kaca dengan ekspresi stagnan. Ahh, Sasuke benar-benar masih sama. Dia masih suka memandangi orang yang berlalu-lalang, Sakura membatin. Ketika Sasuke tiba-tiba menoleh padanya hingga mata mereka bertemu, Sakura hanya mampu berkedip berulang kali yang dilanjutkan dengan bibirnya yang terkatup rapat.
"Itu untukmu, minumlah," ucap Sasuke lalu meletakkan cangkir miliknya yang telah habis setengahnya. Sakura menggeleng dengan perasaan enggan. "Aku tidak suka kopi,"
Sasuke melipat tangannya di depan dada kemudian menyenderkan punggungnya di kursi. "Aku tahu," balasnya. Sakura menaikan satu alisnya, "Jadi kau ingat aku tidak suka tapi masih memintaku untuk meminumnya?" Sakura menghela napasnya "Kau tahu sendiri aku benar-benar tidak suka rasa pahit,"
"Cobalah dan hargai aku yang sudah membuatkan itu untukmu,"
Sakura berdecak. Dengan terpaksa ia mengecap cairan coklat yang mengepulkan uap panas itu. Sedetik kemudian Sakura hanya menatap heran cangkir kopinya. Tidak ada rasa pahit berlebihan yang dirasakan indra pengecapnya. Semua rasa yang ada dalam cairan di cangkir itu terasa nyaman di lidahnya. "Ini enak. Aku bisa meminumnya. Kau sungguh bisa membuat kopi seperti ini? Kupikir walaupun dibuat dengan cara apapun kopi tetaplah kopi yang pahit," kagumnya.
Kopinya dikecap lagi dan lagi hingga tanpa sadar Sakura telah menghabiskan setengahnya. "Kau tahu Sakura, rasa pahit tidak seburuk itu," Sakura menurunkan cangkirnya ketika mendengar Sasuke mulai berbicara. Laki-laki itu memandang keluar. "Kau hanya harus tahu bagaimana cara menyikapinya," lanjut Sasuke kemudian kembali menatap Sakura. "Jadi, jangan menghindari semua rasa pahit yang kau rasakan dan membohongi dirimu seperti orang bodoh untuk mendapatkan zona nyamanmu,"
Sakura menarik sudut-sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan. "Apa yang sedang kau coba bicarakan sih ?" kemudian ia tertawa renyah. "Ini sudah cukup malam. Aku juga sudah menyelesaikan pekerjaanku. Jadi aku boleh pulang 'kan?" kata-kata itu meluncur dari mulut Sakura segera setelah ia berdiri.
Sasuke menarik napas kemudian menghembuskannya panjang. Matanya terpejam erat-erat. Ketika ia mendengar lonceng pada pintu café berdenting, Sasuke kembali membuka matanya dan melihat Sakura telah menyebrang lalu hilang dari pandangan.
…
Ada alasan mengapa Sasuke dan Sakura mengakhiri hubungan mereka beberapa tahun yang lalu. Dan ada pula alasan mengapa sampai sekarang Sakura tidak menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Entah karena kopi yang diminumnya atau mendengar Sasuke berbicara mengenai dirinya, kini Sakura hanya mampu memaksakan matanya menutup di balik selimut tebalnya. Dan semakin ia memaksakan diri untuk tidur, semakin bayangan masa lalu dirinya dengan Sasuke berputar. Sakura bangkit dari posisinya kemudian berteriak kesal. Namun tanpa bisa dicegahnya, ia mengambil ponselnya kemudian membuka aplikasi pengirim pesan. Hanya ada satu ruang obrolan yang tak pernah dihapus maupun dibukanya lagi empat tahun terakhir ini. Sakura menarik napas panjang hingga bahunya sedikit bergetar. Dibacanya kembali pesan-pesan di sana satu demi satu.
"Kenapa aku membacanya lagi? Dia mungkin telah melupakan semuanya," Ia menangis.
Sebuah panggilan masuk membuatnya tersentak. Diangkatnya panggilan itu setelah merasa napasnya tidak lagi berat.
"Sakura? Kau belum tidur?!"
Sakura tertawa mendengar suara melengking Ino. Ia bahkan bisa membayangkan ekspresi Ino di sebrang sana. "Aku sudah tidur tapi suara ponsel karna kau meneleponku membuatku terbangun,"
"Pembohong. Hanya ada dua alasan jika kau tidak mengangkat teleponku pada tengah malam. Kau sudah tidur atau kau sibuk dengan laptopmu," Selanjutnya Ino terdengar menghela napas. "Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Aku sedikit merasa bersalah,"
"Ya! Kau memang seharusnya minta maaf!" hardik Sakura kemudian Ia tertawa. "Aku mau masakan rumah paling enak untuk sarapanku besok sebagai permintaan maaf,"
"Hahh. Baiklah. Jadi, kenapa kau belum tidur? Intuisiku mengatakan ini bukan karena kau sedang mengerjakan novelmu. Apa karena Sasuke?"
Sakura merebahkan tubuhnya, ponselnya masih dipegangnya di dekat telinga. "Aku hanya sedikit mengingat masa lalu,"
…
Sakura membuka matanya secara perlahan ketika cahaya matahari mulai menelusuk masuk melalui celah-celah ventilasi kamarnya. Tangan kanannya meraba sisi tempat tidurnya yang lain guna menemukan ponsel pintarnya. Waktu di ponselnya sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Setengah jam lagi untuk waktu kerjanya tapi sungguh Ia sangat malas bertemu dengan atasannya itu. Jadi, Sakura memutuskan untuk kembali menarik selimut sebelum indra pendengarannya menangkap suara-suara kesibukan di dapurnya.
"Tumben sekali Ino tidak membangunkanku," gumamnya kemudian turun dari tempat tidur. Sakura berjalan menuju dapur masih dengan celana pendek dan baju kaos putihnya. Berulang kali ia menguap sembari menggaruk kepalanya.
Masih setengah sadar, Sakura membuka kulkas untuk mengambil air putih. Namun ketika akan menutupnya kembali, tangannya tertahan.
"Dasar gadis malas," Sakura menoleh cepat. Kesadarannya saat itu juga kembali secara penuh. Matanya melebar mendapati si pemilik suara menahan pintu kulkas sembari menatapnya tanpa emosi. "Sa-Sasuke?!" dan selanjutnya gelas kaca yang terlepas dari genggaman tangan Sakura membentur lantai.
Sasuke hanya mendengus sebelum tersenyum miring. "Selamat pagi, Sakura"
Bersambung.
