Bittersweet

Naruto © Masashi Kishimoto (Tidak ada keuntungan materi apapun dalam pembuatan karya ini. Fanfiksi ini dibuat hanya untuk hiburan semata)

Pairing: Sasuke U./ Sakura H. Rating: T.

Genre: Romance. Note: Alternative Universe.

( Sasuke pemilik café yang tak ramah. Sakura si mantan pacar yang tiba-tiba datang melamar kerja. Semua berawal dari pertemuan formalitas tak terelakan../ "Sederhananya, sekarang aku atasanmu dan semua keinginanku adalah perintah untukmu" )

Sakura tak tahu apa yang sebenarnya terjadi sekarang. Ia mengerjapkan matanya berulang kali memastikan apakah yang dilihatnya mimpi atau bukan. Sosok di dalam kemeja putih yang lengannya digulung hingga sebatas siku itu masih menatapnya dengan pandangan datar seraya melipat tangan di depan dada.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa masuk ke sini?"

Daripada menjawab pertanyaan dari mantan kekasihnya itu, Sasuke memilih untuk memunguti pecahan gelas kaca yang berada di depannya. Ia mendongak kemudian menunjuk sapu dengan dagunya. "Lebih baik kau ambilkan aku itu dan bantu aku membersihkan kekacauan yang kau buat ini,"

Sakura ingin membantah tetapi yang dikatakan Sasuke ada benarnya. Segera ia mengambil sapu dan membantu Sasuke membersihkan pecahan gelas yang ia jatuhkan. Keduanya masih berdiam diri sampai Sasuke membuka suara lebih dulu.

"Makanlah," ucapan singkat itu dibarengi dengan serangkaian makanan yang pria itu letakan di atas meja makan. Sakura memiliki banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan, namun yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menarik kursi di depan Sasuke kemudian duduk dengan pandangan bingung melihat bagaimana laki-kaki di depannya makan dengan tenang seperti di rumahnya sendiri.

"Kenapa?"

Sakura mendengus heran mendengar pertanyaan Sasuke. Kenapa? Harusnya dirinya yang bertanya mengapa laki-laki itu bisa berada di apartemennya dan sarapan seolah mereka masih sangat dekat. Sakura meletakkan sumpitnya kembali dengan kencang hingga menghasilkan suara keras yang menarik perhatian Sasuke.

"Bisa kau jelaskan padaku, sekarang?" Sasuke menyusul meletakan sumpitnya kemudian menatap kedua mata hijau yang berkilat padanya. "Menjelaskan apa?" tanyanya balik.

"Oh ayolah Tuan Uchiha yang terhormat, bisakah kau tidak main-main atau pura-pura bodoh? Bagaimana bisa kau ada di sini? Masuk ke rumahku lalu memasak sarapan dan duduk makan seolah tak terjadi apa-apa?!"

Ekspresi Sasuke tidak berubah barang sedikitpun dan itu membuat Sakura makin berjengit heran dengan apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki di depannya ini.

"Passcode pintumu masih sama,"

Mata Sakura mengerjap berulang kali sebelum akhirnya menghela napas "Bukan itu yang ingin ku dengar!"

"Masih tanggal ulang tahunku," Sasuke menambahkan dan membuat ruam kemerahan muncul di wajah gadis berambut merah muda itu.

"Y-Ya.. kau tahu sendiri aku tidak mudah menghapal, jadi supaya aku tidak lupa, aku tidak menggantinya," Sakura berdalih dan ditanggapi dengusan singkat oleh Sasuke. "—dan aku masih menuntut penjelasan kenapa kau bisa kemari?!"

Sasuke menyenderkan punggungnya di sandaran kursi kemudian melipat tangan di depan dada. "Yamanaka bilang kau sakit dan dia tidak bisa merawatmu, lalu dia menerorku dengan puluhan pesannya untuk memaksaku ke sini. Apa penjelasan itu cukup?"

Satu detik setelah mendengar penjelasan Sasuke, Sakura begitu ingin mengutuk sahabat berambut pirangnya itu. Gadis yang bekerja sebagai penulis lepas itu menghela napasnya. "Maaf Sasuke-san , sepertinya Anda telah tertipu oleh si-rambut-pirang-sialan itu. Aku tidak sedang sakit sama sekali,"

Sasuke menghela napasnya namun tidak ada perubahan ekspresi yang berarti yang bisa Sakura tangkap dari wajah pemilik tempatnya bekerja itu. Pemuda itu malah mengambil sumpitnya kemudian melanjutkan sarapannya. "Kenapa kau melihatku seperti itu?"

"Kau tidak mau memberikan tanggapan apapun? Kenapa kau bisa melanjutkan makanmu dengan tenang begini?"

"Lalu apa yang kau harapkan? Marah pada Yamanaka?"

"Bu-Bukan itu maksudku!"

"Kalau begitu diam dan habiskan saja makananmu,"

Sakura mengambil sumpitnya, menyuapkan sejumput tumis sayur yang dibuat pemuda itu ke dalam mulutnya. Tanpa bisa dicegahnya, kedua sudut bibirnya tertarik membentuk lengkungan tipis. Ia masih mengingat cita rasa masakan ini dan setelah sekian lama ia kembali dapat merasakan rasa khas dari makanan yang dibuat pemuda itu. Kedua netra hijau daunnya mencuri pandang ke Sasuke yang masih memakan sarapannya dengan tenang. Buru-buru ia menggeleng mencoba menghalang kenangan yang ingin membawanya untuk bernostalgia.

"Sasuke," Sasuke menoleh sebagai jawaban. "Terima kasih sarapannya," ada sekelebat perasaan di kedua mata hitam pemuda itu setelah mendengar ucapan gadis di depannya. "Hn" jawab Sasuke singkat.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Sasuke sibuk dengan sarapannya sedangkan Sakura berusaha mati-matian mengusir rasa canggung yang menggrogoti sampai-sampai dirinya berkeringat dingin.

"Ma-Masakanmu masih sama enaknya ya," Perhatian Sasuke teralih pada Sakura yang berusaha mencairkan suasana diantara mereka "Aku penasaran bagaimana caramu bisa memasak makanan enak seperti ini hehe," ingin Sakura membunuh dirinya saat itu juga ketika menyadari betapa anehnya nada suara yang ia keluarkan.

Sasuke mendengus "Bodoh," tanggapnya singkat yang mendapat delikan dari Sakura.

"Siapa yang kau bilang bodoh, hah?!" buyar sudah rasa canggung yang menyelimuti mereka khususnya Sakura. Gadis itu tanpa sadar berteriak seperti yang biasa ia lakukan dulu saat Sasuke mengatainya gadis bodoh.

"Kau. Memangnya ada orang lain di sini?"

"Hei! Bisakah kau menghilangkan kebiasaanmu memanggilku bodoh? Di sini aku sudah berusaha membuka suasana agar kita tidak mematung sampai berdebu karena suasana canggung yang kau bangun. Lagipula ada masalah apa dengan kepalamu sampai-sampai kau meluangkan waktumu hanya untuk menjenguk gadis yang kau anggap menyebalkan ini ? Kau kan bukan tipikal orang yang mudah tertipu atau mudah menggerakkan hati apalagi hanya karena paksaan dari orang yang tidak begitu dekat denganmu. A-ah! kau ingin membuatku merasa berhutang padamu lalu bekerja padamu tan—"

"—cerewet" Sasuke menimpali hingga membuat gadis yang merupakan mantan pacarnya itu berteriak kesal. "Sasuke!" diam-diam Sasuke membentuk senyum tipis tak kentara ketika melihat ekspresi kesal Sakura yang diperuntukan padanya.

"—dan lebih baik kau kembali ke cafemu itu! ini sudah lewat dari jam buka 'kan? Cepat pergi sana!"

"Sudah selesai?" tanya Sasuke begitu Sakura berhenti setelah sekian menit bicara tanpa henti. Gadis itu tak menjawab, Sakura memalingkan wajahnya yang merengut kesal. "Kau masih saja seperti dulu," ucap Sasuke yang membuat Sakura melirik Sasuke dari sudut matanya.

"Baik sikapmu atau tempat ini, semua masih sama seperti terakhir kalinya aku ke sini,"

"Apa yang ingin kau coba bahas sekarang, Sasuke?"

"Dirimu," Sakura mengerti dengan sangat apa yang Sasuke maksud. Gadis berambut merah muda itu bangkit dari kursinya dan mencoba untuk meninggalkan meja makan sebelum tangan pemuda itu menahannya.

"Kau salah paham," kata Sasuke singkat dengan nada yang dalam "Aku sedang tidak membahas apa yang sedang kau pikirkan,"

"Lalu?" Sakura memaksakan dirinya untuk tersenyum.

"Aku membahas dirimu yang dulu—bukan. Mungkin lebih tepatnya aku membahas tentang kita,"

Sakura tertawa renyah mendengar Sasuke mengatakan suatu hal yang cukup mengejutkan. "Jadi, kau sedang bernostalgia dengan kenangan kita dulu? Mau mencoba untuk pacaran lagi denganku?" Sakura mengakhiri pertanyaannya dengan senyuman tipis yang seakan menantang pemuda di depannya. Kedua mata mereka saling menatap cukup lama satu sama lain sampai Sasuke melepas genggamannya pada pergelangan tangan Sakura.

"Jangan harap," tanggap pemuda itu singkat kemudian membereskan alat makannnya. Sakura menatap sendu punggung tegap berbalut kemeja putih yang sedang mencuci piring itu. Sementara Sasuke mematung, membiarkan air terus mengalir membasahi tangannya.

Ino hanya bisa menampilkan senyum yang mati-matian ditahannya ketika Sakura menyerangnya dengan serangkaian kalimat protes dan mengutuk dirinya berulang kali karena tindakannya kemarin. Gadis berambut pirang panjang itu tidak membalas ocehan sahabatnya itu dan hanya menegak kopinya perlahan.

"Apa sih yang mendasari perbuatanmu kemarin?! Kau sudah gila ya meminta Sasuke ke rumahku?" Sakura bersungut-sungut seraya mengaduk jus strawberrynya dengan kasar.

"Kau tidak bekerja hari ini?" dibandingkan menjawab pertanyaan Sakura, Ino lebih penasaran mengapa sahabatnya itu masih berada di rumah dan tidak pergi ke tempat kerjanya.

"Sasuke bilang aku tidak perlu bekerja hari ini dan sebagai gantinya, aku harus membantunya membeli bahan-bahan di dapur—hei! Jawab dulu pertanyaanku!"

Ino menaikan satu alisnya mendengar ucapan Sakura. Gadis blasteran itu tidak bisa lagi menahan tawanya yang membuat Sakura menatapnya heran.

"Kenapa kau tertawa?"

Ino menghapus air mata di sudut matanya, ia menghela napas kemudian menatap Sakura dengan seksama. "Dia ingin pergi berdua bersamamu. Uchiha Sasuke ingin punya waktu berdua bersamamu, Sakura"

Sakura mengerjap berulang kali sebelum tertawa renyah dan kemudian menampilkan ekspresi datar "Yang benar saja. Laki-laki menyebalkan itu hanya ingin menyiksaku," kemudian Sakura menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga—kebiasaan yang sangat Ino ketahui, gerakan refleks Sakura jika ia sedang berbohong. "Kami juga sudah tidak memiliki rasa satu sama lain," sambung Sakura dengan nada rendah. Ino hanya tersenyum kemudian menggebrak meja pelan.

"Sakura, perasaan tidak akan menghilang semudah itu. Ia hanya bersembunyi di sudut hati terdalam, menunggu untuk dipanggil kembali,"

Sakura menatap lama Ino yang sedang tersenyum penuh arti kepadanya namun beberapa detik kemudian ia kembali tertawa—lebih dipaksaksakan dari sebelumnya. "Tapi kami tidak akan saling memanggil kembali,"

Setelah percakapannya dengan Ino siang tadi, Sakura benar-benar merasa kepalanya menjadi berat. Dibandingkan terus memikirkan ucapan dari sahabatnya itu, Sakura memilih untuk pergi ke toko buku—mencari novel terbaru dari penulis favoritnya sebelum menepati janjinya pada Sasuke untuk bertemu di pusat perbelanjaan.

Kedua mata hijau Sakura menelusuri setiap rak yang memajang berbagai buku dari karya berbagai penulis baik yang terkenal atau yang baru memulai debutnya. Perhatiannya menangkap sosok berambut merah dengan sweater hitam dan headphone yang dikalungkan di lehernya. Kalau tidak salah, pemuda itu adalah pelanggannya beberapa hari yang lalu. Sakura memberanikan diri mendekati pemuda itu saat melihat novel yang dibaca olehnya adalah novel yang sedang ia cari-cari.

"Ano.. " Kedua pasang mata dengan warna yang hampir menyerupai itu bertatapan, pemuda berambut merah itu sedikit terkejut kemudian menganggukan kepalanya untuk menyapa. "Kau juga menyukai karya dari Akasuna no Sasori?" tanya Sakura.

Pemuda dua puluh satu tahun itu kembali memindahkan perhatiannya pada novel yang dipegangnya. "Ahh.. Hn," jawabnya. Ia tidak terbiasa mengobrol dengan orang lain apalagi seorang gadis asing yang baru ditemuinya satu kali di sebuah café.

Sakura menyadari perasaan canggung yang pemuda di depannya itu rasakan. Gadis yang mengenakan kemeja biru langit dan celana jeans itu tertawa kecil sebelum menggaruk pipi sebelah kanannya—canggung. "Maaf, suatu kebiasaan burukku tiba-tiba menghampiri orang yang memiliki hobi yang sama denganku. Kita sudah bertemu sebelumnya tapi kurasa kita belum berkenalan dengan benar," Sakura mengulurkan tangannya lalu tersenyum dengan begitu manis "Aku Haruno Sakura,"

Pemuda itu dengan ragu menyambut uluran tangan Sakura kemudian membalas senyum Sakura dengan senyuman tipis malu-malu "Sabaku Gaara, aku lebih suka dipanggil Gaara,"

"Kalau begitu, salam kenal Gaara-kun! Ah iya! Bagaimana menurutmu novel terbaru dari Akasuna-sensei ?"

"Sama seperti novel-novel sebelumnya, cukup bagus untuk dibaca tapi mungkin karena ini pertama kalinya dia membuat genre romantis aku merasa seperti ada yang kurang. Aku lebih suka novel misterinya,"

"Eh? Benarkah? Aku cukup tertarik setelah mendengar Akasuna-sensei mencoba membuat novel romantis,"

Gaara menyerahkan novel yang telah dibelinya itu ke Sakura "Mau coba baca?" tawarnya yang disambut binaran di mata hijau Sakura.

"Bolehkah?" Gaara mengangguk mengiyakan. "Seperti yang diharapkan dari Akasuna-sensei , setiap pilihan kata di novelnya benar-benar indah," tambah pemuda itu.

" Semua orang bisa berubah, perasaan manusia tidak menentu, " Sakura tersenyum mendengar bagaimana pemuda itu mengucapkan kutipan dari novel yang baru dibacanya. "Aku suka bagian itu," lanjut Gaara.

"Jadi kapan kita bisa bertemu lagi?" tanya Sakura yang membuat sedikit rona kemerahan muncul di pipi pemuda itu. "Eh?" respon Gaara bingung, mengira gadis di depannya mengajaknya untuk keluar bersama.

"Kapan aku bisa mengembalikan novel ini padamu?" Sakura memperjelas pertanyaannya ketika mendapati respon Gaara yang terlihat kebingungan.

Rona kemerahan di wajah Gaara semakin menjelas, entah mengapa ia merasa malu sendiri karena pikirannya. "Kau bisa mengembalikan padaku kapan saja , Haruno-san,"

"Kalau begitu, bagaimana kalau di café tempatku bekerja dua hari lagi? Aah! Gawat! Aku terlambat!" Sakura buru-buru membalikan badan dan melambaikan tangan pada Gaara. "Terima kasih novelnya! Sampai bertemu dua hari lagi!"

Gaara mengangkat tangannya, melambai ragu untuk membalas lambaian tangan Sakura namun detik kemudian ia menutup sebagian wajahnya yang memerah dengan punggung tangan. Ini pertama kalinya ia mengobrol dengan seorang gadis.

"Jadi apa yang memberanikan dirimu membuatku menunggu di sini?" Sasuke menatap gadis berambut merah muda yang terengah-engah itu dengan tatapan tajam.

"Yang penting aku sudah di sini," jawab Sakura masih dengan napas terputus-putus. Sasuke tidak menanggapi lebih lanjut, pemuda itu langsung membalikan badan untuk masuk ke dalam pusat perbelanjaan. "Cepat ambil keranjang belanjanya," titahnya pada Sakura.

"Hah? Bukannya kita akan belanja banyak? Apa tidak lebih mudah menggunakan troli?"

"Kalau belanjaan kita banyak, kau tinggal mengambil dua keranjang,"

Sakura tak percaya mendengar ucapan pemuda menyebalkan yang sekarang sedang berjalan di depannya itu. "Apanya yang ingin punya waktu berdua. Dia benar-benar ingin menyiksaku," gumam Sakura mengingat apa yang diucapkan Ino padanya beberapa jam yang lalu.

Sakura mengikuti Sasuke dengan dua keranjang kosong di masing-masing tangannya. Pemuda dua puluh lima tahun itu dengan santainya memasukan bahan-bahan makanan yang akan dibelinya ke masing-masing keranjang yang dibawa Sakura kemudian berjalan cepat meninggalkan Sakura yang kewalahan membawa semuanya.

"Hei! Bisakah kau tunggu aku!" Sakura menjatuhkan kedua keranjangnya ke lantai. "Argh! Sasuke sialan!" teriaknya sehingga menjadi pusat perhatian orang-orang di sana. Sementara di depan sana, Sasuke tetap tidak memperdulikan Sakura dan berjalan santai. Namun ada senyum tipis yang menggulum di sana.

Bersambung.