"Sakura, bangun! Hei pemalas!" Gadis dengan rambut merah muda itu perlahan membuka matanya. Tawa kecil langsung meluncur dari bibirnya ketika mendapati wajah kekasihnya sedang menampilkan senyum tipis namun sangat hangat.
"Bibi Mebuki dan Paman Kizashi sudah menunggu di bawah. Ayo bangun pemalas!"
"Iya. Iya. Aku bangun sekarang tapi cium dulu," ujarnya manja sembari menunjuk pipi sebelah kirinya. Pemuda dengan kemeja biru itu menaikan satu alisnya kemudian langsung berbalik meninggalkan Sakura. "Jangan harap," ucapnya lalu disambut teriakan kecewa oleh Sakura. Sebuah senyum tipis kembali terpatri di wajah tampannya.
"Sasuke!"
..
Bittersweet
Naruto © Masashi Kishimoto (Tidak ada keuntungan materi apapun dalam pembuatan karya ini. Fanfiksi ini dibuat hanya untuk hiburan semata)
Pairing: Sasuke U./ Sakura H. Rating: T.
Genre: Romance. Note: Alternative Universe.
( Sasuke pemilik café yang tak ramah. Sakura si mantan pacar yang tiba-tiba datang melamar kerja. Semua berawal dari pertemuan formalitas tak terelakan../ "Sederhananya, sekarang aku atasanmu dan semua keinginanku adalah perintah untukmu" )
…
Sakura tersentak. Sebuah pukulan mendarat di puncak kepalanya yang mau tak mau membuatnya melengos pergi dari alam mimpi. Dengan ekspresi wajah yang masih kusut ia mendongak dan mendapati sosok pemuda berekspresi kaku sedang menatapnya penuh intimidasi.
"Siapa yang menyuruhmu tidur di sini?"
Sakura menghela napasnya. Baik di dunia nyata maupun mimpi Uchiha Sasuke benar-benar mengganggu tidurnya. Terpaksa, Sakura mengalah dan tidak meladeni Uchiha Sasuke yang sepertinya ingin mengajaknya berdebat lagi kali ini. Haruno Sakura sudah cukup lelah dan kurang tidur, dia tidak ingin kalau-kalau si pemilik café tak punya hati ini akan menambah daftar pekerjaannya.
"Maafkan saya, Sasuke-sama. Saya akan melanjutkan pekerjaan saya sekarang," Sakura membalas menggunakan kalimat formal dengan nada sopan yang jelas dibuat-buat. Ketika baru saja gadis itu melangkah pergi melewati atasannya itu, Uchiha Sasuke menahan tangannya.
"Memangnya kau tahu apa yang ingin kuperintahkan padamu?"
Sakura menekuk alis "Apalagi kalau bukan berdiri di belakang meja kasir dan menerima pesanan?" sahutnya ketus. Hal yang berikutnya terjadi sama sekali tak pernah terpikirkan oleh Sakura. Terjadi begitu cepat sampai-sampai yang ia sadari kini hanya posisi Uchiha Sasuke yang mengunci tubuhnya dan menatapnya dalam-dalam.
Sasuke menarik tangan Sakura, mendorong gadis itu hingga tubuhnya menyentuh meja kemudian melatakkan kedua tangan miliknya di kedua sisi tubuh mantan kekasihnya itu. Sakura membasahi bibirnya, matanya berkilat gelisah. Berulang kali ia mencoba memalingkan wajah sebelum akhirnya membalas tatapan Sasuke takut-takut. "A-Apa yang kau lakukan?"
"Kau tahu sekarang sudah pukul berapa?" Sakura menoleh ke samping kiri, mencoba mencuri lihat ke arah jam dinding yang terpasang di ruangan pegawai sana. Sepasang mata hijau cerahnya melebar. Secara spontan ia mendekap bibirnya dengan kedua tangannya.
"Sudah sadar berapa lama kau tidur dan bolos kerja?" Sasuke semakin mencondongkan tubuhnya dimana mau tak mau Sakura harus menundukan kepalanya dalam-dalam agar tak bertemu tatap dengan pemuda itu.
"Ma-Maafkan aku Sasuke. Aku tidak tahu akan ketiduran sampai jam tutup,"
Uchiha Sasuke menghela napasnya. "Kau beruntung karena aku menghadiri rapat perusahaan seharian ini dan tidak bisa mengawasimu. Lain kesempatan, mungkin aku akan memilih tetap di café ini dibanding mengurus perusahaan ayahku," satu sentilan mendarat di dahi Sakura "untuk mengawasi pegawai malas ini," lalu Sasuke berlalu pergi.
Sakura menghembuskan napas yang sedari tadi ditahannya. Dengan gerakan kaku ia menyentuh tempat di mana ketukan kecil Sasuke mendarat di dahinya. "A-Apa-apaan tadi.." wajahnya memerah.
…
Yamanaka Ino menutup buku yang ia baca ketika sosok yang ia tunggu-tunggu hadir lalu mendudukan diri tepat di depannya. Sebuah senyum Ino lemparkan walaupun pemuda itu tidak membalas sama sekali.
"Akhir-akhir ini kita jadi sering bertemu," Sasuke membuka pembicaraan. "Apa lagi yang ingin kau bicarakan denganku?"
"Sasuke-san, kau masih mempunyai perasaan pada Sakura 'kan?" Gadis keturunan Inggris-Jepang itu mengembangkan senyum lagi. Buku yang dipangkunya ia pindahkan ke atas meja. "Kau bukan tipikal orang yang akan bermurah hati menanggapi permintaan orang lain, terlebih lagi itu permintaanku, orang yang sama sekali tidak berhubungan dekat denganmu," senyum gadis dengan surai pirang itu semakin terlihat jelas saat ada perubahan ekspresi di wajah Sasuke.
"tapi kau menanggapinya karena itu berkaitan dengan Sakura, bukan begitu?" Sasuke mendengus. Ia menyenderkan punggungnya ke kursi lalu melipat tangan di depan dada. "Bukan urusanmu," tanggapnya.
"Aku tahu bahwa aku tidak seharusnya ikut campur dengan urusan kalian berdua tapi Sakura sudah seperti keluargaku sendiri dan aku akan melakukan apa saja untuk membuatnya bahagia," sepasang mata aqua itu menatap lurus ke manik hitam Sasuke "Jika seandainya tebakanku memang benar, tolong kembalilah padanya. Sakura, gadis itu hanya sedikit keras kepala—"
"—sangat keras kepala," Sasuke memotong untuk mengoreksi. Ino terkekeh dibuatnya "Oke. Baik. Dia memang sangat keras kepala tetapi kau adalah mantan kekasihnya dan kau tahu dengan jelas apa yang menyebabkan Sakura seperti itu.Yah.. walaupun itu juga alasan mengapa kalian bisa berpisah,"
"Aku hanya tidak ingin Sakura terus hidup seperti ini. Sakura itu, dia memang terlihat biasa saja dan bahkan menyebar tawa tapi sebenarnya dia hanya gadis kecil yang kesepian. Namun akhir-akhir ini dia sedikit berubah. Walaupun hanya sedikit tapi itu sudah membuktikan bahwa keberadaanmu begitu berpengaruh untuknya. Kau masih orang penting bagi Sakura," Sasuke tak menanggapi. Pemuda itu hanya diam berkutat dengan pikirannya sendiri dan membiarkan sahabat mantan kekasihnya itu melanjutkan pembicaraan.
"Sasuke-san, kau masih punya tempat istimewa di hatinya. Karena itu, aku meminta bantuanmu," tutup Ino. Lama keduanya hanya diam, dimana Ino yang menunggu tanggapan Sasuke sedangkan pemuda itu seolah sibuk dengan pikirannya yang entah memikirkan apa.
Sasuke bangkit dari kursinya. Pemuda dengan kaus biru itu menghela napas. "Kau terlalu khawatir," ujarnya lalu meninggalkan Ino. Namun sebelum benar-benar pergi, Sasuke kembali menoleh "Dia akan baik-baik saja," Sasuke pergi.
Ino melemparkan tawa pelan sebelum tersenyum hangat. "Iya Sakura akan baik-baik saja. Uchiha itu sudah memastikannya," Ino membuka bukunya kembali. Sebuah pembatas buku dengan gambar buatan tangan khas anak-anak tersemat di sana. Ino mengelus pembatas buku bergambar dua gadis berbeda warna rambut itu dengan ibu jarinya. "Aku tidak salah meminta bantuan padamya. Sakura, Sasuke-san adalah orang yang baik untukmu,"
…
"Selamat datang di Felicè—Ah! Gaara-kun," Sakura tersenyum sumringah saat melihat pemuda berambut merah itu berjalan mendekati meja kasir. Sabaku Gaara mengangkat tangannya untuk melambai sebelum ia tarik ke belakang guna merisak rambut bagian belakangnya. Rona kemerahan muncul di wajah putih pemuda itu.
"Pesanan seperti biasa?" tanya Sakura. Gaara mengangguk singkat sebagai jawaban. "Sakura-san, aku datang untuk—" Gaara terhenti di tengah kalimatnya saat tiba-tiba Sakura memekik pelan seperti mengingat sesuatu. "Aku hampir lupa! Kau datang untuk mengambil novelmu 'kan?"
"Aa,"
Sakura melirik jam tangannya, sebuah senyum muncul dan berhasil mencuri fokus pemuda berambut merah itu. "Sebentar lagi jam istirahat makan siang, Mau menungguku sebentar lagi? Kita bisa sedikit berbincang setelah ini,"
Gaara mengangguk setuju. "Kalau begitu aku pesan dua vanilla latte, satu untukmu," Sakura menggerakan kedua tangannya di depan dada "A-ah tidak perlu. Seharusnya aku yang mentraktirmu. Kali ini biar aku yang bayar sebagai ucapan terima kasih untuk novelnya,"
"Aa. Kalau begitu, pada kesempatan lain aku yang akan bayar," Gaara mendadak menutup bibirnya rapat-rapat begitu sadar dengan kalimat yang ia keluarkan sebelumnya. Itu seperti dirinya mengajak Sakura untuk bertemu lagi. Seperti ajakan kencan. Gaara merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Tawa jernih Sakura kembali mengambil alih perhatiannya "Baiklah kalau begitu,"
"Eh?" Gaara menarik sudut bibirnya meski hanya sedikit "Ka-Kalau begitu, aku akan menunggu Sakura-san di meja biasa aku duduk. Meja nomor sembilan," lalu Gaara melangkah menuju mejanya.
…
Sasuke berdeham pelan sewaktu pemuda berambut merah yang sedari tadi terlihat mengobrol dengan Sakura telah meninggalkan kasir. Laki-laki dengan warna rambut gelap itu menyenderkan punggungnya pada rak pastry di sebelah Sakura berdiri.
"Kelihatannya kau punya pelanggan favorite," ucapnya tiba-tiba sembari memalingkan wajah. Sakura menaikan sebelah alisnya sebelum merotasi kedua bola mata hijaunya. "Bukan urusanmu," tanggapnya.
"Kenalanmu?" tanya Sasuke lagi. Sakura yang sedang mengetik pesanan mendadak berhenti lalu memindahkan perhatiannya pada mantan kekasihnya itu. "Hm ya kenalanku, kenapa?"
"Dia sepertinya terlihat lebih muda dari kita. Bagaimana kau bisa mengenalnya?" Sasuke bertanya lagi namun masih tidak berkeinginan bertemu tatap dengan Sakura. Pemuda itu masih mengalihkan pandangannya ke arah lain walau sesekali mencuri pandang.
Sakura menopang dagunya di atas rak pastry. Beberapa detik berlalu yang hanya ia gunakan untuk menatap Sasuke dengan ekspresi malas. Sasuke yang merasa hanya ditatap oleh Sakura pada akhirnya membalas tatapan gadis itu "Apa?"
"Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku cuma sedang mengingat kata-katamu saat pertama aku bekerja di sini. Dia kenalanku atau bukan dan bagaimana caraku mengenalnya, itu bukan urusanmu. Lagipula, kita sedang berada di situasi formal sekarang. Jadi jangan bicara padaku seolah kita ini dekat," ucap Sakura menirukan kata-kata Sasuke lalu diakhirinya dengan seringai kemenangan.
Sasuke yang mendengar itu berdecak. "Tak ada jam istirahat untukmu!" ujarnya kesal lalu melengos pergi meninggalkan Sakura yang meneriakan protes tanpa henti.
…
Gaara tersenyum kecil memerhatikan Sakura yang berjalan ke arahnya dengan membawa nampan. Ekspresi gadis itu terlihat kesal sekali. Bahkan ketika Sakura telah mendudukan diri di depannya, gadis itu masih menggerutu.
"Apa ada masalah?" tanya Gaara. Sakura menghela napasnya "Tidak. Tidak ada. Aku hanya sedikit kesal. Maafkan aku, seharusnya aku tidak menggerutu sampai sini," lalu Sakura menderaikan tawa.
"Tadi kau terlihat bertengkar dengan seseorang," Sakura meletakkan vanilla latte milik Gaara di depan pemuda itu, setelahnya ia meminum jus jeruknya sebelum membalas ucapan Gaara. "Yah, dia pemilik tempat ini. Orang yang benar-benar menyebalkan,"
"Kalian terlihat sangat dekat untuk ukuran atasan dan pegawai," Gaara menanggapi yang buru-buru diberi bantahan oleh Sakura. "Kami tidak sedekat itu! Ah! Ini novelnya. Aku sudah selesai membacanya. Terima kasih,"
Gaara menerima novel yang Sakura ulurkan padanya. Percakapan keduanya berlanjut mengenai banyak hal. Bermula dari pendapat mengenai novel yang mereka baca sampai pada kehidupan masing-masing. Sebeumnya, tidak pernah sekalipun Gaara merasa nyaman untuk mengobrol terlebih lagi membicarakan dirinya pada orang lain, apalagi pada seorang perempuan. Tapi gadis bernama musim semi itu berbeda, Gaara merasa tak masalah untuk lebih membuka diri. Ia merasa nyaman. Mungkin karena gadis itu yang begitu ramah atau dirinya yang memang tertarik. Entahlah, Gaara tak paham. Walaupun dirinya tidak bisa mengimbangi obrolan gadis itu dan hanya membalas satu dua kalimat singkat, namun Sakura seperti tidak mempermasalahkannya. Hingga perlahan-lahan, Gaara merasa dirinya telah masuk ke dalam obrolan dan mengobrol dengan baik.
"Cita-citaku memang menjadi penulis tapi sepertinya belum tercapai sampai sekarang haha—" tawa Sakura tiba-tiba berhenti sewaktu sesosok dalam balutan kemeja biru bergaris berdiri di sebelah mereka.
"Waktu istirahat habis. Kembali bekerja!" ucap Sasuke dengan wajah dingin. Manik hitamnya bergulir melirik pemuda berambut merah yang juga sedang menatapnya."Tidak masalah 'kan ?"
"Sasuke! Aku masih punya lima me—"
"—aa. Tidak apa-apa Sakura-san. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu. Kita bisa mengobrol lagi lain waktu,"
Sasuke menarik sebelah sudut bibirnya "Bagus kalau begitu," kemudian kembali membantu Yahiko menjadi barista. Sakura menggeram. "Sasuke sialan!" gadis itu lalu mencangkupkan tangannya di depan dada—minta maaf pada Gaara yang membalasnya dengan anggukan lalu menyusul Sasuke untuk mengutarakan protes.
Gaara menatap novel miliknya lalu memindahkan pandangannya pada Sakura yang terlihat sedang berdebat dengan Sasuke. "Sepertinya akan sulit," gumamnya.
…
Sakura mengelap keringat di dahinya. Senyumnya mengembang begitu melihat café telah bersih dan pekerjaannya telah selesai. Sambil bersenandung ia menuju ruang pegawai.
"Sakura-chan, sudah selesai bersih-bersih?" Konan menyapa sembari memasukan sisa tepung dan telur ke dalam lemari pendingin. Perempuan dengan jepit rambut bunga mawar itu kemudian mengambil tasnya yang ia letakan di atas meja sebelum meninggalkan dapur.
"Ah iya Konan-san. Jika tidak, Uchiha sialan itu akan menceramahiku lagi," Konan terkekeh mendengarnya "Suatu hiburan melihat interaksi kalian. Sebenarnya, sudah lama sejak Sasuke tidak pernah seintensif ini datang ke café,"
"Benar. Sasuke biasanya akan sibuk mengurus perusahaan Ayahnya lalu hanya datang kemari beberapa kali saja. Bisa dibilang, sejak kau bekerja di sini, dia jadi hampir setiap hari kemari," Yahiko yang baru selesai berganti pakaian langsung menambahkan.
"Kalau begitu, kami pulang dulu. Hati-hati di jalan nanti, Sakura-chan," keduanya melambaikan tangan kemudian bergegas pergi.
"Aa. Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini. Hati-hati di jalan!" setelah melambai singkat pada Konan juga Yahiko, Sakura meninggalkan dapur lalu menuju ruang pegawai. Baru ketika Sakura membuka pintu ruangan pegawai, ekspresinya sedikit terkejut saat mendapati Uchiha Sasuke duduk di sana—tertidur sembari melipat tangan.
Ada sebuah dorongan naluriah yang membuat Sakura berjalan mendekati Sasuke. Gadis itu berjongkok, memerhatikan wajah tenang Sasuke yang nampak kelelahan. Begitu ia memerhatikan raut kelelahan di wajah Sasuke, ucapan Konan dan Yahiko tiba-tiba terlintas di benaknya. Sebuah perasaan yang begitu familiar terus mendesaknya hingga ia tak bisa mengontrol tangannya untuk mengelus rambut mantan kekasihnya itu. "Kau sudah bekerja keras," bisik Sakura.
Sakura baru saja ingin mengelus rambut Sasuke lagi namun pemuda itu lebih dahulu menangkap tangannya. Sasuke membuka mata, mengerjap berualang kali sebelum benar-benar menatap lurus mata Sakura.
Mata hijau Sakura melebar. Rona kemerahan mulai muncul dan menjalar memenuhi wajahnya. Buru-buru ia mencoba menarik kembali tangannya namun Sasuke tak melepaskannya. "Sa-Sasuke,"
"Apa yang mau kau lakukan?"
Sakura menggigit bibir bawahnya, sebelah tangannya yang bebas spontan menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga "Aku melihatmu tertidur, ja-jadi aku mau membangunkanmu karna Yahiko-san dan Konan-san sudah pulang dan.. dan aku juga sebentar lagi akan pulang,"
Sakura bisa melihat Sasuke mengerutkan alisnya dan memandangnya skeptis. Pemuda itu kemudian bangun dari duduknya yang diikuti Sakura karena Sasuke menariknya paksa. "Ambil tasmu, ayo pulang" ujarnya sebelum melepaskan tangan Sakura.
Sakura mengangguk. Tanpa melihat lagi ke arah Sasuke, dia mengambil tasnya yang ada di loker pegawai.
"Aku tunggu di depan,"
"Eh?" Sakura menoleh cepat ke tempat di mana Sasuke berdiri sebelumnya, namun pemuda itu telah menghilang menyisakan pintu yang baru saja tertutup. "Maksudnya, dia mau mengantarku pulang?" Sakura memeluk tasnya erat dan membenamkan wajahnya di sana. "Dia menyebalkan!"
Sementara Sasuke berdiri menyender di balik pintu. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celana, lalu ada senyum tipis yang mengembang di wajahnya.
Bersambung.
…
Halo semuanya. Apa kabar? Semoga kalian selalu baik-baik saja. Sudah lama ya? Hehehe. Sejujurnya, saya sibuk sekali huhu dengan segala macam tugas yang menumpuk kemudian berkembang biak membentuk populasi :( /abaikan.
Tapi saya punya keinginan untuk melanjutkan fanfiction-fanfiction yang saya terlantarkan itu. walaupun mungkin hanya satu dua judul yang akan saya lanjutkan untuk sementara ini. Menurut kalian, mana yang harus saya lanjutkan lebih dulu? Twinkle-twinkle, anemone, sweet love cakes, atau jigoku kara no tenshi?
Adakah fanfiction yang kalian tunggu-tunggu?
Sampai jumpa dilain hari. Bubyee~
Special thanks to uchiha sakura,love uchiha, Nita Shuhei, , sqchn,park jihoonie, ranindri, nyanko-UN, SherryMC, ayato ruki, Uchiharuno SasuSakuSara, Annis874, yup, DdKawaii, Mesailes, syakuraharu, Ishikawa Chiaki, sskiara, Ica, Yukiyamada, anrsh, goodbye summer, aszt, pinky, Khoerun904, protagonistwoman, setyanajotwins,AmmaAyden, JidatLebarnya PantatAyam, Ratna 315, PantatAyam BerjidatLebar, ice, mc-kyan,kujyoNozara,Dyn Adr, dindra5110,blackchiatto, PIYORIN, YukiSakura Kensei29, hira 1804, matarinegan, Minnie, catleaf, bananaris, donat bunder, Younghee Lee, fujiwara, d cherry, kokorolove4, Litaa-san, dina haruno, kura cakun, mantika mocha, serta guest yang telah mereview.*
*maaf jika ada kesalahan pengetikan nama/penname atau jika ada yang belum tercantum. Terima kasih atas dukungannya. Maaf karena belum sempat membalas review baik kalian. Terima kasih banyak!^^
