Bittersweet

Naruto Masashi Kishimoto (Tidak ada keuntungan materi apapun dalam pembuatan karya ini. Fanfiksi ini dibuat hanya untuk hiburan semata)

Pairing: Sasuke U./ Sakura H. Rating: T.

Genre: Romance. Note: Alternative Universe. Bagian yang bercetak miring adalah kilas balik.

( Sasuke pemilik café yang tak ramah. Sakura si mantan pacar yang tiba-tiba datang melamar kerja. Semua berawal dari pertemuan formalitas tak terelakan../ "Sederhananya, sekarang aku atasanmu dan semua keinginanku adalah perintah untukmu" )


Sakura berdiri canggung menunggu Sasuke yang sedang mengunci pintu depan café. Gadis berambut merah muda itu memainkan ponselnya pura-pura sibuk ketika pemuda itu berjalan ke arahnya. Sakura mulai mengedarkan pandangannya ke segala arah, berharap bisa menemukan suatu objek yang bisa mengalihkan perhatiannya dari mantan kekasihnya itu.

Sasuke hanya diam. Tidak berusaha untuk bicara ataupun bergerak lebih dulu meninggalkan tempat itu. Ia menyenderkan tubuhnya pada pintu kaca, memerhatikan Sakura yang mengedarkan pandangan pada bintang-bintang. Baik Sasuke maupun Sakura merasa bahwa hari ini akan menjadi malam panjang karena belenggu kecanggungan.

"Kita bisa ketinggalan bus terakhir," Sasuke bersuara pada akhirnya. Pemuda itu melirik jam tangannya sebelum mendapati Sakura tengah melirik ke arahnya. "Kau mau tetap di sini?"

"A-ah benar! Kita harus segera bergegas,"

Sakura jalan lebih dulu. Gadis itu menarik dan menghembuskan napas berulang-ulang sampai merasa bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya. Kami hanya pulang bersama. Tidak ada yang salah dengan itu. Dia atasanku dan aku pegawainya, hanya itu. Sakura mendengungkan kalimatnya di dalam hati berulang-ulang.

Mereka sampai tepat waktu. Bus terakhir baru saja tiba bersamaan dengan datangnya mereka di halte. Sasuke masuk lebih dulu lalu mengulurkan tangannya pada Sakura, menawarkan bantuan tanpa bicara. Mata Sakura terpaku pada satu uluran tangan yang mengarah padanya. Dengan ragu Sakura menerima uluran tangan Sasuke lalu detik selanjutnya tubuhnya ditarik hingga Sakura lebih mudah untuk masuk ke dalam bus.

Sakura menatap Sasuke yang juga menatapnya. Sakura tak sadar jika sebelah tangannya menapak dengan lembut di dada mantan kekasihnya itu. Sasuke berdeham namun Sakura malah semakin menatapnya. "Sampai kapan kau mau menempel padaku? Minggir!" setelahnya ia mendorong Sakura lalu mendudukan diri.

Sakura mengerjapkan matanya berulang kali. Rona kemerahan menjalar memenuhi wajahnya. Buru-buru ia mengikuti Sasuke untuk mendudukan diri. Sakura tak menyangka dengan apa yang ia lakukan. Benar-benar memalukan sampai-sampai Sakura tak sanggup melirik ke arah Sasuke yang melemparkan pandangan keluar.


Pintu bus nyaris saja tertutup ketika seorang gadis berlari sembari berteriak memohon untuk ditunggu. Dengan sigap seorang pemuda menahan pintu bus dan mengulurkan tangannya untuk membantu gadis berambut merah muda panjang untuk naik ke bus. Sasuke tertegun begitu tubuh gadis itu bertubrukan dengan dirinya. Uchiha Sasuke bisa melihat wajah kacau yang ditampilkan gadis bermata hijau itu ketika semua kertas-kertas yang dipeluknya dengan sebelah tangan berceceran.

"Oh tidak!" Sasuke hanya diam saat gadis itu melepaskan diri darinya lalu menunduk memunguti kertas-kertasnya. Dia terlihat begitu kacau. Rambut merah muda panjangnya tergerai dengan sedikit anak rambut menempel di wajah karena keringat. Tidak terlihat penampakan makeup di wajahnya namun kulitnya masih terlihat mulus mengagumkan.

"Terima kasih atas bantuannya. Aku bisa terlambat jika ketinggalan bus ini, hehe" seulas senyum diterima Sasuke. Uchiha Sasuke—mahasiswa jurusan ekonomi bisnis itu memperbaiki posisi letak kaca matanya sebelum bergumam sebagai jawaban.

"Ah! Kita di satu universitas yang sama? Rasanya aku pernah melihatmu," Mata hijau gadis itu mengedar melihat setiap kursi yang telah penuh diduduki penumpang. Ia menghela napas kasar. "Sepertinya kita harus berdiri cukup lama," ujarnya lagi namun masih belum mendapatkan tanggapan dari Sasuke.

"Aku Haruno Sakura, mahasiswi jurusan sastra dan kau?" sebuah uluran tangan mengarah padanya namun Sasuke masih tidak mampu untuk sekedar memberikan tanggapan singkat. Lalu untuk beberapa detik berikutnya, Sasuke menyadari betapa manisnya senyum merekah yang menunggu balasan darinya.

"Uchiha Sasuke, jurusan bisnis. Salam kenal,"


Sasuke memejamkan erat-erat matanya tatkala ingatan mengenai pertemuan pertamanya dengan Sakura tiba-tiba muncul di benaknya. Pemuda itu masih melempar pandangan keluar kaca, entah bagaimana ia tak sanggup menatap Sakura lagi setelah bertukar pandangan secara dalam cukup lama beberapa menit yang lalu.

"Sebenarnya, aku masih berpikir jika perpisahan kita benar-benar suatu hal yang kekanak-kanakan," hening sejenak, Sasuke menggigit bibir bawahnya. "Tapi setelah sekian lama, aku bisa memahami apa yang kau rasakan. Bukan berarti aku menganggapmu benar, sikapmu itu tetaplah salah. Hanya saja… aku sudah paham jika tidak mudah ketika semua kebahagiaanmu menghilang dengan waktu singkat. Kau hanya tidak siap,"

Sasuke masih melihat ke arah kiri, kedua tangannya ia lipat di depan dada. "Tapi saat itu aku hanya ingin membantumu. Aku hanya tidak ingin kau menghindari masalahmu dan pura-pura hidup bahagia. Belajarlah untuk menerima semua—" sesaat sesudah Sasuke memberanikan diri untuk menoleh, kepala Sakura jatuh bersandar di pundaknya. Gadis itu memejamkan matanya, suara dengkuran halus terdengar yang membuat Sasuke mendengus sebal.

"Aku sedang bicara denganmu, bodoh," Sasuke merunduk—mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengangkat dagu gadis itu. Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir merah muda Sakura. Sasuke berdecak. Tak habis pikir dengan apa yang ia lakukan. Diperhatikannya ekspresi tenang yang terpampang di wajah Sakura. Sasuke berdecak lagi.

"Sepertinya aku yang bodoh di sini,"


Sakura mendapati dirinya telah berdiri di depan pintu café pagi-pagi sekali. Ia merisak rambutnya tatkala menyadari bahwa ia yang semula berniat berjalan-jalan pagi malah melangkahkan kaki ke tempat kerjanya. Sakura menoleh ke kanan dan ke kiri, pandangannya mencoba untuk menyisir sekitar, berharap tidak menemukan sosok tinggi berambut gelap si empunya café.

Helaan napas lega keluar begitu Sakura mengetahui keadaan sekitarnya senyap. Tentu saja, ini baru pukul enam lewat lima belas pagi. Orang-orang mungkin masih bergelut dalam selimut hangatnya sedangkan ia di sini. Bangun tidur dua puluh menit yang lalu, kemudian bergegas mandi dan berniat menyisir kota untuk mendapatkan inspirasi tapi malah berakhir mendatangi tempat kerjanya.

Baru saja Sakura merasa lega karena tidak mendapati keberadaan Sasuke, tapi pemuda itu malah tiba-tiba muncul keluar dari pintu belakang café dengan rambut berantakan khas bangun tidur. Sasuke menaikan sebelah alisnya begitu mendapati Sakura berdiri mematung dengan wajah terkejut sedang menatapnya.

"Sedang apa kau di sini? Pagi..pagi begini?" Tanya Sasuke. Wajah bingungnya perlahan berganti menjadi ekspresi kaku seperti biasanya setelah berdeham. "Masuklah, kau bisa kedinginan jika terlalu lama berdiri di sana dengan wajah bodohmu,"

Sakura bergerak gelisah. Benar-benar memalukan. Kini ia merasa seperti kedapatan sedang menguntit seseorang. Kakinya ragu melangkah mengikuti Sasuke untuk masuk ke dalam café atau tidak ditambah lagi ia telah kepergok mengunjungi mantan kekasihnya itu pagi-pagi begini.

"Kau masih mau berdiri di sana? Terserah saja kalau begitu,"

"A-Aku masuk!"

Sakura mendudukan diri begitu Sasuke menyalakan lampu. Kedua tangannya meremas ujung jaketnya , mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya, mencoba menghilangkan rasa malu yang menggerogoti. Ruangan pegawai yang berhadapan langsung dengan dapur membuatnya bisa melihat Sasuke tengah menyibukan diri dengan membuat sesuatu.

Dengan tangan yang masih gemetar karena malu, Sakura menghampiri pemuda itu. "Mau aku bantu?" tawarnya.

Sasuke melirik Sakura dari sudut matanya "Tidak. Kau malah akan mengacaukannya," ucapnya sembari memasukan bubuk kopi ke dalam French press .

Sakura hanya mengangguk. Walaupun ucapan Sasuke benar-benar menyebalkan apalagi setelah itikad baiknya untuk menawarkan bantuan, namun Sakura tidak bisa memungkiri bahwa membuat kopi bukanlah keahliannya. Meminumnya saja ia segan.

"Kenapa kau tidak menggunakan espresso machine yang ada di depan?"

Sasuke menuangkan espresso-nya ke dalam dua cangkir yang berbeda, kemudian menambahkannya dengan tiga kali takaran susu. "Yahiko akan marah jika aku mengutak-atik mesin itu," Sebuah cangkir ia ulurkan pada Sakura.

"A-ah tidak. Terima kasih,"

"Ini tidak pahit, kau sudah mencobanya waktu itu," seakan membaca pikiran Sakura, Sasuke menjelaskan. Dengan ragu, Sakura menerima secangkir latte itu kemudian menyicipinya.

"Aku terkesan, sejak kapan kau jadi pandai membuat kopi?"

Sasuke menurunkan cangkirnya kemudian meletakannya di atas meja dapur. "Kita sudah tidak bertemu kurang lebih selama empat tahun. Menurutmu, aku tidak mempelajari hal baru selama itu?"

Sakura merotasi bola matanya begitu mendengar jawaban Sasuke. Kopinya ia cicip lagi, dan sekali lagi ia terkesan dengan rasanya. "Ya mana aku tahu. Seorang Uchiha Sasuke membuka sebuah café saja sudah membuatku cukup terkejut. Kenapa kau tidak fokus saja menjalankan perusahaan yang diwariskan ayahmu itu?"

"Karena itu bukan yang benar-benar aku inginkan," Sasuke membalikan tubuhnya. Berdiri menghadap Sakura sehingga perbedaan tinggi diantara mereka benar-benar terlihat jelas. "Aku bukan tipikal orang yang suka meneruskan sesuatu yang telah ada,"

Sakura menyadari pertanyaannya telah memancing mereka untuk mengulang perdebatan empat tahun silam. Buru-buru ia menegak habis kopinya. "Ngomong-ngomong , kenapa kau ada di café pagi-pagi begini?"

"Harusnya aku yang bertanya begitu. Untuk apa kau kemari pagi-pagi begini?"

Sakura diam sejenak, memikirkan alasan yang masuk akal namun pada kenyataannya yang tidak masuk akal adalah tingkahnya. Jadi pada akhirnya ia hanya menghela napas. "Mencari inspirasi untuk naskah novelku lalu… ya.. secara kebetulan aku berakhir di depan tempat ini,"

Sasuke menaikan satu alisnya, memandang gadis itu skeptis yang dilanjut ber-oh ria namun dengan nada meragukan. Sasuke menaikan cangkirnya lagi, menegak cairan berwarna coklat itu kemudian menatap Sakura kembali. "Sering kali aku memang tidur di sini, aku punya kamar khusus di lantai dua. Itu alasanku ada di sini pagi-pagi sekali,"

Hening diantara mereka. Keduanya menyenderkan tubuh pada meja dapur namun sibuk dengan pikirannya meletakkan cangkirnya lalu memberanikan diri menarik lengan baju Sasuke untuk mendapatkan perhatian pemuda itu.

"Terima kasih karena sudah mengantarku kemarin," Beberapa detik berikutnya Sakura melepaskan genggamannya pada lengan baju Sasuke begitu tidak ada tanggapan dari laki-laki itu. "Bukannya aku senang kau meluangkan waktu untuk mengatarku pulang, aku hanya berterima kasih,"

Sasuke mendengus. "Kau sudah berterima kasih semalam," ucapnya lalu meletakan cangkir kopinya. "Kenapa kau jadi canggung begini padaku?" tambahnya dibarengi senyum mengejek.

"Jangan memancing emosiku pagi-pagi begini, Tuan Uchiha. Apa sulitnya menerima ucapan terima kasih, aku tulus mengatakannya," Sakura kemudian mengambil ponselnya, melihat jam yang tertera di layar. "Sekarang sudah setengah tujuh pagi. Mungkin, ada baiknya kita sarapan?"

"Aku mau mandi," ucap Sasuke. Sasuke bersiap untuk melangkah menuju ruangannya di lantai dua, namun ia kembali memutar tubuhnya. "Jangan masak sesuatu yang bisa membunuhku,"

Lalu sebuah sendok terlempar nyaris mengenai kepala si Uchiha.


"Ini baru pertama kalinya Gaara mau menentukan tempat. Jadi, pasti ada seseorang yang sedang kau incar di sini, benar?" Gaara tidak mengindahkan ucapan teman satu kampusnya yang sedari tadi coba mengusiknya. Pemuda berambut merah itu memfokuskan diri dengan laptop di hadapannya, berharap semua tugas-tugasnya dapat selesai hari ini juga.

"Jangan goda Gaara begitu, Kiba! Lihat wajah kakunya jadi tambah kaku!" lalu Kiba dan Utakata menderaikan tawa yang disambut dengusan oleh si objek pembicaraan.

Kiba menarik sudut-sudut bibirnya tersenyum jahil. "Jadi..Jadi gadis mana yang berhasil menarik perhatian manusia batu ini?"

"Aku tak pernah membenarkan jika aku ke sini untuk mencari perhatian seorang gadis," ucap Gaara membantah. Ia menggulirkan manik jade-nya ke meja kasir, mencari sosok merah muda yang tengah tersenyum ramah menerima pesanan.

Kiba dan Utakata saling melempar pandangan kemudian kembali tertawa, kali ini benar-benar terbahak. "Begitu? Tapi tempat ini sebagian besar pengunjungnya perempuan, ya… bukan salah kami jika sampai berpikir seperti itu,"

Utakata menyisir poninya ke belakang, membuat sebagian wajahnya yang semula tertutup poni panjang terlihat dengan jelas. "Yah.. tapi kalau dilihat-lihat, Onee-san penjaga kasir itu yang paling cantik di sini,"

Tangan Gaara yang semula aktif bergerak di tombol keyboard mendadak berhenti. Ia melemparkan pandangan pada Utakata yang menebar senyum jahil padanya. "Kau tertarik dengan Sakura-san ?" tanyanya pelan, nyaris seperti bisikan.

Baik Kiba maupun Utakata hampir meledakan tawa lagi. Sungguh menyenangkan mengerjai teman merahnya yang teramat polos ini. Kiba berdeham mencoba menahan tawanya. "Jadi namanya Sakura-san . Pantas saja dia secantik bunga Sakura. Rambut merah muda dibawah bahu, lalu mata hijau yang berbinar manis. Uta, mau berlomba denganku untuk mendapatkan nomor ponselnya?"

Gaara menutup laptopnya dengan tiba-tiba hingga membuat baik Kiba maupun Utakata yang ada di depannya tersentak. Pemuda dengan sweater hitam dan headphone yang mengalung di lehernya itu memalingkan wajah ke arah samping. "Ti-Tidak boleh," ucapnya.

"Hm? Kau mengatakan sesuatu Gaara?" Sebenarnya Utakata bisa mendengar dengan jelas apa yang temannya itu katakana namun melihat ekspresi Gaara yang langka membuatnya ingin lebih lama menjadikan Gaara sebagai hiburan.

Rona kemerahan menjalar hampir ke seluruh wajah Sabaku Gaara. Pemuda itu menutupi sebagian wajahnya dengan punggung tangan. "A-aku bilang tidak boleh!"

Kiba dan Utakata tidak bisa lagi menahan tawanya. Tawa mereka meledak hingga menyisakan air mata di sudut-sudut mata mereka. Kiba menghela napasnya lalu mengangkat tangan kemudian berteriak. "Sakura-san! Boleh aku minta bantuanmu di sini?"

Gaara bergerak panik. Pemuda itu langsung memasukan laptopnya berniat kabur namun tangannya ditahan oleh Utakata yang makin memperlebar senyumnya.

"Ada yang bisa saya bantu?" Sakura menghampiri mereka. Masih dengan senyumnya ia menoleh ke Gaara yang sedang memalingkan wajahnya.

"Teman kami ingin bicara denganmu tapi kelihatannya kau sedang sibuk Sakura-san, jadi ia takut mengganggumu," sahut Utakata yang mengabaikan tatapan tajam Gaara padanya.

"Ah.. ini sudah waktu istirahatku, jadi aku sedang tidak sibuk. Kau ingin bicara apa padaku Gaara-kun ?" Sakura tersenyum tipis.

Mendengar hal itu, Kiba dan Utakata kompak mengambil tas mereka kemudian bergegas untuk meninggalkan tempat itu. "Kalau begitu silahkan mengobrol kami tidak akan mengganggu," Kiba menarikan kursi untuk Sakura. Matanya melirik ke arah Gaara yang membalasnya dengan decakan kesal.

"Good luck! Aku tunggu kabar baik darimu," setelah berucap demikian , Utakata menyusul Kiba yang telah melangkah pergi lebih dulu.

Sakura mendudukan diri di depan Gaara. Gadis dengan surai merah muda itu menunggu Gaara untuk bicara namun pemuda itu hanya memalingkan wajahnya yang dihiasi rona merah. "Kau ingin membicarakan apa denganku, Gaara-kun ?"

Gaara tersentak. Ia menunduk sebentar sebelum membalas tatapan Sakura. "Aku hanya…A-Ada film baru yang sedang diputar di bioskop..em.. lalu.."

Sakura memiringkan kepalanya, tidak mengerti dengan ucapan Gaara. "Lalu?"

"Itu adaptasi dari novel misteri pertama karya Akasuna-sensei—"

"Ah! Aku juga ingin menontonnya! Aku sudah menunggu-nunggu adaptasi dari novel itu sejak lama,"

Gaara mengerjap berulang kali kemudian sebuah senyum tipis muncul di wajah tampannya. "Kalau begitu, mau menonton film itu denganku? A-Ah! Aku tidak memaksa. Sakura-san pasti sangat sibuk. Jadi.. lupakan saja,"

"Aku mau," Sakura terkekeh kecil "Lagipula aku masih belum punya janji dengan orang lain untuk menonton film itu,"

Entah mengapa, Gaara tiba-tiba menghembuskan napas lega. Pemuda berambut merah itu menarik sudut bibirnya, tersenyum dengan sangat jelas. Lebih jelas dari senyum-senyum yang biasa ia tampilkan.

"Ah! Ini baru pertama kalinya aku melihat kau tersenyum selebar ini. Harusnya kau lebih sering lagi menarik kedua sudut bibirmu itu. Kau jadi terlihat lebih tampan jika begini,"

Dan ucapan pujian dari Sakura sukses membuat rona kemerahan kembali muncul di wajah Gaara.


Sakura masih mengelap meja ketika ponselnya terus-menerus bordering dari kantung roknya. Sembari bersenandung ia mengambil ponselnya, mengecek siapa yang tak henti-hentinya melakukan panggilan. Kedua manik hijau itu mendadak melebar. Bibirnya pun mendadak tertutup rapat ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Detik itu juga, Sakura menonaktifkan ponselnya, memasukan benda itu kembali ke dalam saku roknya kemudian melanjutkan pekerjaannya.

Sasuke baru saja tiba di café ketika melihat Sakura sedang membersihkan meja dengan wajah ditekuk. Begitu ia ingin menghampiri gadis itu, ponselnya berdering dan nama yang muncul di layar ponselnya membuatnya langsung melempar pandangan ke arah Sakura.

"Halo, Bibi Mebuki,"

Sakura meremas kain yang digunakannya untuk membersihkan meja saat indra pendengarannya menangka nama ibunya disebut oleh Sasuke. Dengan perasaan kau balau ia menghampiri Sasuke, mengambil paksa ponsel milik pemuda itu kemudian memutus panggilan telepon.

"Sakura!"

Sakura diam sejenak. Ia membasahi bibir bawahnya sebelum menatap tajam Sasuke. "Jangan pernah menerima telepon dari wanita itu lagi," ucapnya penuh penekanan.

"Sakura, kita sudah pernah membicarakan ini empat tahun yang lalu. Ibumu mengkhawatirkanmu! Cobalah untuk mendengarkannya barang sekali saja,"

"Aku selalu mendengarkannya tapi dia tidak pernah bicara dengan jelas,"

Sasuke menghela napasnya. "Berhentilah bersikap seperti ini. Kau menghindari semuanya, tidak ada yang akan kau dapatkan jika kau terus menghindar. Tidak penyelesaian masalah diantara kalian, tidak juga kebahagiaanmu,"

"Diamlah Sasuke, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu,"

Sasuke perlahan melangkahkan kakinya maju mendekati Sakura. Ia menatap Sakura dalam yang kemudian diabaikan oleh gadis itu. "Kau menghindari semuanya. Kau bersikap seolah baik-baik saja. Sampai kapan kau mau seperti ini? Jika memang kau marah pada Bibi Mebuki, bicaralah padanya! Jangan seperti ini!"

Sakura mendengus. Kedua mata hijau yang mulai basah itu menatap lekat Sasuke. Ia menarik kerah baju Sasuke membuat pemuda itu sedikit menunduk. "Jangan bicara padaku seolah kau mengerti. Lihat dirimu sendiri! Lulusan ekonomi bisnis? Melanjutkan usaha ayahmu? Hah! Kau sendiri juga hidup dalam kepura-puraan. Kau juga menghindari masalahmu! Jadi jangan sok menceramahiku karena kau juga sama sepertiku!" lalu Sakura mendorong tubuh Sasuke.

"Aku tidak menghindarinya,"

Sakura berdecak kesal. Terlalu kesal sampai-sampai membuat suaranya melengking tinggi. "Kalau kau menghadapi masalahmu kau pasti akan memperjuangkan cita-citamu sebagai dokter! Bukannya malah terjebak di perusahaan ayahmu!"

"Menurutmu kenapa aku ingin menjadi seorang dokter?" Sasuke mendekati Sakura lagi "Aku suka mengamati orang-orang. Tapi tujuanku mengamati setiap orang adalah melihat senyum mereka. Aku ingin orang-orang kembali tersenyum karna apa yang telah aku lakukan dan Ibuku yang notabenenya adalah seorang dokter menggambarkan semuanya.

Aku selalu melihat senyum dari orang-orang yang berhasil sembuh karena kerja keras Ibuku tapi sayangnya, seperti yang kau tahu, Ayahku melarangku mengikuti jejak Ibuku. Aku juga pernah berpikiran sepertimu, karena itu aku mengikuti kehendak ayahku untuk masuk jurusan bisnis. Berpikir bahwa semua mimpiku telah berakhir," Sakura masih memalingkan wajahnya, tak berniat menyela ucapan Sasuke. Air matanya ia hapus kasar.

"Tapi aku memikirkan cara lain. Aku membuka café ini dengan uangku sendiri, melihat banyaknya senyum yang hadir ketika setiap pengunjung mencicipi kopi maupun kudapan yang ada dan lebih pentingnya lagi, keuntungan dari café ini aku sumbangkan sepenuhnya untuk membiayai pasien-pasien Ibuku. Cita-citaku terwujud meski aku tidak menjadi seorang dokter," Sasuke mengarahkan tangannya pada pipi Sakura, membuat gadis itu kembali menatap wajahnya.

"Sudah kubilang, rasa pahit tidak seburuk itu. Kau hanya harus tahu cara menyikapinya," akhir Sasuke. Tangannya yang berada di pipi Sakura perlahan-lahan mundur, berpindah ke bahu gadis itu kemudian menariknya dalam pelukan.

Sakura memejamkan matanya erat-erat. Ia menepis tangan Sasuke kemudian melepaskan diri dari pelukan pemuda itu. "Ayahku meninggal karena wanita itu. Bagaimana bisa aku bersikap seolah tidak tahu dan bicara lagi padanya!"

"Sakura, Ayahmu tidak meninggal karena Bibi Mebuki!"

"Tapi dia mengabaikan Ayahku! Kau tahu senjata apa yang paling ampuh untuk membunuh seseorang secara perlahan? Kata-kata. Ayahku yang sedang sakit keras ia abaikan! Dia malah memberikan Ayaku deretan hujatan dibandingkan merawatnya lalu pergi dengan laki-laki lain!" Sakura berteriak. Wajah cantiknya kacau karena air mata. "Dia membunuh Ayahku dan fakta itu tidak akan pernah berubah," lalu Sakura pergi tanpa sempat ditahan Sasuke.


Gaara menghela napasnya. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku jaketnya karena angin malam yang berhembus mulai menusuk tulang. Pemuda itu berdecak begitu mengingat kekacauan yang ada di rumahnya karena teman-teman kakak sulungnya menginap dan dia dimanfaatkan sebagai layanan pesan antar untuk membeli makanan ringan di minimarket.

Baru saja Gaara ingin melangkahkan kaki masuk ke dalam minimarket. Kedua matanya dibuat melebar saat mendapati gadis berambut merah muda tengah tertidur dengan wajah menghadap meja yang berada di depan minimarket. Kaleng-kaleng kosong bekas minuman beralkohol juga berserakan di meja serta di bawah kaki gadis itu.

"Sakura-san?!" segera Gaara menghampiri gadis itu, mencoba mengecek keadaan serta membangunkan Sakura. "Sakura-san, apa yang sedang kau lakukan di sini? Kau baik-baik saja? Sakura-san?!" berulang kali Gaara menggoyangkan dan menepuk bahu gadis merah muda itu sampai kedua mata Sakura perlahan terbuka lalu menatapnya.

"Gaara-kun?" ucapnya parau. Gaara langsung berjongkok di depan Sakura "Kau baik-baik saja Sakura-san ? Apa yang terjadi? Aku akan mengantarmu pulang!"

Sakura terkekeh kecil. Ia menghela napasnya kasar. Rona kemerahan terlihat jelas di wajah putihnya. Gaara bisa menarik kesimpulan jika gadis yang lebih tua darinya itu sedang mabuk berat. "Aku hanya… hanya mencari ketenangan. Aku mengantuk," lalu tubuh Sakura terhuyung jatuh ke dalam pelukan Gaara.

"Sa-Sakura-san?!" dengan gerakan kaku Gaara memindahkan tubuh Sakura kembali ke kursi kemudian memutar tubuhnya. Perlahan-lahan ia menarik tubuh Sakura kemudian menggendongnya di punggung.

Gaara melangkahkan kaki perlahan dengan Sakura yang ada di gendongannya. "Hahh… aku pasti akan diomeli Temari-nee karena tiba-tiba membawa gadis mabuk pulang," suara dengkuran halus Sakura membuatnya menarik senyum simpul namun senyum itu langsung lenyap begitu mengingat bagaimana kacaunya wajah Sakura tadi.

"Sebenarnya kau kenapa, Sakura-san ?"

"Sasuke…" Gaara berhenti ketika mendengar Sakura menggumamkan sesuatu. "Kau… tidak mengerti," kemudian suara dengkuran halus kembali terdengar. Gaara mempebaiki posisi Sakura lalu kembali melangkahkan kaki.

"Jika dia tidak mengerti, aku akan berusaha jadi orang yang mengerti dirimu," Gaara menarik sudut bibirnya namun lagi-lagi senyum itu mendadak hilang begitu kedua netranya mendapati sosok dengan kemeja putih tengah berdiri menatapnya lurus.

"Berikan dia padaku. Aku yang akan mengantarnya pulang," Sasuke berujar ketus, membiarkan kalimatnya diselimuti nada dingin.

Gaara tetap melangkahkan kakinya. Berjalan melewati Sasuke seolah keberadaan Sasuke hanyalah sebuah bayangan. "Tapi aku tidak akan membiarkan Sakura-san pulang dengan orang yang membuatnya menangis," ucapnya tanpa memutar tubuh.

Yang selanjutnya terjadi adalah Sasuke yang menahan lengan Gaara dan tidak membiarkan pemuda itu membawa pergi Sakura.

Bersambung.