Bittersweet

Naruto © Masashi Kishimoto (Tidak ada keuntungan materi apapun dalam pembuatan karya ini. Fanfiksi ini dibuat hanya untuk hiburan semata)

Pairing: Sasuke U./ Sakura H. Rating: T.

Genre: Romance. Note: Alternative Universe.

( Sasuke pemilik café yang tak ramah. Sakura si mantan pacar yang tiba-tiba datang melamar kerja. Semua berawal dari pertemuan formalitas tak terelakan../ "Sederhananya, sekarang aku atasanmu dan semua keinginanku adalah perintah untukmu" )

Haruno Sakura hanyalah gadis yang baru ditemuinya beberapa kali. Jika dipikir-pikir lagi, ia tidak punya kewajiban untuk memerhatikannya atau hak untuk mencegah seseorang yang memiliki hubungan dengan gadis itu untuk membawanya pulang. Mereka hanya sebatas teman minum teh yang memiliki hobi sama. Hanya saja, Gaara tidak bisa mencegah dirinya untuk ikut campur. Ada dorongan dari dalam dirinya yang mengatakan bahwa ia harus melindungi senyum Haruno Sakura dari apapun atau siapapun, termasuk Uchiha Sasuke yang sedang menahan lengannya.

"Kubilang, berikan dia padaku"

Gaara menoleh, berusaha melihat wajah Sakura yang bersandar di bahunya. Pemuda 22 tahun itu menepis tangan Sasuke setelah merasa yakin dengan pikirannya. Gaara bisa menangkap raut kesal yang ditunjukan Sasuke begitu ia membalas tatapan pemuda itu dengan pandangan yang seolah menantang.

"Aku juga sudah bilang untuk tidak membiarkannya pergi bersamamu,"

"Kau tidak punya hak untuk memberikan ijin atau melarangku. Berikan Sakura padaku, sekarang!" ucap Sasuke penuh penekanan disetiap katanya, namun Gaara tidak juga memberikan Sakura padanya. Laki-laki itu memperbaiki posisi Sakura yang tertidur di punggungnya lalu membalas tatapan tajam Sasuke.

"Lalu, apa kau punya hak untuk membawanya pulang?"

Sasuke membuka kedua bibirnya, ingin menyahuti tetapi tidak satupun kata keluar. Ia mendesis tajam merasa tidak bisa memberikan kata yang tepat. "Aku tahu dimana ia tinggal jadi cepat berikan dia padaku!" Sasuke nyaris berteriak. Pertanyaan Gaara membuat telinga serta perasaannya memanas. Menohoknya karena sekarang ia bukanlah siapa-siapa bagi Sakura. Sasuke tidak memiliki hak itu.

"Sakura mantan kekasihku dan kau hanya pelanggan yang kebetulan dikenalnya, aku merasa jika aku lebih berhak di sini,"

Gaara tak mampu membalas.

Sakura merasa kepalanya benar-benar berat. Beberapa kali ia mencoba membuka mata tapi berakhir dengan berguling mengganti posisi. Tidurnya tidak begitu nyenyak. Berulang kali ia mendapatkan mimpi yang sama ketika ia terbangun dan mencoba untuk tidur kembali. Mimpinya selalu berputar—tentang Ibunya yang membanting mangkuk berisi makanan ke lantai kemudian pergi menyeret koper, meninggalkan Ayahnya yang hanya tersenyum di tempat tidur sementara ia hanya bisa menonton, tidak berhasil mencegah Ibunya pergi atau mempertahankan senyum terakhir Ayahnya.

Sakura merasakan tangan seseorang sedang mengelus dahinya, membersihkan anak-anak rambut yang menempel karena keringat dingin. Sakura berusaha membuka matanya perlahan, napasnya tersenggal begitu kedua matanya benar-benar terbuka. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah tanpa ekspresi Sasuke yang menatapnya dalam. Pemuda itu duduk di tepi ranjang masih dengan setelan yang dipakainya kemarin lalu ia sadar jika Sasukelah yang mengantarnya pulang.

"Ini masih pukul empat pagi, lanjutkan tidurmu," Sasuke berucap pelan. Sakura sama sekali tak mengerti bagaimana pola pikir Sasuke. Pemuda itu berucap seolah hal yang wajar sedang duduk memandangi mantan kekasihnya yang mabuk pukul empat pagi sedangkan mereka baru saja berdebat beberapa jam sebelumnya. Namun Sakura tidak ingin memperburuk keadaan dengan melanjutkan pertengkaran mereka.

"Kau tidak tidur?" tanya Sakura.

"Aku tidur dengan nyenyak sampai kau menangis dan membuatku bergidik tengah malam," Sasuke berdiri dari duduknya "Lanjutkan tidurmu karna aku juga ingin begitu,"

Sakura membangunkan dirinya. Seperti ada yang berdengung di tengah kepalanya begitu ia mendudukan diri—mungkin pengaruh alkoholnya yang belum benar-benar pudar. "Kau tidur di sofa?"

Sasuke melirik Sakura dari sudut matanya. "Lalu kau ingin aku tidur denganmu?"

"Bukan itu maksudku! Argh… bicara denganmu membuat kepalaku tambah sakit. Maksudku, kau 'kan bisa menggunakan kamar Ayahku atau kamar tamu yang berada di bawah,"

"Dan meninggalkan kau yang terus menangis saat tidur? Kalau kau ingin tahu, kau berhenti menangis setiap kali aku mengelus kepalamu"

Kontan ekspresi wajah Sakura berubah. "Kalau begitu, kau hanya perlu mengabaikanku!"

"Tapi aku tidak bisa!" Sasuke berseru yang menciptakan kesenyapan di antara mereka. Buru-buru Sasuke membalikan badan, berjalan menuju sofa panjang di seberang tempat tidur Sakura dan merebahkan diri. "Tidurlah. Kau harus bekerja besok jika sudah merasa lebih baik,"

Sakura menatap Sasuke yang tidur meringkuk membelakanginya. Gadis berambut merah muda itu mencari selembar selimut di lemarinya kemudian menyelimuti Sasuke. Sakura tahu, laki-laki itu tidak benar-benar tertidur tapi Sakura tidak bisa mencegah dirinya untuk mendaratkan bibirnya di pelipis Sasuke.

"Terima kasih," bisiknya lalu kembali ke tempat tidurnya.

Sasuke membuka matanya perlahan. Tangannya meremas erat selimut berwarna merah muda dibentangkan Sakura untuknya sebelum kembali menutup mata menunggu fajar menyingsing.

Gerakan bus yang perlahan berhenti membangunkan Gaara yang sempat terlelap. Pemuda itu melepas headphone-nya kemudian bergegas turun dari bus. Gaara melangkahkan kakinya cepat, beberapa kali menganggukan kepala—meminta maaf—saat tak sengaja menabrak pejalan kaki yang lain. Dengan napas yang masih tersenggal, Gaara berdiri di depan café menebar pandangan mencoba mencari sosok Sakura dari balik pintu kaca namun tak menemukan sosok bersurai merah muda di belakang kasir.

Gaara memutuskan untuk masuk. Seorang pelayan berambut merah menyambutnya kemudian menanyakan apa yang ingin ia pesan. Sekali lagi Gaara menyisir seisi café tapi tetap tidak menemukan Sakura.

"Maaf, apa Anda sudah menentukan pesanan?"

Gaara tekesiap. Fokusnya kembali pada pelayan berkaca mata yang sedang menatapnya dengan pandangan tak sabar namun tetap tersenyum. "Apa Haruno Sakura-san tidak bekerja hari ini?"

"Ah… Sakura-san ? Sepertinya begitu, ia tidak hadir sejak pagi tadi,"

Gaara ingin bertanya lebih lanjut tetapi antrean terus bertambah karenanya. Jadi Gaara hanya membungkukan badannya untuk berterima kasih lalu meninggalkan café.

Pemuda itu menggulirkan daftar nomor yang ada di kontak ponsel pintarnya. Sakura pernah memberikan nomor ponsel padanya walau berakhir dengan Gaara yang tidak punya cukup nyali untuk mengganggu gadis itu dengan panggilan telepon yang sangat-sangat ingin ia lakukan. Dengan ragu Gaara menekan tombol panggilan ke nomor Sakura lalu mendekatkan ponselnya ke telinga.

"Halo?" alih-alih langsung menjawab Sakura, Gaara menghembuskan napas lega. Sebuah senyum melengkung lepas dari bibir tipis Gaara. "Sakura-san , ini aku , Gaara"

Sakura baru saja selesai mandi setelah hibernasi dan terbangun pukul dua siang yang disambut olokan Sasuke tentang betapa malas dirinya. Sakit kepalanya sudah berangsur-angsur hilang digantikan perutnya yang meraung kelaparan.

Ponselnya berdering begitu Sakura ingin turun untuk membuat makanan. Ada panggilan dari nomor yang tak dikenalnya namun ia putuskan untuk menerima panggilan tersebut. Takut-takut bila itu adalah panggilan penting.

"Sakura-san, ini aku, Gaara,"

Sakura baru saja ingin berniat membalas ucapan Gaara namun ia lebih dulu terkesiap karena Sasuke yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. "Kau tidak bisa ya ketuk pintu dulu?"

Sasuke menaikan satu alisnya "Kenapa tiba-tiba aku harus ketuk pintu?" pandangan Sasuke menangkap tangan Sakura yang sedang memegang ponsel. Sebuah panggilan masih terhubung di sana. "Kau sedang menelpon siapa?"

"Bukan urusanmu. Keluar sana! Kenapa juga kau belum pulang?"

Sasuke memutar badan, sebelum menutup pintu kamar Sakura, pemuda itu menengok kembali. "Aku sudah masak sup, makanlah. Aku pulang,"

Sakura menatap pintu kamarnya yang menutup perlahan. Kembali ia mendekatkan ponselnya ke telinga. "Aah.. maaf Gaara-kun , ada apa? Tumben sekali kau meneleponku"

Gaara terdiam cukup lama meski Sakura di seberang sana telah menyahuti. Ia tadi bisa mendengar dengan jelas suara laki-laki yang kemungkinan besarnya adalah milik Uchiha Sasuke. Tiba-tiba semua rasanya menjadi kelabu. Gaara hanya membuka kedua bibirnya namun terlalu kelu untuk bicara. Kemudian ucapan Sasuke malam lalu berputar di kepalanya.

"Sakura mantan kekasihku dan kau hanya pelanggan yang kebetulan dikenalnya, aku merasa jika aku lebih berhak di sini,"

Benar. Gaara mengiyakan ucapan itu dalam hati. Dia tidak lebih dari pelanggan yang kebetulan punya hobi yang sama. Dia hanya orang baru yang secara beruntung disambut ramah oleh Sakura. Dia bukan siapa-siapa dan bahkan tidak punya hak untuk merasa sedih sekarang. Tapi untuk seseorang yang baru ia kenal, Gaara merasa perasaannya lebih dari sekedar tertarik. Gaara tak pernah bisa melupakan bagaimana cara Sakura tersenyum sembari mengulurkan tangan padanya, cara gadis itu melepas tawa saat menceritakan harinya, saat mata hijau itu berbinar menuturkan sebuah novel atau bagaimana cara Sakura melambaikan tangan sembari tersenyum dari balik meja kasir. Gaara menyukainya.

"Gaara-kun?" suara Sakura bekerja seperti sebuah mantra yang menyadarkan Gaara dari pikirannya sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya lalu menghela napas.

"Tidak apa-apa. Bukan suatu yang penting. Aku… aku hanya ingin menanyakan keadaanmu. Maaf karena mengganggu waktumu, Sakura-san,"

Gaara bisa mendengar Sakura menderaikan tawa. "Kau tidak menggangguku sama sekali dan aku baik-baik saja. Tapi, kenapa kau tiba-tiba menanyakan keadaanku?"

Gaara menelan kekecewaan. Ternyata Sakura tidak mengingat kejadian malam tadi. Pemuda itu mendengus. Dengan kondisi mabuk begitu tentu saja Sakura tidak akan mengingat apapun, apa yang ia harapkan. "Tidak. Hanya ingin menanyakan kabarmu juga tentang filmnya—"

"—Aah! Benar! Pukul tujuh. Ayo bertemu di halte dekat tempatku bekerja," Sakura memotong cepat. Gaara sedikit gelagapan mendengar intonasi suara Sakura yang berubah antusias namun pada akhirnya ia tersenyum kecil. "Iya. Aku akan menunggumu pukul tujuh malam nanti," Gaara tak bisa menahan senyumnya semakin melebar.

Gaara berulang kali menyisir rambut merahnya menggunakan jari kemudian tersenyum kikuk begitu orang-orang di sampingnya memerhatikan dirinya. Ia sampai dua puluh menit lebih cepat dari jam yang dijanjikan. Mendudukan diri di bangku halte, Gaara melemparkan pandangan ke atas—memerhatikan langit malam yang cerah sehingga menampilkan banyak bintang. Pandangannya turun sampai pada sosok yang sedang berlari menyebrang ke arahnya. Gadis dalam balutan celana jeans dan sweater merah muda itu melambaikan tangan kemudian tersenyum begitu berdiri di depannya.

"Aku pikir aku datang terlalu awal tapi ternyata kau sudah di sini,"

Gaara berdiri namun pandangannya masih tak lepas dari Sakura. "Aku terlalu bersemangat sampai tidak sadar datang terlalu awal," rona kemerahan muncul tipis di kedua pipi pemuda itu. Sakura yang mendengar itu terkekeh kecil.

"Aku juga! Aku harap film adaptasinya benar-benar bagus,"

Gaara mengangguk. Bus datang tidak begitu lama setelah mereka berbincang. Baik Gaara maupun Sakura mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat duduk kosong, namun tak satupun tersisa untuk mereka.

"Sepertinya kita harus berdiri," ucap Sakura lalu masuk lebih dalam ke bus yang agak sesak. Keduanya berdiri saling berhadapan. Gaara merasa jantungnya bekerja tidak normal begitu berulang kali dahi Sakura membentur dadanya. Gadis itu meringis namun tertawa setelahnya.

Perhatian Sakura tertuju pada headphone yang selama ini selalu melingkar di leher Gaara. Pemuda itu seperti tak pernah lupa untuk membawa barang itu kemanapun ia pergi. "Gaara-kun, kau juga suka mendengarkan musik?"

Gaara melepaskan sebelah tangannya yang memegang gantungan tangan penumpang lalu melepas headphone yang melingkar di lehernya. "Aah… ini? Aku tidak begitu menyukai tempat bising jadi aku akan merasa nyaman jika mendengarkan musik. Seperti menutup telinga dari dunia,"

"Ah.. aku mengerti. Terkadang saat aku butuh ketenangan untuk mendapatkan ide, aku juga mendengarkan lagu. Menutup kedua telingaku rapat-rapat dan hanya membiarkan alunan musik masuk ke dalam otakku,"

"Mau mendengar lagu yang aku suka, Sakura-san ?" mendengar tawaran itu Sakura mengangguk cepat. Gaara memasangkan headphone-nya ke Sakura. Gadis itu terlihat seperti menganalisis lagunya sebelum menutup mata dan tersenyum menikmati. Gaara yang melihat hal itu tidak bisa mencegah dirinya untuk menarik kedua sudut bibirnya. Kedua tangannya masih di kedua bagian headphone di telinga Sakura. Gaara mencondongkan tubuhnya, ia berhenti di sebelah telinga Sakura yang tertutup headphone.

"Sakura-san , aku menyukaimu," bisiknya. Gaara menegakan tubuhnya kembali. Wajahnya dipenuhi rona merah ketika kedua mata hijau Sakura menatapnya tanpa berkedip.

"Sa-Sakura-san… Aku…"

Sakura melepas headphone-nya. Gadis itu menatap Gaara dengan penuh tanya. "Kau ada bicara sesuatu Gaara-kun ? Aku tidak mendengarmu,"

Gaara menyembunyikan wajahnya yang dipenuhi warna merah dengan punggung tangannya. Pemuda itu menggeleng sebelum mengalihkan pandangan ke arah lain. "Ti-Tidak.. Tidak ada," ucapnya. Gaara merasa jantungnya seperti akan mencelos jatuh ke perut. Pemuda itu tak sanggup menatap Sakura.

Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam ketika Gaara mengantar Sakura ke rumahnya. Sakura yang berjalan di sebelahnya masih bertutur dengan riang mengenai film yang mereka tonton tadi, kue yang mereka coba serta betapa buruknya rasa kopi pesanan Gaara yang dicicip Sakura. Langkah keduanya berhenti begitu sampai di depan rumah Sakura. Gadis itu hendak mengucapkan terima kasih namun diinterupsi oleh kehadiran Sasuke yang tiba-tiba keluar dari rumahnya.

"Sasuke? Apa yang kau lakukan di sini?" Sakura mendekati Sasuke yang berdiri melipat tangan sembari menyender di dinding pagar rumah Sakura.

"Menurutmu?" bola mata Sasuke bergulir, melirik Gaara yang berdiri di belakang Sakura. Pemuda berambut merah itu juga menatapnya dan Sasuke membiarkan pandangannya mendingin. "Bagaimana kencannya? Berjalan lancar?" entah kenapa Sakura tidak menyukai nada pertanyaan Sasuke juga ekspresi yang ditampilkan pemuda itu.

"Bukan urusanmu. Lagipula ada apalagi sampai kau harus ke rumahku?"

Sasuke mendengus. Ia mengeluarkan dua amplop berbeda warna dari sakunya, satu berwarna putih dan satu lagi berwarna cokelat. "Kalau bukan karena ini aku juga tidak mau menghabiskan waktuku untuk menunggu orang yang sedang kencan pulang," Sasuke menarik tangan Sakura, meletakan kedua amplop itu ditangannya. "Terimalah dan baca surat dari Bibi Mebuki,"

Mendengar itu, Sakura menatap Sasuke tidak percaya. Pemuda itu tidak mengerti juga bahkan setelah pertengkaran-pertengkaran yang mereka lewati. Sakura hendak menepis amplop juga tangan Sasuke namun Sasuke menggenggam tangannya kuat.

"Lepaskan aku Sasuke! Aku sudah berulang kali mengatakan tidak ingin berurusan dengan wanita itu lagi!"

"Sakura jangan keras kepala!"

Melihat yang terjadi di depannya, Gaara menarik sebelah tangan Sakura yang bebas mencoba untuk melepaskan Sakura dari kukungan Sasuke.

"Jangan ikut campur!" Sasuke mendesis kesal pada Gaara.

"Aku tidak mungkin hanya diam melihat Sakura-san diperlakukan seperti itu,"

Sakura menatap Gaara dan Sasuke secara bergantian. Baik Gaara maupun Sasuke tidak ada niatan untuk melepas tangan Sakura, keduanya saling menatap dengan pandangan yang membekukan.

Bersambung.

Halo! Halo! Ketemu lagi dengan saya, semoga suka dengan chapter terbaru ini ya~

Saya mau cerita sedikit nih tentang awal pembuatan fanfiksi Bittersweet ini. Pada awalnya saya merencanakan fanfiksi ini hanya satu chapter a.k.a oneshot. Iya cuma satu chapter wkwkw dan fanfiksi ini adalah hadiah sekaligus request yang belum sempat saya penuhi dulu untuk teman saya. Awalnya cerita ini hanya tentang sepasang mantan kekasih yang ga bisa move on tapi gengsi setengah mampus/yha. Lalu entah kenapa jadi berkembang seperti Bittersweet yang sekarang kekeke. Ini karena kemampuan saya membuat cerita pendek masih buruk huhu

Jadi saya minta maaf bila tidak ada konflik yang begitu rumit dalam fanfiksi ini karena memang dari awal direncanakan untuk menjadi fanfiksi dengan kisah sederhana.

Oke, segitu dulu perjumpaan kita minggu ini. Sampai berjumpa di lain waktu!^^

Berkenan untuk meninggalkan kesan, pesan, kritik dan saran di kotak review?