Bittersweet
Naruto © Masashi Kishimoto (Tidak ada keuntungan materi apapun dalam pembuatan karya ini. Fanfiksi ini dibuat hanya untuk hiburan semata)
Pairing: Sasuke U./ Sakura H. Rating: T.
Genre: Romance. Note: Alternative Universe. Bagian yang bercetak miring adalah kilas balik.
( Sasuke pemilik café yang tak ramah. Sakura si mantan pacar yang tiba-tiba datang melamar kerja. Semua berawal dari pertemuan formalitas tak terelakan../ "Sederhananya, sekarang aku atasanmu dan semua keinginanku adalah perintah untukmu" )
…
Sakura menghentakan tangannya, mencoba untuk melepaskan kukungan dari kedua orang yang menahan tangannya. Namun usahanya sia-sia. Baik Sasuke maupun Gaara tidak ada yang berniat mengalah untuk melepaskannya. "Bisa kita hentikan saja semua ini?"
Sasuke menghela napasnya. Pemuda itu mendekatkan tubuhnya pada Sakura sehingga gadis itu harus mendongak untuk menatap wajah mantan kekasihnya itu. "Kita harus bicara dan kau—" Sasuke melirik Gaara tajam dari sudut matanya, "Orang asing tak berhak ikut campur. Enyahlah,"
Sakura menoleh pada Gaara. Pemuda itu masih menggenggam tangan dan menatapnya. Sakura menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis sembari mengangguk pada Gaara. Perlahan genggaman Gaara mengendur sampai ia hanya menahan jari telunjuk Sakura. "Sakura-san aku—" Gaara berhenti di tengah kalimatnya begitu tangannya benar-benar terlepas dari jari Sakura. Gadis itu telah ditarik menjauh oleh Sasuke. Meninggalkan dirinya yang hanya bisa berdiri dan menatap kepergian mereka.
Gaara menatap telapak tangannya. Mata jade itu berkilat sendu. Ia menutup jari-jarinya sebelum kembali melempar pandangan ke tempat di mana Sakura dan Sasuke berdiri sebelumnya.
"Suatu saat, aku tidak akan melepaskanmu seperti hari ini,"
…
Sasuke melepaskan tangan Sakura begitu mereka sampai di dalam rumah. Sepasang mata hitamnya berkelana menyusuri wajah Sakura yang menatapnya dengan ekspresi stagan. Uchiha Sasuke menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya cepat.
"Dengarkan aku Sakura—"
"—Sekarang apalagi?" Sakura memotong cepat. "Kita sudah berulang kali membicarakan ini dan kau masih belum paham!"
"Kau yang tidak paham apapun Sakura!"
Sakura tertawa renyah dengan suara serak. "Kenapa bisa aku yang tidak paham? Aku yang mengalaminya! Bagaimana bisa kau katakana aku yang tidak paham di sini?!" Sakura berteriak. Pertahanannya runtuh seketika itu juga. Diselingi tawa paksa ia menghapus air mata yang mengalir membasahi kedua pipinya.
"Tolong jangan begini," suara Sasuke melembut. "Bagaimanapun, Bibi Mebuki adalah Ibumu. Dia sudah berusaha meminta maaf padamu. Bicaralah padanya, jangan menyiksa dirimu seperti ini,"
Sakura tidak segera menjawab, ia justru mengalihkan pandangan sembari menghapus kasar air matanya meski sia-sia. Pada akhirnya ia tetap menangis. "Kenapa?" Sakura memukul dada Sasuke sedangkan pemuda itu hanya diam menerima pukulan pelan yang mendarat di dadanya. "Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau tiba-tiba kembali ikut campur? Kau membenciku 'kan? Kau membenci gadis keras kepala ini, bukan begitu? Kenapa?" Pukulan Sakura ditangkap Sasuke. Gadis itu mendongak dan mendapati sekelebat perasaan muncul di sepasang mata hitam yang sedang menatapnya.
"Karena aku peduli padamu," Sasuke menurunkan tangan Sakura, menyusupkan jari-jarinya di antara jari-jari Sakura. "Aku peduli bahkan ketika kau mendorongku untuk menjauh,"
Sakura menangis tertunduk. "Kau bilang kalau kau membenciku," Sebelah tangan Sasuke yang bebas menggapai punggung Sakura kemudian mendorong tubuh mungil itu untuk jatuh ke pelukannya. "Ini sudah empat tahun sejak saat itu tapi kenapa kau masih…" Sakura tidak melanjutkan ucapannya, ia menangis di dada Sasuke.
"Aku menyesal karena mengucapkannya," Sasuke mempererat pelukannya. "Ayo mulai semuanya dari awal,"
Bagaikan sebuah mantra, kalimat Sasuke membuat Sakura berhenti menangis. Gadis berambut merah muda itu melepaskan diri dari pelukan Sasuke. Ia terpaku cukup lama sampai seuntai senyum paksa muncul di wajah cantiknya. "Tapi waktu tidak akan pernah bisa kembali ke awal." Setetes air mata kembali mengalir "Jangan ikut campur lagi Sasuke. Kau tidak perlu merasa berkewajiban untuk membantu wanita itu. Ini masalahku dan kau bukan siapa-siapaku lagi," Sakura berujar, memberi Sasuke senyuman tipis sebelum melepaskan genggaman Sasuke di tangannya dan pergi menuju kamar.
…
Ino buru-buru datang begitu mendapatkan telepon dari Sasuke yang memintanya untuk menjaga Sakura malam ini. Gadis berambut pirang panjang itu melangkahkan kakinya cepat, menciptakan suara tubrukan yang cukup keras antara sepatu berhaknya dengan lantai tangga.
"Sakura!" panggilnya khawatir begitu membuka pintu kamar sahabatnya itu. Hal pertama yang ditangkap oleh kedua indra berwarna birunya adalah Sakura yang sedang duduk di depan sebuah laptop sembari memakan ramen instantnya.
"Ah? Ino? Kenapa datang tiba-tiba dengan wajah kacau begitu?" Sakura menebar tawa setelahnya. Ia menyodorkan gelas ramennya yang masih berisi setengahnya "Mau ramen?"
Ino menghela napasnya. Gadis dari keluarga Yamanaka itu masih bisa menangkap mata sembab pada kedua mata Sakura, sekeras apapun sahabatnya itu untuk bersikap biasa. "Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja tapi jika kau tidak ingin membahasnya denganku, aku akan menunggu sampai kau menceritakan semuanya," bibir Sakura membentuk kurva tipis begitu mendengar perkataan Ino.
"Aku sudah baik-baik saja Ino. Maaf karena tidak menceritakan semuanya padamu. Tentang Ayahku, I-Ibuku, atau Sasuke. Maaf karena selalu membuatmu khawatir. Aku—aw!" Sakura mengaduh begitu pukulan mendarat di puncak kepalanya. Ditatapnya Ino yang sedang tersenyum lebar padanya.
"Sudah kubilang 'kan, aku akan menunggu. Jadi jangan memaksakan dirimu untuk menceritakannya kalau kau belum ingin. Lagipula aku sudah tahu segalanya, aku hanya ingin mendengar semuanya dari bibirmu bukan dari Bibi Mebuki atau Sasuke-san ,"
"Ino—"
"—Oke! Miris sekali melihatmu hanya makan ramen instan begitu. Ayo buat sesuatu yang lebih layak untuk dimakan!"
…
Sepasang kaki melangkah memasuki kediaman yang masih sunyi bahkan sebelum cahaya matahari menelusuk melalui ventilasi. Uchiha Sasuke berjalan masuk seolah sedang memasuki rumahnya sendiri, Pemuda itu menyalakan lampu lalu naik ke lantai dua, tepat di mana kamar Sakura berada. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia langsung masuk ke dalam kamar dan mendapati dua gadis sedang tidur dengan posisi kacau.
Sasuke menyalakan lampu yang membuat Ino terbangun dan hampir saja berteriak. Ino mengguncang tubuh Sakura, mencoba untuk membangunkan sahabatnya itu. Sakura melenguh, sesekali menggeliat sebelum berdecak sebal karena tidurnya terganggu. "Ada apa sih ?" tanyanya.
"Err… sepertinya kau harus membuka matamu dan melihatnya sendiri," Ino berucap yang langsung membuat Sakura membuka mata meski masih dalam kondisi sangat mengantuk. Begitu sepasang manik hijau itu terbuka, keduanya kontan melebar yang disusul teriakan memekakan telinga.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Di kamarku? Pagi-pagi begini? Kau sudah gila ya?!" Rentetan pertanyaan langsung menyerang Sasuke yang hanya berdiri diam dengan kedua tangan berada di depan dada.
"Menjemputmu, apalagi?"
Sakura membuka mulutnya. Terlalu tak mengerti jalan pikiran Sasuke sampai-sampai ia kehabisan kata-kata. "Sepertinya aku benar-benar harus menggantu kode pintu juga melindungi rumah ini dengan gembok berlapis-lapis!"
Sasuke mendengus namun ekspresinya masih datar "Cepat bangun! Kau harus bekerja,"
"Hah? Sebenarnya kau meletakkan otakmu di mana? Kau tidak ingat apa yang terjadi kemarin?"
"Ingat dan karena itu aku di sini. Kau bilang, aku bukan siapa-siapamu lagi. Jadi aku berdiri di sini sebagai atasan yang memastikan pegawainya tidak bolos bekerja. Cepat turun dari sana dan pergi mandi!"
Sakura tercengang. Detik berikutnya ia tertawa paksa "Kau benar-benar sudah gila ya? Mana ada atasan yang menerobos masuk ke rumah pegawainya pagi-pagi buta begini!"
Ino yang berada di antara mereka perlahan turun dari tempat tidur. Dengan gerakan kaku ia berjalan keluar menuju pintu. "Eum… sepertinya keberadaanku tidak dibutuhkan di sini. Jadi silahkan bicara dan aku akan menyiapkan sarapan," lalu gadis pirang itu keluar disusul pekikan Sakura.
Sakura memijat keningnya. Gadis berambut merah muda itu menghela napasnya kasar. "Apa maumu Sasuke?"
"Aku sudah mengatakannya tadi. Aku mau memastikan pegawaiku tidak bolos kerja,"
"Aku mengundurkan diri—"
"—kau tidak bisa"
"Hah?"
" Cepatlah siap-siap atau aku yang langsung menggendongmu menuju kamar mandi,"
…
Pada akhirnya Sakura berakhir di belakang meja kasir sembari menerima pesanan. Manik hijaunya mengerling pada Sasuke yang sedang membantu Yahiko membuat pesanan kopi. Pemuda itu menggulung lengan kemejanya sebatas siku. Ekspresinya Nampak begitu serius namun senyum tipis akan muncul secara berkala ketika kopi yang dibuat selesai. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba untuk kembali fokus tanpa membiarkan perhatiannya terambil alih oleh Sasuke.
"Ayo mulai semuanya dari awal,"
Tetap saja, ucapan Sasuke kemarin malam membuat pikirannya baik barang sedikit saja tak bisa fokus pada apapun. Segala pertanyaan mendiami pikirannya. Tentang dirinya, sifatnya yang keras kepala juga bagaimana ia begitu egois dulu dan kini. Sasuke sejak dulu khawatir dan peduli padanya, Sakura menyadari itu. Tetapi, Sakura masih belum melupakan apa yang telah Ibunya lakukan dan Sasuke seolah terus mendesaknya.
"Sakura-san ?" Sakura terkesiap. Tidak hanya Sakura, namun kehadiran Gaara juga menarik perhatian Sasuke yang berdiri tak jauh dari mereka.
"A-aah.. maaf, aku tidak menyadari kehadiranmu Gaara-kun," Sakura tertawa kecil "Mau pesan apa hari ini?" lanjutnya.
Raut khawatir muncul di wajah tampan laki-laki berambut merah itu. "Aku memanggilmu sejak tadi tapi kau terus melamunkan sesuatu. Apa kau baik-baik saja, Sakura-san ?"
Sakura sedikit terkejut mendengar penuturan Gaara, ia tersenyum canggung setelahnya. "Maaf, mungkin hanya kurang tidur. Biar aku tebak pesananmu—"
"—hn pesanan seperti biasa," Gaara menyahuti yang membuat Sakura sedikit merengut. "Hei! Biarkan aku menebaknya,"
Gaara menggaruk bagian belakang kepalanya. Pemuda itu tersenyum tipis "Maaf, maaf" ujarnya. Ekspresi Gaara perlahan berubah menjadi agak canggung, dengan malu-malu ia mengerling pada Sakura. "Apa boleh aku mengantarmu pulang nanti?" suaranya memelan.
Sasuke meletakan cangkirnya begitu mendengar apa yang Gaara katakan. Ekspresinya berubah lebih kaku dari biasanya namun dengan kilatan mata yang nampak sendu. Ia melirik ke arah dua orang itu dimana Sakura sedang mengangguk sambil menebar tawa kecil.
…
Sasuke masih sibuk dengan kopinya ketika café telah sepi dan menyisakan dirinya juga Sakura yang berniat untuk pulang. Sakura berdeham, mencoba untuk mengambil alih perhatian Sasuke. "Aku pulang," ucapnya pelan namun sebelum ia benar-benar pergi, Sasuke menahan tangannya.
"Mau membantuku membuat ini?"
"Aku harus pulang," Sakura melepaskan genggaman Sasuke namun pemuda itu dengan cepat menangkapnya kembali. "Sekali saja,"
Sakura menghela napasnya. Kalau sudah begini ia tidak bisa mengatakan apapun selain mengangguk mengiyakan. Sakura mengikuti kemana tangan Sasuke menariknya. Sakura berdiri kaku begitu tubuhnya dikukung, dimana Sasuke berdiri di belakangnya menuntun tangannya untuk menyiapkan cangkir dan bubuk kopi.
Sakura tidak bisa memfokuskan diri begitu jari-jari Sasuke menuntun tangannya untuk menuangkan espresso ke dalam cangkir. Sakura bisa merasakan napas Sasuke yang berhembus melewati lehernya. "Fokuslah, kau akan mengacaukan latte art-nya," mendengar ucapan Sasuke, Sakura segera mengangguk. Tangannya yang memegang teko susu dituntun oleh tangan Sasuke untuk terangkat kurang lebih dua sentimeter dari bibir cangkir. Sakura bisa merasakan kelembutan begitu Sasuke menuangkan susu secara perlahan dan menggoyangkannya sehingga perlahan membentuk pola hati di dalam cangkir.
"Wah… ini pertama kalinya aku membuatnya," Sakura mengangkat cangkirnya "Boleh aku mi—" ucapan Sakura terpotong begitu ia menoleh untuk melihat Sasuke namun yang di dapatinya adalah bibir pemuda itu yang menyentuh bibirnya. Tubuh Sakura bergetar, ia hampir saja menjatuhkan cangkirnya jika saja tangan Sasuke tidak sigap menyangga secangkir kopi itu. Masih mencium Sakura, Sasuke perlahan mengambil alih kopi tersebut dan meletakannya di meja. Detik berikutnya, pemuda itu menyelipkan jari-jarinya di tangan Sakura. Meremasnya pelan yang kontan membuat Sakura menutup matanya.
Sasuke melepas ciuman mereka. Sepasang netra hitamnya menatap manik hijau yang perlahan membuka takut-takut. "Sasuke aku—" Sasuke membalik posisi Sakura sehingga mereka benar-benar berhadapan. Satu kecupan kembali mendarat di bibir merah muda itu. Sakura hanya bisa berdiri diam begitu Sasuke melepas ciumannya lalu mendaratkan dahinya di pundak Sakura.
"Tetaplah di sini," suara Sasuke terdengar begitu pelan. Perlahan tangan Sakura terangkat, mencoba untuk memeluk Sasuke namun ditariknya kembali. Sakura bergerak mundur, lalu langsung berlari keluar dari dapur. Meninggalkan Sasuke yang hanya bisa berdiri mematung menatap kepergiannya.
…
Sakura menutup sebagian wajahnya yang memerah menggunakan telapak tangan. Napasnya tersenggal-senggal karena ia berlari cepat menuju halte. Satu tetes air mata mengalir begitu ia merasakan sesak. "Aku masih mencintainya," gumamnya. Sakura mencoba mengatur napasnya yang kacau. "Aku memang masih begitu,"
Gaara baru saja tiba ketika ia melihat Sakura berdiri menutup wajah dengan bahu yang bergetar. Pemuda itu kontan menghampiri gadis merah muda yang berhasil mencuri hatinya itu. "Sakura-san? Kau baik-baik saja?" Gaara dapat melihat sepasang permata hijau basah yang membalas tatapannya. Sakura melepas tawa sembari menghapus air matanya kasar.
"Aku baik-baik saja," ucapnya lalu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.
Gaara hanya diam memerhatikan Sakura yang sedang mencoba menghapus jejak-jejak air matanya. Tangan pemuda itu terangkat sedikit, menyentuh pipi Sakura yang segera mengambil alih atensi gadis itu.
Sakura bisa merasakan ibu jari Gaara bergerak menghapus sisa air mata di pipinya. "Aku di sini…" Gaara bersuara. Pemuda itu memindahkan tangannya ke bahu Sakura, menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "… Aku selalu di sini untukmu,"
Gaara seolah melepas rantai yang membelit keberaniannya. Ia memeluk Sakura lebih erat, membiarkan gadis itu menenggelamkan wajahnya yang kacau di dadanya.
"Tolong lihatlah aku di sini,"
Gaara berbisik rendah, berharap Sakura akan mendengarnya.
Bersambung.
….
Halo! Bertemu dengan saya lagi, hehe. Seperti janji yang saya katakana di facebook bahwa Bittersweet akan update kamis/jumat minggu ini. Dan… ini dia!
Semoga kalian terhibur ya. Terima kasih atas dukungan kalian pada chapter sebelumnya.
Ah iya, banyak yang review tentang Gaara ya. Iya Gaara manis banget :') udah hobi saya buat second lead male jadi manis begitu wkwkw habisnya saya juga selalu dibuat baper sama second lead male sih /oi
Gaara : "cuz I know I can treat you better than he can~" /heh
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
Berkenan untuk meninggalkan kritik, saran, kesan di kotak review?
