Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

WARNING PENTING: dari chapter ini, fic ini bukan fic yang heavy plots, heavy diction, turtorus slow-pace, dsb dll dst. Isinya hanya bunch of sweetness. Jadi untuk yang alergi fic straight romantis gary-stu mary-sue sakit gigi kembang gula diabetes fluffy-all-over-easy, saya SANGAT TIDAK menganjurkan pembaca yang anti terhadap tipe fic semacam ini untuk lanjut membaca fanfiksi ini.

.

Disclaimer: Kuroko no basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. I do not take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.

Warning: Alternate Universe, genderbend!FurihataKouki, OOC, OC, simple-fluff, gary-stu, mary-sue, super cliché, fast pace, typo(s), absurd, super-duper crack slight pairing, etc.

.

Jika ada yang tidak disukai oleh Anda dari warning yang telah saya cantumkan, tolong jangan memaksakan diri untuk membaca fanfiksi ini. Terima kasih atas pengertian Anda. :)

.

Have a nice read! ^_~

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Ketika pagi itu Furihata mengempaskan diri ke meja kerjanya, ia berdesis letih dalam upaya mengenyahkan gerutu kecewa ibunya yang terngiang di telinga.

Tentang kenapa calon suaminya tidak menjemputnya pagi hari dan mereka berangkat ke kantor bersama. Omong kosong angan-angan diperkenalkan sebagai calon istri bos besar. Mengingat ibunya hanya menimbulkan kekesalan takkan habis-habis, Furihata termenung mengingat ayahnya.

Semalam, usai dirinya dan Akashi berbicara di pekarangan atas kesepakatan untuk menikah.

Furihata pias mengingat ternyata ketiga orangtua mereka berdua telah ada di balkon mencuri dengar pembicaraan mereka. Mendengar kikik Ibundanya beserta ibu lelaki yang meminangnya refleks baginya menjauhkan diri dari Akashi, langsung mengajak Akashi bicara empat mata.

Ruang tamunya dikuari aura membuat ngeri. Wajah ayahnya gelap saat bicara dengan Akashi seakan ingin mencekik pria itu sampai mati, sampai Furihata tidak berani bertanya ada apa sebenarnya kendati ia penasaran setengah mati—berekspetasi ayahnya tidak mengancam Akashi atau semacamnya.

Namun, berbanding terbalik dengan pagi ini, ayahnya malah tampak baik-baik saja seolah tidak terjadi apa-apa.

Orangtuanya dan orangtua Akashi (tepatnya, hanya Shiori saja) sepakat akan membahas soal pertunangan itu nanti, setelah putra-putri mereka benar-benar kukuh dengan hubungan mereka.

Furihata bersyukur untuk hal ini, dan Akashi tidak protes sama sekali karena lelaki itu berbisik mengaku padanya ketika orangtua mereka berbincang ramah (dan pendar brillian tertabur di matanya)—mengira Furihata akan menolaknya.

'Seorang Akashi Seijuurou ditolak oleh Furihata Kouki,' pikir Furihata geli—dan miris, bisa-bisa jadi headlinews sedunia.

Yang ada Furihata Kouki akan dilibas, bahkan namanya akan tercatat sebagai wanita terlaknat yang pernah ada sebagai wanita paling tidak bersyukur karena telah dipinang oleh pria sekaliber Akashi Seijuurou.

Memangnya hidupnya teenlit masa kini, novelet kosmopolitan, atau movie drama-romansa yang tak untuk jadi nyata?

"Pagi."

Sapaan manis itu menghancurkan sesi ratapan dalam hati Furihata Kouki. Senyumnya lekas terbit tatkala melihat siapa yang menyapa. "Pagi juga, Momoi-san."

"Uhm, kau kurang tidur? Kantung matamu terlihat jelas," ucap Momoi prihatin seraya mendudukkan diri di meja kerja yang berseberangan dengan tempat Furihata bekerja.

"Begitulah," Furihata menyergah, senyum lelah di wajah. "Mungkin aku harus membenarkan make-up-ku." Saat ia bangkit dan hendak meraih wadah make-up seadanya yang ia miliki, Furihata teringat pekerjaannya setiap pagi. "Oh, aku mesti mengganti bunga."

"Padahal kau bisa minta cleaning service menggantikannya," sahut yang baru datang itu membuat kedua wanita lain tersenyum.

Furihata hanya tersenyum pada Aida, tidak menanggapi—karena ia sendiri tidak punya tanggapan maupun pengertian atas pernyataan itu. Dia beranjak untuk mengambil bunga segar yang selalu dibelinya tiap pagi ketika berjalan kaki keluar dari kompleks rumahnya melewati toko bunga. Sudah jadi rutinitasnya.

Wanita itu melengang masuk ke kantor para direktur yang masih lengang, ia tidak perlu menelusuri sekat ruangan lain karena pimpinan para direktur itu tempatnya di ruang utama—tepat setelah membuka pintu pembatas sektor ruang direktur dan yang lain.

Entah kenapa relung hatinya berdenyar, geliat abnormal menyebabkan perutnya mulas—mengingat yang biasa menempati ruangan itu dan duduk di kursi kebesaran kini berstatus tidak hanya sebagai atasannya.

Pantofelnya mengempis sunyi hingga menimbulkan gema tipis di ruangan. Furihata mengambil bunga yang agak layu di vas, membuangnya ke tempat sampah, mengganti air dari wastafel yang ada dalam ruangan ke dalam vas, lalu menempatkan lagi rangkaian bunga baru segar.

Furihata menempatkan vas itu di meja berlapis kaca menampilkan tatanan properti laut disusun artistik yang berada di depan sofa—bukan meja kerja presdir Vorpal Sword tempatnya bekerja, kemudian melengang untuk menyibak tirai dan mengikat dengan tali tirai dalam simpul rapi. Puas dengan pekerjaannya, Furihata kembali ke meja kerjanya untuk menyortir berkas dan angeda pekerjaannya seharian ini.

Satu per satu, para pemimpin muda ternama Vorpal Sword melengang masuk ke kantor. Bertukar sapaan pagi di sela kuapan kantuk, dan bergegas masuk ruang kerja karena gunungan pekerjaan telah menanti mereka.

Furihata sendiri telah menerima tumpukan dokumen yang perlu ia sortir. Tugasnya hanya memilah-milih pekerjaan yang harus dikerjakan Akashi, kalau bukan, maka akan ia berikan pada Aida untuk diberikan pada yang lain.

"Pagi, Akashi-kun!"

Furihata nyaris menjatuhkan dokumen (seolah jantungnya turut terbatuk menggemelutuk rusuk) yang ia pegang mendengar suara ceria Momoi menyapa presdir Vorpal Sword tersebut. Dalam hati panik karena ia terlalu banyak melamun—gelisah menanti kedatangannya, sehingga belum selesai menyortir pekerjaan untuk presdir yang baru datang itu.

Pria yang menjabat sebagai presdir Vorpal Sword itu bertukar sapa dengan Momoi dan Aida. Santai seperti biasa seakan tidak terjadi apa-apa. Namun kedua wanita tersebut menyadari perubahaan signifikan ekspresi Akashi berdasarkan selenting intuisi, menanyakan mengapa wajahnya dan senyumnya tampak begitu cerah tidak sesimpul senyum seperti biasa.

"Apa kalian mau aku datang dengan wajah suram dan menyiksa semua dengan melipatgandakaan pekerjaan kalian?" kilah Akashi dengan selontar pertanyaan retoris.

Aida terkikik geli sambil mengibas-ibaskan tangan. "Terima kasih, tidak ada yang ingin pagi-pagi kau langsung dalam mode Iblis."

"Lipatgandakan saja, tapi berikan kompensasi sebagai ganti pekerjaan itu," Momoi tersenyum manis, balas melontar canda akan tantangan terhalus padanya. Mengedipkan sebelah mata pada atasannya. "Tapi, jangan lembur dan beri bonus yang banyak, ya."

Akashi sama sekali tidak tersinggung. Senyum tipis berangsur muncul di wajahnya. "Sayang sekali, aku tidak ingin melakukan semua itu."

Barulah sebelum menekan gagang pintu, Furihata gagal menahan diri untuk tidak mencuri pandang, ditemukannya Akashi mematutnya dari sudut-sudut mata merah seterang matahari—dengan kerlingan lembut yang menyempitkan paru-parunya.

"Selamat pagi, Furihata-san."

Sapaannya sekasual biasa.

"Se-selamat pagi." Furihata membanting pandangannya ke samping, menyembunyikan kegugupan di balik dokumen yang ia baca.

Akashi menyembuyikan lengkung enigmatis di bibirnya dengan tatapan magnetis, membiarkan reaksi canggung Furihata seperti itu dengan melengang masuk ke ruangan direktur.

Baru setelah itu, Furihata menyusrukkan kepala ke meja bersamaan dengan dokumen dalam dekapannya. Menggerung aku konyol yang tidak meminimalisir gemuruh jantungnya.

.

#~**~#

.

A Kuroko no Basket Fanfiction,

.

To be love

.

By: Light of Leviathan

.

#~**~#

.

Mendengar pintu ruang direktur dibuka kemudian siluet sekretarisnya menyembul, ketuk halus sepatunya bersanding dengan bunyi gelas tinggi bening mendeting meja yang diletakkan tidak terlalu di pinggir tapi tidak pula tepat di sentral meja diiringi bunyi riak air, menepis dengung laptop dan Air Conditioner, Akashi melirik sekilas.

"Terima kasih, Furihata-san."

"I-i-iya."

"..."

"..."

"A-Akashi ... –san?"

Akashi yang tengah bersandar di kursi sembari menekuri pacta sunt servada dengan huruf-huruf membutakan mata lantaran penuh berukiran pasal kegelapan—terlebih bagi pebisnis semacam Aomine atau Kagami yang emosi mereka mudah mendidih—merasakan matanya melembut dalam kepuasan, hampir tertawa.

Sebenarnya, sudah dari tadi Akashi menanti alto dewi itu memanggilnya—sejak jam di ruangannya berdentang kencang tatkala menduduki angka dua belas; jam makan siang.

Akashi penasaran apa sekretaris yang kini adalah wanita yang akan dinikahinya akan menghampirinya untuk mengingatkan waktu istirahat, dan bagaimana sikapnya saat menginformasikan—membujuknya untuk berhenti menggerayangi rentetan ayat-ayat hitam mengerikan.

"Ya?"

"A-apa kau masih si-sibuk?"

"Ya."

Akashi ingin sekali menurunkan dokumennya dan menikmati ketak-ketuk kesah pantofel Furihata, tapi ia tetap mempertahankan dirinya menatap berlarik pasal yang harus dibacanya dengan teliti agar tidak meloloskan kecurangan yang mungkin merugikan perusahaan mereka—alasan saja karena memang sebenarnya dirinya sudah penat berkutat dengan MOU.

(selain karena ini berarti memperpanjang durasi percakapan mereka, itu saja.)

"I-ini saatnya makan si-siang."

"Ya."

"I-istirahatlah du-dulu."

"Tentu. Kau juga sebaiknya istirahat dan makan siang, Furihata-san."

"... e-eh, iya."

"..."

"A- ... Akashi-san?"

"Hmm?"

"..."

Akashi akhirnya mendongak dari dokumennya karena tidak lagi mendengar pantofel mengetuk lantai marmer ruang kerjanya. Senyumnya seketika itu terkembang melihat Furihata menggigit bibir, bergetar, dan memainkan keliman blazer-nya.

'Menggemaskan.'

"Ke-kemarin," Suara Furihata begitu pelan seakan menyiratkan rahasia—mengkhawatirkan Akashi, "kau pulang larut malam sekali dari rumahku. Dan ha-hari ini kau datang pagi se-seperti biasa. Kau ... ka-kau pasti lelah, ja-jadi, se-sebaiknya kau be-beristirahat dulu."

Akashi memasang ekspresi netral, menekan senyumnya yang sempat terkembang. "Aku tidak selelah yang kaukira."

"Itu be-berarti kau tetap lelah." Cemas mengeruhkan airmuka Furihata. "A-apa yang kukira bisa jadi tidak kaurasa, ta-tapi bukan berarti lelah itu tidak ada. Kalau tidak istirahat sekarang, nanti waktunya bisa segera habis. Kantin terlalu penuh, nanti tidak dapat tempat duduk. Atau mau kupesankan sesuatu sa-saja?"

Sekretaris yang telah menjabat selama dua tahun itu berkeriut malu ketika atasannya malah tertawa. Bukan tawa terpingkal-pingkal seperti yang direalisasikan orang biasa, tapi tawa yang halus, tersisip geli dan bahagia yang tidak lagi ditutup-tutupi.

Seketika itu Furihata baru sadar, ternyata calon suaminya—karena pria di hadapannya sedang tertawa sebagai seseorang yang telah melamarnya kemarin malam dan bukan bosnya—sedari tadi memang mengerjainya.

Sesungguhnya pria itu hanya ingin diperhatikan olehnya. Merasa ia gugup untuk hal yang tak perlu, Furihata menghirup napas dalam-dalam.

"Baiklah. Aku makan siang di kantin dengan yang lain." Akashi tenang menaruh dokumennya, menumpuk rapi di meja kerjanya, kemudian bangkit dari kursinya dan menghampiri wanita yang kini berdiri serta bicara bukan sebagai sekretarisnya.

"Dari mana kau tahu lavender baik untuk relaksasi?" alihnya. Memaut wanita di sisinya dengan pandangan lembut. "Wangi bunga itu membuatku lebih rileks hari ini," ucapnya dengan pujian terselubung.

Furihata menjadikan kaki kiri sebagai pivot, berputar menghadap bunga yang bertahta anggun di meja, menebar wangi penentram hati. Dia menatap ragu pada Akashi yang tengah memandangnya.

"Apa iya?"

"Tentu." Akashi menatapnya lunak, menyadari pujiannya tidak dimengerti oleh Furihata. "Kau tidak tahu?"

"Kelihatannya bagus dan bunga itu baru dipetik tadi pagi, terlihat menyegarkan." Furihata menggeleng kecil.

Akashi mengangguk singkat. "Wanginya memang menyegarkan."

"Setahuku lavender itu biasanya bau obat nyamuk," cetusnya spontan. Dan kontan ia terpuruk tatkala Akashi refleks tertawa ringan karenanya. "Ma-maaf, aku tidak bermaksud buruk—"

"Kalau kau yang wangi lavender, kukira malah akan ada banyak nyamuk menggigitimu."

"E-eh? Kenapa begitu?"

Akashi menelisik sejenak Furihata. Keinosenan yang seharusnya mustahil untuk wanita di akhir usia kepala dua, entah kenapa membuatnya menghela napas panjang—bagaimana bisa wanita ini tidak mengerti nyamuk yang Akashi maksud itu secara konotatif dan sebenarnya hanya menggodanya belaka.

Furihata terkesiap ketika jemari berkalus Akashi menyelipkan untaian anak rambutnya yang terurai di pipinya ke belakang telinga, kemudian menapak selangkah ke depan—mengapit teramat pelan nian pipinya dalam cubitan, mengerlingnya lagi dengan lembut seakan sejak kemarin Furihata menerima pinangannya maka wanita itu tidak akan pernah berhenti dibuat terkejut olehnya.

"Mana ada nyamuk yang tidak tergoda dengan perempuan sewangi kau."

Akashi kemudian bertapak sampai ke pintu, menoleh, menemukan wanita itu bergeming kaku karena kata-katanya—tidak tersipu apalagi salah tingkah malu-malu. Sesaat dia mencermati wanita ini yang akan jadi istrinya tengah menggigit bibir memegangi pipi dengan raut wajah dirundung murung, merasa begitu bersalah.

Dia menghela napas panjang. "Istirahatlah dan makan siang. Kau terlihat pucat."

Saat Furihata menatapnya—dengan pandangan yang tidak sulit Akashi artikan, pria itu membuka pintu—seolah sekelumit sendu di wajah wanita tersebut tidak menyakitinya.

"Maaf, aku membuatmu tidak nyaman—sepertinya yang tadi terlalu drastis."

Furihata terkesiap kaget mendapati Akashi yang mengucap hal itu menyirat sesal, dipahaminya Akashi meminta maaf karena telah membenarkan rambut dan mencubit pipinya.

Ini adalah sesuatu yang baru dalam hubungan mereka, gestur sederhana yang romantis dan sedikit lebih intim daripada status mereka yang selama ini hanya sebagai bos dan sekretaris.

"Bu-bukan, a-aku tidak ke-keberatan atau tidak nyaman."

"Kau takut hubungan kita ketahuan?"

"I-itu ... bu-bukan begitu. Hanya saja ..."

"Aku tahu ... kau tidak tahu bagaimana harus berhadapan denganku dan membalas perlakuanku, bukankah begitu?"

Jeda sejenak.

Terkaan Akashi mutlak.

Saliva rikuh ditenggak. Furihata berat mengangguk, telak oleh sesak.

"Apa yang terjadi di antara kita sekarang, kuharap tidak membuatmu berubah signifikan dan malah memberatkanmu."

Pria berambut magenta itu menuturkannya dengan kesungguhan akan kesabaran yang tidak berani Furihata takar sampai sejauh mana limitnya. Senyumnya adalah cerminan ketabahan yang ditunjukkan bahasa tubuhnya—senyum tulus yang malah membuat sesak berdesak di hatinya, dan kemudian dirinya—

"Kau cukup jadi dirimu yang biasanya. Aku lebih suka kau yang seperti itu, Furihata-san."

—tertinggal di ruangan.

Furihata menyandar diri ke meja kerja Akashi, termenung pilu tatkala pintu ruang kerja itu tertutup dengan blam pelan menghantamkan realisasi akan relasi dan rantai rasa ini yang ternyata masih non-ekuivalen.

Tidak ada hal yang setimpal di antara mereka, tidak pula ada sesuatu yang Furihata—dengan selarik tipis asa malah kian terkais—kira bisa dilakukannya dan diberikannya untuk Akashi.

.

.

.

.

Bagaimana caranya memperlakukan seseorang yang mendedikasikan eksistensinya untukmu sementara kau tidak menganggapnya seperti anggapan dia terhadapmu?

.

#~**~#

.

Sebelum menghampiri Akashi tadi—karena cemas atasannya itu tidak keluar-keluar ruangan untuk makan siang, Furihata sempat berasumsi Akashi nanti mungkin akan mengajaknya makan siang secara eksklusif di ruang kerjanya dengan delivery makanan. Atau mengajaknya makan siang di areal khusus Vorpal Sword, menempatkan satu kursi di sisinya khusus untuk Furihata agar semua orang tahu hubungan asli mereka seperti apa.

Bagaimanapun Akashi Seijuurou terlihat seperti pria obsesif-posesif—atau paling tidak itulah yang didesas-desuskan oleh kaum fanatiknya. Di luar hal ini, kenyataan bahwa Akashi Seijuurou adalah gentleman yang tidak berkarakteristik sebagai mana pria Jepang pada umumnya, ternyata memang benar.

Selain itu, Akashi memahami kerisauannya lebih dari yang Furihata antisipasi sendiri, karena itulah pria tersebut pergi lebih dulu ke kantin dan memilih duduk membaur bersama teman-teman kerjanya—Kiseki no Sedai. Tidak pula dia membuat publikasi tentang relasi mereka—kendati memang belum resmi.

Ketika Furihata masuk ke kantin—dan tak sengaja bertemu pandang dengan Akashi, dilihatnya airmuka atasannya menjernih dengan kelegaan melihat kehadirannya, sebelum kembali terlibat perbincangan alot seputar defisit dan surplus dari penjualan produk serta pembelian bahan pokok.

Furihata mengantri untuk mendapatkan jatah makan siang. Setelah menerima jatahnya, kemudian menolah-noleh kanan-kiri, mengedar pandang cemas ke seluruh pelosok mencari tempat untuk duduk. Tidak dapat tempat. Harusnya ia tidak terpekur terlalu lama memikirkan apa yang harus dilakukannya pada calon suaminya itu.

"Furi!"

Seruan Kagami membuat Furihata menatap pemuda dengan alis unik memanggilnya. Mencelos mengetahui itu area para elit di Vorpal Sword, ia melangkah ragu ke area meja panjang tersebut. Barulah disadarinya, Fukuda dan Kawahara melambai padanya, memberi kode telah menyisakan satu tempat untuknya di sisi Kuroko.

"Kau kemana saja, Furi?" tanya Fukuda heran, "dari tadi kami menunggumu."

"Maaf." Furihata menaruh nampan makannya di sisi Kuroko dan Kawahara, menatap Fukuda dan Kagami yang duduk di hadapan mereka. Dia meringis pelan. "Ta-di pekerjaanku masih banyak."

"Bos besar menyulitkanmu, ya?" bisik Kawahara simpatik padanya.

Furihata hanya tertawa parau menanggapinya. Ya, dia menyulitkanku untuk berlaku tidak terjadi apa-apa di antara kami. Mengalihkan diri dari intuisi yang memberatkan hati, ia mengulum senyum melihat porsi besar santap siang Kagami.

Ia menyantap makan siang, sesekali angkat suara dalam perbincangan siang tentang hal trivial di antara mereka berlima. Rasanya aneh memang mengingat dirinya wanita seorang, tapi keempat pemuda yang mengelilinginya itu tidak membedakan ataupun mengistimewakan dirinya—malah merasa Furihata benar-benar kawan mereka, karena itulah Furihata merasa nyaman berteman dengan mereka.

Fukuda menggeleng-gelengkan kepala melihat yang terjadi di area meja Kiseki no Sedai. "Uwah, lihat itu!"

"Aku tidak mengerti bagaimana bisa perempuan-perempuan itu tidak tahu diri untuk tetap mendekat ke sana padahal sudah ditolak berkali-kali," tanggap Kawahara heran.

Kuroko yang seringkali gagal disadari hawa keberadaannya hanya melirik singkat, sebelum menikmati milkshake favoritnya. "Persisten sekali mereka. Terutama yang mengejar Kise-kun dan Akashi-kun."

"Fhang hang a-fhu hehan—"

"Telan dulu makananmu baru bicara, Kagami-kun."

"Yang aku heran, bagaimana bisa Ahomine dan Murasakibara bahkan ada yang mengejar mereka!"

"Jangan bicara begitu kalau kau juga masuk golongan tersebut, Kagami-kun."

"Aaah ... kau iri padaku, hm, Kuroko?"

"Tidak. Jangan salah sangka."

"Hmph, kau terdengar seperti Midorima."

"Sudah, Kagami, jangan menggoda Kuroko terus."

"Yaaa, kalau dipikir-pikir, perempuan mana tidak ingin jadi kekasih mereka, eh?" sahut Fukuda seraya memantau situasi di mana kelima Kiseki no Sedai itu dikerubuti oleh para gadis.

"Kalian berdua punya pacar, 'kan?" tanya Kagami heran.

Kuroko tenang menimpali, "Tapi, pacar mereka berdua tidak kerja di sini."

"Kalau mereka di sini, aku yang ragu apa mereka akan mau dengan kami." Kawahara meringis miris.

Furihata melirik Fukuda, senyum kecil di wajahnya. "Paling tidak, aku yakin Aiko-chan tidak akan mengkhianatimu."

Pria yang disenyumi balas nyengir sembari mengangguk. "Omong-omong, selain Aiko, masih ada perempuan yang tidak mengejar-ngejar mereka!" Fukuda dengan kekuatan agak berlebih sedikit membanting botol minum ke atas nampan. Dia menunjuk Furihata seraya berseru antusias, "Ini orangnya!"

Sesaat keempat pemuda itu terdiam, atensi tertumpah pada satu-satunya wanita di antara mereka. Sebelum tersenyum maklum pada wanita yang tengah mengulum sumpit mencecap sejumput rasa tumis teriyaki daging yang tersisa.

Furihata dengan ketenangan yang tidak terduga—padahal dalam hati gelagapan panik berseru "Ochitsuke, ochicuke!" agar tidak membocorkan hal yang untuk saat ini tetap ingin dijadikannya rahasia—menjawab, "He-hei, lelaki bukan hanya mereka."

Furihata mulas dengan pikirannya sendiri serta usahanya tidak melirik calon suaminya yang selalu dikerubuti di jam-jam saat ini. 'Aku tidak mengejar-ngejar Akashi-san, tapi, aku juga tidak menolaknya.' (Toh, dia bukan wanita bodoh. Atau tepatnya, mencoba untuk tidak lagi menjadi wanita bodoh.)

"Mereka mungkin memang termasuk kategori pria yang digilai wanita. Ketampanan dan kemapanan bukan parameter mutlak kebaikan suatu pria." Satu-satunya wanita di meja itu berpikir sesaat, lalu nyengir manis dan berujar tulus, "Tapi kupikir, kalau mencari pria yang baik—bahkan kuyakin lebih baik terhadap perempuan, kurasa bukan hanya mereka. Kalian juga ada. Sayang saja, mereka—gadis-gadis itu—tidak mau melihat kalian."

Keempat pemuda itu sesaat berpandangan, berikutnya cengiran mereka terbit.

"Ya, mereka dibutakan ketampanan dan kemapanan!" seru Fukuda, balas nyengir dengan wajah mencerah.

Merespons heboh perkataan Furihata dengan apresiasi yang tulus dan bahkan beramai-ramai menyumbangkan sepotong daging untuknya, yang membuat Furihata tertawa lebar dan balas mengucap terima kasih.

Walaupun sebenarnya Furihata tahu, keempat pemuda itu berbaik hati tidak menyinggung bahwa memang selera lelaki Furihata pun tidak setinggi Kiseki no Sedai. Seleranya tidak muluk-muluk, tipenya adalah lelaki biasa saja dengan senyuman setegas hangatnya dan cerahnya radiasi mentari.

Mendadak hal itu mengingatkan Furihata pada Akashi.

"Preferensi seseorang terhadap objek afeksi mereka, tidak lantas menjadikan orang tersebut sebagai orang yang akan ia cintai."

Kalau bukan karena orang itu, Furihata mungkin tidak akan punya preferensi objek afeksi. Lucu karena orang itulah yang membuatnya jadi punya standar tertentu terhadap pria.

Furihata dalam diam mengamati bagaimana wanita-wanita tersebut bertukar sapa kasual—di balik goda dan ketatnya kemeja di dada mereka—seolah kesannya terlihat berbasa-basi dengan anggota Kiseki no Sedai. Padahal tidak seperti itu. Ada modus yang tertransparasi seperti kemeja putih mereka.

"Makan malam? Maaf, aku sudah ada urusan."

Seruan kecewa nyaris falsetto itu ditingkahi gelak tawa karena tolakan sopan yang lagi-lagi diutarakan.

Furihata lamat menghirup air mineral miliknya, tidak merasa penolakan Akashi terhadap undangan minum-minum setelah kerja itu adalah sesuatu yang berbeda dari rutinitas yang biasa.

"Kalian ini tidak pernah menyerah, ya?" Momoi menertawakan satu dari sahabatnya yang tergabung di antara karyawati-karyawati tersebut.

"Kenapa tidak selama Akashi-sama dan yang lain belum ada yang punya?" cetus Micchan seketika diikuti anggukan kepala kuat-kuat dari kawan-kawan seperjuangannya, sukses membuahkan tawa dari orang-orang di sekelilingnya.

"Jadi kalau Akashi sudah ada yang punya, kalian akan mundur teratur?" tanya Takao yang mengabaikan protes Midorima karena melahap chicken katsu milik pria tsundere tersebut.

Mereka saling berpandangan, berbagai jawaban terlontar atas pertanyaan Takao:

1) Ya, tentu saja.

2) Ya, boleh, deh. Itu pun kalau perempuannya cocok dengan Akashi.

3) Tidak! Tidak selama jabang bayi belum ada!

4) Ceraikan saja istrinya, suruh istrinya bawa anaknya, Akashi tetap bersama denganku!

Wanita dan revolusi emansipasi: mengerikan.

"Minna, ganbatte nee."

Sahutan malas Murasakibara membuat kumpulan wanita pemuja berpikir mereka bahkan dapat dukungan dari pria violet tersebut. Tidak menyadari sama sekali itu adalah kesatiran Murasakibara, yang tahu benar tidak satu pun anggota inti Vorpal Sword berselera dengan wanita-wanita seperti itu.

Di satu sisi, Furihata diterpa kemulasan yang sama sekali bukan karena salah makan ataupun jelang datang bulan, melainkan baru menyadari betapa gegabah keputusannya merelakan dirinya dipersunting seseorang dengan barisan wanita penuh nafsu yang dapat menghabisinya begitu mereka tahu relasi baru ini.

Rasanya ingin meratapi diri dan mencerca kecerobohannya karena main terima lamaran seseorang hanya karena dia telah muak pada diri sendiri.

"Kalau suatu saat nanti aku menikahi wanita yang kucinta, aku tidak ingin kalian tidak menerimanya."

Perkataan itu menangkap keramaian, meringkus atmosfer dalam kesunyian—walau tidak sampai membungkus ruang kantin dalam keheningan bagai kota mati.

"Aku juga tidak ingin kalian menyakitinya karena aku mencintainya."

Bisa saja satu-dua orang menceletuk tentang canda Akashi yang selalu terdengar buruk, tapi keseriusan pria tersebut menyebabkan pendengarnya merinding.

"Tolong mengerti, aku mencintainya karena dia memiliki sesuatu yang tidak satu pun kalian punya."

Furihata berjengit mendengar Akashi tegas menandas hal tersebut terang-terangan.

"Dan di luar sana, walaupun kalian berpikir tidak ada lagi lelaki terbaik sepertiku, belum tentu tidak ada lagi lelaki yang tidak bisa jadi yang terbaik untuk kalian."

Akashi menegapkan tubuhnya, tenang menelusuri satu per satu wajah yang biasanya selalu berusaha mencuri perhatiannya.

"Mungkin saja kita tidak bisa bersatu. Karena jika aku bersama salah satu dari kalian, belum tentu aku akan jadi yang terbaik untuk kalian."

Sesaat semuanya membisu mencerna perkataan pimpinan tersebut, hingga Micchan dengan suara bergetar, berkata di sela tawa yang gentar, "I-ini terdengar se-seperti ... penolakan."

—bahkan Furihata yang mendengar monosilabel itu merasakan hatinya didecit sakit karenanya.

Penolakan.

"Apa itu buruk?"

Cara Akashi bertanya, lebih mirip seperti ayah menanyai putri kecilnya.

Wanita-wanita yang mengelilingi meja di sentris ruang tidak kuasa mengelak, karena penolakan terasa amat buruk bagi yang pernah merasakannya. Bahkan bayang-bayang akan penolakan saja sudah membuat ciut karena takut, menghunjamkan derita yang tiada akhir karena bisa selamanya terkenang momen mengenaskan itu.

"Mungkin tidak." Akashi berempati sedikit, tersenyum tipis pada segerombol wanita di hadapannya. "Mungkin saja jika tanpa penolakan, kau tidak akan tahu siapa yang terbaik untukmu."

Thump.

Furihata menghirup napas tajam. Apa yang Akashi katakan menyerupai sebilah pedang tajam menikam tepat di hatinya. Entah Akashi sadar atau tidak, tahu atau tidak—tapi kapan orang satu itu tidak pernah tahu, seperti kata-kata itu sengaja ditujukan untuknya.

"Hmph. Jangan bicara begitu padahal kau tidak pernah ditolak, nanodayo."

Impresi bijak Akashi itu sukses diretak oleh dengus plus cetus Midorima Shintarou—satu dari sekian banyak pria tidak peka yang ada di Vorpal Sword. Pria tsundere itu hanya mengemukakan kenyataan.

Akashi menatap Midorima, tidak terdeteksi ekspresi keheranannya adalah kepura-puraan atau murni merasa heran dengan perkataan temannya itu. "Tidak pernah ditolak dan kenyataan bahwa aku selalu benar, tidak berarti aku langsung mendapatkan hati seseorang yang aku cinta."

Kise menyembur cola yang diminumnya ke Aomine."APA BARUSAN KATAMU, AKASHICCHI?! AWH!"

"Berisik." Aomine menempeleng kepala pria pirang di sisinya. Dia melirik malas pada sang atasan. "Jadi kau akhirnya dapat perempuan sial yang bisa kauganti marganya jadi nama margamu?"

"Siapa wanita sial itu?!" sambar Kagami dari meja sebelah dengan mulut penuh chicken-katsu.

"Oh, berarti Akashi-kun sudah mendapatkan wanita untuk diajak ke acara tahunan keluargamu yang prestis itu?" Kuroko mengulas senyum tipis. "Selamat, Akashi-kun."

"Si "itu"?" Murasakibara menoleh pada Midorima dengan pandangan malas-malasan.

Midorima mendelik karena insignifikan yang Murasakibara katakan. "Siapa maksudmu, nanodayo?" Dia beralih melirik ketua mereka semua. "Jangan membuat kontroversi, Akashi."

"A-Akashi-kun ... kau serius?!" pekik Momoi histeris, "ku-kukira kau masih ingin menikmati masa lajangmu ... tu-tunggu, siapa perempuan yang kaumaksud?!"

Furihata pucat-pasi melihat Akashi tertawa tanpa suara—melalui ekspresi menikmati kehebohan yang ia timbulkan.

Begitu mengafirmasi Akashi tidak menjawab lugas, hanya ambigu dan mempermainkan orang-orang di sekelilingnya, telinganya berdengung panas dengan semua itu makanya Furihata memilih pamit pada rekan-rekan kerjanya dan memilih kembali ke meja kerjanya lebih dulu dengan alasan tanggung-jawabnya masih tertumpuk menyaingi banyaknya rerasan daun-daun di musim gugur.

Pertanyaan menggenang di benaknya. Bergentayang hingga petang bertandang.

.

.

.

Namun ... apakah memang harus ditolak lebih dulu dan mencinta seorang diri barulah aku bisa mengerti dia bukan untukku, dan kaulah yang terbaik untukku?

Bagaimana denganmu?

(Bagaimana kau bisa tahu aku adalah yang terbaik untukmu?)

.

#~**~#

.

Seperempat putaran jarum jam menjelang tengah malam dari kedua belas angka yang ada, Akashi menarik kerai tergerai dan memusnah panorama metropolitan dari jendela bening kantornya, memakai mantelnya kemudian memadam sistem penerangan dan keluar dari ruangan.

"Akashi-san."

Akashi terkejut, tidak menyangka sekretarisnya lekas berdiri dari posisi duduknya. Dia lekas menutup pintu di belakang punggung, tercenung bingung dengan wanita itu yang biasanya setelah waktu pukul tujuh malam sudah berkelana entah kemana dengan rekan-rekan perempuan lainnya, ternyata kini masih duduk di meja kerja.

Ruang kantor di luar ruang direktur itu nihil dari orang-orang. Mereka telah pulang kembali ke tempat tinggal masing-masing. Mungkin sejam lagi, sekitar pukul sepuluh, sekuriti baru akan patroli mengecek keamanan gedung mereka.

"Kau menungguku, Furihata-san?"

Ajarkan cara bagi Akashi untuk tidak lekas tersenyum dengan hati hampir meleleh karena Furihata mengangguk, susah-payah melawan kantuk, demi menjawab pertanyaannya, duduk manis menantinya hingga selesai bekerja tanpa langsung dengan egois menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya dan frontal berkata ia menanti Akashi.

Padahal kalau demi Furihata, Akashi rela pulang lebih cepat. Padahal kalau Furihata meminta, Akashi akan mempercepat sesi rapat untuk menjarah waktu agar bisa lebih lama bersamanya. Siapa juga yang senang berkutat lama-lama dengan bundle dokumen setebal hikayat dosa yang tiada habis-habis itu kalau ada wanita menggemaskan untuknya seorang.

Akashi bertanya, berusaha tak terlalu menampakkan harapnya, "Pulang bersamaku?"

Merah padam wajah Furihata yang menggeleng-geleng secepat kilat.

Tidak luput melihat roman wajah mengeruh Akashi dikeruhkan kekecewaan mengetahui dirinya tidak mau pulang bersama, Furihata buru-buru menyergah, "A-aku ... ingin tahu ... apa yang Otou-san-ku bicarakan denganmu se-semalam," suaranya melirih, "ka-kalau aku bo-boleh tahu."

"Sebenarnya, aku tidak berniat menyembunyikannya darimu." Pria berambut magenta itu menatap lekat calon istrinya. "Tapi ... kau menungguku hanya karena ingin tahu hal itu?" tanya Akashi perlahan.

Furihata ingin bertanya apa ia menunggu Akashi demi tahu hal itu adalah keliru, tapi dengan ekspektasi melankolis di mata magenta tersebut, ia berusaha untuk tidak merasa asing dengan pria ini lagi.

"Kalau begitu ... apa kau a-akan i-ikut denganku na-naik bus?"

Roman keruh wajah tampan itu dijernihkan dengan senyuman tipis tatkala mendengar pertanyaan itu, refleks tangannya terangkat dan punggung telunjuk menyentuh dalam elusan lunak pada pipi wanita yang tergembung—antara kepolosan sekaligus malu dengan cetusan pertama yang terluap di benak diluncurkan bibirnya. Sorot matanya melunak menemukan Furihata berjengit, tapi tidak menjauh dari sentuhannya atau menolaknya mentah-mentah.

"Aku akan mengantarkanmu." Melihat kerumitan dari kerutan dalam di kening calon istrinya itu, Akashi lekas mengimbuh, "kalau kau mau."

Dengan puing-puing keberanian yang ia punya, mencoba berhenti menjadi pengecut—dan berusaha tidak risih dengan sentuhan afektif calon suaminya itu, Furihata berusaha menerbitkan senyum, sebiasa yang biasa ia tampilkan.

Teringat Akashi tadi sebelum makan siang berkata, lebih menyukai dirinya biasa—dan Furihata berupaya keras mengenyahkan kekecewaan yang tidak layak bersanding dengan roman wajah pria seperti Akashi.

"Te-terima kasih." Jemarinya terulur berusaha mengetuk kasual lengan terbalut fabrik jas, Furihata balas menatap Akashi seraya tersenyum lebih riang, "Ayo pulang, Akashi-san."

Sejenak Akashi terkesiap, kemudian pandangannya melunak tatkala merasakan hatinya disayat hangat yang menyesakkan.

"Selalu katakan itu setiap kau mengajakku pulang ke rumah kita nanti, Furihata-san."

Furihata tidak menanggapinya—bersusah payah agar dirinya tidak terlalu salah tingkah dengan menarik lagi tangannya dari lengan pria di sisinya. Kali ini, dia berupaya menyejajarkan diri dengan Akashi, bukan lagi dirinya yang mengekori atasan seperti sekretaris penurut, tapi bersama menyusuri koridor lengang menuju ke lift.

"A-apa kau tidak te-terlalu lelah kalau mengantarku pulang dulu? A-aku tidak menyusahkanmu?" tanya Furihata cemas saat mereka menunggu lift sampai di lantai tempat mereka menunggu.

Akashi meliriknya geli—dengan lirikan yang selalu mengimpuls Furihata was-was karenanya. "Kau tidak tahu rasanya aku selalu ingin menculikmu saja naik ke mobil agar tidak pulang malam-malam sendirian."

dan kau selalu saja menolak. Sisanya, bagian yang sepahit empedu, tidak diisankan oleh pria tersebut.

Helaan napas pendek.

"Sebenarnya, setiap kau pulang sendiri, kau menyusahkanku karena membuatku khawatir."

"Ma-maafkan aku." Sepasang netra sewarna kayu manis itu menyendu menatapi deretan lampu angka demi angka berganti-ganti menyala.

"Aku tahu, kau tidak ingin sepertiku—setiap waktu bisa bersamamu. Walaupun begitu ... kalau kau ingin, atau kau pulang kemalaman, jangan lagi pulang sendiri."

Furihata menyadari Akashi tidak menatapnya saat mengatakan hal tersebut. Pandangannya lantas tertunduk ketika punggung tangan mereka bersentuhan—tapi tidak ada satu pun dari mereka yang tergerak untuk saling menyisipkan spasi renggangan jemari satu sama lain dalam genggaman.

Furihata tercekat tatkala Akashi mengerlingnya lembut seakan melelehkan tegak sempurna tungkai-tungkainya seperti lilin diusapi api.

"Pulanglah bersamaku."

.

#~**~#

.

Furihata sudah pernah beberapa kali menaiki mobil Akashi, tapi baru kali ini dengan status yang berbeda.

Bukan lagi sebagai sekretaris yang diberi tumpangan pulang oleh atasannya lantaran alasan seklise tidak baik perempuan pulang malam sendirian bisa-bisa dicegat preman di jalan, sudah terlewat malam dan bus malam lama datangnya, malam berbadai—kasihan kalau kehujanan nanti wanita itu akan kena flu—dan sederet alasan lain, melainkan karena ia adalah calon istri penyetir di sisinya yang akan dijaga baik-baik oleh pria itu.

Suhu AC yang sudah disetel dalam temperatur tinggi tidak menghangatkan dalam musim yang meriang sebelum memasuki musim dingin.

Furihata terdiam membenam diri dalam mantel Akashi—pria itu melepaskan mantelnya untuk menyelimutinya yang menggigil di tengah perjalanan. Dia terbata mengatakan terima kasih, tidak terbiasa diperlakukan semanis ini oleh lelaki.

Dia menatapi Akashi yang tenang menyetir, bertanya-tanya apakah tangan calon suaminya itu tidak membeku memegangi ban setir padahal dia saja sudah menggigil kedinginan, dan mungkin gemelutuk giginya sedemikian eksplisit hingga Akashi bisa mendengarnya.

"Jadi ..." Memecah keheningan yang singgah, Furihata memilih membuka percakapan tatkala mobil yang Akashi kendarai membelah jalur nadi kota metropolitan, "... a-apa yang Otou-san dan Akashi-san bicarakan?"

"Tentang kau," jawabnya singkat.

"Itu saja a-aku juga tahu, Akashi-san. Ke-kenapa tertawa?"

Akashi menyurutkan tawanya, geli terpulas dalam roman wajahnya. "Teringat apa yang Ayahmu tanyakan padaku pertama kali."

"A-apa yang Otou-san tanyakan?" tanya Furihata khawatir. Pasti hal-hal memalukan, tuduhnya dalam benak. Ayahnya punya tendensi kecintaaan terhadap putri semata wayang yang amat merisaukan.

"Beliau bertanya, apa yang membuatku merasa pantas untuk bersamamu."

"A-apa? Apa yang membuatmu merasa aku pantas u-untuk be-bersamamu?"

"Bukan. Apa yang membuatku merasa pantas untuk bersamamu, pantas untuk menikahimu dan pantas untuk hidup selamanya denganmu."

"... a-apa?!"

"Kau tidak salah dengar."

Furihata terbeliak horror mendengarnya. Merutuki ayahnya dalam hati yang lancang sekali pada Akashi. "Ma-maafkan Otou-san-ku, Akashi-san. Ma-maaf beliau ti-tidak sopan bertanya se-selancang itu padamu," lirihnya putus asa.

"Itu sudah seharusnya, aku bisa mengerti perasaan ayahmu." Akashi menggeleng. Pandangannya melembut dalam realisasi. "Ayahmu sangat menyayangimu."

Furihata tergemap—mendadak merasa di seluruh mobil ini mendadak menjadi cermin yang memantulkan bagaimana cara Akashi mengerling dirinya.

"Ka-kau jawab a-apa?" alihnya lamat-lamat.

"Aku jawab: karena aku ingin menjagamu sebagai apa adanya kau, dan aku mau berjuang untukmu."

Furihata mencelos kaget dengan pernyataan terang-terangan Akashi. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Nyaris histeris saat berdesis, "Ka-kau ... ti-tidak perlu, sungguh. I-itu te-terlalu berlebihan."

"Tapi kenyataannya memang begitu."

"... la-lalu apalagi yang Otou-san ka-katakan?"

"Kenapa aku memilihmu, dia berkata aku pasti punya banyak wanita di sisiku setiap waktu."

Satu-satunya wanita dalam mobil itu mengingat seberapa banyak perempuan yang selalu terjatuh gravitasi pesona Akashi, mereka persisten sekali berjuang mencuri atensi calon suaminya. Dia mengangguk-angguk manut.

"I-itu memang benar."

Furihata terkejut tatkala Akashi menoleh untuk menatapnya. Keduanya bersitatap sebelum Akashi kembali memfokuskan perhatian pada bentangan jalan.

"Tidak benar." Akashi menggeleng tegas. "Pada kenyataannya, setiap kita di kantor, tidak ada wanita lain di sisiku nyaris setiap waktu selain kau."

Furihata miris dengan nasib pipinya yang digelayuti kalor abnormal.

Akashi mengejapkan mata sekilas, seperti kebiasaannya—mengerling lembut wanita di sampingnya yang bergeming. "Atau, lebih tepatnya: aku juga tidak ingin siapa pun di sisiku selain kau."

Too much.

Bisa-bisa Furihata overdosis kata-kata sekausi gula. Permasalahannya, kejujuran Akashi yang selalu benar itu dikatakan dengan penuh kesungguhan dan sangat kasual, seakan-akan tidak sadar efeknya pada Furihata yang mendengarnya.

Furihata pernah melewatkan masa mudanya dengan seseorang di masa kuliah dalam waktu singkat—kendati saat itu hanya pelampiasan atas bayang seseorang lain.

Lelaki itu pernah berkata Furihata adalah wanita paling cantik dan amat berharga di dunia baginya—yang Furihata tertawai setengah hati karena itu tidak mungkin terjadi sementara lelaki tersebut langsung melirik gadis lain yang lebih cantik semampai.

Setelah itu, mantan kekasihnya tidak pernah berkata hal-hal gombal lagi.

Jika saja Akashi tidak mengerlingnya dengan cara yang seakan mengerutkan paru-parunya dan menyangkutkan oksigen di tenggorokannya, Furihata tidak akan percaya bahwa yang ia dengar adalah kesungguhan bernada ketulusan.

Mungkin karena itulah ayahnya yang semula menginterogasi Akashi dengan wajah lebih mirip jenderal medan perang hendak bertarung melawan raja bertendensi melakukan tirani, seketika melunak karena mendengar jawaban Akashi.

Mungkin bukan melunak, tapi takluk dengan mutlak.

"Te-terima kasih."

Dengan kata-kata Akashi itu, Furihata memutuskan untuk menjawab sama benarnya, jujurnya, tulusnya, dengan yang terbersit di hatinya.

Dia merasakan matanya memanas, diburu haru-biru, ia berbisik pilu, "Semoga ... a-aku juga bisa merasakan hal yang sama denganmu se-secepatnya, Akashi-san."

Pria yang mengemudikan mobil itu berasumsi—dan selalu ada saja momen di mana manusia merepetisi kesalahan lalu luput berintrospeksi untuk mengoreksi diri—Furihata akan merona, salah tingkah, malu-malu, seperti semua perempuan dunia ini yang tersentuh hatinya akan tersipu jika ada lelaki berkata seperti itu pada mereka.

Apalagi tipikal perempuan biasa-biasa saja, dipuji sedikit, hati mereka yang semula sekeras baja berubah selunak bulu merpati.

Furihata memang tersentuh—Akashi tahu itu dari bisikan pelan dan ekspresi terenyuh wanita tersebut. Namun tanpa semua yang diasumsikannya sebelumnya. Mungkin sebenarnya yang Akashi asumsikan itu ekuivalen dengan yang ia harapkan—siapa tahu ia bisa menggoda calon istrinya tersebut bila berekspresi semenggemaskan itu.

Dunia ini tidak sesederhana di mana bahagia seperti warna putih monokrom yang suci tanpa noda; di mana ketulusan (yang langka adanya itu) akan selalu menyentuh hati nurani seseorang.

Akashi menarik napas dalam, menyadari bahwa kesungguhannya ternyata menyakiti Furihata. Ini adalah ketulusan yang egois dan sepihak, Akashi memahami hal tersebut. Andaikata ia bisa berkata apa yang benar ia rasa—aku benar-benar minta maaf, tapi aku benar-benar mencintaimu—tanpa akan menyayat ketulusan Furihata menerimanya lebih dari yang telah ia lisankan.

Furihata merasa detak jantungnya terkoyak ketika satu tangan Akashi bergerak pelan, menyentuh lengannya. Matanya terbeliak kaget ketika tangan yang sama bergerak menyibak sedikit mantel sewarna mocca, lalu menarik tangannya. Napasnya terembun mencumbu jendela di sisi kanannya ketika tangannya digenggam perlahan.

"Pelan-pelan saja, Furihata-san."

Furihata menoleh pada Akashi yang tersenyum padanya—selembut yang biasa, yang tidak menawan hatinya, dan pijar tegar di mata magenta yang memandangnya—determinasi akan bersabar.

"Kalau kau begitu cepat membalas perasaanku, bisa jadi suatu hari nanti perasaan itu akan memudar secepat kau merasakannya."

Furihata terpana, sebelum Akashi yang mengusap pelan punggung tangannya dengan ibujari kapalan itu menghangatkan tangannya. Sentuhan sehalus seseorang membelai helai rapuh mahkota bunga. Tangannya yang biasa bertegur sapa dengan detergen, sabun cuci piring, dan isi tinta, diperlakukan seolah itu adalah yang paling berharga.

"Aku tidak bertujuan membuat pernikahan kita begitu cepat diadili di persidangan, Furihata-san."

Nada canda yang sama sekali tidak lucu karena wajah Akashi begitu serius itulah satu-satunya yang melumerkan kesungkanan di wajah Furihata menjelma senyuman. Meringkus enggan yang menggeliat di relung hatinya, Furihata menyisipkan jemarinya di antara batas ruas-ruas dan menemukan tangannya tenggelam dalam genggaman tangan Akashi.

Furihata bertekad membiasakan diri dengan semua hal asing yang Akashi lakukan.

"A-aku juga tidak mau cepat-cepat menjanda."

Akashi terkesiap pelan ketika wanita di sampingnya tertawa pelan—menanggapi candanya. Ekspresinya melembut mengerling wanita itu yang tersenyum tulus, yang efeknya sama sekali tidak baik untuk detak jantungnya.

"Ah, aku senang mendengarnya. Sama sepertimu, aku juga tidak mau secepat itu jadi duda."

"Tapi ... ka-kalau aku jadi janda, aku akan jadi janda yang sangat kaya raya," Furihata bergumam, menerawang angannya.

Akashi mengangkat sebelah alisnya. "Berarti aku akan sangat merugi jika menceraikanmu."

"Dan be-bererarti aku akan sangat beruntung jika cerai darimu."

"Bukankah akan sangat beruntung jika kau tidak cerai dariku?"

"Hmm- ... !"

"Kau tertawa, Furihata-san?"

"Ma-maaf. Ha-habis ... ki-kita bahkan belum menikah dan kita sudah memikirkan tentang cerai?"

"Siapa duluan yang mulai membahas, eh?"

"I-ini realistis. A-aku akan sangat beruntung jika aku menikah denganmu, lalu kita cerai, dan aku jadi janda kaya-raya."

"Kau keliru, Furihata-san. Dengarkan aku yang selalu benar ini, kau akan sangat merugi jika kau menikah denganku lalu cerai dariku. Kau hanya akan dapat setengah dari segala yang kita miliki bersama jika menyangkut harta gono-gini."

"Ah, benar. Menjadi istri, berarti semua gaji dan harta suami, mutlak diserahkan pada istrinya. Aku akan jadi istri yang sangat kaya. Hmmh~"

"Aah, kau tertawa lagi. Kedengarannya kau sangat senang dengan prospek masa depan itu."

"... entahlah. Menjadi istri dari suami kaya raya, bertanggung-jawab atas seluruh gaji dan hartanya, bukanlah tanggung-jawab yang ringan dan bisa dengan mudah dibanggakan. Sepertinya sangat berat."

"... tidak juga. Kalau secara umum, memang begitu. Tapi idealnya, tidak demikian."

"Jadi, bagaimana yang ideal dan benar, A-Akashi-san yang selalu benar?"

Akashi merasakan perasaan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya, tapi juga pernah, dan hanya Furihata yang bisa menenggelamkannya dalam ranah perasaan asing ini. Tanpa sadar, wajahnya melunak dan menyungging senyuman.

"Kau tidak perlu merasa terbebani dengan tanggung-jawab sebagai istri hanya karena aku akan memercayakan segalanya padamu, karena segalanya—milikku dan milikmu—akan kita bagi dua. Kita bisa memiliki segala yang saat ini kita miliki bersama-sama."

Entah mana yang lebih melelehkan hati.

Furihata dengan senyuman tidak lagi dikeruhkan keengganan, tawa tanpa sungkan, tangan yang untuk ukuran perempuan agak kasar tapi tetap hangat, atau kombinasi semua itu mengangkangi keheningan yang biasa menggendayut Akashi tatkala mobilnya berlari membelah malam temaram oleh lampu-lampu jalan.

Sekarang, ketika marak lampu jalan di malam hari merambah spasi terlimitasi dalam mobil ini, disadarinya ia tidak lagi sendiri. Akashi menyadari kini ada seorang wanita di sisinya dengan eksistensi yang menghangatkan hati.

"Ta-tapi ... aku tidak punya apa-apa untukmu. Apa yang akan kita bagi dua jika kita bersama?"

"Sebelum aku menanggapi perkataanmu, apa ada yang kau inginkan dariku?"

"A-aku ... uh ... kurasa aku tidak ingin apa-apa."

"Kau tidak punya apa-apa untukku dan tidak ingin apa-apa dariku. Kalau begitu, kenapa aku menginginkanmu?"

"Ke-kenapa malah tanya padaku? Itu ka-kau yang tahu."

"Karena kau tidak punya apa-apa untukku dan tidak ingin apa-apa dariku, biar aku yang akan memberikan apa pun yang nanti akan kauinginkan untukmu—karena aku menginginkanmu. Dan yang akan kita bagi dua adalah hidup kita yang apa adanya ini bersama." Akashi tersenyum hangat melirik Furihata, "Bagaimana?"

"..."

.

.

Mungkin—

.

.

"... Furihata-san?"

Sang wanita mengeratkan genggaman kedua tangannya pada pada tangan dingin—ternyata benar jemari calon suaminya ini membeku karena kuluman dingin cuaca—pria yang tengah begitu lembut mengerlingnya, menghangatkan tangan yang menjaganya dalam genggaman.

"Kurasa itu hal paling ideal—dan benar—untuk mereka yang berencana berbagi hidup bersama, Akashi-san."

.

sesederhana ini saja, tidak sesulit yang Furihata kira semula hanya untuk bisa bersama Akashi.

.

#~**~#

.

Furihata merebahkan diri ke ranjangnya.

Memejam mata berusaha untuk memusnahkan bayangan saat ia pulang tadi diantar calon suaminya, dan kedua orangtuanya—terutama ibunya—sangat senang dengan kehadiran pria berambut sewarna inti solar surya itu yang dengan etika dan kesopanan tertinggi mengantarkannya pulang sampai depan rumah, sibuk menawarkannya untuk mampir, tapi ditolak begitu halus karena yang bersangkutan perlu segera pulang ke rumahnya sendiri.

Komentar ibunya yang terdengar seperti daydreaming paling miring, mengemukakan kekecewaan karena Akashi langsung pulang itu yang menghambat usaha Furihata untuk lekas terlelap.

Atau mungkin yang mencegahnya menyerah pada pesona empuk dan hangat tempat tidurnya bukan hanya ibunya, melainkan seseorang yang ibunya bicarakan.

Furihata berguling di ranjang, wajah mendekam ke bantal, bergerak malas menaruh handuk setelah ia pakai mandi seusai pulang tadi ke kursi di sisi tempat tidurnya, lalu tangannya meraba-raba tepi meja, meraih ponselnya.

Ujung-ujung jari melucuti kata kunci yang ia setting untuk mengamankan ponselnya dari ibunya yang kadang terlalu curiga serta penasaran dengan kehidupan personalnya. Tidak ada kabar berita apa pun baik dari aplikasi komunikasi mana pun.

Furihata melirik jam dinding dengan jarum detik yang konstan berdenting. Sebentar lagi hari berganti. Tidak ada juga kabar dari Akashi. Bagaimanapun, sekarang dirinya sudah bukan hanya seorang sekretaris yang diberi tumpangan pulang oleh atasannya dan besok pagi tinggal bertemu.

Kalau bukan karena omelan ibunya yang mengkhawatirkan pria itu, juga tandas tegas ayahnya yang mengingatkan pria itu adalah calon suaminya dan baru saja mengantarkannya pulang tepat satu setengah jam kurang dari tengah malam, juga bayang-bayang rawannya peristiwa tidak diinginkan terjadi akibat menyetir mengarungi pekatnya malam hari, mungkin Furihata telah bergelung nyaman melinduri selimut.

Jemari tergerak gelisah membayangi tuts alfabet dan tanda baca. Ketik. Hapus. Ketik hapus. Repetitif. Dalam sepampang display dari aplikasi interaktif dengan sebaris nama pria yang melamarnya itu sebagai tujuan.

Furihata mendesah panjang. Sebenarnya apa yang biasanya ia komunikasikan dengan Akashi? Menyitiri histori chatting, mata dengan iris kecoklatan sempit miliknya itu memicing menyadari yang ia bicarakan dengan Akashi paling hanya seputar pekerjaan. Topik sesepele apa pun intinya berotasi pada pekerjaan.

Bagaimanapun, mereka memang tidak pernah pacaran tidak juga saling berdekatan dalam relasi intimasi dalam sudut pandang romantisme.

Bagaimana bisa Akashi ingin menikahinya kalau begitu?

Ah, Furihata jadi teringat percakapan menyenangkan mereka saat di mobil tadi, malah pria itu yang bertanya padanya bagaimana bisa menginginkannya.

Furihata tertawa pelan. Geli. Bisa-bisanya Akashi malah bertanya, padahal hanya Akashi sendiri yang tahu apa jawabannya. Ada-ada saja.

Ah.

Tiba-tiba Furihata terdiam. Realisasi mengirik celah di hati dengan kesadaran ini pertama kalinya ia tertawa karena Akashi.

Mungkin hal ini tidak lebih buruk daripada kekakuannya untuk mengetikkan sesuatu. Entah apa. Ia hanya ingin tahu. Apa sulitnya hanya bertanya saja atau mengucapkan terima kasih atas kebaikann Akashi, astaga.

Kenapa Furihata jadi membayangkan yang tidak-tidak dan khawatir akan terjadi apa-apa di jalan?

Padahal sebelumnya, dahulu sebelum mereka sepakat untuk menikah, setiap Akashi mengantarnya pulang saja, ia lekas terseok masuk rumah kemudian pulas di tempat tidur tanpa tahu nasib Akashi selanjutnya bagaimana sampai ke rumah?

Salahkan ibunya yang mencecarinya dengan marak mara bahaya agar tetap waspada. Paranoid ini pasti warisan genetik dari ibunya. Ketakutan Furihata ini pasti berasal dari masa kecil ayahnya yang sering menakutinya pada banyak hal—cara konvensional untuk membuat seorang anak menurut manut pada orangtua.

Furihata mengerang letih.

Dia yang seperti ini ingin Akashi nikahi? Ah, bagaimana caranya ia tidak merasa makin miris pada diri sendiri dan bersimpati pada Akashi yang ingin menikahinya? Dia yang merupakan wanita biasa saja dan malah dipandang sebagai individu dengan orientasi seksual menyimpang hanya karena ia amat sukar melupakan seseorang.

Furihata memantap tekad mengetikkan pesan singkat. Menekan simbol bergambar tanda panah untuk mengirim pesan. Wanita itu menaruh ponsel dekat pucuk hidung, kemudian mengembus panjang merasa sedikit lebih lega.

.

.

.

("Aku hanya ingin menjagamu, kau sebagai dirimu sendiri—dan bukan siapa-siapa yang berekspetasi padamu untuk menjadi seseorang ideal dalam pandangan publik.")

.

.

Ketika Furihata memejam mata, jeruji kegelapan yang mengurung visinya hampir di setiap satuan waktu tidak lagi ia indahkan—karena di balik selongsong besi dan pilar penjara kesepiannya yang berkarat, ada seseorang.

Personifikasi matahari menawan yang menggapai tangannya untuk digenggam dengan senyuman sedemikian lembut, hatinya hendak sekali terenyuh untuk menyambut.

"Akashi-san ..."

.

#~**~#

.

Akashi mendudukkan diri di kursi roda dalam kamarnya seraya menggelantungkan handuk dengan kasual di pundaknya. Menikmati lengang dini hari—dan sunyi kenangan dua hari belakangan, Akashi mengggelindingkan roda kursinya untuk mendekat ke meja dan membuka berkas-berkas yang ia bawa pulang ke rumah untuk diselesaikan—karena besok di agenda kerjanya ada rapat direksi yang harus ia hadiri.

Mengecek lagi agenda kerja yang ia catat degan memo singkat dalam ponselnya, Akashi meraih telepon genggam miliknya yang ia taruh di meja berdampingan dengan dompet, pulpen, dan buku ukuran saku yang biasanya selalu nihil absensi di kantung jasnya.

Matanya melebar dalam keterkejutan menemukan dua setengah jam yang lalu, ada notifikasi dari salah satu aplikasi komunikasinya atas nama calon istrinya. Senyum eksplisit terbit—mengabaikan perasaan bersalah karena tidak mengetahui ponselnya berbunyi dan tidak segera membalas pesan itu.

.

/ "Terima kasih sudah mengantarkanku pulang. Apa kau sudah sampai di rumah? Kalau belum, hati-hati di jalan, ya." /

.

Sepele?

Tentu saja.

Istimewa?

Anehnya, sangat.

Akashi menatap biner jam di pojok kanan atas display ponselnya yang menampilkan pukul satu dini hari. Dan yang ia pikirkan saat itu adalah realisasi, mengapa pasangan kekasih senang sekali mendapatkan pesan perhatian seperti ini yang dulu ia pikir konyol dan kurang kerjaan.

Semua perempuan lain yang begitu padanya pun—sebatas karena Akashi bersikap baik pada mereka sebagai rekan kerja atau kenalan—juga seringkali ia anggap tidak penting.

Tidak berarti Akashi tidak punya hati atau kadar gentleman personanya patut diragukan, hanya saja ia bukan pria yang bodoh tidak memahami limpah-ruah perhatian padanya. Sesungguhnya, kadang itu menyebabkannya risih.

Namun Furihata Kouki berbeda.

Wanita itu memang selalu memerhatikannya di kantor—kadang pula di luar urusan pekerjaan, tapi menyadari status mereka telah berbeda, maka tidak ada yang berhak melarang Akashi Seijuurou untuk membiaskan calon istrinya seperti sekarang ini karena merasa disayang dengan perhatiannya.

Mungkin karena dulu Akashi tidak mengerti dan tidak pernah mengalami hal seperti ini. Sebenarnya, semasa muda, ketika pemuda-pemuda bergulat untuk menikmati cinta seperti ini, apa yang dirinya lakukan?

Studi, prestasi, karir, dan masa mudanya adalah konsistensi berinkarnasi dari masa kecilnya. Ekspetasi publik dan keluarga tidak menyisakan ruang di kehidupan Akashi untuk menikmati cinta yang seperti ini.

Kini Akashi khilaf dengan kelaliman perspektifnya terhadap pasangan kekasih seperti itu di dunia.

Men-scroll laman chatting mereka selama ini, volume suara tawanya naik secarik dengan kesadaran bahwa segala hal yang dirinya dan calon istrinya perbincangkan begitu klise berotasi pada pekerjaan semata.

Beruntung hanya ada burung karsa seni rupa yang keluar mematuk udara dari jam dinding klasik miliknya, tidak bisa terbang dan melarikan diri begitu melihat pemiliknya tengah tertawa hanya karena pesan singkat dari seseorang—merasa itu begitu istimewa. Tertawa seorang diri dikungkung sunyi, bisa-bisa orang biasa akan berasumsi Akashi gila mendadak.

Jemarinya menari di panggung sentuh yang menimbulkan bunyi melodis saat dipijak, menghasilkan untaian balasan yang langsung dikirim, dan Akashi beralih membuka aplikasi memo untuk memulai menggarap pekerjaannya.

Tidak ada balasan seketika yang bisa diharapkan. Mengingat ini dini hari dan lazimnya setiap orang meringkuk terbalut hangat selimut. Memikirkan wanita itu tidur lelap dan mendapatkan istirahat yang layak, itulah yang jauh lebih berarti bagi Akashi.

Cinta yang seperti ini tidak menyisakan ruang untuk egois sekekanakan para remaja labil merana mengharapkan pesan balasan datang secepat yang dihasratkan.

.

#~**~#

.

Furihata menggerutu karena terbangun dengan cara paling mengerikan yang pernah bisa orang ceroboh alami. Alarm ponselnya bergetar dengan skala gempa tektonik yang sanggup memorak-moranda wajah bumi tepat di depan wajahnya.

Merutuk kesal, dibantingnya pelan ponselnya ke bantal sembari mengusap-usap hidungnya yang masih dijalar getar menyakitkan sembari mendengus kesal.

Ponselnya tidak sengaja tertekan dalam mode aktivasi, Furihata berhenti menggerung sebal melihat ada balasan atas pesan yang kemarin ia kirim. Hal itu setidaknya mengurangi waktu mengeluhnya tiap pagi karena merasa jam tidurnya setiap hari amat kurang.

Furihata menemukan dua pesan dengan jeda waktu sejam dari pengirim yang sama. Senyum pertamanya di pagi ini merekah, wajah suntuknya terenyah, mencerah melihat jajaran aksara dalam dua kata menyolidkan sebuah nama.

.

/ "Terima kasih juga karena sudah mau pulang bersamaku. Aku sudah sampai di rumah." /

Singkat dan padat—sangat khas Akashi.

Dan satu pesan lagi—

.

/ "Kalau nanti ada lagi hari di mana aku dan kau sama-sama tidak ada janji dengan yang lain atau tidak ada jadwal kerja lembur, apa kau keberatan tidak naik bus sendiri malam-malam agar pulang bersamaku saja?" /

.

—tawaran dari seseorang yang sangat menawan.

Mengilas balik semalam sebelum mereka naik ke lift—dan melewati berlantai-lantai dalam bising mekanik lift serta hening di antara mereka berdua, teringat kata-kata Akashi untuk pulang bersamanya, mungkin Akashi menanti jawaban darinya.

Furihata kira Akashi mengatakannya karena itulah yang terbaik untuk Furihata lakukan. Tidak dikiranya itu membutuhkan jawaban—tepatnya persetujuan—darinya. Realisasi bahwa Akashi mempertimbangkan opininya meretas wajah tertekuk, kini di bibirnya ganti senyum tipis terlekuk.

Furihata terdiam membaca berulangkali pesan itu. Tidak ada yang berubah. Tidak pula beban keresahannya akan Akashi yang disusahi olehnya karena harus mengantarkannya pulang, biaya bensin yang Akashi habiskan untuk mengantarnya, waktu berharga Akashi yang tersia-sia karenanya—

("Kalau kau pulang sendiri, kau menyusahkanku karena membuatku khawatir.")

—pesan itu ditutup.

Furihata bangkit dari ranjang lalu menaruh ponselnya ke meja, pelan meregangkan badannya yang kaku. Merapikan tempat tidurnya sembari mengukuh keputusan bahwa jawabannya tidak sepantasnya ia balaskan melalui pesan singkat.

Kebaikan seperti ini tidak bisa dibalas semudah menerima penawaran dengan merasa diri begitu beruntung atas dasar manfaat tanpa ada timbal balik terbaik dalam relasi mereka.

.

#~**~#

.

"Kau kelihatannya lelah sekali, Furi."

Celetukan Aida itu mengomentari rekan kerjanya yang baru datang dan lekas merebah separuh badan ke meja kerja sendiri dengan ekspresi begitu lelah.

Furihata hanya membuang tawa kering tanpa bahagianya itu ke fabrik blazer yang ia kenakan.

Mana mungkin Furihata dapat menjawab pagi-pagi dirinya dibuat lelah oleh ibunya yang lagi-lagi menggerecoki (atau bahasa wanita yang melahirkannya itu adalah mengkritik pedas) mengapa ia tidak dijemput untuk diantar ke kantor oleh Akashi. Toh, mereka berdua bekerja di tempat yang sama.

Furihata lelah menjelaskan bahwa itu buang-buang uang; bensin; biaya; waktu,tersia-siakan.

Rumah Akashi (yang ia tidak tahu tepat lokasinya di mana), ke rumah keluarga Furihata, lalu ke kantor. Ibunya yang jelas-jelas berparadigma asas manfaat itu benar-benar mengerosi kesabaran dan kewarasannya untuk tidak membentak agar ibunya berhenti bicara dan tutup mulut.

Siapa yang akan menikah dengan Akashi Seijuurou? Dirinya atau ibunya, sebenarnya?

Di luar yang berkenaan dengan finansial, masa ibunya tidak memikirkan Akashi pasti lelah kalau harus mengantarnya pulang-pergi pagi-malam setiap hari? Memang Furihata anak kecil yang harus diantar-jemput tiap waktu?

Memang putrinya sebagai perempuan tidak memiliki harga diri dan terima kasih untuk tidak menyusahkan calon suami sendiri? Belum menikah saja menyusahkan, bagaimana kalau nanti mereka menikah? Akan jadi istri macam apa dirinya?

Ibunya mendebat kalau tindakan sepele itu adalah esensi dari cinta masa kini.

Furihata mulanya berniah menyergah bahwa relasinya dengan Akashi bahkan bukan sepasang kekasih dan ketiadaan perasaan yang mutual di antara mereka, tapi ia memilih membungkam diri.

Terkadang diam untuk menghadapi yang memaksakan pendapat mereka jauh lebih baik daripada menabrakkan opini berapi dengan opini berapi yang hanya menimbul percik-percik konflik.

"Apa yang terjadi?"

Pertanyaan kasual Aida membuat Furihata menjawab di sela kuapan kantuk sembari menutup mulut, "Biasa, Okaa-san."

"Ah, tentang kekhawatirannya kau tidak juga punya pacar?"

Aida mengernyitkan sebelah alis karena Furihata tersendat—kuapannya terinterupsi. Sejenak sekretaris presdir tersebut bergeming, barulah menjawab lesu, "Okaa-san-ku selalu saja punya bahasan untuk mengkritikku."

"Ah, wajar saja orangtua menginginkan yang terbaik untukmu dengan cara mengkritikmu agar bisa jadi lebih baik lagi," tanggap Aida ringan.

Furihata tersenyum tipis kemudian meraih bungkusan bunga yang didapatkannya untuk berdiri lalu beranjak ke ruang kerja para direktur, memulai rutinitas pagi dengan mengganti isi vas dengan bunga segar menyimilir harum menentramkan.

"Meskipun bagi Okaa-san-ku itu yang terbaik untukku, tapi jika yang terbaik untukku malah menyusahkan orang lain, aku tidak menginginkannya."

Furihata tidak mengerti seperti apa itu cinta masa kini, tapi meski bukan cinta masa kini untuk Akashi yang ia miliki, ia masih punya determinasi untuk membalas afeksi demi seseorang yang dilingkup perfeksi.

.

#~**~#

.

Masih dengan senyuman setelah membalas sapaan para sekretaris (tepatnya Aida dan Momoi) di luar ruang para direktur Vorpal Sword, sang presdir mengambur napas pendek, kecewa karena tidak menemukan sekretarisnya ada di sana seperti kemarin pagi—tasnya ada tapi nihil orangnya, melangkah masuk ke ruangan.

Akashi tertegun mendapati siluet yang melembutkan pandangannya pada wanita yang tampak tidak biasa-biasa saja karena terbias cahaya sendu matahari dari transparansi jendela yang gordennya sedang disibak.

Di antara helai-helai bunga snowdrop di musim dingin yang menahtahi vas—mengganti lavender kemarin, dilihatnya sekretarisnya itu tengah menerawang bentang metropolitan.

Seseorang, tolong ajarkan bagaimana caranya Akashi untuk menghirup napas dan tidak semena-mena terlena oleh satu dari begitu banyak hal keindahan sederhana yang Tuhan ciptakan, yang bernama Furihata Kouki.

"Selamat pagi, Furihata-san."

Yang disapa berjengit kaget. Kilat menoleh padanya, lalu membungkuk sekilas—refleks sebagai bawahan pada atasan ternaturalisasi dalam sikapnya. "Se-selamat pagi."

Samar dengung percakapan di luar ruangan membuat Akashi mengepulkan harapannya untuk sekadar menyentuh wanita yang bergerak mendekatinya itu, beralih untuk menempati singgasananya lagi dengan menaruh tas di meja.

Furihata memandangi punggung yang dilahap ruang pandangnya, menatap dan baru menyadari betapa tegapnya punggung yang tidak sebidang para direkturnya tetap mengemban beban sebagai pemimpin di sana.

"Ma-maaf ... pe-pesanmu tidak langsung kubalas," lirih Furihata penuh sesal seraya melangkah dengan kehati-hatian untuk mendekat ke meja atasannya.

"Tidak apa-apa." Akashi mendongak dari bundle dokumen yang ia ambil dari dalam tas kerja berbahan kulitnya. Dia menggeleng ringan sembari kembali mengambil buku catatan lain dalam tas. "Aku tahu kau pasti sudah tidur saat aku membalas."

Furihata yang awalnya nyaris salah tingkah, kini mengejap pada atasannya yang mulai memenuhi meja dengan tumpukan dokumen—padahal dia baru datang. Menyadari hal ganjil dari tanggapan pria di hadapannya.

"Apa kau tidak langsung tidur setelah membalas pesanku?" tanya Furihata hati-hati seraya menghampiri pria yang duduk di tahtanya.

Wanita di hadapannya adalah satu dari sekian banyak orang paling observan yang pernah Akashi temui.

Demi Furihata, Akashi memikirkan jawabannya baik-baik—karena raut khawatir wanita yang telah tiba di hadapannya, sebelum kasual menjawab, "Tidur, setelah aku menyelesaikan komposisi bahasan materi yang dibutuhkan untuk rapat direksi hari ini."

"Istirahatmu lagi-lagi kurang. Apa kau baik-baik saja?"

"Bagaimana bisa aku tidak baik-baik saja jika ada wanita sepertimu mengkhawatirkanku, hm?"

Furihata sadar wajahnya menghangat, terlebih dengan kerling halus khas Akashi—dingin nan geli menggodanya di antara lembaran kertas yang disibak. Ingin rasanya Furihata menegurnya, mereka di kantor—dan saat ini mereka hanyalah atasan dengan bawahan.

Namun mengingat dirinya sendiri bicara tidak sebagai seorang sekretaris yang bertanggung jawab pada presdirnya, tidak juga mereka punya kesepakatan untuk menyembunyikan relasi Akashi-sudah-melamar-dirinya-dan-ia-menerima-jadi-mereka-akan-menikah, Furihata mendesah lelah tidak bisa menyanggah. Tidak juga ia menemukan alasan untuk menanggapi godaan dingin Akashi padanya.

"Ba-bagaimana nanti kalau kau sakit?"

"Ya, aku akan ke rumah sakit."

"Tolong jaga ke-kesehatanmu."

"Baik—"

"—bu-bukan karena jika kau sakit maka akan berdampak pada Vorpal Sword, ta-tapi untuk kebaikanmu sendiri, Akashi-san."

Bukan debar yang menggelegar di rongganya yang Akashi rasakan saat ini, kehangatan seperti ketika seseorang berbaring di padang rumput bermandikan radiasi matahari pagi mungkin lebih mendekati.

Mungkin layaknya balon yang ditiup senapas demi senapas, terkembang terus berintensi untuk terbang menuju awan dengan melayang-layang ringan; seperti itulah perasaannya saat ini.

Akashi mendongak dari dokumen yang hendak ditekuninya, pandangannya melembut pada wanita yang masih khawatir memerhatikannya—perhatian yang tidak pernah berubah tidak peduli kini status mereka sebenarnya telah berubah.

"Iya, aku mengerti, Furihata-san. Malam ini kuusahakan tidak lembur dan segera pulang untuk beristirahat."

Furihata tersenyum dengan jawaban—menyirat janji—itu, mengangguk puas, lalu sepatu hak tidak terlalu tingginya berputar mengentak lantai ruangan menyisa gema.

Sebelum melangkah terlalu jauh, Furihata berputar kembali—ditemukannya Akashi masih memandanginya dan ia meremat erat seragam kerjanya, berjuang keras menyampaikan yang telah dipikirkannya masak-masak sejak membaca pesan terakhir Akashi semalam.

"Te-tentang yang kautanyakan dalam pesan yang belum kubalas ..."

Akashi menatap, tanpa harap.

"... a-aku ... tidak keberatan."

Akashi lama terdiam. Bahkan setelah Furihata menyungging senyum manis terakhir dan keluar ruangan menyisakan blam.

(Hatinya perih mempertanyakan, menyalahkan, mengapa blam pintu bisa terjelma peristiwa kecil menyesakkan, seperti kasar merampas selarik cahaya; semena-mena melenyapkan secarik senyum wanita biasa saja yang mutlak memautnya.)

.

#~**~#

.

Furihata pikir mereka melewati hari itu dengan bekerja seperti biasa. Jam makan siang di mana Akashi dikerubuti oleh penggemarnya yang persisten, telepon yang harus Furihata direksikan pada Akashi jika itu penting atau ia tangguhkan ke sambungan lain, berkas, dokumen, kertas, dan layar komputer bersinar ultraviolet menjenuhkan.

Mungkin, sembari sesekali berpikir di sela menuliskan atau membubuhkan stempel pada data inventori produk Vorpal Sword, akhir jam kerja yang kini harus membuatnya terbiasa. Pulang dengan pria yang merupakan calon suaminya—bukan lagi sebagai presdir yang Furihata harus menaruh hormat dan beretika profesional padanya.

Hingga Momoi melontar ajakan untuk menikmati lemon Montblanc di cafe yang baru buka tak jauh dari kantor mereka, rekan-rekan kerja perempuan yang lain segera menyetujuinya, sementara Furihata meragu—padahal ia tak punya waktu untuk meragu karena semua merasa mereka akan ikut ke sana dan memanjakan diri dengan asupan manis adiktif.

Permasalahannya, ia baru saja menjawab permintaan izin Akashi itu, meminta Akashi untuk segera pulang hari ini agar bisa beristirahat layak, Furihata sebelumnya berpikir sudah pasti sekali lagi akan ada waktu di mana mereka hanya berdua saja—berbincang normal dalam hijaunya pengetahuan tentang kehidupan satu sama lain.

Furihata sudah memikirkan—dan ia sadar Akashi pasti jauh-jauh hari sebelum dirinya menyadari ini—bahwa tiba waktunya bagi mereka untuk saling mengenal satu sama lain.

Bila hari-hari ketika matahari masih berseri mereka punya kewajiban dan tanggung-jawab untuk diselesaikan, maka tatkala senja melipur malam dan ada waktu yang luang, di saat itulah harus mereka manfaatkan.

"Eh, tapi aku sudah ada janji dengan—"

"Hyuuga-san atau Kiyoshi-san? Aduh, Riko-san, kau bisa pergi dengan salah satu dari mereka setiap waktu. Tapi ini jarang-jarang kita bisa jalan bersama."

"A-a-aku tidak bilang salah satu dari mereka!"

"Aku bahkan sudah menitipkan Aomine-kun pada Tetsu-kun supaya pulang kerja dia tidak pergi minum-minum, aku tidak tahu kapan kita bisa pergi bersama lagi."

"Uh, ya ... ti-tidak apa-apa juga."

"Omong-omong, di Cafè itu harganya mahal tidak, ya?"

"Mahal atau tidak, yang penting rasanya, 'kan?"

"Tentu saja. Ayo kita pergi bersama!"

Furihata menggigit bibir dengan konklusi obrolan itu. Ia tidak bisa mengecewakan yang lain, dan ia terlalu pengecut untuk mengungkapkan bahwa ia seharusnya tidak pergi bersama mereka—walau tawaran mencicip setitik kreasi duniawi itu sungguh menggiurkan.

Tersenyum semampunya, berusaha setara menanggapi antusias rekan-rekan kerja perempuannya yang lain, kendati hatinya berat dinoda segodam dosa tatkala meraih ponsel dan jemarinya terasa kaku mengetikkan pesan tepat beberapa jam sebelum jam pulang.

.

/ "Maaf hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu, ada janji dengan teman-teman pergi ke Cafè baru dekat kantor." /

.

Furihata hanya mengirim pesan sekali, dan mengetahui kesibukan mengerikan Akashi hari ini dengan pertemuan klien penting tanpa henti, ia tidak mungkin marah karena baru petang tepat sejam sebelum jam pulang pesannya dibalas.

.

/ "Tidak apa-apa. Pulang jam berapa?" /

.

Kedua alisnya bertemu dalam kerut-merut yang tidak mencantikkan wajahnya, Furihata tidak bisa tahu apa yang Akashi rasakan sebenarnya melalui berbalas pesan singkat seperti ini.

Mungkin Akashi kecewa lagi karenanya –memikirkan hal ini kian memberatkan hati Furihata.

.

/ "Aku tidak tahu." /

.

/ "Keberatan untuk mengabariku setelah kaupulang nanti?" /

.

/ "Tidak, tapi apa nanti tidak akan mengganggu istirahatmu?" /

.

/ "Mana bisa aku tenang beristirahat kalau aku tidak tahu kau baik-baik saja?" /

.

Furihata mengembuskan napas lega, beban beratnya terkepul seketika mengetahui Akashi tidak marah padanya. Kata-kata pria tersebut yang samar menyiratkan kecemasan dan harapan membuktikannya.

Terlebih karena ia tidak perlu menderita dengan temperatur yang mendadak meningkat tajam jika Akashi berbicara khas seperti balasan pesan singkat ini. Bahkan rasanya wanita itu bisa membayangkan ekspresi Akashi saat mengatakannya, kerlingan menggodanya dengan biner magenta lembut itu.

.

/ "Aku akan mengabarimu. Istirahat, ya. Jangan sampai sakit." /

.

.

.

.

/ "Iya, Cantik." /

.

.

.

.

"Hei ... apa ini semacam sindrom wanita karir di akhir usia dua puluhan yang melegenda itu? Naiknya jabatan dan gaji berbanding lurus dengan sepinya diri di malam minggu?"

"Bukan. Sebaliknya, mungkin ini tanda-tanda jatuh cinta."

"Benar juga. Senyum-senyum sendiri melihat ponsel. Pasti sedang chatting dengan calon pacarnya, sampai tersipu-sipu begitu."

"Walaupun, aku tidak pernah lihat dia dekat dengan lelaki manapun yang berpotensi jadi calon pacarnya. Kukira Furi-chan begitu karena baca fiksi online ber-genre romantis."

"Wajahnya memerah begitu, masa iya hanya karena baca fiksi online?"

"Mungkin dia baca fiksi NSFW?"

"HEI! Jangan bicara keras-keras begitu!"

Percakapan Momoi dan Aida itu bahkan sama sekali tidak mendelusuk telinga kanan untuk keluar dibuang telinga kiri. Furihata tumbang seketika dengan wajah merah bukan kepalang dibenam pada lipatan lengan ke meja kerjanya hanya karena satu pesan singkat.

Tepatnya, hanya karena satu sifat. Dan sayangnya, bukan sedang berinteraksi dengan calon pacar, Nona-nona. Tapi, berbalas pesan dengan calon suami.

Sampai jam pulang berdentang, Furihata tidak juga bisa menetralisir kalor yang menggendayuti wajahnya, tidak menjawab ketika ditanya apa yang terjadi padanya, bertapak keluar kantor demi Lemon Montblanc seolah tengah melayang sembari mensyukuri malam ini ia tidak perlu pulang diantar oleh Akashi.

'Dia hanya bercanda. Dan candaan Akashi-san tidak lucu. Sangat tidak lucu. Akashi-san memang begitu. Ta-tapi, Akashi-san selalu benar. Ja-jadi yang dia bilang bena—aaah!'

Seseorang, tolong ajarkan Furihata Kouki bagaimana caranya bisa bersikap seperti biasa pada pujian—atau kiranya candaan.

(Dan tolong ajarkan Furihata Kouki, bagaimana caranya tidak meleleh hanya karena lontaran satu kata adjektiva dari Akashi Seijuurou.)

.

#~**~#

.

Malam itu, mana Furihata tahu dirinya berakhir tergugu di terminal bus.

Siapa yang tahu ketika ia merasa tadi begitu bersyukur tidak mesti bersama calon suaminya itu terjebak dalam satu mobil untuk diantar pulang, dan di detik yang lain usai ratusan detik dijarah waktu yang kini terdefinisi sebagai masa lalu, ia mulai berpikir lagi apakah ia benar merasa bersyukur atau menyesal.

Siapa yang tahu, ketika ia mulai merasa apa yang ia pikir sebagai kerelaan, tertatih menyongsong singsingan masa depan, dan ia mungkin merasakan apa yang ia pikir telah menumpul—cintanya yang kandas seperti hampir bersemi lagi, benang masa lalu beringas menjeratnya, kasar menariknya untuk kembali dan tidak berpindah setapak meninggalkan yang telah memuakkannya.

Apa yang Tuhan rencanakan, Furihata tidak tahu.

Tidak lagi selain pedih kenyataan bahwa ketika ia melihat siapa yang membawakan enam Montblanc untuk para karyawati Vorpal Sword, ternyata adalah siluet yang membuat Furihata selama menahun tidak bisa berpaling seutuhnya ke yang lain, dan debar jantungnya yang lama terdekam kini remuk-redam, hancur berantakan—kegugupan familiar yang membuatnya terpaku kaku.

.

("Furi-san, mudah-mudahan kita bisa duduk sebelahan sampai kita lulus sekolah nanti, ya.")

.

Furihata membiarkan angin yang menimang aroma apak knalpot terembus laju berkecepatan tinggi transportasi di ruas-ruas jalan protokol, menetralisir didih bulir yang menggarisi pipi berlapis tipis transluscent itu.

.

.

("... Ka-Kasuga ... –san?"

"Ya? Maaf, Anda ingin pesan apa?")

.

.

.

Menakutkan begitu mengetahui kenyataan betapa dirimu mencintai seseorang yang bahkan tidak ingat lagi siapa kau.

Sensasi ini, berdebar tidak karuan dan jika tidak terasa membahagiakan maka berarti menyakitkan, bahkan tidak dirasakannya untuk calon suaminya.

Lemon menyisakan ampas asam. Krim beri yang legit kini didecit pahit di indera pencecapnya. Padahal hanya separuh Montblanc yang sanggup ia kunyah dan telan dan tetap terkecap hambar—bila tidak ingin ia muntahkan karena mendadak segalanya teresap sepahit empedu.

Furihata pikir ini bahkan belum seminggu sejak resolusinya hendak ia wujudkan. Kejadian ini tidak memperbaiki apa pun selain mendukung solidnya resolusi itu untuk diwujudkan. Namun kenapa yang bisa ia rasakan derak hatinya yang terpecah, serpihnya tersisih ke jalanan.

"Ojou-san? A-apa kau baik-baik saja?"

"Ukh ... huh—" wanita itu terseguk, "—a-aku ... hanya ... aku ... ukh—" Seguk. "—tidak a-apa-apa."

Seorang wanita paruh baya menyentuh bahunya, menatapnya khawatir. Furihata mengangguk sekenanya, membungkuk mohon maaf, lalu terhuyung ke pilar terpinggir di terminal.

Wanita yang bahkan tidak mengenakan mantel itu bersandar ke pilar kokoh terminal. Bus tidak juga datang. Sampai kapan ia harus di sini dan menahan sedan dan menghapus pilu yang menjadi sebab wajahnya sembab?

Ponsel di saku jasnya bergetar, Furihata merogohnya, mengurai kata kunci, dan sebaris nama yang didisplay hanya memerah lebih banyak basah di wajahnya. Bibirnya dingin dan perih dan sakit ("A-Akashi-san ..." –hati ini nyeri tak terperi) membisikkan nama pengirim pesan berkonten perhatian itu.

.

/ "Sudah pulang?" /

.

Furihata mengabaikan wanita paruh baya yang masih memojokkannya dengan tatapan cemas, gemetar jarinya mengelusi dua kata yang mengukuh sebuah nama, bergetar hebat mengetikkan balasan.

.

/ "Sudah. Maaf aku lupa mengabarimu." /

.

Furihata merintih perih, tidak mengharapkan Akashi secepat ini membalas balasan pesannya.

.

/ "Tidak apa-apa. Sekarang kau di mana?" /

.

Furihata bergetar menggosok jejak air di layar sentuhnya—berusaha mengeringkannya, bahkan tidak mampu lagi merutuk meski airmatanya menghujani LCD ponselnya dan akan mendegradasi sentifitas layar sentuhnya.

.

/ "Di terminal, menunggu bus." /

.

Furihata mengingat teman-temannya yang heboh mengomentari kelezatan menu kue andalan cafè itu.

Mungkin hanya Aida yang tahu (dengan kepekaan mengagumkan) siapa sekiranya pria yang bekerja sebagai pelayan dan mengantar Montblanc itu untuk mereka.

Tanpa ada permintaan lugas terucap, wanita berpostur mungil dengan potongan rambut pendek itu menjadi penyelamatnya dari kewajiban untuk berhaha-hihi dengan wanita-wanita lainnya.

Dia tidak bisa merasa lebih baik dengan lirikan Aida yang amat prihatin tertumpah sekali-dua kali padanya.

.

/ "Ada teman pulang?" /

.

Furihata memandang nama pengirim pesan peneror stressor untuknya itu.

Dia tahu dirinya pengecut, berharap hatinya bisa langsung tertikung untuk pria ini saja. Namun ia tidak mau perasaannya tergembos, asanya tonggos, dan rasionalitasnya kian keropos, tanpa dirinya sendiri berupaya untuk mengharapkan pengirim pesan ini.

.

/ "Tidak. Istirahatlah lagi, Akashi-san. Nanti aku kabari lagi kalau sudah sampai rumah, tenang saja, ya." /

.

Pengecut—membunuh kesempatan yang dibutuhkan pria ini agar hatinya luluh seutuhnya.

Wanita macam apa dirinya mengharapkan bisa langsung merelakan perasaannya untuk pria ini, sementara hatinya berdarah karena pria lain yang selama ini memenjara hatinya?

Tapak langkah dan sedan tertahan itu diredam riuh-rendah klakson serta gemuruh kota yang belum waktunya mendengkur.

Furihata dengan visi yang blur impuls menoleh. Tercekat hebat melihat siapa yang berdiri dengan ponsel dalam genggaman yang menyala, menerangi seroman wajah serius dan keruh akan kekhawatiran yang terlihat menawan kendati mengesan memilukan.

Akashi Seijuurou, kali ini dengan kibasan mantel hitam legam bermodel double-vent terusan tak terkancing, berdiri disimbah remang penerangan terminal bus dan lampu-lampu dim mobil, sesak menatap wanita berderai airmata, berlinang duka.

Furihata nanar memandang pria itu melangkah mendekat. Tidak mampu berkata apa pun ketika calon suaminya ini merengkuhnya perlahan, sehingga wajah laranya terbenam dalam dada Akashi.

Tidak lagi bisa mengingat apa pelukannya hangat, sebagaimana buruk napasnya tersendat-sendat, dan betapa menyedihkan dirinya menangis dipeluk seseorang yang pilih untuk hidup bersamanya tapi justru bukan pada entitas berharga ini hatinya tertambat.

Tangis sang wanita perlahan meruah.

Dan di mantel pria itu yang pahit berbisik, terjejak noda basah.

.

.

.

.

.

"Bagaimana aku bisa tenang beristirahat kalau aku tahu kau tidak baik-baik saja, Furihata-san?"

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Karakteristik pria Jepang di dunia nyata umumnya pemalu, kaku, dingin, konservatif, tidak romantis, tidak ekspresif, dan tidak akan mengenalkan kekasihnya ke orangtua sampai memutuskan untuk menikah. Berbanding terbalik dari perempuannya.

Di Jepang itu cenderung sangat aman. Perempuan pulang jam dua pagi, jalan kaki sendiri, masih bakal baik-baik aja. Jadi, Akashi yang seringkali menawari Furi pulang sendiri, wajar saja lebih sering Furi tolak karena bagi perempuan Jepang rasanya malah agak mencurigakan bila lelaki menawarkannya untuk diantar pulang—bukan tersanjung kesenangan seperti perempuan Indonesia pada umumnya.

Karena mayoritas memakai kereta, biasanya pasangan kekasih berpisah di stasiun—atau lelaki akan mengantarkannya ke stasiun pemberhentiannya. Well, tapi ... ini Akashi Seijuurou, mari maklumi orangtuanya Furi pun nyantol sekali sama calon menantunya.

Meski perasaan Furihata pada Akashi belum berubah, kenapa dia salting sekali? Itu karena Akashi, di fic ini, nggak seperti karakteristik pria pada Jepang pada umumnya. Dia nggak sungkan memuji Furihata dan mengungkapkan perasaannya. Yeah, karena The Gentleman's dignity inilah Akashi banyak banget yang naksir.

FYI, karena itulah perempuan Jepang lebih suka dan merasa lebih elit pacaran dengan orang asing. Lelaki asing lebih mudah mengungkapkan perasaannya, perempuan dipuji secara terbuka tanpa malu, bahkan skinship yang inosen dan tidak kaku.

Soal interaksi seperti SMS, biasanya pasangan di Jepang saling mengecek kekasihnya sudah sampai rumah atau belum. Dan hal sesederhana itu sangat menyenangkan bagi mereka.

Untuk hal ini, lelaki Jepang umumnya lebih protektif, mereka tidak akan tenang kalau tidak tahu apa perempuannya sudah sampai rumah selamat-sehat atau belum dan akan terus mengeceknya. Karena itulah tidak heran Akashi mengecek Furihata sampai seperti itu.

Untuk percakapan Kisedai ke Akashi tentang bawa wanita "beruntung/sial" dan dikenalkan ke keluarga, kenapa begitu prestis, bukan karena keluarganya saja yang prestis. Namun karena keseriusan hubungan di Jepang itu itu, sampai tahap pertunangan dan pernikahan, ditandai dengan lelaki yang bawa perempuan ke rumahnya—dikenalkan pada keluarganya.

Dan setelah menikah, istri di Jepang adalah penguasa absolut rumah dan "dompet" suaminya. Mulai dari deposito, rekening tabungan, hasil gaji, hartanya, dipercayakan pada sang istri. Karena istri yang akan menentukan rincian tunjangan hidup mereka.

Sumber:

1). / seperti – inilah gaya – pacaran –ala – orang jepang /

2). / 2014 / 08 / 01 / ala – jepang – flirting – pacaran –dan – percintaan /

3). .co 2015 / 06 / 01 / berpacaran – dengan – cowok – jepang /

4). .id / thread / 52561dee41c / 5 Pemikiran – wanita – jepang – setelah – menikah /

Atau bisa cari di search engine (gugel) dengan kata kunci: "gaya pacaran orang jepang".

Jika ada kekeliruan informasi dari pemaparan di atas, tidak usah sungkan untuk lekas mengoreksi kekeliruan saya—saya dengan (sangat) senang hati mengapresiasi dan memperbaikinya.

Fic ini sengaja dibuat status complete karena nggak seperti fic lain yang didesain baik-baik plotnya, fic ini nggak. Dan bagi saya, plotnya bisa berdiri sendiri tiap chapter. /Light/ So lets go with the flow, LeChi!

.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan.

.

Sweet smile,

Light of Leviathan a.k.a LoL